REST BLOG

Natural Disaster and Earthquake Engineering

HAFALAN-SHALAT-DELISAPENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia, dan dilebihkan atas makhluk yang lain. Salah satu letak kelebihan tersebut adalah Allah memberikan akal pada manusia, sehingga dengan akal tersebut manusia bisa merasakan, menimbang dan menentukan pilihan jalan hidupnya (freedom to choose). Dengan adanya akal tersebut, manusia bisa membuat pilihan secara sukarela, bebas dari segala kendala ataupun tekanan yang ada, yang dikenal dengan istilah Free Will.

Free Will pada setiap orang sangat dipengaruhi oleh challenge, incentive, urge dan meaning. Challenge merupakan tantangan yang dihadapi oleh seseorang, sehingga ia terdorong untuk melakukan sesuatu, seperti tanggung jawab, tuntutan dari orang lain, kepercayaan (trust), target, kompetisi dan sebagainya. Incentive merupakan penghargaan (support) yang biasanya akan diterima seseorang setelah melakukan sesuatu, seperti pengakuan, dukungan, prestasi dan sebagainya. Urge adalah gejolak atau dorongan dalam diri manusia yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan masa lalu, seperti keinginan, kebutuhan, dendam, iri dengki, dan sebagainya. Sedangkan Meaning adalah tujuan yang diambil  seseorang dalam mengarungi hidup.

Setiap orang akan memiliki challenge, incentive, urge dan meaning yang berbeda-beda, dan akan mempengaruhi free will yang akan diambil dalam hidupnya. Namun demikian,  pada setiap pilihan tersebut terdapat konsekuensi-konsekuensi pada masa yang akan datang. Sehingga kebebasan untuk memilih tersebut sebenarnya bukan kebebasan yang tanpa batas melainkan kebebasan yang menuntut pertanggungjawaban.

Tidak semua manusia menyadari bahwa apa yang dipilihnya harus dia pertanggungjawabkan pada kemudian hari, sehingga sebagian manusia menentukan pilihannya dengan mengikuti hawa nafsu semata tanpa memperhatikan rambu-rambu dari sang pencipta.

Pilihan hidup yang diambil oleh seseorang akan sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tersebut akan hakekat kehidupan, dan didukung oleh lingkungan yang melatarbelakangi kehidupannya. Sebagai contoh, orang yang memiliki pemahaman bahwa hidup di dunia semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan mencari bekal untuk kehidupan yang kekal abadi yaitu akherat, maka pilihan yang akan diambil senantiasa diselaraskan dengan tuntunan agama atau petunjuk dari kitab suci. Sehingga orang tersebut tidak akan merasakan berat dalam melakukan ketaatan kepada sang Pencipta, karena dia memiliki harapan untuk memperoleh syurga. Namun tingkat pemahaman seseorang akan hakekat kehidupan itu sangat beragam, sehingga Free Will  yang diambil oleh setiap orang akan berbeda satu dengan yang lainnya.

 

FILM “HAFALAN SHALAT DELISA”

Film “Hafalan Shalat Delisa” merupakan visualisasi dari novel karya Tere Liye, mengisahkan kehidupan suatu keluarga yang tinggal di Lhok Nga, sebuah desa kecil yang berada di tepi pantai Aceh. Tokoh utama dalam film tersebut adalah Delisa, anak bungsu dari keluarga Abi Usman dan  Umi Salamah. Delisa memiliki tiga orang kakak yaitu Fatimah, Aisyah dan Zahra.  Ayah Delisa bekerja di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional, sehingga keseharian Delisa tinggal bersama ibu dan tiga orang kakaknya. Umi Salamah, ibu Delisa mendidik sangat menanamkan ajaran Islam kepada anak-anaknya, yang meliputi seluruh aspek manusia, yaitu ruh, akal dan jasad.

Dengan berbekal pendidikan ruhiyah, Delisa bisa memaknai kehidupan, yang pada  hakekatnya apa yang dilakukan di dunia ini adalah untuk Allah swt. Terbukti Delisa mampu mengucapkan “Delisa mencintai Umi karena Allah” dan “Delisa mencintai Abi karena Allah.” Sementara itu, ketika timbul rasa iri Aisyah kepada Delisa, karena Delisa akan mendapatkan hadiah dari Umi dan Abi apabila hafalan doa amali sholat, maka Umi Salamah menasehati Aisyah dengan mengajarkan cara berfikir yang baik (menggunakan akal). Umi Salamah tidak hanya memarahi Aisyah dan member doktrin ajaran agama, tetapi mengajak Aisyah berfikir dan menemukan kebenaran. Dialog antara Umi dengan Aisyah (ketika Aisyah menangis) berikut ini sangat bagus dan mengandung unsur tarbiyah ruhiyah (pendidikan ruh).

Umi:       “Aisyah, kenapa menangis nak?”

Aisyah:    “Aisyah sebel, Delisa akan mendapatkan hadiah kalung”.

Umi:       “Aisyah dulu sudah dapat kalung juga kan?”

Aisyah:    “Tapi kalung Delisa lebih bagus, ada huruf D nya, sedangkan punya Aisyah tidak”

Umi:       “Jadi, dulu Aisyah hafal bacaan shalat hanya untuk dapat kalung?”

Aisyah:    “Bukan, kata Ustadz Rahman biar dapat hadiah syurga”.

Umi:       “Nak, jangan iri hati ya.. Lagi pula kalung Aisyah dan Delisa sama saja kok. Tapi Aisyah tak boleh mudah cemburu dengan barang-barang yang bukan milik kita. Apalagi kalau barang itu milik adik kita sendiri. Ya?…

Aisyah:    “Maaf Umi..”

Umi:       “Gak papa sayang..”

Kemudian Umi dan Aisyah mencium pipi kanan, pipi kiri dan dahi Umi.

Tarbiyah jasadiyah (aspek jasad/fisik) jelas sekali terlihat pada penunaian sholat lima waktu dengan berjamaah dan tepat waktu. Selain itu juga tugas hafalan sholat pada anak-anak seusia Delisa merupakan penekanan pada aspek jasad.

Dalam film ini terdapat pelajaran menarik yang bisa dipetik. Delisa sebagai tokoh utama dalam film tersebut, diceritakan sebagai seorang anak kecil yang mempunyai kepribadian yang kokoh. Hal itu terbukti dengan berbagai penderitaan yang dialami, Delisa tetap mampu menguasai gejolak jiwanya dan bahkan dapat menjadi sosok yang bermanfaat bagi sekitarnya. Padahal Delisa adalah anak kecil yang mengalami penderitaan yang sangat berat. Akibat bencana tsunami Aceh tahun 2004, Delisa  kehilangan ibu dan tiga orang kakaknya sekaligus, bahkan kehilangan salah satu kakinya. Tetapi penderitaan yang luar biasa tersebut tidak membuat Delisa stress dan putus asa, tetapi justru Delisa akhirnya menemukan hakekat kehidupan yang paling dalam, yaitu arti ikhlas yang sesungguhnya.

Kepribadian yang dimiliki Delisa merupakan bagian yang paling menarik dari film “Hafalan Shalat Delisa” ini. Kepribadian yang bersumber dari keikhlasan terbukti sangat kokoh dan mampu menghadapi permasalahan yang besar dan pelik. Bahkan ketika Delisa mendapat ujian dan cobaan yang sangat berat, Delisa tidak tenggelam dalam kesedihan, dan dapat menerima ujian tersebut dengan ikhlas.

Kepribadian Delisa terlihat semakin indah manakala ditampilkan tokoh-tokoh lain yang memiliki ruhani yang ringkih. Bahkan ustadz Rahman yang perkataannya sangat didengarkan oleh Delisa sempat mengalami depresi juga, dan justru dengan melihat keikhlasan Delisa, ustadz Rahman menjadi tersadar dari stress nya.

KEPRIBADIAN DELISA

Film berjudul “Hafalan Shalat Delisa”  sarat akan ajaran agama Islam seperti ajaran ketaatan dalam beribadah, akhlaq mulia, berbakti kepada orang tua, saling mencintai karena Allah, kekhusyu’an, keikhlasan, dan sebagainya. Selain itu, juga terdapat teladan yang baik (qudwah hasanah)  dalam karakter yang dimiliki oleh para tokok-tokohnya seperti Delisa, Umi Salamah, Abi Usman, Fatimah, Aisyah, Zahra, Pak Cik Acan, Ustadz Rahman dan lain-lainnya.

Delisa sebagai tokoh utama film, memiliki kepribadian yang mempesona, yang menjadikan film ini terasa mencuci hati para penontonnya. Kepribadian Delisa itu adalah sebagai berikut:

1.      Positif Thinking dan syukur Ni’mat.

Delisa mempunyai karakter yang mudah mensyukuri nikmat Allah, berfikir positif (positive thinking) serta mudah mengikhlaskan segala kejadian yang dia alami meskipun kejadian itu tidak menyenangkan. Karakter ini terlihat pada beberapa adegan film sebagai berikut:

  • Ketika Delisa siuman dari pingsannya dan tersadar bahwa dia kehilangan kakinya, Delisa nampak sedih dan mengatakan “Kaki Delisa terbawa air?”. Akan tetapi kesedihan itu tidak berlangsung lama, dan beberapa menit kemudian Delisa sudah bisa tersenyum sambil menggerakkan satu kakinya yang masih ada dan mengatakan “Kaki Delisa yang satu bisa digerakkan”.  Delisa bisa dengan cepat mengikhlaskan petaka yang menimpanya, dan berfikir positif dengan melihat kakinya yang masih ada.  Dengan modal kepribadian yang mulia ini, Delisa bisa dengan mudah menjalani hari-hari yang sangat sulit ketika awal-awal dia menemukan identitas dirinya dan belajar berjalan. Walaupun musibah yang dialami Delisa cukup berat, tapi Delisa melalui hari-harinya dengan riang, bukti bahwa dia menerima ketentuan Allah ini dengan ikhlas.

 

  • Kemuliaan pribadi Delisa juga nampak dalam dialognya dengan Abi Usman, sesaat setelah Abi Usman menemukan Delisa di rumah sakit. Ketika Abi Usman mengatakan bahwa Kak Fatimah, Zahra dan Aisyah sudah meninggal dan Umi belum ditemukan, maka Delisa justru menghibur abinya dengan mengatakan “Abi sedih ya? Delisa bikin Abi sedih, maaf ya bi.” Dalam perkataan ini nampak pribadi Delisa yang selalu ingin bisa memberi dan bukan menuntut pemberian orang lain. Delisa ingin dirinya bisa membahagiakan abinya, berbeda dengan kebanyakan anak seusianya yang menginginkan agar orang tuanya membahagiakannya dengan menuruti semua permintaannya.

Pribadi yang dimiliki Delisa bukan datang dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil didikan Uminya yang dengan telaten menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya, serta mengajarkan ketaatan dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt seperti sholat tepat waktu dan akhlak yang terpuji.

2.   Delisa adalah seorang anak yang professional.

Delisa mampu menguasai dirinya untuk membuang sisi gelapnya dan fokus kepada kebermaknaan. Pengalaman (urge) yang dialami Delisa cukup pahit, dengan kehilangan umi dan tiga kakaknya sekaligus, bahkan dia juga kehilangan kakinya, tetapi Delisa mampu menepis pengalaman buruknya itu dan mengangkat Free Will-nya untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidupnya (meaning) yaitu kebermaknaan. Free will yang diambil Delisa ini tidak mudah dan membutuhkan perjuangan dan perang batin melawan gejolak-gejolak jiwanya yang diwarnai oleh penderitaan. Perang batin yang terjadi pada diri Delisa nampak sekali disaat kondisi yang tidak mengenakkan bertubi-tubi dia alami, hingga membuat Delisa terpukul. Akan tetapi kondisi labil pada diri Delisa tidak terjadi berlarut-larut, dan dengan cepat Delisa mampu mengatasinya. Hal itu nampak pada beberapa adegan film berikut:

  • Ketika beberapa waktu hidup berdua dengan abinya saja dan rasa rindu kepada uminya mulai menggelayut, timbul ketidakstabilan pada diri Delisa dan sempat terjadi percekcokan dengan abinya, hingga Delisa menangis. Dan Delisa pun sempat mengecewakan abinya, yaitu ketika merasakan masakan abinya terlalu asin, maka Delisa tidak mau makan dan mengatakan:  “Kalau nasi gorengnya umi enak, tidak keasinan dan tidak kemanisan. Kalau nasi gorengnya umi ada bawang gorengnya,….” Hingga terjadi percekcokan dengan abinya, dan membuat Delisa terlihat sangat sedih. Tetapi kondisi itu tidak berlangsung terlalu lama, dan dengan cepat Delisa bisa mengusir kegusarannya, menghapus air matanya dan mengambil tindakan yang bijaksana serta kembali berdialog bersama abinya dengan perkataan yang menyegarkan suasana. Bahkan ketika kemudian dimasakkan mie oleh Pak Cik Acan, Delisa dengan cerdas mengeluarkan joke yang segar, seperti menawarkan masakan Pak Cik Acan kepada penduduk sekitar.

 

  • Pada hari berikutnya Delisa bisa mengambil pelajaran dari percekcokannya dengan abinya, dan tambah hari Delisa bertambah bijaksana. Ketia hari berikutnya masakan abi Usman tetap tidak enak, Delisa mau makan masakan abinya dan mengatakan: “Hari ini Delisa makan masakan abi saja, lama-lama masakan abi juga enak seperti masakan umi.” Dengan demikian hubungan antara Abi Usman dan Delisa menjadi bertambah hangat.

 

  • Pada peristiwa lain, yaitu ketika Umminya Umam ditemukan, semula Delisa mengira bahwa yang ditemukan adalah umminya Delisa. Ketika tahu, ternyata yang ditemukan adalah umminya Umam, maka Delisa merasa terpukul dan rasa sedih telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayangi kembali menyeruak. Sempat terucap dari bibir Delisa: “Masa’ Umam yang nakal umminya bisa ketemu, Allah tidak adil pada Delisa”. Setelah peristiwa itu, Delisa mengalami depresi hingga sakit dan dirawat di rumah sakit, tapi kehadiran orang-orang disekitar Delisa seperti ustadz Rahman, Pak Cik Acan dan warga lain membuat Delisa mampu menghadapi kehidupannya kembali dengan tegar. Di sini nampak sekali bahwa Delisa adalah manusia biasa. Penderitaan yang begitu berat bisa menimbulkan perubahan karakter pada seseorang. Tetapi Delisa adalah sosok yang mempunyai kekuatan mengambil setiap hikmah dari kejadian yang dia laluinya, dan menggantungkan segala permasalahannya kepada Allah semata. Sehingga ketika kondisi mentalnya sedang “down”, maka dengan sedikit bantuan orang di sekitarnya, Delisa bisa segera bangkit dan mengusir kenangan pahitnya menuju kebermaknaan.

 

  • Bahkan keberuntungan Umam tidak menjadikan Delisa iri dan tidak mengurangi Free Will Delisa dalam menuju kebermaknaan. Hal itu terlihat ketika Delisa mendapat kiriman coklat dari kak Sofie, maka coklat itupun dibagi-bagi oleh Delisa termasuk untuk Umam.

3.      Delisa memiliki kekuatan motivasi yang sangat besar atau dalam teori R.U.H disebutkan sebagai Optimum Opportunity

Delisa memiliki harapan (hope) yang  sangat kuat dan menyadari betul akan besarnya risiko (Risk) yang mengancam dirinya, sehingga usaha yang dilakukannya benar-benar optimal. Ketika terjadi tsunami, Delisa hanyut terbawa air dan beberapa hari pingsan di cadas bukit. Beberapa saat setelah sadar dari pingsannya, Delisa faham benar bahwa dirinya harus bertahan hidup hingga pertolongan datang, meskipun dia melihat mayat-mayat temannya, Tiur dan lainnya tergeletak dekat dengan dirinya. Berbagai upaya dia lakukan, dari meminta tolong hingga berusaha meraih buah apel yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berbaring. Delisa mempunyai usaha yang gigih untuk mempertahankan hidupnya karena dia punya harapan yang cukup kuat akan datangnya pertolongan. Dan akhirnya apa yang diharapkan Delisa pun menjadi kenyataan, dengan ditemukannya Delisa oleh Prajurit Smith.

Dalam menghadapi musibah yang berat, Delisa memiliki hope yang tidak sebatas materi, tetapi harapannya jauh menembus ke alam ukhrawi. Keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian terlihat sangat kuat. Hal itu nampak ketika dia menyaksikan lokasi pemakaman masal, Delisa mengatakan “Berarti sekarang mereka gak kesepian ya abi, justru sekarang Delisa yang kesepian, hanya bersama abi.”

Anak seusia Delisa sudah mampu memahami bahwa setelah kematian ada kehidupan lain yang lebih kekal abadi. Bahwa orang yang baik, nantinya akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di alam akherat. Bahwa Umi dan kakak-kakaknya tidak menderita, tetapi mereka bahagia di syurga. Dan keyakinan inilah yang membuat Delisa mempunyai harapan yang tinggi (hopefull).

Kekuatan hope Delisa tidak hanya bermanfaat bagi pribadi Delisa saja, tetapi mampu menjadi penyejuk bagi yang lainnya. Bahkan, tidak hanya menjadi penyejuk bagi anak-anak seusianya saja, tetapi hingga orang dewasa seperti Abi Usman, Pak Cik Acan, Kak Sofi, Prajurit Smith, bahkan Ustadz Rahman yang guru ngajinya juga ikut merasakan manfaat dari keindahan pribadi Delisa.  Kehadiran Delisa sangat bermanfaat bagi sesama, nampak dalam beberapa peristiwa berikut ini:

-          Ketika Delisa menyaksikan istri dan anak dari salah seorang korban yang bernama Michael sedang menangis di atas pusara, Delisa menghibur dengan mengatakan “Michael tidak akan sendirian, pasti dia sudah berteman dengan yang lain.” Bahkan ditambah dengan kreatifitasnya menuliskan nama-nama korban yang dia kenal termasuk Michael di atas tanah, maka istri dan anak Michael-pun menjadi tersadar bahwa Michael tidak sendirian. Padahal sesungguhnya penderitaan Delisa jauh lebih berat dibandingkan penderitaan yang dialami oleh istri dan anak Michael. Tetapi kekuatan motivasi Delisa menjadi power untuk merubah penderitaan menjadi kebahagiaan.

 

-          Ketika Delisa bertemu dengan ustadz Rahman, nampak keceriaan dan optimisme mewarnai kehidupan Delisa, bahkan Delisa tetap bermain sepak bola meskipun dengan satu kaki. Padahal ustadz Rahman yang “guru ngaji” Delisa masih larut dalam duka dan belum bisa ikhlas menerima musibah yang sangat berat tersebut. Dengan bantuan Kak Sofie, ustadz Rahman belajar dari sosok Delisa yang dengan ikhlas menerima kenyataan, kehilangan tiga orang kakaknya, uminya, dan juga kakinya.

 

-          Delisa berhasil mengajari Umam untuk berdialog di atas pusara saudara-saudaranya yang sudah mendahuluinya, sebagai cara untuk melepas rindu dan mengikhlaskan kepergiannya.

4.      Ikhlas

Delisa mampu mengambil hikmah dari peristiwa pahit yang dia alami, yaitu memahami arti ikhlas yang sesungguhnya. Dahulu Delisa menghafal lafadz sholat karena mengharap mendapatkan hadiah kalung, tetapi di akhir cerita Delisa berubah motivasinya. Hafalan sholat Delisa tidak lagi untuk mendapatkan kalung, tetapi karena Allah, biar bias mendoakan umi dan kakak-kakaknya dan kelak bertemu lagi dengan mereka di syurga. Sehingga ketika abinya mengatakan: “Nanti kalau Delisa lulus hafalan sholatnya, abi ada hadiah seperti hadiah umi.” Kemudian Delisa mengatakan: “Tidak abi, Delisa tidak ingin hadiah apa-apa. Delisa Cuma ingin bias sholat dengan baik, jadi Delisa bisa mendoakan Umi, Kak Aisyah,  Kak Fatimah, Kak Zahra, keluarga Tiur, kakak-kakak Umam, dan yang lainnya. Dan nampak hafalan sholat Delisa lebih khusyu’. Motivasinya untuk bisa bertemu dengan Uminya di syurga begitu kuat.

Bahkan Delisa yang masih kecil sanggup mengikhlaskan kepergian Umi dan kakak-kakaknya walaupun harus menanggung rindu, supaya mereka tenang di Alam kubur.

HIKMAH

Setelah menyaksikan Film “Hafalan Sholat Delisa”, beberapa hikmah yang bisa dipetik adalah:

  1. Pendidikan ruhani sejak dini sangat penting, untuk membentuk kepribadian yang kokoh.
  2. Kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi yang dimiliki, dimana kekuatan motivasi tersebut dipengaruhi oleh harapan (hope) dan kesadaran akan adanya risiko (risk) pada masa yang akan datang.
  3. Orang yang professional adalah orang yang mampu menyingkirkan sisi gelapnya (pengalaman pahit) dan membawa free will untuk menggapai tujuan hidupnya (meaning) yaitu kebermaknaan.
  4. Hope tentang adanya syurga dan balasan di hari kemudian terbukti mampu membawa seseorang pada keikhlasan, dan lebih mudah menepis sisi gelapnya menuju kebermaknaan.
  5. Keikhlasan merupakan kunci kesuksesan manusia menuju kebermaknaan.

 

Categories: intermezzo
Avatar of Restu Faizah

About Restu Faizah

Restu Faizah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Popular Posts

Menghitung PGA (Peak

Apa itu PGA? PGA yang merupakan singkatan dari Peak Ground Acceleration ...

MANFAAT BERSYUKUR

Manusia yang bersyukur akan merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, ...

TRILOGI IBADAH

Edisi Khusus Syawal 1433 H... Sesungguhnya muara segala urusan manusia di ...

Wanita mau kemana?

Laki-laki dan wanita bagaikan siang dan malam Allah SWT menciptakan laki-laki ...

Analisis Kerentanan

Dalam  Metode Hazus, kerentanan suatu bangunan terhadap hazard gempa dapat ...

Sponsors