Assalamu alaikum wr wb

Sudah baca belum artikel seblumnya tentang pendidikan islam, jika tidak silahkan ditengok dulu karena artikel ini merupakan artikel kelnjutan dari sebelumya yang saya bagi ke dalam 4 bagian:

Hakekat dan karakteristik pendidikan islam

Tugas dan Fungsi pendidikan islam

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

Komponen dasar pendidikan Islam

Komponen dasar pendidikan Islam ada tiga yaitu orang tua, guru dan murid, karena apabila salah satu di antara ketiga komponen ini ada maka proses pendidikan Islam tidak dapat berjalan. Dalam suatu lembaga pendidikan misalnya telah memiliki seorang guru yang sangat handal, lembaga tersebut juga memiliki kurikulum yang baik dengan penerapan teori terbaru, sarana dan prasarana penunjang juga tersedia; sementara lembaga tersebut sama sekali tidak memiliki murid begitu pula sebaliknya. Sehingga yang dibicarakan pada sub bab ini ada tiga permasalahan, yaitu: orang tua, guru dan murid.

Peran orang tua dalam komponen ini akan sangat menentukan pada proses pendidikan selanjutnya, karena pendidikan anak terlebih dahulu ada di tangan ibu-bapaknya. Posisi tawar orang tua di sisi Allah sangat tinggi, bagai perumpamaan seorang ulama yang mewarisi ilmu para Nabi, ridha Allah di tangan orang tua dan murka Allah ditangan orang tua. Dengan demikian sudah seyogyanya sebagai anak harus mengerti bagaimana bertingkah laku kepada kedua orang tua. Allah berfirman di dalam al Qur’an,suratal Isra ayat 23-25:

Artinya:

         Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

         Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Adapun adab anak kepada orang tua dijelaskan oleh Muhammad Soleh Chambali Bengkel di dalam Cempaka Mulia sebagai berikut:

  1. Mendengar dan mengikuti ia akan segala perkataannya ibu-bapaknya itu dan segala apa yang dicegahkannya itu wajib menjauhi akan dia.
  2. Hendaklah berdiri pada ketika berdiri ibu-bapaknya itu karena menta’tzimkan dia.
  3. Jangan berjalan dihadapan ibu-bapaknya
  4. Jangan ia mengangkat suaranya atas suara ibu bapaknya itu
  5. Apabila dipanggil ibu bapaknya maka hendaknya menjawabnya dengan sopan santun dengan suara lemah lembut
  6. Hendaklah sungguh-sungguh ia memelihara dan menuntut keridhaan ibu bapak dari pada perbuatan dan perkataan serta merendahkan dan menghina diri dihadapan orang tua.
  7. Jangan menyakitkan atas ibu-bapaknya itu dengan sebab berbuat kebajikan bagi keduanya itu dan dengan sebab memeliharakan
  8. Jangan menolak akan keduanya itu dengan tolakan marah akan keduanya itu.
  9. Jangan memasamkan muka dihadapan ibu-bapak sebab marah akan keduanya itu
  10. Jangan musafir melainkan dengan izin ibu-bapaknya melainkan musafirnya itu fardhu ain atasnya maka yaitu tiada berkehendak dengan izin ibu-bapak tetapi sunnah meminta izin dari pada kedua ibu bapak itu.[1]

Kemudian orang tua harus membekali anak terlebih dahulu dengan pendidikan-pendidikan pengantar akan dimatangkan nantinya di dalam sebuah lembaga pendidikan. Mengenai tugas orang tua sebagai pendidik, Muhammad Soleh Chambali menjelaskannya:

  1. Mengenalkan kepada anak-anaknya tentang Allah dan nabi Muhammad.
  2. Menyuruh anak-anaknya shalat
  3. Mencegahkan anak-anaknya dari yang haram dan mengajarkan segala yang wajib dari kewajiban syariat serta mengenalkan anak-anaknya tentang sunnat.[2]

Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidik adalah murabbi, mu’allim dan sekaligus muaddib. Artinya seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat rabbani  bijaksana, kasih sayang, terpelajar, tanggung jawab, terhadap peserta didik dan harus menguasai ilmu teoritik, kreatif, memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu dan sikap  menjunjung tinggi dalam mengembangkan dan menjunjung tinggi  nilai-nilai  ilmiah, serta mampu mengintegrasikan ilmu dan amal sekaligus.[3]

Islam sangat menghormati profesi seorang guru sehingga untuk mengisi tulisan tentang guru murid, Dr. Asma Hasan Fahmi harus mengutip beberapa keterangan dan tulisan  orang yang membicarakan tentang masalah pendidikan baik yang terdapat dalam kitab kesusteraan, agama, maupun yang membicarakan sendiri, memang jarang sekali terdapat suatu pembicaraan mengenai pendidikan tanpa menyinggung status guru, fungsinya dan sopan santunnya, serta kewajiban murid-murid dan kelanjutan yang berguna baginya dalam memperoleh ilmu pengetahuan.[4]

Muhammad Soleh Chambali memberikan penjelasan mengenai perilaku seorang guru sebagai berikut:

  1.  Ihtimal: yaitu menanggung susah dan menerima suatu yang datang oleh murid dari pada  pertanyaan dan  pekerjaan yang menuyusahkan akan dia yakni hendaklah  orang yang alim itu  bersifat dengn sabar pada suatu yang di datangkan kepadanya dari pada segala yang menyusahkan akan dia dan jangan lekas marah pada muridnya itu.
  2. Luzumul Hilmi: seyogyanya bagi orang yang alim itu (Hibah) hilmi tiada lekas marah.
  3. Menundukkan kepala
  4. Meninggalkan takabbur atas sekalian hamba Allah ta’ala melainkan atas orang dzolim karena menegahkan dari pada dholimnya
  5. Tawadu’ yaitu merendahkan diri pada perhimpunan orang yang banyak dan pada majlis orang yang banyak
  6. Meninggalkan bergurau dan bermain
  7. Kasih sayang dengan muridnya berperangai dengan lemah lembut dari pada pekerjaan dan perkataan
  8. Menanti atas pertanyaan Fulan yang dungu atau bebal
  9. Membaikkan dan membetulkan akan orang yang bebal dan orang jahil dengan menunjukkan jalan kebajikan dan jalan yang benar serta meninggalkan marah bagi orang yang baharu belajar
  10. Jangan malu mengatakan aku tidak tahu atau mengatakan Wallahu A’lam
  11. Hendaklah bersungguh-sungguh menghadap kepada orang yang bertanya akan masalah dan menuntut paham akan soal orang itu supaya menjawab ia akan masalah itu
  12. Menerima dalil yang membenarkan perkataan orang atau perkataan murid dan jangan ditolaknya atau dalil itu karena malu kepada orang banyak karena menyangkut orang yang benar itu wajib dan jikalau dari pada  orang yang rendahan dari kita sekalipun
  13. mengikuti kepada yang benar dengan kembali kepadanya ketika bersalahan pada suatu masalah
  14. Mencegahkan ia akan orang yang belajar ilmu yang memberi mudharat akan dia
  15. Mencegahkan ia akan orang mengkasadkan dengan belajar ilmu yang bermanfaat akan yang lain dari pada wajah Allah.
  16. Hendaklah mencegah orang yang belajar yang fardu kifayah dahulu dari pada selesai dari pada fardu ain bermula fardu ain itu membaikkan ia akan dhohirnya dan bathinnya dengan taqwa yakni dengan mengerjakan ibadah dhohir dan yang batin dan menjauhkan ma’shiat yang dhohir dan yang batin seperti yang tersebut di dalam bidayah wallahul hadi ila shirotil mustaqim
  17. Hendaklah ia mengamalkan akan ilmunya itu supaya ia diikuti oleh tilmidznya yakni orang yang belajar itu akan ilmunya dan perkataannya wallahuttaufiq.[5]

Mengenai pendapatan dari hasil pengajaran ini dan orang yang berkewajiban memberikan dana untuk biaya pendidikan Muhammad Soleh Chambali berpendapat:

Atas siapa upah mengajarkan kanak-kanak itu akan yang demikian itu? Bermula upah mengajarkan akan yang demikian itu yakni segala yang wajib dan upahnya seperti mengajar Qur’an dan adab itu pada hartanya kemudian atas bapaknya kemudian atas ibunya kemudian pada baitul maal kemudian atas segala orang muslim yang kaya.[6]

Komponen ketiga dalam pembahasan ini adalah murid, Muahammad Soleh Chambali memberikan apresiasi  yang sungguh luar biasa terhadap pendidikan anak ini terbukti hampir seluruh kitabnya menggunakan khitab anak-anak sebagai media menjelaskan hukum-hukum, etika serta adab yang baik, hal ini dicontohkannya sebagai berikut:

Dan aku aturkan dia atas jalan soal dan jawab, supaya mudah bagi diriku dan bagi segala kanak-kanak yang baharu belajar mempahamkan dia dengan jalan showab maka barang yang ada padanya yang betul maka dari pada segala asalnya dan barang yang ada padanya dari pada yang salah maka dari padaku tiada dari padanya[7].

Muhammad Soleh Chambali memberikan penjelasan mengenai urutan-urutan bagi murid dalam menuntut ilmu. Pertama,  beliau memulainya dengan hukum menuntut ilmu, macam-macam ilmu, setelah itu beliau berbicara mengenai berbagai kelebihan ilmu, kelebihan bagi orang yang menuntut ilmu, buah (hasil) dari pada menuntut ilmu, kemudian beliau membahas hal-hal yang menyebabkan kuat atau lemahnya hafalan bagi seorang murid dan yang menyebabkan lupa.[8]

   Kedua, kaidah menutut ilmu pengetahuan yang semakin hari kita lupakan adalah berdo’a sebelum dan sesudah belajar adapun doa yang dianjurkan oleh Muhammad Soleh Chambali adalah:

Doa sebelum belajar:

بسم الله سبحان الله والحمدلله ولااله الاالله اكبرولاحول ولاقوةالابالله العلي العظيم العزيز العليم عدد كل حرف كتب ويكتب ابد الأبدين ودهر الداهرين

Do’a sesudah belajar:[9]

امنت باللهالواحدالأحدالحق وحده لاشريك له وكفرت بماسواه

Ketiga, kaidah ilmu pengetahuan yang perlu dihadirkan kembali kebumi pendidikan Islam adalah cara seorang penuntut ilmu untuk meraih ilmu itu sendiri. Muhammad Soleh Chambali memberikan beberapa kiat dalam belajar bagi seorang penuntut ilmu:

Bermula sekuat-kuat sebab jadi hafidz itu bersungguh-sungguh dan mengalakkan yakni memperhatikan, dan mensedikitkan makan-makanan dan sembahyang pada waktu tengah malam, dan membaca qur’an dilihat, dan membaca qur’an dengan dilihat itu terlebih afdhal[10]

Seorang murid harus membersihkan dirinya dari kotoran sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah semacam ibadah, dan tidak sah ibadah kecuali dengan bersih hati, bersih hati artinya menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela seperti dengki, benci, menghasud, takabbur, menipu berbangga-bangga dan memuji diri dan menghiasi diri dengan akhlaq mulia seperti benar, taqwa, zuhud, dan merendahkan diri sebagaimana dikatakan oleh Dr. Asma Hasan Fahmi.

  1. Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri dengan tuhan dan bukan untuk bermegah-megahan dan mencari kedudukan.
  2. Dinasehatkan agar para pelajar tabah memperoleh ilmu pengetahuan dan supaya merantau, sekiranya keadaan menghendaki untuk pergi ke tempat yang jauh untuk memperoleh seorang guru, maka ia tidak boleh ragu-ragu untuk itu, demikian ia juga dinasehatkan agar ia tidak sering menukar guru, kalau keadaan menghendaki ia harus menanti sampai dua bulan sebelum menukar seorang guru.
  3. Wajib menghormati guru dan bekerja untuk memperoleh kerelaan guru, dengan mempergunakan bermacam-macam cara.[11]

Adapun mengenai adab murid kepada guru, Muhammad Soleh Chambali menyebutkan di dalam Kitab Cempaka Mulia sebagai berikut:

  1. Apabila bertemu dengan gurunya hendaklah ia memberi salam
  2. Bahwa jangan membanyakkan berkata-kata di depan gurunya
  3. Bahwa jangan ia berkata-kata dengan barang yang tiada ditanya oleh gurunya itu
  4. Jangan bertanya pada gurunya melainkan setelah mendapat izinnya
  5. Jangan ia meninggalkan perkataan gurunya dengan katanya si Fulan menyalahi yang engkau katakan itu barang sebagainya.
  6. Bahwa jangan ia memberi marah pada gurunya itu yang menyalahi akan bicara gurunya menjaga ia lebih benar daipada gurunya maka yang demikian itu kurang adab kepada gurunya lagi kurang berkah.
  7. Bahwa jangan berpaling ia kekiri dan kekanan di hadapan gurunya tetapi hendaklah ia duduk tunduk lagi beradab seolah-olah di dalam sembahyang.
  8. Jangan membanyakkan soal tatkala ia capai
  9. Apabila berdiri gurunya maka hendaklah ia berdiri pula karena ta’zimkan akan gurunya dan jangan di ikuti pada katanya
  10. Jangan jahat sangka dengan gurunya[12]

Dari uraian mengenai adab guru murid di atas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, akhlak itu menempati tempat yang lebih penting dari ilmu, dan ini merupakan prinsip dasar yang harus digunakan untuk pembinaan guru dan pelajar bersama-sama sebagaimana wudhu’ mendahului sembahyang, maka demikian pula pembersihan jiwa harus di dahulukan dari pada belajar, karena ilmu sebagian dari ibadah.

Atas dasar inilah orang Islam menganggap bahwa pekerjaan yang pokok bagi seorang guru adalah menanam akhlak dan membentuk sifat-sifat yang utama. Tidak dapat diragukan lagi bahwa yang demikian itu terdapat inti hikmah dan tujuan pelajaran, karena pendidikan yang tidak berasaskan akhlak pasti merupakan pendidikan yang gagal, dan tiap-tiap perubahan  yang tidak berakar pada kebaikan dan sifat-sifat yang utama adalah peradaban yang palsu dan bohong, seperti fatamorgana.

Kedua, Mensucikan ilmu dan para ulama. Sebenarnya sikap ini adalah sebagian dari gejala-gejala pendidikan Islam yang terbaik, dan padanya terdapat pengaruh yang luar biasa dalam memperkuat kecondongan yang ideal pada perorangan, kecondongan mana yang dapat mengisi jiwa seseorang dengan kehusyu’an, keimanan dan ketabahan. Mensucikan guru akibat dari mensucikan ilmu. Akan tetapi kita tidak mengingkari bahwa berlebih-lebihan dalam sikap mensucikan guru dapat menjurus kepada keterikatan cara perfikir pada waktu kita menghendaki adanya keseragaman sikap dan kesatuan tujuan. Kalau sekiranya kita mengecam masa yang lalu karena berlebih-lebihan mensucikan ilmu dan para ulama maka zaman modern sekarang ini terdapat sikap yang berlebihan dalam keragu-raguan dan ketidak satuan paham, sehingga dapat mengakibatkan kerenggangan sosial, kebingungan dan ketidak tenangan. Meskipun demikian kecondongan ini kadang-kadang merupakan salah satu gejala asimilasi pemikiran yang mengakibatkan terciptanya satu hal yang baru yang lebih kukuh dan harmonis serta lebih sesuai dengan kebutuhan zaman modern.

Ketiga, mencurahkan perhatian yang mendalam untuk memperkuat hubungan perorangan dan ikatan kasih sayang antara guru dan pelajar. Kepada guru dimintakan untuk mendahulukan kasih sayang dalam pergaulan dengan para pelajar sehingga merupakan salah satu pergaulan antara seorang bapak dengan anak-anakanya. Dari pihak para pelajar di tuntut utuk mentaati guru dan menghormatinya, menjaga ketenangan dan berusaha untuk memperoleh kerelaannya.[13]

Sumber Tulisan

[1] Soleh Chambali, Cempaka…,. hlm. 9.

[2] Soleh Chambali, Ta’lim…, hlm. 29-30.

[3] Zakiyah Daradjat, Ilmu… , hlm 41-44.

[4]  Dr. Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam terj. Ibrahim Husen,MA., (Jakarta: Bintang Bulan,1979), hlm.164. selanjutnya disebut “Pendidikan Islam”

[5] Soleh Chambali, Cempaka …, hlm. 5.

[6] Soleh Chambali, Ta’lim…, hlm. 30.

[7] Ibid., hlm .5.

[8] Ibid., hlm. 1-10.

[9] Ibid, hlm. 8.

[10] Ibid

[11] Dr. Asma Hasan Fahmi, Pendidikan Islam…, hlm. 174-175.

[12] Soleh Chambali, Cempaka…, hlm. 7.

[13]Dr. Asma Hasan Fahmi, Pendidikan Islam…, hlm. 176-178.