Catatan Mahasiswa FAI

Berbagi Wawasan Keislaman, Pendidikan Islam, FIkih dan lainnya

oleh : Farida F. Azzukhruf

Dalam diskursus feminisme dikenal istilah peran domestik dan publik. Yang pertama berarti peran perempuan dalam rumah tangga, baik sebagai istri maupun ibu. Peran ini biasa disebut denga sebutan ibu rumah tangga. Sedangkan yang kedua berarti peran perempuan dimasyarakat, baik dalam rangka mencari nafkah maupun untuk aktualisasi diri dalam berbagai aspek kehidupan; sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dakwah dan lain sebagainya.

            Dalam konteks kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan, pertanyaannya adalah apakah perempuan diizinkan mengambil peran publik sebagaimana laki-laki, atau peran perempuan dibatasi sehingga ada peran-peran tertentu tidak boleh dimainkan oleh perempuan sebagaimana halnya laki-laki?

            Jika diteliti dalam Al-Qur’an, ada beberapa ayat yang dapat dijadikan dalil bahwa perempuan memikiki peluang yang sama dengan laki-laki untuk berperan dalam sektor publik, sebagaimana halnya mereka berperan dalam sektor domestik. Surat An-Naml: 20-24 menceritakan tentang Saba’. Dalam ayat 22 dan 23 disebutkan laporan burung Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman:

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (23)

“Maka tidak lama Kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku Telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS. An-Naml: 22-23)

            Dalam surat Al-Qashash disebutkan kisah Nabi Musa dengan dua orang putri Nabi Syu’aib di Madyan. Dalam ayat 23disebutkan Nabi Musa menyaksikan dua orang putri Nabi Syu’aib menunggu giliran untuk menimba air minuman ternak mereka. Memelihara dan memberi minum ternak termasuk pekerjaan publik dalam rangka mencari nafkah.

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23)

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah lanjut umurnya.” (QS. Al-Qashash: 23)

            Dalam Surat At-Taubah: 71 disebutkan bahwa perempuan beriman, tolong-menolong, bahu-membahu, pimpin memimpin dengan laki-laki beriman dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Tugas dakwah amar ma’ruf nahi munkar sekalipun dapat dilakukan di dalam rumah, tetapi tidaklah terbatas dalam rumah tangga semata, tapi juga di masyarakat (peran publik).

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-taubah: 71)

            Dalam Surat An-Nahl: 97 lebih jelas lagi Allah memberi peluang dan menghargai sama laki-laki dan perempuan untuk melakukan amal saleh. Amal saleh, tentu saja tidak hanya terbatas pada amal-amal yang bersifat domestic, tetapi menyangkut juga amal-amal yang bersifat public.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )97)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

            Demikianlah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa perempuan memiliki peluang melakukan peran public sama dengan peluang yang diberikan kepada laki-laki. Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam peran public. Tapi bagaimana dengan Surat Al-Ahzab: 33 yang memerintahkan kepada para perempuan untuk tetap berada di rumah mereka?

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)

 

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

            Ayat 33 ini adalah bagian dari rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang ketentuan-ketentuan Allah untuk para istri Nabi. Pesan-pesan untuk para istri Nabi itu dimulai dari ayat 28 sampai dengan ayat 34. di antaranya dalam ayat 33 ini Allah memerintahkan kepada para istri Nabi untuk tetap di rumah dan tidak berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Pada ayat sebelumnya (ayat 32) Allah juga melarang para istri Nabi berbidara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sebab sikap bicara seperti itu bisa mnengundang keinginan laki-laki yang di hati mereka ada keinginan berbuat serong. Di samping merupakan dosa besar, tentu akan menjadi skandal besar dan menggemparkan jika sampai terjadi hubungan yang tidak benar antara istri Nabi dengan sahabat. Apalagi para istri Nabi sudah diangkat menjadi ibu-ibu bagi semua orang-orang yang beriman.

            Pertanyaannya adalah, apakah ketentuan ini khusus untuk para istri Nabi sebagaimana yang tersurat dalam ayat atau juga berlaku untuk perempuan-perempuan muslimah lainnya. Mari kita lihat perspektif para mufassir dalam masalah ini.

            Menurut ath-Thabari, az-Zamakhsyari dan ar-Razi, ayat ini sebagaimana ayat-ayat sebelumnya yang ditujukan kepada para istri Nabi. Mereka tidak menyebutkan bahwa ayat ini juga berlaku bagi perempuan muslimah lainnya.

            Berbeda dengan ketiga mufassir di atas, ibn Katsir berpendapat ayat ini sekalipun ditujukan kepada para istri Nabi, tapi berlaku juga untuk kaum muslimah lainnya. Oleh sebab itu mari kita lihat bagaimana Ibn Katsir menafsirkan kalimat   وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنDalam ayat tersebut. Menurut Ibn Katsir kalimat  وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنadalah perintah kepada kaum perempuan untuk tetap berada di rumah, jangan keluar kalau tidak ada keperluan (ilzamna buyūtakunna falâ takhrujna li ghairi hâjah). Contoh keperluan yang dibenarkan syari’ah itu adalah shalat dengan syarat yang telah ditentukan. Untuk contoh ini Ibn Katsir mengutip hadits Nabi yang menyatakan jangan melarang perempuan-perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Namun demikian shalat di rumah akan tetap lebih baik sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat bahwa rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (buyūtahunna khairan lahunna).

            Untuk memperkuat pernyataan bahwa bagi perempuan tetap berada di rumah lebih baik daripada keluar rumah, Ibn Katsir mengutip sebuah riwayat dari sahabat Anas ra: “Dari Anas ra, dia berkata: “Beberapa orang perempuan dating bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki mendapatkan keutamaan dengan berjihad pada jalan \allah, lalu apa amalan bagi kami yang dapat mencapai derajat para mujahid pada jalan Allah?” RAsulullah SAW menjawab: “Barangsiapa yang duduk di antara kalian di rumahnya maka dia telah mencapai derajat para mujahid pada jalan Allah SWT” (HR. Bakar al-Bazzar).

            Riwayat al-Bazzar di atas juga dikutip oleh al-Alusi yang punya pemahaman sejalan dengan Ibn Katsir. Bahkan menurut al-Alusi, permpuan tidak hanya dibatasi keluar rumah, tapi bisa juga haram, bahkan menjadi dosa besar seperti pergi ziarah kubur jika besar kerusakannya, atau pergi ke masjid dengan memakai parfum dan perhiasan jika terbukti mendatangkan fitnah. Namun jika hanya diduga mendatangkan fitnah, hukumnya hanya haram, bukan dosa besar. Sedangkan keluar rumah yang dibolehkan, menurut al-Alusi contohnya pergi haji, mengunjungi orang tua, menjenguk orang sakit, ta’ziah kematian kerabat karib dan lain semacamnya. Tentu saja dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Demikianlah pandangan al-Alusi.

Kepemimpinan Perempuan

            Secara umum Al-Qur’an menyatakan ada tiga hierarki kepemimpinan bagi umat islam. Pertama kepemimpinan Allah, kedua Rasul-Nya, dan ketiga kepemimpinan orang-orang yang beriman, yang dalam satu ayat disebut dengan Ulil Amri.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”  (QS. Al-maidah: 55).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (QS. An-Nisa’: 59)

            Pemimpin umat, atau dalam dua ayat di atas diistilahkan dengan waliy dan ulil amri adalah penerus kepemimpinan Rasulullah SAW setelah beliau meninggal dunia.sebagai nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW tidak bisa digantikan, tapi sebagai kepala Negara, pemimpin, ulil amri tugas beliau dapat digantikan. Orang-orang yang dapat dipilih menggantikan beliau sebagai pemimpin minimal harus memenuhi empat criteria sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 55 di atas, yaitu:

1)      Beriman kepada Allah SWT, dalam arti harus beragama islam

2)      Mendirikan shalat, baik dalam pengertian harfiah maupun sebagai symbol hubungan vertical yang baik dengan Allah SWT

3)      Membayarkan zakat yang menjadi symbol kesucian hartadan jiwa serta symbol kepedulian social yang tinggi terhadap kaum dhu’afa’ dan mustadh’afin

4)      Selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT yang dimanifestasikan dengan menjadi seorang muslim yang kaffah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Dari keempat criteria di atas tidak disinggung sama sekali persoalan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

            Sekalipun teks yang digunakan dalam ayat berbentuk (mudzakkar alladziina aamanu…) tetapi para mufassir sepakat bahwa dari segi bahasa yang dimaksud bukanlah laki-laki semata, tapi juga perempuan sebagaimana dalam ayat-ayat yang lain (lihat misalnya ayat tentang kewajiban puasa, Al-Baqarah: 183 yang juga diungkapkan dengan kalimat alladziina aamanu…). Oleh sebab itu berdasarkan Al-Maidah: 55 tidak ada larangan bagi seorang perempuan menjadi pemimpin umat atau pemimpin public lainnya. Apalagi dalam surat At-Taubah: 71 sebagaimana yang sudah dikutip di atas dinyatakan bahwa laki-laki dan perempuan yang beriman.

            Kata waliy di samping berarti penolong, juga berarti pemimpin. Dengan demikian, menurut ayat ini laki-laki bisa saja dipimpin oleh perempuan, sebagaimana perempuan dipimpin oleh laki-laki.

            Yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi kepala Negara biasanya berargumen dengan Surat An-Nisa’: 34. Mari terlebih dahulu kita kutip teks ayat tersebut secara lengkap.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (34)

 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi permpuan, olaeh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang saleh, ialah perempuan yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur merek, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa’: 34)

            Dalam ayat diatas disebutkan secara eksplisit bahwa laki-laki (suami) yang menjadi pemimpin atas perempuan (istri) di dalam rumah tangga. Demikianlah pemahaman kalau tidak seluruhnya, paling kurang sebagian para mufassir. Pandangan yang berbeda dikemukakan oleh beberapa orang feminis muslim seperti Asghar Ali Engineer, Aminah Wadud Muhsin dan lain-lain.

            Dalam ayat di atas suamilah yang ditetapkan oleh Allah sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Hal itu diungkapkan dengan kata qawwam, yang sekalipun secara harfiah berarti penopang atau yang mendukung tegaknya sesuatu, tapi secara maknawiyah artinya tidak lain adalah pemimpin. Otoritas yang diberikan oleh Allah kepada suami (menasehati, pisah ranjang dan menjatuhkan sanksi pukulan) dalam menghadapi istrinya yang nusyuz, menunjukkan bahwa hubungan suami dengan istri tidaklah horizontal tapi vertical atau structural. Hubungan structural itu dipertegas lagi dengan penggunaan kalimat taat (kemudian jika mereka mentaatimu…) dari istri kepada suami.

            Al-Qur’an mengemukakan dua alasan kenapa laki-laki yang menjadi pemimpin. Pertama,  karena kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka. Kedua, karena kewajiban mereka memberi nafkah keluarga.

            Karena Al-Qur’an tidak merinci lebih lanjut apa kelebihan laki-laki atas perempuan, maka penafsirannyapun menjadi beragam dan kontrofersional. Mulai dari kelebihan secara fisik sampai kelebihan secara intelektual dan agama, atau dengan ungkapan yang lain, kelebihan yang didapat dengan sendirinya berupa pemberian Allah atau yang diusahakan.

Laki-laki mempunyai kelebihan dibanding dengan perempuan dalam kekuatan intelektual, yang oleh karenaitu lebih tahan dan tabah menghadapi tantangan dan kesusahan. Sementara kehidupan perempuan adalah kehidupan emsional yang dibangun diatas sifat kelembutan dan kehalusan.

            Tapi yang dimaksud dengan kekuatan intelektual itu bukan potensial yang dimiliki, tapi apabila terjadi benturan antara nalar dan rasa, laki-laki lebih mendahulukan nalar daripada rasanya. Tapi bila tidak terjadi benturan, masing-masing punya potensi yang sama untuk berkembang. Bahkan bias saja kemampuan intelektual perempuan lebih kuat daripada laki-laki. Hal itu tergantung kepada pendidikan dan lingkungan masing-masing. Yang menolak keabsahan perempuan sebagai kepala Negara berargumen bahwa ayat ini menyatakan bahwa laki-lakilah yang menjadi pemimpin perempuan. Argument itu bias saja tidak dapat diterima, karena ayat itu berbicara dengan konteks rumah tangga sebagaimana terlihat pada keseluruhan isi ayat, apalagi ayat tersebut juga memberukan pedoman tentang bagaimana mmenghadapi istri yang nusyuz yang tidak mungkin berlaku untuk urusan lain diluar hubungan suami istri.

            Jika ayat ini dapat diterima sebagai ayat khusus yang mengatur kepemimpinan dalam rumah tangga, dimana laki-lakilah yang diberi hak memimpin, bagi yang menolak perempuan jadi kepala negara masih mempunyai argument lain, yaitu kalau untuk memimpin rumah tangga saja perempuan todak diperkenankan, apalagi unyuk memimpin Negara, lebih tidak diperkenankan lagi.

            Kalau cara berfikir terbalik ini diterima, mestinya tidak hanya untuk kepala Negara, jabatan apapun yang melibatkan laki-laki tentu permpuan tidak boleh memegangnya, misalnya menteri, dirjen, direktur, atau lembaga lainnya. Padahal secara histories terbukti ‘Aisyah istri Nabi sendiri pernah menjadi panglima perang dalam Perang Onta yang terkenal. Logikanya, kalau memang dilarang tentu istri Nabi tidak akan maju memimpin pasukan, atau para sahabat yang lain tidak akan mau mengangkat dan mematuhi beliau sebagai panglima. Padahal di antara pengikut ‘Aisyah waktu itu terdapat sahabat besar semacam Thalhah ibn ‘Ubaidillah, Zubair ibn Awwam dan petranya Abdullah ibn Zubair.

            Di samping surat An-Nisa’ ayat 34 di atas, ayat lain yang digunakan untuk menolak kepemimpinan perempuan adalah QS. Al-Baqarah: 228

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

 “…Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya…” (QS. Al-Baqarah: 228)

            Menurut pendapat ini, ayat di atas menjelaskan bahwa laki-laki memiliki derajat yang tinggi ketimbang perempuan. Oleh karena itu, laki-laki lebih diutamakan dalam menjalankan berbagai dan menggunakan hak-kah politik. Menurut Muhammad Anis Qasim ja’far, penafsiran itu tidak seluruhnya benar. Sebab derajat yang dimiliki laki-laki bukanlah derajat keutamaan dan keunggulan, melainkan derajat kepemimpinan dalam masalah keluarga sebagaimana konteks ayat. Karena keluarga seperti suatu masyarakat memerlukan orang yang mengurus dan mengawasinya agar terbina kesatuan dalam kepemimpinannya. Kepemimpinan itu secara alami adalah milik laki-laki, karena laki-laki yang memikul tanggung jawab keluarga, yaitu tanggung jawab untuk menafkahinya. Maka merupakan hal penting jika laki-laki memiliki kekuasaan.

            Sebenarnya dalil yang lebih banyak digunakan untuk menolak perempuan sebagai kepala Negara bukanlah ayat Al-Qur’an, tetapi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Sahabat Abu Bakrah.

“Diriwayatkan dari Abu bakrah, dia berkata: “Allah SWT memeliharaku dengan sesuatu yang aku dengar dari RAsulullah SAW tatkala Kisra Oersia terbunuh. Rasulullah bertanya: “Siapa yang mereka angkat sebagai penggantinya?”

Para sahabat menjawab: “Putrinya” lalu Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan sukses suatu kaum bila mereka menyerahkan urusan mereka kepada perempuan”. Setelah “Aisyah dating ke bashrah aku teringat ucapan Rasulullah tersebut, maka Allah memeliharaku dengan sabda Nabi itu.” (H.R. bukhari dan Tirmidzi dan teks dari Tirmidzi)

            Kalau kita melihat latar belakang ucapan Nabi di atas, yang merupakan respon Nabi terhadap pengangkatan putrid Kisra Persia menjadi kepala Negara yang hanya semata-mata karena punya hubungan darah denagn raja yang meninggal, sekalipun dia tidak punya kapabilitas untuk jabatan itu, akan terlihat bahwa hadits itu tidaklah bersifat normative, tapi kontekstual yang normanya berkau sesuai dengan konteksnya.

Penutup

            Demikianlah, dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada satu ayatpun di dalam Al-Qur’an yang secara ekspisit melarang perempuan menjadi kepala Negara atau kepemimpinan public lainnya. Karena kepemimpinan public adalah bagian dari ajaran islam yang luas, bukan termasuk ibadah mahdhah, maka kaedah yang berlaku adalah semuanya boleh kecuali yang melarangnya.

            Menggunakan QS. An-Nisa’:34 sebagai dalil yang melarang perempuan mkepala Negara tidaklah tepat, karena ayat tersebut khusus berbicara masalah kpemiminan dalam rumah tangga sebagaimana terlihat dalam seluruh kandungan ayat. Jika digunakan logika terbalik, bahwa untuk memimpin Negara, maka logika ini juga tidak dapat diterima karena bertentangan dengan surat An-Nisa’: 71 yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan beriman tolong-menolong dan pimpin memimpin dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan juga bertentangan dengan realitas yang terjadi pada zaman sahabat, termasuk apa yang dilakukan oleh istri Nabi, ummul mukminin ‘Aisyah ra sendiri tatkala beliau memimpin perang unta. Begitu juga dengan kelebihan laki-laki satu derajat daripada prempuan dalam surat Al-Baqarah: 228 hanyalah terbatas dalam masalah kepemimpinan dalam keluarga sebagian konteks ayat itu sendiri juga sebelum dan sesudahnya.

Dalam criteria wali atau kepala Negara dalam surat Al-Maidah: 55 tidak disebutkan persoalan jenis kelamin. Ayat tersebut bersifat umum bagi semua orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Kalau dalam kitab-kitab klasik disebutkan perempuan tidak dapat memegang jabatan imamah maka yang dimaksud dengan imamah pada konteks itu adalah imamah atau wilayah kubra yang mencakup wilayah din dan dunya sekaligus. Seorang tidak hanya memimpin negara tapi juga menjadi imam shlat dalam khathib jum’at, fungsi mana tidak dapat dijalankan oleh perempuan. Apalagi kepala Negara pada zaman sekarang baik presiden maupun perdana menteri, hanyalah memegang imamah atau wilayah juziyyyah (parsial) yaitu sebagai eksekutif, sedangkan legislatif dan yudikatifnya dipegang oleh orang lain. Maka jabatan kepala eksekutif tersebut tidak ada bedanya dengan  jabatan-jabatan publik lainnya.

Demikianlah, Wallahu’Alam bi ashshawab.

Categories: FIkih Wanita

About Ayub PAI

mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.....

PROFIL AKU

Ayub PAI

mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.....


Popular Posts

Kepemimpinan dan Per

oleh : Farida F. Azzukhruf Dalam diskursus feminisme dikenal istilah peran ...

Wanita Menjadi Imam

oleh : Ruroh. Pendahuluan Masalah perempuan nampaknya tetap akan menjadi aktual, ...

Hukum Pacaran dalam

Majelsi Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah pernah ditanya mengenai hukum pacaran ...

tukaran link / banne

assalamu alaikum, mari berbagi.. silakan komen di sini untuk tukaran link…. tapi ...

Beginilah Israel Men

Ditengah kecamuk pembantaian di Palestina, beragam pertanyaan tentu menyerang kesadaran ...