Catatan Mahasiswa FAI

Berbagi Wawasan Keislaman, Pendidikan Islam, FIkih dan lainnya

BAB I

Wanita Dan Cairan Yang Keluar Dari Kelamin

 

  1. I.             HAID

 

  1. A.          Ta’rif/ pengertian.

Secara bahasa haid bermakna mengalir, jadi wanita dikatakan haid ketika darahnya mengalir. Sedangkan pengertian menurut kesepakatan para Imam adalah mengalirnya darah wanita dari farajnya dengan sendirinya. Dari pengertian tersebut diambil kesimpulan jika darah itu mengalir karena sebab-sebab tertentu seperti luka, melahirkan, abortus, atau penyakit maka bukan darah haid.

 

  1. B.           Haid Perdana.

Masing-masing Imam madzhab berbeda dalam menentukan batasan minimal umur seseorang mulai haid. Menurut madzhab Maliki wanita mulai haid pada usia minimal seumur wanita bisa hamil menurut adat kebiasaan setempat, mereka tidak menyebutkan angka pasti. Sedangkan menurut madzhab Hanafi usia minimal haid adalah tujuh tahun, dan menurut madzhab Syafi’I minimal usia sembilan tahun. Terlepas dari perbedaan tersebut mereka sepakat bahwa darah yang keluar pada usia di bawah usia minimal bukan termasuk darah haid. Ungkapan “wanita bisa hamil” juga di ambil pengertian bahwa darah yang keluar dari wanita yang sudah tidak bisa hamil (55 tahun menurut madzhab Hanafi atau 62 tahun menurut madzhab Syafi’i) bukan termasuk darah haid, namun pendapat-pendapat tentang batasan umur tersebut tidak ada yang memiliki dalil sehingga dikembalikan pada kebiasaan (kondisional).

Darah yang keluar pada saat kehamilan menurut madzhab Hanbali dan Hanafiyah bukan termasuk darah haid sedangkan menurut madzhab Maliki dan Syafi’iyah itu termasuk darah haid. Insya Allah akan kita bahas pada babnya. Wallahu A’lam wa al-Musta’an [ ]

 

  1. C.          Umur haid

Tentang umur haid juga terdapat perbedaan pandangan antara Imam ada yang berpendapat paling sedikit sehari semalam, tiga hari tiga malam, dan ada yang berpendapat pada masa yang paling sedikit, meskipun hanya keluar darah sebentar sudah termasuk haid. Untuk Ikhtiyadh (kehati-hatian) kami (penulis) berpendapat untuk dikembalikan pada kebiasaan seseorang masing-masing berdasarkan hadits:

 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَكِنْ دَعِي الصَّلَاةَ قَدْرَ الْأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي

Dari Aisyah (Ia bekata) bahwasanya Fatimah binti Hubaisy bertanya pada Nabi shallallahu’alaihi wa salam “Sesungguhnya Aku menderita Istihadhah, maka Aku tidak suci apakah aku harus meninggalkan shalat? Nabi menjawab “Sesungguhnya itu (darah istihadhah) seperti keringat tapi tinggalkanlah shalat sejumlah hari-hari biasanya kamu haid, selebihnya mandilah dan shalatlah” diriwayatkan oleh Bukhari.

dan jika haidnya tidak teratur maka melihat ciri-ciri darah tersebut berdasar hadits Fatimah binti Hubaisy:

 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ وَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ قَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ غَيْرُ وَاحِدٍ لَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنْهُمْ مَا ذَكَرَهُ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Dari Aisyah radhiyallahu’anha: bahwa Fatimah binti Hubaisy pernah keluar darah istihadhah (penyakit) lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya darah haid itu hitam yang diketahui maka apabila keluar darah hitam itu berhentilah dari shalat dan apabila keluar darah yang lain maka berwudhulah dan shalatlah” Abdurrahman mengatakan “hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan hanya saja tidak satupun yang menyebutkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Abi Ady wallahu A’lam”.

Jika darah yang keluar sudah memenuhi kriteria darah haid meskipun hanya sebentar maka termasuk darah haid.

Begitu juga tentang umur maksimal haid ada yang mengatakan delapan hari, sepuluh hari, dan lima belas hari. Pandapat yang banyak dipakai adalah yang lima belas hari. Jadi jika seseorang biasa haid tujuh hari kemudian sewaktu-waktu darahnya masih keluar setelah melewati tujuh hari maka ditunggu sampai lima belas hari, jika setelah lima belas hari masih keluar maka ia wajib mandi dan shalat karena sesudah melewati umur maksimal bukan termasuk darah haid. Wallahu A’lam wa al-Musta’an

  1. A.          Sifat/ ciri darah haid.

Menurut hadits bahwa darah haid itu berwarna hitam

 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ وَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ قَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ غَيْرُ وَاحِدٍ لَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنْهُمْ مَا ذَكَرَهُ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Dari Aisyah radhiyallahu’anha: bahwa Fatimah binti Hubaisy pernah keluar darah istihadhah (penyakit) lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya darah haid itu hitam yang diketahui maka apabila keluar darah hitam itu berhentilah dari shalat dan apabila keluar darah yang lain maka berwudhulah dan shalatlah” Abdurrahman mengatakan “hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan hanya saja tidak satupun yang menyebutkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Abi Ady wallahu A’lam”[1].

Hadits tersebut dianggap shahih oleh Ibnu Hiban dan al-Hakim sedangkan Abu Hatim menganggap hadits ini munkar karena hadits diriwayatkan oleh Ady bin Tsabit dari bapaknya yang meriwayatkan dari neneknya sedangkan neneknya itu Majhul (tidak dikenel) Abu Daud juga menyatakan hadits tersebut lemah.

Menurut dhahir hadits tersebut warna darah haid adalah hitam, jika yang keluar adalah darah selain warna hitam maka itu termasuk darah penyakit, bukan darah haid.

 


[1] Diambil dari Kutubuttis’ah, An-Nasai hadits ke 216. terdapat juga dalam kitab Subulussalam bab Haid hadits pertama dalam bab tersebut.

 

Categories: FIkih Wanita

About Ayub PAI

mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.....

PROFIL AKU

Ayub PAI

mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.....


Popular Posts

Kepemimpinan dan Per

oleh : Farida F. Azzukhruf Dalam diskursus feminisme dikenal istilah peran ...

Wanita Menjadi Imam

oleh : Ruroh. Pendahuluan Masalah perempuan nampaknya tetap akan menjadi aktual, ...

Hukum Pacaran dalam

Majelsi Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah pernah ditanya mengenai hukum pacaran ...

tukaran link / banne

assalamu alaikum, mari berbagi.. silakan komen di sini untuk tukaran link…. tapi ...

Beginilah Israel Men

Ditengah kecamuk pembantaian di Palestina, beragam pertanyaan tentu menyerang kesadaran ...