Kearifan Lokal Petani Tradisional

13 October 2011

Sistem pertanian masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan nyaris tak tersentuh oleh teknologi. Cara-cara yang mereka gunakan sebagaimana yang sudah diajarkan secara turun-temurun, tradisional demikian orang menyebutnya. Bagi mereka bertani tidak sekedar menggarap lahan lalu mengambil hasilnya, tetapi juga menjaga tradisi yang sudah ada seperti; ritual mengawali panen padi, menggunakan hari baik sebelum menggarap, menanam, dan menanen. Untuk itu peran sesepuh desa lah yang lebih paham menentukan hari baik atau waktu yang tepat.
Petani tradisional tidak menanam bibit unggul hasil penemuan para ahli. Kebanyakan mereka enggan untuk membeli bibit-bibit yang dijual di pasaran, selain pertimbangan harga juga kekhawatiran terhadap hama yang ditimbulkan, belum lagi pengadaan pestisida dengan merk tertentu yang harus digunakan dan pastinya tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh petani.
Mereka memilih menanam jenis padi yang biasa ditanam oleh para pendahulunya. Jenis padi yang ditanam disesuaikan dengan perhitungan musim, untuk menjaga ketahanan tanaman padi dari gangguan hama sehingga terhindar dari gagal panen.
Dalam mengolah sawah petani lebih memilih sapi atau kerbau (ternaknya) sebagai alat membajak sawah. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa traktor, tenaga sapi atau kerbau juga lebih ramah lingkungan, daya bajak tanahnya lebih dalam dan ledoknya merata.
Penggunaan pupuk kimia dan pestisida oleh petani tradisional relatif sedikit karena harganya tidak terjangkau, sehingga petani lebih mengandalkan pupuk kandang. Untuk menjamin ketersediaannya menuntut petani wajib memiliki hewan ternak. Bagi petani memelihara hewan ternak menjadi suatu keharusan, tak hanya pupuk yang didapat tenaga ternak (sapi, kerbau) dapat digunakan, hewan ternak juga menjadi bentuk simpanan (harta) yang bisa berkembang dan sewaktu-waktu dapat dijual.
Ketahanan pangan dan kemandirian petani tradisional sebenarnya sudah terbentuk sejak jaman nenek moyang, mereka tinggal melanjutkan dan menjaga kelestarian alam. Kearifan lokal petani tradisional bukan berarti menolak teknologi modern, penggunaan alat trasportasi dan mesin penggilingan padi menjadi bukti teknologi itu diterima.
Banyak kalangan yang mengharapkan perubahan pada petani tradisional dengan dalih meningkatkan kualitas hidup. Melalui penyuluhan dengan program terpadu berusaha memtrasformasi dari petani tradisional ke arah petani modern. Petani diharapakan mampu meningkatkan sumber pendapatan dari produksi pertaniannya, petani tidak sekedar bercocok tanam. Hal itu tak jauh dari penggunaan bibit ungul, pemakaian pupuk kimia dan penanggulangan hama dengan pestisida. Entah kualitas hidup seperti apa yang dimaksud?
Sementara dalam kehidupan modern justru menerapkan pola hidup dengan mengkonsumsi produk pertanian organik. Dewasa ini orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Hal inilah yang semestinya disampaikan kepada masyarakat petani tradisional yang artinya produk merekalah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat modern.
Penyuluhan yang diharapkan bagi petani tradisional adalah pengembangan budidaya pertanian organik yang diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.

One Comment

  • ihsan 13 October 2011 at 04.32

    sip 🙂
    pertanian.. oye!! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar