INDONESIAN ECONOMY : COMPETENCY EXAM 1

11 November 2018
  1. Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia dalam 5 tahun terakhir?

Dari data diatas yang bersumber dari Badan Pusat Statistik, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia cukup fluktuatif. Artinya pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak berjalan dengan stabil, adakalanya turun dan adakalanya pertumbuhan ekonomi beranjak naik. Hal tersebut tentu saja dipengaruhi oleh beberapa aspek. Mari kita ulas apa yang terjadi dalam jangka waktu 5 tahun terakhir sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi berjalan fluktuatif.

Pada tahun 2013, terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya, yaitu sekitar 0,63 persen. Walaupun mengalami penurunan, menurut kepala Badan Pusat Statistik, kegiatan ekspor Indonesia mengalami peningkatan secara signifikan. Selain dalam sektor ekspor, ada beberapa sektor lain yang mengalami peningkatan, yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,19 persen; sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan tumbuh sekitar 7,56 persen; sektor kontruksi tumbuh sekitar 6,57 persen; dan dalam sektor pertambangan tumbuh sekitar 1,34 persen.

Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan kembali dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi turun sekitar 0,54 persen. Dari sisi eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspor yang menurun akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global, serta adanya kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara keseluruhan menurun, ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan berlanjutnya pemulihan AS. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut didorong oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program penghematan anggaran.

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 dinilai menjadi pertumbuhan ekonomi paling rendah sejak 5 tahun terakhir. Lesunya perekonomian global pada beberapa tahun terakhir membuat pertumbuhan ekonomi banyak Negara melambat. Penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 adalah anjloknya konsumsi rumah tangga. Anjloknya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh terjadinya kenaikan bahan pangan. Mahalnya bahan pangan membuat masyarakat mengurangi belanjanya.

Pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 adalah sekitar 5,02 persen. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2,72 persen. Selain konsumsi rumah tangga, investasi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi selanjutnya sebesar 1,45 persen. Namun sumber pertumbuhan ekonomi lainnya seperti ekspor, konsumsi pemerintah, dan impor justru tumbuh negatif sekitar -1,74 persen, -0,15 persen, dan -2,27 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 menunjukkan hasil yang bagus walaupun masih berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah. Sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 adalah dari industri pengolahan yakni 0,91 persen. Selain itu, disusul sektor konstruksi sebesar 0,67 persen, perdagangan 0,59 persen, dan pertanian 0,49 persen.

 

  1. Dalam era revolusi industri 4.0 ini, apa kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi Negara yang lebih maju?

Era revolusi industri 4.0 adalah era dimana dunia akan menekankan pada pola digital economy, robotic dan lain sebagainya karena masa sekarang ini perkembangan teknologi sudah semakin canggih. Adanya arus globalisasi, Indonesia akan turut serta dalam mengimplementasikan revolusi industri 4.0 ini. Maka dari itu pemerintah harus bekerja keras dalam menentukan strategi dan kebijakan yang sesuai dengan era revolusi industri 4.0. Bukan hanya aspek ekonomi saja, namun seluruh aspek lain, seperti pendidikan, juga harus di perbaharui kebijakannya. Memasuki era digital yang serba ‘online’ maka kebijakan apapun yang dibuat oleh pemerintah haruslah transparan. Sehingga masyarakat akan lebih mudah mendapatkan informasi melalui internet secara online. Sebelum pemerintah melakukan inovasi dalam perkembangan teknologi yang akan di implementasikan di Indonesia, akan lebih bijak jika pemerintah mempersiapkan dari sisi sumber daya manusia terlebih dahulu. Pemerintah harus memastikan agar “para orang yang akan menggunakan” teknologi tersebut benar-benar paham dengan tujuan di adakannya inovasi teknologi tersebut. Pemerintah di harapkan mampu mendorong masyarakat khususnya para angkatan kerja di Indonesia untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilannya untuk memahami penggunaan internet di sektor produksi maupun non-produksi. Dalam hal ini sistem pengajaran dan kemahasiswaan di perguruan tinggi juga harus mengalami inovasi demi menciptakan generasi yang paham akan teknologi. Selain mahasiswa, para dosen pun diharapkan mampu paham akan penggunaan teknologi. Adanya kolaborasi dengan para dosen dari luar negeri bisa dijadikan peluang untuk penggunaan teknologi dalam pengembangan riset dan inovasi. Selain dalam aspek pendidikan, teknologi digital dapat digunakan dalam memacu produktivitas dan daya saing industri kecil dan menengah dalam menembus pasar global. Dengan adanya penggunaan teknologi digital ini akan memberikan keuntungan bagi industri karena dapat mengehemat biaya produksi. Namun perlu ditekankan bahwa penggunaan teknologi digital ini tidak sepenuhnya menggantikan tenaga kerja manusia, akan tetapi penggunaan teknologi digital ini hanya sebagai alat bantu untuk mempermudah pekerjaan manusia. Sehingga jangan khawatir akan menimbulkan pengangguran dengan adanya penggunaan teknologi ini. Dengan memasuki revolusi industri 4.0 ini pemerintah harus lebih banyak mengembangkan startup untuk memfasilitasi tempat berbisnis. Sehingga perekonomian di Indonesia juga akan berkembang dengan pengimplementasian revolusi industri 4.0.

 

  1. Jelaskan bagaimana politik mempengaruhi perekonomian?

Politik dan ekonomi adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Dunia politik sangat berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi suatu bangsa atau daerah. Dalam pengembangan ekonomi, sangatlah penting mempertimbangkan risiko politik dan pengaruhnya terhadap kelangsungan ekonomi. Hal ini patut dipertimbangkan karena perubahan dalam suatu kebijakan politik di suatu Negara atau wilayah akan dapat menimbulkan dampak besar bagi sektor keuangan, bisnis, dan perekonomian di Negara atau wilayah tersebut. Jika situasi politik mendukung, maka bisnis secara umum akan berjalan dengan lancar. Maka, kinerja sistem ekonomi-politik sudah berinteraksi satu sama lain.

Misalnya IMF atau Bank Dunia dan para investor asing mempertimbangkan peristiwa politik suatu Negara dalam menentukan kerjasama dalam bidang ekonomi. Dari segi pasar saham, situasi politik yang kondusif akan membuat harga saham naik. Sebaliknya, jika situasi politik tidak menentu maka akan menimbulkan ketidakpastian dalam bisnis.

 

  1. Berikan data tentang anggaran daerah, dan jelaskan.

Dari data APBD D.I. Yogyakarta di atas terlihat bahwa total pendapatan bagi daerah selalu meningkat dari tahun 2013 sampai dengan 2017, sedangkan total belanja yang selalu lebih tinggi daripada total pendapatan. Terlihat bahwa dalam APBD DIY selalu mengalami defisit, karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Pada tahun 2013, total defisit yang dialami adalah sekitar 168,06 milliar rupiah. Sedangkan pada tahun 2014, 2015, 2016, dan 2017 tercatat total defisit yang dialami adalah 229,87 milliar rupiah, 271,92 milliar rupiah, 268,92 milliar rupiah, dan 212,01 milliar rupiah.

  1. Jelaskan apa saja tipe sistem nilai tukar mata uang.
  • Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed Exchange Rate)

Pada sistem nilai tukar tetap ini, mata uang suatu negara ditetapkan secara tetap dengan mata uang asing tertentu, misalnya, mata uang rupiah ditetapkan secara tetap terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Dengan penetapan nilai tukar secara tetap, terdapat kemungkinan nilai tukar yang ditetapkan terlalu tinggi (overvalued) atau terlalu rendah (under-valued) dari nilai sebenarnya.

Banyak negara meninggalkan sistem nilai tukar tetap sehingga sebagian kecil negara yang menerapkan sistem ini. Terdapat dua penyebab utama suatu negara meninggalkan sistem ini. Pertama, dapat mengganggu neraca perdagangan, Dengan menerapkan sistem nilai tukar tetap, maka nilai tukar mata uang domestik akan dapat lebih mahal dibandingkan dengan nilai sebenarnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan barang-barang ekspor suatu negara lebih mahal di luar negeri dan akan mengurangi daya kompetisi dan selanjutnya akan menurunkan volume ekspor. Di sisi impor, nilai tukar yang over-valued mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih murah dan impor dapat meningkat. Secara keseluruhan nilai tukar yang over-valued akan memperburuk neraca perdagangan suatu negara. Kedua, ketidakcukupan cadangan devisa untuk mempertahankan sistem ini. Negara–negara yang mempunyai cadangan devisa sedikit akan rentan terhadap serangan nilai tukar karena negara tidak mempunyai cadangan devisa yang cukup untuk intervensi ke pasar valas dalam mempertahankan nilai tukar.

  • Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (Floating Exchange Rate)

Dalam sistem nilai tukar mengambang penuh, mekanisme penetapan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing ditentukan oleh mekanisme pasar. Dengan demikian, pada sistem ini nilai mata uang akan dapat berubah setiap saat tergantung dari permintaan dan penawaran mata uang domestik relatif terhadap mata uang asing dan perilaku spekulan. Dalam sistem nilai tukar mengambang murni, bank sentral tidak menargetkan besarnya nilai tukar dan melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing.

Terdapat dua argumentasi mengapa banyak negara-negara mengunakan sistem nilai tukar mengambang. Pertama, sistem ini memungkinkan suatu negara mengisolasikan kebijakan ekonomi makronya dari dampak kebijakan dari luar sehingga suatu Negara mempunyai kebebasan untuk mengeluarkan kebijakan yang independen. Kedua, sistem ini tidak memerlukan cadangan devisa yang besar karena tidak ada kewajiban untuk mempertahankan nilai tukar. Namun, penggunaan sistem ini juga mempunyai kelemahan, yaitu penetapan nilai tukar berdasarkan pasar dapat mengakibatkan nilai tukar berfluktuasi. Depresiasi nilai tukar dapat mengakibatkan peningkatan harga barang-barang impor dan pada lanjutannya memicu inflasi di dalam negeri.

  • Sistem Nilai Tukar Tetap tetapi Dapat Disesuaikan (Fixed but Adjustable Rate)

Sistem nilai tukar fixed but adjustable rate (FBAR) merupakan kombinasi dari sistem nilai tukar tetap dengan sistem nilai tukar mengambang murni. Dalam sistem nilai tukar FBAR, besarnya nilai tukar ditetapkan oleh pembuat kebijakan, bank sentral, dan dipertahankan melalui intervensi langsung di pasar valuta asing atau bank sentral mengarahkan pasar dengan jalan menjual dan membeli valuta asing dengan harga tetap. Sistem ini dicirikan dengan adanya komitmen dari bank sentral/pemerintah untuk mempertahankan nilai tukar sebesar tertentu. Nilai tukar dapat berubah, tetapi penyesuaiannya jarang dilakukan untuk menjaga kredibilitas. Perubahan nilai tukar mencerminkan persepsi resmi dari pemerintah mengenai perubahan fundamental ekonomi yang memerlukan penyesuaian nilai tukar atau terdapatnya tekanan pasar yang kuat yang mempengaruhi cadangan devisa sehingga memaksa perlu penyesuaian nilai tukar.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar