PSIKOTERAPI DALAM ISLAM

psikoterapiI. PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan lebih sempurna dari pada makhluk lain tentu juga masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Sebab Yang Maha Sempurna hanyalah Sang Pencipta. Dalam menjalani kehidupan di dunia manusia tidak lepas dari berbagai masalah yang muncul karena kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya itu. Masalah yang muncul dapat berasal dari dalam diri maupun dari lingkungannya.
Dalam dunia psikologi masalah yang muncul tersebut dikenal sebagai gangguan atau penyakit, ada yang disebut dengan penyakit fisik adapula penyakit hati atau penyakit jiwa. Namun semua penyakit pasti ada obatnya, hal ini telah dijamin oleh Allah dalam firmanNya. Penyakit fisik dapat disembuhkan dengan berbagai jenis obat baik tradisional maupun obat modern dalam bentuk kapsul dan lain sebagainya. Sedangkan untuk pengobatan penyakit jiwa dapat dilakukan melalui terapi yang dalam dunia psikologi disenut dengan psikoterapi.
Pada kenyataannya teknik psikoterapi sendiri cukup beragam dan hal ini tidak terlepas dari konsep teori psikologi mana yang menjadi landasannya. Di dalam makalah ini penulis mencoba untuk menelaah lebih dalam mengenai psikoterapi yang berwawasan Islam, namun tentu saja sebelum menguraikan pembahasan mengenai psikoterapi yang berwawasan Islam kita harus terlebih dahulu membahas mengenai pengertian psikoterapi yang berwawasan Islam sesuai dalam Al-Qur’an.
II. PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Secara bahasa psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Adapun dalam kamus bahasa Inggris psichoterapi adalah pengobatan penyakit dengan cara kebatinan (Echols dan Sadily 1996 : 454). Sehingga Psikoterapi dapat diartikan juga sebagai pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku.
Breuer dan Freud (dalam Jalaludin 1996 : 139) menyebutkan bahwa psikoterapi sama dengan autotherapia yang artinya (penyembuhan diri sendiri) yang dilakukan tanpa menggunakan obat-obatan biasa. Sesuai dengan istilahnya maka psikoterapi digunakan untuk menyembuhkan pasien yang menderita penyakit gangguan rohani (jiwa).
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi adalah teknik atau proses memberikan bantuan kepada klien atau penderita gangguan jiwa dengan harapan klien tersebut dapat mengubah pola hidup yang tidak sesuai dengan agama maupun norma masyarakat. Sehingga diharapkan klien dapat hidup dan bergaul lagi di tengah-tengah masyarakat.
James P.Chaplin (dalam http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com) lebih jauh membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari. Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama melalui pembicaraan informal atau diskusi personal dengan guru atau teman. Pada pengertian di atas, psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya.
Menurut Carl Gustav Jung (dalam http//www.pencaribakatkreatif. blogspot.com), psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarkan pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikiater tidak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai tahayul dan kurang wawasan ilmiahnya.
Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu. Kemudian dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik. Klien psikoterapi juga tidak diberi obat, karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya.
B. DASAR-DASAR PSIKOTERAPI
Manusia pada dasarnya bisa dan mungkin untuk dipengaruhi / diubah melalui intervensi psikologi yang direncanakan. Kelengkapan ketrampilan yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin melakukan psikoterapi (dalam http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com) ialah:
1. Mempunyai pengetahuan mengenai dasar-dasar ilmu psikologi dan psikopatologi serta proses-proses mental. Hal ini dapat diperoleh dari mengikuti kuliah, kursus, maupun membaca sendiri.
2. Dapat menarik suatu kesimpulan tentang keadaan mental pasien yang telah diperiksa. Hal ini didapat dari latihan intensif dan supervisi, untuk mempertajam fungsi pemeriksaan, terutama dalam hal mendengar dengan cermat (listening). Dengan mendengar secara teliti dan cermat, dibekali oleh pengetahuan yang cukup, kita akan mendapat gambaran tepat tentang pasien-pasien yang diwawancarai. Fungsi mendengar ini amat penting; dari fungsi ini sedapat-dapatnya kita memperoleh apa yang dimaksud oleh pasien, yang belum tentu sesuai dengan apa yang dikatakannya.
3. Terampil dan berpengalaman dalam menerapkan teknik dan metode penanganan fungsi-fungsi mental pasien. Terdapat teknik-teknik yang biasanya digunakan, antara lain persuasi, desensitisasi, pemberian nasihat, pemberian contoh (modelling), empati, penghiburan, interpretasi, reward &punishment, dll. Pada dasarnya, terdapat manipulasi dasar yang dapat kita lakukan, yaitu :
a. Cara mengontrol kecemasan
b. Cara mengatasi depresi
c. Cara menghadapi psikosis (penyakit jiwa)
4. Kepribadian: Merupakan variabel yang penting dalam psikoterapi (selain variabel pasien dan teknik yang digunakan) yang berpengaruh penting dalam menentukan arah dan hasil terapi. Seseorang yang ingin melakukan psikoterapi hendaknya memiliki kepribadian dengan kualitas khusus yang memungkinkan untuk membentuk dan memupuk hubungan yang tepat dan patut dengan pasien-pasiennya, dengan ciri-ciri :
a. Sensitif / sensibel
b. Obyektif dan jujur
c. Fleksibel
d. Dapat berempati
e. Relatif bebas dari problem emosional atau problem kepribadian, yang serius.
e. Pengalaman : pengalaman yang diperoleh dalam menangani pasien, kekayaan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, luasnya wawasan dalam pengetahuan, budaya, agama, hal-hal spiritual, merupakan bekal yang penting. Problem pribadi yang dialami tidak dapat menjadi ukuran dalam menangani pasien. Yang menarik ialah bahwa tidak ada seorang pasien pun yang sama, setiap pasien adalah unik. Pengalaman yang dimiliki akan berguna dalam mengatur strategi dan teknik untuk mencapai tujuan terapi.
C. TUJUAN DAN MANFAAT PSIKOTERAPI
1. Tujuan Psikoterapi
Tujuan terapi adalah memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar, mengurangi tekanan emosional, mengembangkan potensi klien, mengubah kebiasaan, memodifikasi struktur kognisi, memperoleh pengetahuan tentang diri, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan hubungan interpersonal, meningkatkan kemampuan mengambil keputusan, mengubah kondisi fisik, mengubah kesadaran diri dan mengubah lingkungan social (Mansur, 2005 : 7).
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:
a. Psikoterapi Suportif:
Tujuan:
1). Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
2). Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
3). Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
Cara atau pendekatan melalui : bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
b. Psikoterapi Reedukatif:
Tujuan: Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
Cara atau pendekatan melalui : Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
c. Psikoterapi Rekonstruktif:
Tujuan : Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
2. Manfaat Psikoterapi
Manfaat psikoterapi sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus : 57
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Manfaat Psikoterapi secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain yaitu sebagai suatu yang spesifik atau khusus. Psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal).
Melalui psikoterapi seorang psikoterapis akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang psikoterapis tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya (Mansur, 2005 : 8).
D. JENIS-JENIS KELAINAN JIWA
Klasifikasi jenis kelainan jiwa tidak pernah dibahas dalam Al-Qur’an baik secara eksplisit maupun implisit. Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada hanyalah mendeskripsikan faktor-faktor munculnya neurosis (intensitas masalah yang bersifat sedang terhadap jiwa) atau psikoasis (intensitas tinggi). Faktor tersebut antara lain adalah faktor internal yang potensial yang dimiliki oleh manusia. Jenis-jenis kelainan jiwa akan muncul karena berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal.
1. Faktor internal
Faktor internal ini dapat disebut sebagai potensi negatif yang dimiliki oleh seseorang, antara lain kikir, berbuat dzalim (aniaya), dengki, malas dan putus asa. Sifat-sifat internal tersebut adalah contoh dari kompleksitas potensi negatif manusia yang diterangkan dalam Al-Qur’an.
2. Faktor Eksternal
Yakni faktor yang berasal dari luar manusia, yang berasal dari pengaruh lingkungan dan sudah menjadi tradisi/culture di kalangan tertentu.
E. PSIKOTERAPI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Psikoterapi dapat diartikan sebagai perawatan jiwa atau pengobatan jiwa sebagaimana yang diungkapkan James (dalam Ancok dan Suroso, 2001 : 95) terapi terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam juga telah menegaskan sebagaimana terdapat dalam QS. Al- Israa’ ayat 82 :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zlaim selain kerugian”
Dalam firman Allah yang lain juga dijelaskan :
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
“Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah, Al-Qur’an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman dan petunjuk serta obat” (QS.Fushilat : 44).
Ayat-ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa Al-Qur’an (agama) mempunyai fungsi terapi bagi gangguan (penyakit) jiwa yang memiliki ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri gangguan jiwa menurut Kanfer dan Goldstein (dalam Ancok dan Suroso, 2001 : 91) sebagai berikut :
a. Hadirnya perasaan cemas dan tegang dalam diri
b. Merasa tidak puas (dalam arti negatif) terhadap perilaku diri sendiri
c. Perhatian berlebih-lebihan terhadap masalah yang dihadapi
d. Ketidakmampuan untuk menangani masalah dengan efektif
Seringkali ciri-ciri tersebut tidak dirasakan oleh penderita akan tetapi orang disekitarnya akan merasakan akibat dari perilaku penderita. Gangguan jiwa muncul karena seringkali tidak mampu mengontrol diri atau jiwanya ketika menghadapi problematika kehidupan. Terlebih lagi tidak ada sandaran kepada Allah atau agama.
Segala jenis penyakit termasuk juga gangguan jiwa tentu ada dapat disembuhkan. Sebagaimana hadits berikut
“Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah menurunkan obatnya” (HR. Bukhori).
Manusia memiliki tugas untuk ikhtiar dalam mencari kesembuhan. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl : 69)

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Kemudian makanlah dari tia-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang macam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”.
Pada dasarnya terapi Islam terutama yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dan kemungkinan besar sembuh adalah bagi orang-orang muslim yang percaya akan kebenaran Al-Qur’an, sedangkan yang menjadi psikiater atau ahli terapinya adalah Allah SWT. Bukan berarti secara langsung Allah akan tetapi melalui orang-orang yang disebut psikiater yang bertendensi pada ajaran-ajaran Allah semata.
Jadi antara psikiater dan dan klien keduanya harus bertendensi pada firman Allah, karena Islam memberikan ajaran terapi untuk kesehatan mental. Seorang individu akan memiliki mental yang sehat selama dia mau berperilaku sesuai ajaran agama dan norma masyarakat. Sebaliknya, jika menyeleweng terutama terhadap aturan agama maka orang tersebut telah terjangkit penyakit jiwa. Oleh karena itu harus segera dikembalikan kepada tingkah laku yang sesuai dengan ajaran agama.
F. TERAPI MENURUT AL-QUR’AN
Banyak ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena Al Qur’an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin . Segala bentuk terapi yang menggunakan media atau digali dari Al-Qur’an misalnya seperti : ruqyah, dzikir, doa dan sholat.
1. Ruqyah
Kata “therapy” (dalam bahasa Inggris) berarti makna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa Arab kata therapy sepadan dengan Syifa’un yang artinya penyembuh. Sedangkan Ruqyah adalah berasal dari bahasa Arab yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah jampi atau mantra.
Definisi psikoterapi ruqyah adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi SAW. Dengan kata lain psikoterapi ruqyah berarti suatu terapi penyembuhan dari penyakit fisik maupun gangguan kejiwaan dengan psikoterapi dan konseling Islami dan menggunakan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a Rasulullah SAW.
Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah merupakan terapi dengan melafadzkan doa baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah untuk menyembuhkan suatu penyakit (Agil dalam http//www.pencaribakatkreatif. blogspot.com). Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah tidak terbatas pada gangguan jin, tetapi juga mencakup terapi fisik dan gangguan jiwa.
Terapi ruqyah, menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, merupakan salah satu metode penyembuhan yang digunakan oleh Rasulullah saw. Di samping metode ruqyah Rasulullah saw. juga menggunakan metode pembekaman, pemanasan, makanan, minuman, harum-haruman, lingkungan, dsb. (Agil dalam http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com).
Dasar-dasar terapi ruqyah terdapat di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah., antara lain:
Di dalam Surat Al Israa’ ayat 82 Allah berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan Al-Qur’an menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian” (Q.S. Al-Israa’: 82).
Di dalam beberapa Hadis disebutkan:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “خَيْرُ الدَّوَاءِ القُرْآنُ (رواه ابن ماجه).
“Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).
Psikoterapi ruqyah dapat dikatakan sebagai komunikasi Ilahiyah yang antara lain aspeknya berupa dzikir dan doa.
2. Dzikir.
Secara harfiah dzikir berarti ingat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah ingat pada Allah.Ada banyak bentuk amalan dzikir, salah satunya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dengan berdzikir hati menjadi tenang sehingga terhindar dari kecemasan . Al-Qur’an sendiri menerangkan hal ini dalam surat Ar Ra’d ayat 28 yang berbunyi:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28)
3. Do’a.
Dalam Al-Qur’an juga terdapat bacaan yang mengandung ayat-ayat berupa do’a yang disebut dengan do’a Qur’ani. Hawari (1997) mengatakan do’a dalam kehidupan seseorang muslim menempati posisi psikologis yang strategis sehingga bisa memberi kekuatan jiwa bagi yang membacanya. Do’a mengandung kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang keduanya merupakan hal yang mendasar bagi penyembuhan suatu penyakit. Dengan berdo’a, ibadah mempunyai roh dan kerja atau amal memiliki nilai modal spiritual.
Melakukan psikoterapi ruqyah secara teratur adalah salah satu manifestasi dari menjalani kehidupan secara reigius dan banyak mengandung aspek psikologis didalamnya. Bahkan bagi seorang muslim, ini tidak hanya sebagai amal dan ibadah, namun juga menjadi obat dan penawar bagi seseorang yang gelisah jiwanya dan tidak sehat secara mental.
Dalam Al-Qur’an banyak diutarakan ayat-ayat mengenai obat (syifa’un) bagi manusia yang disebut dalam Al-Qur’an, diturunkan untuk mengobati jiwa yang sakit, seperti pada ayat-ayat Al-Qur’an berikut :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia!Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit ,petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.”(QS.Yuunus : 57)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini, yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang mukmin.” (Al Israa’ : 82)
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Mereka itu orang yang beriman, yang berhati tenang karena ingat kepada Allah. Ketahuilah, dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang.” (QS.Ar Ra’d : 28)
4. Sholat
Obat-obatan memang bukanlah jalan satu-satunya untuk menyembuhkan suatu penyakit, meskipun demikian, bukan berarti kita meremehkan peranan obat-obatan tersebut. Akan tetapi kesembuhan suatu penyakit seringkali malah ditentukan oleh faktor dari dalam diri pasien itu sendiri.
Memang usaha untuk mencegah terjadinya penyakit kejiwaan tidak selamanya berhasil. Memang bagi mereka yang tidak memahami semua itu, hidup mereka akan selalu dilanda kegelisahan dan kecemasan yang berlarut-larut padahal bila mereka memahami apa yang menimpa pada diri mereka merupakan suatu batu ujian yang akan mengantar dirinya mampu meraih kedudukan mulia, insya Allah hati mereka bisa kembali tenang dan gembira. Adapun untuk memperoleh ketenangan jiwa atau kegelisahan tersebut salah satu caranya adalah dengan mendirikan shalat.
Menurut al-Qur’an al-Karim, shalat adalah satu-satunya cara untuk membersihkan jiwa dan raga manusia. Shalat adalah merupakan salah satu ibadah yang menuntut gerakan fisik. Di dalam shalat ada 3 aspek yaitu fikiran, perkataan dan tindakan. Melaksanakan shalat tepat waktu dan ikhlas dapat menumbuhkan kedisiplinan. Sebelum melakukan shalat, terlebih darhulu harus dibersihkan dari kotoran jasmani dan dapat mengkonsentrasikan pikiran pada Allah, selain itu, dalam gerakan shalat juga dapat membantu menyehatkan tubuh (fisik), karena sama dengan senam, sehingga dapat mencegah dan dapat sebagai penyembuh.
Shalat bukan hanya sebuah kewajiban yang harus dikerjakan dan dipatuhi oleh setiap muslim, tapi juga perlu dilakukan secara sungguh- sungguh sehingga mereka bisa merasakan manfaat positif dari shalat.
Prof. Dr. H.A. Saboe dalam bukunya “Hikmah Kesehatan dalam Shalat” (dalam http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com), mengatakan bahwa hikmah yang diperoleh dari gerakan-gerakan shalat tidak sedikit artinya bagi kesehatan jasmaniah dan sengan sendirinya akan membawa efek pula pada kesehatan rohaniah atau kesehatan mental jiwa seseorang. Ditinjau dari ilmu kesehatan, setiap gerakan, sikap, serta setiap perubahan dalam gerak dan sikap tubuh pada waktu melaksanakan shalat adalah yang paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh.
Shalat sering dipandang hanya dalam bentuk formal ritual, mulai dari takbir, ruku’, sujud dan salam, sebuah gerakan-gerakan fisik yang terkait erat dengan tatanan fiqh. Padahal bila kita mau merenung sejenak, di dalamnya terdapat simbol yang tidak sedikit. Banyak simbol hikmah yang dapat diambil dari postur, irama dan gerak ritmik tubuh ketika kita shalat. Mulai dari berdiri, mengucapkan takbir, ruku’, menunduk, sujud hingga terakhir salam, semuanya menjadi simbol dari siklus kehidupan yakni daur kehidupan yang dinamis.
Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis pnyakit.
G. BENTUK-BENTUK DAN TEKNIK PSIKOTERAPI
Muhammad Abd al-‘Aziz al-Khalidi (dalam http//www.pencaribakatkreatif. blogspot.com ) membagi obat (syifa’) ke dalam dua bagian: Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembukan penyakit fisik, seperti berobat dengan madu, air buah-buahan yang disebutkan dalam al-Quran. Sunnahnya digunakan untuk menyembuhkan kelainan jasmani. Kedua, obat ma’nawi, obat yang sunnahnya menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan dalam al-Quran.
Kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani). Aspek ruhani menjadi esensi kepribadian manusia, sedang aspek jasmani menjadi alat aktualisasi. Oleh karena itu maka kelainan kepribadian disembuhkan dengan pengobatanma’nawi. Demikian juga kelainan jasmani sering kali disebabkan oleh kelainan ruhani maka cara pengobatannya pun harus dengan sunnah pengobatan ma’nawi.
Al-Razi, dokter sekaligus filosof muslim mengatakan bahwa, tugas seorang dokter disamping mengetahui kesehatan jasmani dituntut juga mengetahui kesehatan jiwa. Hal itu menurutnya dilakukan untuk menjaga keseimbangan jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, agar tidak terjadi keadaan yang minus atau berlebihan. Hal ini menunjukkan urgensinya suatu pengetahuan tentang psikis. Pengetahuan psikis tidak sekedar berfungsi untuk memahami kepribadian manusia, tetapi juga untuk pengobatan penyakit jasmaniah dan ruhaniah. Banyak diantara kelainan jasmani diakibatkan oleh kelainan jiwa manusia. Penyakit jiwa seperti stress, dengki, iri hati, dan lainnya sering kali menjadi penyebab utama penyakit jasmani.
Muhammad Mahmud (dalam http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com), seorang psikolog muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori; Pertama, bersifat duniawi, berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah penyakit jiwa menurut Al-Qur’an adalah penyakit hati. Pada dasarnya terapi islam terutama yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dan kemungkinan besar sembuh adalah bagi orang-orang muslim yang percaya akan kebenaran Al-Qur’an. Antara psikiater dan klien harus bertendensi pada kalam Allah, karena dalam ajaran Islam kita temukan ajaran yang memberikan terapi untuk kesehatan mental.
Islam mengajarkan kepada makhluknya untuk berikhtiar dalam mencari obat dari setiap penyakit. Hal itu telah dijamin oleh Allah SWT bahwa setiap penyakit pasti ada penyembuhnya. Jika mau kembali kepada Al-Qur’an maka Allah telah menjamin kesembuhannya, sebab Al-Qur’an sendiri adalah sebagai penyembuh dan rahmat.

B. Daftar Pustaka
Ancok, Djamaludin., Suroso, Fuad Nashori. 2001. Psikologi Islam, Solusi Atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Depag. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahhnya. Bandung : CV Penerbit Diponegoro
Echols, John M., Shalidy, Hasan. 1996. Kamus Bahasa Inggris-Indonesia. Jakarta : Gramedia
Hawari, Dadang. 1997. Do’a dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis. Jakarta: Dana Bhakti Primayasa
http//www.pencaribakatkreatif.blogspot.com, download 6 september 2013 (10:15)
Jalaludin. 1996. Psikologi Agama. Jakarta : Grafindo Persada
Mansur. 2005. Konsep Psikoterapi Dalam Psikologi Islam. Tugas akhir dosen STAIN Salatiga.

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “PSIKOTERAPI DALAM ISLAM”

  1. PSIKOTERAPI DALAM ISLAM : Muslim Corner

    The Silent Shard

Leave a Reply