Kebajikan yang Sejati (Kajian QS. Al Baqarah ayat 177)

Selasa, November 6, 2012

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (177)

Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Allah swt telah menerangkan kepada kita terkait ayat sebelumnya tentang pemindahan arah kiblat. Ayat ini diturunkan untuk menjawab dugaan orang Yahudi dan Nashrani yang mana mereka itu mengira bahwa dengan menghadap kea rah barat atau timur sudah termasuk kebaijkan. Dimana orang Yahudi mereka menghadap ke arah barat sedangkan orang Nashrani mereka menghadap ke arah timur.

Tafsir ayat ini adalah ketika Allah memerintahkan kepada orang mukmin pada awalnya untuk menghadap ke Baitul Maqdish kemudian Allah memindahnya ke arah Ka’bah, sehingga hal ini memberatkan hati/jiwa satu kelompok ahli kitab dan sebagian muslimin. Maka Allah menurunkan ayat ini dengan menjelaskan hikmah dari semua itu adalah bahwa yang dimaksud dengan kebajikan adalah apa yang disyari’atkan oleh Allah swt. yakni kebajikan, ketakwaan dan iman yang sempurna. Kebajikan bukanlah hanya penghadapan ke timur ataupun kebarat. Dan tidak ada ketaatan jika tidak ada perintah Allah dan syari’atNya.

Lalu apakah yang dimaksud dengan kebajikan yang terkandung dalam QS. al Baqarah ayat 177? Dibawah ini akan dibahas apa saja yang dimaksud dengan kebajikan yang terkandung dalam Qs. Al Baqarah ayat 177.

Adapun kebajikan yang pertama adalah iman. Yakni orang yang beriman kepada Allah, iman kepada hari akhir, iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab dan iman kepada Nabi. seseorang yang tersifati dengan ayat ini maka ia masuk pada kejelasan Islam, dan ia juga mengambil kumpulan-kumpulan kebaikan. Yakni ia beriman kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada tuhan selain Dia, membenarkan adanya malaikat yang menjadi pelayan Allah dan RasulNya.

Kebajikan yang kedua adalah beramal dengan harta yang dicintai. Dikarenakan, mayoritas manusia ketika memberikan sesuatu pada orang lain itu setelah ia merasa tidak suka pada sesuatu itu. Oleh karena itu, Allah memberikan penghargaan bagi orang yang beramal dengan harta yang ia cintai dengan mengkategorikan sebagai pelaku kebajikan. Dalam firman Allah yang lain diterangkan bahwa kita tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kita menafkahkan barang yang kita cintai. Yakni QS. Ali Imran 120

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Pada kebajikan kedua, terdapat objek penerima harta. Diantaranya adalah sebagai berikut : Allah mendahulukan karib kerabat yang harus diberikan bantuan. Karena seseorang yang memberikan bantuan kepada karib kerabatnya itu lebih baik dibandingkan dengan orang yang memberikan shadaqah pada orang lain. Sabda nabi SAW yang artinya :

; shadaqah terhadap orang miskin itu hanya mendapat pahala shadaqah, sedangkan terhadap kerabat mendapat dua pahala yakni shadaqah dan silaturrahim. Mereka adalah seutama-utamanya manusia atasmu, bekahmu dan pemberianmu.

Objek selanjutnya adalah anak yatim. Yatim adalah orang yang mempunyai seseorang yang menanggungnya, yakni ayahnya meninggal ketika masih kecil dan ia belum bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga orang seperti juga memerlukan belas kasihan dari orang yang mampu. Selanjutnya adalah orang-orang miskin, ibnu sabil, orang-orang yang meminta-minta. Perlu diingat ketika ada orang yang meminta-minta kepada maka jangan sampai kita membentaknya, hal ini bertentangan yag telah difirmankan Allah SWT dalam QS. Ad Duha ayat 10 :

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَر

Dan adapun orang yang meminta maka janganlah kamu membentaknya.”

Kebajikan yang ketiga adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Allah mengategorikan mendirikan shalat sebagai sebuah kebajikan dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan sempurna. Baik waktu pelaksanaannya maupun gerakannya. Sedangkan menunaikan zakat dalam tafsir ibnu katsir dimaknai dengan dua makna. Makna yang pertama adalah bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah membersihkan jiwa dan pemurniannya dari akhlak yang hina. Dan makna yang kedua, bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah zakat mal.

Kebajikan yang keempat adalah menepati janji. Ini merupakan kebalikan dari sifat – sifat orang munafik. Dalam hadis diterangkan sebagai berikut :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ(رواه الترمذي)

Kebajikan yang kelima adalah sabar dalam keadaan yang sempit dan sengsara. Yakni hidup dalam keadaan fakir dan sakit. Seringkali kita jumpai seseorang yang mendapatkan penderitaan yang kecil ia langsung mengeluh, dan putus asa pada Allah. Ia lupa bahwa penderitaan yang menimpa dia hanyalah ujian belaka. Ketika kita bersabar atas penderitaan yang kita hadapi maka kita akan termasuk golongan orang melakukan kebajikan yang sejati.

Allah menutup ayat di atas dengan mengkhabarkan bahwa kebajikan yang yang telah diuraikan diatas merupakan sifat-sifat orang yang membenarkan iman mereka, bahwasanya mereka itu mengimani dengan hati, perbuatan dan ucapan. Yakni mereka adalah orang –orang yang bertaqwa. Dimana mereka takut dari melakukan-lakuan hal-hal yang haram dan mereka itu melakukan ketaatan pada Allah dengan mengerjakan kebajikan-kebajikan yang telah tersebut dalam ayat di atas.

Pelajaran yang dapat diambil adalah : bahwa yang dimaksud dengan kebajikan bukanlah hanya menghadapkan wajah kita ke arah yang diperintahkan namun yang terpenting kita adalah meyakini dan mengamalkan apa yang diperintahkan dengan keimanan dan ketaqwaan. Cirri-ciri orang yang bertaqwa aalah mereka itu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, nabi dan kitabNya. Memberikan harta yang dicintainya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan bersabar dalam keadaan yang sempit dan sengsara.

Do’a penutup

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ .رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Sumber

  • Imaduddin Abu Fida’ Ismail bin Ibnu Katsir, tafsir ibnu katsir. (Lebanon : Darul kutub al ‘ilmiyah, 2008). Juz 1 hal. 190-192.

  • Alqur’an digital edisi 2011.

  • Maktabah syamilah