PENDIDIKAN DAN MOBILITAS SOSIAL (Studi Kasus Pengangguran Terdidik)

Minggu, Januari 20, 2013
  1. A. Latar Belakang Masalah

images (1)

Setiap individu dalam  masyarakat memiliki status sosialnya masing-masing. Status merupakan

perwujudan atau pencerminan dari hak dan kewajiban individu dalam tingkah lakunya. Status sosial sering pula disebut sebagai kedudukan atau posisi, peringkat seseorang dalam kelompok

masyarakatnya. Pada semua sistem sosial, tentu terdapat berbagai macam kedudukan atau status.

Menurut Pitirim Sorokin mengukur status sosial seseorang dapat dilihat dari: jabatan, pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan, kekayaan, politis, keturunan dan agama[1].

Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosial seseorang. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial yang rendah. Dengan demikian masyarakat berusaha menaikkan status sosialnya salah satunya dengan melalui pendidikan yang tinggi.

Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai perkembangan fisik, kesehatan keterampilan, pikiran, perasaan, kemampuan sosial, sampai kepada perkembangan Iman. Perkembangan ini membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dan kehidupan alamiah menjadi berbudaya dan bermoral.

Oleh karena itu, pendidikan diyakini masyarakat sebagai salah satu tempat untuk merubah nasib, dengan adanya pendidikan tinggi sesorang bisa memiliki pekerjaan yang menjanjikan masa depannya, dipandang terhormat oleh masyarakat dan dipandang dapat memegang peran untuk kemajuan masyarakat, sehingga hampir semua orang mementingkan pendidikan untuk memperbaiki status ekonomi dan sosialnya.

Permasalahan yang timbul dan perlu dipertanyakan adalah jika memang pendidikan dipercaya mampu mengangkat status seseorang dan mensejahterakan hidup seseorang, kenapa justru banyak sekali kasus yang muncul terkait dengan pengangguran terdidik bahkan semakin meningkat?.

Berangkat dari pertanyaan tersebut, penulis mencoba untuk menganalisis dan membahas kembali mengenai pendidikan dan mobilitas sosial serta kasus yang semakin meningkat terkait dengan pengangguran terdidik.

  1. B.       Peranan Pendidikan Dalam Mewujudkan Mobilitas Sosial

Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pendidikan mampu meningkatkan status sosial seseorang. Hal ini karena pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang penting bagi diri sendiri maupun masyarakat setempat. Hal tersebut bisa dilihat  mulai dengan menilik fungsi-fungsi pendirian lembaga pendidikan.

Rafil Karsidi dalam salah satu tulisannya menyebutkan berbagai fungsi lembaga pendidikan yang dikaitkan dengan realitasnya. Fungsi-fungsi tersebut secara ringkasnya adalah sebagai berikut:

  1. Lembaga pendidikan mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Jika proses perjalanan pendidikan sepanjang masa ditinjau secara menyeluruh, maka dapat dilihat kenyataan bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan ekonomi secara bersamaan. Peserta didik yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia pekerjaan. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin besar kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

  1. Sebagai alat transmisi kebudayaan

Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat kepada peserta didik menurut Vembrianto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) transmisi pengetahuan dan keterampilan; dan (2) transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Transmisi pengetahuan  mencakup pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial serta penemuan-penemuan teknologi. Dari segi transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma masing-masing lembaga dalam konteks karakter sosiokultural juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Di lembaga pendidikan, peserta didik tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap, nilai-nilai dan norma-norma.

  1. Mengajarkan peranan sosial

Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku bangsa, pendirian dan sebagainya. Ia juga harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda. Lebih dari itu, peserta didik diharapkan mampu dan memiliki peranan yang baik dengan memberikan sumbangsihnya atas berbagai permasalahan sosial di sekitarnya.

  1. Membuka kesempatan memperbaiki nasib

Semenjak diterapkannya sistem pendidikan yang bisa dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya dengan bentuk mobilitas terbuka. Sekolah menjadi tempat yang paling strategis untuk menyalurkan kebutuhan mobilitas vertikal dalam kerangka stratifikasi sosial masyarakat.

  1. Menyediakan tenaga pembangunan

Bagi negara-negara berkembang, pendidikan dipandang menjadi alat yang paling ampuh untuk menyiapkan tenaga produktif guna menopang proses pembangunan. Kekayaan alam hanya mengandung arti bila didukung oleh keahlian. Maka karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara.

  1. Menciptakan integrasi sosial

Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacammacam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan lain sebagainya. Dalam keadaan demikian bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Oleh karena itu, tugas pendidikan di lembaga pendidikan yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial. Upaya yang telah dilakukan untuk itu misalnya dengan mengajarkan bahasa nasional, mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran.

  1. Kontrol sosial

Ketika permasalahan sosial begitu kompleks dan rumitnya, seperti soal kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan, di sinilah pendidikan memiliki peran fungsionalnya sebagai kontrol atau stabilisator agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut atau meminimalisir agar efeknya tidak meluas[2].

Karena fungsi-fungsi tersebut, maka pendidikan dipercaya masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan hidup.

 

  1. C.      Studi Kasus:  Pengangguran Terdidik
    1. 1.    Data statistik sarjana menganggur

Pengangguran Terdidik adalah seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012, TPT untuk tingkat diploma 7,5 persen dan sarjana 6,95 persen. Jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan TPT sebesar 6.32 persen. kemungkinan sarjana menganggur setiap tahun akan mengalami peningkatan yang signifikan[3].

Pendidikan yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang seperti yang telah diuraikan di atas ternyata tidak dijamin kebenarannya jika dilihat dalam realitas kehidupan. Anggapan orang bahwa pendidikan dapat mengangkat status atau derajat seseorang perlu untuk ditinjau kembali. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya pengangguran di kalangan terdidik. Pertanyaannya, mengapa demikian?

  1. 2.    Sebab-sebab sarjana menganggur

                        Hemat penulis, terjadinya kasus pengangguran terdidik dikarenakan oleh beberapa faktor. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Tidak sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu, artinya orientasi utama mengapa seseorang menempuh pendidikan hingga tingkat tinggi adalah untuk tujuan tertentu saja misalnya hanya demi mendapatkan ijazah.
  2. Kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai denagn jurusan mereka, sehingga para lulusan yang berasal dari jenjang pendidikan atas baik umum maupun kejuruan dan tinggi tersebut tidak dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan yang ada.
  3. Budaya malas disinyalir sebagai penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia. Para pengangguran terdidik lebih memilih pekerjaan yang formal dan mereka ingin langsung bekerja di tempat yang menempatkan mereka di posisi yang enak, mendapat banyak fasilitas, dan mendapat gaji yang cukup, tidak mau memulai karier dari bawah.

 

 

  1. Kompetisi yang kurang

Faktor penyebab pengangguran juga sering kali diciptakan oleh diri seseorang secara sengaja atau tidak. Lingkungan memegang peranan yang penting dalam pembentukan pribadi yang kuat dan bisa bersaing. Lingkungan juga menjadi hal yang membuat banyak pribadi menjadi lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan hidup. Jika lingkungan membentuk seseorang berkompetensi tinggi, maka ia akan terbiasa bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik. Sebaliknya, lingkungan yang didominasi oleh orang-orang yang berpikiran mudah menyerah dan tidak senang bekerja keras, maka pribadi yang dilahirkan dari lingkungan yang seperti ini adalah orang-orang yang mudah menyerah.

  1. Rendahnya keterampilan yang dimiliki seseorang

Sekalipun seseorang telah menempuh pendidikan yang tinggi dengan nilai yang tinggi, dia tidak akan dapat eksis jika keterampilan yang dimilki rendah. Keterampilan juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan, entah itu keterampilan dalam bidang pekerjaan maupun keterampilan sosial.

  1. 3.    Pemecahan masalah

Perlu adanya revolusi dalam penanganan masalah pengangguran, Mengingat penyelesaian konvensional selama ini tidak memberikan perubahan yang signifikan.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seluruh stackholder utamanya pemerintah, pihak universitas dan pengusaha termasuk peserta didik (mahasiswa) itu sendiri, di antaranya sebagai berikut:

  1. Melakukan pemetaan antara dunia pendidikan di kampus melalui program-program studi yang ada dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
  2. Perlu adanya pengembangan berbagai softskill yang diberikan kepada para mahasiswa. Softskill yang diberikan haruslah berdasarkan atas kebutuhan masyarakat kontemporer.
  3. Perlu adanya kemauan dan motivasi pada diri sendiri untuk berusaha lebih maju.
  4. Menumbuhkan semangat berwirausaha. Para sarjana tidak hanya  melamar pekerjaan namun dituntut mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan masyarakat disekitarnya. Seorang sarjana dengan kompetensi yang dimiliki dan atmosfer yang ada menjadikan mereka ready to survive (sanggup untuk hidup).
  5. Mengembangkan keterampilan sosial.

Itulah beberapa upaya yang menurut penulis dapat membantu mengurangi angka pengangguran terdidik. Upaya-upaya tersebut harus menjadi perhatian setiap masyarakat, terutama peserta didik, termasuk juga pemerintah.

  1. D.      Penutup dan Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan hubungan pendidikan dan mobilitas sosial termassuk kasus yang terjadi terkait dengan pengangguran terdidik, di antaranya sebagai berikut:

  1. Pendidikan dipercaya dapat mengangkat derajat atau status sosial seseorang. Hal tersebut dikarenakan pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang penting bagi diri sendiri maupun masyarakat setempat.
  2. Rafil Karsidi menyebutkan berbagai fungsi lembaga pendidikan, yakni: lembaga pendidikan mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan, sebagai alat transmisi kebudayaan, mengajarkan peranan sosial, membuka kesempatan memperbaiki nasib, menyediakan tenaga pembangunan, menciptakan integrasi sosial, dan kontrol sosial.
  3. Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012, TPT untuk tingkat diploma 7,5 persen dan sarjana 6,95 persen. Jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan TPT sebesar 6.32 persen. kemungkinan sarjana menganggur setiap tahun akan mengalami peningkatan yang signifikan.
  4. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran di kalangan pendidik adalah: tidak sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu, kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai, malas, kompetisi yang kurang, dan rendahnya keterampilan yang dimiliki seseorang.
  5. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik di antaranya adalah: melakukan pemetaan antara dunia pendidikan di kampus melalui program-program studi yang ada dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja di lapangan, perlu adanya pengembangan berbagai softskill yang diberikan kepada para mahasiswa, perlu adanya kemauan dan motivasi, menumbuhkan semangat berwirausaha, dan mengembangkan keterampilan sosial.

 

 

 


[1] Nazili Shaleh Ahmad, Pendidikan dan Masyarakat, (Yogyakarta: Sabda Media, 2011), hal. 31.

[2] Muhammad Rifa’i, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal.170

Tinggalkan Balasan