Sungguh-sungguh menggelikan..
Cerita ini bermula ketika kemarin ada seorang teman yang berniat meminjam motor kepada saya, yang sedianya motor itu akan digunakannya untuk memeriksakan gigi di sebuah RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) milik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Karena dirinya belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan(STNK) sepeda motor itu tengah dibawa oleh rekan saya yang lain. Sebagai seorang teman yang baik saya memberikan beberapa arahan agar dia, (sebut saja Am) tidak ikut terazia oleh aparat kepolisian apabila ada operasi gabungan yang sering digelar dikota ini.
Nah, lokasi digelarnya operasi gabungan sudah terbiasa dapat diprediksi di titik dan kilometer berapa. Tentu saja apabila mengambil jalur alternatif yang lain maka tidak akan terazia oleh para aparat yang bertugas. Karena Am adalah seorang pemuda yang belum lama tinggal diJogja maka ia agak sedikit belum paham beberapa jalur yang ada di kota budaya ini.
Setelah beberapa penjelasan mengenai rute yang akan dituju maka iapun berangkat. Dan besar harapan saya ia tidak tersesat, karena alternatif rute yang saya berikan belum pernah ia lalui sebelumnya.
Tak berselang lama iapun telah sampai kembali ditemapt kami tinggal. Karena proses pelayanan di RSGM yang memang cepat dan dia hanya scalling saja. Setibanya ia maka, sontak pertanyaan awal yang terlontar adalah bagaimana keadaan dan pengalaman barunya mengenai rute yang semula saya arahkan. Dan apa jawaban yang terlontar..? Dengan kemantapan hati dan rasa percaya diri ia mengatakan” saya ga lewat jalan yang mas arahkan kok.”
Ternyata apa yang ada dalam prediksi saya berbalik 180 derajat. Apa yang semula dintruksikan ternyata tidak diindahkan. Padahal intruksi yang dipaparkan sebenarnya muncul karena bermula dari kekhawatiran dan resiko yang sekiranya akan ditimbulkan jika terkena raziaS. Tapi mungkin nasib baik sedang berpihak terhadap dirinya kali ini, sebab tidak bisa dibayangkan apabila jalur yang ia lewati benar-benar ada razia. Maka pasti sepeda motor akan ditahan terlebih dahulu dan tentu lebih dari tiga nomer pasal akan disampaikan oleh petugas kepada dirinya.
Terlepas dari semua itu ia mengatakan kepada saya ”kalau kita mantap hati pasti apa yang kita takutkan tidak akan terjadi”. Dalam hati saya bergumam sedikit membenarkan, tapi fikiran sehat saya cepat bertanya, benarkah demikian.? Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan temanku ini dalam bebeberapa perspektif tapi juga mungkin dapat disalahkan dalam perspektif yang lain.
Mungkin hampir tak ada hikmah yang dapat dipetik dari tulisan ini. Namun setidaknya dalam melakukan segala hal kita harus mempersiapkan segala macam apa-apa yang dibutuhkan. Atau lebih familier dengan pepatah”tak mungkin berperang tanpa senjata dan alat”. Meski kita juga tak boleh melupakan bahwa ada kekuatan dan kotribusi-Nya dalam setiap kejadian yang terjadi dalam diri dan lingkungan kita.
December 14, 2011
Horaayy..there are 23 comment(s) for me so far ;)
yah klo menurut aku udah dr awal salah nya, ga punya SIM & STNK naik motor wkwkwk….
berperang tanpa helm..
siap2 dah duapuluhrebu.
ngarti laahhh polisi jaman sekarang.
hahaha
Betul Mba MILA..
Salah dari awal memang….
Sibuk mau dianterrr
Belajar disiplin Omm..
TUTUP PENTIL MOTOR
LAMPU DINYALAKAN
HELM SNI
PAJAK HIDUP..
aku suka kata2 temanmu itu, kalau mantap dan yakin tak akan terjadi sesuatu yang ga diinginkan, jadi kalau bertindak untuk baik jangan ragu atau takut, ….
Oh jadi bener begitu ya Mba Anis…?/
Ok, ok lain kali aku akan mempraktekkan apa yang Mba pesankan.
aku pilih naik sepeda daripada motor tanpa surat
tenang aja sob, jangan takut ditilang hahaha… biar sama kaya saya, pernah ditilang – dapt pengalaman
STNK kepanjangannya apa sih?
Iya Mba mending naik sepeda aja ya ga punya resiko…
Ya setuju…
experience is the best teacher,,,.
STNK (Sek Tak Nilii Kamus)..
kalau ada teman yg mau pinjam motor tapi gak punya SIM, dikasih gak ya? bingung jadinya
ini hanya kebetulan saja, lain kali hati-hati
dikasih dengan berbagai resiko. Resiko ditanggung sopir Mba..
Ok mas Rio.. akan aku ingat selalu..
melakukan sesuatu memang harus dipikirkan secara matang terlebih dahulu, jangan gegabah dan jangan terburu-buru.
“kalau kita mantap hati pasti apa yang kita takutkan tidak akan terjadi” >>> tapi klo awalnya udah salah gimana bisa mantap? Nah klo dah merasa bener semua baru tuh bisa mantep lahir batin.. hehe..
Membaca judul artikel ini, kami jadi teringat dengan kata-kata ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa banda’. Memang hendaknya segala sesuatunya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Bila akan bepergian dengan kendaraan hendaknya diperiksa ‘kesiapan’ motornya, SIM, STNK, dompet (tentu saja beserta isinya), dan tidak lupa berdoa. Kami sendiri dalam keadaan ‘normal’ tidak berani berkendaraan tanpa membawa SIM dan STNK. Sudah terbayang di pelupuk mata berapa denda yang akan dibayar bila terkena tilang petugas. Namun dapat saja terjadi peristiwa yang ‘unik’. Pada saat ada ‘operasi’ yang bersangkutan bisa ‘lolos dari lubang jarum’ misalnya tidak distop, tidak diperiksa perlengkapan suratnya, dinasehati petugas untuk tidak mengulang kesalahannya dan sebagainya. Salam sukses.
Thanks ya Mas..
berkenan berkunjung..
ok mba Cov demikian memang seharusnya..
Ok terimaksih atas saran dan infonya Mas..
waduhh,, ngapain perang perang segala…
Perdamaian itu indah.