Freedom Agro B 2014

Just another Blog UMY site

                                                                                                                                                I.            PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003). Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Pengomposan terjadi secara alami atau dengan bantuan campur tangan manusia. Proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat.

Bahan organik yang dapat digunakan sebagai kompos dapat berasal dari limbah hasil pertanian dan non pertanian (limbah kota dan limbah industri) (Kurnia dkk., 2001). Limbah hasil dari pertanian antara lain berupa sisa tanaman (jerami dan brangkasan), sisa hasil pertanian (sekam, dedak padi, kulit kacang tanah, ampas tebu dan belotong). Limbah kota atau sampah organik kota biasanya dikumpulkan dari pasar atau sampah rumah tangga dari daerah pemukiman serta taman-taman kota (Setyorini dkk.,2003).

Bahan organik yang digunakan juga dapat berasal dari limbah olahan seperti sabut kelapa. Sabut kelapa merupakan salah satu limbah pertanian yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik. Menurut BPS (2017), produksi buah kelapa di Indonesia mencapai 3.012,5 ton pada tahun 2013. Limbah yang dihasilkan dari tanaman ini tergolong besar karena menurut Haryanto dan Suheryanto (2004), komposisi buah kelapa yaitu sabut kelapa 35 %, tempurung 12 %, daging buah 28 % dan air buah 25 %. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa setiap tahun lebih dari 1.600.000 ton sabut kelapa dihasikan.

Sabut kelapa salah satu limbah pertanian yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan puupuk organic. Menurut Suniarti (1996) dalam Hermawati (2007), kandungan Kalium pada abu sabut kelapa sebesar 10,25 % dan diberikan sebanyak 643,940 kg/ha pada tanaman kacangan (Centrosema puberscens) mampu meningkatkaan K-Total tanah sebesar 740,07 mg dan meningkatkan hasil tanaman. Menurut Indah (2012), kalium merupakan salah satu unsur hara yang berpengaruh dalam perbesaran buah, akar, dan daya simpan.

Sabut kelapa memiliki kadar C/N ratio yang tinggi yaitu 57,67 (Rohim dan Arsetyo, 2016). Hal ini membutuhkan waktu yang lama pada pengomposan sabut kelapa. Kombinasi antara C/N sebaiknya dalam keseimbangan antara 30:1, dengan persyaratan ini proses penguraian akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin jauh C/N rasio dari kondisi ideal akan berpengaruh pada proses penguraian (pengomposan) yang semakin lama. Untuk menurunkan kadar C/N rasio sabut kelapa ini pada saat pengomposan diberikan berbagai bahan aditif dengan C/N rasio rendah. Bahan aditif yang digunakan meliputi limbah ampas tahu, darah sapi dan daun gamal.

Menurut penelitian Daniati (2013), penggunaan aditif ampas tahu dalam pengomposan limbah jamur lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan aktivator EM-4 karena ampas tahu tersebut banyak mengandung Amoniak dan cepat mengalami pembusukan, sehingga mempercepat dalam proses pengomposan.

Sedangkan penetilian David (2002), penambahan tepung darah sapi pada pengomposan dengan bahan baku rumen sapi dapat menurunkan kadar karbon organik dan kadar air kompos. Kandungan unsur N yang tinggi yaitu 12,18% dapat membantu menurunkan kadar C/N rasio pengomposan. Menurut Khasnawati (2016) menyatakan bahwa daun gamal mempercepat proses pengomposan enceng gondok.

B.     Perumusan Masalah

Proses pengomposan sabut kelapa membutuhkan waktu lebih lama yaitu mencapai 3 bulan dengan cara pengomposan secara umum. Penyebab lamanya pengomposan dikarenakan serat yang tinggi dan C/N rasio yang tinggi yaitu 57,67. Solusi yang digunakan adalah dengan menambahkan bahan aditif yang memiliki kadar Nitrogen tinggi dengan nilai C//N rasio rendah dikarenakan kandungan Nitrogen yang tinggi mampu menurunkan kadar C/N rasio pada kompos sabut kelapa. Bahan aditif yang digunakan meliputi ampas tahu, darah sapi dan daun gamal. Kandungan N pada ampas tahu sekitar 1,24 %, darah sapi 12,18 % dan gamal 3,15%. Dalam penelitian ini akan dikaji pengaruh bahan aditif tersebut dalam pengomposan sabut kelapa.

 

C.    Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui pengaruh bahan aditif terhadap percepatan proses pengomposan sabut kelapa.
  2. Menentuan bahan aditif yang paling efektif untuk mempercepat pengomposan sabut kelapa


                                                                                                                                   II.            TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengomposan

Kompos merupakan bahan organik yang terdiri dari sisa-sisa tanaman, hewan, ataupun sampah-sampah kota yang telah mengalami pelapukan sebelum bahan tersebut ditambahkan ke dalam tanah. Menurut kamus Webster’s New International Dictionary dalam Rodale, et al. (1975) kompos merupakan suatu campuran untuk pemupukan atau perbaikan lahan, berupa campuran pupuk dari beberapa bahan seperti gambut, jamur daun, rabuk, kapur, dan lain-lain yang kemudian ditumpuk dan didekomposisikan. Selain itu, menurut Djajakirana (2002) kompos didefinisikan sebagai campuran pupuk dari bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan atau campuran keduanya yang telah terlapuk sebagian dan dapat berisi senyawa-senyawa lain seperti abu, kapur dan bahan kimia lainnya sebagai bahan tambahan.

Gaur (1981) menyatakan bahwa pengomposan merupakan metode yang aman bagi daur ulang bahan organik menjadi pupuk. Unsur-unsur yang terkandung dalam bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan diubah dalam bentuk yang dapat digunakan tanaman (menjadi tersedia) hanya melalui pelapukan (Millar et al., 1958).

Bahan organik yang dapat digunakan sebagai sumber pupuk dapat berasal dari limbah/hasil pertanian dan nonpertanian (limbah kota dan limbah industri) (Kurnia et al., 2001). Dari hasil pertanian antara lain berupa sisa tanaman (jerami dan brangkasan), sisa hasil pertanian (sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, dan belotong), pupuk kandang (kotoran sapi, kerbau, ayam, itik, dan kuda), dan pupuk hijau. Limbah kota atau sampah organik kota biasanya dikumpulkan dari pasar-pasar atau sampah rumah tangga dari daerah pemukiman serta taman-taman kota. Limbah industri yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk seperti sabut kelapa. Berbagai bahan organik tersebut dapat dijadikan pupuk organik melalui teknologi pengomposan sederhana maupun dengan penambahan mikroba perombak serta pengkayaan dengan hara lain.

Proses dekomposisi bahan organik dapat dibagi menjadi tiga tahap (Sutanto, 2002). Pada tahap awal atau dekomposisi intensif berlangsung, dihasilkan suhu yang cukup tinggi dalam waktu yang relatif pendek dan bahan organik yang mudah terdekomposisi akan diubah menjadi senyawa lain. Pada tahap pematangan utama dan pasca pematangan, bahan yang sukar akan terdekomposisi akan terurai dan membentuk ikatan kompleks lempung-humus. Produk yang dihasilkan adalah kompos matang yang mempunyai ciri antara lain: (1) tidak berbau; (2) remah; (3) berwarna kehitaman; (4) mengandung hara yang tersedia bagi tanaman; dan (5) kemampuan mengikat air tinggi.

  1. Syarat-Syarat Pembuatan Kompos

Agar pembuatan kompos berhasil, beberapa syarat yang diperlukan antara lain:

  1. Ukuran bahan mentah.

Sampai pada batas tertentu, semakin kecil ukuran potongan bahan mentahnya, semakin cepat pula waktu pembusukannya. Penghalusan bahan akan meningkatkan luas permukaan spesifik bahan kompos sehingga memudahkan mikroba dekomposer untuk menyerang dan menghancurkan bahan-bahan tersebut. Meskipun demikian, kalau penghalusan bahan terlalu kecil, timbunan akan menjadi mampat sehingga udara sedikit. Ukuran bahan sekitar 5-10 cm sesuai untuk pengomposan ditinjau dari aspek sirkulasi udara yang mungkin terjadi. Untuk mempercepat proses pelapukan, dilakukan pemotongan/mencacah daun-daunan, ranting-ranting dan material organis lainnya secara manual dengan tangan atau mesin. Untuk pembuatan kompos skala industri, tersedia mesin penggilingan bertenaga listrik yang dirancang khusus untuk memotong atau mencacah bahan organis limbah pertanian menjadi potongan-potongan yang cukup kecil hingga bisa melapuk dengan cepat.

  1. Suhu dan ketinggian timbunan kompos.

Timbunan bahan yang mengalami dekomposisi akan meningkat suhunya hingga 65°-70°C akibat terjadinya aktivitas biologi oleh mikroba perombak bahan organik (Gaur, 1980). Penjagaan panas sangat penting dalam pembuatan kompos agar proses dekomposisi berjalan merata dan sempurna. Hal yang menentukan tingginya suhu adalah nisbah volume timbunan terhadap permukaan. Makin tinggi volume timbunan dibanding permukaan, makin besar isolasi panas dan makin mudah timbunan menjadi panas. Timbunan yang terlalu dangkal akan kehilangan panas dengan cepat, karena bahan tidak cukup untuk menahan panas dan menghindari pelepasannya. Pada keadaan suhu kurang optimum, bakteri-bakteri yang menyukai panas (yang bekerja di dalam timbunan itu) tidak akan berkembang secara wajar. Akibatnya pembuatan kompos akan berlangsung lebih lama. Sebaliknya timbunan yang terlampau tinggi dapat mengakibatkan bahan memadat karena berat bahan kompos itu sendiri. Hal tersebut akan mengakibatkan suhu terlalu tinggi dan udara di dasar timbunan berkurang. Panas yang terlalu banyak juga akan mengakibatkan terbunuhnya mikroba yang diinginkan. Sedang kekurangan udara mengakibatkan tumbuhnya bakteri anaerobik yang baunya tidak enak. Tinggi timbunan yang memenuhi syarat adalah sekitar 1,25-2 m. Pada waktu proses pembusukan berlangsung, pada timbunan material yang tingginya 1,5 m akan menurun sampai kira-kira setinggi 1 atau 1,25 m.

  1. Nisbah C/N.

Mikroba perombak bahan organik memerlukan karbon dan nitrogen dari bahan asal. Karbon dibutuhkan oleh mikroba sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya dan Nitrogen diperlukan untuk membentuk protein. Menurut Astuti (2000), pada pengomposan, berat organik akan mengalami pengurangan dikarenakan sebagian besar senyawa karbon akan hilang sedangkan kadar senyawa nitrogen yang larut (ammonia) meningkat. Bahan dasar kompos yang mempunyai rasio C/N 20:1 hingga 35:1 sesuai untuk dikomposkan. Menurut Mathur (1980) mikroorganisme memerlukan 30 bagian C terhadap satu bagian N, sehingga rasio C/N 30 merupakan nilai yang diperlukan untuk proses pengomposan yang efisien. Terlalu besar rasio C/N (>40) atau terlalu kecil (<20) akan mengganggu kegiatan biologis proses dekomposisi. Bahan berkadar C/N tinggi bisa menyebabkan timbunan membusuk perlahan-lahan karena mikroba utama yang aktif pada suhu rendah adalah jamur. Hal ini berarti bahwa pembuatan kompos dari bahan-bahan keras seperti kulit biji-bijian yang keras dan berkayu, tanaman menjalar atau pangkasan-pangkasan pohon (semua dengan kadar C/N tinggi) harus dicampur dengan bahan-bahan berair seperti pangkasan daun dan sampah-sampah lunak. Bila tidak ada bahan hijauan yang mengandung nitrogen, dapat diganti dengan berbagai pupuk organik. Menurut Triwahyuningsih (2005), penambahan bahan yang mengandung kadar N tinggi pada bahan organik, proses pengomposan akan lebih cepat dan lebih efektif.

Timbunan kompos harus selalu lembap, dengan kandungan lengas 50-60%, agar mikroba tetap beraktivitas. Kelebihan air akan mengakibatkan volume udara jadi berkurang, sebaliknya bila terlalu kering proses dekomposisi akan berhenti. Semakin basah timbunan tersebut, harus makin sering diaduk atau dibalik untuk menjaga dan mencegah pembiakan bakteri anaerobik. Pada kondisi anaerob, penguraian bahan akan menimbulkan bau busuk. Sampah-sampah yang berasal dari hijauan, biasanya tidak membutuhkan air sama sekali pada waktu awal, tetapi untuk bahan dari cabang atau ranting kering dan rumput-rumputan memerlukan penambahan air yang cukup.

  1. Sirkulasi udara (aerasi).

Aktivitas mikroba aerob memerlukan oksigen selama proses prombakan berlangsung (terutama bakteri dan fungi). Ukuran partikel dan struktur bahan dasar kompos mempengaruhi sistem aerasi. Makin kasar struktur maka makin besar volume pori udara dalam campuran bahan yang didekomposisi. Pembalikan timbunan bahan kompos selama proses dekomposisi berlangsung sangat dibutuhkan dan berguna mengatur pasokan oksigen bagi aktivitas mikroba.

  1. Nilai pH.

Bahan organik dengan nilai pH 3-11 dapat dikomposkan. pH optimum berkisar antara 5,5-8,0. Bakteri lebih menyukai pH netral, sedangkan fungi aktif pada pH agak masam. Pada pH yang tinggi, terjadi kehilangan nitrogen akibat volatilisasi, oleh karena itu dibutuhkan kehati-hatian saat menambahkan kapur pada saat pengomposan. Pada awal proses pengomposan, pada umumnya pH agak masam karena aktivitas bakteri yang menghasilkan asam. Namun selanjutnya pH akan bergerak menuju netral. Variasi pH yang ekstrem selama proses pengomposan menunjukkan adanya masalah dalam proses dekomposisi.

g.         Standar Kualitas Kompos

Indonesia telah memiliki standar kualitas kompos, yaitu SNI 1970302004 dan Peraturan Menteri Pertanian No. 02/Pert/HK.060/2/2006. Di dalam standard ini termuat batas-batas maksimum atau minimun sifat-sifat fisik atau kimiawi kompos. Termasuk di dalamnya adalah batas maksimum kandungan logam berat. Untuk mengetahui seluruh kriteria kualitas kompos ini memerlukan analisa laboratorium.

Standar ini penting terutama untuk kompos-kompos yang akan dijual ke pasaran. Standard ini menjadi salah satu jaminan bahwa kompos yang dijual benar-benar merupakan kompos yang telah siap diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Standar Kualitas Kompos (SNI 19-7030-2004)

No Parameter Satuan Minimum Maksimum
1 Kadar Air % 50
2 Temperatur °C   suhu air tanah
3 Warna     kehitaman
4 Bau     berbau tanah
5 Ukuran partikel mm 0,55 25
6 Kemampuan ikat air % 58
7 pH   6,8 7,49
8 Bahan asing % * 1,5
  Unsur makro
9 Bahan organik % 27 58
10 Nitrogen % 0,4
11 Karbon % 15,66 32
12 Phosfor (P2O5) % 0.10
13 C/N-rasio   10 20
14 Kalium (K2O) % 0,2 *
15 Arsen mg/kg * 13
16 Kadmium (Cd) mg/kg * 3
17 Kobal  (Co ) mg/kg * 34
18 Kromium (Cr) mg/kg * 210
19 Tembaga (Cu) mg/kg * 100
20 Merkuri (Hg) mg/kg * 0,8
21 Nikel (Ni) mg/kg * 62
22 Timbal (Pb) mg/kg * 150
23 Selenium (Se) mg/kg * 2
24 Seng (Zn) mg/kg * 500
25 Kalsium % * 25.50
26 Magnesium (Mg) % * 0.60
27 Besi  (Fe ) % * 2.00
28 Aluminium ( Al) % * 2.20
29 Mangan (Mn) % * 0.10
30 Fecal Coli MPN/gr   1000
31 Salmonella sp. MPN/4 gr   3
Keterangan : * Nilainya lebih besar dari minimum atau lebih kecil dari

maksimum

 

B.     Sabut Kelapa

Sabut kelapa merupakan limbah padat dari industry minyak kelapa serta limbah makanan yang bersumber dari kelapa yang banyak di konsumsi oleh asyarakat di Indonesia. Menurut Hanum (2015), komposisi kimia sabut kelapa secara umum terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, tannin, dan potasium. Setiap butir kelapa mengandung serat 525 gram (75 % dari sabut), dan serbuk sabut kelapa 175 gram (25 % dari sabut). Kandungan kimia serat sabut kelapa yaitu selulosa 26,6%, hemiselulosa 27,7%, lignin 29,4%, air 8%, nitrogen 0,1%, abu 0,5%, komponen ektraktif 4,2% dan unsur anhidrat 3,5%.

Menurut Ruskandi dan Setiawan (2003), kandungan hara makro yang terdapat pada sabut kelapa meliputi natrium (N) 0,58%; fosfat (P) 0,88%; dan kalium (K) 1,41% yang jika disetarakan dengan urea (N), SP36 (P) dan KCl (K) setiap kilogragmnya yaitu berturut-turut senilai 79,31 kg urea; 450 kg SP36 dan 42,55 kg KCl. Menurut Rohim dan Arsetyo (2016), kandungan kadar air, pH, %C-organik dan %N total berturut-turut 15,96%; 8,1; 43,25%; dan 0,57%. Pengolahan lanjutan dibutuhkan untuk menurunkan kadar C/N ratio agar mempercepat waktu pengomposan.

Kalium merupakan salah satu unsur hara esensial sebagai aktivator yang diperlukan tanaman dalam proses fotosintesis dan respirasi serta untuk enzim yang terlibat dalam sintesis pati dan protein (Lakitan, 1995). Menurut Suniarti (1996) dalam Hermawati (2007), kandungan Kalium pada abu sabut kelapa sebesar 10,25 % dan diberikan sebanyak 643,940 kg/ha pada tanaman kacangan (Centrosema puberscens) mampu meningkatkaan K-Total tanah sebesar 740,07 mg dan meningkatkan hasil tanaman. Menurut Mas’ud (1992), penggunaan kompos limbah sabut kelapa berpotensi mengurangi/ mensubstitusi penggunaan pupuk buatan sampai dengan 50% serta dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

C.    Limbah Ampas Tahu

Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padat dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan karena ampas tahu masih mengandung gizi yang baik. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan sering sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali (Winarno, 2003).

Dalam proses pembuatan tahu akan diperoleh hasil lain, yakni ampas tahu (limbah padat) dan sari tahu (limbah cair). Bahan dasar pembuatan tahu adalah dengan menggunakan kedelai, kedelai tersebut digiling menggunakan alat penggiling dan dicampurkan dengan air panas. Penggilingan dengan air panas akan menghasilkan bubur kedelai, kemudian bubur kedelai tersebut dipanaskan hingga muncul gelembung – gelembung kecil lalu diangkat dan biarkan agak dingin setelah itu bubur kedelai disaring sehingga diperoleh sari kedelai dan ampas kedelai atau lebih dikenal dengan sebutan ampas tahu. Menurut Suswardany dkk. (2006), kandungan C/N rasio, fosfat dan kalium ampas tahu berturut-turut yaitu 14,90 , 1,72%, dan 1,33%. Sedangkan menurut Ni’mah (2014), kandungan limbah ampas tahu meliputi kadar air 89,405%, kadar abu 0,32 %, lemak 0,93%, protein 2,01%, C/N rasio 12, padatan total 12,39 %, volatil solid 95,39 dan pH 6,32.

Keuntungan penggunaan limbah ampas tahu sebagai bahan aditif adalah karena ampas tahu memliki kandungan protein yang cukup tinggi. Menurut Anggoro (1985) ampas tahu mengandung protein 43,8 %, lemak 0,9 % serat kasar 6 % Kalsium 0,32 % Fosfor 0,76 % Magnesium 32,3 mg/kg dan bahan lainnya. Menurut Asmoro dkk., (2008) ampas tahu mengandung N sebesar 1,24 % dan 3 K2O sebesar 1,34 %.

Menurut penelitian Daniati (2013), penggunaan aktivator ampas tahu dalam pengomposan limbah jamur lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan aktivator EM-4 karena ampas tahu tersebut banyak mengandung amoniak dan cepat mengalami pembusukan, sehingga mempercepat dalam proses pengomposan. Kompos yang dihasilkan bagus warnanya coklat tua dan jenis teksturnya keras dan menggumpal. Sedangkan kompos yang menggunakan aktivator EM-4 lebih lama waktu pengomposannya dan kompos yang dihasilkan juga bagus warnanya coklat tua, teksurnya lebih halus dan lembut dibandingkan dengan pengomposan menggunakan ampas tahu.

D.    Darah Sapi

Darah secara ilmiah didefiniskan sebagai cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup tingkat tinggi (kecuali tumbuhan) yang berfungsi mengirimkan zat-zat makanan maupun oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil proses metabolisme maupun sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan virus maupun bakteri (Jamila, 2012). Darah dapat digunakan sebagai pupuk. Biasanya darah yang digunakan yaitu darah hewan yang diambil dari limbah RPH (Rumah Potong Hewan). Darah hewan yang digunakan meliputi darah sapi, darah kambing, darah kerbau, darah babi, dan hewan ternak lainnya. darah yang paling sering digunakan sebagai bahan utama maupun bahan tambahan dalam pembuatan pupuk atau kompos yaitu darah sapi.

Persentase darah di dalam tubuh hewan sapi adalah sekitar 3,5-7% dari total berat tubuhnya. Komponen unsur-unsur kimiawi yang terkandung dalam darah sapi antara kandungan Nitrogen 12,18%, Fospor 5,28%, Kalium 0,15% dan Karbon-organik 19,01% (Abrianto, 2011). Dari hasil analisis Fitri dkk. (2012), pupuk cair dari limbah darah sapi ini mengandung C-organik sebesar 0,2 %, Nitrogen (N) sebesar 5,5 %, Phospor sebesar 37,70 % dan Kalium sebesar 0,12 %. Pada penelitian Ernawati dkk., (2013) penambahan darah sapi pada pengomposan kiambang menghasilkan kompos dengan kandungan N-total 3,11%, C-total 49,51%, C/N rasio 15,92 dan kadar air sebesar 26,69% serta pengaplikasian kompos pada tanaman kangkung dan bayam menaikkan hasil tanaman masing-masing sebesar 56% dan 55%.

E.     Daun Gamal (Glirisidia sepium)

Gamal (Gliricidia sepium) adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong polongan (suku Fabaceae alias Luuminosae). Menurut Ibrahim (2002) memperlihatkan bahwa ternyata dari daun gamal dapat diperoleh 11 sebesar 3,15 % N, 0,22 % P, 2,65 % K, 1,35 % Ca, O,41% Mg dan C/N rasio 12 yang menyebabkan biomasa tanaman ini mudah mengalami dekomposisi. Menurut Sri Hartati (2000) kandungan C/N rasio dibawah 15 membuat daun gamal akan mudah terdekomposisi dikarenakan kandungan N pada daun gamal dapat dijadikan sumber energi bagi mikroba untuk mendekomposisikan bahan organik, sehingga penggunaan daun gamal merupakan salah satu cukup berpotensi untuk membantu pengomposan pada bahan yang mengandung C/N rasio tinggi.

Pada penelitian Khasnawati (2016) menyataka bahwa daun gamal mempercepat proses pengomposan enceng gondok. Hal ini juga didukung oleh penelitian Mastar dan Kusnayadi (2015) penambahan daun gamal dalam pengomposan menghasilkan kompos yang berkualitas dibandingkan dengan seresah tanaman jagung.

F.     Hipotesis

Perlakuan paling efektif terhadap percepatan proses pengomposan sabut kelapa adalah penggunaan darah sapi karena kandungan Nitrogen pada darah sapi yang tinggi dapat menurunkan kadar Karbon pada kompos sabut kelapa. Menurut Sriharti (2008), kadar Nitrogen sangat berpengaruh pada pertumbuhan mikroorganisme. Semakin banyak kandungan Nitrogen, semakin cepat bahan organic yang terurai, karena mikroorganisme yang menguraikan bahan kompos memerlukan Nitrogen untuk perkembangannya.

 

                                                                                                                       III.            TATA CARA PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Green House UMY dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai dari pertengahan bulan Januari 2018 sampai pertengahan bulan April 2018.

B.     Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan antara lain, benih jagung, benih kacang hijau, larutan FeSO4, larutan NaOH, darah sapi, limbah ampas tahu, daun gamal dan sabut kelapa.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik digital, pH-meter, cawan, botol titrasi, alat titrasi, thermometer, batang pengaduk, pengaduk kompos, karung, tisu, pisau, drum/ember/jerigen, karung dan bak pasir.

C.    Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode percobaan dengan rancangan perlakuan faktor tunggal yang terdiri dari 4 perlakuan yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan yang diujikan meliputi penambahan macam bahan aditif limbah ampas tahu, pupuk cair darah sapi, dan daun gamal yang ditambahkan pada kompos sabut kelapa serta perlakuan kontrol dengan mengatur C/N rasio menjadi 30 : 1. Perlakuan tersebut yaitu:

A = Sabut Kelapa + Limbah ampas tahu

B = Sabut Kelapa + Darah sapi

C = Sabut Kelapa + Daun gamal

D = Sabut Kelapa (Kontrol)

Masing masing perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 12 unit dengan masing-masing berat yaitu 25 kg/unit. Tiap unit diambil 3 sampel yaitu bagian atas, tengah dan bawah.

 

D.    Cara Penelitian

Tahap 1 : Pengomposan

  1. Persiapan Alat dan Bahan
  2. Persiapan sabut kelapa yang akan digunakan.

Bahan sabut kelapa didapat dari daerah Kulon Progo, yang setiap perlakuan memerlukan 25 kg sabut kelapa, sehingga total sabut kelapa yang digunakan sebanyak 300 kg. Selanjutnya pencacahan bahan menggunakan mesin pencacah sehingga diperoleh ukuran 1-7 cm. Perendaman bahan selama semalam agar meningkatkan kelembaban bahan.

  1. Persiapan Bahan Aditif yang akan digunakan
  2. Limbah Ampas Tahu

Ampas tahu diperoleh dari daerah Kadipiro sebanyak 9,75 kg, yang setiap perlakuan memerlukan 3,25 kg untuk masing-masing perlakuan. Ampas tahu yang didapat kemudian ditimbang sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan yaitu 3,25 kg/25 kg sabut kelapa (Lampiran 1.1).

  1. Darah Sapi

Limbah darah sapi yang diperoleh dari RPH daerah Giwangan Pada waktu malam hari, yang setiap perlakuan darah sapi memerlukan 230 ml darah sapi, sehingga total darah yang digunakan sebanyak 690 ml. Darah yang telah didapat kemudian dicampur garam sebanyak 3% per liternya agar darah tidak cepat menggumpal. Darah kemudian dimasukkan ke dalam freezer. Penambahan darah sapi pada pengomposan sabut kelapa sebanyak 230 ml/25 kg sabut kelapa (Lampiran 1.1).

  • Daun gamal (Glirisidia sp)

Daun gamal diperoleh dari daerah Bantul sebanyak 3,75 kg, dimana pada perlakuan hanya memerlukan 1,25 kg per masing-masing perlakuan. Dilakukan pemisahan batang dan ranting pada daun gamal agar dapat mempercepat pencacahan. Pencacahan daun gamal menggunakan mesin pencacah, kemudian daun gamal ditimbang sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan yaitu 1,25 kg /25 kg sabut kelapa (Lampiran 1.1).

  1. Pembuatan Kompos Sabut kelapa

Bahan yang telah dipersiapkan antara lain : sabut kelapa, ampas tahu, pupuk kandang sapi, dan daun gamal dicampur sesuai dengan perhitungan dalam pencampuran kompos.

  1. Sabut Kelapa dan Ampas Tahu
  2. Cacahan sabut kelapa (25 kg) ditaruh diatas terpal.
  3. Bahan aditif ampas tahu ditambahkan sebanyak 3,25 kg dan diaduk samapai rata (Lampiran 1.1).
  • Kemudian diberikan EM-4 sebanyak 25 ml/liter air. Air yang ditambahkan sebanyak 11,05 liter sehingga EM-4 yang dibutuhkan sebanyak 276,25 ml. Lalu ditambahkan 552,2 ml molase dan diaduk secara merata. Pemberian air pada kompos untuk menjaga suhu dan kelembaban kompos. Lalu sabut kelapa dimasukkan ke dalam karung, diikat dan di inkubasi (Lampiran 1.2).
  1. Setiap seminggu sekali kompos sabut kelapa diaduk dan diamati sesuai parameter sampai dengan 2 bulan.
  2. Sabut Kelapa dan Darah Sapi
  3. Cacahan sabut kelapa (25 kg) ditaruh diatas terpal.
  4. Bahan aditif darah sapi ditambahkan sebanyak 230 ml dan diaduk samapai rata (Lampiran 1.1).
  • Kemudian diberikan EM-4 sebanyak 25 ml/liter air. Air yang ditambahkan sebanyak 10,76 liter sehingga EM-4 yang dibutuhkan sebanyak 269 ml. Lalu ditambahkan 538 ml molase dan diaduk secara merata. Pemberian air pada kompos untuk menjaga suhu dan kelembaban kompos. Lalu sabut kelapa dimasukkan ke dalam karung, diikat dan di inkubasi (Lampiran 1.2).
  1. Setiap seminggu sekali kompos sabut kelapa diaduk dan diamati sesuai parameter sampai dengan 2 bulan.
  2. Sabut Kelapa dan Daun Gamal
  3. Cacahan sabut kelapa (25 kg) ditaruh diatas terpal.
  4. Bahan aditif daun gamal ditambahkan sebanyak 1,25 kg (Lampiran 1.1)
  • Kemudian diberikan EM-4 sebanyak 25 ml/liter air. Air yang ditambahkan sebanyak 10,73 liter sehingga EM-4 yang dibutuhkan sebanyak 268,25 ml. Lalu ditambahkan 536,5 ml molase dan diaduk secara merata. Pemberian air pada kompos untuk menjaga suhu dan kelembaban kompos. Lalu sabut kelapa dimasukkan ke dalam karung, diikat dan di inkubasi. (Lampiran 1.2).
  1. Setiap seminggu sekali kompos sabut kelapa diaduk dan diamati sesuai parameter sampai dengan 2 bulan.
  2. Sabut Kelapa
  3. Cacahan sabut kelapa (25 kg) ditaruh diatas terpal.
  4. Kemudian diberikan EM-4 sebanyak 25 ml/liter air. Air yang ditambahkan sebanyak 11,01 liter sehingga EM-4 yang dibutuhkan sebanyak 275,25 ml. Lalu ditambahkan 550,5 ml molase dan diaduk secara merata. Pemberian air pada kompos untuk menjaga suhu dan kelembaban kompos. Lalu sabut kelapa dimasukkan ke dalam karung, diikat dan di inkubasi. (Lampiran 1.2).
  • Setiap seminggu sekali kompos sabut kelapa diaduk dan diamati sesuai parameter sampai dengan 2 bulan.

 

Tahap 2 : Uji Kecambah Kacang Kedelai

Kompos hasil dekomposisi diaplikasikan sebagai pupuk dasar tanaman kacang kedelai untuk mengetahui pengaruh kandungan pupuk sebagai penyedia unsur hara. Uji viabilitas benih dilakukan dengan cara mengambil contoh kompos dan diletakkan di dalam nampan. Meletakkan 20 benih untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Jumlah benih harus sama untuk setiap perlakuan. Pada saat yang bersamaan, dilakukan uji perkecambahan benih dengan menggunakan media kapas basah yang diletakkan di dalam baki dan ditutup dengan plastik bening. Benih akan berkecambah dalam beberapa hari. Pengamatan perkecambahan dilakukan selama 7 hari. Setelah itu, dilakukan perbandingan jumlah benih yang berkecambah pada kedua media. Kompos yang matang dan stabil ditunjukkan oleh banyaknya benih yang berkecambah. Kemudian menghitungnya dengan menggunakan rumus viabilitas benih. Viabilitas benih merupakan faktor pendukung dalam penelitian ini. Hal tersebut karena viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih.

 

E.     Parameter yang Diamati

Tahap 1 : Pengomposan

  1. Tingkat pH

pH saat pengomposan diukur dengan pH meter dan berfungsi sebagai indikator proses dekomposisi kompos sabut kelapa. Tingkat pH diamati setiap 5 hari sekali selama 60 hari menggunakan pH meter dengan cara mencampur 5 gram kompos kedalam 12,5 ml aquades.

 

  1. Kandungan C Organik

Pengamatan kandungan C Organik dilakukan di akhir pengomposan yaitu pada minggu ke 8 dengan menggunakan metode Walkly and Black dengan rumus:

Kadar C (%) =

Keterangan:

C            = kadar C organik,

A            = banyaknya FeSO4 yang digunakan dalam titrasi blanko,

100/77    = nisbah ketelitian antara metode volumetrik dan oksodemetrik,

KL         = kadar lengas sampel tanah

 

 

 

 

 

  1. Kandungan Bahan Organik (BO)

Pengamatan kandungan Bahan Organik dilakukan di akhir pengomposan yaitu pada minggu ke 8 dengan menggunakan metode Walkley and Black dengan rumus:

Kadar BO (%) = kadar C x

Keterangan :

BO         = kadar bahan organik yang terkandung pada bulan,

100/58    = kadar rata- rata unsur C dalam bahan organik.

 

  1. Kadar N Total (%)

Kadar N total pada kompos sabut kelapa dianalisis dengan metode Kjeldhal, pengujian dilakukan setelah penelitian pada kompos sabut kelapa menggunakan rumus:

Kadar N (%) =

Keterangan :

A            = banyaknya NaOH yang digunakan dalam titrasi baku

B            = banyaknya NaOH yang digunakan dalam titrasi ulangan

KL         = kadar lengas bahan yang digunakan

 

  1. C/N Rasio

Pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan menggunakan metode perbandingan antara nilai C-Organik dengan nilai N Total.

 

  1. Suhu kompos

Pengukuran suhu dilakukan setiap hari selama 1 minggu pertama pengomposan. Setelah pengukuran minggu pertama, dilakukan pengukuran suhu kompos 5 hari sekali selama 2 bulan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat thermometer dengan derajat celcius (oC) dengan mengamati suhu pada bagian atas karung, tengah karung dan bawah karung kemudian dirata-rata.

 

 

  1. Kelembaban (Kadar Air %)

Pengukuran kadar air dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 10 gram kompos. Cawan kosong ditimbang dahulu untuk mendapatkan berat awal, kemudian cawan di beri bahan seberat 10 gram, hasil timbangan cawan + bahan dicatat. Kemudian cawan beserta bahan di oven hingga kadar airnya konstan.

Besarnya kadar air pada bahan kompos dinyatakan dalam basis basah dengan metode grafi metri dengan rumus:

KA = ( ) x 100%.

Ketearangan:

KA        = kadar air kompos berdasarkan % berat basah

a             = berat botol timbang kosong (gram)

b            = berat botol + sampel kompos (gram) sebelum di oven

c             = berat botol + sampel kompos (gram) sesudah di oven

 

  1. Warna kompos

Pengamatan perubahan warna kompos dilakukan 5 hari sekali menggunakan kertas munchell kemudian warna diccocokan dengan warna-warna yang terdapat dalam lembaran buku Munchell Soil Color Chart. Presentase kompos mendekati warna tanah ditunjukkan presentase yang kecil sedangkan semakin besar maka warna kompos seperti aslinya. Metode yang digunakan adalah metode skoring dan dinyatakan dalam presentase. Penelitian Zainal, M (2011) menggunakan rumus :

Skor Warna Kompos
4 7,5 YR 2,5/2-2,5/3
3 7,5 YR 3/2-3/4
2 7,5 YR 4/2-4/4
1 7,5 YR 4/6-4/8

 

Persentase warna kompos =

 

Keterangan :

n = Jumlah sampel yang memiliki nilai skor yang sama

v = Nilai skor yang menunjukkan intensitas warna

Z = Skor yang tertinggi

N = Jumlah sampel yang diamati

 

  1. Bau Kompos

Pengamatan bau dilakukan berdasarkan aroma atau bau yang dihasilkan dari proses dekomposisi. Pengukuran bau kompos dilakukan setiap 3 hari selama 60 hari dengan metode skoring (1-4). Pengukuran menggunakan minimal 10 orang sebagai panelis untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kompos yang belum jadi masih memiliki bau segar (bau seperti aslinya) dan saat mendekati kematangan, kompos tersebut makin tidak berbau. Kompos yang sudah tidak berbau menandakan kompos tersebut telah matang (sudah jadi). Pengamatan Bau diamati dengan indra penciuman dan dibedakan menjadi 4 macam

Skor 1 2 3 4
Keterangan Bau bahan aslinya

(+)

Cukup bau tanah

(++)

Bau seperti tanah

(+++)

Sangat bau tanah

(++++)

 

%Bau =

Keterangan :

n = Jumlah sampel yang memiliki nilai skor yang sama

v = Nilai skor yang menunjukkan intensitas bau

Z = Skor yang tertinggi

N = Jumlah sampel yang diamati

 

  1. Ukuran Partikel (%)

Pengukuran partikel dilakukan dengan tujuan mengetahui berapa banyak penyusutan partikel yang terjadi selama pengomposan. Penyusutan partikel tersebut dilakukan oleh mikroba yang membantu memperkecil ukuran partikel dan meningkatkan luas permukaan. Pengukuran ini dilakukan pada akhir penelitian dengan cara menyaring partikel kompos yang telah jadi menggunakan saringan. Kemudian jumlah partikel yang tersaring dihitung dengan satuan persen (%).

Ukuran partikel ditentukan dengan pengamatan penyaringan bertingkat dengan ukuran saringan 10 mm, 5 mm, 2 mm, dan 1 mm. Kemudian ditimbang berat kompos yang lolos saringan 10 mm, yang lolos saringan 5mm, yang lolos saringan 2 mm, dan yang lolos saringan 1 mm. Dihitung masing- masing dalam presentase terhadap bahan yang disaring dengan rumus:

T=  x 100%

 

Keterangan:

T            = presentase ukuran partikel (%)

b = berat kompos hasil penyaringan (gram)

a = berat awal kompos yang disaring (gram)

 

Kemudian diklasifikasikan menjadi 5 macam

  • Kompos yang tidak lolos saringan 10 mm = Ø partikel > 10 mm
  • Kompos yang tidak lolos saringan 5 mm = Ø partikel 5-10 mm
  • Kompos yang tidak lolos saringan 2 mm = Ø partikel 2-5 mm
  • Kompos yang tidak lolos saringan 1 mm = Ø partikel 1-2 mm

Kompos yang lolos saringan 1 mm = Ø partikel < 1 mm

 

  1. Tekstur kompos

Tekstur kompos dilakukan untuk mengetahui tekstur bahan organik pada saat pengomposan dan perubahannya selama pengomposan. Tekstur kompos biasanya dinyatakan dalam kasar atau halus. Apabila bahan organik telah matang saat pengomposan, maka teksturnya mirip dengan tanah. Pengukuran tekstur kompos dilakukan setelah melakukan pengujian ukuran parikel kompos.

 

 

 

Tekstur kompos diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :

  • Tekstur kasar: kompos yang tidak lolos saringan 10 mm.
  • Tekstur sedang: kompos yang lolos saringan 5 mm namun tidak lolos saringan 1 mm.
  • Tekstur halus : kompos yang lolos saringan 1 mm

 

  1. Kemampuan Mengikat Air

Tekstur kompos sangat berpengaru pada kemampuan kompos dalam mengikat air. Tekstur kompos bertekstur halus memiliki kemampuan yag lebih besar dalam mengikat air daripada kompos bertekstur kasar hal ini terkait dengan luas permukaan adsoptifnya. Semakin halus teksturnya akan semakin besar kapasitas menyimpan airnya. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode penetapan kadar air kapasitas lapangan.

KA-KL = ( ) x 100%.

Ketearangan:

KA-KL = kadar air kapasitas lapangan kompos berdasarkan % berat basah

a             = berat botol timbang kosong (gram)

b            = berat botol + sampel kompos (gram) sebelum di oven

c             = berat botol + sampel kompos (gram) sesudah di oven

 

Tahap 2 : Uji Kematangan

Untuk mengetahui kematangan kompos pada masing-masing aktivator, maka dilakukan uji perkecambahan dengan menggunakan benih kacang kedelai. Benih yang berkecambah akan dihitung mulai hari ke-1 sampai hari ke-7. Untuk mengetahui daya kecambah suatu benih, maka dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

Daya Kecambah =

 

F.     Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam dengan tingkat α = 5% ANOVA. Apabila dalam sidik ragam menunjukkan adanya beda nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dengan tingkat α = 5%.


G.    Jadwal Penelitian

 

Kegiatan Januari Februari Maret April Mei
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
Persiapan Alat dan Bahan                              
Pengomposan                              
Pengamatan                              
Uji Daya Kecambah                              
Analisis Data                              
Laporan Hasil Penelitian                              


DAFTAR PUSTAKA

 

Abrianto, W. 2011. Mari Mengolah Limbah Darah sapi limbah RPH Untuk Pakan Ikan Dan Pupuk Tanaman. http://duniasapi.com/id/component/content/article/50-limbah/2525-mari-mengolah-limbah-darah-sapi-untuk-pakan-ikan-dan-pupuk-tanaman.html. Diakses pada tanggal 23 Juli 2017.

 

Agung_Astuti. 2000. Aktivitas Proses Dekomposisi Berbagai Bahan Organik Dengan Aktivator Alami dan Buatan. http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/7145/jurnal%20Dekomposisi.pdf?sequence=1&isAllowed=y. Diakses pada tanggal 21 Desember 2017.

 

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas.. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 42 hal.

 

Asmoro Y., Suranto, dan Sutoyo D., 2008. Pemanfaatan Limbah Tahu untuk Peningkatan Hasil Tanaman Petsai (Brassica chinesis). Jurnal Bioteknologi 5 (2): 51-55, November 2008, ISSN: 0216-6887.

 

Boa. 2008. Pertanian Organik Penyelamat Ibu Pertiwi. Denpasar: Bali Organik Association. 61 hal.

 

BPS. 2015. Produksi Tanaman Kelapa di Indonesia. http://203.123.61.214/linkTabelStatis/view/id/1670. Diakses 13 Juni 2017.

 

Crawford JH. 2003. Composting of agricultural waste. In : Biotechnology Applications and Research. Paul N. Cheremisinoff and R. P.Ouellette (ed). p. 68-77.

 

Daniati. 2013. Pemanfataan Ampas Tahu Dalam Pengomposan Limbah Jamur. Jurnal Ilmiah Biologi “Bioscientist”. 1(1) : 41-50.

 

David, M.S. 2002. Pengaruh penambahan tepung darah dan lama penyimpanan terhadap perubahan kualitas kompos dengan bahan baku isi rumen sapi. https://id.123dok.com//document/wye6rrrq-pengaruh-penambahan-tepung-darah-dan-lama-penyimpanan-terhadap-perubahan-kualitas-kompos-dengan-bahan-baku-isi-rumen-sapi.html. Diakses pada tanggal 24 Juli 2017.

 

Ernawati, Hastin., Chotimah,Nur Chusnul., Susi K., dan Gusti I.I. 2013. Pemanfaatan Limbah Darah Sapi dan Kiambang Sebagai Pupuk Ramah Lingkungan Untuk Mendukung Pertanian Lahan Gambut yang Berkelanjutan. Jurnal Udayana Mengabdi. 14 (1) : 13-17.

 

Fitri, Deri., Sylvi., dan Yarni, Fifi. 2012. Pembuatan dan Analisa Pupuk Cair dari Limbah Darah Sapi. http://jurnalsmakpa.blogspot.co.id/2012/05/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_2010.html. Jurnal SMAKPA. Diakses pada tanggal 24 Juli 2017.

 

Gaur, A. C. 1981. Improving Soil Fertility through Organic Recycling : A Manual of Rural Composting. FAO/UNDP. Region Project RAS/75/004. Project Field.

 

Hanum, M.S. 2015. Eksplorasi Limbah Sabut Kelapa. e-Proceeding of Art & Design. 2 (2) : 930-938 p.

 

Harizena, I. N. D. 2012. Pengaruh Jenis dan Dosis MOL terhadap Kualitas Kompos Sampah Rumah Tangga.Skripsi. Konsentrasi Ilmu Tanah dan Lingkungan Jurusan Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar. 52 hal.

 

Hartanik, W., Suriadikarta, D.A., Prihati, T. 2002. Teknologi Pengelolaan Bahan Organik Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Jurnal Litbang Pertanian. 27 (2): 43.

 

Hartati, R. and J. Suprijanto. 2000. Quantitative and qualitative studies on bioaccumulation of lead (Pb) in cockle Anadara infla Ta Reeve. Spec. Publ. Phuket Mar. Biol. Cent. 21(1): 143-146.

 

Haryanto, T. dan D. Suheryanto. 2004. Pemisahan Sabut Kelapa Menjadi Serat Kelapa dengan Alat Pengolahan (Defibring Mechine) untuk Usaha Kecil. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses. Hal 1-9.

 

Hermawati, Tiur. 2007. Respon Tanaman Semangka (Citrullus Vulgaris Schard.) Terhadap Pemberian Berbagai Dosis Abu Sabut Kelapa. Jurnal Agronomi. 11(2) : 77-80.

 

Ibrahim, B., 2002. Integrasi Jenis Tanaman Pohon Leguminosa Dalam Sistem Budidaya Pangan Lahan Kering dan Pengaruhnya Terhadap sifat Tanah, Erosi dan Produktivitas Lahan. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar. 44 hal.

 

Jamila. 2012. Pemanfaatan Darah dari Limbah RPH. http://oldlms.unhas.ac.id/claroline/backends/download.php?url=L01vZHVsXzEyLlBlbWFuZmFhdGFuX0RhcmFoLnBkZg%3D%3D&cidReset=true&cidReq=339I1103. Diakses pada tanggal 24 Juli 2017.

 

Khasnawati, Fauzia. 2016. Percepatan Pengomposan Eceng Gondok (Eichornia crassipes S) dengan Berbagai Campuran Bahan Hijauan pada Aplikasi Tanaman Selada (Lactuca sativa L). http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/5219?show=full. Diakses pada tanggal 10 Juni 2017.

 

Kurnia, U., D. Erfandi, dan I. Juarsah. 2000. Pengolahan tanah dan pengolahan bahan organik pada Typic Haplohumults terdegradasi di Jasinga, Jawa Barat. hlm. 285− 302.

 

Lakitan B.1995. Dasar-dasar Fisiologis Tumbuhan. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta.

 

Mas’ud, P. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. PT Angkasa Bandung. Bandung. 275 hal.

 

Mastar, Syahdi dan Kusnayadi, Heri. 2015. Kualitas Kompos Berbahan Baku Lokal Yang Diaplikasikan Dengan Substrat Mikro Organisme Lokal (MOL). Jurnal Ilmu Pertanian. Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Samawa. Hal 101-112.

 

Mathur, R.S. 1980. Use of Indigenous Materials for Accelerating Composting In. Compost Technology. FAO Project Field Document No. 13.

 

Millar, C. E. , L. M. Turk, and H. D. Foth. 1958. Fundamentals of Soil Sciences. 3 rd ed. John Wiley and Sons, Inc. New York. 249 p.

 

Ni’mah, Lailan. 2014. Biogas from Solid Waste of Tofu Production and Cow Manure Mixture Composting Efect. Chemica Journal. 1(1) : 1-9.

 

Rahayu indah. 2012. Manfaat Unsur K Pada Tanaman. http:// indahrahayu7.blogspot.com/2012/09/manfaat-unsur-k-padatanaman.html. Diakses tanggal 23 Januari 2014.

 

Rodale, J. I., R. Rodale, j. olds M. C. goldman, M. Franz and J. Minnich. 1975. The Complete Book of Composting. Rodale Books, Inc. , Emmaus. Penna.

 

Rohim, M dan Arsetyo, Y.B. 2016. Penambahan Bulking Agent untuk Meningkatkan Kualitas Kompos Sampah Sayur dengan Variasi Metode Pengomposan. Jurnal Teknik ITS. 2(2) : 99-106.

 

Ruskandi dan O. Setiawan. 2003. Kadar hara makro berbagai jenis limbah tanaman sela pada pola tanam kelapa. Prosiding Temu Teknis Fungsional Non-Peneliti. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. hlm. 111-115

 

Setyorini, D., R. Saraswati dan E. K. Anwar. 2003. Penelitian Peningkatan Produktivitas Lahan melalui Teknologi Pertanian Organik. Laporan Bagian Proyek Penelitian Sumberdaya Tanah dan Pengkajian Teknologi Pertanian partisipatif. 60 hal.

 

Siswanto, Thesa. 2012. Pengaruh Penambahan Bahan Berunsur Karbon Tinggi Untuk Meningkatkan Nilai Rasio C/N Pada Kompos di UPS. http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2015-08/S-Thesa%20Siswanto. Diakses pada tanggal 24 Juli 2017.

Sriharti., Salim, T. 2008. Pemanfaatan Limbah Pisang Untuk Pembuatan Pupuk Kompos Menggunakan Kompos Rotary Drum. Prosising Seminar Nasional Bidang Teknik Kimia dan Tekstil. Yogyakarta.

 

Stevenson. F.J. 1982. Humus Chemistry Genesis, Composition, Reactions. John Wiley and Sons. New York. 512 p.

 

Sunarti. 1996. Pengaruh Pemberian Abu Sabut Kelapa dan Pupuk Kandang terhadap K-tersedia pada Ultisol dengan Indikator Tanaman Centrosema pubescens. Skripsi Sarjana. Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Jambi.

 

Suswardany, D.L., Ambarwati., dan Yuli K. 2006. Peran Efective Microorganism-4 (Em-4) Dalam Meningkatkan Kualitas Kimia Kompos Ampas Tahu. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. 7(2) : 141-149.

 

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Permasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. hlm. 35-56.

 

Tillman, D. Allen.,1998. Ilmu Makan Ternak Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Gadjah Mada University Press. 267 hal.

 

Triwahyuningsih, Nike. 2005. Karakteristik Kimiawi Kompos Eceng Gondok dan Jerami Hasil Dekomposisi dengan Aktivator Alami dan Buatan. Jurnal Planta Tropika. 1(1) : 29-33. http://journal.umy.ac.id/index.php/pt/article/view/3109/2847. Diakses pada tanggal 21 Desember 2017.

 

Winarno, F.G. 2003. Pangan, Gizi, Teknologi Dan Konsumen. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal 51-83.

 

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Bahan Campuran Kompos

Bahan % Nitrogen C/N Rasio % Kadar Air
Sabut Kelapa 0,57 57,67 15,96
Ampas Tahu 1,24 14,9 89,405
Darah Sapi 12,18 1,56 80
Daun Gamal 3,15 12 82,4

 

  1. Perhitungan Pencampuran Bahan Kompos
  2. Kebutuhan Ampas Tahu dalam Pengomposan

Diketahui :

a          : Ampas Tahu

b          : Sabut Kelapa

Ma       : 89,405 % ( kadar air Ampas Tahu)

Mb       : 15,96 % ( kadar air Sabut Kelapa)

Ra        : 14,9 ( C/N rasio Ampas Tahu )

Rb       : 57,67 ( C/N rasio Sabut Kelapa)

% Na   : 1,24 ( % N Ampas Tahu )

% Nb   : 0,57 ( % N Sabut Kelapa)

Ditanyakan : Untuk menentukan jumlah Ampas Tahu (a) yang dibutuhkan untuk setiap kg Sabut Kelapa (b) untuk mencapai C/N (R)=30 adalah ?

Jawab :

a          :  ×  ×

:  ×  ×

: 0,45 ×  ×

: 0,45 × 1,83 × 0,16

: 0,13 kg

Jadi dalam 1 kg Sabut Kelapa harus ditambahkan 0,13 kg Ampas Tahu

25 kg Sabut Kelapa = 25 kg × 0,13 kg = 3,25 kg Ampas Tahu

 

  1. Kebutuhan Darah Sapi dalam Pengomposan

Diketahui :

a          : Darah Sapi

b          : Sabut Kelapa

Ma       : 80 % ( kadar air pupuk cair darah sapi)

Mb       : 15,96 % ( kadar air Sabut Kelapa)

Ra        :  1,56 C/N rasio Pupuk Cair Darah)

Rb       : 57,67 ( C/N rasio Sabut Kelapa)

% Na   : 12,18 ( % N Pupuk Cairr Darah Sapi)

% Nb   : 0,57 ( % N Sabut Kelapa)

Ditanyakan : Untuk menentukan jumlah Darah Sapi (a) yang dibutuhkan untuk setiap kg Sabut Kelapa (b) untuk mencapai C/N (R)=30 adalah ?

Jawab :

a          :  ×  ×

:  ×  ×

: 0,05 ×  ×

: 0,05 × 0,97 × 0,19

: 0,0092 kg

: 0,0092 liter

Jadi dalam 1 kg Sabut Kelapa harus ditambahkan 0,0092 liter Darah Sapi

25 kg Sabut Kelapa = 25 kg × 0,0092 liter = 0,23 liter atau 230 ml Darah Sapi

 

  1. Kebutuhan Daun Gamal dalam Pengomposan

Diketahui :

a          : Daun gamal

b          : Sabut Kelapa

Ma       : 82,4% ( kadar air Daun Gamal)

Mb       : 15,96 % ( kadar air Sabut Kelapa)

Ra        : 12 (C/N rasio Daun Gamal)

Rb       : 57,67 ( C/N rasio Sabut Kelapa)

% Na   : 3,15 ( % N Daun Gamal)

% Nb   : 0,57 ( % N Sabut Kelapa)

Ditanyakan : Untuk menentukan jumlah Daun Gamal (a) yang dibutuhkan untuk setiap kg Sabut Kelapa (b) untuk mencapai C/N (R)=30 adalah ?

Jawab :

a          :  ×  ×

:  ×  ×

: 0,18 ×  ×

: 0,18 × 1,54 × 0,18

: 0,05 kg

Jadi dalam 1 kg Sabut Kelapa harus ditambahkan 0,05 kg Daun Gamal

25 kg Sabut Kelapa = 25 kg × 0,05 kg = 1,25 kg Daun Gamal

 

  1. Perhitungan Penambahan Air pada Kompos
  2. Sabut Kelapa + Ampas Tahu

Ma       = 89,41%

Mb       = 15,96%

a          = 0,13 kg

b          = 1 kg

Berat Total = (a+b) × 25 kg = 28,25 kg

Mc       =

=

=

=

= 20,87 %

Ideal KL = M = 60%

Penambahan    = (M-Mc) ×  (Berat Total 25 kg)

= (60% – 20,87%) × (1,13)

= 39,13 % × 28,25 kg

= 11,05 liter

Penambahan air pada Kompos Sabut Kelapa dan Ampas Tahu sebanyak 11,05 liter.

  1. Sabut Kelapa + Darah Sapi

Ma       = 80%

Mb       = 15,96%

a          = 0,02 kg

b          = 1 kg

Berat Total = (a+b) × 25 kg = 25,5 kg

Mc       =

=

=

=

= 17,38 %

Ideal KL = M = 60%

Penambahan    = (M-Mc) ×  (Berat Total 25 kg)

= (60%-17,38%) × (1,01)

= 42,62 % × 25,25 kg

= 10,76 liter

Penambahan air pada Kompos Sabut Kelapa dan Darah Sapi sebanyak 10,76 liter.

  1. Sabut Kelapa + Daun Gamal

Ma       = 82,4%

Mb       = 15,96%

a          = 0,05 kg

b          = 1 kg

Berat Total = (a+b) × 25 kg = 26,25 kg

Mc       =

=

=

=

= 19,12 %

Ideal KL = M = 60%

Penambahan    = (M-Mc) ×  (Berat Total 25 kg)

= (60%-19,12%) × (1,05)

= 40,88 % × 26,25 kg

= 10,73 liter

Penambahan air pada Kompos Sabut Kelapa dan Daun Gamal sebanyak 10,73 liter.

  1. Sabut Kelapa

Ma       = 15,96%

a          = 1 kg

Berat Total = a × 25 kg = 25 kg

Mc       =

=

=

= 15,96 %

Ideal KL = M = 60%

Penambahan    = (M-Mc) ×  (Berat Total 25 kg)

= (60% – 15,96%) × (1)

= 44,04 % × 25 kg

= 11,01 liter

Penambahan air pada Kompos Sabut Kelapa sebanyak 11,01 liter.

 

Lampiran 2. Lay Out Penelitian

B(2) C(1) A(1) A(2)
D(2) C(3) B(1) D(1)
C(2) D(3) B(3) A(3)

Keterangan :

A : Perlakuan Ampas Tahu

B : Perlakuan Darah Sapi

C : Perlakuan Daun Gamal

D : Kontrol

Categories: Umum

PROFIL AKU

20140210126


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

PENGARUH MACAM BAHAN

Usulan Penelitian   PENGARUH MACAM BAHAN ADITIF TERHADAP PERCEPATAN PROSES PENGOMPOSAN SABUT ...

Menurut saya, UMY ad

Menurut saya UMY adalah kampus yang keren banget. Soalnya, pertama ...

Membangun Personal B

Internet selalu menghasilkan hal baru, dan tentu saja kemungkinan serta ...

Penyelamatan Lingkun

Di era globalisasi ini perkembangan tenknologi berkembang sangat cepat sehingga ...