Orang Tionghoa di Batavia

Orang Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam sejarah Batavia. Pada masa itu, penampilan orang Tionghoa sangat berbeda dengan masa kini, lho. Yang sangat mencolok adalah rambut mereka. Pada zaman Belanda dulu, mereka memelihara rambut tocang, yakni rambut di bagian belakang dibiarkan tumbuh, sedang rambut bagian atas dahi dicukur licin sampai puncak kepala. Nah, kuncir atawa tocang ini sebenarnya amat dibenci oleh kaum muda Tionghoa, karena dianggap sebagai penghinaan besar oleh bangsa Manchu yang pernah menjajah mereka. Ketika para perantau Tionghoa datang ke Indonesia, mereka pengen banget mencukur kuncir sebagai tanda menentang kekuasaan Manchu yang mulai 1644 menduduki daratan besar Cina.

Nah, saat itu Belanda menarik keuntungan besar dengan memberlakukan \’pajak jalinan rambut panjang\’ pada mereka. Mereka pun diharuskan memakai pakaian tradisionalnya, seperti di negara asal mereka. Selain itu, pihak kolonial pada masa VOC juga mengenakan pajak kuku panjang yang menandakan orang kaya yang santai, serta pajak judi dan pajak tempat pelacuran (soehian).

Namun, orang Tionghoa dikenal gigih dalam berdagang dan mencari uang. Mereka adalah pekerja keras dan perintis usaha yang handal, sehingga tak heran, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi kaya raya dan memiliki banyak harta, tanah, rumah perjudian dan soehian.

Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menyebutkan, warga Tionghoa dengan patuh membayar pajak-pajak itu, namun orang Belanda, tulis Hanna, terheran-heran karena sifat keberanian mereka dalam berjudi, ketagihan akan arak, serta kelebihan dan perbuatan tak wajar dalam urusan seks. Tapi mereka mengagumi kelebihan etnis ini dalam mengumpulkan harta. Berjudi yang merupakan budaya Tionghoa ini, rupanya pernah dimanfaatkan Pak Ali Sadikin ketika jadi Gubernur DKI Jakarta. Sambil menegaskan hanya diperbolehkan untuk orang Cina, Bang Ali membuka berbagai lokalisasi perjudian di Ibu Kota. Dana dari hasil judi itu digunakan untuk membangun jalan, sekolah, puskesmas dan berbagai fasilitas lainnya.

Disalin oleh Lintasberita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar