ANALISIS KORELATIF ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN KENAKALAN REMAJA

Selasa, Januari 22, 2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang Masalah

Manusia memilki sikap hakiki sebagai homo religious, yaitu makhluk yang memiliki    fitrah beragama (dalam hal ini agama Islam) untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama sekaligus menjadikan agama sebagai landasan dalam bersikap dan berprilaku.

Fitrah beragama ini merupakan kemampuan dasar yang mengandung kemungkinan untuk berkembang. Akan tetapi, kualitas atau arah perkembangan fitrah ini akan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah dan orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadits ini menunjukan bahwa faktor lingkungan terutama orang tua dan keluarga mempunyai peran yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan individu.

Salah satu masa yang harus dilewati oleh seorang individu dalam perkembangan kehidupannya adalah masa remaja. para remaja biasanya sedang berada pada masa transisi, dimana pada masa itu diperlukan penyesuaian diri dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Status remaja dalam masa transisi yang sedang mencari identitas diri tidak terlepas dari persoalan-persoalan yang mengiringi masa pertumbuhan; sehingga dalam masa tersebut tidak sedikit remaja yang mengalami ketidakstabilan, kebingungan dalam mengahadapi nilai-nilai dan kehidupan sosial yang baru. Keadaan tersebut memberi peluang bagi remaja ke arah kenakalan. 

Menurut Fridani, salah satu hal yang bisa mengendalikan kenakalan remaja adalah nilai-nilai religi yang telah diinternalisasikan dalam diri remaja (Rahmawati dkk, 2002: 6). Sudarsono (2008: 6) menyebutkan pula bahwa internalisasi nilai-nilai norma agama dapat mendidik kaum remaja memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan memiliki penghayatan serta perilaku yang sesuai dengan perintah agama, sedangkan terhadap larangan yang telah ditentukan oleh agamanya ia akan meninggalkan atau menghindarinya.

Berangkat dari pernyataan tersebut maka penulis bermaksud untuk menganalisis dan membuktikan adakah dan benarkah terdapat korelasi antara religiusitas dengan kenakalan remaja?

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka timbul beberapa pokok masalah dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan religiusitas?
  2. Siapakah remaja itu dan apa saja faktor yang menyebabkan kenakalan remaja?
  3. Adakah hubungan antara religiusitas dengan kenakalan remaja?
  4. C.      Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Menjelaskan maksud religiusitas .
  2. Mendeskripsikan siapa remaja itu dan menjelaskan faktoryang menyebabkan kenakalan remaja.
  3. Membuktikan ada tidaknya hubungan antara religiusitas dengan kenakalan remaja.
  4. D.      Hipotesa

Hipotesa dari penelitian ini adalah hipotesa alternatif () dan hipotesis nihil ().

() = korelasi positif antara variabel X (religiusitas) dan variabel Y (kenakalan remaja).

() = korelasi negatif antara variabel X (religiusitas ) dan variabel Y (kenakalan remaja).

  1. E.       Metode  Penelitian
    1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif.

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dusun Tundan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul, DIY. Pelaksanaan penelitian ini sejak 01 Desember sampai 15 Januari 2013.

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah remaja di Dusun Tundan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.

  1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa korelasional bivariat yakni teknik analisa yang mendasarkan pada dua buah variabel.    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

RELIGIUSITAS AGAMA ISLAM DAN KENAKALAN REMAJA

  1. A.      Religiusitas Agama Islam
    1. 1.      Pengertian Religi

Istilah religi ini dalam masyarakat disebut agama (dalam bahasa indonesia), al-din (dalam bahasa Arab), atau religion (dalam bahasainggris), yang masing-masing mempunyai arti etimologis namun mempunyai arti terminologi atau makna yang sama (Anshari, 1987: 54).

Agama menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin seseorang. Agama sebagai bentuk keyakinan memang sulit diukur secara tepat dan rinci, sehingga banyak ahli yang memberikan definisi agama yang berbeda satu sama lain.

Paloutzian (1996) mengatakan bahwa agama berasal dari bahasa latin legare yang berarti terikat atau tersambungkan. Wulff (Paloutzian, 1996) menjelaskan bahwa agama berasal dari bentuk kata religio yang dapat diartikan kekuatan yang besar atau perasaan seseorang atau tingkah laku yang ditampilkan seseorang yang merupakan respon dari kekuatan tersebut. Keneth Paragamen (Paloutzian, 1996) mengemukakan pula mengenai agama sebagai dimensi yang dapat ditemui pada seseorang dan kehidupan sosialnya sebagai perasaan, pemikiran, tindakan, dan hubungan terhadap sesuatu yang dianggap suci. Selain itu agama dapat pula meningkatkan kebahagiaan batin yang paling sempurna. Selain agama menuju ke suatu dunia yang tak dapat dilihat (akhirat), namun agama terlibat dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa agama adalah suatu kepercayaan yang mengikat kehidupan batin seseorang yang dapat menyambungkan seseorang dengan Tuhan dan ditampilkan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari dimana merupakan res[pon dari kepercayaannya yang berisi keyakinan-keyakinan dan praktek-praktek ritual yang harus ditaati oleh para penganutnya dan mempunyai pengaruh dalam kehidupan individu tersebut.

 

 

  1. 2.      Pengertian Religiusitas

Istilah religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu dalam hatinya (Mangunwijaya, 1986:45). Dengan perkataan lain, dalam religiusitas terdapat unsur internalisasi agama dalam diri individu.

Religiusitas adalah perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah secara ritual, tetapi adanya keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan mengenai agama yang dianutnya (Ancok, 1994).

Religiusitas yang dimaksud dalam pengertian ini adalah religusitas agama Islam, yaitu internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam diri seseorang. Internalisasi di sini berkaitan dengan kepercayaan terhadap ajaran-ajaran agama Islam baik di dalam hati maupun dalam ucapan yang kemudian diaktualisasikan dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari.

  1. 3.      Pengertian Agama Islam

Islam secara etimologi berarti tunduk, patuh, atau berserah diri (Jawas, 2005:13). Sedangkan Islam secara terminologis adalah agama yang ajaran-ajarannya diberikan Allah swt kepada manusia melalui utusan-Nya. Dengan kata lain Islam adalah agama Allah swt yang dibawa oleh para Nabi pada setiap zamannya yang berakhir dengan kenabian Muhammad saw (Nurdin dkk, 2001).

Sedangkan Anshari (1987: 54) mendefinisikan Islam sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada seluruh umat di sepanjang masa; suatu sistem keyakinan dan tata kaidah Illahi yang mengatur segala kehidupan manusia, baik yang berhubungan antar sesama manusia maupun dengan alam lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah swt, kebahagiaan dunia dan akhirat dan menjadi rahmat bagi alam semesta, yang garis besarnya berisi akidah, syari’ah dan akhlak yang bersumberkan pada kitab suci al-Qur’an yang kemudian ditafsirkan oleh hadits Nabi saw.

  1. 4.      Dimensi religiusitas

Religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan ibadah, tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan spiritual.

Menurut Glock dan Stark (Ancok dan Suroso, 1995: 80-82) ada lima dimensi religiusitas, yaitu sebagai berikut

  1. Dimensi keyakinan/akidah Islam. Dimensi ini menyangkut keyakinan tentang Allah swt, para malaikat, para Nabi dan Rosul, kitab-kutab Allah, surga, neraka, qada dan qadar, dan lain sebagainya.
  2. Dimensi peribadatan atau praktek agama. Dimensi ini menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, ibadah haji, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya.
  3. Dimensi penghayatan atau pengalaman. Dimensi ini meliputi perasaan dekat kepada Allah swt, perasaan bertawakal kepada Allah swt, tergetar hatinya mendengar ayat-ayat Allah swt, dan sebagainya.
  4. Dimensi pengamalan atau akhlak. Dimensi ini meliputi perasaan menolong, menegakan kebenaran dan keadilan, berlaku jujur, dan sebagainya.
  5. Dimensi pengetahuan atau ilmu. Dimensi ini menyangkut pengetahuan tentang isi al-Qur’an, pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan, hukum-hukum Islam, sejarah Islam, dan sebagainya.

Dengan demikian, religiusitas agama Islam dapat didefinisikan sebagai perilaku yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama Islam yang terinternalisasi dalam diri individu dan dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan menjalankan ibadah secara ritual, tetapi ada keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan mengenai agama Islam.

  1. 5.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas Seseorang

Setiap individu memiliki tingkat religiusitas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan religiusitas seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. secara garis besar faktor tersebut berupa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa pembawaaan, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan individu seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat (Yusuf, 2007: 136).

  1. Faktor internal

Setiap manusia yang lahir ke dunia mempunyai potensi yang sama dalam beragama, yaitu percaya akan adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidupnya dan dan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini.

Thouless (Marsal, 2008:20) menambahkan faktor internal yang dapat mem pengaruhi sikap keagamaan seseorang  yaitu faktor pengalaman dan faktor kebutuhan. Faktor pengalaman berkaitan dengan berbagai jenis pengalaman yang membentuk sikap keagamaan, terutama pengalaman mengenai keindahan, konflik moral, dan emosional keberagamaan. Sedangkan faktor kebutuhan secara garis besar ada empat, yaitu: kebutuhan akan rasa keamanan dan keselamatan, kebutuhan akan rasa cinta kasih, kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.

  1. Faktor eksternal

Faktor dari luar adalah lingkungan di mana individu itu hidup, yang terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi seseorang anak. Keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi konsep religiusitas seseorang (Glock dan Stark, 1965). Pentingya peranan orang tua dalam mengembangkan fitrah beragama sehingga fitrah ini dapat berkembang dengan baik, telah dijelaskan oleh agama Islam dalam al-Qur’an dan hadits.

Lingkungan sekolah merupakan pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematis dalam melaksanakan bimbingan, pelajaran, dan pelatihan kepada siswanya sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Dalam kaitannya dengan upaya mengembangkan religiusitas siswa, maka sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan wawasan pemahaman, pembiasaan mengamalkan ibadah, mendidik siswa agar berakhlak mulia, dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Lingkungan masyarakat adalah kondisi interaksi sosial dan sosiokultural yang secara potensial akan mempengaruhi religiusitas seseorang. Sebagai contoh, anak-anak dan remaja akan berinteraksi dengan teman-temannya. Jika teman-temannya mencerminkan perilaku sesuai dengan nilai-nilai agama, maka anak-anak dan remaja itupun akan cenderung berprilaku sesuai dengan nilai-nilai agama. Sebaliknya jika teman-temannya menampilkan perilaku yang kurang baik dan melanggar nilai-nilai agama, maka anak dan remaja itupun akan menampilkan perilaku yang kurang baik. Hal tersebut akan terjadi apabila anak atau remaja kurang mendapatkan bimbingan agama dan keluarganya (Yusuf, 2007:141)

  1. B.       Remaja
    1. 1.      Pengertian Remaja

Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa remaja. mengenai hal ini Piaget mengemukakan pendapat sebagai berikut:

Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak….interaksi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih dengan masa puber….termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok…transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari perkembangan ini (Hurlock,1996:206).

 

Masa remaja merupakan segmen yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik sehingga mampu bereproduksi. WHO (Sarwono, 2002:9) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual; ada tiga kriteria yaitu biologis, psikologi, dan sosial ekonomi, dengan batasan usia antara 10-20 tahun, yang secara lengkapn definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:

  1. Individu berkembanng dari saat pertama kali ia menunjukan tabda-tabda seksual sekundernya sampai saat ini mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Menurut Konopka masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15tahun, (b) remaja madya: 15-18 tahun, (c) remaja akhir: 19-22 tahun (Yusuf, 2007: 184)

  1. 2.      Ciri-ciri Masa Remaja

Masa remaja memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Hurlock (1996: 207)  menjelaskan ciri-ciri remaja sebagai berikut:

  1. Masa remaja sebagai periode penting

Sekalipun semua periode dalam rentang kehidupan penting, namun memiliki kadar kepentingan yang berbeda-beda. Periode remaja dikatakan penting karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku, dan juga penting karena akibat-akibat jangka panjangnya.

Pada awal masa remaja, perkembangan fisik cepat, dengan disertai cepatnya perkembangan mental yang dapat menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai, dan minat baru.

  1. Masa remaja sebagai periode peralihan

Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah  terjadi sebelumnya, melainkan peralihan dari suatu tahap perkembangan ke tahap perkembangan selanjutnya.

Pada masa ini, remaja bukanlah seorang anak dan bukan pula seorang dewasa. Pada setiap periode peralihan status remaja, seringkali tidak jelas dan terdapat keragu-raguan akan peran yang harus dilakukannya.

 

 

  1. Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja keita perubahan fisik terjadi sangat pesat, perubahan perilaku dan sikap pun juga berlangsung pesat.

  1. Masa remaja sebagai masa yang bermasalah

Pada masa anak-anak segala permasalahan diselesaikan oleh orang tua. Tetapi pada saat memasuki remaja, remaja harus berpikir untuk menghadapi permasalahannya sendiri. Hal tersebut dapat menimbulkan permasalahan bagi remaja, karena hasil keputusan yang diambil untuk memecahkan masalah terkadang tidak sesuai dengan harapan.

  1. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Identitas yang dicari oleh remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. Apakah dirinya seorang anak atau dewasa? Apakah nanti akan menjadi seorang suami atau ayah? Apakah mampu percaya diri sekalipun latar belakang ras,agama atau kebangsannya membuat beberapa orang merendahkannya? Secara keseluruhan, apakah akan berhassil atau gagal?

  1. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan

Masa remaja dianggap sebagai masa yang menakutkan, dikarenakan orang dewasa seringkali menyoroti remaja sebagai pembuat onar, tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak. Hal ini membuat remaja melakukan hal-hal seperti streotif atau label yang diberikan kepada mereka yang akan mempengaruhi nilai-nilai yang terbentuk dalam dirinya.

  1. Masa remaja sebagai masa yang tidak relaistis

Remaja memandang diri sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan, bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Apabila cita-cita dan keinginannya tidak tercapai, maka remaja akan sangat marah dan kecewa.bertambahnya pengalaman pribadi dan sosia, serta dengan peningkatan kemampuan berpikir secara rasional, remaja akan lebih realistis dan tidak terlalu banyak mengalami kekecewaan.

  1. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Mendekati usia kematangan yang sah, remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan label belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa remaja sudah hampir dewasa. Oleh karena it,  remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa; seperti berpakaian layaknya orang dewasa, merokok, meminum minuman keras, menggunakan obat terlarang, dan terlibat dalam perbuatan sex. Remaja menganggap perilaku tersebut akan memberikan citra yang diinginkan.

  1. 3.      Tugas-Tugas Perkembangan Remaja

Havighust (Yusuf, 2007: 74) mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut:

  1. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya
  2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita
  3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif
  4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
  5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi
  6. Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan)
  7. Mempersiapkan pernikahan dan hidupberkeluarga
  8. Men gembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
  9. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa
  10. 4.      Karakteristik Perekembangan Moral dan Agama Pada Remaja

Setiap masa dalam perkembangan mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda antara tahap satu dengan yang lainnya. Karakteristik yang paling menonjol pada masa remaja adalah mengalami perubahan secara fisik. Perubahan fisik ini merupakan gejalaprimer dalam pertumbuhan masa remaja,yang berdampak terhadap perubahan psikologis (Sarwono,2002).

Berkaitan dengan perkembangan moral remaja, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang dibandingkan dengan usia anak. Remaja sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas, seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan.

Sedangkan perkembangan agama pada remaja sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya, maka pemikiran remaja tentang Tuhan berbeda dengan pemikiran anak. Remaja mampu berfikir abstrak sehingga memungkinkannya untuk dapat mentransformasikan keyakinan beragamanya. Suatu studi yang dilakukan Goldman (Desmita, 2006:208) tentang perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja yang dilatarbelakangi oleh teori perkembangan kognitif Piaget, ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap tiga, yaitu tahap formal operational religious, dimana remaja memperlihatkan pemahaman yang lebih abstrak dan hipotesis.

Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral, karena agama akan memberikan sebuah kerangka moral sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkahlakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang hidup di dunia ini, sehingga diharapkan agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi rem aja yang tengah mencari jati dirinya.

  1. C.      Kenakalan Remaja
    1. 1.      Definisi Kenakalan Remaja

Terdapat beberapa definisi kenakalan remaja menurut beberapa ahli, di antaranya adalah sebagai berikut:

Sarwono (2002: 209) menungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang mneyimpang dari norma-norma hukum pidana. Santrock (2002: 22) menyatakan bahwa kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal. Sedangkan Walgito (Sudarsono, 1991:11) mengartikan kenakalan remaja sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seorang anak khususnya remaja; dimana jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, perbuatan tersebut merupakan kejahatan.

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja adalah tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

  1. 2.      Bentuk Kenakalan Remaja

Jensen (Sarwono, 2002:209) membagi kenakalan remaja menjadi empat bentuk, yaitu sebagai berikut:

  1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.
  2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti perusakan, pencurian, pemerasan, dan lain-lain.
  3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain, seperti pelacuran, penyalahgunaan obat, sex bebas, dan lain-lain.
  4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah, dan lain-lain.

Dari beberapa bentuk kenakalan pada remaja, dapat disimpulkan bahwa semuanya menimbulkan dampak negatif bagi dirinya sendiri dan orang lain, serta lingkungan sekitarnya.

  1. 3.      Karakteristik Remaja Nakal

Menurut Kartono (2008: 17), remaja nakal mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan remaja yang tidak nakal. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Perbedaan struktur intelektual

Pada umumnya intelegensi mereka tidak berbeda dengan remaja yang normal, namun jelas terdapat fungsi-fungsi kognitif khusus yang berbeda. Biasanya remaja nakal mendapatkan nilai lebih tinggi untuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk keterampilan verbal. Remaja nakal kurang mampu memperhatikan tingkah laku orang lain, bahkan tidak menghargai pribadi lain.

  1. Perbedaan fisik dan psikis

Remaja nakal “idiot secara moral” dan memilki perbedaan ciri jasmaniah dibandingkan dengan yang lain. Pada umumnya bentuk tubuh mereka lebih kekar dan kuat, dan bersikap lebih agresif. Hasil penelitian juga menunjukan ditemukannya fungsi fisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal, yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukan ketidakmatangan jasmaniah atau anomali perkembangan tertentu.

  1. Ciri karakteristik individual

Remaja yang nakal mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang, seperti:

1)   Rata-rata remaja nakal hanya berorientasi pada masa sekarang dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa depan.

2)   Kebanyakan mereka terganggu secara emosional.

3)   Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mampu mengenal norma-norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.

4)   Pada umumnya mereka sangat impulsif  dan suka tantangan dan bahaya.

5)   Kurang memilki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka jadi liar dan jahat.

  1. 4.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja

Willis (2008:93) menjelaskan terdapat empat faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja, yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor yang ada dalam diri anak remaja itu sendiri, meliputi:

1)   Predisposing faktor, yaitu faktor kelainan yang dibawa sejak lahir, seperti cacat keturunan fisik dan mental.

2)   Lemahnya kemampuan pengawasan diri terhadap pengaruh lingkungan.

3)   Kurangnya dasar-dasar keagamaan dalam diri, sehingga sukar mengukur norma-norma luar atau memilih norma yang baik sesuai dengan lingkungan masyarakat.

  1. Faktor yang berasal dari lingkungan keluarga

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja yang berasal dari keluarga, di antaranya adalah:

1)   Anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sehingga hal yang dibutuhkannya itu terpaksa dicarinya di luar rumah serta mendapat kebebasan sesuai dengan keinginannya tanpa memperhitungkan efek atau akibatnya.

2)   Lemahnya perekonomian orang tua, sehingga kurang mampu untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

3)   Kerukunan keluarga yang tidak harmonis. Ketidaktentraman keluarga akan menyebabkan hidup anak tidak merasa damai, karena kedua orang tuanya tidak pernah ada kesesuaian.

  1. Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan masyarakat di antaranya adalah:

1)   Kurangnya pelaksanaan pendidikan agama secara konsekuen, sehingga kenakalan remaja dalam lingkungan mereka semakin meningkat.

2)   Masyarakat kurang memperoleh pendidikan, sehingga keinginan dan tingkah laku remaja berjalan sesuai dengan kehendak mereka.

3)   Pengaruh norma baru yang datang dari luar, dimana anak pada usia remaja  selalu ingin mengetahui dan memiliki hal-hal baru, tanpa mempertimbangkan apa akibat yang ditimbulkannya.

4)   Sekolah kadang-kadang juga dapat menyebabkan timbulnya kenakalan remaja bila tidak terbina dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KORELASI ANTARA RELIGIUSITAS AGAMA ISLAM DENGAN KENAKALAN REMAJA

Pemaparan dan Perhitungan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi terhadap remaja di dusun Tundan, desa Tamantirto, kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Data tersebut adalah sebagai berikut:

No

Subjek

Religiusitas (X)

Kenakalan Remaja (Y)

1

A

5

6

2

B

6

8

3

C

7

7

4

D

6

8

5

E

5

6

6

F

6

8

7

G

6

7

8

H

5

6

9

I

6

6

10

J

8

8

11

K

6

7

12

L

6

6

13

M

5

6

14

N

6

7

15

O

8

6

16

P

4

6

17

Q

6

8

18

R

6

7

19

S

7

9

20

T

6

8

 

Adapun penjelasan data dari hasil penilitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Variabel X      : Tingkat religiusitas remaja di dusun Tundan.
  2. Variabel Y      : Tingkat kenakalan remaja di dusun Tundan.
  3. Rumus Perhitungan:
    1. a.      Angka indeks korelasi product moment

       

= angka indeks korelasi “r” product moment

= Number of cases

= jumlah hasil perkalian antara variabel X dengan variabel Y

SX    = jumlah seluruh variabel X

SY    = jumlah seluruh variabel Y

  1. b.      Degrees of Freedom (DF)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut ini adalah perhitungan untuk mencari indeks korelasi antara variabel X (religiusitas) dan variabel Y (kenakalan remaja):

Subjek

X

Y

XY

A

5

6

30

25

36

B

6

8

48

36

64

C

7

7

49

49

49

D

6

8

48

36

64

E

5

6

30

25

36

F

6

8

47

36

64

G

6

7

42

36

49

H

5

6

30

25

36

I

6

6

36

36

36

J

8

8

64

64

64

K

6

7

42

36

49

L

6

6

36

36

36

M

5

6

30

25

36

N

6

7

42

36

49

O

8

6

48

64

36

P

4

6

24

16

36

Q

6

8

48

36

64

R

6

7

42

36

49

S

7

9

63

49

81

T

6

8

48

36

64

N = 20

SX = 120

SY = 140

SXY = 848

 = 738

 = 998

 

=

Karena N = 20; SXY = 848;  = 738;  = 998; maka:

=

=

=

=

=

=  0, 444

Df = N-nr = 20-2 = 18

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dapat penulis interpretasikan dengan memeriksa tabel nilai “r” bahwa dengan df sebesar 18, pada taraf signifikansi 5% diperoleh sedangkan pada taraf signifikansi 1% diperoleh  Karena  atau  pada taraf signifikansi 5% sama besarnya dengan  atau , maka pada taraf signifikansi 5% hipotesis nol ditolak, sedangkan hipotesis alternatif disetujui atau diterima. Selanjutnya, karena pada taraf signifikansi 1%  atau  adalah lebih kecil dari pada  , maka pada taraf signifikansi 1% itu hipotesis nol diterima, sedangkan hipotesis alternatif ditolak.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah tinggi rendahnya kenakalan remaja ada hubungannya atau dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat religiusitas.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.      Kesimpulan

            Dari uraian di atas terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Religiusitas adalah perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah secara ritual, tetapi adanya keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan mengenai agama yang dianutnya. Internalisasi agama dalam diri individu berkaitan dengan kepercayaan terhadap ajaran-ajaran agama baik di dalam hati maupun dalam ucapan yang kemudian diaktualisasikan dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari.
  2. Remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama. remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15tahun, (b) remaja madya: 15-18 tahun, (c) remaja akhir: 19-22 tahun.
  3. Terdapat empat faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja, yaitu sebagai berikut:
  4. Faktor-faktor yang ada dalam diri anak remaja itu sendiri, meliputi: Predisposing faktor, Lemahnya kemampuan pengawasan diri terhadap pengaruh lingkungan, dan kurangnya dasar-dasar keagamaan dalam diri.
  5. Faktor yang berasal dari lingkungan keluarga, meliputi: anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, lemahnya perekonomian orang tua, dan kerukunan keluarga yang tidak harmonis.
  6. Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan masyarakat, meliputi: kurangnya pelaksanaan pendidikan agama secara konsekuen, Masyarakat kurang memperoleh pendidikan, dan pengaruh norma baru yang datang dari luar.
  7. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah tinggi rendahnya kenakalan remaja ada hubungannya atau dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat religiusitas.
    1. B.       Saran

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, J. Perkembangan Remaja. (Jakarta: Erlangga, 2007)

Sarwono, S.W. Pengantar Umum Psikologi. (Jakarta: Bulan Bintang, 1989)

Purwanto. Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Psikologi dan Pendidikan. (Yogyakarta, Pustaka Belajar)

 

Tinggalkan Balasan