<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aku Menulis Maka Aku Ada!</title>
	<atom:link href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam</link>
	<description>Blogger and book lover</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 10:29:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter Kejujuran: Solusi Budaya Mencontek Dan Ujian Nasional Jujur</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/22/pendidikan-karakter-kejujuran-solusi-budaya-mencontek-dan-ujian-nasional-jujur/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/22/pendidikan-karakter-kejujuran-solusi-budaya-mencontek-dan-ujian-nasional-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 10:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya mencontek]]></category>
		<category><![CDATA[essai pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[un jujur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[ini essaiku yang di ikutsertakan dalam lomba essai di Universitas Airlangga Jawa Timur tetapi kalah,, hehehe check this out!!! &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; Ujian Nasional atau biasa disingkat UN telah dilaksanakan secara serentak di negara Indonesia pada bulan april kemarin, baik SD, SMP, maupun SMA dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>ini essaiku yang di ikutsertakan dalam lomba essai di <a href="http://airlanggaibf.blogspot.com/" target="_blank">Universitas Airlangga Jawa Timur</a> tetapi kalah,, hehehe <img src='http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  check this out!!!</p>
<p><a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/un1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-159" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/un1.jpg" alt="" width="565" height="350" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ujian Nasional atau biasa disingkat UN telah dilaksanakan secara serentak di negara Indonesia pada bulan april kemarin, baik SD, SMP, maupun SMA dan sederajat. UN adalah salah satu komponen kelulusan yang sumbangsingnya 60 persen. Selain untuk kelulusan juga untuk pemetaan kualitas pendidikan diberbagai daerah di Indonesia. Jadi UN merupakan komponen kelulusan yang sangat penting. Harus ada persiapan matang dalam menghadapinya. Tidak boleh ada yang namanya unsur ‘curang’ dalam pelaksanaannya, karena pemetaan kualitas pendidikan tidak akan tercapai sesuai yang diharapkan pemerintah.</p>
<p>Belum kering ingatan kita pada kejadian yang menimpa dunia pendidikan di negara kita akhir – akhir ini. Tragedi – tragedi nasional contek massal, seperti yang dilakukan sekolah putra bu Siami yang heroik berbuah penderitaan, contek massal oleh guru di Indonesia Timur yang beberapa waktu ditayangkan di televisi bukti pendidikan kita sungguh jauh dari perilaku perwira. Mereka melaksanakan apa itu namanya ‘contek massal’. Begitu miris mendengar kata-kata itu. UN SD kemarin Di Cirebon, Ribuan siswa sekolah dasar (SD) di Kota Cirebon mengikuti Ujian Akhir Nasional (UN), Senin (7/5). Aksi saling mencontek di antara siswa mewarnai pelaksanaan UN di hari pertama (<em>republika.com</em>). Mohammad Ihsan -Sekretaris Jendral Ikatan Guru Indonesia- mengatakan: “Provinsi Gorontalo pada tahun 2008 bagus, tapi begitu mencanankan kejujuran, pada tahun berikutnya hanya 50 persen yang lulus UN. Dalam seminar di UPI disebutkan bahwa pada tahun 2010, Jawa Barat peringkat dua, tapi skala kejujuran skala 15” <em>(Republika, Senin, 23/4/2012 hal. 10)</em>. Beliau juga menambahkan: “Memang UN bukan satu-satunya penentu kelulusan, tapi kalau itu berpengaruh maka banyak menyulap hasil UN. Pernah ada 10 SMA di-<em>backlist</em> di SPMB karena ketahuan. Ini sudah menjadi bahan pembicaraan umum. Banyak guru yang disuruh kepala sekolah mengganti nilai dan sebagainya.”</p>
<p>Dunia perguruan tinggi juga tidak jauh panggang dari api. Kita disuguhi plagiarisme kaum intelektual yang memuaskan. Perilaku plagmatis ini jelas akan berimbas pada perilaku berbangsa.</p>
<p>Mencontek ialah awal dari ketidakjujuran, ketidakpercayaan diri, ketidakmampuan diri, paranoid berlebihan akan sebuah kegagalan. Pernahkah kita sekali waktu merenungkan sejenak untuk korupsi yang menggurita di negara ini? Bisa jadi budaya menyontek adalah perilaku deviatif taraf awal yang mengarah pada terbentuknya karakter korup.</p>
<p>Kita tidak bisa menghindar dari kebijakan pemerintah terhadap penyelenggaraan UN yang semakin disempurnakan, seperti pada UU SPN. Porsi mutlak Kelulusan tidak murni ditentukan oleh hasil UN semata. Cukup nilai UN menyumbangkan sumbangsih 60 persen bagi kelulusan siswa. Akan tetapi, kenyataannya formalitas tersebut belum cukup membuat berbagai pihak merasa tenang. Mereka merasa takut akan “eksekusi tidak lulus” sehingga kembali cara-cara culas tidak bisa dihindarkan. Baik oleh siswa secara pribadi yang nonsistematik maupun kecurangan sistematik yang masif dari pihak sekolah, percetakan, atau pihak – pihak luar yang ingin mengeruk keuntungan. Karena biasanya masyarakat akan melihat mutu – tidaknya suatu sekolah, atau pintar tidaknya seorang murid dilihat dari pencapain nilai UN yang identik dengan nilai akademis bergengsi. Sehingga kadang – kadang mereka akan mengesampingkan nilai – nilai pendidikan yang lain. Dalam hal ini yang terpenting adalah pendidikan karakter kejujuran.</p>
<p>Begitulah gambaran dunia pendidikan di negara kita saat ini. Betapa kejujuran menjadi barang langka di dunia pendidikan kita. Semua dilakukan demi UN, seakan UN faktor tunggal mati – hidupnya siswa meretas masa depan. Sekolah sebagai pelaksana pendidikan harus memiliki format yang jelas mengenai pendidikan karakter kejujuran. Sekolah harus memosisikan nilai kejujuran di atas nilai akademis. Mewujudkan UN jujur tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak hanya berhenti pada gerakan-gerakan atau ikrar-ikrar semata, tetapi yang justru lebih penting adalah membangun sikap kejujuran disegala lini dan sejak dini.</p>
<p><em>Pendidikan karakter </em><em>adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil</em><em>,</em> (Kemendiknas, 2010).</p>
<p>Belum banyak fakta mengenai sekolah atau dinas pendidikan yang memberikan <em>reward</em> atas nilai kejujuran. Perlu upaya persuasif dari pihak sekolah untuk menanamkan jiwa sportivitas kepada anak didik bahwa seberapa pun hasil UN-nya atau lulus – tidak lulusnya harus diterima dengan lapang dada. Semua itu buah dari kemampuan dan jerih payahnya. Uapaya memperoleh nilai akademis harus ditempuh dengan cara-cara yang bermartabat, bukan dengan kecurangan.</p>
<p>Budaya menyontek sebagai bentuk penyimpangan primer yang lazim dilakukan para siswa harus segera dihentikan. Pihak sekolah harus tegas dan berani mengatakan ‘tidak’ pada kegiatan – kegiatan mencontek. Tidak kompromi terhadap kegiatan mencontek sebagai awal terbitnya model – model kecurangan yang lebih parah, harus menjadi gerakan nasional secara nyata. Dari bentuk ujian sederhana, seperti ulangan harian, tes semester harus ada kontrol yang memadai. Sekolah harus bersinergi mewujudkan tekad bersih dari budaya mencontek. Guru satu dengan yang lain harus memiliki jiwa yang sama menghadapi bentuk penyimpangan tersebut. Media massa harus lebih masif mengangkat persoalan ini kepada khalayak bahwasannya budaya mencontek adalah penyakit akut menyangkut mentalitas dan harga diri bangsa yang harus segera dilumpuhkan.</p>
<p>Salah satu kegiatan dalam pendidikan karakter kejujuran yang sudah terealisasikan  di sekolah – sekolah adalah kantin kejujuran. Dalam pengelolaannya harus benar – benar diatur sehingga siswa bisa merasakan dampak dari kegiatan tersebut. Contoh lain adalah Seperti yang dilakukan oleh<strong> 22 Sekolah Menegah Atas se-Kota Bandung mendeklarasikan gerakan anti mencontek di Gedung Indonesia Mengugat, Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Bandung, Kamis (12/4/2012) (inilahjabar.com). Menurut Fadli </strong>&#8220;Gerakan ini sifatnya cuma ingin membuat kejujuran di Indonesia lebih diperhatikan&#8221;. Gerakan ini sangat bermanfaat karena bisa memperkuat kejujuran pada saat UN.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/22/pendidikan-karakter-kejujuran-solusi-budaya-mencontek-dan-ujian-nasional-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seharusnya Kita Tidak Boleh Takut (Cerpen)</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/17/seharusnya-kita-tidak-boleh-takut-cerpen/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/17/seharusnya-kita-tidak-boleh-takut-cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 00:38:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[jangan takut akan diri kita]]></category>
		<category><![CDATA[ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; “Aku ingin berhenti sekolah!!!” sentakku pada ibu yang sedang membereskan piring-piring kotor di meja makan. &#160; “Kenapa nak?” tanya ibu dengan nada bingung. &#160; “Aku ingin hidup normal bu!!!” &#160; “Kan selama ini Raka hidup normal tidak ada yang cacat nak?” [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/takut.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-152" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/takut.jpg" alt="" width="480" height="360" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Aku ingin berhenti sekolah!!!” sentakku pada ibu yang sedang membereskan piring-piring kotor di meja makan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kenapa nak?” tanya ibu dengan nada bingung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Aku ingin hidup normal bu!!!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kan selama ini Raka hidup normal tidak ada yang cacat nak?” jawab ibu sambil menenangkan suasana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tapi ibu tidak tahu apa yang terjadi selama ini di sekolah!!!” sentakku lagi dengan nada yang lebih tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku berlari ke kamar, membanting pintu kamar kemudian menguncinya dari dalam. Ibu membiarkanku pergi begitu saja karena dia tahu apa yang sedang aku rasakan, nalurinya memang luar biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur, memandangi langit-langit kamarku yang berwana putih kusam, terdapat sarang laba-laba di setiap sudutnya. Aku pandangi kembali isi kamarku yang dari dulu tidak pernah berubah. Buku-bukuku yang selalu tertata rapi di meja belajar, lemari, cermin, semuanya sama, tidak ada perubahan. “Apakah selama ini aku berubah?”, tanyaku dalam hati. Pikiranku langsung memutar kembali kejadian-kejadain yang terjadi selama ini. Seperti ada proyektor yang muncul dari otakku dan memantulkan cahayanya ke langit-langit kamarku. Aku bisa melihat secara jelas kejadian tadi siang ketika aku pulang sekolah berjalan bersama Dika sahabatku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Heh! Tadi kamu hebat banget di kelas tahu!” teriak Dika dengan pembukaan percakapannya yang khas sambil merangkul pundakku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Biasa aja, dari dulu aku hebat kali!” jawabku sekenanya sembari aku melepas tangannya dari pundakku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tapi tadi kamu tu hebat buangett, kamu bisa menjawab semua soal matematika yang di berikan pak Tejo, <em>it’s amazing!</em>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lebay lo!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sumpah yaahh, ketika kamu maju ke depan tadi tu semua anak di kelas termasuk pak Tejo bengong melihatmu bisa menjawab semua soal logaritma yang menurut aku tu sulit buangett tahu!”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“itukan soal yang mudah Dika?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Mudah buat lo, nggak buat gue, huuu..!!” kesal Dika sambil memajukan mulutnya 3 cm.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiba-tiba segerombolan anak memakai sepada ontel menghentikan langkahku dengan Dika. Aku melihat ada sesosok anak yang tak asing di mataku. Bertubuh besar, berkulit hitam, dan berambut kriting, dengan pakaiannya yang lusuh seperti tidak pernah dicuci oleh ibunya, dia berada paling depan pada gerombolan itu. Ya benar dia adalah Dion, ketua geng itu. Aku sudah tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku, mereka pasti akan mengejekku. Tapi tidak untuk sekarang, dia turun dari sepedanya kemudian menghampiri aku dan Dika yang dari tadi terdiam melihat mereka karena saking takutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Woy! Bocah aneh! Sok menjadi anak jenius! kamu seharusnya punya malu! Masih umur 15 tahun sudah berani masuk kelas XII terus sok pinter lagi di kelas! Kembali saja kamu kekelas X! Ngaca! Kamu punya cermin gak dirumah! Hah!” teriak Dion sambil menarik kerah seragamku keatas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Hahahahahhahaha” semua anak yang ada disitu mentertawakanku kecuali Dika yang dari tadi masih terdiam disampingku karena saking takutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sok dewasa! Inget! kamu itu masih kecil, masih bayi, masih unyu-unyu! jangan masuk kekelas kami dech, kalau bisa keluar aja!” tambah Rachel yang sudah berada disamping Dion. Sontak semua anak disitu menertawakanku kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Iya” jawabku singkat dengan nada yang lirih. Aku menunduk takut melihat tubuh Dion yang jelas lebih besar daripada aku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dasar anak nggak punya malu, anak aneh!” teriak Dion seraya melepaskan tangannya dari kerah seragamku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akhirnya Dion dan teman-temannya pergi dengan mengantongi rasa kepuasan masing-masing telah mengolok-olok aku. Aku dan Dika masih terpaku ditempatnya masing-masing, melihat kepergian mereka dengan pandangan sinis. Ingin sekali aku membalasnya atau melemparnya dengan batu, tapi itu tidaklah mungkin aku lakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiba-tiba mataku terasa panas, ada cairan yang memaksa  keluar dari mataku, aku meneteskan air mata. Terlintas dalam hati, aku bertanya, “Kapan penderitaanku akan berakhir?” Semakin banyak air mata yang keluar, semakin banyak pula yang terbayang. Kejadian-kejadian yang aku alami selama ini, anak-anak yang mengejekku baik itu ngomong langsung di depanku atau yang ngomongin aku dibelakang. Sakit sekali hati ini mengingat itu semua. Aku berdo’a dalam hati, “Ya Allah berilah aku yang terbaik Ya Allah”. Aku menghirup nafas panjang kemudian aku keluarkan melalui mulut. Aku melakukannya berkali-kali hingga aku tertidur lelap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pagi hari kepalaku terasa pusing, badanku panas, aku berjalan menuju wc dengan pandangan berkunang-kunang. Semua terasa gelap, dan bleekk&#8230; aku tak sadarkan diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang aku ingat tiba-tiba aku merasakan rasa dingin di jidadku. Kubuka mataku perlahan-lahan, aku pandangi apa yang ada di sekelilingku. Aku sadar aku berada di kamarku lagi. Kompresan ini yang menyadarkanku, tadi aku pingsan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari balik pintu muncul sesosok wanita yang tak asing lagi, pakaiannya bersih, wajahnya bersinar, terbalut kain sederhana dikepalanya, langkahnya anggun, membawa mangkok yang atasnya masih mengepulkan asap. Dengan wajah tersenyum dia menghampiriku, kemudian duduk disampingku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Nak, hari ini kamu istirahat dulu ya, tidak usah berangkat sekolah, kamu lagi demam” ibu membuka pembicaraan kami sambil mengganti kain kompres dikepalaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Maafkan Raka atas kejadian tadi malam ya bu?” kataku dengan pandangan menunduk karena merasa bersalah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sebenarnya ada masalah apa di sekolah nak? Tolong ceritakan pada ibu” tanya ibu sambil memasukkan sesendok bubur kedalam mulutku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Bu, setelah Raka akselerasi<em> </em>dari kelas X kekelas XII semuanya terasa berubah, semua anak menganggap Raka anak yang aneh, anak sok jenius. Mereka selalu mengejekku dengan kata-kata itu. Ada yang ngomong langsung didepan Raka, ada juga yang ngomong di belakang, bahkan ada yang mengancam Raka, suruh pindah kekelas X lagi” jelasku dengan nada kesal sambil mengunyah bubur yang ada dimulutku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Nak, itu sudah kebijakan sekolah mempercepat belajarmu karena kamu emang sudah layak ada di kelas XII. Itu tandanya Raka anak yang istimewa, bukan anak yang aneh. Harusnya Raka bersyukur atas itu” jawab ibu dengan nada tenang sambil memberikanku segelas air putih, dan meminumkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Iya&#8230;.. Raka tahu itu bu, tapi&#8230;&#8230;!” tiba-tiba aku terdiam, aku tidak ingin mengulang kembali kejadian tadi malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jika ada orang berbicara mengenai kita di belakang, itu adalah tanda bahwa kita sudah di depan.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saat orang bicara merendahkan diri kita, itu adalah tanda bahwa kita sudah berada di tempat yang tinggi.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saat orang bicara dengan nada iri mengenai kita, itu adalah tanda bahwa kita sudah jauh lebih baik dari mereka.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saat orang bicara buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya ‘lebih indah’ dari mereka.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nasihat ibu bagaikan kekuatan yang datang dari langit masuk kedalam tubuhku, segar dan menyejukkan hati, seperti ada energi baru untuk menghadapi hari esok. Aku tidak perlu takut lagi akan ejekan teman-temanku, karena kalau mereka mengejekku berarti tandanya aku sudah berada didepan. Aku harus bersyukur akan itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/17/seharusnya-kita-tidak-boleh-takut-cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grab the World by English</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/11/grab-the-world-by-english/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/11/grab-the-world-by-english/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 02:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[kunci menggenggam dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[To begin with, English can be considered as the most significant language because it is used as a lingua franca. According to Lenon (2009) a lingua franca is a language which is used to communicate by people with different language background. Indeed, English is clearly a lingua franca since it is used to communicate by [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/icosi-umy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-56" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/icosi-umy.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p>To begin with, English can be considered as the most significant language because it is used as a lingua franca. According to Lenon (2009) a lingua franca is a language which is used to communicate by people with different language background. Indeed, English is clearly a lingua franca since it is used to communicate by people in the world. For one example, English is used in some Japanese universities as the formal language in the campus. For another example, English is also spoken by members of the United Nation. Therefore, people should be able to speak and understand English to be able to communicate with people from other countries.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Furthermore, English is also vital since it becomes the internet language. Bieber(2011) reports that English makes up 80 % of information in the internet.   This means that most of the information in the internet is written in English. For this reason, internet users should understand English if they want to benefit the existence of the internet.<span id="more-55"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Next, because of the existence of the internet language, English can also be considered as a language for knowledge enhancement and dissemination. In fact, there is abundant of information in the internet. For example, students can find many journal articles in the internet as resources for their study. Teachers can also locate a great number of teaching materials in the internet. Additionally, all people can obtain some articles to enhance their skills. By typing the keywords in the search Engine, people can improve their knowledge on management, leadership, teamwork, international language. Such practical tips as how to be an effective mother, how to be an effective speaker and other ‘how to’ knowledge is also widely provided in the internet. Due to this fact, Bell (2010) argues that everyone can be smart without school if they want to learn from the internet. Similarly, Icon (2011) also maintains that Internet becomes the greatest learning resources in the 21st century.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Finally, many people agree that English will help people to succeed in their jobs. Particularly, English is used by multinational company to interview their employee candidates and to communicate in the company. In fact, all multinational companies hold job interview in English. Those companies think that being able to communicate in English is vital since the employees will communicate in English with their colleagues from other countries. Additionally, the companies will conduct trainings for human resources development in English. Hence, “English becomes an important tool for developing employees’ career” (Hatmanto, 2010). In other words, people will less likely to be successful in developing their careers unless they master English.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/11/grab-the-world-by-english/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketakutan Terdalam kita</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/02/ketakutan-terdalam-kita/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/02/ketakutan-terdalam-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 04:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[akeelah and the bee]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jangan takut akan diri kita]]></category>
		<category><![CDATA[ketakutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Kau tahu perasaan itu tak peduli apa yang kau lakukan. Atau kemana kau pergi kau hanya tidak terbiasa? Aku tak tahu ungkapan untuk itu. Pengasingan, kerenggangan, ketidakcocokan? Tidak, tidak benar. Tapi pasti ada kata untuk itu, karena itu yang aku rasakan. Ketakutan terdalam bukan karena kita tidak cukup. Ketakutan terdalam kita adalah kita memiliki kekuatan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kau tahu perasaan itu tak peduli apa yang kau lakukan. Atau kemana kau pergi kau hanya tidak terbiasa? Aku tak tahu ungkapan untuk itu. Pengasingan, kerenggangan, ketidakcocokan? Tidak, tidak benar. Tapi pasti ada kata untuk itu, karena itu yang aku rasakan.<br />
Ketakutan terdalam bukan karena kita tidak cukup. Ketakutan terdalam kita adalah kita memiliki kekuatan untuk mengukur. Kita bertanya pada diri kita sendiri ‘siapa saya untuk jadi cerdas, cemerlang, berbakat, dan menakjubkan? Sebenarnya, siapa yang tak bisa kau jadikan?’<br />
Kita dilahirkan untuk membuat manifestasi kemuliaan tuhan dalam diri kita. Dan begitu kita biarkan cahaya kita menyala, kita tanpa sadar berikan orang lain kesempatan untuk lakukan hal yang sama.<span id="more-31"></span><br />
Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. We ask ourselves, who am I to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?<br />
Actually, who are you not to be?<br />
Your playing small doesn’t serve the world. We were born to make manifest the glory of god that is within us. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same.<br />
Apa itu bermakna sesuatu untukmu?<br />
Artinya bahwa aku tidak seharusnya jadi takut, takut akan diriku.<br />
Kau tahu perasaan dimana semuanya berjalan dengan baik? Dimana kau tidak perlu kuatir dengan hari esok atau kemarin. Tapi kau merasa aman dan tahu kau melakukan terbaik yang kau bisa. Ada kata untuk perasaan itu, itu disebut love. L-O-V-E.<br />
Dan itu yang aku rasakan untuk seluruh keluargaku, dan seluruh pelatih dilingkungan tempat tinggalku. Dimana aku belajar bagaimana mengeja.</p>
<p style="text-align: center">Adapted from “Akeelah and the Bee”<br />
<a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/akeelah-and-the-bee.jpg"><img class="size-full wp-image-32 aligncenter" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/05/akeelah-and-the-bee.jpg" alt="" width="213" height="317" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/05/02/ketakutan-terdalam-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wise Words About Dreams</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/wise-words-about-dreams/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/wise-words-about-dreams/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 04:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[andrea hirata]]></category>
		<category><![CDATA[bermimpi]]></category>
		<category><![CDATA[kata mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Langkah pertama untuk sukses adalah memiliki impian yang kuat. – Picasso – Jangan berhenti bermimpi, karena orang seperti kita hanya bisa hidup dengan memperjuangkan mimpi. – Andrea Hirata – Janganlah takut oleh jarak antara mimpi anda dan kenyataan yang anda hadapi. Selama anda masih bisa memimpikannya, anda pasti bisa mewujudkannya. – Belva Davis – Buah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p> 	Langkah pertama untuk sukses adalah memiliki impian yang kuat. – Picasso –<br />
 	Jangan berhenti bermimpi, karena orang seperti kita hanya bisa hidup dengan memperjuangkan mimpi. – Andrea Hirata –<br />
 	Janganlah takut oleh jarak antara mimpi anda dan kenyataan yang anda hadapi. Selama anda masih bisa memimpikannya, anda pasti bisa mewujudkannya. – Belva Davis –<br />
 	Buah manis dari bermimpi adalah perjalanan dalam menggapainya. – Andrea Hirata –<br />
 	Yang terpenting bukanlah seberapa besar mimpi kalian tetapi seberapa besar kalian untuk bermimpi. – Andrea Hirata –</p>
<p><a href="http://www.sellingbooks.com/renee-gatz-author-interview/"><img src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/04/wise-words.jpg" alt="" width="300" height="370" class="alignnone size-full wp-image-29" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/wise-words-about-dreams/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAN JADDA WA JADA (Negri 5 Menara)</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/man-jadda-wa-jada-negri-5-menara/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/man-jadda-wa-jada-negri-5-menara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 03:54:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[alif]]></category>
		<category><![CDATA[bersungguh-sungguh]]></category>
		<category><![CDATA[kesukssan]]></category>
		<category><![CDATA[kesungguhan adalah kuncinya]]></category>
		<category><![CDATA[man jadda wajada]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Keinginan Alif untuk melanjutkan sekolah SMA di Bandung dan kemudian melanjutkan kuliah di ITB di tolak oleh orang tuanya karena orang tuanya menginginkan anaknya itu masuk di Pondok Pesantren Modern Madani, Ponorogo, Jawa Timur. Hanya satu yang ada difikiran Alif yaitu ilmu agamalah yang akan didapatnya. Akhirnya pagi-pagi buta sang ayah mengajak Alif untuk melihat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Keinginan Alif untuk melanjutkan sekolah SMA di Bandung dan kemudian melanjutkan kuliah di ITB di tolak oleh orang tuanya karena orang tuanya menginginkan anaknya itu masuk di Pondok Pesantren Modern Madani, Ponorogo, Jawa Timur. Hanya satu yang ada difikiran Alif yaitu ilmu agamalah yang akan didapatnya. Akhirnya pagi-pagi buta sang ayah mengajak Alif untuk melihat transaksi jual beli satu-satunya harta yang dimiliki ayahnya yaitu sapi untuk membiayai sekolanya nanti. Tradisi jual beli di Padang yaitu dengan cara penjual dan pembeli melakukan transaksi di dalam sarung dan melakukan negosiasi hanya dengan isyarat tangan. Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang terjadi didalam sarung. Sang ayah berkata kepada Alif, “Alif, kamu hanya bisa melihat dari luarnya saja, belum melihat dalamnya kamu ga tau apa yang terjadi disana” itulah nasehat sang ayah kepada Alif. Akhirnya singakat cerita Alif pun mensetujui permintaan orangtuanya untuk melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren Modern Madani. Pertama kali masuk ke arena Pondok ada kalimat yang sangat menarik perhatian Alif yaitu ke Madani Apa yang Kau Cari. <span id="more-23"></span>Itulah awal cerita yang saya dapatkan ketika menonton film “Negri 5 Menara”. Dari awal cerita sampai Pertengahan sangatlah menarik, tapi pada akhir cerita sangat mengecewakan karna bisa dibilang ceritanya terlalu singkat dan ga jelas endingnya. Tapi kali ini saya akan mengulas sisi positifnya saja. Pada saat Alif masuk ke kelas untuk pertama kalinya, dia kaget karena ustadz Salman membawa sebongkah kayu dan sebilah pedang yang sudah berkarat. Anak-anak heran meliahtnya. dengan bersusuah payang dan bersungguh-sungguh, akhirnya ustadz Salman bisa mematahkan kayu itu dengan bercampurkan keringat. Beliau berkata “bukan pedang yang tajam yang hanya mampu mematahkan kayu ini, tapi pedang tumpul juga mampu mematahkan apabila di tempa berkali-kali. Bukan orang yang cerdas saja yang akan berhasil, tapi orang yang mau bersungguh-sungguhlah juga akan berhasil. Man Jadda Wa Jada” sontak anak-anak mengikuti perkataannya berkali-kali dengan penuh semangat. Pada moment inilah yang membuat bulu kuduk saya merinding. MAN JADDA WA JADA. Ada lagi pada saat kyai Rois menyampaikan pidatonya kepada santri-santri baru. Beliau berpesan “orang besar bukanlah mereka yang menjadi Presiden, DPR, PNS, atau Camat, tapi orang besar adalah mereka yang setelah lulus dari pondok ini menularkan ilmunya ke daerahnya masing-masing sampai kepelosok-pelosok”. Kata-kata andika pratama kepada Alif yang akan bergabung ke Syam (Pers pada pondok itu) yaitu jadilah jurnalis karena kita dapat mengubah dunia hanya dengan kalimat-kalimat. Keinginan Alif untuk pindah sekolah di Bandung karena dia merasa ga betah dengan fasilitas yang ada, sehingga dia ingin pindah. Setelah mengurus semuanya, ibunya mensetujui dan berkata “nak, ibu setuju kamu menimba ilmu diman saja, tapi satu hal yang harus kamu inget kamu harus menjalaninya dengan kesungguhan hati, karena itu adalah kuncinya”. Dari nasehat ibunyalah yang menyadarkan pada Man Jadda Wa Jada dan membatalkan untuk pindah sekolah. Masih banyak lagi adegan-adegan yang menceritakan aktivitas-aktivitas di pondok. Dari kreativitas mereka sampai kelucuan mereka berenam yang membuat para penonton di bioskop tertawa. Masih bertanya-tanya kenapa film ini diberi judul Negri 5 Menara mungkin karena ceritanya pada saat itu mereka berenam sedang berteduh di menara masjid pondok, ada anak yang memangilnya dengan sebutan sakhibul menara (yang memiliki menara) akhirnya nama itu dijadikan nama group mereka. Dan saat itulah satu per satu dari mereka menyebutkan cita-cita mereka. Muali dari Inggris, Mesir, Amerika, Papua, dan Afrika. Berita yang saya dengar memang penulis novel ini sudah pernah mengelilingi Negri 5 menara tersebut. Terakhir setelah selesai menonton film ini satu kalimat yang masih teringat-ingat sampai sekarang adalah MAN JADDA WA JADA!!!!<br />
<a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/04/url.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-25" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2012/04/url.jpg" alt="" width="696" height="1024" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2012/04/18/man-jadda-wa-jada-negri-5-menara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kebumen is my beloved city</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/kebumen-is-my-beloved-city/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/kebumen-is-my-beloved-city/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 06:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[About my city My city located in central java, namely is kebumen. In fact, kebumen has many tourism places. One of the most interesting tourism places in kebumen is Jatijajar cave. All people know kebumen as an “ngapak” city, but kebumen has interest tourism places. Jatijajar cave is located about 49 km west of Kebumen, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center">About my city</p>
<p>My city located in central java, namely is kebumen. In fact, kebumen has many tourism places. One of the most interesting tourism places in kebumen is Jatijajar cave. All people know kebumen as an “ngapak” city, but kebumen has interest tourism places.</p>
<p>Jatijajar cave is located about 49 km west of Kebumen, or 20 km from Gombong, and it is the most interesting cave in Central Java. To reach the location there is available transportation such as angkot (a small bus), bust might be the cheapest transportation for tourists. Jatijajar cave is not only available transportation, but also some representative hotels and restaurants. So, it is very easy to get there by bus.</p>
<p>The name of Jatijajar is come when there were two of twin jati trees growths in mouth of cave in the first time founded. Inside the Jatijajar cave, there is Kamandaka statue, which has its own legend. The legend of the cave is describing about the legend of Raden Kamandaka or lutung kasarung which this story is represented by statues inside of cave. Many people believe that water from water source inside cave can make some one well preserved. The length of this cave is about 250 meters. Every cave has own history which explain about that cave.</p>
<p>Around the cave is equipped by Dinosaur statue discharges water from his mouth, whereas water comes from sources inside cave every day. There are also has another beautiful cave in the area of Jatijajar cave, such as Intan Cave and Dempok cave. That cave completed by a pleasure park, namely is Taman Kera, that many of monkey statues in there. No wonder, many people want to visited jatijajar cave to enjoy their holiday.</p>
<p>To conclude, Jatijajar cave is the most interesting tourism places in kebumen. So, jatijajar cave has accessible location, has owns legend, and also has another beautiful cave around of jatijajar cave. No wonder, visitors will not boring to visit there for longer time.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/kebumen-is-my-beloved-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>research essay</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/research-essay/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/research-essay/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 06:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bad Effects of TV Programs TV Programs give some bad effects to education, especially, for children. For one result, children often become lazy because they enjoy with program in TV. For another result, Children often follow what is seen on TV, and in fact they bring into being them style. Furthermore, Children lack of social [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Bad Effects of TV Programs</strong></p>
<p>TV Programs give some bad effects to education<strong>, </strong>especially, for children. For one result, children often become lazy because they enjoy with program in TV. For another result, Children often follow what is seen on TV, and in fact they bring into being them style. Furthermore, Children lack of social interaction caused them beloved of TV program than they social interaction. And the last, TV make them poor of knowledge and less alert during in school, not attracted during in school.TV program not only give good effect, but in reality, TV gives more bad effect on children especially in education aspect.</p>
<p>To begin with, children often become lazy because they enjoy with program in TV. TV viewing is a sedentary activity, and has been proven to be a significant factor in childhood obesity. According to the Heart and Stroke Foundation of Canada almost one in four Canadian children, between seven and 12, is obese. Time spent in front of the TV is often at the expense of more active pastimes. Moreover, to give perspective on just how much violence kids see on TV, consider this: the average American child will witness 200,000 violent acts on television by age 18. Kids may become desensitized to violence and more aggressive. Indeed, children often become lazy, for example they do not pray on time. For another example they do not take a bath soon and they do not study their lessons, because they better choose with watching TV. Therefore, if they enjoy with program TV they will often become lazy. (Donate, 2010)<span id="more-18"></span></p>
<p>Furthermore, bad effect of TV programs also make the children often follow what is seen on TV, and in fact they bring into being them style. TV is full of programs and commercials that depict risky behaviours (such as drinking alcohol, doing drugs, smoking cigarettes, and having premarital sex) as cool, fun, and exciting. And often, there&#8217;s no discussion about the consequences of those actions. For example, studies have shown that teens who watch lots of sexual content on TV are more likely to initiate intercourse or participate in other sexual activities earlier than peers who don&#8217;t watch sexually explicit shows. Alcohol ads on TV have actually increased over the last few years and more underage kids are being exposed to them than ever. A recent study by the Centre on Alcohol Marketing and Youth (CAMY) found that youth exposure to alcohol ads on TV increased by 30% from 2001 to 2006. And although they have banned cigarette ads on television, kids and teens can still see plenty of people smoking on programs and movies airing on TV. This kind of &#8220;product placement&#8221; makes behaviours like smoking and drinking alcohol seem acceptable. In fact, kids who watch 5 or more hours of TV per day are far more likely to begin smoking cigarettes than those who watch less than the recommended 2 hours a day. So, children often follow what is seen on TV, for example they are Consumptive. For another example they imitate bad behaviour and they use bad languages. So, do not let children watching TV too much because<strong> </strong>it’s will be effect for them behaviour. (Donate, 2010)</p>
<p>Next, Children lack of social interaction caused them beloved of TV program than they social interaction. TV as a causal factor of descent children’s achievement, TV takes away the time that children need to develop important skills like language, reading, social and emotional skills. Language is only learned through interaction with other people when talking and listening which used in the context of real life. Children’s language skills are not improved by passively listening to the TV. Reading requires much more thinking than television, and we know that reading fosters children’s healthy brain development. Children who growing up in families in which the TV is on always or most of the time spend less time reading and being read to, and are less likely to be able to read. “TV viewing takes away time from reading and improving reading skills through practice” (Comstock, 1991). “Children watching cartoons and entertainment television during pre-school years have poorer pre-reading skills at age 5.” (Macbeth, 1996). Also, “children who watch entertainment TV are also less likely to read books and other print media.”(Wright &amp; Huston, 1995). When children play, they actively learning about how the world work and wire their brain by experimenting with cause and effect. For example when interacts with people, he meets his emotional milestones. Indeed, many Children lack of social interaction like they just stay at home, they do not play with their friends, and they do not go to the mosque.<strong> </strong>Therefore, TV keeps children away from these activities. Note that when children smile at the TV, the TV does not smile back. This may affect them socially and psychologically. (Kurn, 2009)</p>
<p>The last, TV make them poor of intelligence, less alert during in school, and leads to mental laziness. The more television that children watch, the less investment that they put in the mental effort required to master academic skills. Instead, they watch television programs that are entertaining and easy to understand. As a result, children are not likely to engage in activities that require intellectual functioning, such as reading.” A low level of mental effort is elicited by television viewing and eventually leads to a tendency to expend little mental effort required to read or to solve arithmetic problems (Suedfeld, Little, Rank, Rank, &amp; Ballard, 1986)”. Children who watch too much TV tend to work less on their homework. When doing homework with TV on the background, children tend to retain less skill and information. If children lose sleep because of TV, they become less alert during the day. As a consequence, children have poor performance in school. (Kurn, 2009)</p>
<p>To conclude, watching TV is really a big waste of time and gives bad effect on children. They watch TV for hours and do not realize how much time is wasted. TV can freezing children’s mind and obstruct children from exercising initiative, being intellectually challenged, thinking analytically, and using his imagination. TV also leads children’s mental laziness, which may hinder academic achievement that requires more active intellectual efforts. Therefore, children should be<strong> </strong>monitor the content of TV programming and set viewing limits to ensure that your kids don&#8217;t spend too much time parked in front of the TV.</p>
<h1>Bibliography</h1>
<p>Donate. (2010, March 20). <em>http://kidshealth.org</em>. Retrieved december 8, 2011, from KidsHealth: http://kidshealth.org/parent/positive/family/tv_affects_child.html</p>
<p>Kurn, W. (2009, july 27). <em>learn how to learn, think unthinkable..</em> Retrieved december 8, 2011, from http://widikurn.wordpress.com: http://widikurn.wordpress.com/2009/07/27/effect-of-tv-on-children-me-too-hiks/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Name        : Rudianto</strong></p>
<p><strong>NIM         : 20110540071</strong></p>
<p><strong>Class        : B of English Department Education</strong></p>
<p><strong>Assignment : Research Essay Writing</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/12/22/research-essay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>my essay</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/12/my-essay/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/12/my-essay/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 14:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[My Favourite Tourism Place My favourite tourism place is logending beach. Logending Beach is also known as Ayah Beach and located near at my home. There is beautiful place and comfort place. Going to there is a lot fun. Moreover, Logending beach has art market and some restaurant that will serve me. I have never [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left" align="center"><a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2011/11/logending-beach.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-135" src="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2011/11/logending-beach.jpg" alt="" width="266" height="189" /></a></p>
<p align="center">My Favourite Tourism Place</p>
<p>My favourite tourism place is logending beach. Logending Beach is also known as Ayah Beach and located near at my home. There is beautiful place and comfort place. Going to there is a lot fun. Moreover, Logending beach has art market and some restaurant that will serve me. I have never been boring to go there.</p>
<p>Logending Beach is also known as Ayah Beach. Location about 3 kilometres to the south of Petruk Cave or around 40 kilo meters from Gombong town.<br />
Logending beach is one of tourism object residing in Kebumen town, in Central Java.</p>
<p>Logending beach is beautiful place and comfort place. I feel natural beauty between forest tourism and maritime tourism. Logending beach has immeasurable beauty between view of clear sea-water and extent of sloping sand. I can see sunset at evening, if you can see, you will feel quiet and very comfort. Logending beach is good looking and in there make me soothing.<br />
<span id="more-16"></span><br />
Logending beach make me feeling a lot of fun. Because there has extent of sloping sand I like to make everything from sand, and then it will be delete by wave, and it will be happen every times. Sometimes, I like to play wave because it will make me a lot fun. To additional, logending beach has playing park, such as swing, kid game, coaster, ride on horseback, and another game. I like to ride coaster because i can relax explores ocean with renting boat property of fisherman. I enjoy reside at logending beach.</p>
<p>Logending beach has art market and some restaurant that will serve me. I can buy some souvenir, for example all about batik, such as clot from batik, sandal from batik, bracelet and ring from batik, bag from batik, and any choice. On other hand, logending beach also has some restaurant that prepare some food, specially typical food from kebumen for instant, lanting bumbu, saleh pisang, various of jenang, and some food other. I like buy saleh pisang because saleh pisang has taste spesific. Logending beach is not only has beautiful place but also has complete facilities that will serve me.</p>
<p>So, logending beach is my favourite tourism place which if I go there I will never been boring. If I back to home I will always going to there.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/12/my-essay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My First Post</title>
		<link>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/04/my-first-post/</link>
		<comments>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/04/my-first-post/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 04:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Curhatku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[JOGJA IS MY LIVED and KEBUMEN IS MY HOMETOWN Lived in joga is different than lived in kebumen because many something is new in my life that I find in jogja. Jogja has keraton, and the leader is ‘sultan’. Mostly, many people know Jogja is famous with student city because there is many universities which [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/files/2011/11/Acer-Aspire-One-Happy-Hawaii-Blue.jpg"><br />
</a></p>
<p align="center"><strong>JOGJA IS MY LIVED and KEBUMEN IS MY HOMETOWN</strong></p>
<p>Lived in joga is different than lived in kebumen because many something is new in my life that I find in jogja. Jogja has keraton, and the leader is ‘sultan’. Mostly, many people know Jogja is famous with student city because there is many universities which can me find. Moreover, Jogja is famous with culture city because there is still natural with culture them. Generally, the language using in jogja is Javanese cultured. Typical food in jogja has some kind; for example, gudeg, bakpia, kripik belut, and some food other. On other hand, jogja has tourism object interested which still natural; for instance, Prambanan temple, parangtritis beach, gembira loka zoo, Monjali, and most famous is Malioboro because there is financing centre in jogja. In kebumen, however, I love so much because there is my hometown and I really comfort stay there. The leader in kebumen has difference with jogja, because kebumen is governor. Mostly, many people know kebumen with language ‘ngapak-ngapak’ because Kebumen is included in Banyumas. I can language ‘ngapak-ngapak’ very well; moreover I can language Javanese too. Typical food in Kebumen has some kind; for example, lanting bumbu, saleh pisang, jenang, and some food other. On other hand, Kebumen has different tourism object which still natural; for instance, Jatijajar cave, petruk cave, Van der vick fortress, and any other. In the same way, jogja and kebumen has inhabitant friendly. Jogja has culture unique and interested; likewise kebumen has culture unique and extremely natural. For these reasons, all people will be feeling comfort if visited in both place, but if I had a choice, I would like living in kebumen even though I never forget with student city, jogja.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.umy.ac.id/rudyazzam/2011/11/04/my-first-post/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
