Sapto Himawan

Bersama kita maju

QARDH

Posted by sapto 0 Comment

 

Pengertian Qardh

Qardh adalah harta yang dipinjamkan seseorang kepada orang lain, agar dikembalikan sejumlah harta tersebut setelah ia mampu mengembalikannya. Sedangkan menurut Syafi’i Antonio, Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapt ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan

Landasan Syariat Qardh

Pinjaman merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Karena didalamnya terdapat unsur belas kasih kepada orang lain, memudahkan urusan mereka dari kesusahan.  Ketika Islam sangat menganjurkan pinjaman bagi orang yang mampu, Islam juga membolehkan orang untuk meminjam dan melarangnya dari meminta-minta yang tercela.

Landasan hukum pinjaman adalah sebagai berikut :

Abu Hurairah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda :

من نفس عن مسلم كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، ومن يسرعلي معسر يسرالله عليه في الدنيا والا خرة، والله في عون العبد ما دام العبد في عون اخيه. (رواه مسلم وابوداود والترمذي)

Barangsiapa melapankan kesulitan dunia bagi orang beriman, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang, maka Allah akan memberikannya kemudahan didunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ibnu Mas’ud ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda :

ما من مسلم يقرض مسلما مرتين الا كان كصدقة مرة. ( رواه ابن ماجه وابن حبان )

“ Tidaklah seseorang memberikan pinjaman dua kali kepada orang muslim, melainkan pinjamannya tersebut bernilai sedekah kepadanya.” (H.R Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Anas ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda :

رايت ليلة اسري بي علي باب الجنة مكتوبا : الصدقة بعشر امثالها والقرض بثمانية عثر. فقلت: ياجبريل، مابال القرض افضل من الصدقة ؟ قال: لان الساءل يسال وعنده، والمستقرض لايستقرض الا من حاحبة.

“ Pada malam aku diisra’kan, aku melihat tulisan di atas pintu surga bahwa satu sedekah mendapat sepuluh pahala yang setimpal, sedang memberikan pinjaman diganjar dengan delapan belas kali lipat. Kemudian aku bertanya kepada Jibril,”Wahai jibril, mengapa memberikan pinjaman lebih baik daripada sedekah? Jibril menjawab, ‘ Karena para peminta masih memiliki sesuatu ketika ia meminta, Sedangkan orang yang meminjam, lazimnya ia meminjam karena adanya kebutuhan.”

Akad Pinjaman

Akad pinjaman adalah akad tamlik atau pemilikan hak kepada seseorang, sehingga pinjaman tidak sah dilakukan oleh orang yang boleh (secara hukum) menggunakan harta tersebut. Pinjaman hanya sah apabila menggunaka ijab qabul seperti halnya transaksi jual-beli.

Menurut pengikut mazhab Maliki, pinjaman terjadi cukup hanya dengan akad walaupun peminjam belum menerima barang yang dipinjamkan. Peminjam boleh mengembalikan barang yang dipijam, baik yang asli maupun menggantinya, baik yang serupa maupun yang tidak, selama nilainya tidak bertambah atau berkurang. Apabila terdapat perubahan, maka diharuskan untuk mengembalikan yang asli.

Persyaratan Waktu Pinjaman

Kebayakan ulama Fiqih berpendapat tidak boleh mensyaratkan tempo pembayaran dalam akad pinjaman, karena pinjaman merupakan bantuan murni. Sedangkan menurut Imam Malik, boleh mensyaratkan tempo dalam akad pinjaman dan harus dilaksanakan. Apabila pengembalian ditangguhkan ke waktu yang ditentukan, maka hal itu berlaku dan tidak boleh ditagih sebelum jatuh tempo. (Q.S Al Baqarah : 282)

Juga berdasarkan hadist yang diriwatkan oleh Amar bin Auf Al Muzani dari ayah dan kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda :

المسلمون عند شروطهم. (رواه ابوداود واحمد والترمذي والدارقطني)

Kaum Muslimin adalah sesuai dengan syarat yang mereka buat,” (H.R Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, dan Daruquthni).

Pinjaman Yang memeberi Manfaat bagi pemberi pinjaman

Akad pinjaman bertujuan untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain, membatu meringankan beban hidup mereka, memudahkan sarana hidup mereka. Pinjaman bukanlah media untuk mencari penghasilan. Karena itu, peminjam hanya boleh mengembalikan barang yang dipinjamnya dengan jumlah yang sama. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih yang berbunyi  Setiap utang yang mendatangkan manfaat (bagi pemberi utang) termasuk riba.1

Tetapi keharamannya berlaku apabila manfaat tersebut disyaratkan dalam akad. Apabila tidak disyaratkan  dan termasuk kebiasaan dan kelaziman, maka pihak peminjam boleh berbuat kebaikan dari harta pinjaman atau menambah kadarnya. Pihak peminjam berhak untuk mengambilnya tanpa makruh. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim serta Ashhabus Sunan dari Abu Rafi’, berkata :

اعطه اياه فان خير كم احسنكم قضاء.

Rasulullah SAW bersabda, “ Berikanlah kepadanya, sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam membayar hutang.”

Keutamaan Membayar Hutang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW Bersabda :

مطل الغني ظلم. واذااتبع احمد كم علي ملي ء فليتبع. (رواه ابوداود وغيره)

“ Penundaan membayar hutang oleh orang yang mampu adalah bentuk kezaliman. Apabila piutang seorang dari kalian dialihkan pembayarannya kepada orang kaya, hendaklah ia menyetujuinya.” (H.R Abu Dawud)

Ada banyak hadist tentang keutamaan membayar utang. Diantaranya sebagai berikut :

Imam Ahmad meriwayatkan,

“ Seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang saudaranya yang mati karena meninggalkan utang. Rasulullah menjawab, ‘Dia terkurung karena utangnya, maka bayarkanlah utangnya. ‘Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW., aku telah membayar semua utangnya kecuali 2 dirham yang diakui oleh seorang perempuan yang tidak memiliki bukti.’ Rasulullah SAW. Memerintahkan, ‘Bayarlah kepadanya, sesungguhnya ia berhak.”

Dari Abu Salamah, dari Jabir bin Abdillah ra., ia berkata,

كان رسول الله صلي الله عليه وسلم لا يصلي علي رجل ما ت وعليه دين فاتي بميت، فقال: اعليه دين ؟ قالوا : نعم، دينا ران فقال : يصلوا علي صاحبكم. فقال ابوقتادة الانصاري : هما علي يا رسول الله. قال فصلي عليه رسول الله صلي الله عليه وسلن، فلما فتح الله علي رسوله صلي الله عليه وسلم قال : انا اولي بكل مومن من نفسه. فمن ترك دينا فعلي قضاوه ومن ترك مالا فلورثته. (اخرجه البخاري ومسلم والترمذي والنساء و ابن ماجه من حديث ابي سلمه بن عبدالرحمان عن ابي هريرة)

“ Rasulullah SAW, tidak menshalati orang yang mati meninggalkan hutang. Kemudian mayit dibawa ke hadapan beliau. Beliau bertanya, ‘Apakah ia memiliki utang?’Mereka menjawab,’Benar wahai Rasulullah SAW.,sebanyak dua dinar.’ Rasulullah SAW. Berkata,’Shalatilah sahabat kalian. Abu Qatadah Al-Anshari berkata,’utangnya menjadi tanggunganku wahai Rasulullah SAW.’Kemudian Rasulullah SAW menshalatinya.” Setelah Allah SWT. Membukakan pintu kemenangan kepada Rasulullah SAW, beliau berkata,” Aku lebih berhak atas orang mukmin daripada dirinya. Barangsiapa meninggalkan utang, maka menjadi kewajibanku untuk membayarnya, dan barangsiapa meninggalkan harta warisan, maka hartanya untuk seluruh ahli warisnya.”(H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Anjuran Memberikan Penangguhan Utang kepada orang yang tidak Mampu

Allah SWT berfirman,” Dan jika mereka (orang yang berutang) dalam kesulitan, berikanlah penangguhan waktu sampai ia mempunyai kelapangan. Jika kamu meyedekahkannya, hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui …” (Q.S. Al Baqarah:280)

Rasulullah bersabda,

من سره ان ينجيه الله من كرب يوم القيامة فلينفس عن معسر او يضع عنه.

“ Barangsiapa yang senang Allah menyelamatkannya dari kesulitan pada hari kiamat, hendaklah ia meringankan kesulitan orang memiliki utang, atau membebaskannya.”(H.R Muslim)

 

Fatwa DSN tentang Qardh

Dalam hal ini Dewan Syariah Nasional menetapkab bahwa :

  1. Ketentuan Umum

 

  • Al Qardh adalah pinjaman yang diberikan kepada Nasabah yang memerlukan
  • Nasabah Al Qardh wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama
  • Biaya administrasi dibebankan kepada nasabah
  • LKS bisa meminta Jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu
  • Nasabah Al Qardh dapat memberikan tambahan (Sumbangan) sukerela kepada LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad

 

  1. Sanksi

 

  • Dalam hal nasabah tidak menunjukkan keinginan mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya dan bukan karena ketidak kemampuannya, LKS dapat memeberikan sanksi kepada nasabah.
  • Sanksi yang dijatuhkan kepada nasabah sebagaimana yang dimaksud butir 1 dapat berupa – dan tidak terbatas pada – penjualan barang jaminan.
  • Jika barang jaminan tidak mencukupi, nasabah harus tetap memenuhi kewajibannya secara penuh.

 

  1. Sumber dana

 

  • Bagian modal LKS
  • Keuntungan LKS yang disisihkan, atau
  • Dana dari lembaga lain atau individu yang mempercayakan penyaluran infaknya pada LKS

Adapun jika terjadi perselisihan antara keduaa belah pihak, dan musyawarah idak mampu menyelesaiknannya, maka penyelesaiannya melalui badan Arbitrasi Syari’ah.

 

Penerapan Qardh pada Lembaga Keuangan Syariah

Dalam perbankan biasanya akad Qardh diterapkan sebagai berikut:

  1. Sebagai produk pelengkap, dimana dana ini disalurkan kepada nasabah yang membutuhkan dana talangan jangka pendek.
  2. Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia tidak bisa menarik dananya karena misalnya tersimpan dalam deposito.
  3. Sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau membantu sektor sosial. Atau dikenal juga dengan al Qardh al-hasan.

 

Sumber dana

Sifat al Qardh tidak memberi keuntungan finansial. Karena itu, pendanaan Qardh dapat diambil menurut kategori berikut :

  1. Al Qardh yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka pendek, maka dapat diambilkan dari modal bank.
  2. Al Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infak dan sedekah.

Manfaat Qardh

Ada beberapa manfaat dari Qardh, diantaranya adalah :

  1. Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapat talangan jangka pendek.
  2. Al Qardh al hasan merupakan salah satu ciri pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi sosial.
  3. Adanya misi sosial ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank syariah.

Daftar Pustaka

Sabiq, Sayid, Fiqih Sunah, Jakarta: Al-I’tishom, 2012

Antonio, Muhammad Syafi’i, Bank Syariah: dari Teori ke Praktik, Jakarta : Gema Insani, 2011

 

 

 

 

 

 

Categories: Fiqh Muamalah

PROFIL AKU

sapto


Popular Posts

KESENIAN

1.      Mendengarkan nyanyian Tanya: saya ingin menanyakan masalah nyanyian, karena acara ...

Spur By TOPAPEPE

www.youtube.com/watch?v=FwaUvsXZOvk

Koimizu By TOPAPEPE

http://www.youtube.com/watch?v=ClKtwXt3EuI&feature=youtu.be

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Fiqh Luqathah

بسم الله الرحمن الرحيم Pendahuluan Segala puji bagi Allah, shalawat dan ...