OPTIMALISASI SUMBER C DAN VITAMIN PADA FERMENTASI Bacillus thuringiensis DENGAN Lantana camara UNTUK MENGENDALIKAN ULAT API PADA KELAPA SAWIT

I.            PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat, produksi yang menjadi bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri, ekspor CPO yang menghasilkan devisa dan menyediakan kesempatan kerja. Pada tahun 2009, volume ekspor produk Kelapa Sawit sudah mencapai 21.151.127 ton CPO namun pada tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 20.615.958 ton CPO (BPS, 2010). Bahkan pada tahun 2014, volume ekspor produk kelapa sawit tersebut mengalami penurunan yang signifikan menjadi 13.102.268 ton CPO (Ditjenbun, 2015). Salah satu penyebab rendahnya produksi Kelapa Sawit di Indonesia adalah gangguan ulat pemakan daun Kelapa Sawit. Perkebunan kelapa sawit milik rakyat menghasilkan CPO sebesar 10,68 juta ton, milik negara menghasilkan CPO sebesar 2,16 juta ton, dan swasta menyumbang produksi CPO sebesar 16,5 juta ton (Ditjenbun, 2014).
    Organisme pengganggu tanaman yang banyak menyerang tanaman kelapa sawit adalah hama. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan serangga (BBPTP, 2008). Ada banyak hama yang tergolong hama utama pada tanaman kelapa sawit (Kok et al., 2011). Salah satu penyebab rendahnya produksi Kelapa Sawit di Indonesia adalah gangguan ulat pemakan daun Kelapa Sawit (UPDKS) yang utama dan sering menimbulkan kerugian yaitu Ulat Api (Setora nitens). Potensi kehilangan hasil yang disebabkan hama ulat api dapat mencapai 35% (Parangin angin, 2009)
    Di perkebunan Kelapa Sawit masalah hama Ulat Api umumnya diatasi dengan menggunakan insektisida sintetik yang mampu menurunkan populasi hama dengan cepat, namun cara ini menjadi kurang bijaksana karena terbukti dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Secara teknis, pengendalian hayati lebih unggul dibandingkan pengendalian dengan insektisida sintesis, karena cukup efektif, berkelanjutan dan ramah lingkungan.
    Pengendalian hayati Ulat Api pada Kelapa Sawit dapat menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, yaitu bakteri Bacillus thuringiensis (Sipayung dan Hutauruk, 1982). Menurut Wood et al. (1977) berdasarkan penelitian di laboratorium, B. thuringiensis efektif melawan S. nitens dengan tingkat kematian 90% dalam 7 hari. Serangan B. thuringiensis pada larva diawali dengan berkurangnya nafsu makan, pergerakan serangga yang semakin lamban, kurang tanggap terhadap sentuhan dan adanya perubahan terhadap ukuran tubuh serangga (Asmaliyah, 2001). Hasil penelitian Tampubolon dkk. (2013) diperoleh hasil bahwa B. thuringiensis 20 g/liter air dan B. thuringiensis 30 g/liter air efektif dalam membunuh ulat gerayak dengan waktu 2 hari setelah aplikasi. Namun penggunaan B. thuringiensis sebagai agensia hayati tersebut pada kebun kelapa sawit di Indonesia masih kurang efektif, karena daya racun B. thuringiensis sangat spesifik dan tidak tahan terhadap sinar ultraviolet (UV), sehingga perlu dikembangkan sebuah inovasi untuk memaksimalkan B. thuringiensis sebagai pengendali hama ulat api, yaitu diperlukan suatu formulasi dengan bahan carrier yang tepat sebagai sumber nutrisi dan sekaligus berdaya bunuh terhadap Ulat Api. Pada lahan perkebunan kelapa sawit terdapat gulma Lantana camara yang dapat membunuh ulat api dan juga dimanfaatkan sebagai carrier untuk B. thuringiensis. Didukung oleh hasil penelitian Kulkarni et al., 1997; Mehta et al., 1995 bahwa pada L. camara senyawa triterpenoid lantadene berguna sebagai antifeedant. Sekali tertelan dampaknya yaitu mengganggu pencernaan makanan serangga tersebut hingga mati yang disebabkan karena kelaparan (Mehta et al., 1995) Harapannya L. camara dan B. thuringiensis dapat berkerja secara sinergis dalam mengendalian hama Ulat api pada lahan perkebunan kelapa sawit.
    Hasil penelitian Setiawan dkk. (2010) diperoleh hasil bahwa formulasi dengan campuran ekstrak gulma Tithonia 10% merupakan formulasi terbaik untuk mengembangkan bakteri Bacillus sp. Hal ini disebabkan karena gulma mengandung senyawa selulosa (43% sampai 45%), hemiselulosa (25% sampai 30%), dan lignin (15% sampai 22%) yang dapat berguna sebagai sumber karbon bagi pertumbuhan B. thuringiensis (Wyman et al., 2004). Sumber karbon yang biasa digunakan adalah karbohidrat berupa glukosa, hidrokarbon dan minyak sayuran seperti minyak kacang kedelai yang digunakan oleh bakteri dalam pertumbuhannya. Salah satu jenis sumber karbon dari limbah yang dapat digunakan adalah molase dan limbah kedelai (Kosaric, 1992). Menurut Hidayat dkk. (2006), sumber karbon dan nitrogen merupakan komponen yang utama dalam suatu media kultur, karena sel-sel mikroba dan fermentasi sebagian besar memerlukan sumber karbon dan nitrogen dalam prosesnya. Peningkatan produksi pertumbuhan sel-sel memerlukan nutrisi yang optimum. Selain itu jumlah mikroorganisme yang terbentuk juga dipengaruhi pula oleh jenis sumber karbon, temperatur, pH dan aerasi (Kosaric et al.,1983).
    Tumbuhan tembelekan (L. camara) merupakan gulma potensial pada budidaya tanaman Kelapa Sawit, namun ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pestisida nabati karena mengandung bahan-bahan aktif seperti senyawa alkaloids (Lantanine), flavanoids dan juga triterpenoids. Bagian tanaman yang bisa dipakai sebagai bahan pestisida nabati adalah daun, batang, bunga, minyak dan bahkan getahnya (Astriani, 2010).
    Tembelekan dimanfaatkan sebagai sumber bahan pestisida nabati. Tipe pengendaliannya cukup luas bisa sebagai antiinsect, insektisidal dengan cara kerja sebagai racun kontak, penghambat pertumbuhan antifeedant, repelen, anti mite dan anti bakteri (Astriani, 2010). Tembelekan merupakan gulma beracun dan berbau sangat menyengat. Bau menyengat disebabkan oleh karena adanya kandungan senyawa Phenoldalam. Sifat meracun tembelekan disebabkan adanya bahan aktif berupa senyawa Triperpenoid Lantadene A. Daya bunuh bahan aktif tersebut, tergantung sangat dipengaruhi oleh konsentrasinya. Bau menyengat dan sifat beracun tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan penolak serangga bahan yang disimpan. Daun dan biji dari L. camara meracun hama (Umiati, 2013). Hasil penelitian Astriani (2010) pada tembelekan perlakuan tunggal selama 14 hari diperoleh persentase mortilitas dari Sitophillus spp. tertinggi ditunjukkan pada perlakuan dengan konsentrasi 6%, dengan persentase mortilitas Sitophillus spp. 62,5%. Sedangkan hasil penelitian Umiati (2013) menunjukkan bahwa L. camara mempunyai kandungan senyawa Phenol dan senyawa racun berbahan aktif senyawa Triperpenoid lantadene A, yang mampu membunuh secara kontak berbagai jenis ulat daun.
    Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian serangga hama. Menurut Wilson and Huffaker (1989), bakteri ini tidak menyebabkan hama menjadi resisten, tidak berbahaya terhadap lingkungan. Usaha untuk memanfaatkan isolat lokal B. thuringiensis pada sekala luas masih belum ekonomis. Faktor utamanya adalah ketersediaannya masih sangat terbatas dan mahalnya harga media standar sintetik untuk perbanyakannya. Untuk itu perlu dicari media alternatif yang murah dan mudah didapatkan dengan tidak mengurangi tingkat patogenisitasnya. Menurut Chilcott and Pillai (1985) menggunakan media air kelapa mampu untuk memperbanyak B. thuringiensis strain H-14 selain itu hasil penelitian Rachmawati (2011) Kultivasi menggunakan limbah cair tahu dan air kelapa perbandingan 80% : 20% dengan rasio C/N=7:1 menghasilkan kristal protein (δ-endotoksin) yang mempunyai toksisitas tertinggi terhadap larva Crocidolomia pavonana (C. binotalis). Hal ini dibuktikan oleh hasil uji aktivitas produk bioinsektisida (bioassay) yang menghasilkan nilai LC50 terbaik sebesar 0.01 mg/L dan potensi produk sebesar 80,000 IU/mg. Hasil penelitian Wahyuono (2015) limbah cair pabrik kelapa sawit dapat digunakan sebagai media pengembangan B. thuringiensis. Penggunaan media alternatif LCPKS 100 % + 0,4 g gula merah + 30 ml air kelapa + B. thuringiensis memberikan hasil terbaik sebagai bio insektisida hayati. Air kelapa merupakan limbah dari pada pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) sedangkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) adalah salah satu produk samping dari pabrik minyak kelapa sawit yang berasal dari kondensat dari proses sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air pencucian pabrik.

B.     Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh media cair LCPKS dan air kelapa terhadap Bacillus thuringiensis jika difermentasi dengan Lantana camara?
  2. Berapa perbandingan media cair LCPKS dan air kelapa yang terbaik untuk membanyak Bacillus thuringiensis yang difermentasi dengan Lantana camara?
  3. Berapa perbandingan media cair LCPKS dan air kelapa yang paling efektif membanyak Bacillus thuringiensis yang difermentasi dengan Lantana camara untuk mengendalikan ulat api pada Kelapa Sawit

C.    Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui pengaruh media cair LCPKS dan air kelapa terhadap Bacillus thuringiensis jika difermentasi dengan Lantana camara
  2. Menentukan perbandingan media cair LCPKS dan air kelapa yang terbaik untuk membanyak Bacillus thuringiensis yang difermentasi dengan Lantana camara
  3. Menentukan perbandingan media cair LCPKS dan air kelapa yang paling efektif membanyak Bacillus thuringiensis yang difermentasi dengan Lantana camara untuk mengendalikan  ulat api pada Kelapa Sawit.

DAFTAR PUSTAKA

Abouseoud M., Maachi R., Amrane A., Boudergua S., and Nabi, A., 2008. Evaluation of different carbon and nitrogen sources in production of biosurfactant by Pseudomonas fluorescens. Desalination. 223:143–151.

Alexander,M.1977.Introduction to Soil Microbiolgy. New York: Academic Press.

Anonim. 2014. “Hama ulat api Setora nitens” http://nuplanters.com/hama-ulat-api-setora-nitens/. Diakses tanggal 22 April 2017.

Asmaliyah. 2001. Prospek Pemanfaatan Insektisida Mikroba Bacillus thuringiensis Sebagai Alternatif Dalam Pengendalian Hama. Palembang: Buletin Teknologi Reboisasi No.08, 1998.

Asliahalyas, 2013 peranan-beberapa-bakteri-dalam-bidang.html Di Akses 22 April  2017.

Astriani dan Dian. 2010. Pemanfaatan Gulma Babadotan dan Tembelekan dalam Pengendalian Sitophillus spp. Pada Benih Jagung, Jurnal AgriSains, 1 (1): 56-67. http://etheses.uin-malang.ac.id/2674/6/11620073_Bab_2.pdf. Di Akses 9 Maret 2017.

Boy Tarigan, Syahrial, dan Mena Uly Tarigan 2013, “Uji efektifitas Beauveria basianna dan Bacillus thuringiensis terhadap ulat api (Setothosea asigna Eeck, Lepidoptera, Limacodidae) 7 Maret 2017.

(BBPTP) Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

BPS. 2010. “Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit ”http://www.downtoearth-indonesia.org/id/story/seabad-perkebunan-kelapasawit-di-indonesiadi akses tanggal 24 April 2017.

Charles, A.L., Chang, Y.H, Ko, W.C., Sriroth, K., dan Huang, T.C. 2005. Influence of amylopectin structure and amylose content on gelling properties of five cultivars of cassava starches. J. Agric. Food Chemistry Vol53 : 2717-2725.

Chilcott, C. N. And J. S. Pillai. 1985. The use coconut wastes for the production of Bacillus thuringiensis var irsaelensis. J. Mircen. 1: 327-332.

Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Jilid 1. Jakarta: Trubus.

Deublein, D. dan Steinhauster, A., 2008. “Biogas from Waste and Renewabe. Resources. An Introduction”. WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA,. Weinheim.

Ditjenbun. 2014. “Pertumbuhan areal kelapa sawit meningkat” http://ditjenbun.pertanian.go.id/berita-362-pertumbuhan-areal-kelapa-sawit-meningkat.html. Diakses tanggal 22 April 2017.

Dwidjoseputro. D.1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Malang. 214 Hal.

Dwiyantores. Agung_Astuti. dan Achmad. S. 2012. Pengembangan B. thuringiensis Dalam Media Pupuk Organik Cair dan Debu Vulkanik Merapi Serta Uji Toksisitas Terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura) Pada Tanaman Caisim (Brassica juncea L.) Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Enviren. 2009. Bacillus thuringiensis. http://enviren.blogspot.com/2009/03/bacillusthuringiensis-ciri-ciri.html. Di Akses tanggal 24 April 2017.

Emand S. T., Rahmad S. P., dan Indriyani N. 2017. Potensi Ekstrak Daun Tembelekan Lantana camara sebagai Penghambat Tumbuh Bakteri pada Rumput Laut. Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan. 1(1), 1-8.

[FNCA] Forum for Nuclear Cooperation in Asia, Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Tokyo: Japan Atomic Industrial Forum.

Hidayat N., dkk. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta, Andi.

Howard. E. E. 1994. Incect Biology. Colorado state Univerdity, Addison Wesley Publishing Company, inc. Massachusetts. 40p.

Kalita, S., Kumar, G., Karthik, L., Rao. 2012. A Review on Medicinal Properties of Lantana camara, Recearch J. Pharm. And Tech. 5 (6): 0974 – 3618 http://etheses.uin-malang.ac.id/2674/6/11620073 Bab 2.pdf Diakses tanggal 24 April 2017.

Gusmailina dan Sri Komarayati 2010. Prospek Bioetanol Sebagai Pengganti Minyak Tanah. Jurnal.

Kok, C.C., Eng, O.K., Razak, A.R., dan Arshad, A.M., 2011. Microstructure and Life Cycle Of Metisa Plana Walker. J Sustainability Science and Management, Vol 6 No 1; 51-59. Malaysia.

Kosaric, N., Wieczprek, A., Cosentino, G.P. and Magee, R.J. 1983. In “Biotechnology”. Rehm and G. Reed, eds

Kulkarni, N., Joshi, K. C., & Gubta, B. N. (1997). Antifeedant property of Lantana camara var aculeata and Aloe vera leaves against the teak skeletonizer Eutectona machaeralis Walker (Lepidoptera: Pyralidae). Entomology, 22(1), 61-65.

Loekito, H. 2002. Teknologi Pengolahan Limbah Industri Kelapa Sawit. Jurnal Teknologi Lingkungan, 3 (3);242-250.

Lubis, A.U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Bandar Kuala, Sumatera Utara (ID). 435 hal.

Mehta, P. K., Vaida, D. N., & Kashyap, N. P. (1995). Antifeedant properties of some plant extracts against brinjal hadda beetle Henosepilachna vigintioctopunctata. Journal of Entomological Research, 19(2), 147-150.

Muharni, Dachriyanus, Husein, H. Bahti, dan Supriyatna. 2007. Benzofenon Terpoliprenalisasi dari Kulit Batang Garcinia bancana Miq. Jurnal Alchemy, 6(2): 9-13.

Ngan, M. A. 2000. Management of palm oil industrial effluents. pp. 1439–1461, in: Y. Basiron, B.S. Jalani & K.W. Chan (eds). Advances in Oil Palm Research, Vol II. Malaysian Palm Oil Board.

Pahan, I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.

Parangin-angin BN. 2009. Ulat Api (Limacodidae) Dan Ulat Kantung (Psychidae) Serta Musuh Alami Pada Pertanaman Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) PTPN VIII Cimulang Bogor : Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Paturau, M. J., 1969, By Products of the Cane Sugar Industry, An Introduction

Utilization, London, Elsevier pub.com, Amsterdam.

Pramono. 1999. Pemanfaatan gulma L. camara. library.um.ac.id/free…/koleksi-digital-perpustakaan-19298.html. Diakses tanggal 16 Juni 2017.

Putrina, M. Fardedi. 2007. Pemanfaatan Air Kelapa Dan Air Rendaman Kedelai Sebagai Media Perbanyakan Bakteri Bacillus thuringiensis Barliner. J. Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 9: 64-70.

Rachmawati R. N. 2011. Kajian Rasio C/N Terhadap Produksi Bioinsektisida Dari Bacillus thuringiensis subsp. aizawai Menggunakan Substrat Limbah Cair Tahu Dan Air Kelapa. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rajiv Ginting, 2014. Intensitas Serangan Hama Ulat Api (Setora nitens) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Pada Usia Berbeda Di Kebun Yasasan Darul Jamil. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Sarif Kasim Riau.

Ramseir, R. O. 1971. Oil pollution in ice-infested water. Int, sympos. On Ident. and Meas. of Env. Pollutants, Ottawa, pp. 271-276.

Setiawan A., Aminudi, Adde K. R., Imam K., dan Elysa F. 2010. Formulasi Bacillus subtilis Pada Air Limbah Olahan Tebu (Saccharum officinarum L.) Sebagai Probiotik Tanaman Potensial. Laporan Akhir Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Penelitian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 10hal.

Setyamidjaja, D., 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius, Yogyakarta.

Sipayung. A. dan C.H., Hutauruk, 1982. Peningkatan Ulat Api pada Kelapa Sawit.

Sudharto Ps. 1991. Hama Tanaman Kelapa Sawit dan Cara Pengendaliannya. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat, Pematang Siantar, Indonesia.71hal.

Tampubolon, D. Y., dkk. 2013. Uji Patogenisitas Bacillus thuringiensis Dan Metarhizium anisopliae Terhadap Mortalitas Spodoptera Litura Fabr (Lepidoptera: Noctuidae) Di Laboratorium

Umiati. 2013. Efektifitas ekstrak daun tembelekan (Lantana camara) dan paitan (Eupatorium inulifoklium) sebagai pengendalian. http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/tinymcpuk/gambar/file/PEMANFAATAN%20EKSTRAK%20DAUN%20TEMBELEKAN.pdf Diakses 24 April 2017.

Wahyuono D. 2015. Kajian Formulasi Bacillus thuringiensis Dengan Carrier Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Untuk Pengendalian Ulat Api (Setora nitens). Planta Tropika Journal of Agro Science. 3 (1): 24-30.

Warisno. 2004. Mudah dan Praktis Membuat Nata de Coco. Jakarta: Media Pustaka.

Wilson F. And CB Huffaker. 1976. Theory and practice of biological control. Academic Press. London.

Wood et al dalam Mas Nur Haryono 2011. Hama dan Penyakit Kelapa Sawit. Teknikbudidayakelapasawit.Blogspot.co.id./2011/09/hama-api-pada-sawit-html. Diakses tanggal 24 April 2017.

Wyman CE, Lynd LR, dan Mielenz J. 2004. Fermentation modeling: cellulosic biomass conversion. Di dalam: Bakker A, editor. 5th International Symposium on Mixing in Industrial Processes; Seville, Spain, 1-4 Juni 2004. Seville, Spain: Fluent Incoporated & Thayer School of Engineering. hlm 1-32.

Zaenal Abidin. 2015. 2 Cara Pengendalian Hama Ulat Api pada Kelapa Sawit. http://klpswt.blogspot.co.id/2015/09/2-cara-pengendalian-hama-ulat-api-pada.html. Diakses tanggal 16 Juni 2017.

Read more : click here

About ACID 8 Articles
-
Contact: Website

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar