Merah Putih Berkibar di Puncak Antartika

KOMPAS.com — Jauh dari ingar-bingar pemberitaan media massa, empat mahasiswa dan seorang alumnus Universitas Katolik Parahyangan Bandung berhasil menjejakkan kaki di puncak Gunung Vinson Massif (4.897 m), Benua Antartika, Senin pukul 17.07 waktu setempat atau Selasa (14/12/2010) dini hari WIB. Mereka yang tergabung dalam tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar 2009-2012 itu menorehkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di titik tertinggi Kutub Selatan.

Melalui sambungan telepon satelit Iridium dari puncak, Ketua Tim, Sofyan Arief Fesa, mengatakan, ia dan keempat temannya dalam kondisi sehat, tetapi kelelahan. Suhu ekstrem sampai minus 32 derajat celsius yang mendera mereka selama sepuluh hari terakhir amat menguras energi. Ditambah lagi, mereka harus berjuang mendaki selama 13 jam dalam cuaca buruk.

“Namun, kami senang bisa mempersembahkan yang terbaik buat Indonesia,” tutur Sofyan sambil tersedu haru. Suara Budi Hartono Purnomo (51), Broery Andrew (21) dari F-MIPA, Janatan Ginting (21) dari FISIP, dan Xaverius Frans (21) dari FE terdengar sayup-sayup menimpali. Suara mereka parau dihajar radang tenggorokan yang tak kunjung sembuh.

Dari Vinson, tim mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Aconcagua (6.959 m) di Argentina pada akhir Desember ini. Keterbatasan alat menyebabkan tim belum berhasil mengirimkan foto-foto mereka saat berada di “atap” Kutub Selatan.

Sofyan menggambarkan puncak tersebut berupa lapangan kecil dengan hamparan salju sebatas betis. Beberapa puncak tinggi Pegunungan Ellsworth menyembul di balik awan yang menyelimuti puncak Vinson. Pemandangan serba putih. Tim didukung penuh PT Mudking Asia Pasifik Raya, perusahaan supplier alat pengeboran minyak dan gas bumi yang berbasis di Jakarta, serta Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Mereka memulai perjalanan panjang ke Kutub Selatan pada 28 November lalu dengan penerbangan 36 jam dari Jakarta menuju Santiago, Cile. Tim disambut Dubes Indonesia untuk Cile, Aloysius Ale Medja, lalu melanjutkan perjalanan terbang enam jam menuju Punta Arenas, kota kecil di ujung selatan Amerika Latin. Tim sempat tertahan dua hari di Punta Arenas karena angin kencang tak memungkinkan pesawat Ilyusin 76 milik Antarctic Logistic Expedition (ALE) terbang menuju Union Glacier di Patriot Hills, Antartika.

Saat bisa terbang, mereka harus bekerja cepat untuk membongkar-muat barang di pesawat. Untuk hal itu, waktu yang mereka miliki kurang dari 12 jam, sebelum badai salju kembali melanda kawasan kutub. Sejak mendarat di Benua Antartika, komunikasi tim dengan dunia luar pun nyaris terputus. Mereka hanya mengandalkan telepon satelit Iridium yang penggunaannya dibatasi tiga menit per hari dan untuk keadaan darurat. Hal itu yang menyebabkan mereka tak bisa mengirimkan foto selama berada di kutub. Komunikasi disampaikan hanya melalui pembicaraan telepon.

Dari Patriot Hills, tim lalu terbang satu setengah jam dengan pesawat Twin Otter ke Basecamp Vinson di kaki Branscomp Glacier (2.030 m). Di tempat itu mereka bertahan tiga malam menghadapi badai salju yang mengamuk di kawasan kutub. Suhu drop hingga minus 28-32 derajat celsius ditambah angin kencang dan keterisolasian menjadi tantangan berat yang harus dihadapi tim sejak saat itu. Pada 7 Desember, cuaca cerah mendorong tim memulai pendakian bersama Mike Horst dan Hiroyuki Kuraoka, pemandu gunung dari Alpen Ascent International (AAI).

Sepanjang hari berlangsung terang benderang di Antartika karena saat ini matahari beredar di belahan bumi selatan. Setelah mendaki gletser besar, Branscomp Glacier, selama 4 jam 30 menit, tim mencapai Half Camp (2.530 mdpl). Perbedaan elevasi antara Base Camp dan Half Camp sebesar 430 m dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer. Selain memanggul ransel seberat 10-15 kg, tiap-tiap anggota tim juga menarik sled atau kereta salju berisi perbekalan selama di kutub yang beratnya 15-20 kg. Hal ini membuat tim sangat kelelahan begitu mencapai Half Camp. Keesokan harinya, tim melanjutkan perjalanan menuju Low Camp (2.750 m) pada pukul 10.30. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 2 jam 50 menit.

Tim menempuh jarak empat kilometer dengan variasi medan rolling, turun-naik menyusuri lembah es. Suhu terendah minus 28 derajat celsius. Bibir pecah-pecah dan radang tenggorokan mulai mendera semua anggota tim. Namun, mereka tetap bersemangat melanjutkan pendakian. Di Low Camp, tim beristirahat seharian penuh untuk memulihkan tenaga. Saat matahari bersembunyi di balik gunung, suhu di dataran tinggi Antartika itu turun lagi sampai minus 32 derajat celsius.

Untuk menghadapi ekstremitas seperti itu, tim menggunakan peralatan berkualitas tinggi, antara lain down jacket, botol Nalgene yang digunakan sebagai wadah penampung air seni saat di dalam tenda (bahan Nalgene dirancang khusus tidak mudah pecah dan retak di kondisi ekstrem), sepatu bot dengan penghangat bertenaga baterai, dan masker salju yang dilengkapi dengan kipas untuk mencegah pembekuan pada kaca masker.

Penampilan mereka sudah seperti astronot yang berjalan di bulan. Jumat (10/12/2010), tim perlahan bergerak menuju High Camp (3.700 mdpl) untuk mengangkut perbekalan. Mereka mendaki sejauh 3 km selama 6-8 jam lalu melepas seluruh sled dan memindahkan perbekalan ke dalam ransel. Pendakian dilanjutkan dengan teknik fixed rope, meniti tali tetap yang sudah dipasang sehari sebelumnya sepanjang 1.200 meter dengan kemiringan lereng 45 derajat.

Selain menggunakan kapak es atau tongkat pendukung dan crampon, tim juga akan didukung oleh mechanic ascenders. Setelah mencapai High Camp, tim meninggalkan semua perbekalan yang dibawa lalu turun kembali ke Low Camp untuk bermalam. Keesokan harinya, tim mendaki lagi ke High Camp membawa seluruh perbekalan yang masih tersisa.

Pada Minggu (12/12/2010) pagi, tim bergerak dengan penuh semangat mendaki lereng curam menuju puncak. Namun, angin kencang kembali menghadang hingga mereka memutuskan kembali ke tenda. Untuk ke puncak, pendakian baru dapat dilakukan pada Senin (13/12/2010) pagi.

Selama sembilan jam, mereka mendaki dengan jarak tempuh 7 km. Mereka bergerak dengan teknik moving together pada lereng dengan kemiringan 40 derajat. Sekitar pukul 17.07, dataran puncak tercapai dan Merah Putih pun berkibar. Ini bendera yang sama dengan yang sudah mereka kibarkan di Puncak Carstenz Pyramid (Papua), Kilimanjaro (Afrika), dan Elbrus (Rusia). (Warta Kota/MAX)