RSS
 

MAKALAH PENGANTAR EKONOMI MIKRO

15 Jan

MAKALAH PENGANTAR EKONOMI MIKRO
DOSEN:

PRODI ILMU EKONOMI (A)
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH YOGYAKARTA
2011/2012


KATA PENGANTAR
Makalah ini di buat untuk teman-teman mahasiswa ekonomi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pengantar ekonomi mikro. dalam makalah ini menyediakan pengetahuan tentang pengertian dan semua yang bersangkutan tetang pengantar ekonomi mikro, yang di jabarkan sedemikian rupa agar teman-teman mahasiswa lebih mudah untuk memahami penjelasan yang kami paparkan dalam makalah ini. Tentu saja masih banyak kelemahan dalam buku ini baik karna kami sengaja maupun tidak.
Saran dan kritik anda sangat kami perlukan untuk memperbaiki makalah pengantar ekonomi mikro ini.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyusun makalah pengantar ekonomi mikro ini. Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang ingin mempelajari teori produksi dalam ekonomi mikro.

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Latar belakang tersusunya makalah ini salah satunya melihat kuranmg pemahamannya mahasiswa ilmu ekonomi dalam teori produksi dan sebagai bahan untuk belajar agar mereka lebih mengetahui tentang teori produksi dalam ekonomi mikro.

B. TUJUAN
• Untuk mengetahui apa itu produksi
• Mengetahui fungsi produksi
• Mengetahui macam-macam produksi
• Untuk mengetahui cirri-ciri pasar persaingan sempurna.
• Untuk mengetahui kebaikan & keburukan pasar persaingan sempurna.
• Untuk mengetahui keseimbangan dalam industri.

BAB II
TEORI PRODUKSI
1.PENGERTIAN PRODUKSI
Produksi adalah proses mengubah input menjadi output sehingga nilai barang tersebut bertambah. Input dapat terdiri dari barang atau jasa yang di gunakan dalam proses produksi, dan output adalang barang atau jasa yang di hasilkan dari suatu proses produksi. Jadi produksi tidak harus berarti suatu proses mengubah barang lain, seperti halnya dalam suatu pabrik. Jadi jasa pengangkut atau pengiriman dan penyimpanan barang juga ,merupakan suatu contoh dari proses produksi karena keduanya menambah nilai. Orang yang melakukan proses ini di sebut produsen. Dalam pembahasan ini kita akan mengamati dan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan produksi dan perilaku produsen, karena produsen harus banyak mengambil keputusan. Di antaranya keputusan tentang berapa banyak jumlah output yang harus di produksi, berapa jumlah inputnya dan bagaimana kombinasi input yang akan di pakai. Bab ini akan membahas teori produksi di antaranya adalah mengenai fungsi produksi, fungsi ongkos, keputusan produsen dalam memproduksi suatu barang, kapan produsen dapat berprooduksi dengan ongkos yang minimum, dan lain-lainya.

2. TEKNOILOGI
Terknologi di pastikan mmenjadi faktor yang sangat berperan dalam proses produksi, karena teknologi itu yang menentukan bagaimana factor-faktor produksi itu di kombinasikan satu sama lain dan di olah menjadi barang lain. Teknologi member pembutan roti misalnya, bagaimana teknologi memberikan pedoman bagaimana tepung terigu gula , metega, telor dan bahan-bahan lainnya di olah di cetak dan di ofen sehingga menjadi roti yang siap untuk di nikmati oleh konsumen. Penciptaan teknologi akan berusaha agar input di olah sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan output dengan spesifikasi yang telah di tentukan. Jika roti sebagai contoh, misalnya roti yang empuk, berpenampilan menarik dan rasanya enak. Ilmu ekonomi tidak mempunyai kompetensi untuk menciptakan teknologi, melainkan berkepentingan untuk mempelajari dengan teknologitertentu, beberapa faktor-faktor produksi yang paling menguntungkan untuk menghasilkan suatu produk tertentu. Untuk itu di perlukan 3 macam informasi, yaitu:
1. Hubungan antara input dan poutput. Input mana dan berapa bjumlah masing-masing input di perlukan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu.
2. Harga masing-masing input
3. Harga output
Karakteristik hubungan antara input dan output di tentukan oleh teknologi dalam memproduksi suatu barang. Dengan teknologi tentu akan di ketahui input mana dan berapa jumlah masing- masing input yang di perlukan untuk masaing input akan dapat di hitung pula berapa biaya produksi per unit barang tersebut. Jika tersedia beberapa alternative teknologi, maka dapat di pilih teknologi mana yang paling efisien. Informasi tentang harga output dan biaya produksi per unit barang di perlukan untik dapat menghitung berapa jumlah laba yang akan di peroleh jika di hasilkan sejumlah barang tertentu.

2.1 FUNGSI PRODUKI
Pada umumnya ekonomi menggunakan fungsi produksi untuk menggambarkan hubungan antara input dan output. Fungsi produksi menunjukan berapa banyak jumlah maksimum output yang dapat di produksi apabila sejumlah input yang tertentu di pergunakan pada proses produksi. Jadi fungsi produksi adalah fungsi yangmenunjukan hubungan antara tingkat output dan tingkat penggunaan input-input. Fungsi ini menunjukan landasan teknis dari darinsuatu proses produksi,di sebut landasan teknis karena hanya menunjukan hubungan fisik antara input dan output, yang dapat di tuliskan sebagai berikut:

Ini menunjukan bahwa besar kecilnya output tergantung pada besar kecilnya input. Missal dalam produksi tersebut hanya di perlukan 2 macam factor produksi (input) yaitu tenaga kerja (L) dan modal (K), maka penulisan fungsi produksi dapat dalam bentuk

Bentuk umum produksi apabila menggunakan input adalah sebagai berikut:

dimana xi adalah jumlah input yang di gunakn oleh tiap jenis input.
Tujuan merumuiskann kegiatan produksi ke dalam suatu fungsi produksi ialah agar dapat mempelajari bagimana entuk dn besarnya perubahan output manakala jumlah inpu-inputnya di ta,mbah atau di kurangi. Di tinjau dari sudut pandang prinsip ekonomi, dapat di tetapkan berapa jumlah produksi yang dapat di maksimalkan laba atau me minimalkan biaya.
Output dan input di bedakan menjadi input variable dan input tetap. Input variable adalah input yang jumlahnya berubah ubah jika jumlah output di tambah atau di kurangi (bahan baku, material), sedangkan input tetap ialah input byang jumlahnya tidak berubah, walaupun jumlah outputnya berubah (bangunan, mesin-mesintenaga kerja tetap).
Ada empat konsep dasar yang perlu di kenal lebih dahulu sebelum pembahasan fungsi produksi lebih lanjut, total prodak (TP), Average Produk (AP), Marginal Prodak (MP),dan Elastisitas Output. Total prodak (TP) adalash jumlah output yang di hasilkan dari dari sejumlah input yang diproses , average Product (AP) adalah jumlah output rata-rata per unit binput, sedangkan Marginal Product(MP) adalah besarnya tambahan output karena input di tambah satu unit
Elastisitas output adalah koefesien yang menyatakan besarnya perubahabn output relatif terhadap perubahan input.
Mengacu pada ungsi produksi seperti pada gambar di bawah ini maka symbol dan rumus pada ke empat di atas dapat di lihat dari table di bawah ini.

Uraian Symbol Rumus
Average ProductX1 APX1 Q/X1
Average ProductX2 APX2 Q/X2
Average ProductXN APXN Q/XN
Manal ProductX1 MPX1 Q/X1
Marginal ProductX2 MPX2 Q/X2
Marginal ProductXN MPXN Q/XN
Elastisitas OutputX1 X1 QX1/X1Q
Elastisitas OutputX2 X2 QX2/X2Q
Elastisitas OutputXN XN QXN/XNQ

2.2 MACAM-MACAM PRODUKS
Apabila kita mengamati fungsi produksi yang digunakan oleh seorang pengusaha maka kita dapat membedakan antara fungsi produksi jangka pendek dan fungsi produksi jangka panjang. Pembagian fungsi produksi ini tidak di dasarkan pada lama waktunya yang di pakai dalam suatu produksi. Akan tetapi di lihat dari macam input yang di pergunakan. Berdasarkan jangka waktunya yang memungkinkan apakah suatu input dapat di rubah jumlahnya atau tidak, maka ada dua macam input. Yaitu input tetap (fixed input) dan input variabel (variable input).

Dalam jangka panjang semua input adalah variable.karena produsen di mungkinkan untuk mengubah semua input yang di pakai. Oleh karena itu dalam jangka panjang hanya ada input variabel. Dalam jangka pendek produsen tidak di mungkinkan untuk mengubah input yang di perlukan. Seperti bangunan pabrik tidak mungkin di tambah dalam tempo secepat menambah tenaga kerja. Oleh karna itu dalam jangka pendek ada 2 macam input yang di pergunakan, yaitu input tetap dan input vavariabel.
Suatu fungsi produksi di katakana berjangka pendek apabila paling tidak salah satu inputnya adalah input tetap. Sedangka apabila dapat di rubah maka di katakana berwa-wasan jangka panjang.

3. FUNGSI PRODUKSI JANGKA PENDEK
Sudah di jelaskan di sepan bahwa fungsi produksi di katakana jangka pendk apabila paling tidak salah satu inputnya adalah input tetap. Untuk menggambarkan hubungan Antara input dan output dapat menggunakan kurva 2 dimensi yang menunjukan hubungan antara tingkat output pada sumbu vertical dan input pada sumbu horisontal. Pada fungsi produksi ini satu input yang di gambarkan pada sumbu horizontal ini adalah input variabel sedangkan input lainnya di anggap tetap jumlahnya.
Kuva produksi atau Total Physical Production Function (TTP) adalah kurva yang menunjukan hubungan produksi total dengan satu input variabel sedangkan input-input yang lainya di anggap tetap. Notasi penulisan kurva produksi adalah sebagai berikut:

Ket : x = jumlah input variabel yang di gunakan
TTP = Output total
Jika hanya satu macam input variabel yang di gunakan pada proses produksi ini yaitu tenaga kerja(I), maka dapat di tuliskan sebagai berikut:

Ket : Y = tingkat output
I = jumlah tenaga kerja yang di gunakan
Penggambaran kurva produksi dari fungsi produksi di atas adalah sebagai berikut:
Y
Y= f (L)

0 L

3.1 PRODUKSI RATA-RATA
Produksi rata-rata atau Average Physical Productivity (APP) adalahoutput rata-rata per unit input yang di gunakan pada suatu proses produksi. Jadi kurva produksi rat-rata adalah kurva yang menujukan output rata-rata per unit input pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut. Cara mencari produksi rata-rata:
APPL = OUTPUT/TENAGA KERJA = Q/L
Di mana APPL adalah produksi rata-rata tenaga kerja. Jadi produktivitas tenaga kerjja dapat di artikan sebagai produksi rata-rata tenaga kerja. Istilah ini sering di gunakan untuk mengukur efisiensi sesuatu input.
APPL

APPL
0 L

3.2 PRODUKTIVITAS MARGINAL
Juka kita menambah suatu unit input variabel pada suatu proses produksi adalah berapa tambahan output 6yang di hasilkan.hal ntersebut dapat di hutung melalui cara Produktifitas marginal atau Marginal Physical Productivity (MPP). MPP adalah mengukur berapa perubahan output apabila input variabel berubah dengan 1 unit. Adapun rumus yang dapat di gunakan apabila hanya tenagfa kerja yang di tambah sedangkan input yang lainya tetap adalah:
MMPL= F(I)/ x =Q/L
Jika kita tau fungsi produksinya maka besar MPPL dapat di cari dengan mencari turunan pertama fungsi produksi tersebut terhadap input yang bersangkutan.
Berikut adalah contoh kurva MPPL :

MPPL

0 L
MPPL

DIMINISING MARGINAL PHISICAL PRODUKTIVITY
Apabila seorang petani yang memiliki 1 ha lading mempekerjakan tambahan pekerjab tentunya dengan harapan agar hasil yang di dapatkan dari ladangnya akan meningkat. Namun apa yang terjadi apabila petani tersebut menambah pekerja terus menerus hingga satu ketika berjumlah 100 orang untuk bekerja di ladangnya. Akan terlalu banyak pekerja di lading petani dan akibatnya justru pekerja tersebut tidak dapat melakukan tugasnya denganbaik, hingga akibatnya output yang di dapatkannya justru akan menurun. Gambaran di atas menunjukan Law Diminshing Margin Productivity.
Law Diminshing Marginal Productivity adalahapabila salah satu input di tambah penggunaannya sedang input-input lainya tetap maka tambahan output yang di hasilkan dari setiap tambahan output yang di hasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang di tambahkan tadi mula-mula meningkat, tetapi kemudian akan akan menurun apabila input terus di tambah.

Berikut adalah table yang menggambarkan produksi rata-rata dan produksi marginal:

Tanah (K) Tenaga (I) Total prod(Q) Prod. Rata-rata (APPI) Prod.marginal (MPPI)
1 0 0,0 0,0
1 1 10,0 10,0 10,0
1 2 30,0 15,0 20,0
1 3 60,0 20,0 30,0
1 4 80,0 20,0 20,0
1 5 90,0 18,0 10,0
1 6 96,0 16,0 6,0
1 7 98,0 14,0 2,0
1 8 98,7 12,3 0,7
1 9 99,0 11,0 0,3
1 10 99,0 9,9 0,0
1 11 97,0 8,8 -2,0

Dari data-data yang terdapat di atas dapat di buat grafik seprti ini

Q
C
B TPPL

A

APPL
0 Tahap 1 tahap 2 tahap 3 L
MPPL

Dari grafik di atas dapat kita lihat bahwa ke tiga fungsi tersebut memiliki bentuk yang kusus dank e tiganya memiliki hubungan-hubungan yang sifatnya khusus.
TTP: – diantara A-O cembung terhadap titik orgin
– Titik A kekanan cekung terhadap titik orgin
AAP: – di kiri titik B meningkat
– Di titik B mencapai maksimum
– Di kanan titik B menurun namun tidak pernah berpotongan dengan sumbu horizontal (tidak pernah sama dengan 0)
MPP: – di kiri titik A meningkat
– Di titik A mencapai Maksimum
– Di kanan titik A menurun
– Di titik C sama dengan nol
– Di kanan titik C nilainya negative

Dari gambar tersebut jika kita perhatikan dengan seksama ada 3 titik maksimum, yaitu MPP,APP, dan TPP. Masing-masing titik memiliki arti sendiri-sendiri seperti di sebuitkan di bawah ini:

• Titik A: di titik ini MPP mencapai angka maksimum, ini menunjukan bahwa di titik ini Law of Diminshing Marginal Rate Retrun mulai berlaku
• Titik B: di titik ini APP mencapai angka maksimum menunjukan bahwa di titik ini Law of Diminshing Average Rate Retrun mulai berlaku.
• Titik c: di titik ini TPP mencapai angka maksimum, ini menunjukan bahwa di titik ini Law of DIminshing Total Production Rate Retrun mulai berlaku.
3.3 Hubungan Antara TPP,MPP,Dan APP
Ada hubungn istimewa antara TP,MPP, dan APP, di titik A dimana MPP mencapai nilai maksimumkurva tpp berubah bentuknya dari cembung terhadap titik orgin menjadi cekung terhadap titik orgin. Oleh karena itu titik A di sebut sebagai titik INFLEKSI atau INFLECTION POINT. Sedangkan di titik B dimana APP dari atas, dan pada saat ini kurva TPP bersinggungan dengan garis lurus dari titik orgin dengan slope yang terbesar. Dan pada titik C dimana TPP mencapai angka maksimum besarnya MPP adalah nol.

3.4 Bukti MPP Memotong APP Pada Titik Maksimumnya
Maksimum untuk mempproduksi suatu putput di perlukan satu macam input variabel dan input yang lainnya tetap, hungga dapat di tuliskan Q= f(l). Dimana Q ,menunjukan tingkat output dan L adalah input variabel. Maka dari fungsi tersebut dapat di turunkan:
TPP =f (L)
APP= f(L)/L
MPP= f(L)=df(L)/Dl
Kondisi yang harus di penuhi agar APP mencapai maksimum adalah:
(df(L)/L)/(d(L))=0
(Lf’(L) – f(L))/L2=0
1/L2 (f(L) – f(L)/L)=0
f’(L) = f(L)/L
Jadi MPP = APP

4. FUNGSI PRODUKSI JANGAKA PANJANG
Di jelaskan bahwa pebedaan funsi produksi jangka pendek dak jangka panjang terletak pada apakah input yang di gunakan pada proses produksi dapat di tambah jumlahnya, maka di katakana bahwa proses produksi tersebut berorientasi dalam persepektif jangka panjang.
4.1. KURVA ISOQUAN
Konsep fungsi produksi jangka panjang yang hanya menggunakan 2 macam input biasanya di gambarkan dengan menggunakan ISOQUEN atau ISOKUAN. Sebuah kurva yang menunjukan penggunaan kombinasi dua input yang menghasilkan tingkat output yang sama.
Misalkan untuk menghasilkan output Q di perlukan 2 input, yaitu K dan L, maka hubungan antara input dan output dapat di gambarkan:

k

IQ2
0 IQ1 L
Sifat-sifat dari isokuen:
a. Semakin ke kanan (tinggi) semakin besar kuantitas outputnya
b. Tidak berpotongan
c. Berlereng negative
d. Cembung terhadap titik origin (T)
Bertambahnya semua input akan meningkatkan output yang di hasilkannya. Ini di tunjukan oleh bergesernya kurva isokuen ke kanan (missal dari IQ1ke IQ2). Oleh karena itu semakin kekanan kurva isoquen semakin besar kuantitasnya.
Kurva isoquan tidak bias berpotongan karena jika berpotongan maka asumsi pertama tidak dapat di penuhi.
Untuk menjelaskan mengapa selop dari isoquen adalah negative dan mengapa isokuen cembung terhadap titik orgin maka perlu di ketahui beberapa konsep di bawah ini:

4.2 Marginal Rate of Teknical Subsititution

Marginal rate of technical subititution of labor for capital ( MRS L for K) adalah menunjukan seberapa besar capital harus di kurangi jika kita ingin menambah satu input tenaga kerja (labor) dimana tingkat output adalah tetap.
Marginal Rote of technical substitution of labor for capital

= MRTS of L for K=slop isokuen=-dK/Dl

Nilai MRTS tidak hanya tergantung pada tingkat output tetapi juga pada kuantitas capital dan tenaga kerja yang digunakan.jadi besarnya slope tergantung pada titik mana dari suatu isokuon slope tersebut di hitung besarnya. Misalnya titik A pada gambar di bawah ini , besarnya slope relative lebih besar dari pada slope titik B. hal ini terjadi Karena di titik A kuantitas capital yang harus di korbankan untuk mendapatkan tambahan 1 unit tenaga kerja [pada tingkat output yang sama adalah lebih besar dari titik B.

Di titik A untuk menambah 1 unit L perlu pengorbanan KK, sedangkan di titik B untuk menambah satu unit L perlu mengorbankan KK capital. Ini artinya semakin banyak yang di pakai maka nilai L akan semakin kecil dan sebaliknya.

k

K1

K2

K3

0 L1 L2 L3 L
5. KESIMPULAN
Jadi produksi berarti kegiatan mengubah input menjadi output sehinga barang atau jasa sehingga nilai dari barang atau jasa tersebut berubah. Dan funsi produksi adalah fungsi yang menunjukan hubungan antara tingkat outpun dan tingkat penggunaan output. Input terdidiri dari input tetap dan input variabel. Fungsi produksi itu sendiri terdiri dari fungsi produksi jangka pendek dan fungsi produksi jangka panjang.

6. contoh soal:
1. Soal :
Dari tabek di bawah ini carilah AP dan MP dari tenaga kerja dan gambarlah kuva TP
Tanah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Tenaga kerja 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
TP 0 2 5 9 12 14 15 15 14 12
Jawab :
Tanah Tenaga kerja TP APL MPL
1 0 0 0 2
1 1 2 2 2
1 2 5 2.5 3
1 3 9 3 4
1 4 12 3 3
1 5 14 2 4/5 2
1 6 15 2.5 1
1 7 15 2.1/7 0
1 8 14 1.75 -1
1 9 12 1.33 -2

14
12
10
8
6
4
2
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
1 Definisi pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai suatu struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar.
Barang dan jasa yang dijual di pasar adalah homogen; terdapat mobilitas sumber daya yang sempurna; setiap produsen maupun konsumen mempunyai kebebasan untuk keluar-masuk pasar; setiap produsen maupun konsumen mempunyai informasi yang sempurna tentang keadaan pasar meliputi perubahan harga, kuantitas dan kualitas barang dan informasi lainnya; tidak ada biaya atau manfaat eksternal berhubungan dengan barang dan jasa yang dijual di pasar.
Perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan sempurna bersifat “penerima harga” (price taker).
Kurva permintaan yang dihadapi sebuah perusahaan dalam pasar persaingan sempurna merupakan sebuah garis horizontal pada tingkat harga yang berlaku di pasar.
Kuantitas output ditentukan berdasarkan harga pasar dan tujuan memaksimumkan laba, yaitu pada saat MR = MC.
Dalam jangka waktu yang sangat pendek, kurva penawaran pasar berbentuk garis vertikal sehingga harga ditentukan oleh permintaan pasar. Dalam jangka panjang, harga dapat naik, tetap atau turun tergantung pada perubahan permintaan komoditi yang bersangkutan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2 Ciri-ciri dan Karaktristik pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai suatu struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar.
Ciri-ciri selengkapnya dari pasar persaingan sempurna adalah seperti yang diuraikan dibawah ini :
Perusahaan adalah pengambil harga
Pengambil harga atau price taker berarti suatu perusahan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau mengubah harga pasar. Apa pun tindakan perusahaan dalam pasar, ia tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli. Seorang produsen terlalu kecil peranannya didalam pasar sehingga tidak dapatmempengaruhi penentuan harga atau tingkat produksi dipasar. Peranannya sangat kecil tersebut disebabkan karena jumlah produksi yang diciptakan produsen merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan jumlah barang yang dihasilkan dan diperjual-belikan.
Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk
Sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dapat dengan mudah dilakukan. Sebaliknya apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut, produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan yang diinginkannya tersebut. Sama sekali tidak terdapat hambatan-hambatan, baik secara legal maupun dalam bentuk lain secara keuangan atau secara kemampuan teknologi, misalnya kepada perusahaan-perusahaan untuk memasuki atau meninggalkan bidang usaha tersebut.
Menghasilkan barang serupa
Barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Barang yang dihasilkan sangat sama atau serupa. Tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara barang yang dihasilkan suatu perusahaan lainnya. Barang seperti itu dinamakan dengan istilah barang identical atau homogenous. Karena barang-barang tersebut adalah sangat serupa para pembeli tidak dapat membedakan yang mana dihasilkan produsen A atau B atau produsen yang lainnya. Barang yang dihasilkan seorang produsen merupakan pengganti sempurna kepda barang yang dihasilkan oleh produsen-produsen lain. Sebagai akibat dari efek ini, tidak ada gunanya kepada perusahaan-perusahaan untuk melakukan persaingan yang berbentuk persaingan bukan harga atau nonprice competition ataupersaingan dengan misalnya melakukan iklan dan promosi penjualan. Cara ini tidak efektif untuk menaikkan penjualan karena pembeli mengetahui bahwa barang-barang yang dihasilkan berbagai produsen dalam industri tersebut tidak ada bedanya sama sekali.
Terdapat banyak perusahaan di pasar
Sifat inilah yang menyebabkan perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengubah harga. Sifat ini meliputi dua aspek, yaitu jumlah perusahaan sangat banyak dan masing-masing perusahaan adalah relative kecil kalau dibandingkan dengan keseluruhan jumlah perusahaan di dalam pasar. Sebagai akibatnya produksi setiap perusahaan adalah sangat sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah produksi dalam industri tersebut,. Sifat ini menyebabkan apa pun yang dilakukan perusahaan, seperti menaikkan atau menurunkan harga dan menaikkan atau menurunkan produksi, sedikit pun ia tidak mempengaruhi harga yang berlaku dalam pasar/industri tersebut.
Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar
Dalam pasar persaingan sempurna juga dimisalkan bahwa jumlah pembeli adalah sangat banyak. Namun demikian dimisalkan pula bahwa masing-masing pembeli tersebut mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai keadaan dipasar, yaitu mereka mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan-perubahan ke atas harga tersebut. Akibatnya para produsen tidak dapat menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi dari yang berlaku di pasar.

3 Kebaikan dan keburukan pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna memiliki bebarapa kebaikan dibandingkan pasar-pasar yang lainnya antara lain :
1. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi
Sebelum menerangkan kebaikan dari pasar persaingan sempurna ditinjau dari sudut efisiensi, terlebih dahulu akan diterangkan dua konsep efisiensi yaitu:
a. Efisiensi produktif : Untuk mencapai efisiensi produktif harus dipenuhi dua syarat. Yang pertama, untuk setiap tingkat produksi, biaya yang dikeluarkan adalah yang paling minimum. Untuk menghasilkan suatu tingkat produksi berbagai corak gabungan faktor-faktor produksi dapat digunakan. Gabungan yang paling efisien adalah gabungan yang mengeluarkan biaya yang paling sedikit. Syarat ini harus dipenuhi pada setiap tingkat produksi. Syarat yang kedua, industri secara keseluruhan harus memproduksi barang pada biaya rata-rata yang paling rendah, yaitu pada waktu kurva AC mencapai titik yang paling rendah. Apabila suatu industri mencapai keadaan tersebut maka tingkat produksinya dikatakan mencapai tingkat efisiensi produksi yang optimal, dan biaya produksi yang paling minimal.
b. Efisiensi Alokatif
Untuk melihat apakah efisiesi alokatif dicapai atau tidak, perlulah dilihat apakah alokasi sumber-sumber daya keberbagi kegiatan ekonomi/produksi telah dicapai tingkat yang maksimum atau belum. Alokasi sumber-sumber daya mencapai efisiensi yang maksimum apabila dipenuhi syarat berikut : harga setiap barang sama dengan biaya marjinal untuk memproduksi barang tersebut. Berarti untuk setiap kegiatan ekonomi, produksi harus terus dilakukan sehingga tercapai keadaan dimana harga=biaya marjinal. Dengan cara ini produksi berbagai macam barang dalam perekonomian akan memaksimumkan kesejahteraan masyarakat.
Efisiensi dalam persaingan sempurna
Didalam persaingan sempurna, kedua jenis efisiensi ynag dijelaskan diatas akan selalu wujud. Telah dijelaskan bahwa didalam jangka panjang perusahaan dalam persaingan sempurna akan mendapat untung normal, dan untung normal ini akan dicapai apabila biaya produksi adalah yang paling minimum. Dengan demikian, sesuai dengan arti efisiensi produktif yang telah dijelaskan dalam jangka panjang efisiensi produktif selalu dicapai oleh perushaan dalam persaingan sempurna.
Telah juga dijelaskan bahwa dalam persaingan sempurna harga = hasil penjualan marjinal. Dan didalam memaksimumkan keuntungan syaratnya adalah hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Dengan demikian didalam jangka panjang keadaan ini berlaku: harga = hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Kesamaan ini membuktikan bahwa pasar persaingan sempurna juga mencapai efisiensi alokatif.
Dari kenyataan bahwa efisiensi produktif dan efisiensi alokatif dicapai didalam pasar persaingan sempurna.

2. Kebebasan bertindak dan memilih
Persaingan sempurna menghindari wujudnya konsentrasi kekuasaan di segolonan kecil masyarakat. Pada umumnya orang berkeyakinan bahwa konsentrasi semacam itu akan membatasi kebebasan seseorang dalam melakukan kegiatannya dan memilih pekerjaan yang disukainya. Juga kebebasaannya untuk memilih barang yang dikonsumsikannya menjadi lebih terbatas.
Didalam pasar yang bebas tidak seorang pun mempunyai kekuasaan dalam menentukan harga, jumlah produksi dan jenis barang yang diproduksikan. Begitu pula dalam menentukan bagaimana faktor-faktor produksi digunakan dalam masyarakat, efisiensilah yang menjadi factor yang menentukan pengalokasinya. Tidak seorang pun mempunyai kekuasan untuk menentukan corak pengalokasiannya. Selanjutnya dengan adanya kebebasaan untuk memproduksikan berbagai jenis barang maka masyarakat dapat mempunyai pilihan yang lebih banyak terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Dan masyarakat mempunyai kebebasan yang penuh keatas corak pilihan yang akan dibuatnya dalam menggunakan factor-faktorproduksi yang mereka miliki.
Disamping memiliki kebaikan-kebaikan, pasar persaingan sempurna juga memiliki keburukan-keburukan antara lain :
1. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi
Dalam pasar persaingan sempurna teknologi dapat dicontoh dengan mudah oleh perusahaan lain. Sebagai akibatnya suatu perusahaan tidak dapat meemperoleh keuntungan yang kekal dari mengembangkan teknologi dan teknik memproduksi yang baru tersebut. Oleh sebab itulah keuntungan dalam jangka panjang hanyalah berupa keuntungan normal, Karena walaupun pada mulanya suatu perusahaan dapat menaikkan efisiensi dan menurunkan biaya, perusahaan-perusahaan lain dalam waktu singkat juga dapat berbuat demikian. Ketidakkekalan keuntungan dari mengembangkan teknologi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tidak terdorong untuk melakukan perkembangan teknologi dan inovasi.
Disamping oleh alasan yang disebutkan diatas, segolongan ahli ekonomi juga berpendapat kemajuan teknologi adalah terbatas dipasar persaingan sempurna karena perusahaan-perusahan yang kecil ukurannya tidak akan mampu untuk membuat penyelidikan untuk mengembangkan teknologi yang lebih baik. Penyelidikan seperti itu sering kali sangat mahal biayanya dan tidak dapat dipikul oleh perusahaan yang kecil ukurannya.
2. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya sosial
Didalam menilai efisiensi perusahaan yang diperhatikan adalah cara perusahaan itu menggunakan sumber-sumber daya. Ditinjau dari sudut pandangnan perusahaan, penggunaannya mungkimn sangat efisien. Akan tetapi, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat, adakalanya merugikan.
3. Membatasi pilihan konsumen
Karena barang yang dihasilkan perusahaan-perusahan adalah 100 persen sama, konsumen mempunyai pilihan yang terbatas untuk menentukan barang yang akan dikonsumsinya.

4. Biaya dalam pasar persaingan sempurna mungkin lebih tinggi
Didalam mengatakan biaya produksi dalam pasar persaingan sempurna adalah paling minimum,tersirat (yang tidak dinyatakan)pemisalan bahwa biaya produksi tidak berbeda. Pemisalan ini tidak selalu benar. Perusahaan-perusahaan dalam bentuk pasar lainnya mungkin dapat mengurangi biaya produksi sebagai akibat menikmati skala ekonomi,perkembangan teknologi dan inovasi.
5. Distribusi pendapatan tidak selalu rata
Suatu corak distribusi pendapatan tertentu menimbulkan suatu pola permintaan tertentu dalam masyarakat. Pola permintaan tersebut akan menentukan bentuk pengalokasian sumber-sumber daya. Ini berarti distribusi pendapatan menentukan bagaimana bentuk dari penggunaan sumber-sumber daya yang efisien. Kalau distribusi pendapatan tidak merata maka penggunaan sumber-sumber daya (yang dialokasikan secara efisien) akan lebih banyak digunakan untuk kepentingan golongan kaya.

4. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari karya tulis ini adalah :
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai suatu struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar.
Ø Ciri-ciri dari pasar persaingan sempurna adalah
a. Perusahaan adalah pengambil harga
b. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk
c. Menghasilkan barang yang serupa
d. Terdapat banyak perusahaan di pasar
e. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna
Ø Kebaikan dan keburukan dari pasar persaingan sempurna
Kebaikannya :
a. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi
b. Kebebasan bertindak dan memilih
Keburukannya :
a. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi
b. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya social
c. Membatasi pilihan konsumen
d. Biaya produksi dalam persaingan sempurna mungkin lebih tinggi
e. Distribusi pendapatn tidak selalu merata
BAB III
Teori Konsumsi
1. Pengertian permintaan
Menurut pengertian sehari hari permintaan di artikan secara absolut yaitu jumlah barang yang di butuhkan. Jalan pikiran ini berangkat dari titik tolak bahwa manusia mempunyai kebutuhan. Atas dasar kebutuhan ini individu tersebut mempunyai permintaan akan barang, semakin banyak penduduk suatu Negara semakin besar permintaan masyarakat akan suatu jenis barang. Misalnya di perkirakan barang setiap orang Indonesia rata-rata 240kg beras setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum mereka. Atas dasar angka ini permintaan absolut akan beras di Indonesia yang berpenduduk 140jt jiwa pada tahun 1980 di perkirakan mungkin hanya sekitar 25jt ton dan pada tahun 2000 jumlah ini mungkin akan membengkak menjadi 2 kali lipat dari kebutuhan 20 tahun yang lalu. Permintaan yang di dukung oleh kekuatan tenaga beli disebut permintaan efektif. Sedangkan permintaan yang hanya di dasarkan atas kebutuhan saja disebut sebagai permintaan absolute atau potensial. Tenga beli seseorang tergantung atas 2 unsur pokok yaitu pendapatan yang dapat di belanjakannya dan harga barang yang di kehendaki apabila jumlah pendapatan yang dapat di belanjakan oleh seseorang berubah maka jumlah barang yang di minta juga akan ikut berubah demikian sebaliknya. Tidak demikian halnya dengan metode grafis yang pada dasarnya hanya mampu menjelaskan hubungan antara dua besaran. Dalam hal ini umumnya ekonom sekarang .antara tahun 1842-1924 dengan karyanya yang terbesar The Principles of Economicess. Dalam membahas permintaan ia mengunakan anggapan pendapatan tetap. Dengan anggapan ini kita berusaha mencari pengaruh harga terhadap pengaruh harga barang yang di minta. Dalam pola pemikiran ini yang di maksut dengan permintaan adalah berbagai jumlah barang yang di minta terhadap berbagai tingkat harga. Secara grafis sekala pada sumbu ordinat (vertical) mengukur harga, sedangkan sekala pada sumbu absis (horizontal) mengukur jkuantitas baraang. Perumusan matematisnya secara umum adalah Xd=f(Px) dimana x adalah kuantitas barang x. sedangkan super sekrip adalah yang diminta dan Px adalah harga barang tersebut. Marsal mengelompokan factor pendapatan, harga-harga barang selain harga barang yang di bahas dan selera sebagai cetere baribus. Dengan menganggap “hal-hal lain” selain harga barang tersebut tidak berubah kita dapat mencari hubungan antara jumlah barang yang di minta dan tingkat harga tersebut. Jadi menurut pengertian ini permintaan adlah suatu fungsi yang di gambarkan sebagai garis, kurva, suatu daftar atau sekedul. Kara konsep ceteerus poaribus ini kerangka perumusan marsal di katakana bersifat parcial. Sedang kan kerangka pemikiran leon Walrase, seorang ekonom suwis yang menonjol pada akhir abad 19, di katakana jenerak karna memasukan friable yang mempengaruhi jumlah barang yang di minta.
1.4 Pendekatan tradisonal
Salah satu tujuan poko ekonomi mikro adalah usaha unntuk menjelaskan perilaku konsumen di pasar barang. Dalam usaha menjalaskan penjelasan ini secara tradisional orang menggunakan konsep utilitas (daya guna). Menurut pendekatan ini setiap barang mempunyai daya guna atau utilitas oleh karna barang tersebut.
mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. Pendekatan tradisional merumuskan hubungan antara jumlah dayaguna dengan barang yang dikonsumsikan dalam bentuk suatu fungsi,
U = f(X1,X2,….Xn)
Diman U adalah banyaknya dayaguna bagi seorang konsumen , X2 adalah banyaknya barang tertentu yang dikonsusi oleh konsumen tersebut.
Pendekatan tradisional terpecah menjadi dua. Yang pertama berkembang menjadi teori dayaguna cardinal sedanagkan yang ke dua teori daya guna ordinal. Perbedaan kedua teori tersebut didasarkan pada asumsi pokok tentang pengertian dayaguna .
1.5 Teori Dayaguna Kardinal
Teori ini meupakan gabungan pendapat yang diajukan oleh ahli-ahli ekonomi aliran Austria abad ke Sembilan belas , seperti Heinrich Gossen (1845),Stanley Jevons (1871), dan Leon Warles (1894). Aliran ini menganggap bahwa tingggi rendahnya nilai suatu barang tergantung dari subyek yang memberikan penilaian . Jadi suatu barang baru mempunyai arti bagi seseorang konsumen apabila barang tersebit mempunyai dayaguna. Besarnya dayaguna tergantung dari konsumen bersangkutan.
Sebagai contohnya raket bulu tangkis. Bagi rudy Hartono raket tersebut mempunyai dayaguna yang sangat tinggi , raket tersebut dapat “memuaskan” rudy karena dengan raket itu ia telah berhasil meraih puncak kedudukan pemain bulutangkkis tertinggi di dunia dengan menjuarai turnamen All England delapan kali dan juara pertama dalam kejuaraan dunia II di Jakarta 1980.Raket yang sama bagi seorang penderita cacat fisik yang menderita TBC tulang kedua belah kainya terpakssa dipotong, memberikan utilias yang rendah , sehingga bila diukur misalnya dayaguna raketbuuuntuk rudy sebesar 100 util, sedangkan bagi penderita cacat pasti jauh lebih rendah , mungkin antara 0-5 util. kelemahan pokok yang dapat ditemui pada cara pendekatan cardinal ini. Yang pertama adalah sifat subyektif dari dayaguna . Yang kedua adalah anggapan bahwa dayaguna marginal dari uang adalah tetap. kardinal menganggap besarnya nilai guna(utility) dari setiap barang dapt dapat dinyatakan dalam bentuk angka kardinal yang dapat dijumlah, dikurangi, dan dibagi.

2.1 Teori Dayaguna Ordinal
Salah satu impllikasi dari Teori Dayaguna Kardinal adalah bahwa permitaan suatu barang baru dapat disusun apabila kita mampu mengukur besarnya dayaguna dari masing-masing barang yang kita konsumsikan .
Pendekatan ordinal dilain pihak , tidak menyaratkan knsumen dapat memberikan angka cardinal terhadap kepuasan yang diperoleh dari barang tersebut , tetapi dia cukup untuk dapat membedakan atau member peringkat kepuasan dari masing –masing barang yang dikonsumsinya. Misalnya nilai guna tiga helai kemeja lebih tinggi dari nilai guna satu celana dan sebagainya. Jika kepuasan yang diperoleh dari barang X1 lebih tinggi dari keppuasan yang diperoleh dari barang X4 dan kepuasan yang diperoleh dari barang X4 lebih tinggi dari kepuasan yang diperoleh dari barang X2 atau ditulis: x1>x4 dan x4>x2
Maka otomatis berlaku X1 >X2.
Asumsi lain dari pendekatan ordinal ini adalah nilai guna dari barang tertentu tidak independen dari barang yang lain . dengan demikian nilai guna dari konsumsi sejumlah barang secara bersama -sama tidak sama dengan penjumlahan nilai guna masing-masing barang tersebut yang dikonsumsi secara sendiri –sendiri.
Total utility
Marginal utiliy

TU

MU
0 X2
Gambar 3.1

Hubungan antara Jumlah Barang yang Dikonsumsi dengan Total dan Maginal Utility
Dengan bantuan Tabel 3.2 ,prinsip hokum gosen II adalah sebagai berikut . pilihan pertama jatuh ke A unit ke 1, karena memiliki marginal utiliy (MU) tertinggi; pilihan berikutnya maasih ke A unit ke 2 , setelah itu pillihan jatuh ke B unit ke 1. Walaupun B unit ke 1 memiliki MU yang yang sama dengan A unit ke 3, yaitu 50 pilihan jatuh ke B , karena prinsip diversifikasi tersebut . konsumen sudah memiliki 2 unit A. daripada memiliki 3 unit A, dia lebih suka memiliki 2 unit A dan 1 unit B, walaupun total utility-nya sama , yaitu 100+80+50=230. Urut –urutan pilihan tersebut dapat dilihat pada table 3.3.
Tabel 3.2 :Marginal Utility barang A,B,C,dan D
Unit ke A B C D
1 100 50 40 30
2 80 40 10 0
3 50 10 0 0
4 30 0 0 0
5 10 0 0 0
Tabel 3.3: Urut-urutan pilihan sesuai Hukum Gossen II
Pilihan ke Barang Unit ke MU
1 A 1 100
2 A 2 80
3 B 1 50
4 A 3 50
5 C 1 40
6 B 2 40
7 D 1 30
8 A 4 30
9 C 2 10
10 B 3 10
11 A 5 10
2.2 Kurva Indifferen dan Garis Anggaran
Gambar 3.1 memperlihatkan bagaiman hubungan antara terus bertambahnya konsumsi barang X1 denga Total Utility dan Marginal Utility barang tersebut .Sumbu horizontal mengukur jumlah barang yang dikonsumsi , sedang sumbu vertical mengukur nilai ginanya . Bilaman konsumsinya lebih dari satu macam barang , maka penyajian seperti kurva adalah Ganbar 3.1 tersebut tidak mungkin dilakukan , karena tidak bias diperhatikan sekaligus jumlah dari masing-masing barang dan nilai gunanya. Satu alat analisis dalam teori konsumsi yang dapapt membantu memecahkan masalah ini ialah Kurva Indifferen, meskipun hanya untuk dua barang. Kurva Indifferen menunujukkan kumpulan dari titik –titik kombinasi dari konsumsi dua macam barang dengan tingkat kepppuasan yang sama . Perhatikan Gambar 3.2. kombinasi pada titik A (sebanyak 0X1a barang X1 dan 0X2a barang X2) sama tingkat kepuasanya dengan titik B dengan kombinasi berbeda , yaitu 0X1b barang X1 dan 0X2b barang X2.

X1a A

X1b B IC2
IC1

IC3

0 X2a X2b
Gambar 3.2
Kurva Indifferen
Pada Gambar 3.2 dilihat tiga Kurva Indifferen yang menunjukkan tingkat kepuasan yang berbeda . Tingkat kepuasan pada Kurva Indifferen IC2 lebih tinggi disbandingkan tingkat kepuasan pada IC1 dan IC3. Tingkat kepuasan pada IC3 lebih rendah dari tingkat kepusan pada IC1 dan IC2 tingkat keppuasan pada IC1 lebih tinggi dari pada IC3, tapi lebih rendah dari IC2.
Karaketristik Kurva Indiffferen

Kurva Indifferen itu mempunyai 3 karakteristik , yaitu:
(a) Mempunyai ‘slope’ negative
Slope negative mencerminkan adanya subtitusi antara dua macam barang untuk mempertahankan tingkat kepuasan yang sama. Artinya, jika konsumsi X1 ditambah , maka konsumsi X2 dikurangi . Tidak logis jika jumlah kedua barang tersebut sama-sama bertambah dan sama-sama berkurang dengan ingkat kepuasa yang sama. Contoh seseorang memiliki 10 lebar celana dan 5 lembar baju. Tingkat kepuasan memiliki 10 lembar celana dan 5 lembar baju mungkin sama dengan memiliki 8 lembar celana dan 6 lembar baju . Dalam cntoh diatas , celana berkurang 2 lembar sebagai konpensasi penambahan baju 1 lembar.
(b) Cembung kearah titik asal.
Karakteristik ini menyatakan bahwa subtitusi tersebut tidak proporsional . jika konsumsi X1 terus menerus ditambah 1 unit ,maka jumlah X2 yang tersedia berkurang semakin sedikit, karena X2 semakin langka sehingga MU-nya semakin tinggi . jika dinyatakan dengan MRS, ini berarti bahwa MRSx1-x2 semakin lama semakinn berkurang ( decreasing MRS).
Contoh untuk menbah baju dari 5 lembar menjadi 6 lembar , konsumen bersedia mengurangi celannya sebanyak 2 lembar . Dengan perkataan lain nilai tukar 1 lembar baju =2 lembar celana. Akan tetapi jika konsumen tersebut disuruh nambah lagi jumlah bajunya menjadi 7 lembar, dia barangkali tidak bersedia menukarnya dengan 2 lembar celana, melain kan hanya dengan 1 lembar celana . Dengan perkataan lain nilai tukar 1 lembar baju =1 lembar celana .ini menunjuka bahwa harga relative baju turun , sedangkan harga relative celana naik. Ini karena , jumlah baju menjadi lebih banyak sehingga Marginal Utility-nya turun , sedangkan jumlah celan semakin sedikt sehingga Marginal Utility-nya semakin naik. Illustrasi dari kedua karateristik Kurva Indifferen tersebut diatas dapat dilihat ada table 3.4.
Tabel 3.4 Kombinasi Jumlah Celana dan Baju dengan Tingkat Kepuasan Sama
Jumlah celana Jumlah baju Perubahan jumlah celana Perubahan jumlah baju Harga satu celana Harga satu baju
10
8 5
6 -2 1 5 baju 2 celana
7 7 -1 1 1 baju 1 celana
6 9 -1 2 2 baju 5 celana
5 12 -1 3 3 baju 3 celana
4 16 -1 4 4 baju 25 celana

(C) Dua atau Lebih Kurva Indifferen tidak pernah berpotong.
Per definisi , dua Kurva Indifferen menyatakan tingkat kepuasan yang berbeda. Andaikan kedua Kurva Indiffferen berpotongan , maka tingkat kepuasan pada titik potong adalah sama.
Pada Gambar 3.3 terdapat tiga titik A,B,dan C. Kepuasan pada titik A sama dengan kepuasan pada titik B, karena mereka berada pada Kurva Indifferent yang sama. Kepuasan pada titik C juga sama dengan titk B, karena alas an yang sama . karena A=B dan C=B, maka seharusnya A=C. tetapi disi terjadi kongklusi yang tidak konsisten , karena A dan C terletak pada Kurva Indifferen yang berbeda sehingga A seharusnnya tidak sama denga C.

Garis Anggaran(Budget Line)
Kurva Indifferen hanya menunjukan besarnya kepuasan tertentu, kalau seorang konsumen mengkonsumsi dua macam barang pada berbagai kombinasi jumlah kedua macam barang tersebut ,tetapi tidak menunjukkan berapa besarnya kepuasan yang dapat dicapai dan berapa jumlah masing-masing barang yang dapat memberikan besarnya kepuasan tersebut . Berapa jumlah masing-masing barang yang harus dikonsumsi untuk memperoleh kepuasan tertentu tergantung pada anggaran dan pendapatan konsumen .Makin tinggi pendapatan, makin banyak jumlah barang yang dapat dikonsumsi dan makim besar kepusan yang dicapai.
X1

D
C

B

A IC2
IC1
0 x2
Ganbar 3.3
Dua kurva Indifferen Tidak Mungkin Berpotongan
Gambar 3.3 memperlihatkan kombinasi atau bundle A,B,C,dan D. dengan asumsi “lebih banyak lebih baik”,berarti bundle B lebih disukai dari pada bundel A. begitu juga bundel B. Begitu juga bundel D lebih disukai daripada bundel C.Tetapi dari IC1 kita tau bahwa A dan D sama-sama disukai sebab terletak dikurva indefferen IC1 yang sama. Dengan aksioma transivity kita beranggapan bahwa B lebih disukai dari C. hal ini jelas keliru karena bundel B dan C terletak pada kurva IC2 yang sama. Jadi denga aksioma transitivity ini kita bias menyimpulkan bahwa dua buah kurva indifferen tidak boleh berpotongan antara satu dengan yang lainnya.
Garis Anggaran (Budget Line)
Kurva Indefferen hanya menunjukkan besarnya kepuasan tertentu , kalau seorang consume mengkonsumsi dua macam barang pada berbagai kombinasi jumlah kedua macam barang tersebut , tapi tidak menunjukkan berapa besarnya kepuasan yang dapat dicapai dan berapa jumlah masing –masing barang yang dapat memberikan besarnya kepuasan tersebut. Berapa jumlah masing-masing barang yang harus dikonsumsi untuk memperoleh kepuasan tertentu tergantung pada anggaran dan pendapatan konsumen . Makin tinggi pendapatan , makin banyak banyak jumlah barang yang dapat dikonsumsi dan makin besar kepuasan yang dapat dicapai.
Jika pendapatan seorang konsumen diumpamakan dengan M dan harga barang diumpamakan X1dan X2 masing-masing P1 dan P2 maka pendapatan tersebut dapat dirumuskan menjadi: M = P1 X1 + P2 X2………………………..(3..4)
Persamaan (3.4) diatas mengisyaratkakn bahwa semuua pendapatan di belanjakan untuk membeli X1 dan X2 dengan sejumlah pendapatan tertentu , misalnya dengan M0 bisa dibeli berbagai jumlah macam X1 dan X2 yang total pengeluarannya sama dengan M0 ,atau dalam persamaan dapat dirumuskan :
MO = P1 X1 + P2 X2………………………………….(3.5)
Persamaan (3.5) diatas adalah persamaan garis anggaran (budget line) yang dapat didefinisikan sebagai garis yang menunjukan berbagai kombinasi dari jumlah barang X1 dan X2 yang total pengeluarannya sama garis anggaran tersebut dapat digambarkan seperti yang tampak pada Gambar 3.4.
Titik A menyatakan bahwa jika seluruh anggaran sebesar MO dibelnjakan untuk X1 akan diperoleh sebanyak 0X11 unit sedangkan titik B menyatakan bahwa jika seluruh anggaran dibelanjakan untuk X2 akan diperoleh sebanyak 0X21 unit. Pada titik C, dari anggaran tersebut dibelanjakan untuk X1 sebanyak OX1C dan untuk X2 sebanyak OX2C. Selanjutnya mari diamati apa arti dari ‘slope’ garis anggaran tersebut . Bertolak dari persamaan (3.5) diatas diperoleh: dMo = P1 dX1 + P2 dX2
dX1 P2
dX2 P1
Tampak dari hasil tersebut bahwa ‘slope’ dari garis anggaran menunjukkan harga relative (P2 / P1) dari kedua barang tersebut .Dus garis anggaran menunjukkan dua hal, yakni njauh dekatnya dengan titik asal menunjukkan besarnya anggaran , sedang ‘slope’ nya menunjukkan harga relatif.

X1

0X11 A

0X1C . C

B
0 0X2C0 0X21 X2
Gambar 3.4
Garis anggaran untuk X1 dan X2 dengan pendapatan Mo
Berapa unit barang X1 dan X2 yang dapat dibeli dengan anggaran yang tersedia ditentukan oleh harga per unit barang . Dengan demikian jika salah satu barang tersebut berubah , maka slope dari garis anggaran akan berubah. Jika kedua macam barang tersebut harganya berubah , maka slope garis anggaran juga akan berubah , kecuali kalau perubahan tersebut searah dan proprsional . masalah ini akan di bahas pada bagian mengenai keseimbangan konsumen.
Perubahan Garis Anggaran
Perubahan garis anggaran dapat terjadi dalam dua bentuk.
Pertama, perubahan yang paralel di mana ‘slope’ nya tidak berubah dan kedua, perubahan ‘slope’ garia anggaran. Perubahan garis paralel dapat terjadi karena dua hal, yaitu:
1. Perubahan pendapatan konsumen sedang harga barang tetap
2. Perubahan harga kedua macam barang searah dan professional misalnya
P1 dan P2 sama-sama naik sebesar 10% atau sama –sama turun sebesar 5%.
Perubahan anggaran sebagai akibat perubahan pendapatan, sedangkan harga tetap dapat dilihat pada Gambar 3.5. Jika pendapatan naik , maka garis anggaran bergeser dari BL1 ke BL2 dan jika pendapatan turun bergeser k BL3. Dus, semakin besar pendapatan makin jauh anggaran dari titik asal.

X1

BL2 BL1 BL3

0 X2
Gambar 3.5
Perubahan Garis Anggaran Karena Perubahan Pendapatan

3.3 Keseimbangan konsumen

Samapai disini sudah dikenal dengan dua alat analisis dalam teori konsumsi , yaitu kurva indifferen dan garis anggaran. Kurva indifferen mencerminnkan ‘ preferensi’ konsumen terhadap barang dalam rangka memenuhi kepuasannya , sedangkan garis anggaran mencerminkan batas kemampuan konsumen untuk memperoleh barang tersebut. Persoalanya ialah dengan sejumlah pendapatan tertentu , bagaimana mengalokasikan pendapatannya tersebut pada berbagai macam barang yang dapat dipilih.
Keseimbangan konsumen tidak lain adalah dengan pendapatan tertentu, dapat diperoleh sejumlah barang dan jasa sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh kepuasan maksimal. Asumsi yang dipakai dalam menganalisis keseimbangan konsumen pertama , adalah bahwa konsumen rasional dalam arti ingin memaksimalkan kepuasan dan yang kedua adalah memanfaatkan habis pendapatan (income) yang diterima. Dengan rumus sebagai berikut:
Max U = u(X1 ,X2 ……Xn)………………(3.6)
Dengan batsan
M = P1 X1 + P2 X2 …+..+…………………..(3.7)
Dengan menggunakan tehnik Langragian multiplier dan dibatasi dua macam barang , X1 dan X2 maka maksimal kepuasan dengan batasan tersebut diatas dapat dirumuskan menjadi
U = u (X1 , X2) + e ( M – P1 X1 – P2 X2)…………..(3.8)
Tujuannya adalah memaksimalkan utility.
MU :Marginal Utility
Contoh soal
Misalnya diketahui fungsi kepuasan konsumen : U= X1 X2 ……….(3.13)
Pendapatan Rp 2000, sedangkan harga X1 Rp 10 per unit dan harga X2 Rp 20 per unit. Dalam bentk persamaaan garis anggaran :
1000 = 10 X1 + 20 X2…………………..(3.13)
1000 = 10 X1 + 20 X2
= 20X2 + 20 X2
= 40
UX2 =25
1000 = 10X1 + 10X1
= 20
UX1 = 50
Contoh soal
Kasus dua macam barang
Jika seseorang memiliki Rp 2 uang untuk membeli barang X dan barang Y. jika harga barang X = Px dan barang Y = Py . maka kepusan orang ini terbataas pada:
Px.X + Py.Y_< I
X = I / Px
Y = I/py

I= JUMLAH UANG
Px = harga untuk barang x
Py = harga untuk brang y

Yanti memilik uang Rp 10.000 ,- uang tersebut akan digunakan untuk membeli the botol yang harganya Rp 500,-satu dan pisang molen yang harganya Rp 1000,-sebuah.jika yanti menggunakan seluruh uangnya hanya untuk membeli the botol atau juga hanya untuk membeli pisang molen, berapakah the botol yang akan di peroleh? Dan berapakah pisang molen yang akan diperoleh yanti?
Jawaban:
T = 10.000 / 500
=20
Jadi dari uang yang Rp 10.000,- itu akan di peroleh 20 the botol.
P = 10.000 / 1000
=10
Jadi dari uang yang Rp 10.000,- itu akan diperoleh pisang molen sebanyak 10.

 
 

Leave a Reply

 

 
  1. wijaya

    10 February 2013 at 09.49

    boleh saya jadikan salah satu referensi saya untuk makalah kuliah ?? Terima kasih

    ______________________
    Paket Umroh dan Haji Khusus

     
  2. Psychic Reading

    22 June 2013 at 15.09

    Do you mind if I quote a few of your articles as long as I provide credit
    and sources back to your weblog? My blog is in the exact
    same area of interest as yours and my users would genuinely benefit
    from some of the information you present here.
    Please let me know if this okay with you. Cheers!

     
  3. nasionalisme situs analisa politik ekonomi indonesia nasionalis.me

    23 June 2013 at 04.36

    berguna banget mas bro untuk artikelnya, gak salah ane mampir di blog ini… ijin ane bookmark dulu ah biar langgana blog mastah, btw mampir ke web dong gan, saya juga nulis di blog reot, omongin analisa politik ekonomi terkini indonesia terutama analisa menuju pemilu 2014 kayak jokowi ahok presiden sby PKS pustun dan lainnya di http://nasionalis.me jangan ragu mampir mas

     
  4. nasionalisme situs analisa politik ekonomi indonesia nasionalis.me

    23 June 2013 at 04.56

    berguna banget mas bro untuk artikelnya, gak salah ane duduk2 bentar di blog ini… ijin saya bookmark dulu ah biar kesave blog mastah, btw mampir ke web dong gan, saya juga nulis di blog sederhana , omongin analisa politik ekonomi terkini indonesia terutama analisa menuju pemilu 2014 kayak jokowi ahok presiden sby PKS pustun dan lainnya di http://nasionalis.me jangan ragu mampir mas

     
  5. Fake Ray Bans

    5 September 2013 at 18.26

    MAKALAH PENGANTAR EKONOMI MIKRO « lombok

     
 
Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE