Poligami, sering digembar-gemborkan oleh beberapa orang atau kelompok untuk memperoleh kelegalan. Beberapa macam alasan mereka kemukakan mulai dari melindungi janda yang ditinggal mati suaminya, menolong anak-anak yatim, menolong perempuan miskin dan lain sebagainya yang mereka klaim sebagai manfaat dan hikmah poligami. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa istri yang kedua, ketiga dan seterusnya itu lebih muda dan lebih cantik daripada istri pertama? Benarkah jika alasannya semata-mata demi menolong para janda dan anak-anak mereka tanpa ada niat dan perasaan lain? Mustahil!

“Daripada saya berselingkuh (berzina) lebih baik saya berpoligami”. Ini adalah ucapan yang paling kerap digunakan seseorang sebagai alasan untuk melegalkan poligami dan mencari dukungan dari pihak lain. Tentu saja laki-laki ini sudah mengenal baik perempuan yang akan dijadikannya sebagai istri kedua, ketiga atau keberapalah. Dan tentunya, laki-laki ini sudah memiliki perasaan khusus pada perempuan yang akan dinikahinya tersebut. Kalau sudah seperti ini, masihkah ada yang menyangkal kalau pologami itu bukan selingkuh?

Untuk lebih memantapkan hati, mari perhatikan kisah berikut:

Seorang lelaki mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA). Kepada seorang petugas disana, ia meminta daftar perempuan yang telah bercerai atau ditinggal mati suaminya. Lalu, saat daftar itu sudah dihadapan matanya, ia malah sengaja menutup kedua matanya. Sedetik kemudian, jari telunjuknya mengacung dan bergerak ke depan sampai menempelpada kertas tersebut. Persis ketika ujung jari dan permukaan kertas bertemu, ia membuka mata dan membaca nama yang tertera disana, “Hamidah”. Dicatatanya alamat dan nomor telepon wanita yang tak dikenalny itu.

Sejam kemudian, ia sudah sampai didepan rumah Hamidah. Diketuknya pintu seng dari rumah berdinding bambu itu. Sejurus kemudian, seorang menjawab “ya, saya Hamidah”. Rambutnya nyaris botak karena terserang penyakit kulit. Matanya bengkak karena tiap hari terkena asap kayu bakar. Gignya banyak yang ompong karena nyaris tak mengenal sikat dan pasta gigi. Bibirnya kering karena jarang dihampiri air minum. Payudaranya, walau tertutup rapat pakaian, jelas telh jatuh peyot karena tak pernah disangga brasier. Kulit tangannya –boleh jadi seluruh permukaan tubuhnya- keriput, tidak setetespun lotion pernah menyentuh tubuhnya. Tapi umurnya baru 29 tahun.

Namun, lelaki ini tetap tersenyum. Matanya masih memancarkan kecerahan. Bibirnya yang ranumpun berujar. “Bu Hamidah, saya bermaksud menjadi ibu sebagai istri kedua saya. Jika ibu berkenan, besok wali saya datang kesini unutk melamar ibu dan perkawinan bisa diadakan minggu depan”.

Mungkinkah kisah diatas benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata? Jelas sangat mustahil. Itulah sebabnya mengapa tidak ada poligami yang tidak didahului dengan selingkuh.

Berbeda dengan kisah berikut ini yang cukup masuk akal.

Pertemuan itu baru saja usai. Para ibu, janda dan gadis sudah pulang. Tinggallah beberapa orang pengurus gedung melipat kembali tikar yang baru saja digunakan untuk acara. Diatas mimbar, seorang lelaki berpenutup kepala, duduk sambil menggoreskan sebuah garis di atas catatannya. Catatan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh beberapa hadhirat tadi. Yang digarisbawahinya adalah sebuah nama, Hamidah.

Hamidah, umurnya masih berkepala tiga dan kulit wajahnya masih kencang. Sorot matanya yang sendu, menyiratkan persoalan hidupnya atau kerinduannya akan sesuatu, tepatnya sebuah sosok. “Ya, ia memang merindukan seorang pelindung”, gumamnya dalam hati. Lalu dipanggilnya salah seorang pemuda didekatnya. “Jangan lupa mengundang ibu Hamidah pada pertemuan selanjutnya di gedung A”.

Seminggu kemudian, Hamidah hadir di barisan terdepan. Laki-laki di mimbar sengaja memberikan pesan-pesan yang menurutnya cocok unutk kehidupan Hamidah. Pertemuan selama dua jam itu terasa amat singkat dalam pikiran si lelaki.

Pada pertemuan ketiga, lelaki ini tidak hanya lebih sering tersenyum selama ia berbicara di mimbar dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan ia juga mengajak bercakap-cakap Hamidah usai pertemuan. Sejak itu, pembicaraan selalu menutup perjumpaan mereka. Tak terasa sudah tiga bulan lamanya Hamidah rajin menghadiri pertemuan minggu itu. “Aku harus mengenal pribadinya lebih mendalam, juga anak-anaknya”, simpul pria ini.

Hingga pada suatu hari, lelaki ini melamarnya. Hamidah hanya tersenyum manis tanda setuju. Malamnya, lelaki ini langsung memberitahu istrinya. “Aku mau menikah lagi”. Tangis pun meledak sepanjang malam. Dan enam hari berikutnya selalu dihiasi sedu sedan. Dan pertanyaan bertubi-tubi, mengapa, mengapa dan mengapa.

Kesimpulan yang dapat diambil dari kisah diatas adalah poligami itu selingkuh dan hanya akan menciptakan rintihan-rintihan tak terdengar dari isrtri yang dipoligami.

Kunci Sukses Poligami

Apa sebenarnya kunci sukses dari poligami? Benarkah keadilan laki-laki yang menyebabkan suksenya poligami? Mari kita teliti.

Wanita adalah lem super yang mengikat dan tulang punggung yang menegakkan keutuhan dan kesuksesan poligami, bukan keadilan laki-laki. Buktinya adalah ada kelompok-kelompok tertentu yang sengaja mencuci otak wanita dan perlahan-lahan menyuntikkan virus kompleks rendah diri pada diri perempuan atau istrinya. Membuat para perempuan sangat bergantung pada ‘pemimpin’ dan memberikan doktrin bahwa perempuan harus belajar pada laki-laki.

Apakah perempuan harus belajar pada laki-laki, istri belajar pada suami saja? Belajar satu arah, istri adalah murid dan suami adalah guru. Tidak bisa sebaliknya? Apakah suami juga tak perlu belajar untuk mengendalikan nafsu seksual dan kebutuhan dominasinya dari istri? Apakah saumi tidak perlu belajar dari istri untuk mengungkapkan perasaannya?

Jika memang demikian, maka dapat dikatakan bahwa suami telah melakukan indoktrinisasi, bukan membangun suasana belajar mengajar yang multi arah. Jadi kesimpulannya adalah kunci sukses poligami itu bukan ‘keadilan suami’, tapi ‘kepatuhan istri’ yang telah dicuci otaknya.

Kalaupun para pelaku poligami itu mengaku telah berbuat adil, dan diamini oleh istri-istrinya, bagaimana dengan keadilan terhadap anak-anak mereka? Mungkinkah tercapai? Seperti perceraian dan konflik-konflik lainnya, bukan suami dan istri yang paling menderita, melainkan anak-anak. Anaklah yang menanggung bagian terbesar efek poligami.

 

Arti Selingkuh

Penyelewengan terjadi bila dua orang terlibat hubungan seksual atau emosional dimana salah satu diantaranya sudah menikah atau menjali hubungan (berkomitmen) dengan orang lain[1]. Penyelewengan atau perselingkuhan ini bisa melibatkan kontak fisik maupun hanya berupa kedekatan kedekatan perasaan, namun dilakukan secara rahasia, yaitu tidak diketahui oleh pasangan yang dikhianati.

Kadar perasaan yang terlibat dalam perselingkuhan sangat beragam. Ada yang hanya tertarik secara emosional dan seksual, ada pula yang sampai melakukan kontak badan dan seksual.

Jenis-jenis perselingkuhan yang umum terjadi

  • Selingkuh seksual
  • Selingkuh perasaan atau emosional
  • Selingkuh online atau penyelewengan di internet
  • Keterlibatan dalam pornografi
  • Telepon seks.

Dari jenis-jenis perselingkuhan diatas, selingkuh yang umumnya menyebabkan terjadinya poligami adalah selingkuh perasaan.

 

Ciri-Ciri Umum Penyeleweng

Berikut ini ciri-ciri umum yang biasanya ada dalam diri pasangan yang berselingkuh.

  1. Perubahan perasaan terhadap pasangan dan/ atau keluarga dan/ atau perkawinan.
  2. Sangat sering kerja lembur tanpa adanya penambahan pendapatan.
  3. Menggunakan internet secara berlebihan.
  4. Perubahan pola pemakaian telepon, seperti kerap tak bisa dihubungi lewat telepon atau HP kerap diheneingkan (silent).
  5. Angka kilometer di odometer mobil bertambah cukup tinggi.
  6. Lebih sering berkumpul dengan teman-teman baru.
  7. Menyembunyikan tagihan kartu kredit.
  8. Perubahan perilaku seksual.
  9. Perubahan penampilan secara mendasar.
  10. Perubahan pola pengaturan rumah tangga.
  11. Perubahan pengelolaan keuangan.
  12. Perubahan sikap.

 

Peluang Berpoligami

Beberapa penelitian[2] menunjukkan bahwa di dalam keluarga poligami biasanya tidak terdapat suasana demokratis. Para suami di dalam keluarga poligami itu cebderung otoriter. Namun sebaliknya, jika suami otoriter belum tentu ia akan berpoligami. Namun, jika peluang dan kesempetan memungkinkan, para suami yang otoriter ini besar kemungkinan melakukan poligami. Apa saja peluang itu?

Semua ciri-ciri yang dimiliki oleh penyeleweng besar kemungkinan dimiliki pula oleh orang yang hendak melakukan poligami, karena lelaki yang hendak berpoligami pasti berselingkuh terlebih dahulu. Tapi yang mau berpoligami, biasanya perselingkuhannya tidak lama karena akan segera ia formal-legalkan menjadi perkawinan kedua, ketiga dan seterusnya. Selain ciri-ciri diatas, lelaki juga harus memiliki peluang untuk dapat melangsungkan poligaminya. Peluang tersebut adalah:

  1. Kesehatan fisiknya memungkinkan. Butuh orang dengan kondisi fisik bugar untuk berpoligami. Selain untuk melayani kebutuhan seksual para istrinya, tubuh yang fit juga diperlukan dalam persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari yang menguras peasaan dan pikiran. Jika ia mudah stress, tentu ia mudah sakit. Karenanya tidak heran jika para lelaki yang berpoligami biasanya bersikap otoriter. Mengapa? Karena otoritarianisme akan meminimalisasi stresnya. Karena ia tidak perlu memikirkan rengekan anak, keluhan istri dan masalah-masalah rumah tangga lainnya.
  2. Hasrat seksualnya cukup besar untuk membalas hasrat seksual para istri. Walau daya tahan fisiknya memungkinkan, namun belum tentu ia punya hasrat seksual untuk istrinya. Hasrat istri sering dianggap sepele, tidak diperhatikan dan tidak masuk dalam perhtiungan. Inilah bukti bahwa laki-laki yang berpoligami itu otoriter.
  3. Pendapatan ekonominya mampu membiayai istri-istrinya sesuai harapan dan standar kelompok masyarakat dimana ia tinggal. Tentu saja laki-laki yang memutuskan untuk berpologami harus berani mengambil resiko memenuhi seluruh kebutuhan para istri dan anaknya. Mungkin awalnya ia merasa mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan para istri jika ia menikah lagi, namun bagaimana jika tiba-tiba perekonomiannya memburuk?

 

Ciri-Ciri Keluarga Yang Telah Berpoligami

Menurut penelitian, keluarga yang telah berpoligami dan berada dalam kelompok khusus memiliki beberapa cirri, yaitu:

  1. Kontrol penuh terhadap kehidupan pribadi: memerintahkan orang dimaan seharusnya mereka bekerja, mengharapkan kehadiran di jama’ah dan kegiatan keagamaan tertentu. Mengambil keputusan-keputusa yang harus dijalankan oleh seluruh keluarga.
  2. Manipulasi perkawinan: mengatur orang untuk menikah, memaksa perempuan untuk tetap tinggal di dalam kondisi ruamh tangga yang penuh kekerasan dan menerima kekerasan itu sebagai suatu ‘perbaikan dari Tuhan’.
  3. Tuntutan-tuntutan seksual: tekanan untuk menjalankan tindakan seks tertentu melalui paksaan.
  4. Ancaman atau intimidasi: ancaman untuk mengurangi atau menghilangkan perhatian suami karena istri dianggap melakukan ‘kesalahan’.
  5. Keluarga tampak sempurna: semua orang menyetujui dan mengikuti perintah suami dengan taat.
  6. Keluarga menyatakan memiliki ‘semua jawaban’ atas persoalan istri.
  7. Istri mulai merasa bersalah dan malu, tak berharga sebagai menusia.
  8. Kepemimpinan tak pernah dibagi
  9. Adanya kepemimpinan otoritatif yang menganggap punya akses eksklusif atas kehendak Tuhan.
  10. Control sepenuhnya atas anggota keluarga.
  11. Eksklusivitas dan isolasi. Tidak bergaul dengan anggota masyarakat kebanyakan yang dianggap lebih rendah atau berdosa. Sengaja membangun komunitas yang secara fisik terpisah dari masyarakat lain.
  12. Berkembangnya ketergantungan emosional yang tidak sehat, terutama bagi wanita dan anak-anak.
  13. Larangan terhadap analisis kritis dan pemikiran independen.
  14. Tidak mendorong upaya pendidikan mandiri dan bebas.

 

Ciri-Ciri Kepribadian Yang Cenderung Poligami

  1. 1.      Tidak jujur. Hal terpenting dalam hubungan adalh kepercayaan. Tidak jujur berarti memutus tali kepercayaan antar pasangan. Padahal, kepercayaan ini penting unutk menyatukan pasangan. Ketidakjujuran menghalangi keduanya untuk menyatu, bahkan memisahkan dan menjauhkan mereka karena banyak terjadi kemarahan, kekecewaan dan frustasi.
  2. 2.      Manipulatif. Berusaha mengontrol dan mempermainkan istri dan anak-anak secara tidak adil namun penuh seni dan trik tersembunyi demi keuntungannya sendiri. Dalam perkawinan poligini, istri cenderung bergantung secara tidak sehat karena ia tak mampu mandiri. Suami yang manipulative hanya memikirkan kebutuhan dan hasratnya sendiri dengan menggunakan dan menyalahgunakan kebutuhan istri dan anak-anak untuk mendapatkan keinginan-keinginannya sendiri[3].
  3. 3.      Temperamental. Prilaku dan kebiasaannya sulit diduga, sehingga bagi orang lain untuk memahami dirinya. Akibatnya, tidak terciptanya kesatuan dalam perkawinan.
  4. 4.      Posesif. Ini adalah keinginan untuk mendominasi. Dominasi terhadap pasangan akan menimbulkan lingkungan negative yang melahirkan perasaan, pikiran dan emosi negative.
  5. 5.      Cemburu. Bisa diartikan sebagai upaya keras untuk mempertahankan kepemilikan. Akar kecemburuan adalah rasa tidak aman dan ketidakperayaan. Padahal rasa aman dan kepercayaan adalah syarat penting di dalam menjalani sebuah perkawinan.
  6. 6.      Tukang kritik. Selalu mengkiritk dan menilai negative setiap perbuatan atau pekerjaan istri dan anaknya.
  7. 7.      Penista. Laki-laki ini menggunakan bahasa yang kasar, menghina, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang mampu melukai istri dan anaknya.
  8. 8.      Egois. Sangat memikirkan kesenangan, kenikmatan dan keunutngan dirinya sendiri.

 

Alasan Mengapa Orang Berselingkuh:

  1. Dorongan Jasmaniah:
  2. Tidak lagi melihat pasangan sebagai orang yang menarik.
  3. Seks dengan orang lain sudah siap terhidang.
  4. Pasangan sedang tak bisa melayani
    1. Kebutuhan-kebutuhan emosional:
    2. Tidak lagi merasa diterima dan diinginkan.
    3. Merasa bosan.
    4. Sudah tidak ada lagi percikan dan kilau cinta.

 

Derita Akibat Poligami:

Tanyakan saja pada para suami yang telah berpoligami atau istri yang telah dipoligami, apakah saat ini hidup mereka terasa lebih tenang ataukah sebaliknya? Mungkin diantara mereka ada yang menjawab bahwa hidupnya kini lebih baik daripada ketika belum berpoligami, namun bagaimana hati kecilnya berbicara? Mereka tidak mungkin bisa memungkiri kegelisahan hatinya mengenai hal berikut ini:

  1. Rasa bersalah terhadap anak. Orang tua pastilah mengkhawatirkan pengaruh tindakannya terhadap anak-anaknya. Tidak setiap anak mampu menerima perubahan baru dalam hidupnya, dan hal ini dapat menyebabkan hilangnya rasa cinta dan penghormatan anak pada orang tua.
  2. Tidak ada yang mau mendengarkannya. Keputusan untuk berpoligami bukan hanya berpengaruh pada hubungannya dengan anak, tapi orang tua dan banyak teman akan menilai dengan keras dan memutus dukungan emosional. Akibatnya, dia tidak memiliki tempat untuk memecahkan konflik-konflik yang sedang ia hadapi.
  3. Tidak ada harapan untuk melanjutkan perkawinan lama. Alasan mengapa ia masih mempertahankan perkawinan lamanya adalah rasa bersalah, anak-anak, keamanan financial dan tanggung jawab moral. Tidak ada alasan cinta disana.
  4. Bingung, tak tahu jalan yang harus ditempuh. Ia akan bingung menentukan pilihannya (berbuat adil) pada para istrinya. Cinta itu tidak murni, cinta tersusun dari banyak perasaan yang kompleks dan kadang-kadang bertentangan. Sau bagian mengatakan “seandainya saja aku bisa mencurahkan semua perhatianku pada istri pertamaku” tapi bagian lain juga berandai-andai “kalau saja aku bisa menghabiskan waktu dengan istri keduaku”. Apapun keputusannya, seorang pasti terluka oleh kelekatan pasangannya dengan orang lain. Ia juga ragu apakah masih bisa saling mencintai seperti dulu lagi.

 

Membangun Kembali Kepercayaan Pada Pasangan

Ketika penyelewengan, dusta, atau janji yang tidak terpenuhi menyelip ke dalam perkawinan, maka kepercayaan antara suami dan istri pasti rusak parah. Akan tetapi itu bukan berarti perkawinan tidak bisa diselamatkan. Inilah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Buatlah keputusan untuk mencintainya sepenuh hati.
  2. Putuskan untuk memaafkan atau dimaafkan.
  3. Tunjukkan bahwa tingkah laku yang keliru telah lenyap digantikan oleh perubahan perilaku.
  4. Bersama-bersama menetapkan tujuan perkawinan.
  5. Memperbarui komitmen terhadap perkawinan maupun terhadap pasangan.
  6. Masing-masing harus saling mendengarkan menyimak pasangannya. Dengarkan dengan sepenuh hati dan perasaan.
  7. Berbuat jujur selalu.
  8. Hindari menggunakan kata-kata yang dapat memicu konflik.
  9. Pihak yang terluka harus membagi rasa sakitnya. Pihak yang melukai harus mengakui adanya rasa sakit yang disebabkan oleh prilakunya.
  10. Bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusan sendiri.
  11. Bersikap terbuka untuk bekonsultasi kepada professional agar memperoleh pandangan yang lebih baik mengenai apa yang menyebabkan kepercayaan ini rusak.
  12. Saling mengingatkan bahwa masing-masing layak memperoleh jawaban yang jujur dan terbuka atas pertanyaan-pertanyaan mengenai pengkhianatan.

 


[1] Dono baswardono, antara cinta, seks dan dusta: memahami perselingkuhan. Yogyakarta, Galang Press, 2003.

[2] Greeley, A. (1994). Marital Infidelity. Society, 31, 9-14. Baca juga Prins, K.S., Buunk, B.P, & VanYperen, N.W. (1993). Equity, normative disapproval and extramarital relationship. Journal of Social and Personal Relationship, 10, 39-53.

[3] Dalam psikologi, kebutuhan dan keinginan merupakan dua hal berbeda. Kebutuhan bersifat dasar dan kebanyakan bersifat alamiah, sementara keinginan dipengaruhi oleh kesukaan dan tujuan-tujuan individual. Sebagai contoh, saat haus, tubuh butuh air tapi anda menginginkan es jeruk.

Resume Buku “Poligami Itu Selingkuh” Karya Dono Baswardono oleh Mu’arrafah Saifullah