Hukum Makan dan Minum Karena Lupa Saat Puasa Ramadhan – Menahan lapar dan haus serta hubungan badan di siang hari saat puasa adalah wasilah yang Allah tetapkan kepada hamba-Nya untuk memperoleh predikat manusia taqwa. Sebab inti dari puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun mengendalikan nafsu yang bersumber dari dua hal, perut dan kemaluan.

Meski perintah puasa sudah sedemikian jelas, namun sebagai manusia kita terkadang lupa terhadap kewajiban yang agung ini, sehingga kita makan dan minum saat puasa. Lalu bagaimana ketentuannya jika kita makan dan atau minum saat puasa karena lupa? Apakah ada kewajiban qadla? Berikut bahasan singkatnya.

Menyikapi permasalahan ini, ulama terbagi pada dua pendapat:

Pertama, makan dan atau minum saat puasa tidak membatalkan, baik puasa wajib maupun sunnah. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama.

Kedua, makan dan minum menyebabkan batalnya puasa. Pendapat ini dikemukakan oleh imam Malik; sebab hal yang dapat membatalkan puasa karena sengaja juga dapat membatalkan puasa saat lupa. Pendapat lain yang juga dinisbatkan kepada beliau mengatakan, makan dan atau minum karena lupa membatalkan puasa wajib dan tidak membatalkan puasa sunnah (lihat al-Muwattha’, I: 317 dari penerbit Muassasah ar-Risalah tahun 1412 H. Lihat juga fatwa dari asy-Syabakah al-Islamiyyah no. 6642).

Adapun pendapat yang lebih tepat dalam hal ini adalah apa yang dianut oleh jumhur ulama mengingat terdapat dalil yang tegas dan jelas dalam masalah ini. Beberapa diantaranya adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian ia makan dan minum, maka sempurnakanlah sisa puasanya. Sebab Allah lah yang memberinya makan dan minum (H.R. al-Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155).”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَّارَةَ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda: ‘Siapa saja yang berbuka ketika (puasa) Ramadhan karena lupa, maka tidak ada qadla dan kafarat baginya (H.R. al-Hakim dalam al-Mustadrak (1569), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (8074). Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa (938) dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir Wa Ziyadatih, II: 1048 (hadits no. 6070)].”

عن محمد بنِ سيرين عن أبي هريرة قال جاء رجل إلى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلم فقال يا رسولَ اللهِ إني أكلْتُ وشَرِبْتُ ناسياً وأنا صَائم فقال اللهُ أطعَمَكَ وسَقَاكَ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah ia berkata; Seseorang datang kepada Rasulallah saw, kemudian bertanya, ‘Wahai Rasulallah saw! Sungguh aku pernah makan dan minum saat puasa karena lupa.’ Rasulallah saw bersabda: ‘Allah yang memberimu makan dan minum (H.R. Abu Dawud no. 2398).”

Beberapa riwayat hadits diatas secara tegas menerangkan, siapa saja yang makan dan atau minum saat puasa karena lupa maka puasanya tetap sah dan tidak ada kewajiban qadla maupun kafarat. Puasa yang dimaksud dalam hal ini mencakup makna puasa sunnah maupun wajib (lihat al-Umm, II: 284). Keterangan ini sekaligus sebagai sanggahan bagi pendapat yang mengatakan adanya qadla bagi orang yang makan dan minum ketika puasa, baik karena sengaja maupun lupa.

Pendapat ini juga sejalan dengan firman Allah swt:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang [Q.S. al-Ahzab (33): 5].”

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan/lalai [Q.S. al-Baqarah (2): 286].”

Dan juga hadits Rasulallah saw:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi saw beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah meletakkan (tidak menganggap) kesalahan/lalai, lupa, dan keterpaksaan dari umatku [H.R. Ibnu Majah (2045), Ibnu Hibban (7219), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir (765), ad-Daruquthni (4351), al-Hakim, II: 198, al-Baihaqi, VII: 356. Dinilai sahih oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam takhrij beliau terhadap Sunan Ibnu Majah, III: 201, terbitan Dar ar-Risalah al-‘Ilmiyyah tahun 1430 H/2009 M).”

Berdasarkan pemaparan diatas, orang yang makan dan atau minum saat puasa karena lupa tidak dikenai kewajiban apapun dan ia tetap menyempurnakan puasanya ketika ingat.

Disadur dan ditulis kembali dari artikel hukum makan dan minum karena lupa saat puasa ramadhanWallahu a’lam bi ash-shawab.