Perdana

Blog Inbound Marketing

Lombok Barat, 26/4 (Perdana) – Menurut Atto Sakmiwata Sampetoding, apa yang diutarakan oleh Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat Helmy Faishal Zaini dengan menyebutkan minat baca orang Indonesia hanya 0,001 persen, Atto S. Sampetoding mengatakan: “Kondisi itu sangat memprihatinkan”

Dilanjutkannya, “Bagaimana seseorang bisa pintar jika minim membaca literasi berkualitas”

Helmy mengatakan “Dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang punya minat baca,” kata Helmy Faishal Zaini, pada “talkshow” safari budaya gemar membaca yang digelar di kantor Bupati Lombok Barat, di Gerung, Kamis.

Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini mengatakan masih relatif rendahnya minat baca menyebabkan Indonesia berada pada urutan tiga dari belakang se-dunia. Tak heran jika Atto Sakmiwata Sampetoding, mengungkapkan keprihatinannya pada situs berita Tagar News ketika diminta pendapatnya di Jakarta, Kamis, 26/04.

Helmy membandingkan ketika sebelum Belanda membangun sekolah-sekolah, rakyat Indonesia telah terlebih dahulu belajar di pesantren-pesantren. Jadi seharusnya gerakan membaca dilakukan dengan berbasis komunitas, berbasis masyarakat dan berbasis pesantren.

“Itu yang ditinggalkan oleh pemerintah kita,” ujar Helmy yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, ini juga menyebutkan sejumlah potensi di Pulau Lombok, yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat membaca. Misalnya “berugak” (gazebo), balai-balai desa, hingga masjid-masjid.

Jadi, menurutnya, tidak perlu harus membangun gedung megah dengan pendekatan proyek. Cukup dengan memanfaatkan potensi yang ada di tengah masyarakat sebagai sarana untuk memotivasi minat membaca.

“Tidak mesti bangun gedung. Manfaatkan saja potensi yang ada. Seribu masjid seharusnya seribu perpustakaan. Itu harusnya jadi terobosan,” ucapnya.

Usai memberikan pemaparan, Helmy menunjukkan video dirinya yang meresmikan sebuah rumah baca di salah satu pesantren di Pulau Lombok. Rumah baca tersebut berupa “berugak-berugak” yang diisi berbagai buku yang ditata dengan baik dan halamannya yang asri.

“Itu merupakan salah satu potensi tempat membaca yang harusnya dimanfaatkan tanpa harus membangun gedung mahal,”

Moderator “talkshow” safari budaya gemar membaca, Saepul Akhkam, M.Hum, dengan setengah berkelakar menyampaikan “rasa kecewanya” melihat tayangan video tersebut. Kekecewaan tersebut karena peresmian dilakukan di tempat lain, bukan di Kabupaten Lombok Barat.

“Kami berharap nantinya ada peresmian rumah baca seperti itu di Lombok Barat,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Setda Lombok Barat ini, dengan nada berguyon.

Atto Sakmiwata Sampetoding asal Toraja dan saat ini adalah Ketua Dewan Penasehat Yayasan Puang Sangalla yang dapat dilihat disini, menekankan, kondisi buruk ini tidak boleh dibiarkan berkelanjutan, masa depat bangsa ada pada anak-anak, mereka harus dibekali dengan ilmu yang dapat diperoleh dengan membaca literasi yang bernas, dan agar tidak mudah dicekoki dengan informasi yang salah.

Membaca

Categories: Pendidikan

PROFIL AKU

Perdana


Popular Posts

Bibit Kelapa Sawit M

Tanaman kelapa sawit adalah salah satu tanaman industri primadona yang ...

Atto Sampetoding: Ca

Jakarta, 26/4 (Tagar) -Menanggapi peryataan Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi ...

Atto Sakmiwata Sampe

Lombok Barat, 26/4 (Perdana) - Menurut Atto Sakmiwata Sampetoding, apa ...

Daya Baca Rendah Kab

Jakarta, 27/4 (Perdana) -Apa yang dikhawatirkan oleh tokoh publik, pada ...

Awak Media Sulut Dim

Manado, 27/4 (Antara) - Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ...