Perilaku Komunikasi Antar Budaya Suku Madura


  1. A.    Latar Belakang Budaya Suku Madura

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.

Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan.  Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri.

Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh”. Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.

Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan-kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan).

Selain itu pula Madura masih memiliki beberapa nilai budaya yang perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: “Manossa coma dharma”, ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman”, menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam. “ Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhuba’ a e budi “, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. “Asel ta’ adhina asal”, mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. “Lakonna lakone, kennengngana kennengnge” sama halnya dengan ungkapan “The right man in the right place”. “Pae’ jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu”, nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Karkar colpe’”, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.

Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.

 

  1. B.     Pengaruh Budaya Yang Mempengaruhi Komunikasi Antar Budaya

Gonzales, Houston, dan Chen menyebutkan Budaya (culture) sebagai “komunitas makna dan sistem pengetahuan bersama yang bersifat lokal.” Komunikasi lintas budaya (intercultural communication) merujuk pada komunikasi antara individu-individu yang latar belakang budayanya berbeda. Individu-individu ini tidak harus selalu berasal dari negara yang berbeda. Budaya merupakan dasar dari perilaku manusia. Dengan kata lain, budaya menentukan bagaimana kita bertindak.

Berikut di bawah ini akan sedikit dijelaskan beberapa faktor budaya yang mempengaruhi komunikasi antar budaya dan kaitannya dengan budaya Madura :

  1. 1.      Individualist – Collectivist

Seseorang tidak akan pernah 100 persen individual atau 100 persen kolektif, akan tetapi sikap  individual dan kolektif itu tidak pernah terpisah. Seseorang akan selalu berada di antara keduanya, terkadang sisi individualnya yang dominan terkadang pula sisi kolektifnya yang tinggi.

Menurut Hofstede dan Bond, individual culture adalah sikap seseorang yang hanya melihat dirinya sendiri dan keluarga terdekat mereka. Titik berat orang-orang individual ini hanya pada inisiatif dan penerimaan. Collectivistic Culture adalah bahwa seseorang merupakan anggota bagian dari suatu kelompok, yang mana kelompok itu akan melihat dirinya untuk loyalitas. Orang yang berada disini tidak akan bertindak atau berperilaku di luar kebiasaan kelompoknya. Dan titik berat dari orang-orang kolektif ini adalah berada dalam kelompok.

Orang-orang individual dan kolektif ini memiliki perbedaan antara keduanya. Individualistic memandang setiap orang sebagai orang yang memiliki potensi unik. Sedang collectivistic, memandang aktivitas kelompok tertentu yang dominan, harmoni, dan kerjasama diantara kelompok lebih diutamakan dari fungsi dan tanggung jawab individu.

Ada beberapa hal yang menarik dari orang-orang individual dan kolektif ini. Orang-orang individual akan lebih tertarik pada stimulus (sesuatu yang menantang), hedonism, prestasi, kemajuan, self-direction, dan aktivitas diri yang maksimal. Selain itu, orang-orang individual dalam berkomunikasi lebih dominan menyatakan pendapatnya secara langsung (to the point), eksplisit, tepat, pasti, konsisten dengan perasaan seseorang, dan apa yang dia rasa langsung di ucapkan.

Sedangkan orang-orang kolektif lebih tertarik pada tradisi ( nilai-nilai yang sudah biasanya terjadi), conformity (masa tenang, pengamanan), benevolence (menggunakan perilaku sesuai yang diharapkan lingkungan), serta cenderung menghindari hal-hal baru karena tidak mau meninggalkan zona aman. Dalam hal berkomunikasi orang-orang kolektif biasanya tidak langsung dalam mengungkapkan pendapatnya (masih banyak basa-basi), ambigu, tidak dinyatakan secara langsung (tersirat), menggunakan banyak simbol, dan dengan pembicaraan mereka lebih menangkap tetapi dengan penolakan dia lebih sensitif. Kebanyakan orang-orang kolektif akan menganggap orang atau grup lain berbeda dengan kelompoknya.

Jadi, jika kita simak uraian beberapa teori dan perbedaan antara individulistic dan collectivistic, dapat diambil kesimpulan bahwasannya suku Madura di satu sisi mereka menonjolkan individualistic dalam proses komunikasi. Orang-orang Madura pada umumnya dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak menggunakan basa basi langsung pada pembicaraan utama. Apabila mereka tidak setuju dan tidak menyukai sesuatu mereka akan langsung mengungkapkan rasa ketidak sukaan tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika ada sesuatu yang mereka sukai mereka pun akan mengatakan bahwa mereka menyukai hal tersebut. Hal ini dikarenakan msyarakat Madura lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan. Dan kadangkala orang-orang Madura terlihat sangat emosional dengan nada bicara yang agak keras, meskipun pesan yang disampaikan mempunyai makna atau arti yang biasa (tidak marah) dan itu merupakan kebiasaan masyarakat Madura karena memang di samping tata letak geografis penduduk Madura yang mayoritas hidup di pesisir, rumah-rumah antar penduduk itu pun agak berjauhan, sehingga dalam berkomunikasi dan memanggil seseorang pun memang sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan kecil.

Adapun dalam hal meraih prestasi atau pekerjaan, memang ada sebagian masyarakat Madura yang memiliki ambisi untuk itu. Misalkan saja seperti orang Madura yang merantau ke daerah lain, sebagian dari mereka ada yang memiliki kecenderungan berkompetisi dengan orang lain dalam hal pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sebab mereka mengetahui bahwa ada nilai budaya dalam masyarakat Madura yang berkenaan dengan hal ini yaitu “ Karkar colpe’ ” sebuah ungkapan yang dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan sikap mau bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.

Sisi berikutnya yang lebih ditonjolkan oleh masyarakat Madura adalah sisi kolektivis. Hal ini tercermin dalam kehidupan keseharian mereka, setiap ada kesusahan dan kesenangan selalu dirasakan dan diselesaikan bersama, seperti kematian, pernikahan, dan sebagainya. Jika ada sebuah keluarga yang tertimpa musibah atau kematian, orang-orang Madura akan berduyung-duyung datang ke tempat keluarga tersebut untuk membantunya, menyolatkan dan mengantarkan janazahnya. Hingga urusan janazah itu terselesaikan semuanya termasuk membantu memberitahukan hutang-hutang si mayit kepada keluarganya, barulah mereka kembali ke rumah masing-masing. Bahkan terkadang ada beberapa orang yang mengikhlaskan hutang-hutang si mayit, karena mereka telah menganggap si mayit seperti keluarga sendiri dan telah banyak memberikan manfaat dan sesuatu yang berharga padanya baik itu materi maupun non materi. Sedang para tetangga dekat akan tetap membantu keluarga yang tertimpa musibah itu seperti memasakkan makanan bagi keluarga tersebut dan sanak saudaranya yang datang dari luar Madura hingga hari ke-7.

Tidak banyak berbeda dengan kematian. Dalam hal pernikahan jika ada keluarga yang akan mengadakan pesta pernikahan untuk putra-putrinya, maka sanak saudara, kerabat dekat atau jauh, teman dan tetangga, satu atau dua minggu sebelum acara pernikahan, mereka akan bersegera datang ke rumah keluarga tersebut untuk mengucapkan selamat sambil membawakan mereka beberapa panganan atau kebutuhan keluarga. Dan satu minggu sebelum acara dimulai para tetangga dekat dan sanak saudara yang tinggal di luar Madura akan datang ke rumah keluarga tersebut untuk membantu keluarga itu memasak dan mempersiapkan segala kebutuhan acara pernikahan.

Acara pernikahan yang diadakan oleh masyarakat Madura memiliki dua versi yang berbeda antara masyarakat Madura pesisir dan masyarakat Madura pedesaan. Misalkan seperti tempat asal penulis yakni dalam kelompok masyarakat Madura pesisir, jika ada keluarga yang mengadakan acara pernikahan maka acara akad nikah dan resepsi atau walimah diadakan pada satu waktu dan satu tempat. Setelah akad nikah selesai akan segera dilanjutkan dengan acara resepsi atau walimah. Di samping itu, ketika acara pernikahan tersebut keluarga dari mempelai pria hanya membawa kebutuhan pribadi yang dibutuhkan seperti kue, baju, buah2an, dan peralatan kecantikan yang nantinya akan diberikan kepada keluarga mempelai perempuan saat prosesi serah terima. Dan untuk mas kawinnya pun lebih sederhana jika dibandingkan dengan acara pernikahan masyarakat pegunungan, cukup dengan mushaf Al-Quran dan seperangkat alat shalat maka itu sudah bisa dikatakan sah.

Acara pernikahan dalam masyarakat Madura pegunungan yang membedakan dengan masyarakat Madura pesisir adalah dalam pemberian mas kawin dan seserahan pada mempelai perempuan. Selain seperangkat alat shalat, mempelai pria juga diharuskan untuk memberi mas kawin berupa kebutuhan rumah tangga secara lengkap beserta perabotannya. Sehingga keluarga mempelai pria pun datang dengan membawa kebutuhan rumah tangga dan khusus mempelai pria dia lah yang memberikan perabotan rumah tangga pada mempelai perempuan. Hal ini karena masyarakat Madura pesisir lebih modern dan mau menerima budaya luar daerah. Sedangkan masyarakat Madura pegunungan masih memegang budaya asli.

  1. 2.      Power Distance

Ada 2 kategori dalam Power Distance (perbedaan jarak/kekuasaan) ini,

  1. High Power Distance  : akan dengan rela hati orang lain diinjak, dipaksa, dan kita sebagai individu membiarkan hal itu terjadi.
  2. Low Power Distance  : orang yang punya kekuasaan itu adalah mereka yang legitimate (sah) dan mempunyai standar.

Dalam masyarakat Madura high power distance lah yang dominan sebab yang dipandang memiliki kekuasaan atas masyarakat yang lain adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang lebih tentang agama Islam dibanding orang kebanyakan seperti Kyai atau Ustadz. Mereka akan lebih cenderung pada apa yang ustadz atau kyai itu katakan dan suruh. Pemerintah setempat meskipun ada namun, seolah-olah tidak ada kecuali yang berada pada pemerintahan itu adalah para ustadz atau kyai. Karena pemerintahan itu hanya sebatas formalitas.

Dalam penyelesaian berbagai masalah yang terjadi dikalangan masyarakat Madura, mereka lebih suka menyerahkan pemecahan permasalahan mereka pada kyai atau ustadz setempat. Karena apa yang dikatakan oleh kyai atau ustadz itu sudah tentu akan mereka terima dan rela mereka laksanakan, sebab menurut mereka apa yang dikatakan oleh kyai atau ustadz mereka, itulah yang terbaik bagi mereka. Akan tetapi, bupati Bangkalan dan Pamekasan adalah seorang kyai maka hal itu tidak akan menjadi keheranan jika masyarakatnya masih mendengarkan dan mengikuti saran-saran keduanya.

Sebagaimana nilai budaya yang telah tertanam pada diri masyarakat Madura dalam ungkapan “Buppa, Babu, Guruh ban Ratoh”, bahwa setelah mereka mentaati dan tunduk kepada kedua orang tuanya, barulah mereka akan tunduk dan taat pada gurunya dalam hal ini ustadz atau kyainya. Peran dan fungsi guru atau kyai atau ustadz ini lebih ditekankan pada konteks moralitas terutama dalam aspek ketentraman dan penyelamatan diri dari siksaan di alam akhirat. Oleh karena itu, ketaatan masyarakat Madura kepada figur kyai atau ustadz ini menjadi penanda khas budaya masyarakat Madura yang tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.

Kepatuhan orang-orang Madura terhadap figur ustadz atau kyai ini ternyata tidak dapat terwujud dengan sendirinya, seperti kepatuhan mereka terhadap kedua orang tuanya. Kondisi ini terjadi karena tidak semua orang Madura mempunyai kesempatan untuk menjadi figur guru, kyai atau ustadz.

  1. 3.      Uncertainty Avoidance

Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) merupakan tingkatan sejauh mana seseorang merasa terancam oleh ketidakpasatian. Dalam budaya yang amat menghindari ketidakpastian, ada kebutuhan besar akan aturan-aturan dan formalitas untuk menstruktur hidup. Hal ini tercermin dalam kebiasaan mereka untuk mencari kebenaran dan keyakinan terhadap pendapat orang lain.

Apabila sikap menghindari ketidakpastiannya tinggi, maka masyarakat budaya tersebut akan memiliki toleransi yang rendah untuk ketidakpastian dan ambigu. Sehingga perilaku agresif akan diterima dan cenderung menunjukkan emosi. Sedangkan jika menghindari ketidakpastiaannya rendah, mereka akan memandang orang yang berubah atau apa pun adalah sesuatu yang biasa saja, dan mereka tidak ambil pusing dengan perubahan itu.

Masyarakat Madura termasuk orang-orang yang uncertainty avoidance-nya tinggi. Mereka lebih menyukai hal-hal yang pasti, jika ada sesuatu yang dinilai tidak pasti mereka akan mencari tahu tentang hal itu hingga akhirnya mereka mendapatkan sesuatu itu menjadi pasti. Masa depan bukanlah sesuatu yang hanya bisa diterima begitu saja atau pasrah akan keadaan, akan tetapi masa depan itu harus diperjuangkan. Emosi dan perasaan dalam hati pun tidak segan-segan untuk mereka ungkapkan. Berbeda dengan orang Jawa yang cenderung memendam perasaannya. Dan dalam menerima perubahan pun tidak semua perubahan bisa langsung diterima, masih akan ada pengkajian ulang untuk perubahan itu. Jika perubahan itu tidak menyimpang dari ajaran agama Islam, maka perubahan itu dapat diterima.  Dan sejak dulu, masyarakat Madura dalam melakukan sesuatu memang sudah termotivasi karena adanya aturan dalam kehidupan mereka, dan hingga kini pun hal tersebut masih tetap mereka pegang.

 

  1. C.    Pengaruh Sosiobudaya Dalam Perilaku Komunikasi Antar Budaya
    1. 1.      Membership & Reference Groups

Pada dasarnya kita adalah keanggotaan dari banyak grup sosial yang berbeda baik itu keluarga, kelas sosial (mahasiswa/pelajar), etnik, gender, kelompok pekerjaan, atau bangsa negara. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk mau merawat atau menjaga keanggotaannya (membership) :

  1. Ia mendapatkan keuntungan positif dari keanggotaannya. Seperti, ia menjadi bangga, itu yang menyebabkannya menjadi loyal, kepuasan (puas menjadi anggota), kebanggaan yang lebih (eksklusif), mendapat status dan teman.
  2. Ia cenderung menghindari isolasi sosial yang bisa menjadikannya tidak memiliki ikatan grup yang kuat.
  3. Ada keterbatasan-keterbatasan atau aturan yang berlaku padanya sehingga ia tidak bisa keluar dari kelompok tersebut. (mis. Kita tidak bisa memilih etnik dan ras kita)

Reference Groups merupakan kelompok dimana kita melihatnya sebagai tuntunan atau pedoman bagaimana kita bertingkah laku. Selain itu, semakin dekat nilai-nilai yang ada dan sama dengan kelompok itu maka kita akan merasa dekat dengan mereka.

Masyarakat Madura secara umum yang juga memiliki pola hidup kolektivis mereka akan selalu berbuat sesuai dengan lingkungannya. Sebab jika mereka bertingkah diluar kesepakatan yang ada dalam kelompoknya maka mereka akan mendapatkan sangsi sosial, seperti dikucilkan atau menjadi bahan omongan orang lain. Contohnya seperti dalam acara pernikahan dan kematian sebagaimana disebutkan pada bagian sebelumnya.

Selain itu, penduduk Madura yang hidup di Madura rata-rata adalah sanak saudara sendiri. Dan hampir di setiap tiga atau empat rumah dapat dipastikan akan terdapat mushalla yang berdiri disana. Sehingga kegiatan-kegiatan keagamaan akan mudah didapati di sekitar rumah penduduk, karena seringnya kegiatan itu dilaksanakan. Dan di saat itulah mereka bisa berkumpul di samping dengan sanak keluarga juga dengan tetangga, teman, atau sahabat.

Adapun orang-orang Madura yang hidupnya di luar Madura atau sebagai perantauan, mereka juga akan cenderung mencari kelompoknya sendiri, yakni sesama orang Madura. Karena ketika mereka telah bertemu dengan orang yang berasal dari Madura, mereka akan merasa memiliki kedekatan emosional tersendiri, sekalipun orang itu bukan keluarga kandungnya akan tetapi mereka tetap menganggap orang-orang Madura yang mereka temui sebagai “taretan dhibi’” atau saudara sendiri. Hal itulah yang akan membuat orang Madura bangga dan senang ketika bertemu sesama orang Madura, sebab mereka akan menjaga satu sama lain, terlebih juga saling menjaga harga diri mereka agar tidak terinjak oleh kelompok lain.

  1. 2.      Minority & Majority

Ada 5 karakter dalam kelompok minoritas ini :

  1. Anggota kelompok minoritas akan diperlakukan berbeda dari kelompok mayoritas.
  2. Anggota-anggota dari kelompok minoritas memiliki fisik dan karakter kultur berbeda dengan kelompok mayoritas.
  3. Karena minoriti ini secara karakter berbeda dengan mayoritas maka keanggotaannya tidak secara suka rela.
  4. Anggota dari kelompok minority cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok yang sama.
  5. Anggota dari kelompok minoritas sadar bahwa jika mereka sendiri statusnya di bawah mayoritas, sehingga kekuatan solidaritasnya kuat.

Penduduk Madura yang hidup di pulau Madura adalah mayoritas namun, jika dibandingkan dengan kelima karakter di atas penduduk mayoritas Madura tetap menghargai dan menerima orang-orang yang berasal dari luar Madura, dan mereka pun memperlakukannya sama seperti orang Madura yang lain pada umumnya, terlebih lagi jika orang yang berasal dari luar Madura itu menikah dengan seseorang yang berasal dari Madura.

Ketika orang-orang Madura yang berada di perantauan, mereka menjadi minoritas namun masih tetap memiliki kelompok sendiri yang anggota-anggotanya berasal dari Madura juga. Akan tetapi, di samping memiliki kelompok sendiri mereka juga tergabung dalam kelompok lain. Dan jika dalam kategori yang keempat disebutkan bahwa anggota dari kelompok minority cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok yang sama. Hal itu tidak berlaku untuk semua orang Madura, sebab masih banyak orang Madura yang loyal dengan kelompoknya yang lain sekalipun anggota dari kelompok itu bukan sesama orang Madura, dan masih banyak pula orang-orang Madura yang menikah dengan orang yang berasal dari luar Madura. Hal itu dikarenaka orang Madura adalah orang-orang yang kolektivis maka mereka lebih mengutamakan kerja sama diantra kelompok daripada fungsi dan tanggung jawab individu.

  1. 3.      Islam & Non Islam : siapa yang mayoritas dan minoritas?

Mayoritas penduduk Madura adalah orang-orang yang beragama Islam kurang lebih sebanyak 97-99 persen. Oleh karena itu, penanaman aqidah dan keberagaman sudah tertanam kuat dalam diri orang-orang Madura sejak kecil. Semenjak kecil mereka sudah belajar agama Islam baik dari orang tuanya, di sekolah madrasah pada siang hari dan di musholla pada malam harinya. Nilai-nilai agama Islam tercermin dalam kebijakan-kebijakan dan nilai-nilai budaya Madura. Salah satunya seperti ungkapan “Buppa’, Babu, Guruh, Ratoh”, ketaatan dan kepatuhan kepada ayah, ibu, guru dan pemerintah. Dalam Islam taat kepada kedua orang tua merupakan suatu keharusan dan kewajiban, karena keridhaan Allah swt, terletak pada keridlaan mereka berdua. Jika mereka tidak patuh ucapan atau sebutan kedurhakaanlah yang nantinya akan ditimpakan pada mereka. Dan sekalipun ada sedikit perbedaan, jika dalam Islam ibulah yang disebutkan pertama kali, namun dalam masyarakat Madura ayah yang disebutkan pertama kali. Hal itu karena hierarki ayah memang diposisikan lebih tinggi daripada ibu. Posisi ayah dalam sosiokultural masyarakat etnik Madura memegang kendali dan wewenang penuh lembaga keluarga sebagai sosok yang diberi amanah untuk bertanggung jawab dalam semua kebutuhan rumah tangganya.

Penduduk Madura yang beragama selain agama Islam seperti Kristen atau Kong Hu Chu hanya sebagian kecil saja. Namun hal itu tidak menjadikan masalah untuk orang-orang Madura sendiri, karena hampir tidak ditemui permasalahan atau konflik yang berasal karena perbedaan agama.

  1. 4.      Identitas Sosial

Secara konstan, kita cenderung mendefinisikan atau menempatkan diri kita pada dunia dimana kita hidup. Menurut Grieve dan Hogg, orang mengimplikasikan kategori sosial bagi dirinya dan orang lain untuk mengklarifikasikan  persepsi mereka tentang dunia dan tempat tinggal sosial mereka. Dan identifikasi ini akan mengurangi ketidakpastian subjektif kita.

Ada beberapa dimensi identitas sosial, yaitu:

  1. Voluntary – Desirable Identities

Identitas yang kita pilih dan yang kita pikir bahwa hal itu bagus. Misalkan seperti: bagian dari agama, anggota kelompok, keanggotaan dari partai politik, suami, istri, ibu,ayah, murid.

  1. Voluntary – Undesirable Identities

Identitas yang kita pilih tapi menurut kita itu adalah sesuatu yang negatif. Misalkan seperti: pemabuk, narkoba, gay/lesbian, perokok, transgender (waria).

  1. Involuntary – Desirable

Identitas yang tidak bisa kita pilih dan menurut kita itu bagus, seperti: etnis/ras, anak dari seorang perempuan/laki-laki, laki-laki, perempuan.

  1. Involuntary – Undesirable

Identitas yang tidak bisa kita pilih dan kita pikir itu negatif, seperti: orang buta, tuli, tidak mampu, tua.

Pada dasarnya yang membuat perilaku kita berbeda dengan orang lain ketika berkomunikasi adalah terletak pada sejauh mana kita mengetahui identitas budaya dan etnik kita.

Jika identitas budaya dan etnik kita lemah, maka keduanya tidak bisa mempengaruhi perilaku kita. Akan tetapi jika identitas budaya dan etnik kita kuat, maka perilaku kita sangat berbudaya dan etnik tergantung situasi.

Orang Madura pada umumnya berperilaku sesuai dengan budaya dalam kelompoknya. Jika mereka tidak berperilaku sesuai dengan keinginan kelompoknya maka mereka akan mendapatkan sangsi sosial. Masyarakat Madura cenderung masih memegang budaya mereka dalam melakukan sesuatu, kerena mereka menjadikan budaya aslinya sebagai acuan dalam bertindak. Selain karena dalam budaya Madura sendiri juga telah banyak nilai-nilai Islam yang tertanam di dalamnya.

 

  1. D.    Pengaruh Psikobudaya Dalam Perilaku Komunikasi Antar  Budaya (kasus pribadi)
    1. 1.      Personal Expectation

Dalam proses komunikasi selalu ada yang namanya pengharapan (expectation). Jika expectation menjadi lebih positif, maka ketidakpastian dan kecemasan akan berkurang atau rendah (Gudykunst & Gueverro, 1990). Pengharapan kita mempunyai konsekuensi yang sanagt besar denga komunikasi yang kita lakukan dengan orang lain.

Misalkan saja, (hasil pengamatan pribadi) ketika kita sudah mengenal seseorang dengan baik maka kita akan cenderung memiliki harapan dalam proses komunikasi kita. Semenjak pertama kali bertemu dan berkenalan mungkin kita masih setengah ragu dengan pengharapan kita, apakah akan sesuai dengan pengharapan kita atau tidak. Akan tetapi setelah komunikasi antara kita dengan dia sudah berjalan lama dan kita telah mengetahui karakternya, maka pengharapan kita terhadapnya akan cenderung tinggi. Akan tetapi, jika dalam pertengahan jalan ternyata orang yang kita kenal itu melakukan kesalahan pada diri kita dan menyebabkan kita sakit hati, maka pengaharapan kita pada seseorang itu akan berkurang atau mungkin bisa hilang dan tidak ada sama sekali.

  1. 2.      Stereotypes

Stereotypes cenderung akan aktif secara otomatis ketika kita mengkategorikan orang asing dan tidak terlalu peduli dengan proses komunikasi. Kecenderungan kita terhadap stereotypes muncul ketika kita berada dalam keadaan cemas.

Secara pribadi stereotypes ini terkadang bisa muncul saat kita berada di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Orang Jawa misalkan, sebagai orang Madura yang sudah terbiasa mendengar kata-kata bernada tinggi, saat tiba di Jawa maka akan muncul pikiran bahwa orang Jawa itu kalau berbicara halus dan pelan, sebab penulis juga mempunyai keluarga yang berada di Boyolali-Solo yang nada bicaranya cenderung halus dan pelan. Namun ketika berada di Jogja, ternyata tidak semua orang Jawa-Jogja seperti orang Jawa di Solo.

Stereotypes ini juga dialami oleh orang-orang Madura yang berada di perantauan. Dalam realitasnya, perilaku dan pola kehidupan etnik Madura tanpak sering dikesankan atas dasar prasangka subjektif oleh orang luar Madura. Orang di luar Madura cenderung menganggap bahwa orang Madura itu adalah orang yang memiliki sosok yang angker, tidak kenal sopan santun, kasar, beringas, dan mudah membunuh. Sehingga hal itu membuat keberadaan mereka  seolah-olah makin menyusut karena ternyata mereka mulai enggan mengakui identitas asalnya, karena mereka telah mengalami “image traumatik” atas pelabelan yang kurang baik tentang orang Madura.

  1. 3.      Etnocentrism

Etnocentrism atau tendensi adalah kecenderungan kita untuk mengidentifikasi dan untuk mengevaluasi orang dari luar grup kita. Kita menilai orang di luar grup kita dengan standar kita. Karena sebenarnya orang itu etnocentrism dalam beberapa hal. Dan kita cenderung akan melihat budaya kita sendiri dan melakukan budaya kita lebih nyata dan besar.

Misalkan, karakter yang sudah melekat pada diri orang Madura adalah perilaku apa adanya dalam bertindak. Suara yang tegas dan  ucapan yang jujur adalah merupakan bentuk keseharian yang bisa dirasakan oleh diri penulis pribadi ketika berkumpul dengan orang lain ataupun sesama orang Madura. Ketika berkumpul dengan orang lain, secara tidak sengaja karakter itu telah muncul sendiri dari dalam diri tanpa harus dipaksakan. Budaya Madura adalah juga merupakan budaya yang lekat dengan tradisi religius, karena mayoritas penduduknya adalah Muslim, jadi dimana pun dan sampai kapan pun, Islam akan tetap dibawa meski nyawa taruhannya.

 

  1. E.     Proses Adaptasi Antar Budaya Suku Madura
    1. 1.      Enculturasi

Merupakan proses pembentukan cara mengekspresikan dan memahami perilaku sosial dasar dari budaya asal dan di internalisasi melalui pembiasaan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan asal. Dengan kata lain, enkulturasi adalah budaya dasar atau budaya asli dari sebuah kelompok atau etnik.

Masyarakat Madura memiliki budaya dasar yang lumayan beragam, diantaranya adalah:

  1. Budaya kelompok

Masyarakat Madura adalah masyarakat yang kolekitivis, hal ini terbukti dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang berada dalam masyarakat Madura itu sendiri. Dan masing-masing dari kelompok itu juga mempunyai salah seorang penguasa kelompok. Perilaku dari anggota kelompok itu pun bermacam- macam sesuai dengan kebijakan dari kelompok masing-masing.

  1. Budaya gotoong royong

Budaya ini sangat terlihat saat ada prosesi kematian atau pernikahan yang diselenggarakan oleh penduduk Madura. Karena di saat itulah sanak saudara yang berada jauh dari Madura akan dengan rela hati menyempatkan diri datang ke Madura untuk membantu keluarganya yang di Madura, begitu pula dengan tetangga-tetangga dekat atau jauhnya.

  1. Budaya “taretan dhibi’

Budaya “taretan dhibi’” (saudara sendiri) ini merupakan budaya dasar orang Madura. Dimana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun, orang-orang Madura akan tetap memegang budaya ini. Sebab dari sinilah mereka memiiliki ikatan emosional tersendiri dan akan merasa bangga bahwa nantinya jika ada salah seorang yang membutuhkan bantuan atau tertimpa musibah, maka saudaranya tidak akan segan-segan untuk membantunya.

  1. Budaya bahasa

Rasa memiliki bahasa Madura sebagai alat pemersatu orang-orang Madura dimana pun mereka berada, sebenarnya adalah budaya dasar Madura. Akan tetapi, semakin hari semakin lama, orang-orang Madura mulai jarang menggunakan bahasanya sendiri. Sehingga dengan adanya kenyataan ini, pemerintah kota Surabaya pernah mengadakan lomba pantun dan syair Madura. Tujuannya adalah tidak lain untuk tetap melestarikan bahasa Madura sebagai bahasa daerah Madura.

  1. Budaya “to’ oto’

Budaya ini hanya ada di Madura. Budaya “to’ oto’ “ sama halnya seperti arisan. Akan tetapi di Madura arisan ini diadakan oleh seseorang yang sedang ada hajat, dan orang yang menyumbangkan arisannya itu akan menganggap orang yang mengadakan arisan tersebut sedang berhutang pada orang-orang yang mengikuti arisan tersebut. Maka si pelaksana arisan harus mengembalikan hutang itu pada tamu-tamu undangannya. Jika orang yang memberikan uang arisan itu tidak atau belum dibayar oleh si pelaksana arisan, maka orang yang memberikan uang tadi itu akan menagih pada si pelaksana arisan sesuai dengan jumlah yang ia berikan.

  1. Budaya carok

Budaya ini sebenarnya merupakan sarkasme bagi entitas budaya Madura. Dalam sejarah orang Madura,  carok adalah duel satu lawan satu, dan ada kesepakatan sebelumnya untuk melakukan duel. Malah dalam persiapannya, dilakukan ritual-ritual tertentu menjelang carok berlangsung. Kedua pihak pelaku carok, sebelumnya sama-sama mendapat restu dari keluarga masing-masing. Karenanya, sebelum hari H duel maut bersenjata celurit dilakukan, di rumahnya diselenggarakan selamatan dan pembekalan agama berupa pengajian. Oleh keluarganya, pelaku carok sudah dipersiapkan dan diikhlaskan untuk terbunuh.

Carok ini adalah sebuah pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta dan wanita. Pada intinya carok ini dilakukan untuk menjaga kehormatan. Ungkapan etnografi yang menyatakan, etembang pote mata lebih bagus pote tolang (daripada hidup menanggung perasaan malu, lebih baik mati berkalang tanah) inilah yang menjadi motivasi orang untuk melakukan carok.

  1. 2.      Acculturasi

Akulturasi adalah proses secara bertahap, seseorang mendeteksi kesamaan dan perbedaan budayanya sendiri dengan lingkungan barunya.

Orang Madura dan orang Jawa pada kenyataannya memiliki budaya yang sama dalam hal sopan santun. Keduanya ternyata sama-sama menjunjung tinggi sopan santun kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih tua atau kepada kedua orang tua. Hanya saja yang berbeda adalah dalam menjaga harga diri. Jika harga diri orang Madura dilecehkan dan tidak dihargai maka orang Madura akan marah dan tidak terima akan hal itu. Jika orang lain masih meremehakannya dan membuatnya sakit hati maka tidak hanya dirinya yang tersakiti yang akan maju menghadapi orang yang telah membuatnya sakit hati, akan tetapi sanak saudara dan orang-orang sesama Madura (bagi yang berada di luar Madura) akan membantu temannya yang sedang sakit hati ini untuk melawan orang tersebut. Inilah yang membedakan antara orang Jawa dan Madura pada umumnya.

  1. 3.      Dekulturasi

Dekulturasi adalah proses dimana seseorang tidak mempelajari budaya mendasar dari budaya barunya. Dan dia masih tetap memegang budayanya sendiri.

Bagi orang Madura yang berada di perantauan, mereka akan tetap memegang budaya kekeluargaannya, yakni merasa malu jika perbuatan yang dilakukan itu salah, sopan santun, keramahan, dan “taretan dhibi’ “, sebagaimana telah dijelaskan di atas tadi pada bagian enkulturasi. Akan tetapi yang perlu diingat dan dijadikan catatan adalah jangan sampai membuat orang Madura sakit hati.

  1. 4.      Asimilasi

Asimilasi adalah tingkat akulturasi dengan budaya baru dan tingkatan dekulturasi dari budaya asalnya. Dan dari asimilasi inilah cikal bakal terjadinya adaptasi.

Dalam masyarakat Madura, adat pernikahan orang Madura dahulu adalah dengan cara lesehan tanpa ada kursi ataupun pelaminan. Akan tetapi karena semakin banyaknya orang Madura yang memiliki pasangan yang berasal dari luar Madura maka saat ini, adat pernikahan Madura yang awalnya lesehan itu menjadi tidak ada dan berganti dengan adat pernikahan seperti orang Jawa kebanyakan. Bahkan jika ada keluarga yang bisa menikahkan anak-anaknya di gedung-gedung hal itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Selain itu pula, prosesi tukar cincin dalam pernikahan orang Madura saat ini mulai merebak. Padahal sebenarnya prosesi tukar cincin itu bukan berasal dari adat budaya Islam, hanya sebagian masyarakat Madura yang masih memegang teguh ajaran Islamnya saja yang tidak melakukan prosesi tukar cincin tersebut. Karena prosesi itu dilaksanakan sebelum akad nikah, dan dalam Islam jika belum di akad nikah maka kedua orang laki-laki dan perempuan itu belum menjadi mahram.

 

  1. F.     Kesimpulan

Masyarakat Madura yang memiliki beragam budaya ini perlu dilestarikan, terlebih lagi nilai-nilai budaya yang masih sarat dengan nilai-nilai Islam. Dan dengan mengetahui budaya Madura kita juga dapat mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang Madura, karena sebenarnya orang Madura itu tidaklah seperti anggapan orang kebanyakan, bahwa orang Madura itu kasar dan suka membunuh.

Selain itu juga, dengan mengetahui seluk beluk budaya Madura akan mempermudah kita sebagai mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, untuk berdakwah dan menyampaikan nilai-nilai Islam melalui budaya atau yang lebih dikenal dengan dakwah kultural.

Hal ini juga memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang budaya dari tempat asal penullis, yakni budaya Madura. Dan dengan begitu, menjadikan penulis untuk ingin tetap melestarikan budaya Madura yang masih sesuai dengan ajaran Islam dan menyelipkan nilai-nilai Islam yang lain lagi untul memperkaya kebudayaan daerah.

Dan untuk orang-orang yang berasal dari luar Madura semoga dengan adanya makalah ini menjadi mengerti tentang budaya Madura, dan dapat mempermudah kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi antar individu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://zenapinkers08.wordpress.com/proposal-penelitian-kualitatif/budaya-komunikasi-masyarakat-madura/

diakses tanggal 2 Juni 2011

http://www.kabarmadura.com/suku-madura.html

diakses tanggal 30 mei 2011

http://indoculture.wordpress.com/2008/11/10/budaya-madura-bukan-kepanjangan-budaya-jawa/

diakses tanggal 30 mei 2011

http://www.slideshare.net/fhanardiant/berbagai-faktor-budaya-dlm-kpg

diakses tanggal 2 Juni 2011

Makalah Taufiqurrahman. Tanpa tahun. Islam dan Budaya Madura.

West, Richard. 2009. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi : Introducing Communication Theory: Analysis and Application. Salemba Humanika: Jakarta.