Perekonomian Indonesia

Hanya Blog UMY situs lain

Perekonomian Indonesia

Posted by 20160430081 0 Comment

Nama : Nurdina Ulfiya Salma

NIM : 20160430081/A

INFLASI DI INDONESIA

 

  1. Latar Belakang

Inflasi terjadi pertama sekali seiring dengan kerajaan Byzantium yang berusaha mengumpulkan emas dengan melakukan ekspor komoditasnya sebanyak mungkin ke Negara- Negara lain agar dapat mengumpulkan uang emas sebanyak- banyaknya. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Akhirnya orang- orang harus makan, membeli pakaian, mengerluarkan biaya untuk transportasi, serta juga menikmati sehingga mereka akan membelanjakan uang (kekayaan) yang dikumpulkan tadi sehingga malah menaikkan tingkat harga komoditasnya sendiri. Spanyol setelah era ‘Conquistadores’ juga mengalami hal yang sama, begitu juga dengan Inggris setelah perang dengan Napoleon (Napoleon War). Pada masa kini, terutama setelah era kapitalis dimulai, masalah yang sama tetap menjadi perdebatan para ekonom dan otoritas keuangan.
Apakah itu Dinar di negara- negara Arab ataupun mata uang negara- negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Swedia, dan Rusia bahkan juga Amerika, semuanya juga mengalami inflasi. Awal inflasi mata uang Dinar dimulai saat Irak dipuncak kejayaannya.

Revolusi Harga di Eropa terjadi sepanjang beberapa abad, pola kenaikan tingkat harga pertama kali tampak di Italia dan Jerman sekitar tahun 1470. kemudian, seperti penyakit menular, inflasi menyerang Eropa dimulai dari Inggris dan Perancis pada tahun 1480-an, meluas ke semenanjung Iberia lalu ke Eropa Timur pada tahun 1500-an. Kenaikan harga sangat cepat pada bahan-bahan mentah terutama makanan. Di Inggris harga kayu, ternak, dan biji-bijian meningkat 5 sampai 7 kali lipat dari tahun 1480-1650, sementara manufaktur harganya meningkat 3 kali lipat. Kenaikan 700% selama 170 tahun itu jika dihitung secara compound hanya sebesar 1,2% pertahunnya,tetapi disisi lain gaji hanya meningkat kurang dari ½-nya, sehingga masyarakat sangat mengalami goncangan akibat tekanan inflasi. Daya beli uang dan gaji pekerja menurun dengan tingkat yang dianggap sangat mencemaskan.

Apa yang menyebabkan semua hal di atas? Tidak ada satu sebab utama yang dapat disalahkan. Semuanya adalah akibat gabungan dari penurunan produksi pertanian, pajak yang berlebihan, depopulasi, manipulasi pasar, high labour cost, pengangguran, kemewahan yang berlebihandan sebab-sebab lainnya, seperti perang yang berkepanjangan, embargo dan pemogokan kerja.

Adapun Negara Eropa yang dapat dianggap bertahan dengan sukses menghadapi inflasi adalah Inggris. Akan tetapi, hal itu terjadi pada masa-masa perekonomiannya dianggap terbelakang dibandingkan dengan negara-negara di Eropa yang lainnya. Paham financial rectitude walupun banyak dikagumi, tidak pernah menjadi jalan untuk mencapai kemakmuran. Setelah pertumbuhan pesat uang (pendanaan kredit) dan simpanan bank akibat pembiayaan perang dengan Napoleon dan kemudian untuk pembiayaan Perang Dunia I, Inggris terpaksa menghentikan Konvertibilitas antara sterling dengan emas serta juga obsesinya teerhadap penciptaan “superior –quality money” karena terjadi deflasi yang drastic yang diikuti gangguan social yang sangat seris. Keputusan untuk kembali ke standar emas pada tahun 1925, yang mendahului beberapa kebijakan yang mencekik perekonomian, akhirnya diakhiri pada tahun 1931.

Selain Inggris Prancis juga mengalami permasalahan antara emas –nilai mata uang- inflasi. Michel chevalier(seorang ekonom Prancis abad 19) dalam karangannya bahwa pertambahan penawaran emas akibat ditemukannya tambang- tambang emas baru di California, Australia, dan Afrika selatan akan mengakibatkan turunnya harga emas relatif dibandingkan perak yang kemudian akan membawa pada turunnya nilai riil emas (inflasi) atau naiknya tingkat harga seluruh barang kecuali emas. Diketahui bahwa ada hubungan yang besar antara kenaikan produksi emas dengan kenaikan tingkat inflasi di Perancis tahun 1870. adam smith juga mengungkapkan pendapat yang sama tentang hal ini yang memperkuat penelitian Jean Bodin pada tahun 1568 yang meneliti bahwa meningkatnya harga emas dan perak berhubungan erat dengan meningkatnya tingkat harga- harga secara umum.

Sejarah inflasi di Indonesia antara tahun 1950-2002 dalam pemaparan Akhtar Hossain antara lain dikelompokkan dalam 3 periode utama yakni:

  1. Periode Soekarno, tingkat inflasi lebih dipengaruhi kepentingan politik dan pertumbuhan ekonomi seolah dikorbankan. Saat itu, pemerintahan lebih memilih mencetak uang terus menerus dan tanpa diikuti peningkatan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja. Akibatnya di tahun 1965 tingkat inflasi menjadi sangat tinggi mencapai 162,9%. Bahkan dalam satu hari inflasi pernah mencapai 2 persen. Situasi itu mengakibatkan terjadinya kerusuhan di mana-mana dan bermuara pada kejatuhan Presiden Soekarno.
  2. Era Soeharto, pembangunan ekonomi menjadi tujuan utama dengan penekanan pada upaya mencapai stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Di era ini, pemicu (trigger) yang mendorong pertumbuhan mengandalkan investasi, hasilnya bentuk pertumbuhan tetap moderat.
  3. Sementara itu, pada periode setelah krisis, pembangunan ekonomi dinilainya hanya ditujukan untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi yang digerakkan peningkatan daya beli masyarakat. Studi penyebab inflasi di Indonesia telah banyak dilakukan antara lain oleh Boorman (1975), Djiwandono (1980), Nasution (1983), Ahmad (1985), Ikhsan (1991). Namun pada umumnya dari studi diatas menunjukkan bahwa penyebab inflasi di Indonesia ada dua macam:, yaitu inflasi yang diimpor dan defisit dalam Anggaran Pemerintah Belanja Negara (APBN). Penyebab inflasi lainnya menurut Sadono Sukirno adalah kenaikan harga-harga yang diimpor, penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti oleh pertambahan produksi dan penawaran barang, serta terjadinya kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab.

 

  1. Pembahasan

Inflasi berasal dari Bahasa latin “inflance” yang artinya meningkatkan.  Secara umum inflasi adalah perkembangan dalam perekonomian, dimana harga dan gaji meningkat permintaan tenaga kerja melebihi penawaran dan jumlah uang yang beredar sangat meningkat. Inflasi selalu ditandai dengan peningkatan harga-harga secara cepat. Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

Secara umum inflasi disebabkan oleh dua hal, yaitu yang pertama tarikan permintaan dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi atau distribusi. Inflasi permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Kemudian inflasi desakan biaya terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan.

Penggolongan Inflasi

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali(Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :

  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
  4. Hiperinflasi  (lebih dari 100% / tahun)

Mengukur Inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  • Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
  • Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  • Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  • Indeks harga barang-barang modal
  • Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

Dampak Inflasi

Inflasi umumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan dalam perekonomian, akan tetapi sebagaimana dalam salah satu prinsip ekonomi bahwa dalam jangka pendek ada trade off antara inflasi dan pengangguran menunjukkan bahwa inflasi dapat menurunkan tingkat pengangguran, atau inflasi dapat dijadikan salah satu cara untuk menyeimbangkan perekonomian Negara, dan lain sebagainya. Secara khusus dapat diketahui beberapa dampak baik negatif maupun positif dari inflasi adalah sebagai berikut:

  1. Dampak Negatif
  • Bila harga secara umum naik terus-menerus maka masyarakat akan panik, sehingga perekonomian tidak berjalan normal, karena disatu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang memborong sementara yang kekurangan uang tidak bisa membeli barang akibatnya negara rentan terhadap segala macam kekacauan yang ditimbulkannya.
  • Sebagai akibat dari kepanikan tersebut maka masyarakat cenderung untuk menarik tabungan guna membeli dan menumpuk barang sehingga banyak bank di rush akibatnya bank kekurangan dana berdampak pada tutup (bangkrut ) atau rendahnya dana investasi yang tersedia.
  • Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan harga di pasaran.
  • Distribusi barang relative tidak adil karena adanya penumpukan dan konsentrasi produk pada daerah yang masyarakatnya dekat dengan sumber produksi dan yang masyarakatnya memiliki banyak uang.
  • Bila inflasi berkepanjanagn produsen banyak yang bangkrut karena produknya relatif akan semakin mahal sehingga tidak ada yang mampu membeli.
  • Jurang antara kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin nyata yang mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan.
  1. Dampak positif
  • Masyarakat akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, produksi akan diusahakan seefisien mungkin dan konsumtifme dapat ditekan.
  • Inflasi yang berkepanjangan dapat menumbuhkan industri kecil dalam negeri menjadi semakin dipercaya dan tangguh.
  • Tingkat pengangguran cenderung akan menurun karena masyarakat akan tergerak untuk melakukan kegiatan produksi dengan cara mendirikan atau membuka usaha.

Kondisi Inflasi di Indonesia

Seperti halnya yang terjadi pada negara-negara berkembang padaumumnya, fenomena inflasi di Indonesia masih menjadi satu dari berbagai penyakit ekonomi makro yang meresahkan pemerintah terlebih bagi masyarakat. Memang, menjelang akhir pemerintahan Orde Baru (sebelumkrisis moneter) angka inflasi tahunan dapat ditekan sampai pada single digit,tetapi secara umum masih mengandung kerawanan jika dilihat dari seberapa besar prosentase kelompok masyarakat golongan miskin yang menderita akibat inflasi. Lebih-lebih setelah semakin berlanjutnya krisis moneter yang kemudian diikuti oleh krisis ekonomi, yang menjadi salah satu dari penyebab jatuhnya pemerintah Orde Baru, angka inflasi cenderung meningkat pesat  (mencapai lebih dari 75% pada tahun 1998), dan diperparah dengan semakin besarnya presentase golongan masyarakat miskin.

Pada November 2018 terjadi inflasi 0,27% (MoM) dari bulan sebelumnya. Sehingga laju inflasi periode Januari-November tahun ini mencapai 2,5% (YTD) sementara inflasi tahunannya sebesar 3,23% (YoY). Laju inflasi 2018 cukup terkendali meskipun harga bahan bakar minyak naik dan nilai tukar rupiah tepuruk hingga di atas Rp 15 ribu/dolar Amerika Serikat (AS). Langkah-langkah pemerintah untuk meredam gejolak harga komoditas, terutama harga pangan serta kebijakan Bank Indonesia (BI) menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu fluktuatif dengan menaikkan suku bunga acuannya mampu menjaga stabilitas pasar. Dengan terjaganya harga-harga pangan hingga satu bulan menjelang 2018, laju inflasi tahun ini berpeluang berada di bawah 3%. Jika ini terjadi, maka inflasi 2018 bakal menjadi yang terendah dalam sembilan tahun terakhir. Terkendalinya inflasi tahun ini merupakan salah satu pendorong terapresiasinya nilai tukar rupiah hingga ke Rp 13.300/dolar AS. Pasalnya, naiknya suku bunga BI hingga 6% dan imbal hasil (yield) obligasi sampai 7,95% membuat keuntungan riil investor di pasar finansial domestik semakin besar karena laju inflasinya terkendali di level 3%. Artinya investor memperoleh keuntungan riil sekitar 4,75%. Sedangkan negara-negara pasar berkembang lainnya seperti Argentina inflasinya mencapai 45%, Turki (21,6%), Mesir (17,7%), serta Filipina (6,7%).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulanan pada Desember sebesar 0,62% sehingga inflasi tahunan mencapai 3,13% pada 2018. Laju inflasi tahun lalu lebih rendah dibanding 2017 yang sebesar 3,61%, tapi lebih tinggi dibanding pencapaian 2016 sebesar 3,02%. Inflasi tahun lalu merupakan yang terendah ketiga dalam 19 tahun terakhir seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi pemicu utama terjadinya inflasi pada 2018. Harga minyak mentah dunia  yang sempat naik hingga di atas US$ 80/barel untuk jenis Brent menjadi pendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di tanah air. Adapun andil kenaikan BBM terhadap inflasi tahun lalu sebesar 0,26%. Penyumbang inflasi lainnya adalah kenaikan harga beras dengan andil 0,13% dan kenaikan harga rokok kretek filter sebesar 0,13%. Kemudian harga harga daging ayam ras menyumbang 0,12%, tarif angkutan udara 0,1%, serta tarif sewa rumah sebesar 0,09%.

Pengendalian Inflasi Di Indonesia

Inflasi di Indonesia relative lebih banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat structural ekonomi dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat moneter. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengaruh cosh push inflation lebih besar dari pada demand poll inflation. Memang dalam periode tahun-tahun tertentu, misalnya pada saat  terjadinya oil booming, tekanan inflasi di Indonesia disebabkan meningkatnya jumlah uang beredar. Tetapi hal tersebut tidak dapat mengabaikan adanya pengaruh yang bersifat structural ekonomi, sebab pada periode tersebut masih menjadi kesenjangan antar penawaran agregat dengan permintaan agregat, contohnya di subsector pertanian, yang dapat meningkatkan derajat inflasi.

Pada umumnya pemerintah Indonesia lebih banyak menggunakan pendekatan moneter dalam upaya mengendalikan tingkat harga umum. Pemerintah Indonesia lebih senang menggunakan instrument moneter  sebagai alat untuk meredam inflasi, misalnya dengan open market mechanism atau reseve requirement. Tetapi perlu diingat, bahwa pendekatan moneter lebih banyak dipakai untuk mengatasi inflasi dalam jangka pendek dan sangat baik diterapkan pada negara-negara yang telah maju perekonomiannya, bukan pada negara bberkembang  maka memiliki struktur bottleneck. Jadi, apabila pendekatan moneter dipakai sebagai alat utama dalam mengendalikan inflasi di negara berkembang, maka tidak akan menyelesaikan problem inflasi di negara berkembang yang umumnya berkarakteristik jangka panjang.

Jika demikian maka sebaiknya kebijakan pengendalian inflasi bukan dilakukan melalui konsep kaum monetarist saja, tetapi juga dengan  memperhatikan cara pandang kaum structuralist, yang  lebih memandang perlunya mengatasi hambatan-hambatan structural yang ada.

  1. Penutup

Kesimpulan

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besardari harga barang-barang lain. Inflasi digolongkan menurut beberapa cara, dapat menurut laju inflasi (ringan, sedang, berat, hiper inflasi), sebab awalnya (demandatau cost inflation), asalnya (domestic atau imported inflation). Inflasi umumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan dalam perekonomian, yaitu baik negatif maupun positif.

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

20160430081


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Keadaan Perekonomian

RESUME PEREKONOMIAN INDONESIA   Harapan saya setelah menyelesaikan perkuliah perekonomian Indonesia ...

UK 1 Perekonomian In

Nama: Nurdina Ulfiya Salma NIM: 20160430081 Perekonomian Indonesia /A   Bagaimana kondisi perekonomian ...

annotated-bibliograp

Inflasi di Indonesia Meita Nova Yanti Panjaitan, Wardoyo (2016) Faktor-faktor yang ...

Perekonomian Indones

Nama : Nurdina Ulfiya Salma NIM : 20160430081/A INFLASI DI INDONESIA   Latar ...