RSS
 

Dakwah, Tadzkir dan Tanbih

11 Nov

“Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan dari setiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, Dia (Allah) berfirman, “Mengapa kamu telah mendustakan ayat-ayatKu, padahal kamu tidak mempunyai pengetahuan akan hal itu, atau apakah yang telah kamu kerjakan?” Dan berlakulah perkataan (janji azab) atas mereka karena kedhaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata. Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan malam agar mereka beristirahat padanya dan (menjadikan) siang yang menerangi? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa membawa kebaikan, maka dia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu. Dan barang siapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan. Aku (Muhammad) hanya diperintahkan menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang Dia telah menjadikan suci padanya dan segala sesuatu adalah milikNya. Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang muslim, dan agar aku membacakan Al-Quran (kepada manusia). Maka, barang siapa mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barang siapa sesat, maka katakanlah, “Sesungguhnya, aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.” Dan katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran) Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 82 – 93)

Dalam beberapa ayat di atas, jika kita perhatikan maka kita akan dapati beberapa bagian ayat yang menunjukkan pada beberapa cara dalam berdakwah. Diantaranya ialah, Ta’lim (pengajaran) dan Tarbiyah (pendidikan), Tazkir (pengingatan) dan Tanbih (penyegaran), Targhib (penggemaran) dan Tabsyir (penampilan berita), Tarhib dan Inzar (penakutan dengan mengemukakan berbagai berita siksa), Qashash dan Riwayat (cerita-cerita masa lalu), ataupun Amar (perintah) dan Nahi (larangan).

Sasaran dakwah dari ayat-ayat diatas adalah akidah atau keimanan. Allah SWT hendak meyankinkan manusia, terutama orang-orang yang masih musyrik, yang masih menyangsikan akan ke-Esaan Allah, ke-Maha Kuasaan Allah, Allah Yang Maha Mengetahui dan sebagainya, juga akan datangnya hari akhir. Untuk mencapai sasaran dakwah ini, maka Al-Quran menampilkan beberapa cara dalam berdakwah seperti yang telah disebutkan di atas.

 

  1. A.    Analisis Filosofis
    1. 1.      Kata Tadzkir Dalam Berbagai Konteks

Kata tadzkir (تذكير) dalam bahasa Arab berarti “mengingatkan”, yang  merupakan isim masdar dari adzkra ( (اذكر. Adapun dalam Al-Quran kata tadzkir ini memiliki makna dalam konteks yang beragam, yaitu:

  1. Tadzkirotan (dalam QS. Al-Haqqah, 69: 12) dalam konteks peringatan akan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Nuh. Dalam surah ini peristiwa tersebut disebutkan dalam ayat sebelumnya.
  2. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Haqqah, 69: 48) dalam konteks Al-Quran sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
  3. Tadzkirotun ( dalam QS. Al-Muzammil, 73: 19) dalam konteks peringatan akan janji Allah.
  4. Madzkuuron (dalam QS. Al-Insan, 76: 1) dalam konteks penyebutan masa yang datang pada manusia.
  5. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Insan, 76: 29) dalam konteks peringatan akan ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah swt.
  6. Tadzkiroti (dalam QS. Al-Muddatstsir, 74:49) dalam konteks orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah swt.
  7. Tadzkirotun (dalam QS. Al-Muddatstsir, 74:54) dalam konteks Al-Quran sebagai peringatan.
  8. Tadzkirotun (dalam QS. ‘Abasa, 80:11) dalam konteks ajaran-ajaran Allah adalah peringatan.
  9. Tadzkirotan (dalam QS. Thaha, 20:3) dalam konteks Al-Quran adalah peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah).
  10. Tadzkirotan (dalam QS. Al-Waqi’ah, 56:73) dalam konteks menjadikan api sebagai peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.
  11. Tadzkiriy (dalam QS. Yunus, 10:71) dalam konteks peringatan ayat-ayat Allah yang disampaikan Nabi Nuh pada kaumnya.
  12. Dzakkir dan Mudzakkir (dalam QS. Al-Ghasiyah, 88:21) dalam konteks perintah kepada Nabi Muhammad untuk memberi peringatan dan penegasan bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang pemberi peringatan.

 

Dari makna tadzkir secara etimologi dan beberapa makna yang terdapat dalam Al-Quran, maka ada beberapa hal yang penting untuk diingat.

1)      Kata tadzkir secara umum memiliki arti yang sama dalam beberapa konteks, yakni dengan arti “peringatan”. Baik dalam penyebutan bersamaan dengan kata-kata ayat ((اية , kata-kata yang disebutkan sebelum atau sesudahnya, al-Quran (القران) , wa’dun (وعد) , ataupun makna  tersirat yang menyertai kata tadzkir.

Peringatan disini juga beragam bentuknya, seperti:

Pertama, peringatan akan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Allah, hal ini berarti kita diperintah untuk memperhatikan dengan seksama terhadap tanda-tanda tersebut.

Kedua, mengingatkan bahwa Al-Quran adalah peringatan, hal ini berarti kita diperintah untuk mempelajari Al-Quran karena dalam Al-Quran itu terdapat sumber pengetahuan dan solusi pemecahan masalah dalam kehidupan.

Ketiga, peringatan akan peristiwa terdahulu, hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak bersikap dan bertindak seperti umat terdahulu yang mendustakan para Nabi yang datang pada mereka.

Keempat, peringatan akan janji Allah, mengingatkan pada kita untuk meyakini bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu pasti terlaksana, dan kita tidak boleh ragu sedikitpun akan janji-janji Allah tersebut.

2)      Tadzkir tidak selamanya berarti “peringatan”, akan tetapi makna atau arti dari tadzkir ini akan seseuai dengan konteks atau kata yang menyertainya. Seperti dalam QS. Al-Haqqah, 69:48 dan QS. Al-Insan, 76:1, dalam kedua ayat tersebut tadzkir bermakna “pelajaran” dan “sebutan / penyebutan / disebut”.

  1. 2.      Kata Tanbih Dalam Berbagai Konteks

Kata Tanbih (تنبيه) dalam bahasa Arab berarti “hal yang menjagakan, mengingatkan, dan peringatan”. Kata tanbih juga dapat berarti “penyegaran kembali” seperti yang dituliskan A. Hasjmy dalam buku karangannya “Dustur Dakwah Menurut Al-Quran”.

Pada dasarnya kata tanbih ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi terdapat ayat-ayat yang memang memiliki makna sebagai penyadaran kembali akan pelajaran atau tanda-tanda kekuasaan Allah dan juga perintah-perintah-Nya. Diantaranya ialah:

  1. a.      Penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam (QS. Ali-Imron, 3:190)
  2. b.      Penjelasan dari Allah swt bahwa jiwa manusia diambil saat mereka tertidur (QS. Az-Zumar, 39:42, Al-An’am, 6:60)
  3. c.       Nikmat yang telah diberikan Allah swt (QS. Al-An’am, 6:46)
  4. d.      Pertanggung jawaban tentang amal manusia (QS. Al-Anbiya’, 21:1)
  5. e.       Janji Allah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyroh, 94:5-6)
  6. f.        Membersihkan diri lahir dan batin (QS. Al-Muddatstsir, 74:4-5, Al-Anfal, 8:11)
  7. g.      Menciptakan dan menjaga lingkungan, pakaian, makanan dan tempat tinggal untuk tetap bersih (QS. Al Baqarah, 2:168, Al Ma’idah, 5:4, Al A’raf, 7:157, Al Baqarah, 2:125, Al Kahfi, 18:19, Maryam 19:13)
  8. h.      Gunanya pakaian (QS. Al-A’raf, 7:26)
  9. Anjuran untuk berhemat (QS. Al-Furqan, 25:67)
  10. j.        Segala nikmat di dunia tidak kekal (QS. Al Kahfi, 18:30-31)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mengandung makna penyadaran kembali akan hakikat diciptakan dan diperintahkannya segala sesuatu oleh Allah swt.

 

  1. B.     Esensi Tadzkir dan Tanbih

Sejak Nabi Muhammad saw, diutus oleh Allah swt untuk menyampaikan dan mendakwahkan Islam, pada dasarnya dakwah yang disampaikan pertama kali oleh beliau adalah berupa peringatan dan penyegaran kembali.

Awal mula beliau diutus sebagai Rasul dan menerima wahyu pertama kali, ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut. Ayat-ayat tersebut sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu (karena pada saat itu Nabi masih menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi), yang berisi sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduaan, berisi ciri-ciri surga dan neraka, yang seakan-akan keduanya tampak didepan mata, dan membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain yang berbeda dengan dunia yang ada pada saat itu.

Sedangkan pada saat turun wahyu untuk segera menyeru dan memperingatkan kaum kerabat (QS. Asy-Syu’ara’: 214), Nabi menyampaikan dakwahnya dengan nada tadzkir (peringatan) seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari kisah Abu Hurairah ra, dia berkata, “Tatkala turun ayat, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’, beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda, ‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’b, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

Seruan yang melengking tinggi inilah yang menjadi tujuan penyampaian dakwah. Rasulullah saw sudah menjelaskan kepada orang-orang yang dekat dengan beliau, bahwa pembenaran terhadap risalah beliau merupakan inti hubungan diri beliau dengan mereka. Fanatisme kekerabatan yang selama itu dipegang erat Bangsa Arab menjadi cair dalam kehangatan peringatan yang datang dari sisi Allah swt ini.

Selain itu pula, Tadzkir (peringatan) adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah swt yang berupa siksa neraka. Namun tadzkir juga bisa berarti kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt dengan balasan berupa nikmat surga atau jannah.

Adapun Tanbih (penyegaran kembali), pada dasarnya memiliki esensi sebagai pendorong manusia untuk mau berpikir ulang tentang sesuatu, baik tentang alam semesta atau tujuan dan manfaat dari diperintah atau dilarangnya suatu perkara.

 

  1. C.    Kaitan Dakwah  Dengan Tazkir dan Tanbih

Tazkir dan Tanbih merupakan salah satu dari cara, metode atau uslub dakwah. Setelah metode Ta’lim dan Tarbiyah (pengajaran dan pendidikan). Setelah mengajar dan mendidik, yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan penyelidikan, dan agar pengetahuan yang telah didapatinya dapat diamalkan dan tidak dilupakan, maka manusia harus pula diingatkan dan disadarkan kembali akan pengajaran dan pendidikan yang telah diterimanya.

Manusia yang telah mempunyai pengetahuan tentang akidah dan syari’ah, iman dan amal sholeh, tidak aka nada gunanya sama sekali kalau tidak diamalkan, bahkan lambat laun pengetahuannya akan hilang ditutupi kejahilan kembali.

Disinilah dakwah menurut uslub Al-Quran yang bernadakan Tazkir dan Tanbih (penyegaran dan pengingatan kembali) harus digunakan. Pengingatan dan penyegaran kembali ini hanya berguna bagi orang-orang yang telah beriman, artinya mereka adalah orang-orang yang telah mendapat pengajaran dan pendidikan keimanan. Akan tetapi sebaliknya, hal ini tidak akan berguna sama sekali bagi mereka yang belum menerima pengajaran dan pendidikan keimanan.

Dan ingatlah, karena sesungguhnya peringatan kembali akan berguna bagi orang yang telah beriman.” (Az-Zariyat: 55)

Pengingatan dan penyegaran kembali akan pengetahuan yang telah diberikan, adalah tugas para Rasul, termasuk pula para Juru dakwah sebagai ahli waris para Rasul, sedangkan penerimaan petunjuk adalah urusan Allah semata-mata. Dalam hai ini, Rasul dan Juru dakwah hanya sekedar memberi peringatan dan penyegaran, sedangkan jika mereka yang didakwahi masih terus juga membangkang, maka metode dakwahnya akan berbeda.

“Karena itu, ingatlah, engkau hanya pemberi peringatan. Engkau tidak boleh memaksa mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)

Pengingatan dan penyegaran kembali adalah untuk menjauhkan mad’u sebagai manusia yang mempunyai kebiasaan lalai akan sesuatu yang pernah di dapatkannya. Tugas para Juru dakwah dalam kebanyakan waktu, yaitu pengingatan yang berguna. Pengingatan yang sangat dibutuhkan manusia, karena lalai senantiasa melanda pikiran mereka dan menggoyahkan perjalanan hidup mereka, tanpa ada bimbingan dan tujuan. Dan karena memang tabiat manusia itu adalah lalai akan sesuatu yang telah didapatkannya,

“Telah semakin dekat dengan manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main, hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, “(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerimanya (sihir itu) padahal kamu menyaksikannya?” (Al-Anbiya’:1-3)

Kelalaian dalam bentuk ini sama dengan kejahilan, karena akibat ketiadaan ingatan, dan hal ini karena akibat ketiadaan ilmu pengetahuan, seperti firman Allah:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Al-hasyr: 19)

Kelupaan dan kelalaian akan dirinya, hanya datang karena kelupaan akan Tuhannya. Jika dia mengingat hak-hak Allah dan berusaha untuk menunaikannya, tentu Allah akan memberi kepadanya tuntunan, memperlihatkan kepadanya apa yang bermanfaat, yang dapat menjamin kesejahteraan agama dan dunianya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Tadzkir dan Tanbih (pengingatan dan penyegaran kembali) merupakan suatu keharusan yang mutlak dilakukan secara terus menerus oleh semua pihak, baik itu Juru dakwah ataupun objek dakwah, selama mereka sebagai manusia masih tetap memiliki tabiat lalai dan lupa.

Pengingatan dan penyegaran kembali ini harus dilakukan terus menerus, karena dalam keadaan bagaimanapun pengingatan dan penyegaran itu tetap berguna,

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka), selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup.” (Al-A’la ; 9-13)

Karena itu, berilah peringatan dimana saja kita mendapat kesempatan untuk itu, mendapat peluang memasuki hati mad’u dan mendapat jalan untuk menyampaikan kebenaran.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Al-Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. Cetakan ketiga 2010. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Hasjmy, A. 1974. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran. Bulan Bintang: Jakarta.

http://harunyahya.com/indo/anak/muslim/muslim_02.html.

http://www.scribd.com/doc/33592512/Final-AlQuran-Dan-Kenyataan-Empiris

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahannya Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Hadits Shahih. SYGMA: Jakarta.

Thabaroh, Ahmad bin Husain. Cetakan kedua 1901. Fathurrahman. Al-Hidayah: Surabaya.

Yunus, Muhammad. 1973. Kamus Arab – Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran: Jakarta.

 
No Comments

Posted in dakwah

 

Rasa Takut & Harap

18 Okt

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia pasti akan merasakan berbagai macam emosi. Kadang-kadang kita merasa cinta dan benci, merasa aman dan takut, merasa bahagia dan sedih, merasa marah, cemburu, dengki, dan masih banyak lagi emosi yang lainnya.

Dan pada kesempatan kali ini penulis hanya akan membahas tentang salah satu emosi yang mungkin seringkali kita rasakan, yakni “Rasa Takut”.

Rasa takut termasuk salah satu emosi yang penting dalam kehidupan kita. Selain rasa cinta, takut juga merupakan ungkapan emosi yang bersifat fitrah yang dirasakan oleh kita. Pada situasi berbahaya atau dalam situasi yang mengancam keselamatan, kita cenderung akan merasakan takut.

Perasaan takut ini sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Karena perasaan takut akan mendorong kita untuk menjauhi situasi-situasi yang berbahaya maupun keadaan-keadaan yang bisa mengakibatkan kebinasaan. Hal ini seperti juga ketika kita mampu mengantisipasi ancaman dengan berbagai cara ketika ada serangan yang tertuju pada diri kita.

Jika demikian, dari satu sisi rasa takut sangat bermanfaat bagi kita. Dia bisa membantu kita untuk siap siaga mengantisipasi bahaya yang mengancam. Misalkan saja rasa takut kita sebagai mahasiswa saat akan menjalani ujian tengah semester atau akhir semester, karena takut gagal dalam menjalani ujian maka kita akan terdorong untuk menelaah pelajaran-pelajaran mata kuliah dengan baik. Dengan kata lain, rasa takut inilah yang menyebabkan kita sukses dan lulus dalam ujian.

Sebenarnya, rasa takut yang paling penting dan bermanfaat dalam kehidupan kita adalah rasa takut kepada adzab Allah swt. Rasa takut inilah yang memacu kita untuk berpegang teguh pada kewajiban-kewajiban agama, melaksanakan segala sesuatu yang diridlai Allah swt, dan menjauhi larangan-Nya, serta enggan untuk mengerjakan perbuatan dosa atau maksiat. Allah swt berfirman,

وخا فون ان كنتم مؤ منين

“Tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran : 175)

Beberapa eksperimen mutakhir membuktikan bahwa kadar rasa takut seseorang yang masih pada batas normal dan tidak berlebihan, akan bermanfaat baginya untuk mendorong melakukan hal-hal yang baik. Namun kalau rasa takut itu sudah berada pada batas yang tidak wajar, maka hal itu malah akan berakibar buruk bagi diri seseorang. Rasa takut yang masih normal bisa membuat seorang pelajar bersiap-siap menghadapi ujian dan serius untuk belajar. Sedangkan rasa takut yang berlebihan akan mengakibatkan seorang pelajar malah tidak berkonsentrasi untuk menghadapi ujian. Bahkan terkadang juga akan mengakibatkan hasil tes yang dia lakukan tidak seperti yang dia harapkan.

Rasa takut yang berlebihan juga dapat tergolong adzab Allah yang kadang-kadang menyebabkan kita merasa putus asa untuk mendapatkan rahmat-Nya. Ketika itulah kepribadian kita menjadi labil. Tak bersemangat lagi untuk melakukan aktivitas rohani dan keagamaan karena tidak lagi berharap akan rahmat dan pertolongan-Nya. Oleh karena itu, rasa akut kepada adzab Allah harus pula disertai dengan rasa harap terhadap rahmat Allah. Rasa harap kepada rahmat Allah inilah yang akan menekan rasa takut kita pada tataran yang rasional. Dengan demikian, rasa putus asa itu tidak akan menghantui kita.

Namun demikian pula halnya, jika rasa harap kita kepada rahmat Allah terlalu berlebihan kadarnya, tentunya juga akan menyebabkan kita menjadi lalai akan kewajiban-kewajiban agama kita. Hal ini disebabkan karena kita terlalu percaya diri bisa meraih rahmat Allah. Itulah mengapa rasa takut juga harus disertai rasa harap kepada rahmat Allah. Karena perpaduan dari kedua perasaan ini akan menimbulkan kekuatan yang akan mengarahkan kita untuk berperilaku lurus, menjalankan berbagai bentuk ketaatan dan kewajiban agama, serta menjauhi perbuatan buruk atau maksiat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa baginda Rasulullah SAW bersabda,

Tidak ada seorangpun yang meninggal dunia kecuali dia menyesal.” Para sahabat berkata, “Apa yang dia sesalkan wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Jika dia orang yang berbuat baik, maka dia akan menyesal tidak berbuat lebih banyak lagi. Namun jika dia orang yang berbuat buruk, maka dia menyesal mengapa tidak berhenti dari perbuatan maksiat.” (HR. At-Tirmidzi)

Sumber bacaan:

Psikologi Dalam Tinjauan Hadits Nabi SAW

 
2 Comments

Posted in hikmah

 

Acara Televisi Sudah Tak Mendidik

18 Okt

YOGYAKARTA  – Dunia pertelevisian kini kian menjadi obyek komoditas ekonomis yang hanya mengejar rating. Sedangkan tayangan pendidikan sangat minim, sehingga acara televisi tak lagi mendidik.

Itulah benang merah hasil survey terhadap sejumlah mahasiswa UMY tentang acara televisi. “Acara-acara di televisi itu seharusnya lebih menekankan dan memperbanyak tayangan yang bernuansa edukatif  jangan hanya mengejar rating. Jauhkan tayangan itu dari kepentingan pemilik modal (independen),”  kata salah seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY, Wirdan Fanani, di Yogyakarta, Selasa (4/10).

Hal serupa juga disampaikan seorang mahasiswa Teknik Mesin, Liyu Pawono Utomo saat ditemui di lobi Fakultas Teknik. Ia menyarankan kurangi acara yang kurang bermutu dan sebelum acara itu ditayangkan harus diseleksi terlebih dahulu.

“Karena banyak acara yang segmennya untuk orang dewasa tapi bisa dilihat oleh anak-anak. Padahal acara itu sebenarnya tidak memberikan pendidikan bagi anak. Tayangan-tayangan yang punya unsur mendidik seharusnya memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan tayangan-tayangan lainnya,” kata Liyu Pawono Utomo.

Pernyataan lain juga disampaikan oleh seorang mahasiswi fakultas Agama Islam, Nida Nasuha.  Ia mengusulkan untuk berita, kalau bisa berita itu diberi variasi pemberitaan. Jangan hanya memfokuskan pemberitaan pada masalah-masalah tertentu dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Misalkan seperti pemberitaan tentang pelaku korupsi, bom, atau teroris. Karena jika hanya hal itu saja yang diberitakan, akan memberikan kesan negatif pada masyarakat tentang orang yang diberitakan tersebut. Sehingga citra orang yang diberitakan itupun akan menjadi buruk,” kata Nida.

Sementara, mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Wirdan Fanani menambahkan acara-acara di televisi ini seharusnya bisa mencerdaskan bangsa.  “ Acara televisi ini kami harap kedepannya bisa lebih faktual, cerdas, terpercaya, berimbang dan mendidik,” katanya.

(tulisan diatas adalah hasil dari latihan penulisan berita yang sudah direvisi oleh dosen)

 

Menulis Berita Itu Tidak Mudah

12 Okt

Menuliskan sebuah berita ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja keras untuk mengerahkan semua potensi pikiran, agar bisa merangkai kata yang enak dibaca dan dipahami.

Kesesuaian antara judul, Lead (teras berita), perangkai, tubuh berita, dan kaki berita, memang sangat penting untuk diperhatikan. Teknik-teknik berita yang sudah dipelajari tidak bisa jika hanya sekedar dipelajari, dibaca dan diperhatikan. Namun juga butuh untuk diaplikasikan saat kita menuliskan sebuah berita.

Hal ini mungkin yang terkadang membuat tulisan berita kita sebagai pemula jadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan editor Surat Kabar. Sehingga saat kita mencoba menuliskan sebuah berita dan mengirimkannya ke sebuah surat kabar lokal atau nasional, tulisan yang kita kirimkan belum juga dimuat-muat meski kita sudah mengirimkan berpuluh-puluh tulisan.

 

 
No Comments

Posted in cerita

 

Penulisan Berita

06 Okt

Jurnalistik berhubungan erat dengan wawancara. Setelah pembahasan tentang wawancara beberapa waktu yang lalu, saat ini akan coba saya tambahkan sedikit tentang wawancara dan penulisan berita. Adapun wawancara itu terbagi dalam beberapa macam, diantaranya :

  1. Wawancara sosok pribadi
  2. Wawancara berita
  3. Wawancara jalanan
  4. Wawancara sambil lalu
  5. Wawancara telepon
  6. Wawancara tertulis
  7. Wawancara kelompok

Setelah seorang jurnalis melakukan wawancara, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan hasil wawancaranya dalam bentuk berita. Menulis berita tidak hanya asal menuliskan, namun juga ada teknik-teknik penulisannya. Diantara teknik penulisan berita tersebut ialah:

  • Menentukan sudut pandang (engel)
  • Menggunakan pola penulisan Piramida Terbalik
  • Menggunakan konsep 5 W 1 H
  • Pola pedoman tulisan menggunakan lead

Dalam pola penulisan Piramida Terbalik itu seharusnya:

  • Wartawan tidak memasukkan pendapat pribadi dalam berita yang ditulis
  • Wartawan dituntut untuk bersikap jujur
  • Kesimpulan ditulis di awal paragraf.

Adapun maksud dari Piramida Terbalik itu diantaranya adalah untuk memudahkan pembaca untuk segera menemukan berita yang dianggap menarik.

Susunan berita itu terdiri dari:

  • Judul
  • Lead
  • Perangkai
  • Tubuh berita
  • Kaki berita

Judul berita itu diupayakan harus memenuhi beberapa unsur dibawah ini:

  • Profokatif (bisa menumbuhkan minat khalayak untuk membacanya)
  • Singkat dan padat (terdiri dari 3-5 kata)
  • Relevan (sesuai dengan susunan berita yang ingin disampaikan)
  • Fungsional (setiap kata dalam judul bersifat mandiri dan memiliki arti yang tegas dan jelas.
  • Formal
  • Representatif (mencerminkan teras berita/lead)

Pada paragraf pertama lead atau teras berita merupakan paragraf yang memuat fakta atau informasi terpenting dari keseluruhan berita. Lead atau teras berita diupayakan terdiri dari 4-30 kata dan harus mengandung unsur-unsur :

  • Atraktif : mampu membagkitkan minat baca pada khalayak
  • Introduktif : harus bisa menyatakan pokok persoalan yang dikupas dengan tegas dan jelas
  • Korelatif : harus bisa membuka jalan bagi kemunculan kalimat untuk paragaraf kedua dan seterusnya.
  • Kredibilitas : mencerminkan bobot akademis reporter dan media massanya

 

 

 
 

Siaran-siaran TV

04 Okt

Tayangan-tayangan di televisi memang bermacam-macam bentuk dan segmentasinya. Namun tidak semua tayangan di televisi itu menyajikan informasi yang bermanfaat untuk kita. Sebagai penikmat media, kita harus pintar-pintar memilih progam televisi apa yang cocok untuk kita tonton. Dan dibalik siaran-siaran televisi itu ada sisi-sisi positif dan negatif yang menyertainya.

Berikut ini adalah olah Data hasil wawancara dengan 13 sampel mahasiswa-mahasiswi UMY

No Nama / Jurusan Acara yang biasa ditonton Waktu menonton Mengapa/motivasi menonton Kritik terhadap acara – acara di TV Harapan terhadap acara
1 Wahyu, FAI – PAI ‘ 10 Bola, Dahsyat, Berita Malam minggu & malam senin, ketika tidak ada jam kuliah Bola & musik karena memang sudah hobi & untuk mencari kesenangan atau hiburan agar pikiran jadi fresh lagi setelah kuliah. Untuk berita hanya untuk selingan dan agar bisa mengetahui berita-berita terkini.

-

Untuk bola kalau bisa lebih banyak ditayangkan lagi yang biasanya 2x seminggu jadi 3x seminggu.
2 Nida Nasuha, FAI – PAI ‘10 Drama Korea & berita Untuk drama korea waktu kondisional, menonton jika tidak ada kuliah. Untuk berita setiap sore. Drama Korea : karena suka, banyak ilmu yang bisa didapat baik dari pola kehidupan mereka, attitude, atau cara berkomunikasinya denga orang lain. & berbeda dengan film Indonesia.Berita: agar update

-

Diperbanyak referensi filmnya, jangan hanya film percintaan. Untuk berita, kalau bisa diberi variasi berita, jangan hanya memfokuskan pemberitaan pada masalah2 tertentu (bom, korupsi, teroris)  karena jika hal itu saja yang diekspos, akan memberikan kesan negatif pendengar pada orang yang diberitakan.
3 Aida, Kedokteran – KU ‘10 Bioskop TransTV Jam 21.00 atau lebih Karena  memang suka & sebagai hiburan setelah menjalani aktivitas perkuliaha & juga karena tidak suka menonton sinetron jadi nontonnya bioskop TransTV Kurangi tayangan2 sinetron. & untuk berita jangan terlalu meng-ekspos internal dari orang yang diberitakan karena akan berdampak negatif pada orang tersebut. Siarkan tanyangan yang lebih banyak memberikan / mengandung manfaat untuk pendengar, & untuk acara hiburan lebih baik diletakkan di malam hari agar tidak mengganggu jam2 belajar.
4 Yunita Fatmawati, Kedokteran – PSIK ‘09 Musik & berita Jam 8-9 pagi atau ba’da maghrib Kalau musik hanya sekedar untuk hiburan. Berita untuk memperluas wawasan. Waktu penayangan siaran2 edukasi minim. Yang ditayangkan jangan hanya memberikan hiburan, tapi juga perlu diselipkan hal2 positif, wawasan dan juga sisi edukatifnya.
5 Yusuf, Kedokteran, PSIK ‘09 Mario Teguh, Hati Ke Hati (Mama Dedeh) Minggu jam 7 malam, & jam 5 pagi Karena banyak memotivasi Secara umum, untuk berita2 di TV jangan memberitakan hal2 yang memberikan efek negatif pada audiennya, sehingga mereka terpengaruh untuk melakukan hal2 seperti yang diberitakan di TV. Untuk waktu tayang hiburan kurang tepat jika ditayangkan di pagi hari. Lebih diperbanyak tayangan yang positif
6 Liyu Paworo Utomo, FT- Tekhnik Mesin ‘09 OVJ & ceramah (Mama & Aa’) Jam 8-9 & jam 5 pagi OVJ: karena lucu & menghilangkan kejenuhan setelah kuliah.Ceramah: karena muslim itu harus mengetahui agama, cara menyampaikan dakwah sesuai dengan zaman sekarang. Tayangan2 yang mendidik & acara2 dakwah masih kurang banyak. Kurangi acara yang tidak bermutu & sebelum ditayangkan harus di filter terlebih dahulu. Karena banyak acara2 yang segmenya untuk orang dewasa tapi bisa dilihat oleh anak2 kecil.
7 Moh. Rifandi, FE – Akuntansi ‘07 Jakarta Loyer Club (Tvone), OVJ, Minggu Malam (TVRI), Sentilan – sentilun Jam 7 malam atau kondisional Karena punya nilai kritik sosial Bagi acara yang mengatas namakan agama Islam, dalam penyampaiaannya bukan nilai Islam yang sesungguhnya hanya sebatas problem kehidupan keluarga sehari-hari. Untuk tayangan sinetron saat ini lebih pada mengarahkan audien untuk berpikir pragmatis, oportunis, & apatis. & juga membentuk masyarakat menjadi materialistis. Media jangan terlalu kuno tapi juga jangan terlalu bebas dalam menyampaikan informasi pada masyarakat. Media harus bisa jadi kontrol sosial, jangan hanya profit oriented.
8 Rizki Novaldi, Fisipol – HI ‘09 Mario Teguh & Kick Andy Minggu malam jam 7 & jum’at jam 20.30 Karena bisa menyemangati, memotivasi diri, menjadi inspirasi, & mendapatkan hal baru

Acara2 Islami waktu penayangannya terlalu pagi

Program2 TV secara umum lebih banyak mengedepankan acara2 seperti Mario Teguh & Kick Andy.
9 Purwanto, FP – Agroteknologi ‘08 On The Spot, Metro Headline News, 8-11, Sentilan – sentilun Jam 7-8 malam, jam 8-11 siang Karena acaranya kreatif (Trans7) berani tampil beda, & lebih kritis terhadap berita yang disajikan (Metro Tv) Dalam pemberitaan tidak perlu sampai mendramatisir atau melebih-lebihkan berita yang disampaikan Acara2 tersebut dilanjutkan terus & lebih dibuat kreatif lagi.
10 Prima Indah, FH – IPOLS ‘10 Film Barat & kartun Jam 8 pagi & 10 malam Kartun: karena lucu.Film barat: karena bagus ceritanya lebih baik daripada film Indonesia Secara umum, untuk sinetron jangan terlalu lebaydengan cara membodohi penonton, karena tidak ada mutunya untuk audien, & dampak untuk anak2 dibawah umur juga jelek, karena dikhawatirkan pada akhirnya mereka akan meniru apa yang mereka tonton.Film barat: jangan terlalu fulgar.

 

Sinetron lebih baik tidak ada \/ tidak ush diputar. Karena kalau di negara lain ada waktu pembagiaan acarany, harus di STOP ketika jam belajar tiba.
11 Wirdan Fanani, FISIPOL – IP ‘09 Berita, talkshow, Kick Andy, Today’s Dialog, Apa Kabar Indonesia Malam, Kabar Tokoh Ba’da isya’ Informatif, edukatif, & berwawasan Nuansa edukasinya diperbanyak, jangan hanya mengejar rating & jauhkan dari kepentingan pemilik modal (independen) Lebih faktual, cerdas, terpercaya & berimbang.
12 Annisa Nilam Cahya, FISIPOL – IKOM ‘09 Provocative proactive, Mario Teguh, 8-11 show, Just Alvin, Nanny 911, archipelago Kondisional, sore atau malam Untuk edukasi, hiburan, & mengisi waktu senggang. Tayangan2 kekerasan, pornoaksi atau yang tidak pantes jangan ditayangkan pada jam2 anak2 kecil masih menonton TV. Terlalu banyak gossip, tidak ditayangkan pada jam2 tertentu saja. Tayangan edukatif masih kurang. Perindustrian televisi masih dikuasai kaum kapitalis, sehingga kepentingan acara biasanya berhubungan  dengan kepentingan mereka. & buruh pertelevisian yang terlalu padat jam kerjanya. Pemerintah lebih tegas dalam membuat kebijakan agar pasar televisi tidak hanya dikuasai oleh kapitalis yang hanya mementingkan profit.
13 Fatihatun Cahyaning Tyas, FISIPOL – PBI ‘11 Sinetron, berita Malam & sore hari sebelum maghrib Sinetron: sekedar hiburanBerita: menambah wawasan Sinetron: terlalu glamour, tidak ada kisah2 tentang orang desa karena selalu yang dikisahkan tentang kehidupan orang kaya. & kebanyakan tentang percintaan.Berita : membosankan jika yang diberitakan hanya 1 topik saja. Sinetronnya diselipkan unsur edukasinya. Sinetron jangan ditanyangkan malam hari karena akan menggannggu aktivitas belajar. Kalau untuk berita kalau ada sedikit masalah jangan langsung diberitakan agar tidak terkesan bahwa Indonesia ini lem

Dari hasil wawancara ke- 13 sampel mahasiswa – mahasiswi UMY di atas dapat diketahui bahwasannya, tingkat konsumsi media di kalangan mahasiswa-mahasiswi UMY dapat dikatakan tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah (sedang). Mereka tidak menggunakan waktu 24 jam penuh hanya untuk menonton acara televisi, karena memang mereka masih disibukkan dengan kegiatan perkuliahan. Dan rata-rata dari mereka dapat menikmati media khususnya televisi hanya di saat mereka bebas dari kegiatan perkuliahan (sore/malam hari). Adapun selebihnya mereka mengkondisionalkan waktu, ketika mereka membutuhkan hiburan saat jam kuliah kosong maka mereka menggunakan televisi sebagai salah satu alternatif hiburan. Sedangkan fakultas atau jurusan tidak menjadikan faktor penentu bagi mereka dalam menikmati siaran-siaran/program-program  di televisi.

 

Yuk Belajar Jurnalistik!

29 Sep

Yuk belajar..disini saya akan membagikan sedikit yang saya tahu dari mata kuliah yang saya ikuti di kampus.

Kita sering mendengar kata-kata “Jurnalistik”, namun apakah sebenarnya “Jurnalistik” itu? Dan apa saja segala sesuatu yang berkaitan dengan “Jurnalistik”?

Jurnalistik merupakan kegiatan untuk menyiapkan (mengumpulkan segala informasi dari narasumber), mendapatkan informasi, menulis dan mengedit untuk surat kabar, majalah, atau terbitan berkala lainnya. (Assegaff Dza’far Husain, 1983)

Jurnalistik juga memilki bentuk tertentu, dan bentuk jurnalistik itu terbagi dalam 4 macam :

1. Jurnalistik media cetak

2. Jurnalistik Elektronik Auditif (Radio)

3. Jurnalistik Elektronik Audio visual (TV)

4. Jurnalistik Internet

Produk yang dihasilkan dari jurnalistik ada yang berupa berita (news/feature), opini, atau iklan.

Berita (news) juga terbagi dalam beberapa kategori :

1. Berita langsung (straight news)

2. Berita menyeluruh (comprehensif news)

3. Berita mendalam (depth news)

4. Pelaporan mendalam (depth reporting)

5. Berita penyelidikan (investigative news)

6. Berita khas bercerita (feature news)

7. Berita gambar (photo)

Sebelum memberitakan sesuatu, pastinya seorang jurnalis terlebih dahulu harus menyusun beberapa pertanyaan tentang peristiwa yang akan diberitakan olehnya. Menentukan narasumber dan mengajukan pertanyaan kepadanya untuk mendapatkan informasi. Apabila ada beberapa orang narasumber, maka baiknya pertanyaan yang diajukan pun harus berbeda, dengan memilah dan memilih pertanyaan mana yang cocok untuk diajukan pada narasumber A dan mana yang tidak.

Dan dalam mengajukan pertanyaan, seorang jurnalis harus kreatif dan penuh dengan trik. Jika narasumber menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita harus memberikan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih kreatif dan mengarah pada jawaban yang kita harapkan. Dan jangan menggunakan pertanyaan yang mungkin akan menyinggung perasaan narasumber.

Berbicara jurnalistik juga pasti akan berkaitan dengan wawancara. Karena dari wawancara itu pula seorang jurnalis akan mendapatkan berita atau informasi yang diinginkan.

Sebelum wawancara dilakukan, ada baiknya seorang jurnalis menyusun terlebih dahulu pertanyaan apa saja yang nantinya akan diajukan pada narasumber, memilih narasumber yang tepat, dan juga yang paling penting adalah menyiapkan buku catatan, bolpoint, alat perekam, dan kamera. Setelah menentukan narasumber, langkah berikutnya adalah membuat perjanjian dengan narasumber dan memberikan daftar pertanyaan kepadanya, agar narasumber juga mempunyai persiapan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan kita ajukan nantinya.

Seorang jurnalis yang akan melakukan wawancara dengan narasumber, harus datang tepat waktu ke tempat yang telah disepakati antara jurnalis dan narasumber. Jurnalis juga harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum memulai wawancara.

Dan sikap-sikap lain yang juga harus diperhatikan oleh jurnalis saat melakukan wawancara diantaranya adalah :

- Harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan ketika berbicara ( menjaga sopan santun )

- Jangan terburu-buru mengajukan/melafalkan pertanyaan.

- Sebagai penanya, jurnalis harus menjadi pendengar yang baik (konsentrasi).

- Hindari sikap menggurui terhadap narasumber.

- Selalu siap dengan pertanyaan-pertanyaan susulan.

- Upayakan pertanyaan tidak menyimpang dengan topik yang kita gali.

 

 

 
 

Patroli Polisi

28 Sep

Dua minggu yang lalu saat kami sedang berada dalam perjalanan menuju Jogokaryan, terjadi sebuah peristiwa yang cukup membuat kami terheran-heran. Saat puluhan kendaraan bermotor tiba-tiba terhenti di tengah jalan, di perempatan Kasihan di sebabkan adanya patroli polisi untuk kendaraan bermotor. Perjalanan kami pun terhambat selama setengah jam, karena kami tidak membawa SIM dan STNK sehingga kami pun tertahan di tempat itu.

Kami perhatikan setiap lalu lalang kendaraan bermotor yang juga mengalami hal yang sama seperti kami. Satu persatu pengendara motor yang tidak membawa SIM atau STNK terpaksa tertahan beberapa saat bersama kami. 20 ribu, 30 ribu rupiah mereka keluarkan begitu saja dari dompet mereka, demi mendapatkan kebebasan melanjutkan perjalanan. Tidak ada dari mereka yang memilih untuk mengikuti sidang, mereka lebih rela mengeluarkan uang daripada mengikuti sidang di Kejaksaan.

Saat ada seorang anak SMA yang juga tertangkap basah tidak membawa SIM, para polisi itu pun memintanya untuk segera meminggirkan kendaraannya. Proses tanya jawab antara si anak dan polisi itu pun dimulai. Karena anak SMA itu hanya membawa STNK tanpa membawa SIM, polisi pun memintanya untuk memilih salah satu dari dua pilihan, ikut sidang atau membayar denda. Dan anak SMA ini pun menentukan pilihannya pada pilihan yang kedua, membayar denda.

Dan anak SMA ini dikenakan denda oleh polisi sebesar Rp. 50.000,-. Saat orang lain dan juga anak-anak SMA lainnya hanya dikenakan denda sebesar Rp. 30.000,- anak SMA yang satu ini mendapatkan perlakuan khusus dan berbeda dari anak SMA yang lain. Membayar lebih tinggi dari yang lain, karena dia tidak memiliki dan membawa SIM.

Ini hanyalah contoh kecil dari kondisi negara kita. Karena jika kita kaitkan kejadian ini dengan kondisi negara kita yang penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, maka kejadian di atas juga merupakan bagian kecil dari 3 sifat buruk negara kita.

 
4 Comments

Posted in cerita

 

Yuk Bermimpi…

27 Mei

Kehidupan kita yang terjadi saat ini adalah mimpi kita di masa lalu. Mimpi adalah sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Karena tanpa kita sadari, setiap hari pun kita sudah bermimpi. Mimpi yang tidak kita sadari melesat dalam benak kita, ketika kita melihat sesuatu yang menyenangkan dan kita ingin memiliki sesuatu itu.

“Wah,sepertinya keliling dunia itu enak ya…?”, “Aku ingin menjadi orang hebat seperti dia”, “Kalau aku menjadi seperti dia, gimana rasanya ya?”, “Coba aku bisa seperti dia, ikut lomba terus juara sama bawa pulang piala…” dan masih banyak pernyataan lain yang seringkali kita ungkap ketika melihat sesuatu yang kita inginkan.

Bermimpi itu rasanya memang indah. Kita merangkai masa depan dari mimpi-mimpi kita. Kita mencoba menuliskan mimpi-mimpi kita dalam selembar kertas. Dan tanpa kita sadari, saat kita kembali membuka lembaran mimpi kita, hampir semua mimpi-mimpi yang kita tuliskan itu tercapai. Betapa senang tentunya diri kita melihat lembaran mimpi kita telah dipenuhi dengan coretan karena mimpi kita telah tercapai. Itulah yang saya coba lakukan dan ternyata memang benar, beberapa keinginan dan mimpi saya tercapai.

Sebenarnya banyak sekali orang-orang yang berhasil karena bermula dari sebuah mimpi. Seperti Andrea Hirata atau Agnes Monica yang sudah banyak dikenal orang, namun masih ada satu sosok lagi yang tak kalah menariknya. Dia adalah salah seorang mantan wartawan Tempo dan VOA, penerima 8 beasiswa luar negeri dan penyuka fotografi. Berita terakhir pada awal bulan Mei kemarin, dia berkata bahwa dia telah berkeliling dunia sebanyak 30 negara. Adakah diantara kalian yang sudah bisa menebak, siapa orang yang saya maksudkan? Ya, dia adalah pengarang novel trilogi Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi.

Kalau dalam novel Negeri 5 Menara, nilai yang disampaikan adalah tentang kekuatan dari mantra “Man Jadda Wajada” siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan. Maka dalam novel yang kedua dengan judul Ranah 3 Warna, nilai yang disampaikan Ahmaad Fuadi adalah tentang kekuatan mantra kedua yakni “Man Shobara Zafira” barangsiapa yang bersabar maka dia akan mendapatkan.

Ketika saya mengikuti acara lomba di Universitas Indonesia dalam rangka Festival Timur Tengah yang ke-2 kalinya, kebetulan sekali akhirnya keinginan saya untuk bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi terkabul. Karena saat itu juga diadakan acara bedah buku Ranah 3 Warna. Banyak sekali kata-kata Bang Fuadi yang saya tulis dalam buku catatan saya.

Kata-kata Bang Fuadi tersebut seperti, ” Jangan pernah pedulikan masa lalu, perhatikan saja apa yang kita lakukan sekarang ini, berusahalah lebih keras untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.” “Selalu ada jarak antara usaha dan kesuksesan, jarak itu adalah sabar. Kesabaran yang luar biasa.” ” Yang namanya impian itu wajib dibela, dipelihara dan diperjuangkan, karena Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.” ” Apa yang kita lihat saat ini adalah impian seseorang yang menjadi nyata, karena dia telah memperjuangkan mimpinya.”

Dari kata-kata yang diucapkan Bang Fuadi tersebut, saat itu juga saya mulai berpikir, mungkinkah kejadian yang saya dan orang-orang di sekitar saya saat itu, juga ada kaitannya dengan keinginan saya untuk bertemu dengan Bang Fuadi? Sebab, beberapa waktu sebelumnya saya berusaha bergabung dengan komunitas 5 Menara di facebook dan saya juga menuliskan beberapa pesan pada Bang Fuadi, bahwa saya ingin bertemu dan bertanya kapankah Bang Fuadi akan berkunjung ke Jogja. Namun, ternyata Allah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu Bang Fuadi dan menggali ilmu darinya di Jakarta bukan di Jogja. Namun, saya masih tetap yakin dan berharap agar Bang Fuadi bisa ke Jogja atau mengadakan acara di kampus saya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Di samping kata-kata di atas, Bang Fuadi juga tak lupa mengatakan bahwa jika hanya “Man Jadda Wa Jada” (bersungguh-sungguh) saja tanpa dibarengi dengan “Man Shobara Zafira” (bersabar), do’a, syukur, dan tawakkal mimpi-mimpi kita tidak akan pernah bisa tercapai dengan sempurna. Sebab sabar, do’a, syukur dan tawakkal (berserah diri dan berpositive thinking pada Allah) itu memiliki esensi ajaib untuk mencapai mimpi-mimpi kita.

Jadi, bermimpilah…jangan pernah takut untuk bermimpi. Namun, tetap harus ingat, dengan bersungguh-sungguh, bersabar, berdo’a, bersyukur dan bertawakkal, maka mimpi-mimpi kita akan mudah tercapai. insyaAllah.

 
No Comments

Posted in cerita

 

Wajah Lama Ibukota

24 Mei

Sebagai Ibukota negara, Jakarta memang telah menjadi salah satu tempat tujuan rakyat Indonesia untuk mengais rejeki. Mereka datang dari seluruh penjuru dan pelosok negeri berharap akan mendapatkan segenggam kebahagiaan dan kehidupan yang layak. Jakarta telah tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi, hal inilah yang memacu orang-orang diseluruh penjuru negeri ini datang untuk mengadu keberuntungan di Jakarta.

Mereka datang tanpa bekal yang cukup, padahal Jakarta tidak bisa menjanjikan apa-apa bagi mereka apalagi dalam hal ekonomi. Namun, tetap saja orang-orang berdatangan ke Jakarta dan rela bekerja menjadi apa saja. Tukang sapu, pemulung, pedagang asongan, pengemis, pengamen, hingga PSK semua pekerjaan itu rela mereka kerjakan hanya untuk bisa bertahan hidup di Jakarta. Sebenarnya, hal-hal tersebut tidak begitu bermasalah, tetapi yang menjadi masalah adalah jumlah orang yang berdatangan ke Jakarta yang sudah terlalu banyak.

Jumlah pendatang yang terlalu banyak inilah yang membuat masalah dan menjadikan Ibukota semakin sesak dengan keberadaan mereka. Terlalu banyak pengemis di jalan-jalan Ibukota. Terlalu banyak orang-orang yang hidup di tempat-tempat yang tidak layak, di bantaran kali, di kolong-kolong jembatan, di pinggir dan di sekitar terminal dan stasiun kota. Terlalu banyak orang yang menjadi copet, waria, sampai pelacur.

Segala sesuatu yang bersifat “terlalu” memang tidak baik, terbukti dengan adanya pendatang yang terlalu banyak menyebabkan masalah terjadi di Ibukota. Terlalu banyak penduduk yang hidup di Jakarta menjadikan sebagian besar pendatang yang tidak mujur nasibnya terpaksa bekerja apa saja dan hidup dimana saja. Mereka dengan rela hati hidup di tempat-tempat yang tidak layak untuk dijadikan pemukiman, di bantaran kali, di kolong-kolong jembatan, di sekitar dan di pinggir terminal dan stasiun.

Sungguh perbedaan yang sangat mencolok sekali saat di beberapa sudut kota berdiri dengan kokohnya Masjid Istiqlal, Monas, gedung-gedung Kementerian, serta kantor Pertamina pusat, sedang disebuah sudut yang lain dekat masjid Istiqlal di bawah Jembatan dan di sekitar kali terdapat beberapa rumah-rumah yang sudah tak layak huni. Air kali yang sudah berubah warna menjadi hijau kecoklatan, baju-baju yang tergantung di bawah jembatan, menyiratkan suatu kondisi yang saling timpang tindih.

Jakarta di satu sisi menjadi tempat orang-orang kaya meraup keuntungan bisnis yang melangit, namun di sisi lain juga menjadi tempat bertumpu orang-orang miskin dan kekurangan yang tak semujur orang kaya.

Bagaimana sikap pemerintah dan pejabat negara menghadapi situasi dan kondisi semacam ini? Segala konsep kebijakan dan peraturan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah seakan-akan tak berbekas sama sekali.

Banyaknya penduduk Ibukota yang hidup tidak layak dan menjadi pengemis, pengamen, waria, hingga pelcur, membuktikan bahwa pemerintah Indonesia belum bisa menyediakan lapangan pekerjaan baru dan inisiatif lain dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyatnya.

Bukti lainnya dapat kita ketahui dari survei BPS tahun 2008 dan masih berlaku hingga tahun 2010 kemarin, menyebutkan bahwa sebanyak 60,5 persen pemuda usia 16-20 tahun di seluruh provinsi Indonesia belum memiliki pekerjaan tetap atau pengangguran. Sedangkan jika pendataan juga dilakukan pada pemuda usia 30 tahun, angkanya bisa lebih dari 60,5 persen. (arsipberita.com 07 April 2011)

Betapapun rancangan kebijakan yang telah dirumuskan pemerintah kota maupun negara, terbukti belum maksimal terlaksana. Padatnya penduduk Ibukota merupakan bagian permasalahan pelik yang tak henti-hentinya dibahas, dibicarakan, dan diamati. Menjadi kemirisan hati saat melihat suasana ibukota yang sangat penuh sesak dengan dengan berbagai macam pemukiman penduduk yang kumuh dan berjejalan tak beraturan.

Pemerintah kota, provinsi, dan negara sebagai penguasa dan pengatur negara Indonesia ini, perlu berbenah diri dalam menyelesaikan permasalahan ibukota negara kita ini. Perealisasian dengan sempurna undang-undang RI tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman akan sangat membantu dalam penyelesaian masalah-masalah di atas. Dengan keberadaan undang-undang dan kerjasama yang sinergi antar pemerintah dan masyarakat masalah akan terselesaikan. Jakarta akan tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi yang menguntungkan bagi penduduk dan pendatang baru. Tidak ada yang kaya, tidak ada yang miskin.