Sapto Himawan

Bersama kita maju

Fiqh Luqathah

Posted by sapto 1 Comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini pembahasan tentang luqathah, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.

Agama Islam datang untuk menjaga harta dan memeliharanya, dan datang untuk menghormati harta seorang muslim dan menjaganya.

 

Ta’rif (pengertian) luqathah

Luqathah adalah harta yang terpelihara yang siap hilang dan tidak diketahui pemiliknya.  Ada pula yang memberikan ta’rif luqatah, yaitu mengambil barang agar tidak sia-sia untuk dijaga atau dimiliki setelah diumumkan.

Biasanya luqathah dipakai untuk harta selain hewan, jika hewan yang hilang, maka disebut dhaallah.

 

Hukum luqathah

Memungut luqathah hukumnya sunat. Ada pula yang mengatakan wajib, dan ada yang mengatakan, bahwa jika luqathah tersebut berada di tempat yang aman, maka pemungutnya disunatkan mengambilnya. Namun, jika barang tersebut berada di tempat yang tidak aman jika dibiarkan, maka wajib dipungut.

Jika dalam dirinya ada sifat tamak terhadap barang tersebut, maka di antara ulama ada yang berpendapat bahwa barang tersebut haram diambil. Perbedaan hukum memungut ini melihat kepada orang yang merdeka, baligh dan berakal, meskipun ia bukan seorang muslim.

Adapun jika bukan seorang yang merdeka, atau anak-anak atau yang tidak berakal, maka ia tidak dibebani memungut luqathah. Dasar hukum luqathah adalah hadits yang berasal dari Zaid bin Khalid Al Juhanniy radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

 

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ عَنْ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: «اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً، فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَشَأْنَكَ بِهَا» قَالَ: فَضَالَّةُ الغَنَمِ؟ قَالَ: «هِيَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ» ، قَالَ: فَضَالَّةُ الإِبِلِ؟ قَالَ: «مَا لَكَ وَلَهَا، مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ المَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا»

“Pernah datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang luqathah, maka Beliau bersabda, “Kenalilah kantong dan talinya[i], lalu umumkanlah selama setahun. Jika datang pemiliknya (maka berikanlah), jika tidak, maka itu terserahmu[ii].” Orang itu bertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan kambing yang hilang?” Beliau menjawab, “Itu untukmu, untuk saudaramu[iii] atau untuk serigala[iv].” Ia bertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan unta yang hilang?” Ia menjawab, “Apa urusanmu dengannya[v], (sesungguhnya) ia memiliki tempat airnya dan sepatu kakinya, ia bisa mendatangi tempat air dan memakan pepohonan sehingga ditemui oleh pemiliknya.” (HR. Bukhari dan lainnya dengan lafaz yang berbeda-beda)

Luqathah di tanah haram

Tentunya hal di atas pada selain luqathah di tanah haram, adapun luqathah yang berada di tanah haram, maka haram diambil kecuali dengan tujuan untuk mengumumkannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلاَ يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهَا إِلاَّ مَنْ عَرَّفَهَا

“Tidak ada yang boleh memungut luqathahnya kecuali orang yang akan mengumumkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Demikian juga berdasarkan sabda Beliau:

لاَ يَرْفَعُ لُقَطَتَهَا إِلاَّ مُنْشِدٌ

“Tidak ada yang memungutnya kecuali yang mengumumkanya.”[vi]

 

Mengumumkan barang yang hilang

Wajib bagi pemungutnya untuk memperhatikan dengan jelas tanda pada barang luqathah yang membedakan dengan lainnya baik tempat, tali dan segala kekhususannya seperti macam, jenis dan ukurannya[vii].

Pemungut luqathah hendaknya menjaganya sebagaimana ia menjaga hartanya, baik barang tersebut ringan atau barang penting. Barang tersebut merupakan wadii’ah (titipan) padanya, di mana ia tidak menanggungnya kecuali jika barang itu binasa dengan kesengajaan. Kemudian hendaknya ia mengumumkannya di tempat-tempat orang berkumpul dengan berbagai sarana, baik di pasar maupun di tempat lainnya yang diperkirakan pemiliknya ada di sana.

Jika pemiliknya datang dan mengemukakan ciri-cirinya yang membedakan dengan lainnya, maka bagi pemungutnya boleh menyerahkan barang itu kepadanya meskipun ia tidak membawakan bukti. Jika ternyata pemilik barang tidak kunjung datang, maka pemungutnya hendaknya mengumumkan selama setahun.

Jika setelah setahun belum datang juga, maka halal baginya menyedekahkan atau memanfaatkannya baik ia orang kaya atau orang miskin dan ia tidak perlu menanggung. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dari Ubay bin Ka’ab ia berkata:

وَجَدْتُ صُرَّةً عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا مِائَةُ دِينَارٍ، فَأَتَيْتُ بِهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «عَرِّفْهَا حَوْلًا» فَعَرَّفْتُهَا حَوْلًا، ثُمَّ أَتَيْتُ، فَقَالَ: «عَرِّفْهَا حَوْلًا» فَعَرَّفْتُهَا حَوْلًا، ثُمَّ أَتَيْتُهُ، فَقَالَ: «عَرِّفْهَا حَوْلًا» فَعَرَّفْتُهَا حَوْلًا، ثُمَّ أَتَيْتُهُ الرَّابِعَةَ: فَقَالَ: «اعْرِفْ عِدَّتَهَا، وَوِكَاءَهَا وَوِعَاءَهَا، فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا، وَإِلَّا اسْتَمْتِعْ بِهَا

“Saya menemukan kantong yang di dalamnya terdapat uang seratus dinar, maka saya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun,” lalu saya mengumumkannya selama setahun. Setelah itu, saya datang lagi, kemudian Beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun.” lalu saya mengumumkannya selama setahun. Setelah itu, saya datang lagi, kemudian Beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun.” Setelah itu, saya datang lagi keempat kalinya, kemudian Beliau bersabda, “Kenalilah jumlahnya, talinya, dan wadahnya. Jika datang pemiliknya (maka serahkanlah), dan jika tidak maka pakailah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang luqathah yang ditemukan di jalan yang ramai, maka Beliau bersabda, “Umumkanlah setahun. Jika kamu menemukan pencari(pemilik)nya, maka serahkanlah kepadanya, jika tidak (datang) maka barang itu untukmu.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimana jika ditemukan di tempat yang sepi?” Beliau menjawab: “Padanya dan pada rikaz itu (zakatnya) 1/5.”

 

Pengecualian pada makanan dan barang yang dianggap ringan

Hal yang disebutkan di atas itu jika tidak berupa makanan dan bukan barang yang ringan. Tetapi jika berupa makanan, maka tidak wajib diumumkan dan boleh langsung dimakan. Disebutkan dalam hadits dari Anas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebutir buah di jalan, lalu Beliau bersabda,

 

لَوْلاَ أَنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الصَّدَقَةِ لَأَكَلْتُهَا

 

“Kalau bukan karena aku khawatir ia termasuk harta zakat, tentu aku akan memakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian juga sesuatu yang ringan, maka tidak perlu mengumumkan selama setahun, bahkan cukup mengumumkan selama waktu yang diperkirakan pemiliknya tidak mau mencarinya lagi. Bagi pemungutnya boleh memanfaatkannya apabila tidak menemukan pemiliknya. Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu berikut, ia berkata:

 

رَخَّصَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعَصَا وَالسَّوْطِ وَالْحَبْلِ وَأَشْبَاهِهِ يَلْتَقِطُهُ الرَّجُلُ يَنْتَفِعُ بِهِ

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringan kepada kami pada tongkat, cemeti, tali dan sejenisnya apabila dipungut oleh seseorang, ia bisa langsung memanfaatkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, namun hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani)

Hadits lainnya adalah dari Ali radhiyallahu ‘anhu berikut, “Bahwa ia pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa uang satu dinar yang ditemukan di pasar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

عَرِّفْهُ ثَلاَثًا فَفَعَلَ فَلَمْ يَجِدْ أَحَدًا يَعْرِفُهُ فَقَالَ كُلْهُ

 

“Umumkanlah sebanyak tiga kali,” maka Ali melakukannya dan tidak menemukan juga pemiliknya, lalu Beliau bersabda: “Makanlah.” (HR. Abdurrazzaq dari Abu Sa’id)

 

Keadaan barang yang ditemukan

Jika sebuah harta hilang dari pemiliknya, maka tidak lepas dari tiga keadaan:

a.        Pertama, barang tersebut tidak termasuk barang yang diharapkan (diperhatikan) orang-orang. Misalnya cemeti, roti, buah, tongkat. Maka barang ini boleh dimiliki dan dimanfaatkan tanpa perlu diumumkan.

b.       Kedua, harta tersebut berupa hewan buas kecil yang sulit untuk ditangkap, baik karena besarnya seperti unta, kuda, sapi, keledai dan bighal (binatang yang lahir dari kuda dan keledai)[viii]. Bisa karena sering terbang seperti burung. Atau karena cepat larinya seperti kijang atau karena suka melawan dengan taringnya seperti fahd (harimau)[ix]. Maka binatang-binatang ini haram dipungut[x] dan tidak bisa dimiliki dengan diumumkannya[xi]. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang unta yang hilang:

 

مَا لَكَ وَلَهَا، مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ المَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا

 

“Apa urusanmu terhadapnya! Hewan itu memiliki tempat air dan sepatunya. Ia bisa mendatangi tempat air dan memakan pohon sampai ditemukan pemiliknya.” (Muttafaq ‘alaih dari Zaid bin Khalid Al Juhanniy)

Umar pernah mengatakan, “Barang siapa yang mengambil binatang yang tersesat, maka ia sesat.” Yakni berdosa.

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa unta yang hilang tidak boleh dipungut. Hal itu, karena unta tidak butuh dipungut dan dijaga, karena tabi’atnya biasa sabar terhadap rasa haus dan mampu memakan pepohonan tanpa susah payah karena lehernya yang panjang. Di samping itu, dibiarkan lebih mudah bagi pemiliknya untuk mencari.

Termasuk ke dalam keadaan kedua ini adalah barang-barang besar, seperti periuk besar, kayu dan besi. Juga barang yang bisa terjaga dengan sendirinya, hampir tidak bisa hilang dan tidak bisa berubah dari tempatnya.

 

Keadaan barang yang ditemukan

            harta yang boleh dipungut dan harus diumumkan, seperti: emas, perak, harta benda, dan hewan-hewan yang mudah ditangkap seperti kambing, ayam, dan anak sapi. Maka untuk keadaan ketiga ini, jika orang yang menemukannya aman terhadap dirinya jika memungutnya dan mampu mengumumkannya, maka boleh baginya memungutnya.

Untuk yang ketiga ini terbagi menjadi tiga macam:

1.    Hewan yang bisa dimakan. Seperti anak unta, kambing dan ayam. Binatang-binatang yang hilang ini wajib diumumkan. Jika pemiliknya tidak mencarinya, maka bagi penemunya berhak mengambilnya.

Bagi penemu jika mengambilnya harus mengutamakan yang terbaik bagi pemiliknya, yaitu melakukan salah satu dari tiga hal ini:

a.      Memakannya, namun ia wajib menanggung nilai (harganya) ketika pemiliknya datang.

Namun ulama madzhab Maliki berpendapat, bahwa ia memiliki hewan itu saat mengambilnya dan tidak perlu mengganti rugi meskipun pemiliknya datang. Hal itu karena hadits yang datang, menyamakan antara serigala dan pemungutnya, sedangkan serigala jelas tidak menanggungnya, demikian juga pemungutnya. Perbedaan pandapat ini jika pemiliknya datang setelah hewan itu dimakan, namun jika pemiliknya datang sebelum dimakan  oleh pemungutnya, maka berdasarkan kesepatakan ulama hewan tersebut wajib dikembalikan.

b.      Menjualnya dan menjaga harga (hasil penjualannya) untuk pemiliknya setelah mengenali sifat-sifatnya.

c.       Menjaga dan menafkahinya dengan hartanya, tetapi tidak ia miliki, sehingga ia nanti meminta ganti nafkah yang dikeluarkan kepada pemiliknya ketika datang dan menyerahkannya.

Hal ini, karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kambing yang hilang, Beliau bersabda,

 

خُذْهَا فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْب

 

“Ambillah. Hewan itu bisa untukmu, saudaramu, atau serigala.” (Muttafaq ‘alaih)

Maksud hadits ini adalah, bahwa kambing tersebut lemah, siap binasa, dan keadaannya bisa kamu yang mengambil, diambil oleh saudaramu, atau dimakan serigala.

Ibnul Qayyim mengomentari hadits ini dengan mengatakan, “Dalam hadits tersebut terdapat kebolehan memungut kambing. Jika berupa kambing dan pemiliknya tidak datang, maka kambing itu menjadi milik pemungut. Oleh karena itu, ia diberikan pilihan antara memakannya saat itu dan nantinya ia harus mengganti nilainya atau menjual dan menjaga uang hasil penjualannya, atau membiarkannya[i] dengan membiayai (untuk menjaganya) dari hartanya. Para ulama juga sepakat bahwa kalau nanti datang pemiliknya sebelum dimakan oleh pemungutnya, ia (pemiliknya) berhak mengambilnya.”

2.    Harta yang dikhawatirkan rusaknya. Misalnya buah-buahan.

Maka penemunya melakukan hal yang terbaik bagi pemiliknya seperti memakan harta itu dan menyerahkan nilainya kepada pemiliknya. Atau menjualnya serta menjaga hasilnya sampai datang pemiliknya.

3.    Seluruh harta selain dua bagian di atas. Misalnya uang dan bejana. Ia harus menjaga semuanya sebagai amanah. Ia pun mengumumkannya di tempat berkumpulnya orang.

Dan tidak boleh memungut luqathah kecuali dirinya merasa aman terhadapnya dan sanggup mengumumkannya pada barang yang butuh diumumkan.

Hal di atas berdasarkan hadits Zaid bin Khalid Al Juhanniy radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:

 

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ عَنْ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: «اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً، فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَشَأْنَكَ بِهَا» قَالَ: فَضَالَّةُ الغَنَمِ؟ قَالَ: «هِيَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ» ، قَالَ: فَضَالَّةُ الإِبِلِ؟ قَالَ: «مَا لَكَ وَلَهَا، مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ المَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا»

 

Pernah datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang luqatah, maka Beliau bersabda, “Kenalilah bungkusnya dan talinya, kemudian umumkanlah selama setahun. Jika datang pemiliknya (maka berikanlah). Tetapi, jika tidak, maka itu terserahmu. Orang itu berkata, “Bagaimana dengan kambing yang hilang?” Beliau menjawab, “Itu bisa menjadi milikmu, saudaramu atau serigala.” Lalu Beliau ditanya tentang unta yang hilang. Beliau menjawab, “Apa urusanmu terhadapnya, ia memiliki tempat minum, sepatu, bisa datang ke tempat air, memakan pohon dan akhirnya menemui pemiliknya.” (Muttafaq ‘alaih).

Maksud “Umumkanlah” adalah umumkanlah kepada orang-orang di tempat berkumpulnya mereka, seperti di pasar-pasar, di pintu-pintu masjid dan tempat-tempat ramai.

Sedangkan maksud selama “setahun” yakni selama setahun penuh. Pada pekan pertama dari saat menemukannya ia umumkan setiap harinya, karena pada saat ini sangat diharapkan pemiliknya datang, dan setelah lewat sepekan ia umumkan menurut kebiasaan yang berlaku.

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mengumumkan. Dan maksud kita diperintahkan mengenali bungkus dan talinya adalah mengenali sifat-sifatnya, sehingga jika ada orang yang datang dan menyebutkan cirinya lalu sesuai dengan ciri yang kita kenali, maka kita berikan kepadanya. Jika orang itu memberitahukan cirinya, namun ternyata berbeda dengan yang kita kenali, maka tidak boleh kita berikan.

Pada kata-kata “Jika kamu tidak mengenal (siapa pemiliknya)” terdapat dalil bahwa orang yang menemukan luqathah memiliki luqathah itu setelah lewat setahun dan setelah mengumumkan, akan tetapi ia tidak boleh menggunakannya sebelum kenal atau ingat ciri-ciri/sifat-sifatnya. Yakni sampai ia mengenali tempatnya, talinya, jumlahnya, jenisnya dan sebagainya, yang membedakan dengan yang lain. Jika pemiliknya datang setelah lewat setahun dan menyebutkan cirinya yang sesuai dengan yang kita kenali, maka kita serahkan.

 

Nafkah terhadap luqathah

Biaya yang dikeluarkan oleh pemungutnya, maka ia bisa meminta diganti kepada pemiliknya, kecuali jika sebelumnya ia telah memanfaatkan barang luqathah tersebut baik dengan ditunggangi atau pun diambil susunya.

 

Sikap kita ketika menemukan luqathah:

1.    Jika kita menemukan luqathah, maka jangan langsung mengambil kecuali jika ia merasa mampu menjaganya dan mengumumkannya agar pemiliknya tahu. Jika dirinya tidak mampu menjaga, maka ia tidak boleh mengambil. Jika ternyata mengambil, maka ia seperti ghaasib (perampas), karena sama saja mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak diperbolehkan. Di samping itu, mengambilnya sama saja menghilangkan harta orang lain.

2.    Sebelum diambil ia harus ingat ciri wadahnya, talinya, jumlahnya, jenis, dan sifatnya.

3.    Ia harus mengumumkannya selama setahun penuh. Pada pekan pertama ia umumkan setiap hari, lalu setelahnya seperti biasa. Ia mengumumkan di tempat-tempat berkumpulnya orang-orang seperti di pasar dan di pintu-pintu masjid, namun jangan mengumumkan di dalam masjid, karena masjid tidak dibangun untuk ini. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي اَلْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ: لَا رَدَّهَا اَللَّهُ عَلَيْكَ , فَإِنَّ اَلْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

 

“Barang siapa yang mendengar seseorang mencari hewan yang hilang di masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikan hewanmu.” Karena masjid tidak dibangun untuk itu.” (HR. Muslim)

4.    Penemu luqathah berhak memiliki luqathah setelah diumumkan dan telah berlalu setahun. Akan tetapi, ia tidak menggunakan barang itu kecuali setelah mengenali sifat-sifatnya.

5.    Jika pemiliknya datang dan mencirikannya sesuai cirinya, maka wajib diberikan tanpa perlu bukti dan sumpah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian, dan karena dengan menyebutkan cirinya adalah seperti bukti dan sumpah, bahkan ciri yang disebutkannya kadang lebih jelas dan benar daripada bukti dan sumpah. Si penemunya wajib mengembalikan beserta hasil perkembangannya baik yang menyatu maupun terpisah.

6.    Jika pemiliknya tidak datang setelah diumumkan setahun penuh, maka akan menjadi milik penemunya. Namun sebelum digunakan ia tetap harus ingat betul cirinya, sehingga jika suatu saat pemiliknya datang, dan menyebutkan cirinya, ia tinggal mengembalikan jika masih ada atau menggantinya jika sudah habis dipakai.

7.    Para ulama berbeda pendapat tentang luqathah di tanah haram. Apakah ia  seperti luqathah di tanah halal yang dapat dimiliki setelah diumumkan seteahun atau tidak secara mutlak? Di antara mereka ada yang berpendapat  bahwa barang itu dimiliki berdasarkan keumuman hadits, sedangkan yang lain berpendapat bahwa barang itu tidak dimiliki, bahkan wajib terus diumumkan dan tidak bisa dimiliki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

وَلاَ تَحِلُّ لُقَطَتُهَا إِلاَّ لِمُعَرِّفٍ

 

“Dan tidak halal luqathahnya kecuali bagi yang akan mengumukannya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memegang pendapat ini, ia mengatakan, “Barang luqathah tidak bisa dimiliki bagaimana pun karena ada larangannya dan wajib diumumkan selama-lamanya.”

8.    Siapa saja yang meninggalkan seekor hewan di padang pasir karena terhentinya baik karena lemah dalam berjalan atau pemiliknya agak lemah, maka penemunya memilikinya dengan mengambilnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

مَنْ وَجَدَ دَابَّةً قَدْ عَجَزَ عَنْهَا أَهْلُهَا أَنْ يَعْلِفُوهَا فَسَيَّبُوهَا، فَأَخَذَهَا فَأَحْيَاهَا فَهِيَ لَهُ

 

“Barang siapa yang menemukan hewan yang pemiliknya sudah tidak sanggup lagi memberinya makan, lalu membiarkannya, kemudian ada orang yang mengambil dan mengurusnya, maka hewan itu untuknya.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Di samping itu, hewan tersebut ditinggalkan karena pemiliknya tidak suka kepadanya, maka dianggap seperti sesuatu yang ditinggalkan lainnya karena tidak disukai.

9.    Jika anak kecil dan orang dungu menemukan luqathah, lalu diambilnya. Maka walinya menggantikannya dalam mengumumkan, ia juga wajib mengambilnya dari kedua orang itu, karena keduanya tidak layak memegang amanah dan menjaga. Jika ia tidak mengambilnya, bahkan membiarkan luqathah itu di tangan keduanya (anak kecil dan orang dungu), lalu binasa, maka ia ganti, karena sama saja ia telah menyia-nyiakannya. Jika walinya telah mengumumkan dan belum juga datang pemiliknya, maka barang luqathah itu menjadi milik anak atau orang dungu itu yang tetap diperhatikan sebagaimana halnya pada orang dewasa dan orang yang berakal.

10.              Jika ia mengambilnya dari suatu tempat, lalu menaruh lagi di sana, maka ia harus menanggungnya, karena itu adalah amanah yang diembannya, ia harus menjaga seperti halnya amanah yang lain dan dengan membiarkannya berarti menyia-nyiakannya.

 

 

Kesimpulan:

1.      Jika luqathah tersebut adalah sesuatu yang ringan (tidak diminati mayoritas manusia), seperti: sebutir kurma dan anggur, kain yang sudah usang, cemeti, dan tongkat, maka tidak mengapa dipungut dan boleh dimanfaatkan pada waktu itu juga.

2.      Jika luqathah termasuk sesuatu yang diminati mayoritas manusia, maka harus diumumkan oleh pemungutnya selama setahun di tempat-tempat umum. Jika telah diumumkan setahun, tetapi tidak datang juga pemiliknya, maka pemungutnya boleh memanfaatkan atau menyedekahkan, namun dengan niat mengganti jika suatu hari pemiliknya datang mencarinya.

3.      Luqathah di tanah haram tidak boleh dipungut, kecuali jika khawatir hilang. Jika dipungut karena khawatir hilang, maka ia wajib mengumumkannya selama di tanah haram, dan apabila ia keluar dari tanah haram, ia menyerahkannya kepada pemerintah dan tidak berhak dimiliki.

4.      Luqathah jika berupa kambing yang hilang, maka boleh dipungut dan dimanfaatkan dengan memperhatikan ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya. Tetapi jika berupa unta dan semisalnya, seperti keledai, bighal, dan kuda, maka tidak boleh dipungut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maraji’: Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Al Mulakhkhash Al Fiqhiy (Shalih Al Fauzan), Minhajul Muslim(Abu Bakr Al Jazaa’iriy), Al Maktabatusy Syamilah dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[i] ‏Maksudnya adalah agar dia betul-betul dapat mengenali sehingga dapat membedakan dengan yang lain, juga agar tidak tercampur luqathah tersebut dengan harta pemungutnya dan agar nanti ketika ada yang mengaku pemiliknya, bisa ditanyakan cirinya untuk membuktikan kebenaran pengakuannya.

[ii] Yakni kamu dapat menggunakannya.

[iii] Yakni bisa untuk pemiliknya atau penemu yang lain.

[iv] Termasuk hewan buas lainnya.

[v] Yakni tinggalkanlah dia.

[vi] Sah hukumnya menyerahkan luqathah kepada pemerintah jika di sana terdapat pihak yang memang terpercaya dan memiliki tempat untuk menjaganya serta sudah masyhur di kalangan manusia. Hal itu, karena yang demikian lebih dapat menjaga barang itu dan memudahkan manusia.

[vii] Apakah dengan ditakar, ditimbang atau dengan dipakai ukuran hasta.

[viii] Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa sapi, kuda, bighal dan keledai sama seperti unta. Namun Imam Syafi’i membolehkan anak-anak binatang tersebut, yakni boleh dipungut. Menurut Imam Malik, hewan-hewan tersebut boleh dipungut jika dikhawatirkan dimakan binatang buas. Tetapi jika tidak dikhawatirkan demikian, maka tidak boleh dipungut.

[ix] Tentunya jika hewan-hewan tersebut ada yang memeliharanya atau ada yang punya, seperti karena berkeliaran di tempat yang ramai.

[x] Demikianlah sunnah ini berjalan, namun ketika di zaman Utsman radhiyallahu ‘anhu, maka ia memungut unta yang hilang dan menjualnya, tetapi ketika datang pemiliknya, maka pemiliknya mengambil harga (hasil dari penjualannya). Ibnu Syihab Az Zuhriy berkata, “Dahulu unta-unta yang hilang di zaman Umar bin Khaththab banyak dimiliki, maka ketika di zaman Utsman, Beliau menyuruh diumumkan kemudian dijual. Ketika pemiliknya datang, maka diberikan harga (hasil penjualannya).” (Diriwayatkan oleh Malik).

Adapun di zaman Ali radhiyallahu ‘anhu, maka ia menyuruh dibangunkan rumah untuk menjaga hewan yang hilang dan diberi makan sedang-sedang saja (tidak digemukkan dan tidak dibiarkan kurus), kemudian ketika ada orang yang datang membawa bukti, bahwa hewan itu miliknya, maka diberikan. Jika tidak datang pemiliknya, maka dibiarkan tidak dijual. Sikap seperti ini dianggap baik oleh Ibnul Musayyib. Akan tetapi, apa yang disebutkan dalam hadits Zaid bin Khalid Al Juhanniy lebih layak diikuti.

[xi] Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa jika khawatir oleh binatang buas, maka binatang tersebut boleh dipungut, wallahu a’lam.

 

Categories: Fiqh Muamalah

PROFIL AKU

sapto


Popular Posts

KESENIAN

1.      Mendengarkan nyanyian Tanya: saya ingin menanyakan masalah nyanyian, karena acara ...

Spur By TOPAPEPE

www.youtube.com/watch?v=FwaUvsXZOvk

Koimizu By TOPAPEPE

http://www.youtube.com/watch?v=ClKtwXt3EuI&feature=youtu.be

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Fiqh Luqathah

بسم الله الرحمن الرحيم Pendahuluan Segala puji bagi Allah, shalawat dan ...