Pasien Harus Selamat

Melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya (karena menurut saya hal ini sangat menarik dibahas dan cocok untuk tema management rumah sakit seperti bidang yang sedang saya dalami, maka saya bahas dengan berkelanjutan ­čśä) untuk memperbaiki kondisi Rumah Sakit di Indonesia supaya orang-orang yang dirawat disana bisa sembuh, tidak bertambah sakit ataupun membawa penyakit baru, maka kita harus bisa melalukan upaya-upaya terhadap para pasien dan penderita penyakit yang dirawat di Rumah Sakit.

Sejak pertama kali pasien masuk ke dalam Rumah Sakit ada upaya yang bisa kita lakukan, yakni: yang pertama memisahkan pasien. Pasien trauma dan non trauma harus dibedakan, pasien batuk dan non batuk harus dipisahkan, dan tentunya pasien yang infeksius juga harus memiliki jalur sendiri. Yang kedua mengedukasi pasien dengan baik tentang tata cara dan etika di Rumah Sakit, batuk ada tata caranya, cuci tangan ada tata caranya, ruang tunggu ada tata caranya. Yang ketiga, bagi pasien yang dirawat di ruang perawatan Rumah Sakit, mereka harus bisa menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, mematuhi rencana pengobatan dengan baik, dan apabila memang sudah diijinkan dokter untuk pulang maka bisa untuk segera berkumpul bersama keluarga lagi, tidak perlu berlama-lama di Rumah Sakit. Khusus untuk pasien yang akan dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih lengkap fasilitas dan peralatannya tentunya pasien dan keluarga pasien pun bersedia.

Sebisa mungkin dari pihak Rumah Sakit pun harus mementingkan keamanan pasien di atas segalanya, dikrenakan pasien sudah mempercayakan dirinya sepenuh jiwa raga untuk dirawat di Rumah Sakit tersebut. Rumah sakit harus melakukan upaya-upaya untuk memastikan ketepatan dan keamanan perawatan kepada pasiennya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dengan berpedoman atau mengaju kepada Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) maupun mengacu pada standar Joint Comission International (JCI).

Semua bisa dimulai dari hal-hal yang simpel dan mudah, seperti memberi label kepada semua pasien, baik itu label identitas, label alergi, label resiko jatuh maupun label yang lain. Setelah itu dalam memberikan pelayanan kepada pasien wajib hukumnya melakukan cek dan ricek terhadap minimal 2 identitas yang dimiliki pasien (Nama, tempat tanggal lahir, nomor rekam medis). Selain itu dalam melakukan tindakan, Rumah Sakit harus memastikan ketepatan pelaksanaan tindakan (tepat diagnosis, tepat prosedur, tepat sisi, dan tentunya tepat pasiennya). Begitu pula dengan pemberiandan penyuntikan obat, diet atau menu makan pasien. Sedangkan untuk masalah etika di Rumah Sakit itu sendiri, ada beberapa hal kecil sederhana yang bisa kita mulai tanamkan ke pasien: etika saat batuk, etika cuci tangan, etika membawa makanan atau minuman, etika membuang tissue, serta etika dalam menyimpan dan mencuci baju kotor.

Hal ini pun penting untuk diketahui kita sebagai pasien maupun pengunjung pasien supaya dapat terjalin hubungan kerja sama yang baik antara pekerja medis maupun pasien dan keluarga pasien. Ketika unit gizi maupun perawat datang untuk memberikan makanan / obat untuk pasien mereka menanyakan kembali identitas pasien dan itu terjadi secara berulang, sering dijumpai beberapa pasien ada yang merasa kesal krena ditanyakan terus. Itu terjadi karena ketidak tauan pasien mengenai tujuan dilakukan nya hal tersebut yang sebetulnya adalah demi keselamatan pasien itu sendiri.

Dengan melaksanakan semua hal diatas, InsyaAllah Rumah Sakit akan benar menjadi rumahnya penyakit yang sesungguhnya, yakni penyakit yang diderita oleh pasien akan menetap di Rumah Sakit saja, dan nantinya pasien setelah diperbolehkan pulang menjadi orang sehat (dengan ijin Allah SWT).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar