Avatar of sakinah

by sakinah

GLOBALISASI RADIKALISME ISLAM DI INDONESIA DITINJAU DARI SEGI SOSIAL-BUDAYA

10.08 in dakwah, komunikasi islam, Makalah by sakinah

Globalisasi bukanlah fenomena yang baru, globalisasi sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dari globalisasi ini lahir berbagai macam gerakan dan perkembangan, dari mulai perkembangan teknologi dan informasi hingga perkembangan agama. Dan gerakan global yang paling besar adalah religion mevenment (gerakan agama) seperti penyebaran agama Islam dan Kristen. (Prof Dr Mark R Woordward)

Globalisasi dan religion movenment ini melahirkan sebuah kata yang sudah tidak asing lagi, yakni radikal atau radikalisme. Beberapa negara yang mendapat ancaman dan teror sering kali beranggapan bahwa hal tersebut berasal dari kelompok Islam, sehingga menimbulkan pandangan bahwa Islam adalah agama yang radikal dan penuh kekerasan.

Namun gerakan radikal ini bukan hanya fenomena satu agama saja. Ada beberapa gerakan radikal global dan itu bukan hanya Islam. (Prof Dr Mark R Woordward) Akan tetapi karena seringnya teror dan sangkaan terorisme yang telah dicitrakan orang-orang non-Islam pada Islam, sehingga radikalisme menjadi sesuatu yang seolah-olah selalu identik dengan Islam, yang pada akhirnya gerakan radikal di luar Islam atau selain agama Islam tidak banyak diketahui oleh masyarakat.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 A.      Definisi Radikalisme Islam

Ada beberapa pendapat dan versi dalam mendefinisikan radikalisme ini, diantaranya ada yang berpendapat bahwa kata radikal itu berasal dari kata latin “radix” yang artinya akar atau pohon. Jadi orang yang radikal sebenarnya adalah orang yang mengerti sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya, dan karena itu mereka lebih sering memegang teguh sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti akar masalah.

Pengertian lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan radikal atau radikalisme itu adalah prinsip-prinsip atau praktik-praktik yang dilakukan secara radikal. Suatu pilihan tindakan yang umumnya dilihat dengan mempertentangkan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok (aliran) agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu. (Prof. Dr. Mudjahirin Thahir)

Kata radikal juga sering diartikan sebagai keberpihakan, kecondongan, mendukung pada satu ide pemikiran saja, satu kelompok, atau suatu ajaran agama secara penuh dan bersungguh-sungguh serta terfokus pada suatu tujuan serta bersifat reaktif dan aktif. Secara harfiah, radikalisme atau fundamentalisme tidak memliki sesuatu yang negatif. Namun secara etimologi, radikalisme dan fundamentalisme telah mengalami penyempitan makna yang bermakna negatif. (Muhammad Ichsan SE)

Pendapat lain menyatakan bahwa yang dimaksud radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Sementara Islam adalah agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian. Karena Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik. (Syamsul Bakri)

Dan jika kata radikal disandingkan dengan Islam menjadi radikalisme Islam, maka itu berarti seseorang yang benar-benar dengan sepenuh hati dan tenaga serta pikiran yang mendukung, berpihak, atau menjadi ekstrim terhadap ajaran agama Islam, melebihi orang-orang Islam pada umumnya. Gerakan atau kelompok radikal ini merupakan gerakan yang sangat eksklusif. Mereka memliki pandangan bahwa mereka dan hanya mereka yang tahu tentang kebenaran. Tidak ada kebenaran yang lain, mereka benar sementara yang lain salah, tidak bisa dan tidak perlu berdialog dengan mereka tentang kebenaran, karena hanya mereka yang tahu tentang kebenaran. Itulah diantara pemikiran dan persepsi orang-orang dalam kelompok radikal. Mereka hanya membenarkan tindakan kelompok mereka sendiri sementara yang lain mereka salahkan.

B.       Radikalisme Islam dan Kaitannya dengan Budaya.

Proses globalisasi yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu meniscayakan adanya penyebaran dan interaksi sosial-budaya dalam skala luas. Dalam konteks ini, Islam sebagai salah satu tatanan nilai sosial dan budaya dihadapkan pada tatanan nilai-nilai modern, yang pada titik tertentu bukan saja tidak selaras dengan nilai-nilai yang diusung Islam, tetapi lebih banyak bersebrangan dengan nilai-nilai Islam. Dan pada akhirnya, proses interaksi global ini menjadi sebuah persaingan kekuatan, dimana satu sama lain saling mempengaruhi bahkan meniadakan.

Radikalisme yang muncul akibat globalisasi saat ini merupakan gejala umum di dunia Islam, termasuk Indonesia. Gejala radikalisme dalam Islam ini tidak muncul secara tiba-tiba dan juga bukan fenomena baru lagi. Ada tiga faktor utama yang membuat gerakan radikalisme Islam ini muncul yakni faktor situasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang oleh para pendukung gerakan radikal dipandang sangat memojokkan umat Islam.

Dalam konteks sosial budaya, umat Islam semakin kehilangan orientasi dengan semakin kuatnya serbuan budaya Barat. Ikatan-ikatan sosial yang sebelumnya cukup kuat menyatukan kelompok-kelompok Muslim kemudian tercerai berai akibat jebolnya pertahanan budaya yang dimiliki umat Islam. Budaya Islam menjadi tersingkir dan terasing dengan kedatangan budaya Barat yang memberi dan menawarkan kebebasan dengan sebebas-bebasnya bagi manusia.

Faktor budaya ini memilki andil yang cukup besar atas terlahirnya radikalisme Islam. Hal ini wajar karena memang secara budaya di dalam kehidupan masyarakat selalu ditemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring – jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Keberadaan faktor budaya disini adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri – negeri dan budaya Islam.

Dalam suasana yang seperti itulah Islam radikal mencoba melakukan perlawanan. Perlawanan itu muncul dalam bentuk melawan kembali kelompok yang mengancam keberadaan mereka. Mereka tidak akan segan untuk melakukan perlawanan jika memang ada kelompok lain yang menurut mereka menyimpang dari “ajaran” Islam.

Kemunculan gerakan radikalisme Islam ini kebanyakan terjadi di negara-negara yang pemerintahannya otoriter, di negara atau wilayah yang dijajah dan diduduki kekuatan asing, dan di negara yang kebijakan pemerintahannya dipandang terlampau memihak pada Barat.

Gerakan radikalisme Islam sendiri mulai muncul di Indonesia baik pada sebelum atau setelah masa orde baru. Sejak awal kelahirannya, sikap orde baru terhadap umat Islam mengikuti pola kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Belanda yakni dengan bersikap toleran dan bersahabat terhadap Islam sebagai kelompok sosial dan keagamaan. Tapi, sikap mereka ini segera berubah menjadi keras dan tegas ketika Islam mulai memperlihatkan tanda-tanda sebagai kekuatan politik yang menentang kehendak penguasa. Munculnya gerakan ini merupakan cerminan adanya krisis kepercayaan terhadap tatanan pemerintahan yang ada.

Kemunculan radikalisme Islam sendiri di Indonesia lenih dipengaruhi karena aspek situasi politik, karena pemerintahannya yang otoriter dan kebijakan yang diambil pemerintah dipandang terlalu memihak pada Barat. Dua hal inilah yang menyebabkan lahirnya radikalisme Islam di Indonesia.

C.      ANALISIS

Fenomena gerakan keagamaan radikal ini dan terlibatnya sebagian aktivis muslim dalam pergerakan tersebut, justru menimbulkan anggapan dan pandangan bahwa Islam adalah agama yang kasar, tidak manusiawi, tidak toleran, dan sebagaianya. Cara-cara radikal dalam beragama ini tidak akan membawa kemashlahatan bagi kemajuan peradaban manusia dan kemajuan dakwah. Namun hal ini, justru akan menjadikan posisi umat Islam kian tersudut.

Radikalisme atas nama agama ini bisa jadi timbul karena adanya pemahaman agama yang terlalu sempit dan tekstual. Permasalahan yang muncul hanya dilihat dan diselesaikan sebatas pandangan agama yang tekstual tanpa memperhatikan kontekstual yang ada dibalik agama. Sehingga segala permasalahan menurut mereka hanya bisa dihadapi dengan melakukan aksi kekerasan, teror, bom, dan sebagainya.

Indonesia memang adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, tidak semua dari penduduk Islam Indonesia ini memiliki paham yang sama dan ikut tergabung dalam gerakan radikal tersebut. Hanya orang-orang tertentu dan yang sedikit pengetahuan agamanya lah yang mau ikut tergabung dalam pergerakan ini.

Selain itu pula, Indonesia adalah negara yang penduduknya memliki budaya kolektivitas yang tinggi. Orang-orang kolektif cenderung memandang suatu hal itu positif jika tetap sesuai dan mengikuti aktifitas sosial yang ada, namun suatu hal akan dipandang negatif apabila berbeda dan tidak sesuai dengan aktifitas sosial di tempat tersebut.

Jika kita hubungkan teori kolektivitas ini dengan radikalisme Islam yang terjadi di negara-negara Islam atau bukan, termasuk juga Indonesia maka akan ditemukan suatu benang merah, bahwa mereka yang tergabung dalam gerakan ini adalah mereka yang memiliki jiwa atau budaya kolektivitas. Orang-orang kolektif lebih mengutamakan aktifitas dalam kelompoknya. Harmoni dan kerjasama diantara anggota kelompok lebih diutamakan dari fungsi dan tanggung jawab individu. Oleh sebab itu maka tidak menjadi suatu keheranan lagi apabila orang-orang yang tergabung dalam gerakan radikal tersebut rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi mewujudkan tujuan kelompoknya, yakni mempertahankan dan menyuburkan nilai-nilai Islam serta meyingkirkan dan memberanguskan nilai-nilai sekuler – Barat.

Dari kenyataan-kenyataan itu bagaimanakah cara kita sebagai umat Islam yang tidak tergabung dalam golongan radikal ini meyikapi dan membentengi diri dari perilaku dan sikap radikal?

Prof. Dr. Mark R. Woodward dalam seminar yang diadakan FISIPOL UMY menyatakan bahwa cara tepat untuk membentengi diri kita dari gerakan dan paham radikal adalah dengan pendidikan dan semangat keterbukaan untuk menghargai pendapat orang lain. Karena orang yang berpendidikan dan memilki wawasan yang luas akan dapat terhindar dari pengaruh pemikiran dan gerakan radikal.

Pendidikan agama (Islam) menjadi sesuatu yang sangat perlu dan penting untuk diberikan kepada para pelajar dan mahsiswa. Karena pada kenyataannya kebanyakan dari anggota gerakan radikal itu adalah para pemuda yang berusia antara 15-24 tahun yang jiwanya masih labil dan masih kurang dalam pemahaman ilmu agamanya. Dan dengan memilki pengetahuan agama yang memadai dan luas orang tidak akan gampang terlarut dalam penyelesaian masalah yang hanya berdasarkan tekstual dan mengenyampingkan kontekstual. Namun, yang terpenting adalah terhindar dan terbentengi dari gerakan dan paham radikalism.

Dan terakhir yang perlu dijadikan catatan dan diingat adalah bahwa Islam itu bukanlah agama kekerasan. Islam adalah agama yang “Rahmatan Lil ‘Alamin”, karena Islam itu adalah sebuah agama yang mengandung nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia, baik itu nilai-nilai budaya atau kultural bahkan juga nilai-nilai politik dan ekonomi.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka