pelemahan nilai tukar di indonesia

Hanya Blog UMY situs lain

Nama : Ninda Puspasari

NIM : 20160430080

PELEMAHAN NILAI TUKAR DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang yang memiliki masalah dalam nilai tukarnya. Dimana seperti yang kita ketahui hingga tahun ini 2018 , nilai tukar indonesia tterhadap  dollar kian melemah hingga mencapai angka Rp. 14.000 perdollarnya.  Hal ini tentu menjadi beban tambahan yang cukup berat pemerintahan Presiden Jokowi. Persepsi ini sangat wajar mengingat nilai rupiah saat ini jauh lebih lemah dibandingkan dengan pada saat krisis ekonomi global 2008 dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (USD) maksimum Rp. 12.600. Hal ini bermula ketika  Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika setelah diterapkannya kebijakan sistem nilai tukar mengambang bebas di Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1998 telah membawa dampak dalam perkembangan perekonomian nasional baik dalam sektor moneter maupun sektor riil. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menjadi sangat besar pada awal penerapan sistem tersebut. Hal ini membuat meningkatnya derajat ketidakpastian pada aktivitas bisnis dan ekonomi di Indonesia. Banyak faktor, baik yang bersifat non ekonomi maupun ekonomi, yang dituduh menjadi penyebab dari bergejolaknya nilai tukar tersebut.

Faktor non ekonomi lebih sering dianggap sebagai penyebab gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar.  Untuk membuktikan, bahkan mengukur seberapa besar pengaruh non ekonomi tersebut akan sangat sulit dilakukan. Keadaan tersebut berbeda dengan keberadaan faktor ekonomi, yang antara lain seperti inflasi, tingkat suku bunga, jumlah uang beredar, pendapatan nasional, dan posisi neraca pembayaran internasional, yang umumnya relatif dapat lebih terukur.

Walaupun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD) melemah sepertinya rupiah belum memasuki zona krisis yang kritis, belum terlihat kepanikan luar biasa di pasar uang khususnya  pasar valuta asing seperti pada krisis ekonomi global tahun 1998 yang melengserkan rezim Orde Baru dan 2008 yang melemahkan hamper seluruh mata uang di dunia. Pelaku ekonomi dan investor memang mulai khawatir dan getir, tetapi belum dalam tensi yang tinggi. Tingkat likuiditas dollar Amerika (USD) di pasar kelihatan masih dalam taraf normal. Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan berpendapat bahwa pergerakan rupiah masih dalam batas-batas toleransi, dengan pertimbangan semua mata uang melemah karena menguatnya dollar Amerika (USD). Akan tetapi  ,  kita harus tetap berhati – hati terhadap Nilai rupiah terhadap dollar yang terus melemah perlu diwaspadai secara hati-hati disebabkan sentimen negatip bisa menambah momentum rupiah bergerak liar dan tidak terkendali. Dengan demikian ekspektasi sulit terukur dan sulit diprediksi serta bisa merusak fundamental ekonomi yang sudah cukup baik di Indonesia.

 

 

PEMBAHASAN

Nilai tukar (atau dikenal sebagai kurs) adalah sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing-masing negara atau wilayah.

Kurs sangat penting dalam pasar valuta asing (foreign excahange market). Walaupun perdagangan valuta asing berlangsung di berbagai pusat keuangan yang tersebar di seluruh dunia, teknologi telekomunikasi modern telah mempertautkan mereka menjadi sebuah rangkaian pasar tunggal yang beroperasi 24 Jam setiap hari. Salah satu kategori penting dalam perdagangan valuta asing adalah perdagangan berjangka (forword trading), di mana beberapa pihak sepakat mempertukarkan mata uang di waktu mendatang atas dasar kurs yang mereka sepakati. Sedangkan kategori lainnya, yakini perdagangan spot (spot trading) langsung melaksanakan pertukaran tersebut (ini biasanya untuk keperluan-keperluan mendesak atau praktis).

Keseimbangan dalam pasar valuta asing mensyaratkan adanya kondisi interest parity, yakni suatu kondisi di mana berbagai simpanan dalam mata uang apa pun menawarkan perkiraan imbalan yang sama besarnya (bila diukur atau dihitung dengan satuan yang sama). Bila suku bunga dan perkiraan kurs masa mendatang tetap, kondisi interest parity menjamin adanya keseimbangan kurs. Kurs yang tengah berlaku juga dipengaruhi oleh berbagai perubahan atas perkiraan kurs untuk waktu mendatang. Sebagai contoh, apabila terjadi kenaikan perkiraan kurs dolar/DM untuk masa yang akan datang, maka jika suku bunga tetap, kurs dolar/DM yang tengah berlaku akan meningkat.Kurs dapat pula disebut sebagai perbandingan nilai. Dalam pertukaran dua mata uang yang berbeda, maka akan terdapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang disebut dengan kurs. Dalam kenyataannya, sering terdapat berbagai tingkat kurs untuk satu valuta asing. Perbedaan ini timbul karena beberapa hal antara lain perbedaan antara kurs beli dan jual oleh pedagang valas, perbedaan kurs yang diakibatkan oleh perbedaan dalam waktu pembayarannya, perbedaan dalam tingkat keamanan dalam penerimaan hak pembayaran. Kurs beli adalah kurs yang dipakai apabila para pedagang valas atau bank membeli valuta asing, sedangkan kurs jual adalah kurs yang dipakai apabla pedagang valas atau bak menjual valuta asing.

Indonesia telah menggunakan berbagai macam sistem nilai tukar yang ada , dan tentu saja setiap sistem yang dipergunakan memiliki perkembangan yang cukup baik bagi indonesia walaupun ujung-ujungnya rupiah terus mengalami pelemahan terhadap rupiah. Berikut beberapa sistem yang pernah digunakan indonesia yaitu :

  1. Multiple Exchange System (Sistem Nilai Tukar Bertingkat)

Sistem ini dimulai sejak Oktober 1966 hingga Juli 1971. Penggunaan sistem ini dilakukan dalam rangka menghadapi berfluktuasinya nilai rupiah serta untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing yang hilang karena adanya inflasi dua digit selama periode tersebut.

  1. Fixed Exchange Rate System (Sistem Nilai Tukar Tetap)

Sistem yang berlaku mulai Agustus 1971 hingga Oktober 1978 ini mengaitkan secara langsung nilai tukar rupiah dengan dollar Amerika Serikat yaitu tarif US$1 =Rp415,00. Pemberlakuan sistem ini dilandasi oleh kuatnya posisi neraca pembayaran dimana Neraca pembayaran tersebut kuat karena sektor migas mempunyai peran besar dalam penerimaan devisa ekspor yang didukung oleh peningkatan harga minyak mentah pada saat itu.

Pemerintah Indonesia telah melakukan devaluasi sebanyak tiga kali yaitu yang pertama kali dilakukan pada tanggal 17 April 1970 dimana nilai tukar Rupiah ditetapkan kembali menjadi Rp 378/US Dollar. Devaluasi yang kedua dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 1971 menjadi Rp 415/US Dollar dan yang ketiga pada tanggal 15 November 1978 dengan nilai tukar sebesar Rp 625/US Dollar. Kebijakan devaluasi tersebut dilakukan karena nilai tukar Rupiah mengalami overvaluated sehingga dapat mengurangi daya saing produk-produk ekspor di pasar internasional.

  1. Managed Floating Exchange Rate (Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali)

Nilai tukar mengambang terkendali, dimana pemerintah mempengaruhi tingkat nilai tukar melalui permintaan dan penawaran valuta asing, biasanya sistem ini diterapkan untuk menjaga stabilitas moneter dan neraca pembayaran.Sistem ini belaku sejak November 1978 sampai Agustus 1997. Pada masa ini nilai rupiah tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan dolar Amerika Serikat akan tetapi terhadap sekeranjang mata uang asing (basket currency). Pada periode ini telah terjadi tiga kali devaluasi yaitu pada bulan November 1978, Maret 1983, dan September 1986. Setelah devaluasi tahun 1986, nilai nominal rupiah diperbolehkan terdepresiasi sebesar 3-5% per tahun untuk mempertahankan nilai tukar riil yang lebih baik.

Pada saat sistem nilai tukar mengambang terkendali diterapkan di Indonesia, nilai tukar Rupiah dari tahun ke tahunnya terus mengalami depresiasi terhadap US Dollar. Nilai tukar Rupiah berubah-ubah antara Rp 644/US Dollar sampai Rp 2.383/US Dollar. Dengan perkataan lain, nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar cenderung tidak pasti.

  1. Free Floating Exchange Rate System (Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas)

Nilai tukar mengambang bebas, dimana pemerintah tidak mencampuri tingkat nilai tukar sama sekali sehingga nilai tukar diserahkan pada permintaan dan penawaran valuta asing. Penerapan sistem ini dimaksudkan untuk mencapai penyesuaian yang lebih berkesinambungan pada posisi keseimbangan eksternal (external equilibrium position). Tetapi kemudian timbul indikasi bahwa beberapa persoalan akibat dari kurs yang fluktuatif akan timbul, terutama karena karakteristik ekonomi dan struktur kelembagaan pada negara berkembang masih sederhana. Dalam sistem nilai tukar mengambang bebas ini diperlukan sistem perekonomian yang sudah mapan (Eric Yuliana, 2000).

Sistem ini diberlakukan sejak 14 Agustus 1997 hingga sekarang. Dalam sistem ini Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing karena semata-mata untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah yang lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pasar.  Dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut, pada bulan November 1997, International Monetary Fund (IMF) masuk ke Indonesia. Namun program pemulihan ekonomi yang dilakukan bersama-sama dengan IMF tidak dengan segera membuahkan hasil. Sampai akhir Desember 1997, nilai tukar rupiah ditutup pada kisaran Rp5.000 per dolar, tetapi pergerakan nilai tukar rupiah semakin tak terkendali hingga mencapai puncaknya pada 22 Januari 1998 dimana kurs mencapai Rp16.000 per dolar. Oleh karena itu dalam rangka mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang, pada tanggal 14 Agustus 1997, Bank Indonesia memutuskan untuk menghapus rentang intervensi sehingga nilai tukar Rupiah dibiarkan mengikuti mekanisme pasar.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat, baik itu faktor dalam negeri maupun faktor luar negeri:

  1. Faktor internal yaitu :

 

  1. Perekonomian Indonesia yang kurang mapan

Rupiah termasuk soft currency, yaitu mata uang yang mudah terdepresiasi (depresiasi; melemahnya nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain yang dtentukan oleh mekanisme pasar) karena pereknomian di indonesia  kurang mapan.

  1. Pelarian modal kembali ke luar negeri  (Capital Flight)

Modal yang beredar di Indonesia, terutama di pasar finansial, sebagian besar adalah modal asing. Ini membuat nilai rupiah sedikit banyak tergantung pada kepercayaan investor asing terhadap prospek bisnis di Indonesia. Semakin baik iklim bisnis Indonesia maka akan semakin banyak investasi asing di Indonesia dan dengan demikian rupiah akan semakin menguat. Sebaliknya, semakin negatif pandangan investor terhadap Indonesia, rupiah akan kian melemah.

  1. Ketidakstabilan Politik-Ekonomi di Indonesia

Faktor yang paling mempengaruhi Rupiah adalah kondisi politik- ekonomi. Performa data ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product), inflasi, dan neraca perdagangan, juga cukup mempengaruhi rupiah.  Pertumbuhan yang bagus akan menyokong nilai rupiah, sebaliknya defisit neraca perdagangan yang bertambah akan membuat rupiah terdepresiasi.

  1. Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros

Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros serta public policyterkait utang. Pemerintah akan kesulitan berutang di dalam negeri, maka kekurangan akan ditutupi dengan berutang ke luar negeri. Maka karena utang harus dibayar dengan mata uang dolar, nilai tukar rupiah terhadap dolar dipastikan melemah.

  1. Faktor  eksternal yaitu :
  2. Keadaan ekonomi Amerika Serikat yang baik

Dalam 8 tahun terakhir ekonomi AS memang cukup stabil, dan bahkan dalam 6 tahun terakhir mencapai kondisi pertumbuhan yang relatif tinggi, tingkat pengangguran turun, dan inflasi rendah. Kenaikan tingkat bunga yang cukup tinggi tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi mereka menurun tajam.

  1. Rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed tahun ini

Stimulus moneter sebesar 20% dari PDB Amerika atau US$3,8 triliun akan ditarik perlahan oleh Bank Sentral AS dengan menaikkan suku bunga. Dalam tiga tahun kedepan akan naik 2,5%-3%, AS ekonominya meningkat sendiri sehingga suku bunganya juga naik.

Pelemahan nilai tukar tentu saja memiliki dampaknya yaitu Nilai rupiah yang tidak stabil akan sangat mempengaruhi ekonomi makro Indonesia. Secara garis besar, ada tiga variabel yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia. Variabel pertama yang berhubungan dengan nilai tukar rupiah berupa nilai keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional. Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan baku. Variabel yang kedua adalah tingkat suku bunga, dimana akan meningkatnya nilai suku bunga perbankan yang akan berdampak pada perubahan investasi di Indonesia.Sedangkan variabel yang ketiga adalah terjadinya inflasi, meningkatnya harga secara umum dan continue akibat konsumsi masyarakat yang meningkat, dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi.

 

 

 

Perkembangan nilai tukar di indonesia

periode nilai USD 1 dalam Rp
2001 10298
2002 9318
2003 8573
2004 8934
2005 9710
2006 9166
2007 9136
2008 9679
2009 10398
2010 9084
2011 8779
2012 9380
2013 10451
2014 11878
2015 13391
2016 13307
2017 13384
2018 13882

 

 

 

Seperti yang terlihat pada data , nilai tukar (kurs) rupiah terus mengalami pelemahan bahkan pada tahun 2018 nilai tukar rupiah hamper mendekati posisi di Rp. 14.000. Bisa dibilang pada tahun 2018 , mengingatkan kembali pada tahun 2015 dimana ditahun itulah rupiah mengalami kenaikkan atau pelemahan yang cukup tajam dari tahun 2014 menunjukkan Rp. 11878 naik menjadi Rp. 13391 atau naik menjadi 10,91%. BI mengatakan hal ini terjadi karena tekanan terhadap rupiah kembali meningkat seiring dengan kuatnya ketidakpastian pasar keuangan global maka menyebabkan penguatan dollar Amerika Serikat secara meluas. Posisi keadaan kurs di tahun 2018 hampir sama kasusnya seperti tahun 2015. Jika pada tahun2015, the fed melakukan acang-acang menaikkan suku bunga, maka pada tahun 2018 the fed akan lebih agresif dalam menaikkan suku bunga. Maka dari itu dollar Amerika serikat akan menjadi sangat menarik karena ditopang dari kenaikkan suku bunga.

Walaupun begitu pemerintah dan bank indonesia terus melakukan antisipasi dalam hal ini. Dimana BI mewujudkan dengan menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin hanya dalam waktu 3 bulan. Dan juga pemerintah ikut membantu dengan menunda berbagai proyek infrastuktur non strategis untuk mengurangi impor dikarenakan kenaikkan nilai tukar.

 

 

KESIMPULAN

Kesimpulannya yaitu pelemahan nilai tukar diindonesia disebabkan oleh beberapa =faktor baik faktor secara internal maupun eksternal. Secara internal disebabkan oleh rupiah yang gampang terdepresiasi sehingga mau gak mau suka tidak suka rupiah akan ikut arus dalam mengalami peningkatan atau pelemahan. Hal inilah yang menjadikan salah satu faktor yang menyebabkan pelemahan yang besar ini terjadi. Secara eksternal , kenaikkan suku bunga oleh the fed dimana akan berpengaruh terhadap nilai tukar di Negara lain terutama di Negara berkembang seperti indonesia. Dampak sendiri yang terjadi diakibatkan oleh pelemahan nilai tukar ini adalah sangat mempengaruhi ekonomi makro Indonesia. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional. Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan baku.

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

20160430080


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

pelemahan nilai tuka

Nama : Ninda Puspasari NIM : 20160430080 PELEMAHAN NILAI TUKAR DI INDONESIA ...