All About Agriculture

Welcome To This Blog

Paper Sayuran Daun: Selada Daun

Posted by Ridho Nugroho 0 Comment

TEKNOLOGI PASCA PANEN

KOMODITAS SELADA DAUN (LEAF LETTUCE)

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Ridho Nugroho

20150210137

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

 

2017


 

  1. KEMASAKAN DAN KUALITAS

 

  1. Informasi Secara Umum

 

Selada, secara umum, adalah tanaman dengan persyaratan suhu yang berbeda. Selada daun dianggap sebagai tanaman musim dingin. Suhu tumbuh optimal berkisar antara 73 ° F pada siang hari dan 45 ° F pada malam hari. Frost dapat merusak daun luar tanaman atur yang dapat menyebabkan pembusukan tanaman. Daun selada tumbuh terbaik di tanah liat lumpur dan tanah berpasir. Jenis tanah ini menyediakan drainase yang lebih baik selama cuaca dingin dan pemanasan lebih mudah (SEMCO. 2014).

Selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili Compositae. Menurut jenisnya ada yang dapat membentuk krop dan ada pula yang tidak. Jenis yang tidak membentuk krop daun-daunnya berbenfuk “rosette”. Warna daun selada hijau terang sampai putih kekuningan. Selada jarang dibuat sayur, biasanya hanya dibuat salad atau lalaban. Selada daun tumbuh baik di dataran tinggi (pegunungan). Di dataran rendah kropnya kecil-kecil dan cepat berbunga. Pertumbuhan optimal pada tanah yang subur banyak mengandung humus, mengandung pasir atau lumpur. Suhu yang optimal untuk tumbuhnya antara 15-20 0C, pH tanah antara 5-6,5. Waktu tanam terbaik adalah pada akhir musim hujan. Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup (BPTP. 2013)

Menurut Diana Herrington (2013) selada daun memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan, yaitu:

  1. Kandungan kalori yang rendah dan hampir tanpa lemak
  2. Mampu menurunkan berat badan
  3. Memiliki protein kompleks
  4. Menjaga kesehatan jantung
  5. Kandungan omega-3 yang tinggi
  6. Mampu megatasi insomnia.

 

  1. Indeks Kematangan

 

Tingkat kematangan pada pasca panen sangat penting dan tidak hanya untuk memastikan kualitas produk dan lama hidup pada produk yang akan dipasarkan, tetapi juga mempengaruhi komposisi produk, daya tahan pasca panen hingga tahap penanganan hingga pemrosesan. Kematangan  pada pasca panen mempengaruhi respon produk untuk diproses dan reaksi kemunduran yang mungkin akan terjadi. Kiteria pemanenan sangat beragam pada setiap produk, bagaimana produk tersebut dikonsumsi atau diproses, jarak ke tempat pemasaran, waktu penyimpanan dan temperatur, dan parameter lainnya. Beberapa produk mungkin dikonsumsi pada tingkat kematangan yang berbeda-beda seperti pada produk sayuran yang memiliki bagian tanaman yang berbeda seperti daun, bunga, tunas, akar, dan umbi-umbian yang mencapai kualitas terbaik pada berbagai tingkat pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, terdapat berbagai macam kemungkinan pada pemanenan yang bergantung pada penanganan produksi tahap akhir yang bersifat toleran terhadap tahap penanganan dan tahap pemrosesan (Toivonen dan DeEll, 2002).

Tanaman selada dapat dipanen pada umur 2-3 bulan dari waktu penanaman benih atau tergantung varietas, tipe dan juga ciri-ciri ketuaan dari tanaman tersebut. Pada jenis selada daun (Leaf Lettuce) ditentukan pada jumlah daun yang telah maksimal dan rapat, serta berumur antara 30 – 60 hari sejak sebar benih (Richard Smith, et al. 2011).

 

  1. Indeks Kualitas

Faktor-faktor yang menentukan kualitas selada dapat dilihat dari turgiditas, warna, kemasakan (firmness), perlakuan perompesan (jumlah daun terluar), bebas dari tip burn dan kerusakan fisiologis, bebas dari kerusakan mekanis, cacat dan juga busuk.

Selada daun memiliki indeks kualitas seperti daun berwarna hijau terang sampai gelap dengan daun kepala bagian dalam berwarna kuning atau hijau muda. Daun hijau yang cerah menjadi indikasi kandungan vitamin A dan vitamin C yang tinggi relatif terhadap jenis selada. Kondisi tepi daun bergelombang dan menggelembung, terbebas dari serangga, kerusakan atau kerusakan mekanis (Cantwell, 2002).

 

  1. LINGKUNGAN PENYIMPANAN DAN SIFAT KOMODITAS

 

  1. Temperatur Optimum dan Freezing Injury

Temperatur merupakan faktor eksternal yang sangat penting untuk mengontrol produk selama penanganan pasca panen dan penyimpanan sebelumnya untuk diproses karena akan mengalami banyak perubahan pada poduk. Selama temperatur menurun, maka kebanyakan reaksi yang terjadi pada produk juga menurun dan mengalami kemunduran. Suhu optimum penyimpanan harus selalu dipilih untuk produk sayuran dan buah. Suhu optimum bergantung pada setiap produk dan hal tersebut harus dipertimbangkan untuk menyimpan produk sebelum diproses. Beberapa produk dapat tahan pada suhu mendekati suhu freezing (0oC dan dibawahnya), beberapa produk membutuhkan suhu yang mendekatu 0oC, dan beberapa produk sensitif terhadap kerusakan akibat chilling injury yang tidak bisa disimpan dibawah 7 sampai 13oC, tergantung pada produk. Penyimpanan pada suhu yang lebih rendah akan memberikan kematangan yang tidak sempurna, kehilangan warna dan aroma, perubahan warna dan perubahan lainnya.

Selada daun bersifat perishable sehingga dapat cepat mengalami kerusakan jika disimpan pada suhu tinggi. Selada daun tidak dapat disimpan lama, namun pada kondisi komoditas yang baik dan suhu penyimpanan 0oC selada dapat memiliki umur simpan sekitar 3-4 minggu. Sebelum disimpan pada suhu 0 oC disarankan selada terlebih dahulu didinginkan (precooled) pada suhu 1-0,1 oC. Selada daun tidak boleh disimpan pada suhu yang terlalu rendah karena akan menyebabkan freezing injury. Selada mulai mengalami freezing injury pada suhu -0,2 oC (Salunkhe dan Kadam, 1998).

  1. Kelembaban Optimum

Kelembaban optimum pada komoditas sayuran selada daun lebih dari 95%. Penyimpanan dalam ruangan yang bertemperatur rendah dan kelembapan yang relatif tinggi dapat memperlambat laju penguapan dan laju pernapasan daun selada, menghambat penuaan, pengeluaran panas, pematangan, menghambat kegiatan mikroorganisme perusak, perubahan biokimia daun selada, tidak mempengaruhi rasa, warna, tekstur, nilai gizi (nutrisi) dan bentuk fisik daun selada. Daun selada yang disimpan pada suhu 32°F dengan kelembapan nisbi 95% tahan disimpan sampai 3 – 4 minggu (Cantwell, 2002).

  1. Laju Respirasi

Tingkat respirasi berpengaruh baik pada faktor internal seperti pada jenis produk dan tingkat kematangan. Tetapi juga berpegaruh terhadap faktor internal seperti suhu, konsentrasi etilen, stress yang disebabkan selama panen, pasca panen, dan tahap pemrosesan produk, patogen dan kerusakan fisik. semakin cepat tingkat respirasi, maka semakin pendek lama hidup dari produk. Tingkat respirasi merupakan indikator yang baik terhadap tahap pemrosesan produk, produk yang telah dipanen selama perkembangan masih aktif (produk belum matang) biasanya memiliki tingkat respirasi yang tinggi, sementara produk yang telah matang dan penyimpanan organ memiliki tingkat respirasi yang reltif rendah (Cantwell, 2002).

Komoditas Temperatur
0°C 5°C 10°C 15°C 20°C
Selada daun 16 24 31 50 80

 

  1. Laju Produksi Etilen

Tingkat produksi etilen selada daun dipanen masing-masing adalah <0,1, 0,2, dan 0,7 μL / kg · jam masing-masing pada 0, 10 dan 20 ° C (32, 50 dan 68 ° F).

  1. Respon Komoditas Terhadap Controlled Atmosphere

Perlakuan Controlled Atmosphere dapat menekan laju respirasi selada daun dan memperpanjang umur simpannya. Penyimpanan dengan kondisi Controlled Atmosphere dengan kadar O2 3-5% dan CO2 1,5% sangat disarankan, karena dapat mencegah russet spotting, perubahan warna pada panggkal batang. Selada daun sangat peka terhadap CO2 yang tinggi dan O2 yang rendah. Kadar dibawah O2 1% dan diatas CO2 2,5% dapat memicu kerusakan atau kemunduran produk selada daun. Gejalanya ditandai dengan timbulnya bercak coklat, daun muda pada titik tumbuh mati, menguning, perubahan warna dari kemerahan hingga coklat pada tulang daun dan jaringan di sekitarnya (Salunkhe dan Kadam, 1998).

  • KERUSAKAN FISIK DAN FISIOLOGIS

 

Menurut Anna (2010) terdapat beberapa kerusakan fisik dan fisiologis pada komoditas selada daun, yaitu:

  1. Tip burn

Tip burn adalah keruntuhan dan nekrosis marjinal di dekat tepi daun selada dalam yang berkembang dengan cepat. Gangguan ini biasanya terjadi menjelang panen.  Bila hal ini terjadi dapat mengakibatkan hilangnya tanaman secara keseluruhan. Gejala awal meliputi perubahan warna pembuluh atau perkembangan bintik hitam ke titik hitam di dekat atau di pinggir daun. Seiring kelainan ini terjadi, daerah nekrotik bersatu membentuk lesi hingga beberapa sentimeter.

  1. Pink Rib

Pink Rib timbul pada bagian tengah tulang daun yang ditandai dengan munculnya warana pink. Penyebab utama pink rib belum diketahui namun gejala muncul pada kondisi kadar oksigen rendah dan kondisi ruang penyimpanan diatas suhu optimal.

  1. Brown Stain

Brown stain memiliki gejala dengan gangguan pada kepala daun selada berwarna coklat kekuning-kemerahan, bintik-bintik atau  noda yang tertekan. Ini paling terlihat pada pelepah dan mungkin akan berubah menjadi gelap dan membesar seiring berjalannya waktu. Stain coklat disebabkan oleh paparan atmosfir yang mengandung CO2, terutama pada konsentrasi di atas 5%.

 


 

  1. KERUSAKAN KARENA PENYAKIT

Berapa penyakit dan hama yang menyerang tanaman selada menurut Ageoteknologi (2016) :

  1. Jangel (Bradybaena similaris ferussac)

Hama yang memiliki bentuk seperti siput berukuran sekitar 2 cm ini bersembunyi pada pangkal daun bagian dalam dan menyerang daun pada segala umur.

  1. Tangek (Parmalion pupilaris Humb)

Hama yang memiliki bentuk mirip dengan jangel tetapi tidak memiliki siput adalah penyebab terjadinya tangek. Akibat serangan yang dilakukannya ini, membuat lubang – lubang pada daun. Pada umumnya hama ini menyerang tanaman selada ketika musim kemarau tiba dibanding dengan musim hujan.

  1. Kutu daun

Akibat yang ditimbulkan oleh salah satu pengganggu ini adalah menjadikan daun menjadi mengerut, kemudian mengering akibat kurang cairan. Bahayanya jika tanaman yang masih berusia muda di serang maka akan mengganggu pertumbuhannya, tumbuh kerdil atau tidak sempurna misalnya. Untuk mengendalikan para kutu ini adalah dengan menggunakan insektisida , Diazinon, Orthene 75 Sp atau Bayrusil misalnya tetapi sesuai dosis yang ada pada bungkus.

  1. Thrips

Salah satu hama yang meresahkan para petani adalah hama trips yang menyebabkan daun pada selada menjadi kuning kemudian kering pada akhirnya tanaman selada itu mati. Jika tanaman selada sudah terserang dengan hama ini maka dapat dikendalikan dengan Bayrusil, Tamarot 200 EC atau Tokunthion 500 EC dengan dosis 2ml / l air.

  1. Busuk lunak (soft Rot)

Bakteri Erwinia carotovora merupakan penyebab terjadinya serangan pada tanaman selada. Penyerangan di mulai dari tepi daun , kemudian warna daun berubah menjadi warna cokelat dan akhirnya layu. Selain menyerang tanaman yang masih di tanam, ternyata bakteri ini juga bisa menyerang tanaman yang sudah siap untuk di kirim ke pasar.

  1. Busuk batang

Busuk batang dapat menyerang tanaman selada dengan tanda batang menjadi lunak dan mengandung lendir yang diakibatkan oleh Cendawan Rhizoctonia Solani. Akan menjadi busuk akar jika cendawan tersebut menyerang tanaman penyemaian apalagi ketika lahannya memiliki kondisi lembab. Jadi untuk mencegah dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lahan dan kelembabannya harus dikurangi juga. Jika kondisi sudah parah dapat menggunakan fungisida dengan cara disemprotkan. Menggunakan Maneb atau Dithane M 45 misalnya dan dosisnya kitar 2 g / l.

  1. Busuk pangkal daun

Felicularia filamentosa menyebabkan terjadinya busuk pangkal daun yang menyerang pangkal daun ketika musim panen tiba. Buntu melakukan pengendaliannya maka dapat menggunakan penyemprotan dengan pestisida alami atau kimia.

Daftar Pustaka

 

Agroteknologi. 2016 Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Selada. http://agroteknologi.web.id/cara-pengendalian-hama-dan-penyakit-tanaman-selada/ Diakses Pada 17 Mei 2017

BPTP. 2013. Budidaya Selada. http://yogya.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=487:budidaya-selada&catid=14:alsin Diakses Pada 16 Mei 2017

Cantwall. 2002. Lettuce Recommendations for Maintaining Postharvest Quality. Agriculture and Natural Resources.  University of California.

Diana Herrington. 2013. 10 Powerful Advantages of Eating Lettuce. http://www.care2.com/greenliving/10-powerful-advantages-of-eating-lettuce.html. Diakses Pada 17 Mei 2017

Erlina Ambarwati. 2001. Pasca Panen Hortikultura. Universitas Gajah Mada. Jogjakarta

Richard Smith, et al. 2011. Leaf Lettuce Production In California. Agriculture and Natural Resources.  University of California.

Salunkhe, D.K. dan Kadam, S.S. 1998. Handbook of Vegetable Science and Technology: Production, Compostion, Storage, and Processing. New York. Marcel Dekker.

SEMCO. 2014. “Post-Harvest Cooling and Storing of Lettuce.” Cooling and Storing Lettuce Post-Harvest. SEMCO. California

Toivonen, P.M.A., and DeEll, J. 2002. Physiology of fresh-cut fruits and vegetables. In Fresh-Cut Fruits and Vegetables: Science, Technology, and Market, ed. O. Lamikanra. New York, CRC Press. 91-123.

Link Blog: http://blog.umy.ac.id/ridhonugroho/2017/05/20/paper-sayuran-daun-selada-daun/

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Ridho Nugroho


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Resume Buku “Proce

BAB I PRODUK POTONG SEGAR DAN TREND PASAR   Produk fresh-cut merupakan produk ...

Paper Sayuran Daun:

TEKNOLOGI PASCA PANEN KOMODITAS SELADA DAUN (LEAF LETTUCE)               Oleh : Ridho Nugroho 20150210137                 PROGRAM STUDI ...

FAPERTA UMY

Menurut saya Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta merupakan salah satu ...

Blog Sebagai Persona

Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web ...