“Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan dari setiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, Dia (Allah) berfirman, “Mengapa kamu telah mendustakan ayat-ayatKu, padahal kamu tidak mempunyai pengetahuan akan hal itu, atau apakah yang telah kamu kerjakan?” Dan berlakulah perkataan (janji azab) atas mereka karena kedhaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata. Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan malam agar mereka beristirahat padanya dan (menjadikan) siang yang menerangi? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa membawa kebaikan, maka dia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu. Dan barang siapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan. Aku (Muhammad) hanya diperintahkan menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang Dia telah menjadikan suci padanya dan segala sesuatu adalah milikNya. Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang muslim, dan agar aku membacakan Al-Quran (kepada manusia). Maka, barang siapa mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barang siapa sesat, maka katakanlah, “Sesungguhnya, aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.” Dan katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran) Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 82 – 93)

Dalam beberapa ayat di atas, jika kita perhatikan maka kita akan dapati beberapa bagian ayat yang menunjukkan pada beberapa cara dalam berdakwah. Diantaranya ialah, Ta’lim (pengajaran) dan Tarbiyah (pendidikan), Tazkir (pengingatan) dan Tanbih (penyegaran), Targhib (penggemaran) dan Tabsyir (penampilan berita), Tarhib dan Inzar (penakutan dengan mengemukakan berbagai berita siksa), Qashash dan Riwayat (cerita-cerita masa lalu), ataupun Amar (perintah) dan Nahi (larangan).

Sasaran dakwah dari ayat-ayat diatas adalah akidah atau keimanan. Allah SWT hendak meyankinkan manusia, terutama orang-orang yang masih musyrik, yang masih menyangsikan akan ke-Esaan Allah, ke-Maha Kuasaan Allah, Allah Yang Maha Mengetahui dan sebagainya, juga akan datangnya hari akhir. Untuk mencapai sasaran dakwah ini, maka Al-Quran menampilkan beberapa cara dalam berdakwah seperti yang telah disebutkan di atas.

 

  1. A.    Analisis Filosofis
    1. 1.      Kata Tadzkir Dalam Berbagai Konteks

Kata tadzkir (تذكير) dalam bahasa Arab berarti “mengingatkan”, yang  merupakan isim masdar dari adzkra ( (اذكر. Adapun dalam Al-Quran kata tadzkir ini memiliki makna dalam konteks yang beragam, yaitu:

  1. Tadzkirotan (dalam QS. Al-Haqqah, 69: 12) dalam konteks peringatan akan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Nuh. Dalam surah ini peristiwa tersebut disebutkan dalam ayat sebelumnya.
  2. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Haqqah, 69: 48) dalam konteks Al-Quran sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
  3. Tadzkirotun ( dalam QS. Al-Muzammil, 73: 19) dalam konteks peringatan akan janji Allah.
  4. Madzkuuron (dalam QS. Al-Insan, 76: 1) dalam konteks penyebutan masa yang datang pada manusia.
  5. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Insan, 76: 29) dalam konteks peringatan akan ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah swt.
  6. Tadzkiroti (dalam QS. Al-Muddatstsir, 74:49) dalam konteks orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah swt.
  7. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Muddatstsir, 74:54) dalam konteks Al-Quran sebagai peringatan.
  8. Tadzkirotun (dalam QS. ‘Abasa, 80:11) dalam konteks ajaran-ajaran Allah adalah peringatan.
  9. Tadzkirotan (dalam QS. Thaha, 20:3) dalam konteks Al-Quran adalah peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah).
  10. Tadzkirotan (dalam QS. Al-Waqi’ah, 56:73) dalam konteks menjadikan api sebagai peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.
  11. Tadzkiriy (dalam QS. Yunus, 10:71) dalam konteks peringatan ayat-ayat Allah yang disampaikan Nabi Nuh pada kaumnya.
  12. Dzakkir dan Mudzakkir (dalam QS. Al-Ghasiyah, 88:21) dalam konteks perintah kepada Nabi Muhammad untuk memberi peringatan dan penegasan bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang pemberi peringatan.

 

Dari makna tadzkir secara etimologi dan beberapa makna yang terdapat dalam Al-Quran, maka ada beberapa hal yang penting untuk diingat.

1)      Kata tadzkir secara umum memiliki arti yang sama dalam beberapa konteks, yakni dengan arti “peringatan”. Baik dalam penyebutan bersamaan dengan kata-kata ayat ((اية , kata-kata yang disebutkan sebelum atau sesudahnya, al-Quran (القران) , wa’dun (وعد) , ataupun makna  tersirat yang menyertai kata tadzkir.

Peringatan disini juga beragam bentuknya, seperti:

Pertama, peringatan akan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Allah, hal ini berarti kita diperintah untuk memperhatikan dengan seksama terhadap tanda-tanda tersebut.

Kedua, mengingatkan bahwa Al-Quran adalah peringatan, hal ini berarti kita diperintah untuk mempelajari Al-Quran karena dalam Al-Quran itu terdapat sumber pengetahuan dan solusi pemecahan masalah dalam kehidupan.

Ketiga, peringatan akan peristiwa terdahulu, hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak bersikap dan bertindak seperti umat terdahulu yang mendustakan para Nabi yang datang pada mereka.

Keempat, peringatan akan janji Allah, mengingatkan pada kita untuk meyakini bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu pasti terlaksana, dan kita tidak boleh ragu sedikitpun akan janji-janji Allah tersebut.

2)      Tadzkir tidak selamanya berarti “peringatan”, akan tetapi makna atau arti dari tadzkir ini akan seseuai dengan konteks atau kata yang menyertainya. Seperti dalam QS. Al-Haqqah, 69:48 dan QS. Al-Insan, 76:1, dalam kedua ayat tersebut tadzkir bermakna “pelajaran” dan “sebutan / penyebutan / disebut”.

  1. 2.      Kata Tanbih Dalam Berbagai Konteks

Kata Tanbih (تنبيه) dalam bahasa Arab berarti “hal yang menjagakan, mengingatkan, dan peringatan”. Kata tanbih juga dapat berarti “penyegaran kembali” seperti yang dituliskan A. Hasjmy dalam buku karangannya “Dustur Dakwah Menurut Al-Quran”.

Pada dasarnya kata tanbih ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi terdapat ayat-ayat yang memang memiliki makna sebagai penyadaran kembali akan pelajaran atau tanda-tanda kekuasaan Allah dan juga perintah-perintah-Nya. Diantaranya ialah:

  1. a.      Penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam (QS. Ali-Imron, 3:190)
  2. b.      Penjelasan dari Allah swt bahwa jiwa manusia diambil saat mereka tertidur (QS. Az-Zumar, 39:42, Al-An’am, 6:60)
  3. c.       Nikmat yang telah diberikan Allah swt (QS. Al-An’am, 6:46)
  4. d.      Pertanggung jawaban tentang amal manusia (QS. Al-Anbiya’, 21:1)
  5. e.       Janji Allah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyroh, 94:5-6)
  6. f.        Membersihkan diri lahir dan batin (QS. Al-Muddatstsir, 74:4-5, Al-Anfal, 8:11)
  7. g.      Menciptakan dan menjaga lingkungan, pakaian, makanan dan tempat tinggal untuk tetap bersih (QS. Al Baqarah, 2:168, Al Ma’idah, 5:4, Al A’raf, 7:157, Al Baqarah, 2:125, Al Kahfi, 18:19, Maryam 19:13)
  8. h.      Gunanya pakaian (QS. Al-A’raf, 7:26)
  9. Anjuran untuk berhemat (QS. Al-Furqan, 25:67)
  10. j.        Segala nikmat di dunia tidak kekal (QS. Al Kahfi, 18:30-31)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mengandung makna penyadaran kembali akan hakikat diciptakan dan diperintahkannya segala sesuatu oleh Allah swt.

 

  1. B.     Esensi Tadzkir dan Tanbih

Sejak Nabi Muhammad saw, diutus oleh Allah swt untuk menyampaikan dan mendakwahkan Islam, pada dasarnya dakwah yang disampaikan pertama kali oleh beliau adalah berupa peringatan dan penyegaran kembali.

Awal mula beliau diutus sebagai Rasul dan menerima wahyu pertama kali, ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut. Ayat-ayat tersebut sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu (karena pada saat itu Nabi masih menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi), yang berisi sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduaan, berisi ciri-ciri surga dan neraka, yang seakan-akan keduanya tampak didepan mata, dan membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain yang berbeda dengan dunia yang ada pada saat itu.

Sedangkan pada saat turun wahyu untuk segera menyeru dan memperingatkan kaum kerabat (QS. Asy-Syu’ara’: 214), Nabi menyampaikan dakwahnya dengan nada tadzkir (peringatan) seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari kisah Abu Hurairah ra, dia berkata, “Tatkala turun ayat, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’, beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda, ‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’b, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

Seruan yang melengking tinggi inilah yang menjadi tujuan penyampaian dakwah. Rasulullah saw sudah menjelaskan kepada orang-orang yang dekat dengan beliau, bahwa pembenaran terhadap risalah beliau merupakan inti hubungan diri beliau dengan mereka. Fanatisme kekerabatan yang selama itu dipegang erat Bangsa Arab menjadi cair dalam kehangatan peringatan yang datang dari sisi Allah swt ini.

Selain itu pula, Tadzkir (peringatan) adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah swt yang berupa siksa neraka. Namun tadzkir juga bisa berarti kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt dengan balasan berupa nikmat surga atau jannah.

Adapun Tanbih (penyegaran kembali), pada dasarnya memiliki esensi sebagai pendorong manusia untuk mau berpikir ulang tentang sesuatu, baik tentang alam semesta atau tujuan dan manfaat dari diperintah atau dilarangnya suatu perkara.

 

  1. C.    Kaitan Dakwah  Dengan Tazkir dan Tanbih

Tazkir dan Tanbih merupakan salah satu dari cara, metode atau uslub dakwah. Setelah metode Ta’lim dan Tarbiyah (pengajaran dan pendidikan). Setelah mengajar dan mendidik, yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan penyelidikan, dan agar pengetahuan yang telah didapatinya dapat diamalkan dan tidak dilupakan, maka manusia harus pula diingatkan dan disadarkan kembali akan pengajaran dan pendidikan yang telah diterimanya.

Manusia yang telah mempunyai pengetahuan tentang akidah dan syari’ah, iman dan amal sholeh, tidak aka nada gunanya sama sekali kalau tidak diamalkan, bahkan lambat laun pengetahuannya akan hilang ditutupi kejahilan kembali.

Disinilah dakwah menurut uslub Al-Quran yang bernadakan Tazkir dan Tanbih (penyegaran dan pengingatan kembali) harus digunakan. Pengingatan dan penyegaran kembali ini hanya berguna bagi orang-orang yang telah beriman, artinya mereka adalah orang-orang yang telah mendapat pengajaran dan pendidikan keimanan. Akan tetapi sebaliknya, hal ini tidak akan berguna sama sekali bagi mereka yang belum menerima pengajaran dan pendidikan keimanan.

Dan ingatlah, karena sesungguhnya peringatan kembali akan berguna bagi orang yang telah beriman.” (Az-Zariyat: 55)

Pengingatan dan penyegaran kembali akan pengetahuan yang telah diberikan, adalah tugas para Rasul, termasuk pula para Juru dakwah sebagai ahli waris para Rasul, sedangkan penerimaan petunjuk adalah urusan Allah semata-mata. Dalam hai ini, Rasul dan Juru dakwah hanya sekedar memberi peringatan dan penyegaran, sedangkan jika mereka yang didakwahi masih terus juga membangkang, maka metode dakwahnya akan berbeda.

“Karena itu, ingatlah, engkau hanya pemberi peringatan. Engkau tidak boleh memaksa mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)

Pengingatan dan penyegaran kembali adalah untuk menjauhkan mad’u sebagai manusia yang mempunyai kebiasaan lalai akan sesuatu yang pernah di dapatkannya. Tugas para Juru dakwah dalam kebanyakan waktu, yaitu pengingatan yang berguna. Pengingatan yang sangat dibutuhkan manusia, karena lalai senantiasa melanda pikiran mereka dan menggoyahkan perjalanan hidup mereka, tanpa ada bimbingan dan tujuan. Dan karena memang tabiat manusia itu adalah lalai akan sesuatu yang telah didapatkannya,

“Telah semakin dekat dengan manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main, hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, “(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerimanya (sihir itu) padahal kamu menyaksikannya?” (Al-Anbiya’:1-3)

Kelalaian dalam bentuk ini sama dengan kejahilan, karena akibat ketiadaan ingatan, dan hal ini karena akibat ketiadaan ilmu pengetahuan, seperti firman Allah:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Al-hasyr: 19)

Kelupaan dan kelalaian akan dirinya, hanya datang karena kelupaan akan Tuhannya. Jika dia mengingat hak-hak Allah dan berusaha untuk menunaikannya, tentu Allah akan memberi kepadanya tuntunan, memperlihatkan kepadanya apa yang bermanfaat, yang dapat menjamin kesejahteraan agama dan dunianya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Tadzkir dan Tanbih (pengingatan dan penyegaran kembali) merupakan suatu keharusan yang mutlak dilakukan secara terus menerus oleh semua pihak, baik itu Juru dakwah ataupun objek dakwah, selama mereka sebagai manusia masih tetap memiliki tabiat lalai dan lupa.

Pengingatan dan penyegaran kembali ini harus dilakukan terus menerus, karena dalam keadaan bagaimanapun pengingatan dan penyegaran itu tetap berguna,

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka), selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup.” (Al-A’la ; 9-13)

Karena itu, berilah peringatan dimana saja kita mendapat kesempatan untuk itu, mendapat peluang memasuki hati mad’u dan mendapat jalan untuk menyampaikan kebenaran.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Al-Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. Cetakan ketiga 2010. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Hasjmy, A. 1974. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran. Bulan Bintang: Jakarta.

http://harunyahya.com/indo/anak/muslim/muslim_02.html.

http://www.scribd.com/doc/33592512/Final-AlQuran-Dan-Kenyataan-Empiris

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahannya Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Hadits Shahih. SYGMA: Jakarta.

Thabaroh, Ahmad bin Husain. Cetakan kedua 1901. Fathurrahman. Al-Hidayah: Surabaya.

Yunus, Muhammad. 1973. Kamus Arab – Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran: Jakarta.

Categories: dakwah

About sakinah

Berkarya di Universitas Terbaik

PROFIL AKU

sakinah

Berkarya di Universitas Terbaik


Popular Posts

puisi tentang Negeri

Negeri Ku Aku tercengang, aku takjub Dan aku terkagum Eloknya bumi yang menyimpan ...

Penerima Beasiswa Ke

Ini adalah kisah seorang mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari salah ...

Perilaku Komunikasi

A.    Latar Belakang Budaya Suku Madura Madura adalah nama pulau yang ...

Orasi Ilmiah

Akan ada Orasi Ilmiah di gedung Sportorium UMY yang akan ...

Tulisan Beritaku Dim

Nggak nyangka..benar-benar nggak nyangka. Tulisan berita tentang Langgam Jawa yang ...