.:[like before close^^]:.
Made by : MF-Abdullah @ Catatan

Beberapa Larangan Bagi Wanita Haid

  FIkih Wanita   9 Oktober 2012
  1. A.          Larangan bagi wanita haid.

 

  1. 1.            Shalat dan puasa.

Larangan ini didasarkan pada hadits Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

…أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ…الحديث

Bukankah wanita itu jika haid tidak boleh shalat dan puasa.[1] Mutafaq ‘alaih

Hadits tersebut diriwayatkan dalam hadits yang panjang, suatu ketika Rasulullah keluar bersama Abu Said Al-khudri dan melewati sekelompok perempuan lalu Rasulullah bersabda dan terlidat dialog dengan perempuan-perempuan tersebut, ini menjadi dalil bahwa tidak wajib shalat dan puasa tetapi wajib mengqadha puasa berdasarkan dalil lain. Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitab Aktsar min alf jawab lil mar’ah bahwa wanita yang haid haram menunaikan shalat tapi tidak ada kewajiban mengqadhanya dan haram berpuasa baik puasa wajib maupun sunnah dan wajib mengqadha puasa wajib.[2]

 

  1. 2.            Thawaf di Baitullah.

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa orang haid haram thawaf di Baitullah baik thawaf wajib maupun sunnah, sementara dia boleh melakukan amalan haji lainya.[3] Larangan ini didasarkan pada hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam berikut:

 

…فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“…Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf di Baitullah sampai kamu suci”[4]

Hadits ini memberi pengertian bahwa wanita haid sah melakukan rukun-rukun haji kecuali thawaf, ini merupakan kesepakatan Ulama. Mengenai sebab orang haid dilarang thawaf itu para ulama berbeda pandangan, ada yang mengatakan karena syarat thawaf harus suci dan ada yang mengatakan karena wanita haid dilarang memasuki masjid.Wallahu A’lam wa al-Musta’an [ ]

 

  1. 3.            Berdiam diri di masjid.

Sebelum membahas hukum berdiam diri di masjid bagi wanita haid terlebih dahulu kita perlu ketahui definisi masjid. Masjid adalah tempat yang ditetapkan untuk mendirikan shalat jamaah bagi orang umum.[5] Yang dimaksud shalat jamaah, terutama adalah shalat jamaah lima waktu dan shalat Jumat. Di Indonesia, jika hanya untuk berjamaah lima waktu tetapi tidak digunakan shalat Jumat, tempat itu biasanya tidak disebut masjid, tapi disebut musholla, atau nama yang semisalnya, yaitu langgar (Jawa), surau (Sumatera Barat), atau meunasah (Aceh). Sedang istilah masjid atau masjid jami`, biasanya digunakan untuk tempat yang dipakai shalat Jumat.  Sebenarnya, semua itu termasuk kategori masjid, menurut definisi di atas. Karena yang penting tempat itu digunakan shalat berjamaah untuk orang umum. Maka, terhadap musholla, atau langgar, surau, atau meunasah, diberlakukan juga hukum-hukum untuk masjid, misalnya wanita haid tidak boleh berdiam di dalamnya. Walaupun tidak dinamakan masjid. Adapun jika sebuah tempat disiapkan untuk shalat jamaah, tapi hanya untuk orang tertentu (misal penghuni suatu rumah), maka tempat itu tidak dinamakan masjid, dan tidak diterapkan hukum-hukum masjid padanya. Demikian pula jika sebuah tempat hanya digunakan untuk shalat secara sendiri, bukan untuk shalat jamaah, maka itu juga bukan dinamakan masjid.

Secara umum di Indonesia difahami masjid adalah bangunan yang digunakan untuk shalat dan berukuran besar sedangkan yang berukuran kecil dinamakan mushalla, ini merupakan definisi yang keliru. Shan’any dalam kitabnya Subulussalam mendefinisikan masjid adalah tempat ibadah yang dibangun atas niat sabilillah/ untuk umum bukan pribadi atau terbatas golongan tertentu saja. Disini ukuran tidak menjadi pengaruh, sekecil apapun kalau masjid itu dibangun dengan niat untuk umum maka itu masuk kategori masjid dan sebaliknya kalau masjid itu dibangun dengan niat untuk pribadi atau kelompok tertentu saja maka sebesar apapun bangunanya itu tidak termasuk kategori masjid dan dinamakan mushalla, seperti yang terjadi di sebuah kampung, di mana masyarakatnya mendirikan sebuah bangunan yang diniatkan untuk gedung pertemuan warga, dalam perjalanannya gedung itu dimanfaatkan untuk shalat jama’ah bahkan shalat jum’at misalnya, maka gedung itu tetap tidak bisa dimasukan dalam kategori masjid sekalipun ada ulama yang mensyaratkan penggunaan shalat jum’at untuk menamakan masjid.

Yang dimaksud berdiam (Arab : al-lubtsu, atau al-muktsu) artinya berdiam atau tinggal di masjid, misalnya duduk untuk mengisi atau mendengarkan pengajian, atau tidur di dalam masjid. Tidak ada bedanya apakah duduk atau berdiri. Berjalan mondar-mandir (at-taraddud) di dalam masjid, juga tidak dibolehkan bagi wanita haid.[6]

Jumhur ulama, di antaranya imam madzhab yang empat, sepakat bahwa wanita yang haid tidak boleh berdiam (al-lubts) di dalam masjid baik untuk I’tikaf, mengikuti majelis ta’lim, atau yang lainya, karena ada hadits Nabi shallallahu’alaihi wassalam yang mengharamkannya.[7] Imam Dawud Azh-Zhahiri membolehkan wanita haid dan orang junub berdiam di masjid.[8] Namun pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur yang mengharamkannya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam

 

…فَإِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ …الحديث

“…sesungguhnya Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang haid dan junub…”[9] diriwayatkan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah.

Ibnu Rif’ah berpendapat bahwa perawi hadits ini ada yang matruk. Namun ini dibantah oleh sebagian tokoh Ulama.

Hadits ini menjadi dalil tidak bolehnya wanita haid dan orang junub berdiam di dalam masjid. Namun kalau sekedar berlalu/ lewat, Muhammad bin Ismail As-Shan’any (terkenal dengan sebutan Shan’any) dalam kitab Subulussalam menisbatkan orang haid kepada orang yang junub dalam masalah ini, sehingga dibolehkan sekedar lewat di masjid dengan berdasar pada Al-Qur’an surat An-Nisa : 43

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…

Juga ada hadits yang melegitimasi pendapat tersebut:

 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ

Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda padaku ”berikanlah tikar kecil di masjid itu padaku” Aku berkata “Sesungguhnya Aku sedang haid” lalu Beliau bersabda “Sesungguhnya haid itu bukan di tanganmu” [10]

Hadits ini menunjukan bolehnya orang haid lewat di masjid dengan catatan wanita itu tidak merasa khawatir akan mengotori masjid.[11] Selain itu, ada riwayat lain bahwa Maimunah RA pernah berkata,”Salah seorang dari kami pernah membawa sajadah ke masjid lalu membentangkannya, padahal dia sedang haidh.” (HR. An-Nasa`i).[12]

Lalu ada pertanyaan dari sebagian kaum wanita Apakah kalau wanita haid sudah memakai pembalut, boleh berdiam di masjid?

Berdasarkan penjelasan di atas, sesungguhnya hukum syara’ dalam masalah ini telah jelas, yaitu wanita haid haram hukumnya berdiam di masjid. Adapun jika sekedar lewat atau melintas, hukumnya boleh dengan syarat tidak ada kekhawatiran akan mengotori masjid.

Sebagian ulama memang ada yang membolehkan wanita haid berdiam di masjid asalkan ia merasa aman (tidak khawatir) akan dapat mengotori masjid, misalnya dengan memakai pembalut.[13] Dalam Syarah Al-Bajuri Juz I hal. 115 dikatakan, bahwa kalau wanita haid tidak khawatir akan mengotori masjid, atau bahkan merasa aman, maka pada saat itu tidak diharamkan baginya masuk masjid, tetapi hanya makruh saja.[14]

Menurut pemahaman kami, pendapat itu tidak dapat diterima. Sebab pendapat tersebut tidak mempunyai landasan syar’i yang kuat. Pendapat tersebut menjadikan “kekhawatiran mengotori masjid”, sebagai illat (alasan penetapan hukum) bagi haramnya wanita berdiam di masjid. Jadi, jika kekhawatiran itu sudah lenyap (dengan memakai pembalut), maka hukumnya tidak haram lagi. Padahal, hadits yang ada tidak menunjukkan adanya illat bagi haramnya wanita haid untuk berdiam di masjid. Jadi tidak dapat dikatakan bahwa keharamannya dikarenakan ada kekhawatiran akan menajiskan masjid. Sehingga jika kekhawatiran itu lenyap (dengan memakai pembalut) maka hukumnya tidak haram. Tidak bisa dikatakan demikian, karena nash yang ada tidak menunjukkan adanya illat itu. Nabi SAW hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang haid dan orang junub.”  Nash ini jelas tidak menunjukkan adanya illat apa pun, baik illat secara sharahah (jelas), dalalah (penunjukan), istinbath, atau qiyas.

Lagi pula nash tersebut bersifat mutlak, bukan muqayyad. Jadi yang diharamkan berdiam di masjid adalah wanita haid, secara mutlak. Baik wanita haid itu akan dapat mengotori masjid, atau tidak akan mengotori masjid. Memakai pembalut atau tidak memakai pembalut. Jadi, selama tidak ada dalil yang memberikan taqyid (batasan atau sifat tertentu) –misalnya yang diharamkan hanya wanita haid yang dapat mengotori masjid— maka dalil hadits tersebut tetap berlaku untuk setiap wanita haid secara mutlak. Hal ini sesuai kaidah ushul fiqh :

المطلق يجري على إطلاقه مالم يرد الدليل على التقييد

“[Lafazh] mutlak tetap berlaku dalam kemutlakannya selama tidak ada dalil yang menunjukkan adanya taqyid (pemberian batasan/sifat tertentu).” [15]

Batasan Masjid

Setelah jelas wanita haid tidak boleh berdiam di masjid, maka pertanyaan berikutnya adalah, apa batasan masjid itu?

Definisi di atas adalah definisi umum, yaitu untuk membedakan masjid dengan bangunan yang bukan masjid. Ada definisi khusus, yaitu masjid dalam pengertian tempat-tempat yang digunakan untuk shalat (mawadhi’ ash-shalat), atau tempat-tempat yang digunakan untuk sujud (mawdhi’ as-sujud).[16] Definisi khusus ini untuk membedakan berlakunya hukum mesjid bagi sebuah kompleks bangunan masjid yang luas dan terdiri dari beberapa bangunan atau ruang untuk berbagai keperluan. Sebab adakalanya sebuah kompleks masjid itu memiliki banyak ruangan, atau mungkin mempunyai dua lantai, mempunyai kamar khusus untuk penjaga masjid, mempunyai ruang sidang/rapat, toko, teras, tempat parkir, dan sebagainya. Bahkan ada masjid yang lantai dasarnya kadang digunakan untuk acara resepsi pernikahan, pameran, dan sebagainya. Apakah semua ruangan itu disebut masjid dan berlaku hukum-hukum masjid? Menurut pemahaman kami, jawabnya tidak. Dalam keadaan ini, berlakulah definisi khusus masjid, yaitu masjid sebagai mawadhi` ash-sholat (tempat-tempat sholat).[17]

Maka dari itu, teras masjid bukanlah masjid, jika teras itu memang tidak digunakan untuk shalat jamaah. Jika digunakan shalat jamaah, termasuk masjid. Demikian pula bagian masjid yang lain, misalnya ruang sidang, ruang rapat, kamar penjaga masjid, tempat parkir, dan sebagainya. Semuanya bukan masjid jika tidak digunakan untuk shalat jamaah. Ringkasnya, semua tempat atau ruang yang tidak digunakan shalat jamaah, tidak dinamakan masjid, meski pun merupakan bagian dari keseluruhan bangunan masjid.

Bagaimana jika suatu bagian tempat di masjid (misalkan teras) kadang digunakan shalat jamaah dan kadang tidak? Yang menjadi patokan adalah apakah suatu tempat itu lebih sering dipakai shalat jamaah, atau tidak. Jika lebih sering dipakai shalat jamaah, maka dihukumi masjid. Jika lebih sering tidak dipakai, maka tidak dianggap masjid.

Yang demikian itu bertolak dari suatu prinsip bahwa hukum syara’ itu didasarkan pada dugaan kuat (ghalabatuzh zhann). Dan dugaan kuat itu dapat disimpulkan dari kenyataan yang lebih banyak/dominan (aghlabiyah). Ini sebagaimana metode para fuqaha ketika menetapkan pensyariatan Musaqah (akad menyirami pohon)  –bukan Muzara’ah (akad bagi hasil pertanian)  di tanah Khaybar. Mengapa? Karena tanah di Khaybar (sebelah utara Madinah) pada masa Nabi SAW sebagian besarnya adalah tanah-tanah yang berpohon kurma. Sedang di sela-sela pohon kurma itu, yang luasnya lebih sedikit, ada tanah-tanah kosong yang bisa ditanami gandum.  Hal ini bisa diketahui dari riwayat Ibn Umar, bahwa hasil pertanian Khaybar yang diberikan Nabi kepada para isteri beliau, jumlahnya 100 wasaq, terdiri 80 wasaq buah kurma dan 20 wasaq  gandum (HR. Bukhari).[18] (Catatan : 1 wasaq = 130,560 kg gandum.[19] ). Karena yang lebih banyak adalah hasil kurma, bukan gandum, maka akad yang ada di Khaybar sesungguhnya adalah Musaqah, bukan Muzara`ah.

Penjelasan di atas menunjukkan contoh kasus bahwa hukum syara’ itu dapat didasarkan pada kenyataan yang lebih banyak (aghlabiyah). Maka dari itu, ketika kita menghadapi fakta adanya teras masjid yang kadang dipakai shalat dan kadang tidak dipakai shalat jamaah, kita harus melihat dulu, manakah yang aghlabiyah (yang lebih banyak/sering). Jika lebih sering dipakai shalat jamaah, maka teras itu dihukumi masjid. Dan jika lebih sering tidak dipakai shalat jamaah, maka teras itu dianggap bukan masjid. Untuk kehati-hatian lebih baik orang haid menjauhi berdiam diri diteras masjid. Wallahu A’lam wa al-Musta’an [ ]

 

  1. Senggama / Bersetubuh.

Para Ulama sepakat tentang keharaman senggama dalam keadaan haid. Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

Ibnu Abbas berkata bahwa Umar mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam dan berkata :”Celakalah Aku wahai Rasulullah” Beliau bersabda: “Apakah yang membuatmu celaka?” Umar menjawab: “Kemarin Aku membalik kendaraanku”. Rasulullah tidak memberikan jawaban apa-apa lalu Ibnu Abas berkata Allah telah mewahyukan ayat ini “istri-istrimu adalah ladangmu maka datangilah ia dari manapun kamu mau…” (Al-Baqarah:223) dari depan maupun dari belakang dan jauhilah dubur dan orang haid.[20]

Hadits ini menjadi dalil haramnya bersetubuh ketika haid. Kalimat “membalik kendaraanku” adalah bahasa halus yang digunakan Umar untuk mengatakan bahwa Ia menggauli istrinya dari belakang dan hadits ini membolehkan menggauli istri dari belakang tetapi tempat yang dituju adalah faraj bukan dubur dan istri tidak dalam keadaan haid. Keharaman tersebut diperkuat oleh beberapa hadits lain riwayat Tirmidzi dri Abu Hurairah yang mengatakan “Barang siapa mendatangi (menggauli) istrinya yang sedang haid atau mendatangi dukun maka sungguh Ia telah berlepas (kafir) terhadap apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an)kepada Muhammad shallallahu’alaihi wa salam”

Para ahli kesehatan pun memandangnya tidak sehat. Dalam al-Qur’an Allah menegaskan sebagai berikut:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah, 2:222)

Rahasia larangan mencampuri istri pada waktu haid, menurut al-Maragiy antara lain ialah:

  1. Menyebabkan infeksi pada ovum (sel reproduksi pada wanita), dan kadang-kadang infeksi tersebut mengembang hingga ke rahim, dan sangat berbahaya.
  2. Sering juga menimbulkan infeksi pada kelamin laki-laki, dan menimbulkan rasa sakit dan demam yang berbahaya.

Singkatnya, berhubungan seksual pada waktu istri sedang dalam keadaan haid adalah sangat berbahaya, baik terhadap suami maupun terhadap istri. Karena itulah Allah SWT melarangnya, dan mengharamkannya.

Adapun bersenang-senang (bercumbu) dengan istri yang sedang haid dibolehkan berdasar sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam berikut:

 

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ…الحديث

Dari Anas (ia berkata) bahwasanya orang-orang yahudi tidak makan bersama dan tidak tinggal serumah dengan istri-istrinya ketika istri-istri mereka sedang haid lalu para sshsbst bertanya pada Nabi shallallahu’alaihi wassalam lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh…dst (Al-Baqarah:222), kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: “lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh…”[21]

Hadits ini menjadi dalil bolehnya melakukan apapun selain bersetubuh seperti duduk bersama, makan bersama, tidur bersama, istimta’ (bercumbu) disamping ada hadits-hadits lain yang menguatkanya. Sedangkan kalimat “hendaklah kamu menjauhkan diri” yang terdapat dalam ayat 222 di atas adalah larangan mencampuri/ bersetubuh (larangan seputar kemaluan). Sufyan Ats-Tsaury, Abu Daud, dan madzhab Dzahiry berpendapat boleh melakukan istimta’ kecuali jima’ (penetrasi).

Lalu kapan wanita haid boleh berjima’ setelah selesa haid? Sebelum mandi atau sesudahnya?. Abu Hanifah dan sahabatnya berpendapat boleh berjima’ ketika wanita selesai haid sebelum mandi, sedangkan Malik, Syafi’I dan Jumhur Ulama berpendapat sebelum wanita itu mandi maka belum boleh berjima’. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan pemahaman terhadap surat Al-Baqarah : 222  dalam lafadz “tathahhar” apakah suci setelah mandi atau sebelum mandi. Dalam hal ini kita memilih pendapat terkuat yaitu setelah mandi, bukan semata-mata taqlid tetapi kami memahami lafadz “tathahhar” adalah suci secara syar’i yaitu mandi bukan semata-mata berhenti haid atau sekedar dibersihkan tempat keluar darahnya.

Setelah jelas keharaman bersetubuh ketika haid maka wajib kita menjauhinya. Bagaimana jika ada kasus/ kecelakaan baik sengaja maupun tidak suami istri bersenggama saat istri haid?. Islam adalah agama paripurna yang semua masalah sudah diatur di dalamnya, semua masalah sudah diberikan jalan keluarnya terlepas dari perbedaan pemahaman yang terjadi di antara para Ulama. Malik, Syafi’I, dan Abu Hanifah berpendapat jika terjadi pasangan suami istri bersenggama saat istri haid maka cukup memohon ampun kepada Allah atas kesalahanya dan bertaubat serta tidak mengulanginya lagi. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat suami istri bersenggama saat istri haid harus membayar sadaqah sebagai kafarat berdasar hadits:

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ قَالَ يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ أَوْ بِنِصْفِ دِينَارٍ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa salam bersabda bahwa orang yang menggauli istrinya saat haid harus bersedekah sebesar satu dinar atau setengah dinar.

Ahlulhadits berpendapat satu dinar jika menggauli istri saat haid dan setengah dinar jika menggauli istri saat inqitha’ (setelah haid berhenti tapi belum mandi). Syafi’I dan lainya berbeda pendapat karena menilai hadits ini Mutharib. Namun Shan’any dalam kitabnya mengatakan bahwa hadits seperti ini ada dalam beberapa riwayat hadits diatas salah satunya, perawi-perawinya memenuhi syarat hadits sahih disamping tidak dipungkiri ada riwayat yang mutharib (diriwayatkan oleh seorang perawi dengan sanad sama atau berbeda tapi matan/ isi haditsnya berbeda). Mereka juga berpandangan bahwa pada dasarnya semua orang lepas dari tanggungan (Bara’atudzdzimmah)

Shan’any mengatakan “Orang yang benar seperti Ibnu Al-Qathan sangat memperhatikan kesahihan hadits dan Ia membantah adanya cacat dalam hadits ini”. Pendapat ini  diakui oleh Ibnu Daqiiq al-Ied dan dikuatkan dalam kitabnya Al-Imam, maka tidak ada halangan untuk mengamalkan hadits ini. Orang yang mengatkan hadits ini tidak sahih hanya beralasan ‘pada dasarnya semua terlepas dari tanggungan’, pendapat seperti itu tanpa hujah.[

 

  1. 5.            Talak/ Cerai.

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا …الحديث

Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mentlak istrinya ketika haid lalu Umar Ibnu Al-Khatab bertanya (masalah tersebut) kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam kemudian Dia bersabda: “Perintahkan padanya (kepada Ibnu Umar) untuk ruju’ (kembali) kepada istrinya…”[23]

Hadits tersebut diriwayatkan dalam hadits yang panjang, Rasulullah menyuruh Ibnu Umar ruju’ kemudian mentalaknya pada saat yang tepat kalau Ia masih mau mentalaknya. Ini menjadi dalil tidak boleh mentalak istri saat ia sedang haid. Juga berdasar hadits berikut:

 

عن إكرمة قال قال إبن عباس الطلاق على أربعة أوجوح وجهان حلال و وجهان حرام  فامااللذان هما حلال فأيطلّق الرجل طاهرا من غير جماع او يطلّقها حاملا مستبينا حملها وامااللذان هما حرام فأيطلّقها حائضا او يطلّقها عند الجماع…الحديث

Dari Ikrimah, Dia berkata: “Ibnu Abbas berkata bahwa talak itu ada empat cara, dua cara hukumnya halal dan dua cara yang lain hukumnya haram. Adapun talak yang halal adalah mentalak istri ketika istri dalam keadaan suci (tidak haid) sebelum di gauli (sejak masa suci tersebut) atau mentalak istri saat istri hamil dengan talak ba’in. dan dua cara yang haram adalah mentalak istri ketika ia sedang haid atau mentalak istri ketika bersetubuh…”[24]

Dua hadits di atas cukup menjadi dalil haramnya talak ketika istri sedang haid. Syaik Ibnu Utsaimin mengatakan: “Seorang suami haam mentalak istrinya yang sedang haid”[25]

 


[1] Ibid,BukhariBukharihadits ke 293.

[2] Khalid Al-Husainan, Aktsar min Alf Jawab Lil Mar’ah, Ad-Dar Al-Alamiyah Lin-Nasyr wat-Tauzi’, Riyad, ttt.

[3] Ibid.

[4] Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam bab Haid hadits ke 140, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M. hadits tersebut juga terdapat dalam Shahih Bukhari 1/84, 2/195, Shahih Muslim bab Haji hadits ke 120.

[5] Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Sholat, hal. 274-275; Koleksi Hadits-Hadits Hukum, III/368; Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam Al-Wasith, hal. 416.

[6] Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/80.

[7] Muhammad bin Abdurrahman, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-Aimmah, hal.  17.

[8] Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M. I/92.

[9] Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam bab Ghuslu wa Al-Hukmuljunubi hadits ke 115, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M. Abu Daud bab 92. Hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah. Menurut Ibn al-Qaththan, hadits ini hasan, Kifayatul Akhyar, I/80.

[10] Diriwayatkan oleh Jamaah selain Bukhari. Lihat Dr. Mustafa Diibul Bigha, Fiqih Syafi’i (At-Tahdzib), hal. 76; M. Shalih Al-Utsaimin, Al-Fatawa An-Nisa`iyah (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita), hal. 44.

[11] As-Suyuthi, “Al-Qaul fi Ahkam Al-Masajid”, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, hal. 241, dan “Bab Al-Haidh”, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, hal. 247; As-Sayid A’lawi, Bughyatul Mustarsyidin, hal. 14.

[12] Dr. Mustafa Diibul Bigha, Fiqih Syafi’i (At-Tahdzib), hal. 77.

[13] Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/78.

[14] KH. Moch Anwar, 100 Masail Fiqhiyah : Mengupas Masalah Agama yang Pelik dan Aktual, hal. 51.

[15] Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, I/208; Imam Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul, hal. 164.

[16] Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M. I/92 & 152.

[17] Ibid.

[18] Taqiyuddin An-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, hal. 319.

[19] Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 63; Abdurahman Asssl-Baghdadi, Serial Hukum Islam, hal. 92.

[20] Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad As-Syaukani, Nailul Authar, bab Nahyu an-Ityanilmar’ati fii duburiha, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1420 H./ 1999 M.

[21] Muslim dalam Al-Haid hadits ke 16. Sunan Abu Daud 307 dan 308. Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam, I/136. Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M.

[22] Muhammad bin Ismail As-Shan’any, Subulussalam, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut 1427 H./2006 M. I/hal108

[23] As-Syaukani, Nailul Authar, bab Nahyu ‘anithalaqi fil Haidi wa fil At-thahuri Ba’da ‘anyujami’uha. III/2847, Muslim II/ 5, Abu Daud II/ 2181, Tirmidzi III/1176, Ibnu Majah I/2023, Nasa’iy VI/141, dan Ahmad II/ hal.26.

[24] As-Syaukani, Nailul Authar, bab Nahyu ‘anithalaqi fil Haidi wa fil At-thahuri Ba’da ‘anyujami’uha. III/hal.234. Daruquthniy IV/5.

[25] Khalid Al-Husainan, Aktsar min Alf Jawab Lil Mar’ah, Ad-Dar Al-Alamiyah Lin-Nasyr wat-Tauzi’, Riyad, ttt.

 

  • yang mampir

    Flag Counter
  • Kategori Tulisan

  • Tag Tulisan

  • 8 Standar Nasional Pendidikan aliran optimisme aliran pendidikan aliran pesimisme Belajar Fikih Belajar Islam etika islam feminisme fikh wanita FIkih Wanita filsafat pendidikan gender guru Haid Ibadah ilmu bermanfaat ilmu dalam islam imam wanita israel itihad jilbab syar'i kajian hadis kompetensi guru lontara rindu Muhammadiyah najis nasib guru palestina pedagogik pembelajran kontekstual Pemikiran dan Gerakan Islam pemikiran Islam pendidikan islam pengembanan pendidikan indonesia Pengembangan dan Analisis Kurikulum PAI peranan guru politik islam sastra standar isi adalah standar isi pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan standar proses adalah standar sarana dan prasarana pendidikan student centered learning tarjih dan tajdid trik blog umy tutorial wanita zionis zionisme
    Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE