.:[like before close^^]:.
Made by : MF-Abdullah @ Catatan

Sosok Guru Di Dalam Sastra : Analisis Novel “Lontara Rindu”

  Pendidikan, Pendidikan Umum   17 November 2012

Masayarakat sebagai konsumen pendidikan memiliki harapan yang besar kepada sosok guru, mereka memiliki aspirasi-aspirasi mengenai bagaiaman seharusnya seorang guru. Aspirasi masyarakat, salah satunya, dapat diketahui melalui analisis terhadap karya sastra. Menurut sosiologi sastra,  sastra berisi ungkapan sosial beserta problematika kehidupan masyarakat  (Jobrahim,1994: 221). Dengan kata lain, sastra memuat secara inplisit maupun eksplisit aspirasi masyarakat mengenai suatu hal, termasuk guru ideal.  Oleh karena itu, penelitan ini kami arahkan untuk menganalisis aspirasi masyarakat mengenai sosok guru ideal di dalam karya sastra yang lahir dan banyak diminati. Karya yang kami pilih adalah novel Lontara Rindu yang merupakan novel terbaik pada ajang Lomba Novel Republika 2012 dan menjadi best seller nasional. Di dalam novel ini dihadirkan sosok guru bernama Pak Amin dan Ibu Maulindah.  Selain fungsi pedagogis,  juga ditelaah fungsi sosialogis guru di dalam novel ini.

Jika membicarakan sosok guru di dalam novel, mungkin yang langsung terbayang adalah sosok Ibu Muslimah Hasfari dari novel mega best seller karya Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi. Di dalam novel tersebut digambarkan sosok Ibu Mus yang menjadi tokoh pengayom dan sangat menyayangi kesepuluh  muridnya. Meskipun tidak menjadi sentra cerita, kehadiran tokoh Ibu Muslimah tetap menarik perhatian pembaca dan dianggap sebagai salah satu aspirasi penulis. Hal yang sama berlaku bagi novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Tokoh Pak Amin dan Ibu Maulindah bukanlah sentra cerita dari novel ini, akan tetapi kehadiran keduanya tetap menjadi warna tersendiri.  Novel ini bercerita tentang kerinduan dan pencarian Vito akan ayanya dan suadara kembarnya bernama Vino, mereka terpisah karena berbeda keyakinan. Vito adalah seorang murid SMP rintisan di sebuah dusun terpencil bernama Pakka Salo, kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Dalam konteks sebagai murid SMP inilah Vito bersentuhan dengan dua tokoh  guru yakni Pak Amin yang mengajarkan Penjas namun tahu banyak tentang Islam dan Bu Maulindah guru IPS.

  1. Guru Sebagai Pendidik di dalam Novel Lontara Rindu

Pada bagian ini akan dianalisis peran pedagogis dari sosok guru di dalam novel Lontara Rindu. Analiss dilakukan dengan menelaah deskripsi peran pendidik yang dilakukan oleh tokoh Pak Amin dan Ibu Maulindah lalu dibandingkan dengan teori-teori pendidikan yang menjadi pisau analisis. Teori yang kami jadikan acuan adalah teori pengajaran manusiawi yang dikembangkan Munif Chatif di dalam bukunya Gurunya Manusia. Teori ini dibangun di atas gagasan Kecerdasan Majemuk (multiple inteligence) yang dicetuskan Howard Garndner, juga mengarah kepada kecendrungan baru dunia pendidikan yakni student centered learning, dan pembelajaran kontekstual serta demokratis. Teori ini dikemas di dalam tiga poin besar yakni ; paradigma, komitmen, dan cara dalam mengajar.

  1. Paradigma

Paradigma adalah cara seorang pendidik memandang proses belajar mengajar. Pak Amin sebagai guru memiliki paradigma yang jernih dan maju mengenai porses belajar mengajar dan pihak yang terlibat di dalamnya yaitu para siswa dan dirinya sendiri sebagai guru.  Cara pandang yang khas dari Pak Amin adalah menganggap semua muridnya sebagai juara dan memiliki potensi luar biasa. Meskipun siswa-siswanya terlahir di dusun yang terpencil dengan fasilitas pendidikan yang sangat minim, Pak Amin tetap yakin mereka memiliki potensi untuk maju dan senantiasa memotivasi mereka. Ketika Ibu Maulindah berangkat ke Jepang karena mendapatkan beasiswa, Pak Amin memberikan motivasi kepada Irfan salah satu siswanya untuk tidak takut bermimpi.  Beliau berkata “Saya juga! Saya berharap, kamu jangan terkurung di Bukkere dan Pakka Salo. Dunia ini sangat luas, fan! Kita bisa membuat sayap sendiri untuk terbang. Jangan takut bermimpi! Silahkan mengkhayal yang tingi-tinggi. Khayalan itu akan membuatmu untuk berpikir bagaimana cara menumbuhkan sayap-sayapmu. Jangan takut terbang!” (Halaman 127 ). Paradigma ini sesuai dengan paradigma pengajaran manusiawi yang menganggap semua siswa sebagai sang juara (Chatif, 2012 : 66).

Di samping itu, Pak Amin juga selalu menggali potensi apapun yang dimiliki siswanya, bukan hanya potensi kognitif. Misalnya kecerdasan Bimo dalam mengolah sambal yang enak yang diapresiasinya dengan memberikannya julukan Guru Besar peco’-peco (bahasa Bugis ; sambal) (Halaman 132). Kecerdasan Bimo di dalam teori Kecerdasan Majemuk Howard termasuk kecerdasan Kinestesis (Chatif, 2012 : 56). . Kecerdasan kinestesis siswa-siswanya yang pandai berolah raga futsal juga dikembangkannya dengan mengikutkan mereka di lomba futsal. Siswa lain yang kecerdasannya dikemangkan oleh Pak Amin dan juga Ibu Mulindah adalah tokoh Vito yang gemar bercerita, awalnya kegemaran ini disalah gunakannya untuk berbohong tetapi kemudian diarahkan menjadi lebih positif. Kecerdasan Vito termasuk kecerdasan linguistik.

Pak Amin juga merepresentasikan paradigma pendidikan yang terintegritas antara ilmu umum dan nilai-nilai agama serta nilai-nilai kearifan lokal untuk membangun karakter budi pekerti siswa-siswanya. Hal ini tercermin misalnya dalam percakapan mereka ketika melakukan perjalanan ke sumur Citta peninggalan Nenek Mallomo, tokoh dalam sejarah Bugis yang konon pada masanya terjadi kemarau panjang akibat seseorang yang berlaku tidak jujur. Ketika itu dusun Pakka Salo juga dilanda kemarau berkepanjangan. Pak Amin dengan apik menghubungkan antara hikmah dari cerita tersebut tentang azab yang turun jika manusia tidak jujur, perintah agama untuk berlaku jujur dan keadaan aktual kini yang penuh dengan ketidak jujuran seperti korupsi. Katanya, “Koruptor itu di atasnya pencuri, mereka itu penyamun-penyamun berdasi.”.  Namun Pak Amin tidak sekedar mengutuk keadaan tetapi juga mengajak siswa-siswanya bereleksi, “Kita tanya hati kita masing-masing dan kita jawab masing-masing. Pernahkan kita tidak jujur selama ini? Pernahkan kita mencuri selama ini? Ingat putra Nenek Mallomo yang membawa petaka kemarau hanya mencuri sebatang kayu.” Efek dari refeleksi Pak Amin diceritakan bahwa Sarah, Alaudin dan Adnan siswa-siswanya menjadi menyadari kesalahan mereka (Halaman 140).

Pak Amin tidak memandang profesi guru sebagai subjek yang bertugas “mengisi” siswa-siswanya dengan ilmu-ilmu yang diketahuinya. Paradigma pengajaran Pak Amin adalah guru sebagai fasilitator dalam mengembangkan kecerdasan siswa-siswanya yang beragam. Ketika mengahapi suatu masalah Pak Amin tidak langsung menginstruksikan pemecahan sendiri tetapi menfasilitasi siswa-siswanya untuk berdiskusi mencari pemecahan (Halaman 35). Pak Amin juga berparadigma bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang nakal, jika ada anak yang berkelakuan buruk bisa saja karena mereka sedang tertimpa masalah tertentu. Ksiah Vito yang berubah sikapnya karena sangat merindukan sosok ayah bisa dirasakan oleh Pak Amin dan menjadi pendamping bagi siswanya tersebut (Halaman 73).

  1. Metode Mengajar

Di dalam novel Lontara Rindu ini ditampilkan beragam metode mengajar yang dilakukan oleh Pak Amin. Metode-metode tersebut jika dilihat dari kaca mata teori pedagogik sudah sangat maju dan tidak lagi menggunakan metode-metode lama. Metode-metode yang digunakan Pak Amin cenderung mengikuti tren pendidikan demokratis, student centered learning, quantum teaching, contextual learning atau pendidikan berbasis kecerdsan majemmuk.  Pak Amin tiadak menggunakan metode yang monoton, misalnya ketika mengetahui ternyata Vito gemar dengan certia (kecerdasan linguistik), maka Pak Amin menggunakan metode bercerita dalam menyampaikan materinya (Halaman 96) sambil menanamkan kejujuran. Ibu Maulindah yang awalnya menerapkan metode mengajar monoton melalui ceramah, digambarkan tidak disukai oleh siswanya bahkan menyebabkan para siswa mengntuk. Namun ketika Ibu Maulindah menerapkan metode bercerita ternyata siswa menjadi tertarik dengan pelajaran sejarah yang disampaikannya (Halaman 104).

Pak Amin juga telah menerapkan metode Pembelajaran Kontekstual. Pembelajaran Kontekstual menurut Hernowo adalah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa pembelajar akan menyerap materi dengan sempurna jika mereka dapat menangkap makna pelakaran tersebut (Chatif, 2012 : 74). Pak Amin menerapkan metode ini ketika mengajak siswa-siswanya untuk melihat langsung tempat-temapt bersejarah di tanah Bugis, sambil menceritakan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam kisah yang berkaitan dengan tempat-tempat itu lalu mengubungkannya dengna kejadian aktual. Juga ketika Pak Amin mengajak murid-muridnya untuk mengumpulkan beragama jenis dedaunan dan menjelaskan jenis serta kegunaannya di dalam hutan (Halaman 157).

Metode pembelajaran yang digunakan Pak Amin sangat memperhatikan taksonomi yang dibuat oleh Blooom yakni aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ketiga aspek ini dipupuk melalui metode pembelajaran yang tidak melulu di dalam kelas, namun terkadang ke luar kelas bahkan bemalam di rumah Pak Amin sendiri. Aspek afektif mendapatka porsi yang banyak melalui diskusi yang dibangun Pak Amin mengenai keadaan kampung stiap malam Minggu di rumahnya. Metode student centered learning yang mengutamakan keaktifan siswa terlihat dari caranya yang selalu mempersilakan siswa mengajukan pendapat, pertanyaan atau sekedar saran.

  1. Komitmen

Komitmen yang diperlihatkan oleh Pak Amin dan Bu Maulindah di dalam novel Lontar Rindu sungguh luar biasa. Mereka rela mengajar di dusun terpencil pada sebuah SMP yang masih seatap dengan Sekolah Dasar dengan ikhlas. Meskipun kemudian Ibu Mulindah lebih memilih untuk menerima beasiswa ke Jepang. Namun Pak Amin menunjukan kekokohan komitmen tersebut.

  1. Guru Sebagai Anggota Masyarkat

Di kampung guru benar-benar didengar. Orang tua kedua setelah kedua orang tua kandung. Tak heran, jika saat mendaftarkan anak ke sekolah, orang tua memang berpesan kepada guru untuk mendidiknya bahkan memukulnya kalau memang anaknya melakukan kesalahan. Bahkan beberapa orang tua berpesan, assaleng mutaroangnga nyawana (asal tidak dibunuh). Hal ini bisa dilihat ketika Pak Amin mengatakan: “menurut dokter, dia kecapekan lalu pingsan.” kepada mama Vito yang ketika itu melihat anaknya terbaring dengan mata terbuka dan senyum yang dipaksakan dan mengatakan: “sudah berkali-kali saya bilang, Nak! Jangan main di belakang sekolahmu di sana ada penunggunya.” dan Vito menjawab: “ saya bukan agessang-gessang (kesambet), Ma!” akan tetapi mama Vito masih ngotot bahwa anaknya pingsan karena kesambet namun karena mendengar perkataan Pak Amin sebagai gurunya Vito akhirnya mama Vito mempercayai perkataan Pak Amin (hal. 62)

Satu Balasan ke “Sosok Guru Di Dalam Sastra : Analisis Novel “Lontara Rindu””

  1. S. Gegge Mappangewa mengatakan:

    Thanks apresiasinya!

Tinggalkan Balasan

  • yang mampir

    Flag Counter
  • Kategori Tulisan

  • Tag Tulisan

  • 8 Standar Nasional Pendidikan aliran optimisme aliran pendidikan aliran pesimisme Belajar Fikih Belajar Islam etika islam feminisme fikh wanita FIkih Wanita filsafat pendidikan gender guru Haid Ibadah ilmu bermanfaat ilmu dalam islam imam wanita israel itihad jilbab syar'i kajian hadis kompetensi guru lontara rindu Muhammadiyah najis nasib guru palestina pedagogik pembelajran kontekstual Pemikiran dan Gerakan Islam pemikiran Islam pendidikan islam pengembanan pendidikan indonesia Pengembangan dan Analisis Kurikulum PAI peranan guru politik islam sastra standar isi adalah standar isi pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan standar proses adalah standar sarana dan prasarana pendidikan student centered learning tarjih dan tajdid trik blog umy tutorial wanita zionis zionisme