ekonomi indonesia

Hanya Blog UMY situs lain

uk2 perekonomian indonesia

Posted by niningwulandari 0 Comment

Suramaya Suci Kewal (2012) PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, KURS, DAN PERTUMBUHAN PDB TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN from: file:///E:/801-2732-1-PB%20(2).pdf

Dalam jurnal ini mengatakan bahwa tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas (overheated). Artinya, kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk yang melebihi kapasitas penawaran produknya, sehingga harga‐harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang (purchasing power of money). Disamping itu, inflasi yang tinggi juga bisa mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya.

Sangkyun (1997) yang meneliti pengaruh antara variabel makro berupa harga konsumen, GDP, tingkat inflasi dan tingkat bunga terhadap return saham menemukan hasil bahwa hanya GDP yang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap return saham, sedangkan variabel lain tidak berpengaruh. Hooker (2004) juga mendukung hasil penelitian tersebut dimana return pasar dipengaruhi secara positif signifikan oleh pertumbuhan GDP.

Penguatan IHSG disertai dengan adanya peningkatan inflasi tahunan dari tahun 2000 sampai tahun 2008, sedangkan pada tahun 2009 tingkat inflasi menurun sebesar 52,47 persen dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 4,9 persen. Nilai inflasi pada tahun 2000 sebesar 3,8 persen menjadi 10,31 persen di tahun 2008 atau mengalami kenaikan sebesar 171,32 persen. Inflasi yang paling buruk terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 12,50 persen. Kenaikan inflasi pada tahun 2006 berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang mendorong dikeluarkannya kebijakan subsidi harga BBM dan akibat harga komoditi global yang tinggi. Trend inflasi yang berfluktuasi pada tahun 2000 sampai tahun 2009 menunjukkan adanya ketidakstabilan tingkat inflasi di Indonesia. Ketidakstabilan inflasi disertai dengan peningkatan IHSG pada periode pengamatan. Pada beberapa periode pengamatan, kenaikan inflasi disertai dengan adanya kenaikan IHSG, yaitu pada tahun 2004 sampai tahun 2006. Inflasi memiliki hubungan negatif dengan harga saham. Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun. Jika profit yang diperoleh perusahaan kecil, hal ini akan mengakibatkan para investor enggan menanamkan dananya di perusahaan tersebut sehingga harga saham menurun.

Edhi Satriyo Wibowo, Muhammad Syaichu (2013) ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA, INFLASI, CAR, BOPO, NPF TERHADAP PROFITABILITAS BANK SYARIAH from: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/djom/article/viewFile/2651/2643

Jurnal ini membahas tentang Pengaruh Inflasi terhadap ROA.  Inflasi dapat berpengaruh buruk bagi perekonomian. Apabilaterjadi inflasi yang parah tak terkendali (hiperinflasi) maka keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Hal ini mengakibatkan minat masyarakatuntuk menabung, atau berinvestasi dan berproduksi menjadi berkurang. Harga meningkat dengan cepat, masyarakat akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga kebutuhan sehari-hari yang terus meroket.Bagi perusahaan sebuah inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi maupun operasional mereka sehingga pada akhirnya merugikan bank itu sendiri. Inflasi berpotensi mengerek bunga kredit. Kenaikan bunga kredit tentu akan menghambat pertumbuhan kredit itu sendiri. Sementara pendapatan dari sektor kredit akan menjadi kecil. Hal ini berimbas kepada profitabilitas bank yang bersangkutan. Hal ini didukung oleh penelitian Oktavia (2009) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh signifikan negatif terhadap ROA.Dengan demikian hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut: H4: Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Profitabilitas (ROA) bank syariah.

flasi terhadap ROA Hasil pengujian hipotesis 4 menunjukkan bahwa inflasi memiliki arah negatif namun tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi mengalami kenaikan, namun laba yang dipeorleh bank syariah tidak mengalami penurunan yang signifikan dan sebaliknya.Hasil sama juga ditunjukkan oleh penelitian Oktavia (2009) dan Supriyati (2009) yang menyatakan bahwa Inflasi tidak berpengaruh terhadap ROA bank. Alasan yang menjadi menjelaskan kondisi tersebut adalah bahwa pada dasarnya inflasi yang tinggi mencerminkan kenaikan barang-barang yang menjadikan nilai peredaran uang dapat berkurang akibat harga yang meningkat. Namun demikian dampak negatif dari inflasi nampaknya belum signifikan pada taraf 5%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya inflasi tidak banyak mengurangi deposito maupun tabungan pada bank syariah. Hasil ini mengisyaratkan bahwa ada sedikit daya tahan bank syariah terhadap inflasi. Pengaruh Suku Bunga terhadap ROA Hasil pengujian hipotesis 5 menunjukkan bahwa suku bunga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun suku bunga bank umum mengalami kenaikan, namun ROA di bank syariah tidak mengalami penurunan yang signifikan. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Supriyati (2009) yang menyatakan bahwa suku bunga tidak berpengaruh terhadap profitabiltas bank. Hal ini disebabkan oleh pertama, nasabah bank syariah nampaknya merupakan nasabah yang relatif loyal terhadap bank syariah. Dalam hal ini nasabah utama deposito bank syariah adalah nasabah yang cenderung mengedepankan pada prinsip-prinsip syariah dengan sedikit kecil menerapkan prinsip untuk mendapatkan bunga yang dinilai sebagai riba. Kedua, deposito mudharabah merupakan deposito yang dana yang disimpan dapat diambil dalam periode waktu tertentu. Dengan demikian nasabah yang memasukkan deposito harus menunggu beberapa periode untuk dapat mengambil depositonya sehingga efek suku bunga jangka pendek tampaknya tidak banyak mengubah deposito mudharabah.

Adwin S. Atmadja ( 1999) Inflasi di indonesia http://jurnalakuntansi.petra.ac.id/index.php/aku/article/viewFile/15656/15648

Jurnal ini membahas tentang inflasi yang ada di indonesia. Krisis moneter yang melanda negara-negara anggota ASEAN, telah memporakporandakan struktur perekonomian negara-negara tersebut. Bahkan bagi Indonesia, akibat dari terjadinya krisis moneter yang kemudian berlanjut pada krisis ekonomi dan politik ini, telah menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan terhadap sendisendi perekonomian nasional.

Krisis moneter yang melanda Indonesia diawali dengan terdepresiasinya secara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (terutama dolar Amerika), akibat adanya domino effect dari terdepresiasinya mata uang Thailand (bath), salah satunya telah mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang-barang yang diimpor Indonesia dari luar negeri. Lonjakan harga barang-barang impor ini, menyebabkan harga hampir semua barang yang dijual di dalam negeri meningkat baik secara langsung maupun secara tidak langsung, terutama pada barang yang memiliki kandungan barang impor yang tinggi.

Karena gagal mengatasi krisis moneter dalam jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut, menyebabkan kenaikan tingkat harga terjadi secara umum dan semakin berlarut-larut. Akibatnya, angka inflasi nasional melonjak cukup tajam.

Lonjakan yang cukup tajam terhadap angka inflasi nasional yang tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan nominal masyarakat, telah menyebabkan pendapatan riil rakyat semakin merosot. Juga, pendapatan per kapita penduduk merosot relatif sangat cepat, yang mengakibatkan Indonesia kembali masuk dalam golongan negara miskin. Hal ini telah menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat, khususnya pada masyarakat strata ekonomi bawah.

ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, ROA, DER DAN CR TERHADAP RETURN SAHAM  http://eprints.undip.ac.id/18720/1/Ratna_Prihantini.pdf

Jurnal ini membahas tentang pengaruh inflasi terhadap return saham. Inflasi yang tinggi akan mengakibatkan penurunan harga saham, karena menyebabkan kenaikan harga barang secara umum. Kondisi ini mempengaruhi biaya produksi dan harga jual barang akan menjadi semakin tinggi. Harga jual yang tinggi akan menyebabkan menurunnya daya beli, hal ini akan mempengaruhi keuntungan perusahaan dan akhirnya berpengaruh terhadap harga saham yang mengalami penurunan.

Nurdin (1999) juga mengatakan bahwa inflasi yang semakin tinggi maka harga-harga barang atau bahan baku mempunyai kecenderungan yang meningkat juga. Peningkatan harga barang dan bahan  baku ini akan membuat biaya produksi tinggi, sehingga akan berpengaruh pada penurunan jumlah permintaan secara individual maupun menyeluruh. Penurunan jumlah permintaan ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan perusahaan sehingga akan berpengaruh pada return yang diterima perusahaan.

Inflasi mempengaruhi perekonomian melalui pendapatan dan kekayaan, dan melalui perubahan tingkat dan efisiensi produksi. Inflasi yang tidak bisa diramalkan biasanya menguntungkan para debitur, pencari laba, dan spekulator pengambil risiko. Inflasi akan merugikan para kreditur, kelompok berpendapatan tetap, dan investor yang tidak berani berisiko .

(Samuelson, 1994). Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun (Tandelilin, 2003).

Penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham seperti yang dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) yang mengatakan bahwa makin tinggi tingkat inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu (2003) membuktikan secara empirik pengaruh inflasi terhadap harga saham, semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham. Dan penelitian yang dilakukan oleh Adams et al. (2004) dan Nurdin (1999) yang menemukan secara signifikan inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham.  

I Gede Yoga Mahendra I Wayan Wita Kesumajaya (2015) ANALISIS PENGARUH INVESTASI, INFLASI, KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT DAN SUKU BUNGA KREDIT TERHADAP EKSPOR INDONESIA TAHUN 1992-2012  file:///E:/12320-1-25074-1-10-20150601.pdf

Jurnal ini membahas Pengaruh Inflasi terhadap Ekspor Indonesia Tahun 1992-2012. Berdasarkan hasil olah data thitung (-0,437) ≥ -ttabel (-2,120), maka Ho diterima. Ini berarti inflasi tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap ekspor Indonesia tahun 1992-2012. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa inflasi dapat menyebabkan menurunnya ekspor (Triyono, 2008). Inflasi tidak berpengaruh terhadap ekspor di Indonesia pada tingkat signifikansi 5 persen diduga karena tingkat inflasi pada tahun 1992-2012 masih berada dibawah 20 persen atau rata-rata 11,06 persen dengan perkembangan -0,3 persen setiap tahunnya. Inflasi ini di kategorikan jenis inflasi sedang (moderate inflation), yaitu inflasi di bawah dua digit seperti di bawah 20 persen per tahun, yang tidak terlalu menimbulkan distorsi pada harga relative (Nanga, 2005:247). Hal ini menyebabkan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia tahun 1992-2012. Has.il pe.nelitian ini juga searah dengan penelitian yang dilakukan oleh Abu Bakar (2014) y.ang meny.atakan inflasi secar.a pa.rsial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor. Nilai β2 sebesar -0,002 yang artinya, jika inflasi mengalami kenaikkan sebesar 1 persen dengan asumsi variabel lain dianggap konstan, maka ekspor Indonesia tahun 1992-2012 akan turun sebesar 0,002 persen. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi mempunyai hubungan yang negatif terhadap ekspor Indonesia, dimana pernyataan ini sesuai dengan hipotesis peneliti.

 

 

 

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

niningwulandari


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

ujian kompetensi 1

Nama : Nining Ulandari Nim     : 20160430096   How is the Economy ...

uk2 perekonomian ind

Suramaya Suci Kewal (2012) PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, KURS, DAN ...

resume pi

harapan setelah semester ini Di beri kelancaran untuk melanjutkan semester ...

uk4_paper

PENDAHULUAN Inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang. Mata uang yang ...