Assalamu alaikum wr wb!!!!

Giman kabar sobat tumnagkasaraka??? jika baik alhamdulillah, jika kurang baik alhamdulillah jg. hehehe

Sudah baca belum artikel seblumnya tentang hakikat dan karakteristik pendidikan islam, jika tidak silahkan ditengok dulu karena artikel ini merupakan artikel kelnjutan dari sebelumya yang saya bagi ke dalam 4 bagian:

Hakekat dan karakteristik pendidikan islam

Tugas dan Fungsi pendidikan islam

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

Komponen dasar pendidikan Islam

 

Muhammad Quthb mengatakan ciri khas sistem pendidikan Islam adalah metodologi Islam dalam melakukan pendidikan dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia sehingga tidak ada yang tinggal dan terabaikan sedikitpun baik segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya secara fisik maupun phsikis dan segala kegiatannya di muka bumi. Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat di dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikit pun yang diabaikan dan tidak memaksakan apapun selain yang dijadikan sesuai fitrahnya.

Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial fitrah manusia tetap dipengaruhi oleh alam sekitarnya, hal tersebut berpengaruh terhadap sikap manusia, cara pandang terhadap suatu masalah yang pada akhirnya nanti pengaruh lingkungan tersebut menjadi sandaran terhadap tingkah laku untuk selamanya atau hanya berlaku pada masa tertentu dan tempat di mana orang tersebut berinteraksi. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam al Qur’an,suratal- Syams ayat 8-10:

Artinya:

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Sifat manusia bagai dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan; manusia memiliki sifat yang mengarahkan dirinya kepada jalan yang lurus dan begitu pula sebaliknya dapat membawanya ke jurang nista dan penuh dosa. Melihat hal ini maka tugas pendidikan Islam adalah mengantarkan potensi baik manusia ke dalam permukaan tingkah laku dan selanjutnya berusaha menekan sifat jahat manusia.

Prof. H Muzayin Arifin, M.Ed. menegaskan pendapatnya tentang hal ini. Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tahap ke tahap lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut predisposisi (kemampuan dasar) serta akal manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal. Potensi atau kemungkinan berkembang dalam diri manusia itu baru dapat berlangsung dengan baik bilamana diberi kesempatan yang cukup baik dan favorable untuk berkembang melalui pendidikan yang terarah. Kemampuan potensi diri manusia baru aktual dan fungsional bila disediakan kesempatan untuk muncul dan berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya. Hambatan-hambatan mental dan spiritual banyak corak dan jenisnya seperti hambatan pribadi dan hambatan sosial yang berupa hambatan emosional dan lingkungan masyarakat yang tidak mendorong kepada kemajuan pendidikan sebagainya.[1]

Untuk mencapai tugas pendidikan Allah memberikan bagi manusia akal, dengan potensi akal ini diharapkan manusia dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Keadilan Allah mengenai akal tidak pernah ditujukan kepada satu kaum saja akan tetapi diberikan kepada seluruh umat manusia yang membedakannya hanya pada kemampuan mengolah serta memanfaatkannya.

Prinsip kesamaan akal ini di tangkap oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sebagai sebuah modal dasar untuk mencapai tujuan hidup manusia:

Wajib atas sekalian mua’malah itu dan tiap-tiap seorang yang berbimbing itu dengan suatu dari padanya atas ilmu memelihara dari pada yang haram padanya dan demikian juga di fardhukan atasnya ilmu kelakuan hati dari pada tawakkal dan kembali kepada Allah dan takut dan ridha maka sekalian itu jatuh pada sekalian hal, adapun kemuliaan ilmu itu tiada tersembunyi atas seorang karena ia tertentu pada kemanusiaan.[2]

Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menjelaskan ada dua tugas utama yang harus dipelajari oleh setiap peserta didik yang pertama; peserta didik harus lebih dahulu mengetahui segala yang fardhu ‘ain kemudian baru mempelajari ilmu fardhu kifayah.

Hendaklah mencegah orang yang belajar yang fardu kifayah dahulu dari pada selesai dari pada fardu ain bermula fardu ain itu membaikkan ia akan dhohirnya dan bathinnya dengan taqwa yakni dengan mengerjakan ibadah dhohir dan yang batin dan menjauhkan ma’shiat yang dhohir dan yang batin seperti yang tersebut di dalam bidayah wallahul hadi ila shirotil mustaqim[3]

Yang dimaksudkan dengan fardhu ain adalah pengetahuan individu mengenai hak dan kewajiban dirinya sebagai seorang pribadi seumpamanya: peserta didik terlebih dahulu harus mengetahui kewajibannya sebagai seorang hamba Allah dengan mempelajari hak dirinya kepada Allah serta kewajibannya kepada Nya, baru kemudian ia mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hak dan kewajibanya bermuamalah dengan sesama manusia (lingkungan) bagaimana bersosial dengan masyarakat.[4]

Apabila tugas pertama (mengetahui yang fardhu ain dan fardhu kifayah), selanjutnya pada pembahasan fungsi dari pendidikan Islam itu sendiri, masih mengutip pendapat Prof. M. Arifin, M.Ed tentang pengertian fungsi pendidikan Islam sebagai berikut: menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan tersebut berjalan lancar. Penyediaan pasilitas ini mengandung arti dan tujuan yang bersifat struktural institusional.[5]

Syafii Ma’arif, mengatakan corak pendidikan yang diinginkan oleh Islam ialah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual kaya dalam amal serta anggun dalam moral dan kebijakan.[6]

Drs HM. Chabib Thoha, MA., mengatakan ditinjau dari sudut pandangan sosiologis dan antropologis fungsi utama pendidikan untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik dan menanamkan nilai yang baik, karena itu tujuan akhir pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi kreatifitas peserta didik agar menjadi manusia yang baik menurut pandangan manusia dan Tuhan Yang Maha Esa[7]

Muchtar Buchori merumuskan fungsi pendidikan sebagaiman dikutip Drs. Marasudin Siregar yaitu[8]:

  1. Turut mempersiapkan bangsa untuk memungkinkan pelaksanaan usaha ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan aspirasi nasional
  2. Mempersiapkan bangsa untuk mempersiapkan diri dengan perubahan-perubahan yang dilahirkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

Dari beberapa tinjauan para ahli pendidikan di atas sehingga tujuan dan fungsi pendidikan memang tidak boleh melanggar aturan yang ada dimuka bumi dan apa yang telah digariskan Allah, serta tidak begitu saja melupakan hakikat utama penciptaan manusia.

Dari sini dapat di identifikasi tugas dan fungsi pendidikan Islam dimulai dari tahap yang paling dasar “pendidikan anak”. Oleh sebab itu materi yang digunakan harus sesuai dengan psikologis masa kanak-kanak. Materi awal yang di kemukakan terlebih dahulu adalah memberikan semangat kepada anak-anak agar mau belajar. yaitu dengan menerangkan kelebihan-kelebihan bagi penuntut ilmu, misalnya:

  1. Bahwasanya malaikat merendahkan akan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena sangat suka dengan perbuatannya.
  2. Sesungguhnya berpagi-pagi itu maka belajar ia akan satu bab dari pada ilmu niscaya terlebih baik dari pada bahwa ia sembahyang sunnah seribu rakaat.
  3. Bermula orang yang menuntut ilmu itu mengakui Allah ta’ala baginya dengan rizkinya.[9]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tugas pendidikan Islam adalah memberikan penyadaran kepada peserta didik kewajiban dirinya sebagai seorang manusia dan hamba dengan cara menyiapkan mereka dengan ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.

Maka wajib atas tiap-tiap mukallaf itu yakni orang yang akil baligh bahwa mengetahui ia akan barang yang mustahil dan barang yang jaiz, seperti demikian pula pada hak segala rasul termasuk para malaikat dan sebagainya yang semuanya itu dijelaskan di dalam ilmu tauhid[10]

Sedangkan pendidikan Islam berfungsi sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Yang dimaksudkan sebagai pembeda antara manusia dengan hewan, manusia memiliki aturan dan tata cara berkelakuan antara sesama manusia. Sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan jelas awam al muslimin dengan alim  seperti yang di katakan Muhammad Soleh Chambali:

Wajib atasnya pula yang demikian itu, seperti ikhlas dan tawadhu’ dan ridha dari pada Allah ta’ala, dan tawakkal atasnya, dan sabar atas bala’ dan tawakkal atasnya, dan sabat atas bala, dan coba, dan sabar atas taat dan percaya dengan rizki dari pada Allah ta’ala, dan benci akan dunia dan memusuhi nafsunya dan memusuhi syaithon[11]

Di samping fungsi pembeda ia juga menjelaskan bahwa harus ada keseimbangan antara kehidupan sosial yang ada di dunia ini dengan kehidupan akhirat yang akan datang.

Sumber Tulisan

[1] Prof. Muzayin Arifin, M.Ed., Filsafat .., hlm. 33-34.

[2] Soleh Chambali, … Perniagaan…, hlm. 11.

[3] Soleh Chambali, Cempaka …, hlm. 7.

[4] Pertama, manusia sebagai seorang khalifah yang terdiri dari a. tugas kekhalifahan yang berkaitan dengan diri sendiri dijabarkannya (1) Menuntut ilmu, (2) menjaga dan memelihara diri sendiri dari yang menyebabkan bahaya dan kesengsaraan termasuk di dalamnya menjaga dan memelihara kesehatan fisik, memakan makanan yang halal dan sebagainya, (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia; b. tugas kekhalifahan dalam keluarga, menyangkut tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawadah wa rahmah, c. tugas kehalifahan dalam masyarakat (1) mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat, (2) tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, (3) Menegakkan keadilan dalam masyarakat, (4) Bertanggung jawab atas amar ma’ruf nahi mungkar, (5) Berbuat baik terhadap golongan masyarakat lemah. d. tugas kehalifahan terhadap natur menyangkut tugas-tugas: (1)  mengkulturkan natur, (2) menaturkan kultur, (3) meng Islamkan kultur,  Kedua, manusia sebagai seorang hamba Allah. Lih. Drs Muhaimin, MA., Paradigma…,  hlm. 22-24.

[5]. Prof.  H.M. arifin, M.Ed., Filsafat…, hlm. 34.

[6] Syafi’i Ma’arif, …Cita dan Fakta, hlm.155.

[7]  Drs. HM. Chabib Toha, Kapita Selekta.. , hlm 59.

[8] Drs. Marasudin Siregar, Konsepsi Pendidikan Ibnu Khaldun suatu analisa Fenomenologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 106-107.

[9] Ibid., hlm. 6-7.

[10] Ibid., hlm. 10-11.

[11] Ibid., hlm. 88-89.