semesterV

Hanya Blog UMY situs lain

 

ANALISIS PENGARUH EKSPOR, PENGELUARAN APBN, DAN CADANGAN DEVISA TERHADAP UTANG LUAR NEGERI INDONESIA 1987-2016

PENDEKATAN VECM (VECTOR ERROR CORRECTION MODEL)

Pogram Studi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Telp/Fax. 0274‐387656 psw 184, 387646. Email : fawj23@gmail.com

Najwa Farrah

20160430268

 

ABSTRAK

            Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa terhadap utang luar negeri. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data time series dari periode tahun 1987-2016 tentang ekspor, pengeluaran APBN, cadangan devisa, dan utang luar negeri yang diambil dari data BPS (Badan Pusat Statistik). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 data yang akan dijadikan sebagai objek penelitian. Variable dependen dalam penelitian ini adalah utang luar negeri, sedangkan variabel independennya adalah ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa. Untuk melihat pengaruh variabel independen dan variabel dependen, peneliti melakukan pengujian analisis VECM (Vector Error Correction Model). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat diketahui bahwa secara simultan ekspor memberikan pengaruh yang negative dan sigmifikan terhadap utang luar negeri dalam jangka pendek, dan dalam jangka Panjang. Dan pengeluaran APBN memberikan pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap utang luar negeri baik jangka pendek maupun jangka Panjang. Sedangkan, Variabel cadangan devisa diketahui tidak berpengaruh secara signifikan dalam jangka pende maupun jangka Panjang.

Kata Kunci : utang luar negeri, ekspor, cadangan devisa, dan APBN.

 

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu program atau upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah dengen menggunakan instrument Utang Luar Negeri. Pemberian utang luar negeri mulai terjadi setelah terjadinya Perang Dunia II dimana negara-negara di wilayah utara, bank-bank swasta, dan Lembaga keuangan internasional banyak meminjamkan atau memberikan pinjaman kepada negara-negara di dunia ketiga. Pada awal mulanya utang luar negeri di Indonesia digunakan dan dialokasikan hanya sebagai pelengkap untuk meningkatkan kesejhteraan masyarakat. Namun, pada akhirnya dan sampai saat ini utag luar negeri digunakan sebagai pembiayaan atas defisit anggaran pemerintah, atau bisa dibilang utang luar negeri saat ini digunakan di negara kia sebagai pemiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Meningkatnya jumlah utang luar negeri di Indonesia menjadi peran utama atau pembahasan yang sangat hangat dalam perekonomian di Indonesia sat ini. Kabarnya jumlah utang luar negeri pada awal masa pemerintahan sampai dengan sekarang ini di Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa tajam. Isu ini menjadi pertanyaan besar untuk para masyarakat dan pengamat-pengamat ekonomi. Hal ini dikarenakan masa pemerintahan pada masa itu masih menginjak tahun ke-2 masa pemerintahannya. Adapun setiap pemimpin negara pasti memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyusun dan menerapkan kebijakannya. Begitu juga dengan praktek utang luar negeri di Indonesia pada masa sekarang dengan masa pemerintahan yang lalu-lalu pasti memiliki perbedaan. Hal ini terlihat dari utang luar negeri pada masa pemerintahan yang lalu-lalu memberikan banyak bantuan dalam utang luar negeri, yang memungkinkan adanya perbedaan dengan kebijakan utang luar negeri pada masa pemerintahan sekarang ini.

Pada kenyataannya utang luar negeri dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan jumlah utang luar negeri, akan tetapi tidak diikuti dengan peningkatan rasio utang terhadap PDB, sehingga ini menimbulkan ketimpangan yang cukup jelas untuk menggambarkan kondisi perekonomian di Indonesia. Peran utang luar negeri sekarang ini sudah menjadi kebutuhan yang mengikat bagi mayarakat Indonesia dimana pada awalnya utang luar negeri digunakan hanya sebagai pelengkap untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Disebutkan juga dalam GBHN 1999 butir 7 yang menyatakan bahwa pemerintah akan mengembangkan kebijakan fiscal dengan mengembangkan prinsip transparansi, dispilin, keadilan, fisiensi, efektifitas, untuk menambah penerimaan negara dan mengurangi ketergantungan dana luar negeri.

Utang luar negeri di Indonesia mulai melonjak tinggi jumlahnya apabilah dihitung menggunakan mata uang rupiah adalah setelah adanya peristiwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Dengan adanya kondisi yang seperti ini maka memunculkan pemikiran baru dimana kenaikan akumulasi utang luar negeri yang sangat amat tinggi mengakibatkan pemerintah harus mengambil utang luar negeri yang baru untuk membayar utang luar negeri yang sudah jatuh tempo.  Dengan adanya utang luar negeri ini juga ikut membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena besarnya cicilan pokok dan bunga dari utang luar negeri tu sendiri.

Dengan adanya solusi yang instan seperti ini membuat pemerintah kurang semangat dalam meningkatkan pendapatan dalam negerinya. Hal yang seperti inilah yang sebenarnya membuat kekurangan dalam pebiayaan pemerintah dalam APBN yang selalu ditutup dengan utang luar negeri. Sebelum menggunakan utang luar negeri sebagai pembiayaan defisit APBN, pemerintah biasanya melakukan pinjaman dalam negeri dengan menerbitkan surat utang negara atau obligasi pemerintah. Namun, dalam kenyataan dan prakteknya ternyata defisit yang dihasilkan masih belum bisa tertutup dengan adanya pengeluaran obligasi saja. Kemudian selain hal-hal yang telah dijabarkan di atas, pembiayaan luar negeri juga dibutuhkan dalam menutupi saving investment gap.

Selanjutnya table di bawah ini akan menjelaskan seberapa besar perkembangan utang luar negeri yang dimiliki oleh Indonesia dari tahun 1987 sampai dengan tahun 2016 :

Tabel 1.1

TAHUN ULN
1987 106483723,5
1988 120753775
1989 132315678,7
1990 164362893,3
1991 178562880
1992 222599881,9
1993 256093696,2
1994 308249920
1995 343108641,7
1996 335194186
1997 1251077850
1998 4602648308
1999 4103685264
2000 7507729223
2001 7720136320
2002 6266649629
2003 6196309605
2004 7550918317
2005 12996973566
2006 10791073933
2007 12525145262
2008 17922303000
2009 14952204000
2010 15070264650
2011 16354047320
2012 19102311400
2013 24667123080
2014 36490003200
2015 42771811350
2016 42512444520

Sumber : BPS

Selanjutnya Indonesia telah mengalami banyak defisit dalam mengupayakan ekonomi yang lebih maju. Defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran adalah defisit yang sedang dialami Indonesia pada saat sekarang ini yang terlihat amat sangat jelas. Akibatnya timbul lah utang luar negeri sebagai solusi dari pemerintah untuk menutupi segala defisit anggaran yang dialami oleh Indonesia, dikarenakan pemerintah Indonesia yang belum mampu untuk menutupi defisit anggaran dengan pendapatan dalam negeri.

Penjelasan yang dipaparkan oleh (Saputro & Soelistyo, 2017) menyebutkan bahwasanya utang luar negeri dipengaruhi oleh beberapa factor drfisit antara lain, defisit transaksi berjalan (NX dan CDV), defisit fiskal (fiscal gap)(DA), dan defisit investasi (PMA atau utang luarr negeri). Pada bahasan dan hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti dan penulis sebelumnya dapat dipastikan bagaimana pengaruh yang terjadi dari keempat variable dapat mempengaruhi utang luar negeri.

Pemerintah Indonesia banyak melakukan pembanguan di tahun 2016. Namun, kondisi perekonomian yang belum stabli menimbulkan masalah baru dimana Indonesia menjadi kekurangan dana atau investasi (defisit investasi) yang mengakibatkan negara harus melakukan pinjaman luar negeri demi kelangsungan pembangunan yang telah berjalan. Dengan adanya pinjaman luar negeri tersebut negara Indonesia dan pemerintah Indonesia mampu untuk menutupi kekurangan dana untuk pembangunan sampai akhirnya beberapa proyek pembangunan mampu terselesaikan dengan adanya pinjaman uar negeri. Namun, dibalik infrastruktur dan pembangunan yang terselesaikan tentu muncul masalah baru karena adanya pinjaman luar negeri, yaitu bunga pinjaman yang jatuh tempo dan pokok utang yang belum terselesaikan sebelumnya.

Selaian itu banyak juga komponen-komponen perekonomian yang berkaitan erat dengan utang luar negeri. Utang luar negeri dapat mengakibatkan terjadinya globalisasi perekonomian di Indonesia. Adapun factor lain yang mempengaruhi globalisasi perekonomian di Indonesia adalah ekspor dan investasi asing. Salah satu komponen penting di dalam globalisasi perekonomian di ASEAN adalah PBD dimna hal ini juga dapat mempengaruhi berapa besar tingkat utang luar negeri Indonesia.

Banyak factor yang dapat menyebabkan perubahan utang luar negeri yang meningkat atau menurun di Indonesia, beberapa diantaranya adalah ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa. Oleh karena itu dengan berlandaskan pada masalah yang dikemukakan di atas, di dalam penelitian ini peneliti akan meneliti seperti apakah hubungan dan dampak yang ditimbulkan oleh ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa terhadap utang luar negeri di Indonesia dengan mengangkat judul “Analisis Pengaruh Ekspor, Pengeluaran APBN, dan Cadangan Devisaterhadap Utang Luar Negeri di Indonesia Tahun 1987-2016”

 

1.2 Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, ada beberapa permasalahan  pokok yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Seberapa besar pengaruh Ekspor terhadap Utang Luar Negeri di Indonesia tahun 1987 – 2016?
  2. Seberapa besar pengaruh Pengeluaran APBN terhadap Utang luar Negeri di Indonesia tahun 1987 -2016?
  3. Seberapa besar pengaruh cadangan Devisa terhadap Utang Luar Negeri di Indonesia pada tahun 1987 – 2016?

 

 

1.3 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini peneliti membatasi variable-variabel yang akan diteliti sebagai berikut :

  1. Untuk variable dependen (Y) adalah Utang Luar Negeri di Indonesia.
  2. Untuk variable independent nya terdiri dari tiga variable yaitu variable Ekspor (X1), variable Pengeluaran APBN (X2), dan variable Cadangan Devisa (X3).

 

1.4 Tujuan Penelitian

            Adapun tujuan peneliti melakukan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yang telah dibentuk adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ekspor terhadap utang luar negeri di Indonesia pada tahun 1987 – 2016 baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang.
  2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengeluaran APBN terhadap utang luar negeri di Indonesia pada tahun 1987 0 2016 baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang.
  3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh cadangan devisa terhadap utang luar negeri di Indonesia pada tahun 1987 – 2016 baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang.

 

1.5 Manfaat Penelitian

            Adapun manfaat yang bisa diambil dari penelitian ini adalah :

  1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber tambahan informasi tentang factor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan utang luar negeri di Indonesia.
  2. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dalam ruang lingkuop yang sama penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan.
  3. Dapat menambah wawasan dan informasi bagi siapa saja yang membaca penelitian ini.

 

 

  1. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Utang Luar Negeri

Tidak semua negara yang termasuk ke dalam kelompok negara dunia ketiga atau yang sering disebut dengan negara berkembang merupakan negara miskin, dalam arti tidak memiliki sumber daya ekonomi. Banyak kelimpahan dan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang ternyata bisa di temukan di negara dunia ketiga. Namu, yang menjadi masalah adalah sumber daya tersebut tidak dipergunakan dengan baik, belum diolah, dan bersifat potensial, dimana sumber daya tersebut belum digunakan secara optimal. Sedangkan, adanya sumber daya manusia yang banyak dan melimpah di negara dunia ketiga belum dipersiapkan dengan baik Pendidikan dan keterampilannya untuk mampu menghasilkan output yang berkualitas dan berproduktivitas tinggi.

Dengan kondisi yang telah dijabarkan, untuk menyeimbangkan kondisi perekonomian maka dibutuhkanlah sumber daya modal yang bisa digunakan sebagai katalisator pembangunan agar pembangunan ekonomi dapat segera berjalan dengan blebih baik, lebih cepat, dan berkelanjutan. Dengan hadirnya sumber daya modal, maka semua potensi kelimpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia dapat dikeluarkan, digunakan, didayagunakan, dan dikembangkan dengan lebih baik.

Tetapi, terbatasnya sumber daya modal ketiga seringkali menjadi kendala atau masalah utama      bagi negara negara dunia kettiga atau negara berkembang. Dalam beberapa hal, muncul bebrapa kendala yang disebabkan  karena rendahnya pendistribusian modal di dalam negeri. Beberapa penyebabnya di antara lain (1) Pendapatan per kapita penduduk yang relative rendah, menyebabkan tingkat MPS (Marginal propensity to save) menjadi rendah, dan pendapatan pemerintah dari sector pajak khususnya penghasilan juga rendah. (2) Lemahnya sector perbankan nasional menyebabkan dana masyarakat, yang memang terbatas tidak didayagunakan secara produktif dan efisien untuk menunjang usaha-usaha yang produktif. (3) kurang berkembangnya pasar modal, yang mengakibatkan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah, sehingga dana murah dalam ekspansi sangat sulit untuk didapatkan bagi perusahaan perusahaan yang membutuhkan dana. Dengan adanya kondisi seperti yang telah dijabarkan seperti di atas yang sumber daya modal domestiknya sangat terbatas, jelas negara tidak mampu diandalkan untuk mendukung tingkat pertumbuhan output nasional yang tinggi seperti yang selama ini telah diharapkan.

Untuk menyelesaikan masalah rendahnya mobilisasi modal dalam negeri ads solusi yang diharapkan pemerintah mampu menyelesaikan dan dapat diandalkan sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut. Solusi tersebut adalah dengan mendatangkan modal dari luar negeri, yang biasanya modal luar negeri tersebut dapat berupa hibah (grant), bantuan pengembangan (official development assistance), kredit ekspor, dan arus modal swasta, seperti bantuan bilateral dann multilateral; investasi swasta langsung (PMA); portofolio investment; pinjaman bank dan pinjaman komersial lainnya; dan kredit perdagangan (ekspor/impor). Dimana pemberian modall-modal asing yang telah disebutkan di atas diberikan langsung ke pemerintah atau kepada pihak swasta.

Banyak pemerintah di negara berkembang yang mengharapkan untuk mendapat modal asing yang tinggi dengan harapan modal tersebut mampu untuk mrnunjang pembangunan nasional, tetapi dalam kenyataannya modal asing atau modal luar negeri tidak mudah untuk mendapatkannya, kalua pun berhasil mungkin jumlah yang didapatkan akan berbeda-beda tergantung pada beberapa factor, diantaranya :

  1. Ketersediaan dana dari negara yang akan meminjamkan dan aatau negara kreditur yang umumnya adalah negara-negara industri maju.
  2. Daya serap negara penerima (debitur). Artinya, negara debitur akan mendapat bantuan modal asing sebanyak yang dapat digunakan untuk mrmbiayai investasi yang bermanfaat. Daya serap mencakup kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek pembangunan, mengalokasikan sumber daya, dan mengubah struktur perekonomian. Landasan yang sangat penting untuk daya serap suatu negara adalah adanya struktur perekonomian yang bergerak secara bersamaan atau simultan dengan pengolahan kapasitas nasional yang cukup.
  3. Ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya alam di negara penerima, karena tanpa adanya ketersediaan yang cukup dari sumber daya alam dan sumber daya manusia akan menghambat efisiensi dan pemanfaatan dari modal asing yang akan diberikan.
  4. Kemampuan negara penerima untuk membayar kembali (re-payment)
  5. Kemauan dan usaha negara penerima untuk membangun. Modal yang diberikan dan didapatkan tidak dapat menghasilkan dengan sendirinya, tentu membutuhkan usaha pengolahan agar dapat dimanfaatkan dengan baik oleh negara penerimanya. Sebagaimana dikatakan (Nurkse, 1961), bahwa modal sebenarnya dibuat di dalam negeri. Sehingga, peranan modal asing sebenarnya adalah sebagai sarana efektif untuk memobilisasi keinginan suatu negara.

Dengan semakin meluasnya globalisasi perekonomian dunia sekarang ini, termasuk juga bidang finansial, mengakibatkan semakin bebasnya bagi modal asing untuk keluar dan masuk suatu negara. Modal asing di negara dunia ketiga seolah-olah telah dijadikan sebagai modal utama untuk melakukan oembangunan. Bahkan, di beberapa negara menyediakan fasilitas yang beragam yang tentu menguntungkan bagi bagi para kreditur dan para investor agar mereka tertarik untuk menanamkan modalnya di negara tersebut. Cara ini digunakan untuk menarik modal asing sebanyak-banyaknya.

Di Indonesia, modal asing dalam bentuk hibah (grant), soft loan, dan hard loan, telah mengisi sector penerimaan di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN yang di alokasikan untuk membiayai pengeluaran atau belanja pemerintah dan proyek-proyek pembangunan negara atau investasi pemerintah di sector public. Pemerintah yang masih menjadi penggerak utama dalam bidang perekonomian di negara-negara berkembang menjadikan pemerintah membutuhkan banyak modal untuk membangun sarana dan prasarana. Namun, kemampuan finansial yang dimiliki negara berkembang terbatas atau kurang mendukung untuk melakukan pembangunan secara bersamaan. Oleh karena itu, utang luar negeri sekarang in menjadi suatu hal yang penting yang sangat berarti dalam pembiayaan atau modal untuk melakukan pembangunan perekonomian nasional. Bahkan untuk sekarang ini bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia dapat dikatakan bahwa utang luar negeri sudah menjadi salah satu sumber pembiaaan pembangunan perekonomian nasional yang dianggap sangat penting.

 

2.1.1.1. Perkembangan Utang Luar Negeri Pemerintah Indoneisa

Indonesia tergolong ke dalam negara dunia ketiga apabila dilihat dari segi pendapatan dan perkembangannya.. Indonesia memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebelum tejadinya krisis moneter yang menimpa Indonesia pada tahun 1998. Hal tersebut sesuai dengan strategi yang telah disusun oleh pemerintah berupa strategi pembangunan ekonomi. Dimana pada waktu itu pemerintah membuat target prioritas pembangunan ekonomi nasional berupa pengalokasian pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Jika dilihat dari perkembangannya, perumbuhan ekonomi di Indonesia mulai dari awal tahun 1970-an mencapai nilai yang selalu positif. Namun, tingkat pendapatan per kapita yang rendah menyebabkan target pertumbuhan ekobomi yang telalu tinggi tersebut tidak dapat tercapai karena modal tidak mampu dipenuhi oleh negara sendiri, tetapi harus dibantu dengan adanya atau masuknya bantuan luar negeri seperti modal asing, pinjaman, maupun investasi luar negeri.

Adapun tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diiringi dengan penurunan utang luar negeri (growth with posperity) di negara Indonesia, kecuali pada tahun 1994/1995 sampai 1996/1996. Pemerintah yang berperan sebagai penggerak utama dalam segi pembangunan terus melakukan pinjaman atau utang luar negeri tanpa diikuti dengan peningkatan kemampuan untuk mendistribusikan modal secara sempurna agar hasil dari perputaran modal tersebut dapat digunakan untuk membayar utang luar negeri yang ada. Adapun pinjaman luar negeri tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan ekonomi nasional agar pertumbuhan ekonomi mampu mencapai target yang cukup tinggi yang telah ditentukan. Dengan adanya kondisi yang seperti ini menunjukkan bahwa adanya korelasi yang positif antara peningkatan jumlah utang luar negeri (growth with indebtedness) dengan keberhasilan pembangunan ekonomi pada tingkat makro.

Peran pemerintah pun semakin berkurang dengan adanya kontribusi langsung dari pihak swasta domestic di dalam pembangunan ekonomi. Hal seperti ini akhirnya menyebabkan banyak perubahan structural untuk utang luar negeri di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir. Sebelum adanya campur tangan dari pihak swasta, utang luar negeri banyak dilakukan oleh pemerintah. Utang tersebut diterima oleh negara Indonesia dalam bentk hibah (grant) dan juga soft loan dari negara-negara sahabat dan Lembaga-lembaga supra nasional, baik secara bilateral maupun multilateral (IGGI dan CGI). Kemudian pinjaman luar negeri bersyarat lunak menjadi semakin sulit untuk diberikan karena adanya perkembangan perekonomian Indonesia. Sehingga untuk keperluan-keperluan tertentu dalam jumlah yang terbatas, pemerintah mulai menggunakan pinjaman komersial dan mengeluarkjan obligasi dari kreditur swasta internasional.

Karena adanya keterbatasan pemerintah sebagai penggerak utama pembangunan nasional yang dibarengi dengan adanya perkembangan yang berkelanjutan dalam perekonomian    menyebabkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah deregulasi di berbagai sektor pembangunan, terutama setelah terjadinya krisis harga minyak dunia pada awal tahun 1980-an. Adanya deregulasi di sector pembangunan ditujukan untuk memberikan dorongan agar pihak swasta terus memberikan perannya dalam pembangunan perekonomian Indonesia melalui peningkatan minat investasi di beberapa sector pembangunan yang telah diizinkan. Dengan demikian semakin besarnya minat investasi swasta tanpa didukung dengan dana invcestasi dalam negeri yang memadai telah mendorong pihak swasta secara tidak langsung untuk melakukan pinjaman luar negeri, meskipun dengan persyaratan pinjaman yang tidak lunak (bersifat komersial) baik dalam jangka waktu pembayaran kembali ataupun suka bunga. Pinjaman tersebut bisa dalam bentuk investasi portofolio maupun pinjaman komersil. Dengan adanya kondisi yang seperti ini utang luar negeri menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan atau ditinjau lebih lanjut lagi dikarenakan utang luar negeri sendiri memberikan pengaruh atau dampak yang sangat besar terhadap APBN negara Indonesia, meskipun utang luar negeri itu sendiri telah mengalami banyak periubahan structural.

Dalam kurun waktu 14 tahun yang tepatnya dimulai pada tahun 1984 sampai dengan 1988 utang luar negeri memiliki peranan yang amat sangat besar dalam penerimaan APBN negara Indonesia. Bahkan pada tahun 1999 pembiayaan APBN negara Indonesia sebesar 28,97% dibiayai oleh utang luar negeri dan untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir jumlah utang luar negeri pada tahun 1999 untuk bantuan program melebihi bantuan proyek. Adapun utang luar negeri dalam jumlah yang banyak dialokasikan untuk membiayai defisit anggaran yang besar, dimana pada saat itu pengeluaran pemerintah meningkat sebesar 68,47% dari anggaran tahun sebelumnya yang disebabkan oleh adanya krisis ekonomi di Indonesia. Adapun kenaikan jumlah pengeluaran pemerintah yang begitu banyak dan signifikan disebabkan karena adanya kenaikan pada pos pembayaran cicilan utang luar negeri dan bunganya yang sudah mengalami jatuh tempo yang mengalami pembengkakan menjadi sebesar Rp 55,578 trilyun atau meningkat sebesar 88,55% dari pos yang sama pada tahun sebelumnya. Pembengkakan pada pos pembayaran utang luar negeri yang begitu besar dan signifikan ini disebabkan karena adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Dengan adanya krisis ekonomi di indoinesia menyebabkan pemerintah harus memegang kembali setir perekonomian demi menyelamatkan perekonomian nasional yang terancam mengalami kebangkrutan, menggantikan peranan sector swasta yang sempat mendominasi perekonomian nasional. Sehingga, dengan adanya peningkatan pengeluaran dengan jumlah yang cukup besar ini menyebabkan pemerintah harus mencari dana dalam jumlah yang besar sebagai pembiayaan.

Oleh karena itu meskipun pinjaman dalam negeri mampu meningkatkan penerimaan dalam negeri secara drastis tetapi tidak mampu untuk menutup kekurangan pembiayaan dikarenakan rakyat sudah menanggung beban ekonomi yang terlalu besar akibat adanya krisis ekonomi yang terjadi. Karena itu jalan alternative atau pilihan lain sebagai solusi yang bisa diambil adalah dengan mencari pinjaman atau utang luar negeri sebagai tambahan dana.

 

2.1.1.2 Dampak Utang Luar negeri terhadap Pembangunan Nasional

Di dalam perekonomian, suatu kegiatan tentu mempengaruhi kegiatan yang lainnya. Setiap keputusan yang di ambil tentu memiliki berbagai konsekuensi sebagai harga tukarnya. Sama halnya dengan kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam melakukan pinjaman ke luar negeri. Dalam jangka pendek, pinjaman luar negeri mungkin memang berdampak positif karena mampu menutupi defisit APBN negara Indonesia dimana negara kita menggunakan system defisit anggaran, dan tentunya cara ini lebih baik jika dibandingkan dengan kegiatan pemerintah yang terus menerus mencetak uang baru untuk menutup defisit APBN. Dengan cara ini memungkinkan berlangsungnya pembangunan dengan dana yang cukup besar yang mungkin mampu dilaksanakan pemerintah tanpa disertai dengan efek samping seperti peningkatan harga umum (inflationary effect) yang tinggi. Dengan demikian untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional pemerintah dapat melakukan ekspansi fiskal. Apabila jumlah penduduk di asumsikan tidak meningkat secara signifikan, maka peningkatan laju pertumbuhan ekonomi ini akan menimbulkan dampak-dampak yang positif dimulai dari meningkatnya pendapatan nasional, yang selanjutnya diharapkan mampu menigkatkan pendapatan per kapita masyarakat yang pada akhirnya mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan masyarakat negara Indonesia.

Namun, dalam jangka panjang utang luar negeri mampu memunculkan berbagai permasalahan di dalam perekonomian negara debitur atau negara peminjam. Rakyat yang harus menanggung beban ekonomi yang muncul akibat pembayaran kembali dan juga ketergantungan negara debitur dengan bantuan luar negeri seperti utang luar negeri dan investasi asing memunculkan beban psikologis politis yang harus ditangung oleh negara debitur. Dikarenakan adanya ketergantungan dalam jangka panjang ini menyebabkan utang luar negeri yang terus mengalami peningkatan setelah terjadinya krisis ekonomi di negara debitur, termasuk Indonesia setelah mengalami krisis yang kondisinya semakin memburuk walaupun sempat membaik untuk beberapa waktu. Negara-negara debitur semakin terjerumus dalam melakukan pinjaman luar negeri yang memang jika dilihat secara tidak langsung mampu mengatasi masalah perekonomian dalam jangka pendek.

Meskipun pinjaman luar negeri mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan tejadi kecenderungan perbaikan dalam perekonomian di negara-negara debitur atau peminjam seperti meningkatkan laju pertumbuhana ekonomi dan terjadinya peningkatan pendapatan per kapita bukan berarti negara-negara tersebut tergolong negara maju dengan sendirinya, dalam arti struktur ekonominya telah berubah dan mampu menjalankan industri dan perdagangan luar negerinya sudah baik secara keseluruhan. Karena besar kecilnya jumlah utang luar negeri yang dimiliki oleh negara-negara berkembang kebanyakan disebabkan oleh adanya defisit pada transaksi berjalan yang diakibatkan oleh kurangnya dana investasi yang bersumber dari dalam negeri yang seharusnya digunakan untuk pembangunan. Factor lain juga disebabkan oleh inflasi yang tinggi dan struktur perekonomian yang tidak stabil.

 

2.1.2 Ekspor

            Menurut Undang-Undang perdagangan tahun 1996 tentang ketentuan umum di bidang ekspor, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan dari daerah pabean. Keluar dari daerah pabean artinya keluar dari wilayah yuridiksi Indonesia. Ekspor merupakan salah satu factor terpenting dari Gross National Product (GNP) apabila dilihat dari sudut pengeluran, sehingga pendapatan masyarakat secara langsung akan mengalami kenaikan apabila ada perubahan pada nilai ekspor. Pada lain sisi, apabila terjadi fluktuasi atau perubahan-perubahan di dalam pasaran internasional maupun dalam perekonomian dunia, negara dengan nilai ekspor yang tinggi akan menjadikan perekonomian pada negara tersebut menjadi sangat sesnsitif.    

Ekspor juga mampu meningkatkan permintaan dalam negeri diluar menambah peningkatan produksi untuk dikirim ke luar negeri. Sehingga, secara langsung output industri-industri dalam negeri diperbesar karena adanya kegiatan ekspor. Dan secara tidak langsung industri mempergunakan faktor produksinya dengan baik akibat adanya permintaan luar negeri, salah satu faktor produksi tersebut adalah modal. Selain itu, industri dalam negeri juga mampu menggunakan metode produksi yang lebih efisien dan mampu menekan harga agar kualitas barang dan harga jual pasaran produk-produk dalam negeri mampu bersaing di pasar perdagangan internasional.

Dengan adanya perdagangan internasional di dunia perekonomian dunia memunculkan teori-teori yang berkembang dari mulai perekonomian masa klasik, modern, hinga yang sudah mutakhir, meskipun ekonomi memiliki sifat yang dinamis yaitu mengikuti perkembangan zaman dalam penerapannya. Adapun teori yang dikenal sebagai teori Heckscher dan Ohlin (H-O) tentang perdagangan internasional modern teori ini sering disebut sebagai teori ketersediaan factor atau Factor proportion theory. Teori H-O ini menerapkan alat analisis yang matematis dan mempu mengaitkan model tersebut dengan teori ekonomi lainnya dan juga berkaitan dengan validitas teori tersebut terhadap kenyataan perdagangan internasional, sehingga seiring dengan berjalannya waktu teori ini mampu mendominasi teori perdagangan internasional. Teori Heckscher-Ohlin menjelaskan bahwa keuntungan komparatif ditentukan oleh perbedaan relative kekayaan factor produksi (the relative of endowments of factors of production) dan penggunaan factor tersebut (the abundant factor) secara relative instensif dalam kegiatan produksi barang ekspor.

Selain itu perkembangan ekspor suatu negara tidak bisa dinilai hanya dari factor-faktor keunggulan komparatifnya, tetapi juga dilihat dari factor-faktor keungulan suatu negara di dalam persaingan global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif yang dimilikinya. Dan juga keungulan komparatif suatu negara dipengaruhi oleh adanya proteksi atau bantuan fasilitas dari pemerintah.

 

2.1.2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor

Salah satu pengeluaran agregat yang paling terkenal adalah ekspor, hal ini disebabkan karena nilai ekspor suatu negara dapat mempengaruhi seberapa besar tingkat pendapatan nasional yang akan dicapai oleh negara tersebut. Apabila nilai ekspor mengalami peningkatan, maka pengeluaran agregat juga mengalami peningkatan yang kemudian pendapata nasional juga akan mengalami peningkatan. Namun, hubungan ekspor dengan pendapatan nasional hanya berjalan satu arah dimana pendapatan nasional tidak dapat mempengaruhi kegiatan ekpsor. Dimana ekspor belum tentu meningkat apabila pendapatan nasional mengalami peningkatan, atau nilai ekspor bisa saja mengalami perubahan meskipun pendapatan nasional tetap.

Terjadinya kegiatan ekpor di suatu negara akan terjadi apabila suatu negara memproduksi barang yang kemudian barang itu dibutuhkan negara lain dengan alasan apabila melakukan impor biayanya akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan memproduksi barang tersebut di dalam negeri atau biasanya suatu negara melakukan ekspor karena negara pengimpor tidak mampu menghasilkan barang yang diperlukan. Sebagai contoh yaitu timah, karet, kayu hutan, dan minyak kelapa sawit dari Indonesia ke negara-negara maju lainnya, dikarenakan barang-barang dasar tersebut sangat mereka butuhkan namun mereka tidak mampu menghasilkan barang tersebut di negaranya sendiri sehingga ini menjadi pendorong untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Di lain sisi contoh nyata yang dialami oleh negara Indonesia adalah negara Indonesia melakukan kegiatan impor untuk barang-barang perindustrian dari negara-negara maju, dimana Indonesia sendiri belum mampu untuk menciptakan barang-barang tersebut. Hal ini ditujukan untuk melengkapi dan meningkatkan pelayanan dan pembangunan demi kesejahteraan negara dan masyarakat.

Ekspor dapat ditinjau dari berbagai sisi, diantaranya dari sisi permintaan dan penawaran. Di dalam. Teori perekonomian ada teori permintaan (demand) dan penawaran (supply). Teori ini menggambarkan tentang bagaimana suatu harga bisa terbentuk di dalam suatu mekanisme pasar. Kondisi ideal yang diperlukan di dalam teori ini adalah kondisi dimana terjadinya pertemuaan di antara kedua hukum ini, yaitu terjadinya perteuan antara permintaan dan penawaran. Dengan adanya kondisi ideal ini dimana terjadi pertemuan diantara keduanya yang pada akhirnya menimbulkan suatu kondisi keseimbangan atau sering juga disebut sebgai equilibrium.

Di dalam ekonomi, permintaan diartikan sebagai kurva atau fungsi yang menunjukkan kepada tingkat pembelian yang telah direncanakan. Namun, definisi permintaan di dalam ilmu ekonomi memiliki makna yang sedikit berbeda dengan makna yang dimiliki oleh ekonomi secara luas dan penerapannya secara sehari-hari. Permintaan merupakan suatu kondisi dimana jumlah barang yang dibutuhkn yang berawal dari titik tolk bahwa manusia mempunyai kebutuhan. Dikarenakan semua manusia tentunya pasti memiliki kebutuhan maka perilaku individu ini mendorong munculnya permintaan akan bareang dan jasa. Semakin banyak individu yang terdapat di dalam suatu negara, maka akan semakin meningkatkan juga permintaan akan barang dan jasa. Secara langsung apabila tidak dikaitkan dengan perekonomian Indonesia, pengertian di atas tidak bermasalah dan terlihat benar dan baik-baik saja. Namun, apabila ditinjau dari segi perekonomian tentunya suatu barang memiliki harga. Artinya di dalam ilmu ekonomi, suatu permintaan dapat dikatakan sebagai permintaan apabila permintaan tersebut diikuti oleh kemampuan membeli para peminta barang. Adapun permintaan efektif adalah suatu kondisi dimana munculnya permintaan yang diikuti dengan adany kemampuan untuk membeli, sedangkan permintaan potensial adalah permintaan yang muncul akibat adanya kebutuhan.

Terdapat berbagai factor yang menyebabkan munculnya permintaan ekspor seseorang atau masyarakat terhadap suatu barang, diantaranya adalah :

  1. Harga barang itu sendiri
  2. Harga barang lain yang sangat berkaitan erat dengan barang tersebut
  3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat
  4. Jumlah penduduk
  5. Selera
  6. Ramalan yang akan terjadi di masa yang akan datang

 

2.1.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

            Salah satu instrument kebijakan fiskal yang paling penting adalah pengeluaran pemerintah. Adapun kebijakan fiskal adalah suatu instrument dari kebijakan makroekonomi. Kebijakan makroekonomi tersebut memiliki tujuan dan maksud dibalik penyusunannya, tujuan yang dimaksudkan diantaranya adalah stabilitas harga, mencapai output yang tinggi dengan laju pertumbuhan perekonomian yang cepat, keseimbangan neraca pembayaran, dan tingginya kesempatan kerja. Selain kebijakan fiskal tentunya ada juga kebijakan moneter. Jika dibandingkan antara keduanya tentu keduanya memiliki dampak positif dan negative dari masing-masing kebijakan. Adapun ekonom Keynes mempercayakan keputusannya kepada kebijakan fiskal dalam mencapai sarana-sarana pembangunan. Permintaan agregat dapat secara langsung mengalami peningkatan dengan diterapkannya kebijakan fiskal. Dengan begitu ini menjadi alasan yang cukup jelas untuk mengetahu alasan Keynes mengambil keputusan untuk memilih kebijakan fiskal.

Dengan berlandaskan pada teori diatas, terdapat dua instrument pokok di dalam kebijakan yang ada, yaitu perpajakan dan belanja negara. Dengan adanya kedua instrument tersebut pemerintah dapat secara langsung ntuk mengatur perekonomian dengan kebijakan yang ada. Seperti dengan menetapkan pengeluaran public serta penerimaannya dimana penerimaan negara banyak didapatkan dari pajak yang secara keseluruhan terangkum dalam suatu anggaran.

Indonesia tergolong ke dalam negara dunia ketiga atau negara berkembang, jika dilihat dari pengeluaran pemerintahnya untuk sebuah negara berkembang,  Indonesia memiliki pengeluaran pemerintah yang cukup besar. Hal ini terlihat jelas dan tercantum di dalam Annggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggaran yang ada di dalam suatu negara jelas memiliki peran inti di dalam perekonomian. Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) merupakan instrument utama dari adanya kebijakan fiskal, dimana instrument ini digunakan secara langsung untuk mempengaruhi pertumbuhan dan tingkat kegiatan ekonomi dan juga untuk meng alokasikan sumber daya yang ada dengan sebaik mungkin yang penggunaannya tentu berbeda di setiap daerah dan pendistribusian pendapatan masyrakat yang belum merata.

Menurut Undang-Undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara, “APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)”. APBN merupakan hasil nyata dari danya pengelolaan keuangan negara. Dengan adanya APBN keuangan negara dapat dinilai dan kinerja pemerintah tentang hak dan kewajibannya dapat diilai dari adanya anggaran keuangan negara. Sehingga, keberadaan APBN di dalam suatu negara sangatlah penting dan sangat membantu dalam melakukan perhitungan kinerja suatu negara. Dimana anggaran ini baru dipublikasikan setelah mendapat persetujuan dari pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN ini secara jelasnya berisi rencana penerimaan dan pengeluaran suatu negara secara terperinci dan sitematis dalam kurun waktu satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). Segala hal dan ketentuan terkait penyusunan APBN dilakukan melalui rapat tahunan dan tentunya semua disusun dan ditetapkan dengan Undang-Undang.

Pendapatan Negara bisa terdiri dari beberapa instrument, di Indonesia sumber penerimaan negara berasal dari penerimaan dalam negeri berupa pajak dalam negeri, perdagangan internasional, dan penerimaan bukan pajak (non-tax revenue). Sumber penerimaan yang lain bisa juga dari hibah yang bersifat bilateral dan multilateral. Adapun dalam rancangan pembiayaan yang disusun, biasanya pembiayaan bersumber dari utang dan non utang, yang tentunya memiliki anggaran dan jumlah yang tentunya berbeda setiap tahunnya. Indonesia pada awal tahun 1986 sesuai dengan data yang didapat dari BPS menggunakan sistem surplus anggaran, sama halnya dengan tahun 1990-1992 indonesia menggunakan sistem surplus anggaran, dimana jumlah penerimaan lebih besar dari jumlah pengeluarannya. Kemudian Indonesia juga sempat menggunakan sistem anggaran berimbang pada tahun 1987 sampai dengan tahun 1989 dan dimulai lagi pada tahun 1993 sampai dengan 1998, dimana jumlah penerimaan sama dengan jumlah pengeluaran. Adapun semenjak krisis ekonomi 1998 sampai sekarang ini negara Indonesia menganut sistem defisit anggaran dimana jumlah pengeluaran lebih banyak dari jumlah yang diterima.

Dalam pelaksanaan fungsi kebijakan fiskal yang berupa stabilisasi, distribusi, dan alokasi sumber daya peran APBN sangat berpengaruh terhadap tiga keberlangsungan fungsi  kebijakan fiskal tersebut. Adapun bentuk pengalokasian dana dengan dibentuknya anggaran belanja dengan tujuan utama agar barang dan jasa public dapat terfasilitasi secara sempurna merupakan salah satu kerja nyata dari fungsi alokasi, tentunya hal ini juga dilakukan sebagai pertahanan negara.

 

2.1.4. Cadangan Devisa

Cadangan devisa atau foreign exvhange reserves merupakan simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Adanya cadangan dalam bentuk simpanan seperti ini dilakukan untuk menyimpan asset bank sentral yang tersimpan dalam veverpa mata uang cadangan atau reserve currency seperti euro, yen, dollar, dan sebagainya. Adanya simpanan ini juga digunakan untuk menjamin kewajibannya dengan menerbitkan juga mata uang local dan danya juga simpanan dari bank-bank konvensional dan Syariah yang disimpan di bank sentral oleh Lembaga keuangan atau pemerintah.

Dalam melakukan perdagangan internasional, cadangan devisa sangt diperlukan. Biasanya cadangan devisa digunakan untuk membayar utang luar negeri dan membiayai impor, dimana menurut UU No.23 Tahun 1999 pasal 13 pengelolaannya secara teknis diserahkan dan dilakukan langsung oleh Bank Indonesia. Terdapat berbagai jenis transaksi devisa yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk melakukan pengelolaan diantaranya adalah melakukan transaksi jual beli devisa atau menempatkan devisa, surat-surat berharga dan emas secara berjangka atau tunai termasuk pinjaman.

Adapun peranan cadangan devisa di suatu negara menurut World Bank adalah :

  1. Untuk melindungi negara dari adanya gangguan-gangguan eksternal. Cadangan devisa dianggap mampu dijadikan sebagai pelindung dari kemungkinan terjadinya krisis mata uang. Pemikiran seperti ini muncul setelah terjadinya krisis keuangan pada akhir tahun 1990-an dimana kejadian ini merubah cara pandang pemerintah dalam menentukan kebijakan.
  2. Jumlah cadangan devisa yang dimiliki suatu negara menunjukkan kelayakan kredit dan kredibilitas kebijakan secara umum, dimana cadangan devisa memegang peranan yang sangat penting. Sehingga, dari jumlah cadangan devisa yang cukup yang dimiliki suatu negara akan memudahkan negara tersebut dalam mencari pinjaman dengan kondisi yang lebih nyaman.
  3. Cadangan devisa juga dibutuhkan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar. Kondisi aman cadangan devisa yang dimiliki suatu negara adalah apabila jumlah cadangan devisa di dalam negara tersebut mampu membiayai kebutuhan impor dalam jangka waktu tertentu, setidaknya tiga bulan kedepan. Apabila cadangan devisa kurang dari batas aman atau jumlah cadangan devisa suatu negara tidak mampu memenuhi kebutuhan impor selama tiga bulan kedepan, maka cadangan devisa di negara tersebut dapat dikatakan tidak aman atau rawan. Dengan adanya kondisi ini apabila cadangan devisa suatu negara berada di batas rawan maka akan berpengaruh kepada perekonomian negara, dimana negara akan mengalami kesulitan perekonomian. Kesulitan yang akan dihadapi bukan hanya sekedar dalam kegiatan impor barang-barang yang dibutuhkan saja, kredibilitas negara tersebut juga akan turun, yang mengakibatkan posisi cadangan devisa akan terus berkurang dan berkurang. Dengan adanya kondisi yang seperti ini maka pemerintah pada negara tersebut terapaksa harus melakukan kebijakan devaluasi .

Jumlah cadangan devisa di tiap negara berbeda beda, adanya perbedaan tersebut karena transaksi berjalan dan impor yang dilakukan suatu negara tentunya berbeda dengan negara yang lainnya. Transaksi berjalan suatu negara yang mengalami defisit dalam kurun waktu yang cukup lama mampu menekan jumlah cadangan devisa, karenanya perkembangan transaksi berjalan suatu negara harus mendapat pengawasan dengan teliti dan cermat. Oleh karena itu, adanya defisit transaksi berjalan di suatu negara biasanya mengindikasikan adanya ketidakseimbangan dalam segi makro ekonomi yang memerlukan kebijakan yang lebih kuat lagi untuk mengatur makro ekonomi serta diperlukan penyesuaian nilai tukar.

Dalam rumus cadangan devisa dapat dilihat sebagai berikut :

Cdvt = ( Cdvt 1 + Tbt + Tmt )

Keterangan :

Cdvt    : Cadangan devisa Tahun tertentu

Cdvt 1 : Cadangan devisa sebelumnya

Tbt       : Transaksi berjalan

Tmt     : Transaksi modal

 

2.1.4.1. Sistem-sistem Devisa

Pergerakan atau lalu lintas devisa atau valuta asing memerlukan suatu sistem agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuannya, oleh karena itu adanya ketentuan sistem devisa. Adapun di Indonesia memiliki tiga sistem devisa menurut Bank Indonesia, yaitu :

  1. System devisa control. Umunya devisa dimiliki oleh negara, oleh karena semua devisa yang dipegang dan dimiliki oleh masyarakat harus diserahkan kepada negara, dan izin dari negara sangat diperlukan untuk melakukan pengguanaan devisa. Berdasarkan UU no. 32 tahun 1964 sistem ini pernah diterapkan di Indonesia.
  2. System devisa semi bebas. Di dalam system ini penggunaan-penggunaan devisa tertenu memerlukan izin dari negara dan untuk jenis devisa lainnya dapat secara bebas digunakan dan diperoleh. Untuk lebih jelasnya, devisa hasil ekspor baik perolehan maupun penggunaannya wajib mendapatkan izin dari Bank Indonesia, dan untuk devisa umum dapat diperoleh dan dipergunakan secara umum. Berdasarkan Perpu no. 64 tahun 1970 yang posisinya menggantikan uu no. 32 tahun 1964 menjelaskan bahwa system ini juga pernah diterapkan di Indonesia.
  3. System devisa bebas. Sesuai dengan PP no.1 tahun 1982 yang menggantukan perpu no. 64 tahun 1970 dan UU no. 32 tahun 1964 sistem ini mulai diterapkan di Indonesia semenjak adanya peraturan pemerintah tersebut. Dengan adanya peraturan pemerintah yang baru uini masyarakat bisa menggunakan devisa dengan bebas dan juga dapat memperolehnya dengan bebas. Ketentuan ini berlaku untuk segala bentuk devisa, baik devisa hasil ekspor maupun devisa umum. Dengan menggunakan system ini tidak ada peraturan yang mengatur mengenai kewajiban bagi masyarakat yang memiliki deviosa harus melaporkan kepemilikan devisa yang dimilikinya tersebut diperoleh dengan cara apa dan dipergunakan untuk apa. Dengan adanya kebebasan yang seperti ini yang kemudian terdapat kesalah pahaman dan disalah artikan oleh masyarakat dengan tidak wajib lapor, meskipun di negara-negara lain jelas pelaporan tentang devisa masih dilakukan.

2.2 Tinjauan Empiris         

            Telah banyak dilakukan penelitian tentang factor-faktor apa saja yang mempengaruhi utang luar negeri di Indonesia      . Di dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh para peneliti variable-variabel yang digunakan tentu bervariatif, beberapa diantaranya adalah perumbuhan ekonomi, neraca pembayaran, defisit anggara, dan sebagainya.

Meskipun dasar dan landasan teori ytang digunakan sama, namun sebagian besar kesimpulan dari beberapa penelitian terdahulu tidak selalu menunjukkan hasil ynag sama. Untuk lebih jelas dan penjabarannnya dapat dilihat pada table di bawah ini :

Tabel 2.1. Review Penelitian Terdahulu (Theoritical Mapping)

Nama Peneliti Tahun Judul Variabel yang Digunakan Hasil yang diperoleh
Samsubar Saleh 2008 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pinjaman Luar Negeri serta Imbasnya terhadap APBN Variabel dependen : utang luar negeri

Variabel Independen: defisit angaran, nilai tukar, ekspor, GNP, pertumbuhan ekonomi.

 Secara simultan: utang luar negeri Pemerintah Indonesia cenderung mengalami perubahan yang diakibatkan oleh variabel ekonomi makro, terutama ekspor, pertukarantingkat, pertumbuhan ekonomi, dan kondisi utang luar negeri pasca krisis ekonomi 1997.

 

Yogie Dahlly S, Aris Soelistyo 2017 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri di Indonesia Variabel dependen : utang luar negeri

Variabel Independen: deficit anggaran, cadangan devisa, dan ekspor neto

Secara parsial:. variabel yang berpengaruh terhadap utang luar negeri di Indonesia adalah cadangan devisa dan utang luar negeri tahun sebelumnya dan variabel yang tidak berpengaruh terhadap utang luar negeri di Indonesia adalah defisit anggaran dan ekspor neto.

 

Andi Fatimah Aminuddin 2013 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Variabel dependen : utang luar negeri

Variabel Independen: penanaman modal asing, defisit anggaran, tabungan domestic dan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi

Secara simultan : penaman modal asing, tabungan domestik, ekspor berpengaruh signifikan dan positif, defisit anggaran berpengaruh negative signifikan secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara tidak langsung defisit anggaran, tabungan domestik dan ekspor berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui utang luar negeri. Tetapi penanaman modal asing melalui utang luar negeri tidak berpengaruh secara signifikan. Dan utang luar negeri tidak mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi

 

Puspitaningrum, Istiqomah, Maulidiyah. I. H. 2018 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia Periode 1991-2015 Variabel dependen : utang luar negeri

Variabel Independen: defisit anggaran, pendapatan dalam negeri, tabungan dalam negeri

 Secara simultan : bahwa defisit anggaran, pengeluaran domestik, pendapatan nasional signifikan terhadap utang luar negeri, sedangkan pendapatan domestik tidak signifikan.

 

2.3 Kerangka Berpikir

            Kerangka konsep yang dapat dibentuk dari penelitian ini adalah :

Gambar 2.1

 

 

 

 

2.4 Hipotesis

Mengacu pada kerangka dasar pemikiran teoritis dan studi empiris yang sudah dilakukan peneliti sebelumnya berkaitan dengan APBN Indonesia, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

  1. Diduga Ekspor berpengaruh negatif signifikan dalam jangka pendek dan jangka Panjang terhadap utang luar negeri Indonesia tahun 1987-2016.
  2. Diduga pengeluaran APBN berpengaruh positif signifikan dalam jangka pendek dan jangka Panjang terhadap utang luar negeri Indonesia tahun 1987-2016.
  3. Diduga cadangan devisa berpengaruh positif signifikan dalam jangka pendek dan jangka Panjang terhadap utang luar negeri Indonesia tahun 1987-2016.

Dengan itu, hipotesis yang dapat disimpulkan untuk penelitian ini adalah, ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa berpengaruh baik secara simultan maupun parsial terhadap utang luar negeri di Indonesia tahun 1987 – 2016.

 

  1. METODE PENELITIAN

3.1. Populasi dan Sampel

            Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif dengan sampel yang digunkan berupa data utang luar negeri, pengeluran APBN, dan cadangan devisa yang diambil dari BPS (Badan Pusat Statistk) dan Worldbank. Pengambilan sampel dalam peenelitian ini menggunakan sampel jenuh. Sampel jenuh merupakan sampel yang mewakili populasi diimana biasanya hanya digunakan jika populasi kurang dari 100. Sampai pada akhhirnya di dalam penelitian ini diperoleh jumlah sampel sebanyak 30 sampel.

 

3.2. Metode dan Analisis Data

            Metode dan analisis yang digunakan untuk mengolah data yang dijadikan sebagai kerangka dasar perhitungan dalam penelitian ini untuk menghitung hubungan antara variabel dependen dan variable independen adalah menggunakan teknik analisis dasar dengan metode VECM (Vector Error Correction Model). Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui hubungan jangka panjang denggan jangka pendek antara variable dependen dengan variable independen. Sesuai dengan desain penelitian, adapun proses penelittian untuk teknik analisis data dalam pennelitian ini adalah sebagai berikut :

 

3.2.1. Uji Stasioneritas Data

Tahap awal yang harus dilakukan dalam estimasi VECM adalah uji stasioneritas data. Data dikatakan stasioner apabila “suatu data runtut waktu memiliki rata-rata dan memiliki kecenderungan bergerak menuju rata-rata” (Kennedy, 2000 dalam Kuncoro 2011). Lebih lanjut, Kuncoro (2011), menjelaskan bahwa “data yang stasioner apabila digambar terhadap waktu, maka akan sering melewati sumbu horizontal dan autokorelasinya akan menurun dengan teratur untuk lag yang cukup besar”. Selain itu, Winarno (2015), menambahkan bahwa data dapat dikatakan stasioner apabila memenuhi dua syarat sebagai berikut:

  1. Rata-rata kovariannya konstan sepanjang waktu.
  2. Kovarian antara dua data runtut waktu tergantung pada kelambanan antara dua periode tersebut.

Untuk menguji stasioneritas data, umumnya digunakan uji akar unit (unit root test) yang dikembangkan oleh Dickey dan Fuller dengan melihat nilai probabilitas ADF (Augmented Dickey Fuller) dengan membandingkan dengan nilai kritis (Basuki & Yuliadi, 2015). Lebih lanjut, Basuki & Yuliadi (2015), menjelaskan bahwa terdapat tiga buah model ADF test untuk mendeteksi adanya akar unit pada data, yaitu sebagai berikut: 1) model tanpa intercept dan tanpa trend, 2) model yang hanya menggunakan intercept, dan 3) model yang menggunakan intercept dan trend. Kemudian, untuk mengetahui apakah data yang diuji terdapat akar unit atau tidak, maka dapat dilihat dengan membandingkan antara ADF t-statistik  dengan nilai kritis Mc Kinnon.

H0 = Terdapat akar unit (data tidak stasioner).

H1= Tidak terdapat akar unit (data stasioner).

Apabila nilai ADF t-statistik lebih besar dari nilai kritis Mc Kinnon (1, 5, 10 persen), maka H0 diterima atau dengan kata lain, data tidak stasioner. Apabila nilai ADF t-statistik lebih kecil dari kritis Mc Kinnon (1, 5, 10 persen), maka H0 ditolak atau dengan kata lain, data bersifat stasioner (Basuki & Yuliadi 2015). Apabila data yang diuji belum stasioner pada tingkat level, maka solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan diferensi data pada tingkat first difference dan seterusnya (Kuncoro, 2011). Dalam penelitian ini, digunakan nilai kritis 5 persen (0,05).

 

 

 

3.2.2. Penentuan Panjang Lag

Waktu (lag) dalam ekonomi digunakan untuk menjelaskan ketergantungan dari variabel satu ke variabel yang lain (Gujarati, 1995). Penentuan panjang lag dilakukan untuk menentukan estimasi parameter dalam VECM. Dalam estimasi VECM hubungan kausalitas sangat dipengaruhi oleh panjang lag. Selain itu, Basuki & Yuliadi (2015), juga menjelaskan bahwa apabila lag yang dimasukkan terlalu pendek, maka dikhawatirkan estimasi yang dihasilkan tidak akurat. Sebaliknya, apabila lag yang dimasukkan terlalu panjang, maka akan menghasilkan hasil estimasi tidak efisien. Adapun dalam penentuan panjang lag optimum dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak EViews dengan langkah-langkah sebagai berikut (Basuki & Yuliadi, 2015):

Blok seluruh variabel => open => as VAR => unrestricted VAR => Ok => Kemudian, klik View => Lag Structure => Lag Length Criteria.

Nilai lag optimum yang dapat digunakan, yaitu dapat melihat dari nilai dari Likelihood Ratio (LR), Final Prediction Error (FPE), Akaike Information Criterion (AIC), Schwarz Information Criterion (SIC), dan Hannan-Quinn (HQ) (Winarno, 2015). Dalam penelitian ini digunakan penentuan lag optimal dengan melihat nilai tertinggi dari Likelihood Ratio (LR).

 

3.2.3. Uji Kointegrasi

Uji kointegrasi merupakan pengujian yang dimaksud untuk melihat adakah hubungan dalam jangka panjang terhadap masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian. Dalam estimasi VECM, uji kointegrasi sangat diperlukan untuk menentukan apakah masing-masing variabel terdapat hubungan dalam jangka panjang atau tidak. Apabila masing-masing variabel tidak terdapat hubungan kointegrasi, maka estimasi VECM tidak berlaku. Apabila data memiliki hubungan dalam jangka panjang (kointegrasi), maka VECM (Vector Error Correction Model) berlaku. Winarno (2015), menjelaskan bahwa dua variabel yang tidak stasioner pada tingkat level, dan stasioner pada tingkat first difference, maka kemungkinan terdapat hubungan kointegrasi.

Lebih lanjut, Winarno (2015), menjelaskan bahwa terdapat tiga cara untuk menguji kointegrasi, yaitu:

  1. EG (Engle Granger).
  2. CRDW (Cointegrating Regression Durbin Watson).
  3. Johansen’s Cointegration Test.

            Untuk melihat hubungan kointegrasi dari masing-masing variabel endogen, maka dapat dilakukan dengan membandingkan nilai trace statistic dengan critical value.

H0= Tidak terdapat hubungan kointegrasi.

H1= Terdapat hubungan kointegrasi.

Basuki & Yuliadi (2015), menjelaskan bahwa apabila nilai trace statistic lebih kecil dari critical value, maka H0 diterima (tidak ada hubungan kointegrasi), sebaliknya apabila nilai trace statistic lebih besar dari critical value, maka H1 diterima (ada hubungan kointegrasi). Dalam penelitian ini, masing-masing variabel menunjukkan dua rank hubungan kointegrasi dimana, nilai trace statistic lebih besar dari critical value 0,05 (dalam penelitian ini digunakan critical value 0,05 atau 5 persen). Variabel yang saling berhubungan kointegrasi menunjukkan bahwa VECM tepat digunakan dan kemudian dapat dilakukan pengujian selanjutnya dalam estimasi VECM, yaitu uji stabilitas VECM.

 

 

 

3.2.4. Uji Stabilitas VECM

Sebelum melakukan pengujian estimasi VECM, terlebih dahulu harus dilakukan uji stabilitas. Menurut Basuki & Yuliadi (2015), stabilitas model perlu diuji karena akan mempengaruhi hasil analisis IRF (Impulse Response Function) dan VDC (Variance Decomposition). Apabila stabilitas tidak diuji, hasil analisis IRF dan VDC menjadi tidak valid. Lebih lanjut, Basuki & Yuliadi (2015), menjelaskan bahwa suatu sistem VAR dikatakan stabil atau memenuhi uji stabilitas apabila nilai seluruh akar atau root-nya memiliki modulus lebih kecil dari satu. Dalam penelitian ini, diketahui nilai modulus sudah lebih kecil dari satu, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil analisis IRF dan VDC adalah valid.

 

  • Uji Kausalitas Granger (Granger’s Causality Test).

Kuncoro (2011), menjelaskan bahwa “tujuan analisis kausalitas Granger adalah untuk meneliti apakah A mendahului B, ataukah B mendahului A, ataukah hubungan antara A dan B timbal balik”. Menurut Basuki & Yuliadi (2015), metode analisis kausalitas Granger dapat dilakukan menggunakan metode Granger’s Causality dan Error Correction Model Causality. Adapun persamaan kausalitas granger adalah sebagai berikut (Kuncoro, 2011):

Yt = i Yt-i + j Xt-j + vt…………………………………………………………………… (3.1)

Xt = i Xt-i + j Yt-j + vt…………………………………………………………………… (3.2)

 

Dari persamaan di atas dapat dijelaskan bahwa variabel X tidak mempengaruhi variabel Yt. “Dengan kata lain, bila bj=0 (i=1, 2, ..,k), maka Xt gagal menyebabkan Yt” (Kuncoro, 2011). Untuk melihat apakah variabel dalam penelitian memiliki hubungan kausalitas, maka dapat dilihat pada nilai α (alpha). Menurut Basuki & Yuliadi apabila nilai probabilitas menunjukkan besaran yang lebih kecil dari pada nilai α, maka H0 akan ditolak, dimana menandakan di dalam penelitian terdapat hubungan kausalitas pada masing-masing variabel atau variabel dapat dijadikan sebagai (leading indicator) atau indikator yang dapat mempengaruhi suatu variabel. Dan begitu juga sebaliknya, H1 akan diterima apabila nilai probabilitas lebih besar dari nilai α. Yang artinya, tidak terdapat hubungan kausalitas antara variabel satu dengan variabel yang lainnya di dalam penelitian.

 

3.2.6 Vector Error Correction Model (VECM)

Vector Error Correction Model (VECM) merupakan model turunan dari VAR (Vector Autoregression) atau VAR yang terestriksi. Perbedaan antara VAR dengan VECM adalah dalam estimasi VECM terdapat hubungan kointegrasi antara masing-masing variabel yang menunjukkan hubungan dalam jangka panjang. Basuki & Yuliadi (2015), menjelaskan bahwa “VECM sering disebut sebagai desain VAR bagi series non stasioner yang memiliki hubungan kointegrasi”. Menurut Gujarati (1995), keuntungan yang didapatkan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan model VAR dalam penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Model lebih sederhana, karena semua variabel dianggap sebagai variabel endogen.
  2. Estimasi yang digunakan lebih sederhana, karena hanya menggunakan OLS (Ordinary Least Square).
  3. Hasil estimasi lebih baik daripada model lain daripada model lain yang lebih kompleks.

Selain keunggulan di atas, Basuki & Yuliadi (2015), menambahkan bahwa keunggulan lain yang diperoleh dari model VAR, yaitu hasil VAR tidak hanya menghasilkan rekomendasi namun, dapat pula mengetahui seberapa lag yang dibutuhkan pengaruh masing-masing variabel berdasarkan data historisnya. Selanjutnya, dalam pengambilan model VAR terdapat tiga pertimbangan utma, yaitu :

  1. Apabila penggunaan model yang dipilih adalah model regresi linier, terlalu banyak kritikan dalam penggunaannya. Penggunaan model regresi linier menuai banyak krikitan karena model regresi linier dianggap sebagai metode yang sangat lemah, sehingga penggunaan model tersebut dianggap tidak mampu memberikan hasil yang akurat.
  2. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data time series atau data runtut wakti yang menggambarkan adanya fluktuasi di dalam perekonomian.
  3. Melalui metode VAR, dapat dikethui seberapa besar lag yang dibutuhkan dalam pengaruhnya terhadap hubungan masing-masing variabel endogen.

 

Penggunaan metode VECM dalam penelitian ini telah memenuhi persyaratan kapan penggunaan yang tepat untuk estimasi VECM dimana, data stasioner pada tingkat yang sama, yaitu first difference dan terdapat hubungan kointegrasi antar masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian. Pada dasarnya, model umum VECM adalah sebagai berikut (Ascarya, 2012):

∆Yt = b10 + b11 ∆Yt-1 + b12 ∆Yt-1 – λ (yt-1 – ɑ10 – ɑ11yt-2 – ɑ12zt-1) + εyt……………. (3.3)

∆Zt = b20 + b21 ∆Yt-1 + b22 ∆Yt-1 – λ (yt-1 – ɑ20 – ɑ21yt-2 – ɑ22zt-1) + εzt……………. (3.4)

 

Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa α merupakan koefisien jangka panjang, b merupakan koefisien jangka pendek, λ adalah error correction parameter, dan variabel y dan z harus menunjukkan hubungan kointegrasi. Selanjutnya, untuk melakuan perhitungan terhadap determinan utang luar negeri, dapat digunakan estimasi VECM sebagai berikut ini :

 

Hubungan jangka pendek:

∆D(ULN)t = ɑ0 + λect-1 + 1∆D(EKSPOR)t-f + 2∆D(APBN)t-f  +

3∆D(CADEV)t-f  + Ut……………………………………………… (3.3)

 

Sedangkan, persamaan yang digunakan untuk melakukan perhitungan dalam jangka panjang adalah sebagai berikut ini :

D(ULN)t = ɑ0 + ɑ1D(EKSPOR)t + ɑ2D(APBN)t  + ɑ3D(CADEV)t  + Ut….. (3.4)

Dimana:

DULN                         = Diferensi utang luar negeri

DEKSPOR                  = Diferensi ekspor

DAPBN                      = Diferensi pengeluaran APBN

DCADEV                   = Diferensi cadangan devisa

t                                   = Period ke-t

ɑ1, ɑ2, ɑ3, ɑ4                = Koefisien Variabel

ɑ0                                 = Konstanta

Ut                                                 = Variabel Error

λ                                  = Koefisien Kecepatan Penyesuaian

j                                   = Panjang Lag dalam Model

ect-1                                             = Error Correction Term

adapun alat bantu yang digunakan untuk mengolah data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan aplikasi Eviews versi 7.0.0.1 dengan alat analisis ekonomi yang digunakan adalah VECM. Sedangkan untuk pembuatan tabel, dan proses pengetikan menggunakan Microsoft Excel dan Microsoft Word. Selanjutnya, dengan membandingkan nilai t-statistik parsial akan didapatkan hasil untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya. Dengan hipotesis yang digunakan sebagai berikut ini :

H0 = variabel independen tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

H1 = variabel independen mempengaruhi signifikan variabel dependen.

Dari hasil estimasi VECM yang kemudian akan menghasilkan analisi penting dalam model VAR, yaitu sebagai berikut ini :

  1. IRF (Impulse Response Function).

Analisis Irf digunakan untuk melihat respon shock dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya. Dengan menggunakan analisis IRF ini juga peneliti dapat melihat jangka waktu seberapa lama suatu variabel akan mempengaruhi variabel lainnya dengan takaran sebesar satu standar deviasinya (penyimpangan). Dengan analisis ini juga peneliti dapat melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sebuah variabel kembali ke titik keseimbangannya sebelum terjadinya shock atau kejutan yang terjadi. Respon yang dihasilkan dari IRF ini bisa berupa respon positif, negatif, dan mendatar pada garis horizontal atau dengan kata lain tidak merespon.

  1. VDC (Variance Decomposition)

“Analisis VDC digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi atau komposi yang diberikan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya” (Basuki & Yuliadi, 2015). Outpu yang dikeluarkan dari analisi VDC ini adalah seberapa besar dan berapa lama proporsi shock sebuah variabel terhadap variabel itu sendiri dan terhadap variabel lain. Yang artinya dengan dilakukannya analisis VDC peneliti dapat mengetahui seberapa besar kontribusi atau komposisi masing-masing variabel independen terhadap pembentukan variabel dependennya.

  1. PEMBAHASAN

4.1. Uji Kausalitas dan Instrumen Data

4.1.1 Uji Stasioneritas

Tahap pertama yang harus dilalui untuk mendapatkan estimasi VECM adalah pengujian stasioneritas data masing-masing variable, baik variable dependen, maupun variable independent. Seperti yang telah dijelaskan di atas, data stasioner dibutuhkan untuk mempengaruhi hasil pengujian estimasi VECM. Persamaan regresi dengan variabel-variabel yang tidak stasioner, akan menghasilkan apa yang disebut regresi lancing atau spurious regression. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi stasioner atau tidaknya masing-masing data variabel, maka digunakan uji ADF (Augmented Dickey Fuller) dengan menggunakan model intercept. Adapun uji stasioner ADF masing-masing variabel dapat ditunjukkan oleh table .1 berikut ini :

Tabel 4.1. Hasil Uji ADF Menggunakan Intercept pada Tingkat Level

Variabel ADF t-Statistik Mc Kinnon Critical Value 5 Persen Prob Keterangan
Utang Luar Negeri -0.991230 -2.967767 0.7429 Tidak stasioner
Ekspor -1.689579 -2.967767 0.4258 Tidak stasioner
Pengeluaran APBN -1.640078 -2.986225 0.4481 Tidak stasioner
Cadangan Devisa -1.011550 -2.971853  0.7350 Tidak stasioner

Sumber : Lampiran, data diolah.

Dari tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa tidak ada variabel yang stasioner pada  tingkat level. Keadaan tersebut dapat diketahui bahwa pada probabilitas ADF t-statistik variabel Utang Luar Negeri lebih besar daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 5 persen (dalam penelitian ini digunakan α 0,05), yaitu -0.991230 > -2.967767 yang artinya, H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data tidak stasioner.

Kemudian, pada tingkat yang sama (level), variabel Ekspor juga tidak memenuhi persyaratan stasioneritas data. Dimana, diketahui probabilitas ADF t-Statistik variabel Ekspor lebih besar daripada nila Mc Kinnon Critical Value 5 persen, yaitu -1.689579 > -2.967767 yang artinya, H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data tidak stasioner.

Hal yang sama juga dialami oleh variabel Pengeluaran APBN dimana, diketahui bahwa probabilitas ADF t-Statistik pengeluaran APBN lebih besar daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 5 persen, yaitu -1.640078 > -2.986225 yang artinya, H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data tidak stasioner.

Selanjutnya, variabel terakkhir, yaitu Cadangan Devisa juga mengalami permasalahan stasioneritas data pada tingkat level dimana, diketahui bahwa probabilitas ADF t-Statistik variabel cadangan devisa lebih besar daripada nilai Mc Kinnon Critical Value  5 persen, yaitu -1.011550 > -2.971853 yang artinya, H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data tidak stasioner.

Oleh karena empat variabel, yaitu Utang Luar Negeri, Ekspor, Pengeluaran APBN, dan Cadangan Devisa tidak stasioner pada pengujian ADF model intercept  pada tingkat level, maka solusinya adalah melakukan diferensi data pada tingkat first difference. Hasil uji ADF tingkat  first difference  dapat ditunjukkan dalam tabel 4.2 sebagai berikut :

Tabel 4.2. Hasil Uji ADF Mengginakan Intercept pada Tingkat First Difference

Variabel ADF t-Statistik Mc Kinnon Critical Value 5 Persen Prob Keterangan
Utang Luar Negeri -4.352598 -2.971853 0.0020 Stasioner
Ekspor -6.470834 -2.971853 0.0000 Stasioner
Pengeluaran APBN -5.647302 -2.976263 0.0001 Stasioner
Cadangan Devisa -8.058200 -2.971853  0.0000 Stasioner

Sumber : Lampiran, Data diolah.

Dari tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini sudah stasioner pada tingkat first difference. Hal tersebut fdapat diketahui pada masing-masing variabel yaitu :

  1. Variabel Utang Luar Negeri pada pengujian ADF model intercept pada tingkat Ifirst difference menunjukkan bahwa nilai ADF t-Statistik lebih kecil daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 5 persen (dalam penelitian ini digunakan α 0,05), yaitu sebesar -4.352598 <  -2.971853 yang artinya, H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain, data telah stasioner.
  2. Variabel Ekspor pada pengujian ADF model intercept pada tingkat first difference menunjukkan bahwa nilai ADF t-Statistik lebih kecil daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 10, yaitu sebesar -6.470834 <  -2.971853 yang artinya, H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain, data telah stasioner.
  3. Variabel Pengeluaran APBN pada pengujian ADF model intercept pada tingkat Ifirst difference menunjukkan bahwa nilai ADF t-Statistik lebih kecil daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 5 persen, yaitu sebesar  -5.647302 <  -2.976263 yang artinya, H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain, data telah stasioner.
  4. Variabel Cadangan Devisa pada pengujian ADF model intercept pada tingkat Ifirst difference menunjukkan bahwa nilai ADF t-Statistik lebih kecil daripada nilai Mc Kinnon Critical Value 5 persen, yaitu sebesar -8.058200 <  -2.971853 yang artinya, H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain, data telah stasioner.

Dari pengujian data di atas, semua variabel telah memenuhi persyaratan stasioneritas data uji ADF dimana, nilai ADF t-Statistik lebih kecil daripada Mc Kinnon Critical Value 5 persen pada tingkat first difference. Oleh karena semua variabel data sudah stasioner pada tingkat first difference, maka dapat dilakukanlah langkah selanjutnya dalam estimasi VECM, yaitu penentuan panjang lag optimal.

 

4.1.2 Penentuan Panjang Lag.

            Estimasi VECM sangat sensitif terhadap Panjang Lag dari data yang digunakan. Panjang Lag digunakan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan pengaruh dari masing-masing variabell terhadao variabel masa lalunya. Dalam penelitian ini, peenentuan Panjang lag dilakukan dengan melihat nilai tertinggi dari sequential modified LR test statistic. Panjang lag  yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah mulai dari 0 sampai dengan maksimum lag 7, karena data yang dipakai adalah tahunan dari tahun 1987-2016. Panjang lag tersebut dirasa cukup untuk menggambarkan Utang Luar Negeri dalam periode tahunan pada tahun 1987 – 2016. Panjang lag  optimal dapat ditunjukkan dalam tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3. Pengujian Panjang Lag Mengunakan Nilai LR

Panjang Lag Nilai Sequential Modified LR Test Statistic
0 NA
1  20.42570
2   30.68180*

Sumber : Lampiran, Data Diolah

Dari tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa Panjang lag optimal terletak pada lag 2, yaitu dengan nilai sequential modified LR test statistic tertinggi, yaitu 30.68180. Oleh karena itu, lag optimal yang digunakan dalam penelitian ini adalah lag 2. Kemudian, karena Panjang lag optimal sudah ditemukan, maka dapat dilakukan pengujian selanjutnya, yaitu uji kointegrasi.

 

4.1.3. Uji Kointegrasi

Tahap uji ketiga dalam estimasi VECM adalah pengujian kointegrasi. Pengujian kointegrasi dimaksud untuk mengetahui hubungan dalam jangka Panjang masing-masing variabel. Syarat dalam estimasi VECM, yaitu ada hubungan kointegrasi di dalamnya. Apabila tidak terdapat hubungan kointegrasi, maka estimasi VECM batal digunakan, melainkan harus menggunakan model VAR (Vector Autoregression). Dalam penelitian ini, pengujian kointegrasi digunakan dengan metode yang tersedia dalam software EViwes dengan critical value 0,05. Hasil uji kointegrasi ditunjukkan oleh tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4. Hasil Uji Kointegrasi

Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace)

Hypothesized No. of CE(s) Eigenvalue Trace Statistic 0.05 Critical Value Prob.**
None *  0.771812  101.6115  47.85613  0.0000
At most 1 *  0.686932  63.19432  29.79707  0.0000
At most 2 *  0.580247  32.99965  15.49471  0.0001
At most 3 *  0.330436  10.42933  3.841466  0.0012
 Trace test indicates 1 cointegrating eqn(s) at the 0.05 level
 * denotes rejection of the hypothesis at the 0.05 level
 **MacKinnon-Haug-Michelis (1999) p-values

Sumber : Lampiran, Data Diolah.

Dari tabel 4.4 di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam taraf uji 5 persen (0,05), terdapat empat rank variabel berhubungan kointegrasi. Hal tersebut dapat terbukti dari nilai trace statistic 101.6115,  63.19432, 32.99965, dan  10.42933  yang lebih besar dari Critical value 0,05, yaitu 47.85613, 29.79707,  15.49471, dan 3.841466 yang artinya, H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain, variabel-variabel yang digunakan memiliki hubungan (dalam jangka Panjang kointegrasi) satu dengan lainnya. Oleh karena itu, estimasi VECM dalam penelitian ini dapat digunakan. Selanjutnya dapat dilakukan uji stabilitas VECM.

 

4.1.4. Pengujian Stabilitas VECM

            Pengujian stabilitas model merupakan langkah selanjutnya model merupakan langkah selanjutnya sebelum menggunakan estimasi VECM. Pengujian stabilitas model, dimaksud untuk menguji validitas IRF dan VDC. Pengujian stabilitas estimasi VECM dapat ditunjukkan dalam tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5. Hasil Uji Stabilitas Estimasi VECM

Root Modulus
-0.561042 – 0.567814i  0.798236
-0.561042 + 0.567814i  0.798236
 0.581702 – 0.419433i  0.717148
 0.581702 + 0.419433i  0.717148
-0.031152 – 0.704102i  0.704791
-0.031152 + 0.704102i  0.704791
-0.399549 – 0.531187i  0.664680
-0.399549 + 0.531187i  0.664680

Sumber : Lampiran, Data Diolah.

Dari tabel 4.5 di atas, dapat dijelaskan bahwa model yang digunakan sudah stabil. Hal tersebut dapat diketahui dari kisaran modulus dengan nilai rata-rata kurang dari satu. Dengan semikian, hasil analisi IRF (Impulse Response Function) dan VDC (Variance Decomposition) adalah valid dan dapat dilakukan pengujian selanjutnya, yaitu uji kausalitas granger.

4.1.5. Uji Kausalitas Granger

Uji kausalitas granger dimaksud untuk mengetahui hubungan sebab akibat dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, hasil dari uji kausalitas dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut:

Tabel 4.6. Uji Kausalitas Granger

H0 Lag 2
F- Statistik Prob.
 LEKSPOR does not Granger Cause LULN  15.8818 5.E-05
 LULN does not Granger Cause LEKSPOR  0.15283 0.8591
 LAPBN does not Granger Cause LULN  2.34754 0.1181
 LULN does not Granger Cause LAPBN  4.43340 0.0235
 LCADDEV does not Granger Cause LULN  1.14396 0.3360
 LULN does not Granger Cause LCADDEV  6.40899 0.0061
 LAPBN does not Granger Cause LEKSPOR  0.59224 0.5613
 LEKSPOR does not Granger Cause LAPBN  0.95344 0.4001
 LCADDEV does not Granger Cause LEKSPOR  0.71238 0.5010
 LEKSPOR does not Granger Cause LCADDEV  4.55636 0.0215
 LCADDEV does not Granger Cause LAPBN  0.62190 0.5457
 LAPBN does not Granger Cause LCADDEV  3.92868 0.0341

Sumber: Lampiran, Data Diolah

Dari tabel 4.6 di atas, diketahui bahwa yang memiliki hubungan kausalitas adalah yang memiliki nilai probabilitasnya lebih kecil dari alpha 0,05 sehingga nanti H0 akan ditolak yang berarti suatu variabel akan mempengaruhi variabel lain. Dari pengujian granger diatas kita mengetahui hubungan timbal balik atau kausalitas seperti berikut :

Variabel Utang Luar Negeri secara statistic signifikan mempengaruhi ekspor, dengan probabilitas 5.E-05 sehingga kita menolak hipotesis nol, sedangkan ekspor secara statistic tidak signifikan mempengaruhi utang luar negeri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terjadi hubungan kausalitas searah antara variabel Utang Luar Negeri dengan Ekspor.

Selanjutnya, variabel Utang Luar Negeri secara statistic tidak signifikan mempengaruhi pengeluaran APBN dan sementara variabel pengeluaran APBN secara statistic signifikan mempengaruhi variabel Utang Luar Negeri yang dibuktikan dengan nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0235 yang kurang dari 0.05. Sehingga, disimpulkan bahwa terjadi kausalitas searah antara variabel Utang Luar Negeri dengan pengeluaran APBN.

Selanjutnya, variabel Utang Luar Negeri secara statistic tidak signifikan mempengaruhi variabel cadangan devisa dan sementara variabel cadangan devisa secara statistic signifikan mempengaruhi variabel Utang Luar Negeri yang dibuktikan dengan nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0061 yang kurang dari 0.05. Sehingga, disimpulkan bahwa terjadi kausalitas searah antara variabel Utang Luar Negeri dengan variabel cadangan devisa.

Selanjutnya, variabel Ekspor secara statistic tidak signifikan mempengaruhi variabel cadangan devisa dan sementara variabel cadangan devisa secara statistic signifikan mempengaruhi variabel Ekspor yang dibuktikan dengan nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0215 yang kurang dari 0.05. Sehingga, disimpulkan bahwa terjadi kausalitas searah antara variabel Ekspor dengan variabel cadangan devisa.

Selanjutnya, variabel Pengeluaran APBN secara statistic tidak signifikan mempengaruhi variabel cadangan devisa dan sementara variabel cadangan devisa secara statistic signifikan mempengaruhi variabel pengeluaran APBN yang dibuktikan dengan nilai probabilitasnya yaitu sebesar 0.0341 yang kurang dari 0.05. Sehingga, disimpulkan bahwa terjadi kausalitas searah antara variabel pengeluaran APBN dengan variabel cadangan devisa.

 

4.2. Interpretasi Hasil Estimasi VECM (Vector Error Correction Model)

            Setelah melakukan serangkaian tahap pra estimasi, yaitu uji stasioneritas data, penentuan Panjang lag, uji kointegrasi, dan stabilitas VECM, dan faktanya terdapat empat rank kointegrasi dalam taraf uji 0,05 (5 persen) dalam penelitian ini, maka model analisis yang digunakan, yaitu VECM (Vector Error Correction Model). Penggunaan estimasi VECM sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi hubungan jangka pendek dan jangka Panjang pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen. Adapun hasil estimasi VECM dapat ditunjukkan dalam tabel 4.7 sebagai berikut;

Tabel 4.7. Hasil Estimasi VECM (Vector Error Correction Model) Jangka Pendek

Variabel Koefisien t-statistik Parsial
CointEq1 -0.935473 [-5.69207]
D(LULN(-1)) 0.248464 [ 2.24802]
D(LULN(-2))  -0.046423 [-0.36455]
D(LEKSPOR(-1))  -0.139951  [-5.26958]
D(LEKSPOR(-2)) -0.049406 [-1.88773]
D(LAPBN(-1)) -0.485952 [-2.58079]
D(LAPBN(-2)) 0.140820 [ 0.72063]
D(LCADDEV(-1)) -0.048355 [-0.77016]
D(LCADDEV(-2)) -0.010145 [-0.16833]
C  0.344130 [ 4.44550]

Sumber : Lampiran, Data Diolah.

Dari tabel 4.7 hasil estimasi VECM di atas, pada jangka pendek terdapat lima variabel yang signifikan pada taraf nyata lima persen. Variabel yang signifikan pada taraf nyata lima persen adalah utang luar negeri pada lag 1, ekspor pada lag 1, dan pengeluaran APBN pada lag 1.

Hasil estimasi jangka pendek menunjukkan bahwa variabel utang luar negeri pada lag 1 berpengaruh positif pada taraf nyata lima persen koefisiennya sebesar 0.248464 . Artinya jika terjadi kenaikan utang luar negeri sebesar 100 satuan pada satu tahun sebelumnya, maka akan menaikkan utang luar negeri sebesar 24.8464 satuan pada tahun sekarang. Sementara itu, ekspor pada lag ke 1 berpengaruh positif, pada taraf nyata lima persen dengan koefisien sebesar  -0.139951 . Artinya, jika terjadi kenaikan ekspor sebesar 100 satuan pada tahun sebelumnya maka akan menurunkan utang luar negeri sebesar 13.9951 pada tahun sekarang. Dan yang terakhir variabel pengeluaran APBN pada lag  ke 1 berpengaruh positif, pada taraf nyata lima persen memiliki koefisien sebesar -0.485952 . Artinya jika terjadi kenaikan pengeluaran APBN pada tahun sebelumnya sebesar satu satuan, maka akan menurunkan utang luar negeri pada tahun sekarang sebesar 0.485952 satuan.

Selanjutnya, dalam jangka panjang diketahui variabel pengeluaran APBN dan cadangan devisa berpengaruh secara signifikan pada utang luar negeri indoneisa. Sedangkan, ekspor dalam jangka Panjang tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap utang luar negeri. Secara lengkap, hasil estimasi VECM dalam jangka panjang ditunjukkan dalam tabel 4.8. sebagai berikut:

 

 

 

Tabel 4.8. Hasil Estimasi VECM (Vector Error Correction Model) Jangka Panjang

Variabel Koefisien t-statistik Parsial
LEKSPOR(-1) -0.144354 [-6.11495]
LAPBN(-1)  -0.560047 [-4.75295]
LCADDEV(-1) -0.163419 [-1.02910]

Sumber : Lampiran, Data Diolah

Dari table estimasi VECM dalam jangka Panjang di atas, dapat dijelaskan bahwa variable ekspor dan pengeluaran APBN signifikan pada taraf nyata lima persen yang mempengaruhi Utang Luar Negeri. Variabel Ekspor mempunyai pengaruh negative terhadap Utang Luar Negeri yaitu sebesar -0.144354 . Artinya, jika terjadi kenaikan Ekspor sebesar 1 persen maka akan menyebabkan penurunan Utang Luar Negeri turun sebesar 0.144354 . Variable pengeluaran APBN mempunyai pengaruh negative dan signifikan terhadap variable utang luar negeri sebesar  -0.560047 . Artinya, jika terjadi kenaikan pengeluaran APBN sebesar 1 persen maka akan menyebabkan penurunan Utang Luar Negeri turun sebesar 0.560047 satuan.

Hasil estimasi VECM dalam jangka pendek dan jangka panjang di atas, merupakan hasil yang valid dimana, diketahui dari nilai koefisien determinasi R-Squared sebesar    0.850852 atau 85,08 persen dari maksimal 100 persen dimana, perubahan variabel dependen (utang luar negeri) mampu dijelaskan oleh variabel independennya (ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa) sebesar 85,08 persen dari maksimal 100 persen. Hasil analisis VECM tidak hanya mampu melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen namun, dalam estimasi VECM juga dilengkapi dengan fitur IRF (Impulse Response Function) dan VDC (Variance Decomposition) untuk melihat respon dan waktu yang dibutuhkan variabel kembali ke titik keseimbangannya serta melihat seberapa besar komposisi pengaruh masing-masing variabel independen terhadap pembentukan variabel dependennya. Adapun hasil analisis IRF dan VDC dapat dijelaskan di bawah ini:

 

4.2.1. Hasil Analisis IRF (Impulse Response Function).

Seperti yang telah dijelaskan di atas, analisis IRF digunakan untuk mengetahui seberapa lama waktu yang dibutuhkan variabel dependen dalam merespon perubahan variabel independen dan akhirnya kembali ke titik keseimbangan sebelum terjadinya shock. Dalam penelitian ini analisis IRF digunakan untuk menunjukkan respon utang luar negeri terhadap shock determinannya. Adapun hasil analisis IRF adalah sebagai berikut:

 

4.2.1.1 Respon Utang Luar Negeri terhadap shock Ekspor

 

Gambar 4.1

 

            Dari gambar 4.1 di atas, dapat dijelaskan mengenai analisis hubungan antara utang luar negeri dengan variabel ekspor. Bahwa variabel utang luar negeri baru mulai merespon perubahan/shock yang terjadi pada periode pertama. Utang luar negeru merespon shock ekspor berjalan relatif tidak stabil atau terus mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak terprediksi. Dapat dilihat pada gambar bahwa pada periode pertama responnya adalah negatif yang kemudian berangsur positif sampai pada periode 4 meskipun garis terlihat naik dan turun yang menandakan terjadi penaikan dan penurunan, tetapi sampai periode 4 reponnya positif karena berada diatas garis horizontal. Selanjutnya dimulai dari periode 4 mengalami penurunan yang cukup signifikan sampai berada di bawah garis horizontal. Selanjutnya dari periode 5 sampai 10 berangsur memberikan respon yang positif kembali.

 

 

4.2.1.2. Respon Utang Luar Negeri terhadap shock Pengeluaran APBN

Analisis IRF kedua yang akan ditunjukan untuk menjelaskan respon utang luar negeri terhadap shock pengeluaran APBN. Dalam penelitian ini analisis IRF digunakan untuk menunjukkan respon utang luar negeri terhadap shock determinannya. Adapun hasil analisis IRF adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2

 

 

Dari gambar 4.2 di atas, dapat dijelaskan bahwa respon utang luar negeri terhadap shock variabel pengeluaran APBN adalah positif (+). Hal tersebut ditunjukkan dari garis IRF yang bergerak cenderung di atas garis horizontal, ,meskipun trend garis cenderung mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak stabil tetapi responnya cenderung positif. Walaupun sempat mengalami penurunan yang cukup drastis pada periode 2 ke periode 3 sampai trend sempat berada di bawah garis horizontal, tetapi setelah itu trend kembali naik dan berada diatas garis horizontal. Sehinga, responnya cenderung positif.

 

4.2.1.3. Respon Utang Luar Negeri terhadap shock Cadangan Devisa

Analisis IRF ketiga yang akan ditunjukan untuk menjelaskan respon utang luar negeri  terhadap shock  cadangan devisa. Dalam penelitian ini analisis IRF digunakan untuk menunjukkan respon utang luar negeri terhadap shock determinannya. Adapun hasil analisis IRF adalah sebagai berikut:

 

Gambar 4.3

 

Dari gambar 4.3 di atas, dapat dijelaskan bahwa respon utang luar negeri terhadap shock variabel cadangan devisa adalah positif  (+) berkelanjutan. Hal tersebut ditunjukkan dari garis IRF yang bergerak cenderung di atas garis horizontal mulai dari periode 1 sampai periode 10. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa respon positif  (+) utang luar negeri terhadap shock cadangan devisa berlangsung terus menerus, dikarenakan kurva yang selalu berada di atas garis horizontal, meskipun trend nya mengalami kenaikan dan penurunan.

 

4.2.2. Hasil Analisis VDC Utang Luar Negeri terhadap Variabel Penelitian

Analisis VDC (Variance Decomposition) bertujuan untuk mengukur besarnya komposisi atau kontribusi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya. Dalam penelitian ini, analisis VDC difokuskan untuk melihat pengaruh variabel independen (ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa) terhadap variabel dependennya, yaitu utang luar negeri. Adapun hasil analisis VDC dapat ditunjukkan dalam tabel 4.9. sebagai berikut:

Tabel 4.9. Hasil Analisis VDC Utang Luar Negeri

Variance Decomposition of LULN
Period S.E. LULN LEKSPOR LAPBN LCADDEV
1  0.178095  100.0000  0.000000  0.000000  0.000000
2  0.206249  89.25492  0.070867  0.020448  10.65377
3  0.349119  31.24349  51.28024  9.916148  7.560125
4  0.573993  12.81186  74.51944  9.732208  2.936487
5  0.762339  7.987674  71.36807  18.76555  1.878702
6  0.945216  5.748405  66.35467  26.60620  1.290721
7  1.061778  4.854323  66.05432  27.85468  1.236682
8  1.153876  4.176161  65.68105  29.01785  1.124947
9  1.238483  3.883244  65.31828  29.76199  1.036489
10  1.299195  3.806909  65.04139  30.12737  1.024329

Sumber : Lampiran, Data Diolah.

Dari tabel 4.9. di atas, dapat dijelaskan bahwa pada periode pertama utang luar negeri sangat dipengaruhi oleh shock utang luar negeri itu sendiri sebesar 100 persen. Sementara itu, pada periode pertama, variabel ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa belum memberikan pengaruh terhadap utang luar negeri. Seterusnya, mulai dari periode 1 hingga periode ke-10, proporsi shock utang luar negeri itu sendiri masih masih besar, tetapi mengalami penurunan yang terus menerus, yang pada akirnya di periode 10 proporsi shock utang luar negeri hanya sebesar 3.806909 atau 3,8 persen dari periode pertama sebesar 100 persen.

Selanjutnya, pada periode ke-2 variabel ekspor mulai terlihat memberikan kontribusi sebesar 0,07 persen dan terus meningkat sampai pada periode ke 5, yang selanjutnya mengalami penurunan pada periode ke 6 sampai periode ke 10, yang pada akhirnya di periode 10 ekspor memberikan kontribusi sebesar 65.04139 atau 65,04 persen. Sedangkan, variable pengeluaran APBN memberikan kontribusi yang cukup pada periode ke 2, yaitu sebesar 0.020448 atau 0,02 persen. Selanjutnya kontribusi pengeluaran APBN  terus naik sampai periode 10. Dimana pada periode ke 10  kontribusi yang diberikan sebesar 30.12737 atau 30,12 persen. Dan yang terakhir kontribusi cadangan devisa  terlihat sangat besar pada periode ke 2 yaitu sebesar 10.65377 atau 10,65 persen. Yang selanjutnya terus mengalami penurunan yang konstan pada tahun tahun atau periode berikutnya sampai akhirnya pada periode ke 10 cadangan devisa hanya memberikan kontribusi sebesar 1.024329 atau sebesar 1,02 persen.

 

 

 

 

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Dalam jangka pendek, terdapat tiga variabel independent pada lag 1 sampai dengan lag 2 yang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia, yaitu utang luar negeri itu sendiri (lag 1),ekspor (lag 1), dan pengeluaran APBN (lag 1). Namun, variabel cadangan devisa diketahui tidak berpengaruh signifikan pada utang luar negeri Indonesia dalam jangka pendek.
  2. Dalam jangkap Panjang, terdapat dua variabel independent pada lag 1 sampai dengan lag 2 yang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia, yaitu pengeluaran APBN (lag 1) dan ekspor (lag 1). Namun, variabel cadangan devisa diketahui tidak berpengaruh signifikan pada utang luar negeri Indonesia dalam jangka Panjang. Adapun Analisis jangka pendek maupun jangka panjang tersebut dikatakan valid, karena tingkat koefisien determinasi R-Squared sebesar 85,08 persen dari maksimal 100 persen yang artinya, perubahan variable dependen (utang luar negeri) mampu dijelaskan oleh variable independent (ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa).
  3. Berdasarkan hasil analisis IRF, dapat dijelaskan mengenai analisis hubungan antara utang luar negeri dengan variabel ekspor. Bahwa variabel utang luar negeri baru mulai merespon perubahan/shock yang terjadi pada periode pertama. Utang luar negeru merespon shock ekspor berjalan relatif tidak stabil atau terus mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak terprediksi. Dapat dilihat pada gambar bahwa pada periode pertama responnya adalah negatif yang kemudian berangsur positif sampai pada periode 4 meskipun garis terlihat naik dan turun yang menandakan terjadi penaikan dan penurunan, tetapi sampai periode 4 reponnya positif karena berada diatas garis horizontal. Selanjutnya dimulai dari periode 4 mengalami penurunan yang cukup signifikan sampai berada di bawah garis horizontal. Selanjutnya dari periode 5 sampai 10 berangsur memberikan respon yang positif kembali. Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa bahwa respon utang luar negeri terhadap shock variabel pengeluaran APBN adalah positif (+). Hal tersebut ditunjukkan dari garis IRF yang bergerak cenderung di atas garis horizontal, ,meskipun trend garis cenderung mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak stabil tetapi responnya cenderung positif. Walaupun sempat mengalami penurunan yang cukup drastis pada periode 2 ke periode 3 sampai trend sempat berada di bawah garis horizontal, tetapi setelah itu trend kembali naik dan berada diatas garis horizontal. Sehinga, responnya cenderung positif. Selanjutnya, dapat dijelaskan bahwa respon utang luar negeri terhadap shock variabel cadangan devisa adalah positif (+) berkelanjutan. Hal tersebut ditunjukkan dari garis IRF yang bergerak cenderung di atas garis horizontal mulai dari periode 1 sampai periode 10. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa respon positif  (+) utang luar negeri terhadap shock cadangan devisa berlangsung terus menerus, dikarenakan kurva yang selalu berada di atas garis horizontal, meskipun trend nya mengalami kenaikan dan penurunan.
  4. Berdasarkan hasil analisis VDC (Variance Decomposition), variable utang luar negeri itu sendiri, ekspor, pengeluaran APBN, dan cadangan devisa masing-masing memberikan kontribusi yang bervariasi terhadap pembentukan utang luar negeri di Kontribusi tertinggi terhadap pembentukan utang luar negeri di Indonesia dipengaruhi oleh ekspor pada periode 4 yang memberikan kontribusi sebesar 74,51 persen.

5.2. Saran

            Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Berdasarkan hasil analisis VDC, diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi adalah ekspor . Maka seharusnya pemerintah mampu meningkatkan ekspor agar mampu meningkatkan penerimaan negara, sehingga dapat mengurangi jumlah utang luar negeri yang akan dipinjamkan. Karena semakin banyak ekspor maka pendapatan negara akan menjadi semakin banyak, maka utang luar negeri perlahan akan berkurang dan negara akan meminjam hanya seperlunya sesuai dengan batas aman hutang.
  2. Berdasarkan hasil analisis IRF, diketahui bahwa respon pengeluaran APBN dan cadangan devisa memberikan respon yang positif. Sedangkan ekspor memiliki respon yang relative berubah-ubah. Dimana seharusnya ekspor ditingkatkan untuk menambah pendapatan negara Indonesia. Jika kita mampu mengekspor banyak barang otomatis penerimaan akan naik. Dan mampu dijadikan sebagai sumber untuk pembiayaan APBN tanpa harus melakukan pinjaman luar negeri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, A. F. (2013). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UTANG LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE 2000-2012 (Doctoral dissertation).

 

Apriyatman, A. (2014). ANALISIS FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UTANG LUAR NEGERI PEMERINTAH INDONESIA (Periode 1998–2012).

 

Atmadja, A. S. (2004). Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia: Perkembangan dan Dampaknya. Jurnal Akuntansi dan Keuangan2(1), 83-94

 

Basuki, A. T. (2018). Ekonometrika dan Aplikasi dalam Ekonomi. Yogyakarta: Danisa Media.

 

Devaluasi Mata Uang; Apa & Mengapa? (n.d.). Retrieved 6 6, 2018, from Danareksa Investment Management: http://reksadana.danareksaonline.com/berita/artikel-dan-tips/devaluasi-mata-uang-apa-mengapa.aspx

 

Ginting, A. M. (2013). Pengaruh Nilai Tukar terhadap Ekspor Indonesia. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, VOL 7 NO.1, Juli 2013 , 18.

 

H, M. I., & Wahyudi, M. (2001). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 192.

 

Jannah, H. N. A. (2017). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UTANG LUAR NEGERI DI INDONESIA (Tahun 1985-2015).

 

Nur Amaliah, R. (2018). Analisis Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia Periode 1987–2016 (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

http://www.dpr.go.id/doksetjen/dokumen/apbn_Keterkaitan_Pelemahan_Nilai_Tukar_Rupiah_Terhadap_Indikator_Makro_Lainnya20150130064704.pdf

 

Puspitaningrum, I. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia Periode (1991-2015) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

 

Ramadhana, A. (2016). Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Pertahanan Republik Indonesia [skripsi]. Universitas Islam Indonesia , 15.

 

Saputro, Y. D., & Soelistyo, A. (2017). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Utang Luar Negeri Di Indonesia. Jurnal Ilmu Ekonomi, 45-59

 

S, R. (2015). Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Defisit APBN Indonesia. Jurnal Economic Volume 3 Nomor 2 Desember 2015 , 11.

 

Simbolon, N. (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Pemerintah Indonesia [skripsi]. Institut Pertanian Bogor , 82.

 

Simorangkir, I., & Suseno. (2004). Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia No.12 , 53.

 

Utara, U. (. (n.d.). Bab II Tinjauan Pustaka. Retrieved 6 6, 2018, from http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/44748/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y

 

Widodo, P. (2018). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Utang Sebagai Instrumen Pembiayaan APBN 2004-2016. Jurnal Ilmiah.

Yusup, R. (2011). Pengaturan dan Tinjauan Literatur.

 

Lampiran 1. Data Penelitian

Tahun Utang Luar Negeri Ekspor (juta rupiah) APBN (juta rupiah) Cadangan Devisa
Penerimaan Pengeluaran
1987 106483724 28168356060 22783000 22783000 10741500000000
1988 120753775 32396625450 28964000 28964000 10702510000000
1989 132315679 39222582534 36575000 36575000 11775200000000
1990 164362893 47314699593 42873000 29998000 16462660000000
1991 178562880 56837005568 50555000 30227000 19661040000000
1992 222599882 68950292640 56109000 34031000 23939820000000
1993 256093696 76853283300 62322000 62322000 26058500000000
1994 308249920 86545384050 69749000 69749000 6952000000000
1995 343108642 1,02127E+11 78024000 78024000 33858360000000
1996 335194186 1,16681E+11 90616000 90616000 45586790000000
1997 1251077850 1,55488E+11 101087000 101087000 99603000000000
1998 4602648308 4,89141E+11 263888000 263888000 190674000000000
1999 4103685264 3,82274E+11 129204000 212699000 192055000000000
2000 7507729223 5,23195E+11 152896000 197030000 281997050000000
2001 7720136320 5,779E+11 263227000 315756000 291200000000000
2002 6266649629 5,32216E+11 301874000 344009000 286437600000000
2003 6196309605 5,23704E+11 336155000 370592000 307279500000000
2004 7550918317 6,39884E+11 349934000 374351000 337412800000000
2005 12996973566 8,31308E+11 380377000 397769000 341297600000000
2006 10791073933 9,23247E+11 625237000 647668000 384161800000000
2007 12525145262 1,043E+12 723058000 763571000 536129480000000
2008 17922303000 1,32896E+12 781354000 854660000 565458000000000
2009 14952204000 1,21053E+12 985725000 1037067000 621340000000000
2010 15070264650 1,43428E+12 949656000 1047666000 865024110000000
2011 16354047320 1,78473E+12 1104902000 1229558000 998568160000000
2012 19102311400 1,78365E+12 1311387000 1435407000 123582600000000
2013 24667123080 1,90972E+12 1529673000 1683011000 1211464710000000
2014 36490003200 2,08804E+12 1667141000 1842495000 1391538400000000
2015 42771811350 2,01332E+12 1793589000 2039483000 1461304350000000
2016 42512444520 1,93205E+12 1822546000 2095725000 1563412960000000

 

 

 

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

Najwa Farrah


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Tinjauan Perekonomia

10 mimpi/ harapan setelah mengikuti mata kuliah Perekonomian Indonesia: Bisa ...

Perekonomian Indones

Kondisi perekonomian Indonesia 5 tahun terkahir Tahun 2013 adalah tahun ...

Annotated Bibliograp

Atmadja, A. S. (2000). Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia : ...

Analisis Faktor yang

  ANALISIS PENGARUH EKSPOR, PENGELUARAN APBN, DAN CADANGAN DEVISA TERHADAP UTANG ...