Seribu Rasa Di Cilacap

Berdakwah itu memang butuh perjuangan. Tidak selamanya dakwah yang dilakukan itu akan berjalan dengan mudah. Terkadang kita membanyangkan bahwa saat kita berdakwah di suatu tempat, tidak akan ada halangan dan rintangan. Namun nyatanya hal itu keliru. Berdakwah itu memang butuh perjuangan, kesabaran, dan kekuatan hati serta iman. Apapun yang terjadi harus tetap dilalui tak mungkin bisa dihindari.

Baru kali ini aku mengikuti program Muballigh Hijrah (MH) sampai keluar kota atau keluar Jogja tepatnya. Sudah 4 kali berturut-turut aku mengikuti program dakwah semacam ini. Setelah sebelumnya pada bulan Ramadhan juga, saat masih duduk di kelas 3 Aliyah aku juga ditugaskan untuk melakukan dakwah di daerah yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Kemudian tahun 2010 aku juga mengikuti MH dari kampus untuk daerah Sewon Utara, lalu Ramadhan tahun berikutnya aku di rumah sendiri, dan tahun 2012 ini aku kembali mengikuti MH tapi bertempat di Cilacap.

Sungguh belum pernah terbayangkan sebelumnya, seperti apa Cilacap dan penduduknya. Yang aku tahu hanya sebatas bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa jawa ngapak. Sedangkan aku yang orang Madura ini, tentu saja berbeda jauh bahasanya. Meski bahasa jawa Jogja aku sudah bisa mengerti, tapi untuk bahasa jawa yang satu ini, aku masih ragu untuk bisa mengerti apa yang mereka katakan padaku nantinya.

Hari kamis, 19 Juli 2012, aku dan teman-temanku Dhita, Syadah, Winda, Lukman, Alfis, Usman, Firdaus dan adik angkatan kami, Nida ditemani Mas Imam ketua Lab. KPI berangkat ke Cilacap dengan menggunakan mobil FAI, sedang Lukman, Usman dan Firdaus mengendarai sepeda motor. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih 5 jam ini sedikit meninggalkan sedih dan rindu pada keluargaku dirumah. Karena selama 25 hari nanti aku akan berada ditempat asing yang belum pernah aku ketahui dan ku kenal sebelumnya.

Singkat cerita, sesampainya di Cilacap tepatnya di kecamatan Maos, kami berhenti dan berlabuh di Masjid At-Taqwa MaosLor. Setelah melaksanakan shalat dhuhur, kami langsung disambut oleh warga sekitar yang telah siap menjamu kami dengan makan siang. Sungguh serasa sangat dihormati sekali kedatangan kami kali itu. Namun entah apa yang akan terjadi selanjutnya, kami belum tahu dan hanya bisa mengira-ngira.

*** bersambung***

Categories: cerita, dakwah

About sakinah

Berkarya di Universitas Terbaik

PROFIL AKU

sakinah

Berkarya di Universitas Terbaik


Popular Posts

puisi tentang Negeri

Negeri Ku Aku tercengang, aku takjub Dan aku terkagum Eloknya bumi yang menyimpan ...

Penerima Beasiswa Ke

Ini adalah kisah seorang mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari salah ...

Perilaku Komunikasi

A.    Latar Belakang Budaya Suku Madura Madura adalah nama pulau yang ...

Orasi Ilmiah

Akan ada Orasi Ilmiah di gedung Sportorium UMY yang akan ...

Tulisan Beritaku Dim

Nggak nyangka..benar-benar nggak nyangka. Tulisan berita tentang Langgam Jawa yang ...