Menjadi Seorang Guru

22 April 2012

kepuasan yang benar-benar abadi adalah ketika kita merasakan apa yang tak pernah bayangkan sebelumnya. sebelumnya kau tak pernah membayangkan akan menjadi seorang guru. Di usia yang menurutku masih sangat memerlukan bimbingan dari berbagai pihak dan nasehat yang terdengar dari sisi kanan kiri tekinga ini. Namun semua menjadi sangat sirna ketika aku harus menghadapi sebuah tantangan bahwa aku harus menjadi seorang guru. Di dalam pikiran ku dan semua teman-temanku yang mengeyam Pendidikan Bahasa Inggris di UMY adalah kita akan mendapat bimbingan selama kurun waktu tertentu sampai para pembibing kami yakin bahwa kami pantas dan layak untuk menjadi seorang guru.

Ketika Mataf (OSPEK) berlangsung aku pun terbelenggu dengan kata dari kakak tingkatku bahwa “kalian kuliah disini mempunyai sistem yang berbeda dengan universitas lain. Kalian tak ada UTS namun kalian akan mengajar anak SD 3 minggu ynag akan datang.” kata itulah yang membuatku terperosok untuk bertanya pantaskah diri ini yang tak memepunyai bekal apapun bahkan pengalaman sedikitpun. dalam hatiku terus bergumam bisakah aku menjadi seorang guru yang baik sedangkan diri ini masi saja selalu tak tau apa itu hakikat dan pentingnya guru.
aku tak tahu kenapa tiba-tiba hatiku menjadi berdetak sdangat cepat. Dosen memberi tahuku tentang kelompok mengajar, akupun mendapat jatah mengajar di kelas satu.
Pengalaman pertama ngajar…
seperti bayi yang dilahirkan di dunia aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. bertemu dengan anak-anak kecil dan harus menyampaikan seklumit ilmuku yang aku dapat. anak-anak bersorak gembira seakan menyambut kaedatangan kami di kelas. aku pun memperkenalkan diriku kepada muridku. wajah polos itulah yang membuat semnagatku untuk terus berada disana dan menyampaikan sedikit ilmu kepada mereka. senakal apapun mereka, gaduh, tangis, tawa itulah yang memebuatku merasakan pengalaman yang sangat sempurna.
banyak sekali suara-suara polos yang bergumam dan memenuhi seluruh ruang kelas ini. rasanaya ingin sekali meledakan seluruh emosi yang sudah bersarang di otak ini. namun apa daya melihat kelucuan mereka taatkala mereka bertanya kepadaku tentang materi yang aku sampaikan. kesabaranku benra-benar di uji. namun semua menjadi indah ketika melihat senyum dan tawa mereka saat memahami apa yang aku sampaikan. 🙂

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas