APA KABAR EKONOMI INDONESIA?

30 September 2018

Setiap Negara di seluruh dunia ini pasti memiliki grafik perkembangan ekonomi yang berbeda-beda. Begitu pula dengan Indonesia, perekonomian Indonesia pun selalu fluktuatif. Artinya, tidak selamanya tingkat perekonomian berada pada posisi yang stabil. Ada kalanya perekonomian jatuh ke titik paling rendah atau sering disebut dengan krisis. Lalu bagaimana keadaan perekonomian Indonesia pada tahun 2017 sampai dengan triwulan ketiga tahun 2018 ini?

Berdasarkan artikel yang dikeluarkan oleh World Bank pada laman worldbank.org, perekonomian Indonesia pada tahun 2017 diawali dengan kuat dan fundamental yang kokoh membuahkan peningkatan kredit yang dibuktikan dengan peningkatan peringkat kredit dari Standard and Poor (S&P). Indonesia masih perlu melanjutkan pencapaian reformasi struktural untuk memperluas potensi ekonomi.

Pada triwulan pertama tahun 2017, PDB tumbuh menjadi 5,0% karena terangkat oleh pulihnya tingkat konsumsi pemerintah dan melonjaknya nilai ekspor. Adanya lonjakan tarif dasar listrik pada tahun 2017 untuk rumah tangga yang memakai 900 VA telah menyebabkan kenaikan inflasi menjadi 3,61 persen. Sejumlah indicator ekonomi menunjukkan kinerja positif seperti penurunan tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, dan rasio gini.

Namun secara umum, kinerja perekonomian nasional sepanjang tahun 2017 bergerak stagnan. Pertumbuhan ekonomi hanya mampu mencapai 5,05%, masih berada dibawah target yang di asumsikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu sebesar 5,2%.

Memasuki tahun 2018 pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan, mengingat 2018 merupakan tahun politik. Selain itu, ada dua agenda penting yang akan digelar di Indonesia pada tahun 2018 yaitu perhelatan Asian Games dan konferensi Internasional Monetery Fund (IMF). Tentu saja hal itu akan menjadi suatu ajang untuk membuktikan bahwa Indonesia itu tidak kalah dengan Negara yang lain.

Namun pada bulan September kemarin, perkembangan ekonomi mengalami guncangan. Dimulai dengan langkah normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat yaitu suku bunga di Amerika Serikat dinaikkan, dan likuiditas dollar Amerika di perketat. Dampak dari kebijakan Amerika Serikat dirasakan seluruh dunia dalam bentuk suku bunga dollar meningkat, arus modal ke seluruh dunia terutama ke Negara berkembang dan emerging menurun, dan ketidakpastian perdagangan internasional. Hal tersebutlah yang membuat rupiah mengalami depresiasi sampai menyentuh angka 15.000 per dollar AS.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, untuk menjaga stabilitas dan kelanjutan kemajuan perekonomian Indonesia menghadapi guncangan dunia tersebut, pemerintah harus memperhatikan empat aspek perekonomian. Pertama, aspek sektor riil yang ditunjukkan dengan indikator pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB). Kedua, aspek fiskal, yaitu APBN meliputi penerimaan, belanja Negara dan pembiayaan. Ketiga, aspek moneter serta sektor keuangan, dan keempat adalah aspek neraca pembayaran. Dari sisi moneter, inflasi sangat terjaga pada posisi 3,2% di semester I 2018 ini. Pada sisi fiskal, penerimaan Negara di semester I telah mencapai 44,0% dari target dan pertumbuhan penerimaan pajak membaik 14,3%.

 

Reference:

www.worldbank.org

www.kemenkeu.go.id


Harapan setelah menyelesaikan semester ini:

  • Lulus dalam semua mata kuliah
  • Ipk naik
  • Paham materi yang akan disampaikan dalam semua mata kuliah
  • Bisa lebih disiplin waktu
  • Trip Malang-Bromo bereng temen-temen
  • Lebih punya relasi yang lebih banyak lagi
  • Proposal di acc
  • Dapat pengalaman baru yang tak terlupakan
  • Menjadi lebih siap untuk menyambut semester 6
  • Semua harapan dapat terwujud

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar