TINGKAT MASALAH

Isu perkelahian berada di urutan ke empat (Rose & Gallup, 2008). Meskipun bullying dan keamanan terus menjadi isu utama di Sekolah, National Center for Education Statistic 2007 melaporkan indikasi bahwa kejahatan nonfatal terhadap siswa usia 12-18 tahun menurun 62% dari yang dilaporkan enam tahun sebelumnya.

Siswa mungkin menjadi korban kejahatan ketika keluar dari sekolah, namun mereka lebih mungkin menjadi korban di sekolah. Beberapa tahun ini, data menunjukkaan 8% siswa kelas IX-XII melaporkan telah diancam atau dilukai dengan senjata. Dan 25% melaporkan bahwa narkoba beredar di lingkungan sekolah. Indicators of School Crime and Safety tahun 2007 melaporkan, berkaitan dengan kejadian yang terjadi paling sedikit sekali dalam seminggu. 18% Kepala Sekolah melaporkan tindakan siswa yang tidak respek kepada guru, 9% melaporkan kekerasan verbal dari guru dan 2% melaporkan gangguan ruang kelas yang meluas. 8% guru sekolah menengah melaporkan adanya ancaman serius, di tingkat SD mencapai 6%. Tetapi 4% guru SD melaporkan serangan fisik oleh siswa sedangkan Sekolah Menengah 2%

Bullying atau pelecehan antar siswa adalah masalah serius di Sekolah. Menurut survei yang dilakukan oleh Nation Institute of Child Health and Human Development: 1 dan tiap 5 siswa à di kelas VI-X mengalami bullying dari teman sekelasnya (Cole, Cornell & Sheras, 2006). National Center for Education Statistics: 28% siswa melaporkan mengalami bullying di Sekolah selama 6 bulan terakhir.

  • 53% siswa-siswa à mendapat bullying 1 atau 2x = enam bulan, 25% à menyebutkan mendapat bullying 1 atau 2x = sebulan, 11% à 1 atau 2x = seminggu, 8% = tiap hari
  • 79% à di bullying dalam gedung sekolah dan 28% à di bullying di halaman sekolah

Siswa yang lebih tua juga menyebutkan mengalami bullying. Perkiraan 37% kelas VI, 28% kelas IX, 20% kelas XII. laporan bullying ini sama untuk anak laki-laki dan perempuan, walaupun anak laki-laki yang lebih dari dua kali mengalami luka fisik dari pada perempuan.

Rata-rata bullying lebih tinggi untuk siswa homoseksual, lesbian, biseksual dan trans gender (Kosciw & Diaz, 2006). lebih dari 75% siswa ini mendengar pernyataan yang menghina dan lebih dari 37% mengalami kekerasan fisik di Sekolah.

Kepedulian Guru Terhadap Manajemen Kelas dan Pendidikan Mereka dalam Bidang ini

Guru melaporkan bahwa kekecewaan mereka terhadap perilaku siswa adalah alasan mengapa mereka pindah dari sekolah atau meninggalkan profesi ini. Alasan ini menempati ranking ke empat, alasan pindah ke sekolah lain mencapai 53% dan urutan kelima untuk meninggalkan profesi mencapai 44% karena kecewa dengan pengajaran. (Departemen Pendidikan, Amerika Serikat, 2005). Manajemen kelas juga merupakan topik yang paling diperhatikan oleh guru pemula (Ganser, 1999; Jacques, 2000; Ladd, 2000; McCormack, 2001).

Dalam penelitian terhadap 82 guru di tahun pertama mengajar à 64 guru mengemukakan bahwa manajemen kelas merupakan ranah yang paling mendukung mereka (Stroot dkk, 1999). Guru baru melaporkan bahwa keahlian manajemen kelas yang buruk (82%) dan siswa yang mengganggu (57%) adalah halangan paling signifikan dalam keberhasilan profesi mereka (Fideler & Haskelhorn, 1999). guru baru mengemukakan mereka tidak siap menghadapi isu-isu yang berkaitan dengan manajemen kelas (Herbert & Worthy, 2001).

Hasil survei dari 900 lulusan program pendidikan guru tahun kelima di California menyebutkan bahwa program pendidikan seharusnya lebih menfokuskan pada manajemen kelas dan keahlian dalam berkomunikasi dengan orang tua (Writney, Golez, Nagel & Nieto, 2002). di Florida menunjukkan bahwa 43% guru di 5 tahun merasa “kurang persiapan” atau “tidak mempersiapkan”.

Keprihatinan terhadap perilaku siswa dan manajemen kelas tak hanya menyebabkan guru stres tetapi juga menyebabkan makin menurunkannya jumlah guru yang menekuni bidang pengajaran atau bertahan mengajar untuk periode yang lama.

Selama tahun 1980-an dan 1990-an, prosedur paling umum bagi guru untuk menanggapi perilaku siswa yang menyimpang adalah menyuruh siswa berdiri di sebelah papan tulis dan melanjutkannya dengan rangkaian pemeriksaaan jika siswa tetap meneruskan perilaku yang tidak bertanggung jawab. tetapi menurut penelitian (Emmer & Aussiker, 19990; Nelson, Martella & Galand, 1998) menunjukkan bahwa respons semacam ini, seperti yang disebutkan diatas sering membuat situasi menjadi buruk. Penelitian baru-baru ini menyarankan agar guru tidak meneruskan pendekatan tersebut.

FAKTOR SOSIAL YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SISWA

            Masalah umum yang menyebabkan kecemasan dan berpengaruh negatif terhadap belajar siswa seperti perceraian, kekerasan rumah tangga, kemiskinan, rasisme, pengaruh televisi, dan video game. Search Institute mendaftar lima defisit perkembangan: (1) Pesta alkohol, (2) kesepian dirumah, (3) menjadi korban kejahatan, (4) terlalu banyak menonton televisi, dan (5) kekerasan fisik. Penelitian menunjukkan, 15% remaja yang disurvei yang tidak mengalami defisit. Sepertiga (32%) mengalami tiga atau lebih.

FAKTOR-FAKTOR SEKOLAH YANG SECARA SIGNIFIKAN MEMPENGARUHI BELAJAR DAN PERILAKU SISWA

            Guru mempunyai kontrol atas banyak faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi dan perilaku siswa. Sekolah dan guru yang bekerja sama dengan populasi siswa yang sama akan berbeda dalam kemampuan mereka untuk membantu siswa mengembangkan perilaku yang diharapkan dan meningkatkan prestasi siswa. Mortimore dan Sammons (1987) menyimpulkan penelitian lanjutan mereka pada faktor-faktor yang mempengaruhi akademik siswa dan pencapaian sosial: bahwa sekolah sekitar enam kali lebih penting dari pada latar belakang (usia, jenis kelamin, kelas sosial, dan ras). Analisis kemampuan berbicara dan sosial juga menunjukkan pentingnya peran sosial. Yang penting disini adalah kebijakan dan proses kontrol yang dilakukan kepala sekolah dan guru. Faktor-faktor ini dapat diubah dan diperbaiki.

Peneliti yang dilakukan di Universitas Johns Hopkins menunjukkan bahwa teknik-tiknik manajemen kelas yang efektif da tahun-yahun pertama berpengaruh penting pada apakah siswa akan berkelakuan buruk pada usia tiga belas tahun. Kellam dan rekan-rekannya (1998) melaporkan anak laki-laki yang sangat agresif yang masuk ke kelas satu dengan guru yang terlatih dengan manajemen kelas akan tiga kali lebih kecil kemungkinannya untuk tetap agresif ketika mereka berada dikelas delapan dari pada anak agresif yang sama dimasukkan kekelas satu dengan manajemen kelas yang buruk.

Untuk membuat perubahan yang signifikan pada belajar dan perilaku siswa, kita harus serius melihat berbagai variabel dalam setting sekolah dan berusaha berperan aktif dalam mengubah perilaku mengajar kita dan bagaimana sekolah dibentuk.

Pentingnya menangani siswa dengan lebih dahulu mendifinisikan secara jelas dan perilaku yang diharapkan, mengembangkan secara jelas pemahaman dan respons pendidik untuk menangani kejahatan, termasuk pengajaran ulang perilaku individu yang diharapkan kepada siswa yang terus menampilkan perilaku yang mengganggu hak orang lain. Sebagai tambahan, beberapa penulis ini (Freiberg, 1999; Jones, 2002) menyoroti pentingnya menciptakan kurikulum dan memodifikasi kurikulum dan instruksi bagi siswa yang mengalami kesulitan akademik. Penulis-penulis ini juga menekankan pentingnya memastikan bahwa siswa memperoleh dukungan komunitas di sekolah.

Kunci untuk pencegahan kejahatan sekolah utamanya adalah tidak pada penjagaan dan pengawasan kamera tetapi pada memahami dan memedulikan, menghargai dan memberdayakan siswa.

MANAJEMEN KELAS: PERUBAHAN PERSPEKTIF

– Hubungan Guru-Siswa dan Pendekatan Konseling

Sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an, penekanan dalam kaitannya dengan perilaku siswa adalah metode disiplin. Penekanan psikologi selama akhir 1960-an dan awal 1970-an adalah pada perkembangan dan kesadaran personal, yang sering disebut psikologi humanistis, banyak metode berfokus pada pemahaman masalah siswa dan membantu mereka memahami diri mereka lebih baik dan bekerja sama dengan orang dewasa untuk mengembangkan perilaku yang lebih produktif. Penekanan pada psikologi humanistis terlihat jelas pada metod teori konsep diri.

Satu dari model penyelesaian masalah yang paling awal dan paling luas digunakan adalah terapi realitas (reality therapy) dari William Glasser (1965). Model Glasser ini berasal dari keyakinan bahwa orang cenderung membutuhkan profesional yang perduli, yang bersedia membantu mereka mengambil tanggung jawab terhadap perilaku mereka dan mengembangkan rencana yang dirancang untuk mengubah tingkah laku yang tidak produktif. Rudolf Dreikurs dan rekan-rekannya (1971) mengembangkan model yang berdasarkan pada keyakinan bahwa anak menentukan pilihan yang buruk karena didasari oleh pilihan yang tidak tepat dalam bagaimana memenuhi kebutuhan dasar mereka untuk diterima. Modelnya ini membekali guru dan orang tua dengan strategi-strategi untuk mengidentifikasi penyebab kelakuan anak yang buruk, merespon kelakuan itu dengan konsekuensi logis dan dengan mengadakan pertemuan keluarga dan kelas.  Ranah penelitian utama selanjutnya ialah analisis yang lebih banyak didasarkan pada data pengaruh frekuensi dan kualitas interaksi guru-siswa pada prestasi siswa.

–  Keahlian Organisasional dan Manajemen Guru

Penelitian awal adalah pada buku Jacob Kaunin meliputi rekaman ribuan jam diruang kelas yang berjalan lancar dengan perilaku mengganggu yang minimum, dan ruang kelas yang didalamnya siswa-siswanya yang sering kurang memperhatikan dan mengganggu. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan yang sistematis. Manajer ruang kelas yang efektif tidak secara khusus berbeda dari manajer ruang kelas yang buruk dalam cara menreka menangani perilaku buruk siswa. Meskipun demikian, analisis lebih jauh menunjukkan bagaimana manajer ruang kelas yang efektif menggunakan beragam metode belajar yang menghambat perilaku siswa yang buruk.

Fungsi yang berjalan lancar sepanjang tahun dalam ruang kelas guru yang efektif sangat dipengaruhi oleh perencanaan dan pengorganisasian yang efektif selama beberapa minggu pertama disekolah. Manajer ruang kelas yang efektif memberikan siswa instruksi yang jelas tentang perilaku ruang kelas yang diharapkan, secara teliti memonitor performa siswa dan menggunakan waktu untuk mengajarkan ulang perilaku yang belum dikuasai siswa. Guru yang efektif juga memberi konsekuensi untuk kelakuan yang buruk dan menerapkan konsekuensi ini secara konsisten.

Keahlian/Keterampilan Instruksional

Ranah penelitian ini adalah soal bagaimana guru melibatkan siswa dalam proses belajar. Kontribusi utama penelitian Madeline Hunter adalah dalam membantu guru memahami kebutuhan untuk mengembangkan tujuan instruksiaonal yang jelas, mengemukakan secara jelas kepada siswa, menyediakan instruksi langsung yang efektif, dan memonitor kemajuan siswa. Penelitian ini diperluas oleh penelitian yang meliputi hubungan antara beragam pola instruksional guru dan prestasi siswa. Ini sering disebut dengan penelitian proses produk, karena meneliti korelasi antara proses instruksional dan hasil siswa. Kegiatan belajar yang kooperatif berkorelasi positif dengan hasil belajar yang diinginkan. Siswa yang bekerja secara kooperatif dalam tugas-tugas belajar cenderung berhubungan secara lebih positif dengan kawan-kawannya, memandang belajar secara lebih positif, dan mempelajari lebih banyak informasi. Jika guru mengizinkan siswa untuk belajar dalam lingkungan yang dimodifikasi dengan respons beragam pilihan belajar yang disukai, termasuk siswa dengan kebutuhan belajar khusus, mereka akan belajar lebih banyak dan menunjukkan perilaku yang membantu diri mereka dan siswa lainnya. Howard Garner menyarankan agar guru menyesuaikan instruksi dan penilaian untuk merespon dalam beberapa cara untuk tiap individu siswa. Ia juga mengatakan, guru akan lebih efektif dalam meningkatkan prestasi siswa jika mereka mendukung siswa dalam kegiatan instruksional yang dianggap bermanfaan oleh siswa tersebut.

Metode Behavioristik

Pada metode tersebut, guru-guru diajarkan untuk mengabaikan perilaku yang tidak tepat dan melakukan penguatan pada perilaku yang sesuai, menulis perjanjian dengan siswa-siswa yang suka melawan, dan menggunakan prosedur mengeluarkan siswa. Guru-guru belajar untuk mengemukakan harapan perilaku umum dengan jelas, tenang, dan secara konsisten menghukum perilaku siswa yang tidak sesuai serta memberi penguatan kelompok untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan perilaku. Fredric Jones mengfokuskan pada penggunaan bahasa tubuh yang efektif dipihak guru, menggunakan sistem insentif, dan bantuan individual untuk masalah akademik.

Peneliti dan praktisi yang menekankan pendekatan behavioral meningkatkan fokus atensi mereka pada pengajaran keterampilan perilaku siswa yang tepat. Pendekatan paling terkenal disebut Dukungan Perilaku Positif atau Positive Behavioral Support. Pendekatan ini menggabungkan beberapa penelitian terdahulu dalam menejemen kelas yang efektif. Pendekatan ini menekankan:

  1. Bekerja dengan staf sekolah dalam mendefinisikan, mengajar, dan memperkuat perilaku sekolah yang diterima secara sosial.
  2. Membuat kelompok kecil dan instruksi individual untuk perilaku yang tepat terhadap siswa yang membutuhkan bantuan tambahan.
  3. Mengembangkan rencana individual untuk membantu siswa yang tetap berperilaku buruk berdasarkan pada analisis perinci dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku siswa (penilaian perilaku fungdional)
  4. Menjalin kemitraan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mendukung kebutuhan akademik dan perilaku individu siswa.

MANAJEMEN KELAS YANG KOMPREHENSIF

Manajemen itu sediri dapat  diartikan pengelolaan. Dan dalam pengertian luas merupakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan komprehensif dapat diartikan menyeluruh/terperinci. Jadi manajemen kelas yang komprehensif merupakan pengelolaan kelas secara menyeluruh/terperinci.

Brophy menyarankan empat ranah pengetahuan dan keakhlian dalam manajemen kelas yang komprehensif.

  1. Manajemen kelas harus berdasarkan pada pemahaman yang kuat atas penelitian dan teori mutkhir dalam manajemen kelas dan kebutuhan personal dan kebutuhan psikologi siswa. Ketika pengelolaan kelas harus melihat dan memahami kebutuhan siswa maupun psikologinya. Psikologi dapat diartikan tingkah laku, maka dalam mengelola kelas harus melihat pola maupun tingkah laku siswa tersebut. Karena didalam pembelajaran yang inggin kita raih adalah perubahan tingkah laku siswa tersebut.
  2. Manajemen kelas tergantung pada penciptaan iklim kelas yang positif dan komunikasi yang mendukung, dengan menjalin hubungan positif guru-siswa dan kawan, adanya keterlibatan positif dengan orangtua dan wali siswa. Dan menggunakan metode organisasi dan manajemen kelompok yang melibatkan siswa dalam pengembangan dan komitmen terhadap standar prilaku yang memfasilitasi tugas siswa.
  3. Manajemen kelas komprehensif yang menggunakan metode intruksional yang memfasilitasi pembelajaran yang optimal dengan merespons kebutuhan akademik siswa individu dan kelompok kelas.
  4. Manajemen kelas melibatkan kemampuan untuk menggunakan berbagai macam metode konsling dan prilaku yang melibatkan siswa dalam meneliti dan mengoreksi prilaku prilaku yang tidak tepat.

Keterampilan guru untuk mengembangkan manajemen kelas yang komprehensif: Membantu siswa mengevaluasi dan memperbaiki perilaku yang tidak produktif, meningkatkan motivasi dan kesuksesan akademik siswa, menciptakan komunitas belajar yang aman dan mendukung, dan menyusun landasan teoritis yang solid.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN GURU DALAM MANAJEMEN RUANG KELAS

Latar belakang budaya guru dan sejarah individual

Pendekatan guru untuk manajemen kelas jelas dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sendiri. Johns dan Espinoza (1996) mengemukakan bahwa, “apa yang guru anggap sebagai masalah disiplin akan ditentukan oleh budaya mereka, disaring melalui nilai personal dan gaya pengajaran. Cara guru mengatur kelas dan menanggapi gangguan belajar juga dipengaruhi oleh sejarah personalnya sendiri.

Jhonson dan rekan-rekan (1994) meneliti respons disiplin lebih dari 3400 guru australia, ia menemukan bahwa pandangan guru tentang disiplin terbagi ke dalam tiga kategori :

  1. Tradisional, dicirikan dengn guru sebagai figur otoritas yang menghadirkan dan mengikuti aturan secara ketat dan berespons dengan jelas dan merespons perilaku buruk siswa.
  2. Progresif liberal, dimana guru menerapkan prinsip demokratis yang melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
  3. Sosial kritis, dimana perilaku siswa yang digolongkan tidak tepat atau tidak produktif dipandang sebagai akibat dari kondisi kelas yang gagal memenuhi kebutuhan siswa.

Sebagai guru, ketika anda bekerja untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung yang didalamnya siswa merasa aman dan dihargai, anda harus memerhatikan sejarah personal anda sendiri dan keyakinan, dan memastikan hal-hal ini tidak membatasi kemampuan anda untuk menggabungkan metode yang memfasilitasi belajar semua siswa. Sebagai contoh, anda yakin belajar adalah aktivitas yang betul-betul individualistik yang memerlukan lingkungan yang terstruktur, tenang, dan tidak berisik. Meskipun tipe lingkungan ini efektif untuk anda, namun mungkin tidak produktif sebagai lingkungan belajar untuk beberapa siswa anda. Beberapa guru memilih untuk tidak terlalu personal, bahkan dalam berhubungan dengan siswanya, tetapi siswa membutuhkan lebih banyak hubungan personal dengan gurunya. Karena anda harus memilih metode untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung dan mengawasi perilaku yang jelas mengurangi lingkungan belajar yang produktif adalah penting anda memahami keyakinan dan nilai siswa anda tentang belajar dan hubungan personal anda dengan mereka.

Keyakinan Tentang Tujuan Sekolah

Faktor kunci lain yang mempengaruhi keputusan guru yang berkenaan dengan metode manajemen kelas adalah tujuan guru untuk siswanya. Kita akan memberikan yang terbaik untuk siswa jika kita secara konsisten bertanya pada diri kita sendiri, “apakah tujuan jangka panjang saya untuk para siswa? Kehidupan siswa bagaimana yang saya inginkan yang dipengaruhi dengan waktu yang mereka habiskan bersama saya?” tujuan pendidikan mempengaruhi pendekatan yang akan anda gunakan untuk membangun iklim kelas yang memotivasi siswa atau merespon perilaku buruk.

Ada argumen bahwa tujuan utama pendidikan umum adalah membekali siswa dengan kemampuan untuk bahagia dan menjadi anggota masyarakat yang produktif. Ketika mempertimbangkan cara terbaik membantu siswa mencapai tujuan, kita pelu bertanya, “apakah tipe keahlian akademik yang saya yakini dibutuhkan siswa agar pada saat dewasa mereka bisa produktif? “ tipe lingkungan apa yang saya yakini memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional kelas?

Latar Belakang Budaya Siswa

Dalam manajemen ruang kelas, seorang guru harus memperhatikan banyak hal yang terdapat di siswa-siswanya. Salah satunya harus memperhatikan budaya yang dimiliki oleh para siswa. Dalam pengembangan manajemen ruang kelas secara cultural memerlukan hal-hal sebagai berikut:

(a)    Pengakuan etnosentrisme dan bias siswa

(b)   Pengetahuan latar belakang budaya siswa

(c)    Pemahaman konteks sosial, ekonomi dan politik yang lebih luas dari system pendidikan kita

(d)   Kemampuan dan ketersediaan untuk menggunakan strategi manajemen ruang kelas yang tepat secara cultural; dan

(e)    Komitmen untuk membangun komunitas ruang kelas yang perhatian

Menurut Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.