saidhaqiqi's Profile on Ping.sg 
Loading
satriopujonggo http://blog.umy.ac.id/satriopujonggo/ satriopujonggo http://blog.umy.ac.id/satriopujonggo/ satriopujonggo http://blog.umy.ac.id/satriopujonggo/ saidhaqiqi's Profile on Ping.sg 

apresiasi seni dan budaya…”reog wonogiri”

  universitas terbaik   November 17, 2011

PERTUNJUKAN KESENIAN REOG DI WONOGIRI

 

 

Pada dasarnya, kesenian reog di Wonogiri merupakan kesenian reog yang dikenal masyarakat Wonogiri sebagai reog Ponorogo. Adapun reog Ponorogo adalah teater rakyat yang biasa dipentaskan dalam acara-acara prosesi di tempat-tempat atau arena terbuka.[1] Walaupun kesenian ini sangat terkenal di daerah Ponorogo, tetapi pengaruhnya sampai ke seluruh dan di luar wilayah Jawa Timur. Salah satu daerah yang mendapat pengaruh kesenian reog Ponorogo adalah Wonogiri, Jawa Tengah. Jenis reog yang berkembang di daerah Wonogiri tidak hanya jenis reog Ponorogo, tetapi juga ada jenis reog yang lain, seperti: Reog Caplok, Jaran Dhor atau Jaran Senthewere, dan Jaran Kepang atau Jathilan. Pada reog Ponorogo, jathilan hanyalah merupakan salah satu bagian dari unsur tarian atau penokohan yang disajikan dalam pertunjukannya.

 

A.    Latar Belakang Munculnya Kesenian Reog di Wonogiri

 

Kesenian reog telah ada sejak lama di Wonogiri. Mengenai kapan dan dimana lahirnya kesenian reog tidak dapat diketahui secara pasti. Pelaku kesenian reog di Wonogiri hanya mewarisi kesenian tersebut dari para pendahulu mereka. Suatu pemahaman mengenai asal usul reog yang berkembang di Wonogiri adalah bahwa reog berasal dari daerah Ponorogo, Jawa Timur. Sejak reog sudah berkembang di daerah Ponorogo, reog juga sudah dikenal dan dimainkan oleh masyarakat Wonogiri.[2]

Kesenian reog muncul dan berkembang di daerah Wonogiri disebabkan oleh 2 (dua) hal. Pertama, karena pengaruh letak geografis Wonogiri yang berbatasan langsung dengan Ponorogo. Daerah Wonogiri yang mula-mula mendapat pengaruh kesenian reog adalah daerah Wonogiri bagian Timur, seperti: Purwantoro, Bulukerto, Kismantoro dan sekitarnya. Daerah-daerah tersebut mendapat pengaruh kesenian reog lebih besar dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Wonogiri. Suatu fenomena yang wajar apabila dua daerah yang berdekatan saling mempengaruhi satu sama lain. Daerah-daerah lain yang berdekatan dengan Ponorogo, seperti: Pacitan, Madiun, Magetan, Kediri, dan Surabayajuga mendapat pengaruh kesenian yang sama.[3] Kedua, adanya ketertarikan individu terhadap kesenian reog yang telah berkembang di Ponorogo. Ketertarikan tersebut atas dasar bahwa kesenian reog dinilainya unik, khas, dan tidak terlalu sulit untuk dipelajari.[4]

Proses semacam itu masih berlangsung sampai jauh di daerah Wonogiri, khususnya di Purwantoro dan sekitarnya. Pada sekitar tahun 1940, ada warga masyarakat yang mendatangkan kesenian reog secara langsung dari Ponorogo untuk acara hajatan yang diadakannya. Salah seorang dari saudaranya bernama Marto Giyo mengaku tertarik setelah menyaksikan kesenian reog yang disuguhkan dan berniat mengembangkannya lebih lanjut di daerah Wonogiri. Upaya tersebut mengawali perkembangan kelompok reog Setya Rukun Wonogiri yang hingga saat ini masih ada dengan nama Ringin Seto.[5]

Kedua hal yang merupakan latar belakang munculnya kesenian reog di Wonogiri tersebut, sejalan dengan salah satu anggapan dasar yang dianut oleh paradigma (pendekatan) persebaran kebudayaan atau pendekatan “diffusi kebudayaan”. Menurut pendekatan ini, unsur-unsur kebudayaan pada dasarnya dapat menyebar dari satu tempat ke tempat yang lain, seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya.[6]

 

B.     Kesenian Reog dalam Perspektif Historis

 

Latar belakang suatu seni budaya hanya dapat dibeberkan dengan jelas oleh penciptanya sendiri, sedangkan orang lain apabila tidak ada data-data yang dapat dipercaya kebenarannya, hanya bisa menduga-duga saja. Sebagai petunjuk yang mendekati kebenaran tentang latar belakang kesenian reog, benda-benda bersejarah merupakan satu-satunya bahan yang sangat berguna. Meskipun di Ponorogo, tempat yang diyakini sebagai daerah lahirnya kesenian reog, terdapat beberapa tempat dan benda peninggalan yang diduga erat hubungannya dengan sejarah terciptanya kesenian reog, tetapi kebenarannya belum dapat dipastikan. Seperti Gua Bedhali di Kecamatan Siman Ponorogo dan bekas Kerajaan Bandarangin (Bantarangin) di Kecamatan Kauman Somaroto Ponorogo.[7] Kini yang ada hanyalah instrumen atau peralatan pada kesenian tersebut, baik yang berupa alat-alat untuk pemain maupun alat-alat musik pengiring atau gamelan, yang dapat membantu dalam mengungkap sejarah terciptanya kesenian reog.

Dilihat dari instrumennya, kesenian reog mengandung anasir-anasir kebudayaan keraton dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat pedesaan. Diketahui bahwa setelah kekuasaan raja-raja di Jawa Tengah berpindah ke Jawa Timur (misalnya jaman Kediri tahun 1045-1222)[8] timbulah usaha-usaha untuk menghilangkan jurang pemisah antara kebudayaan keraton dengan kebudayaan yang ada di pedesaan. Kemungkinan besar salah satu usahanya adalah dengan memadukan keduanya dalam bentuk gerak dan tari, sehingga terealisasi dalam kesenian reog.

Kesenian reog dari awal dikenal merupakan kesenian rakyat yang dipentaskan dalam bentuk sendratari. Mengenai sejarah terciptanya kesenian reog tidak dapat diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan oleh karena kurangnya bukti yang jelas, sehingga tidak dapat menunjukkan sejarah terciptanya kesenian reog secara jelas pula. Menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat Wonogiri mengenai sejarah terciptanya kesenian reog adalah sebagai berikut:

Pada jaman dahulu, seorang raja di Kerajaan Bantarangin bernama Panji Klono (Klono Sewandono) berkehendak melamar seorang putri di Kerajaan Kediribernama Dewi Sekartaji (Dewi Songgolangit). Oleh karena itu, diutuslah patihnya yang bernama Klono Wijoyo atau Pujonggo Anom (Bujangganong) untuk melamar sang putri. Sang putri mau diperistri dengan 2 (dua) persyaratan (bebana), yaitu diperlihatkan sebuah tontonan yang belum pernah ada dan hewan seisi hutan untuk mengisi tamansari di Kerajaan Kediri. Atas perintah sang raja, patih Bujangganong bersama pasukan berkuda berjumlah 144 berangkat menuju Kerajaan Kediri, diiringi dengan gamelan yang terdiri dari: kempul, kenong, kendang, angklung, dan selompret. Di tengah perjalanan menuju Kediri, rombongan Bujangganong dihadang oleh Singobarong. Singobarong adalah harimau jadi-jadian dari patih Kerajaan Kediri yang bernama Singolodro, yang juga mencintai Dewi Songgolangit, atau raja dari seluruh harimau yang menjaga tapal batas Kerajaan Kediri. Terjadilah pertempuran di antara Singobarong dan rombongan dari Bantarangin yang dipimpin oleh Bujangganong. Di dalam pertempuran tersebut, rombongan dari Kerajaan Bantarangin mengalami kekalahan dan pasukan berkudanya hanya tinggal 4 (empat) orang.[9]  Patih Bujangganong kembali ke Kerajaan Bantarangin menemui raja Klono Sewandono untuk melaporkan kejadian tersebut. Setelah mengetahui kekalahan tersebut, Prabu Klono Sewandono ikut serta ke medan pertempuran bersama patihnya melawan Singobarong. Akhirnya, pertempuran tersebut dimenangkan oleh raja Klono Sewandono karena kesaktian pusakanya Pecut Samandiman. Setelah itu, Singobarong yang berwujud harimau diarak menuju Kerajaan Kediri.[10] Arak-arakan inilah yang kemudian dianggap sebagai asal-muasal terciptanya kesenian reog.

Cerita tersebut mempunyai kesamaan dengan salah satu pendapat yang diungkapkan oleh Hartono, yakni bertitik tolak pada suatu peristiwa sejarah atau legenda. Pendapat Hartono tersebut kemudian dikenal dengan versi Bantarangin,[11] yang menyebutkan bahwa reog pertama kali muncul pada masa Kerajaan Bantarangin Ponorogo (abad XII).[12]

Sementara itu, ada pendapat yang menyebutkan bahwa reog diciptakan oleh Ki Ageng Suryongalam atau Ki Ageng Kutu pada masa kerajaan Majapahit (abad XIII) sebagai bentuk protes atau sindiran (satrie) terhadap Prabu Brawijaya V yang dianggap tidak becus memerintah karena terlalu dipengaruhi oleh permaisurinya.[13] Pendapat yang lain menghubungkan kesenian reog dengan kelahiran dan pendiri kota Ponorogo, yaitu Adipati Bathoro Katong. Bathoro Katong menggunakan kesenian reog sebagai media penyebaran agama Islam di Ponorogo (abad XV).[14]

 

C.    Unsur-unsur Pertunjukan Kesenian Reog

 

Pada saat ini, unsur-unsur pertunjukan kesenian reog di Wonogiri telah mengalami perubahan-perubahan dari masa sebelumnya. Adapun unsur-unsur tersebut antara lain:

  1. 1.      Pelaku atau Pemain Reog

Pada awal perkembangannya, reog di Wonogiri merupakan kesenian rakyat yang disajikan dalam bentuk tarian bebas secara arak-arakan di sepanjang jalan atau tanpa ruang tempat tertentu.[15] Pada waktu itu, para pelaku atau pemain kesenian reog meliputi:

 

  1. Kelompok Pengawal

Kelompok ini terdiri dari tiga sampai empat orang yang berjalan paling depan dan berfungsi sebagai pembuka jalan. Komando serta seluruh tanggung jawab berada di tangan mereka. Sikap yang ditunjukkan kelompok ini angkuh dan tegas.

  1. Kelompok Pendamping

Kelompok ini bertugas menjaga barisan penari reog di samping kanan dan kiri. Kelompok ini mempunyai anggota yang seimbang dengan jumlah kelompok pengawal. Tugasnya memelihara situasi atau keamanan dan menentukan hidupnya pertunjukan.

  1. Kelompok Penari

Penari reog terdiri dari: penari Singobarong  (Pembarong), penari Bujangganong (Ganongan), penari Kuda Kepang (Jathil), kadang disertai dengan penari Potrojoyo atau Penthul dan Potrotholo atau Tembem.

  1. Kelompok Pengrawit (pemain alat musik atau penabuh gamelan)

Kelompok ini berada di belakang kelompok penari. Anggotanya terdiri dari: seorang pengendang, seorang penyelompret, seorang penipung, seorang pengempul, 2 orang pengenong, 4 orang pengangklung, dan 2 orang pemikul ungkek (alat bergantungnya kempul).[16]

  1. Kelompok Pengiring

Kelompok ini berbaris paling belakang dengan jumlah anggota yang tidak terbatas. Kelompok ini disamping bertugas sebagai pembantu keamanan juga berfungsi sebagai kelompok yang membantu hidupnya pertunjukan seperti halnya kelompok pendamping. Pada saat-saat tertentu, kelompok ini juga ikut menari, menyanyi, dan bersorak, yang kadang-kadang diikuti oleh penonton yang ada pada saat pertunjukan.

Pada perkembangannya yang lebih lanjut, setelah reog mulai dikenal luas oleh masyarakat, reog juga mulai ditanggap oleh masyarakat penggemarnya. Pada waktu itu, reog mulai dimainkan di ruang tempat yang tetap, seperti: halaman rumah, pinggir jalan, perempatan jalan, atau tanah lapang, tanpa arak-arakan di sepanjang jalan. Pelaku atau pemain reog yang dominan adalah kelompok penari dan pengrawit. Kelompok pengawal, pendamping, dan pengiring tidak begitu menonjol fungsinya. Kelompok-kelompok tersebut lebih berfungsi sebagai pangombyong (penyemarak) dalam pementasan reog. Biasanya mereka menempatkan diri di sekeliling arena pementasan reog.[17]

Pada tahun 1990, muncul tema atau lakon cerita reog khas Wonogiri yaitu reog Sambernyawan Wonogiren. Tokoh-tokoh reog yang ditampilkan dalam reog Sambernyawan Wonogiren antara lain: Pangeran Sambernyawa, Putri Patahati, Patih Pringgalaya, dan seorang Kompeni Belanda yang bernama Baron Van Hohendorf.[18]

Sejak sekitar tahun 1995, terjadi perubahan dalam komposisi pemain reog di Wonogiri, yaitu terutama pada kelompok penari. Kelompok penari selain meliputi unsur-unsur penari yang telah disebutkan sebelumnya, juga berkembang penari warok dan penari Klono Sewandono, serta penari jathil perempuan.[19] Bersamaan dengan itu, penari penthul dan tembem sudah tidak disertakan lagi.

Unsur-unsur pemain dalam kesenian reog ditampilkan secara lengkap terutama pada saat reog Kabupaten Wonogiri mengikuti Festival Reog Nasional (FRN) di Ponorogo sejak tahun 2003 sampai sekarang. Adapun unsur-unsur pelaku atau pemain reog dalam festival meliputi:

  1. Warok Tua
  2. Warok Muda
  3. Jathil
  4. Bujangganong (Ganongan)
  5. Klono Sewandono
  6. Pembarong
  7. Pengrawit

Pada umumnya, mengenai jumlah pemain reog adalah 2 orang penari warok tua, 10 orang penari warok muda, 4 orang penari jathil, 1 orang penari bujangganong, 1 orang penari Klono Sewandono, 2 orang pembarong, dan 8 orang pengrawit.[20]

  1. 2.      Kostum atau Pakaian Pemain Reog

Pada dasarnya, kostum yang digunakan oleh para pemain reog di Wonogiri adalah kostum reog Ponoragan.[21] Kostum yang digunakan masing-masing pemain adalah sebagai berikut:

  1. Penari Jathil

Penari jathil merupakan penokohan pasukan berkuda dari Kerajaan Bantarangin. Kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam, kemeja warna putih lengan panjang, jarit loreng putih, celana bordir sepanjang lutut dasaran hitam, samir, sabuk warna merah, sabuk epek dasaran hitam, dan dua sampur warna merah dan kuning.

  1. Penari Bujangganong

Penari bujangganong adalah penokohan dari patih Kerajaan Bantarangin yang ditugaskan oleh Klono Sewandono untuk memimpin lamaran ke Kerajaan Kediri. Pakaian dan tata rias dari Bujanganong adalah sebagai berikut: kaos lorek warna merah-putih, celana sepanjang lutut seret merah-kuning samping kanan-kiri dan bawah, serta embong gombyok.

  1. Pembarong

Pembarong atau penari singobarong adalah tokoh yang jahat, menghalangi perjalanan bujangganong untuk melamar putri Sekartaji. Pakaian dan kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam, baju kimplong warna merah polos, celana panjang warna hitam seret merah samping kanan-kiri, sabuk warna hitam, dan embong gombyok.

  1. Pengrawit

Kelompok pengrawit adalah kelompok pemukul gamelan untuk mengiringi penampilan dari penari-penari dalam pertunjukan kesenian reog. Kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam, baju penadon lengan panjang warna hitam, dan celana panjang kombor warna hitam.

Pada dasarnya, kostum pemain reog tersebut masih berkembang sampai sekarang. Khususnya digunakan dalam pementasan reog selain festival. Dalam reog festival, kostum yang digunakan oleh pemain lebih detail. Kostum reog festival berkembang di Wonogiri sekitar tahun 1995. Hal ini dipengaruhi oleh mulai diadakannya Festival Reog Nasional (FRN) di Ponorogo. Sejak saat itu, kelompok-kelompok reog di Wonogiri mulai berusaha mengikuti kostum yang berkembang dalam festival tersebut. Hal ini dikarenakan oleh adanya kepentingan akan keikutsertaan reog Wonogiri dalam festival tersebut.[22] Adapun rincian kostum yang digunakan oleh masing-masing pemain reog dalam festival[23] adalah sebagai berikut:

  1. Warok Tua

Warok tua merupakan sesepuh atau pemimpin kelompok warok. Warok tua terdiri dari dua orang. Warok tua memakai tata rias sebagai berikut: ikat kepala modang batik pinggir jilit Ponoragan, baju waktung warna hitam, baju dalam warna putih, jarit latar ireng, sabuk ubet cinde dasaran merah, sabuk epek timang dasaran hitam, keris gabelan, celana panjang gejikan Ponoragan warna hitam, kolor putih panjang 2 atau 3 m, tongkat, sandal kosek.

  1. Warok Muda

Warok muda terdiri dari 10 orang. Dalam pentas reog festival tokoh ini tampil pertama kali bersama warok tua. Pakaian yang digunakan warok muda adalah: ikat kepala hitam (gadung) mondolan, baju waktung warna hitam, jarit latar ireng, sabuk ubet cinde dasaran merah, sabuk epek timang dasaran hitam, keris gabelan, celana panjang warna hitam kombor Ponoragan, kolor warna putih panjang 2 atau 3 m.

  1. Jathil

Jathil atau jathilan merupakan unsur pemain kesenian reog yang mempunyai peranan yang menonjol. Kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam (gadung) jilit Ponoragan, kemeja warna putih lengan panjang, jarit loreng putih parang barong keprajuritan, sabuk cinde dasaran merah, sabuk epek dasaran hitam, dua sampur warna merah dan kuning, celana dingkikan kepanjen bordiran dasaran hitam, boro-boro samir, cakep, srempang, kaos, gulon ter, binggel.

  1. Bujangganong (Ganongan)

Pemain atau penari Bujangganong terdiri dari dua orang. Penari Bujangganong adalah penari yang dituntut mempunyai kelincahan dan kelenturan tubuh. Bujangganong dalam setiap pertunjukan reog sering melakukan atraksi-atraksi yang cukup berbahaya.  Tata rias dan kostumnya adalah: baju rompi warna merah seret hitam, sabuk hitam, sabuk epek timang dasaran hitam, embong gombyok dari sayet, dua sampur warna merah dan kuning, cakep, celana dingkikan lepas jebug seret putih samping kanan-kiri dan bawah, binggel.

  1. Klono Sewandono

Klono Sewandono merupakan tokoh raja Bantarangin yang gagah dan tampan. Tokoh Klono Sewandono memiliki perwatakan yang keras, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi. Mempunyai senjata yang ampuh, dikenal dengan pecut samandiman. Kostum yang digunakan: probo, uncal, ikat bahu, keris blangkrak berhias ronce bunga, jarit loreng putih parang barong, sabuk cinde dasaran merah, sabuk epek dasaran merah, dua sampur warna merah dan kuning, celana panjang cinde dasaran merah, kace dasaran merah, ulur dasaran merah, cakep dasaran merah, boro-boro samir dasaran merah, binggel.

  1. Pembarong

Penari singobarong atau pembarong terdiri dari dua orang. Penari ini memiliki perwatakan jahat. Penari singobarong kebanyakan terdiri dari orang-orang yang memiliki tubuh yang kekar dan kuat. Perlengkapan dari penari singobarong adalah sebagai berikut: ikat kepala hitam (gadung), baju kimplong warna merah polos, sabuk cinde dasaran merah, sabuk epek dasaran hitam, embong gombyok dari sayet, dua sampur warna merah dan kuning, cakep, celana panjang jebug warna hitam seret merah samping kanan-kiri dan bawah.

  1. Pengrawit

Pengrawit dalam kesenian reog memiliki peranan yang tidak kalah penting. Kelompok ini yang selalu dapat memeriahkan pertunjukan reog dengan tabuhan gamelannya yang sangat khas. Atribut dan pakaian yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam (gadung) jilit Ponoragan, baju penadon lengan panjang warna hitam potong gulon, srempang jarit loreng putih parang barong, celana panjang warna hitam kombor Ponoragan.

Perbedaan yang mencolok antara kostum reog dalam festival dan reog pada umumnya adalah pada kostum penari jathil selain memakai samir juga memakai selempang warna kuning, sedangkan reog pada umumnya hanya memakai samir. Selain itu, penari bujangganong pada reog festival memakai baju rompi warna merah seret hitam, sedangkan pada reog secara umum penari bujangganong memakai kaos lorek warna merah-putih.

  1. 3.      Instrumen atau Peralatan Reog

Dalam kesenian reog terdapat dua macam instrumen atau peralatan yang dipergunakan, yaitu:

  1. Peralatan Pemain

Peralatan yang digunakan meliputi: Topeng Singobarong Dhadakmerak, Topeng Klono Sewandono, Topeng Bujangganong, dan Kuda Kepang (istilah lokal: eblek).

Pada masa lalu, sekitar tahun 1940, topeng Singobarong Dhadakmerak terbuat dari ijuk atau bahan pembuat sapu. Setelah itu, terbuat dari rumput merakan, bahan ini dipilih karena dinilai menyerupai bahan aslinya. Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1950 terjadi perubahan pada topeng Singobarong. Sejak saat itu, reog sudah mulai menggunakan topeng Singobarong sebagaimana sekarang, yang terbuat dari bahan utama kulit harimau dan bulu merak asli.[24] Topeng Singobarong Dhadakmerak merupakan ciri khusus reog Ponoragan yang membedakan dengan jenis reog lainnya yang berkembang di daerah Wonogiri. Pada reog Caplok misalnya, topeng Singobarong hanya berupa kepala harimau (istilah lokal: caplokan) tanpa dhadakmerak.[25]

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh adanya perhatian dari pemerintah pada waktu itu, berupa dukungan pembiayaan dalam pengadaan reog yang lebih baik. Pada waktu itu, kelompok-kelompok reog yang dinilai maju mendapat bantuan dana untuk membeli reog dari Ponorogo. Selain itu, upaya pengadaan reog yang lebih baik juga berasal dari masyarakat pencinta atau pelaku reog sendiri. Pada saat itu, bisa saja seseorang yang memiliki dana berkenan membeli peralatan reog untuk kelompoknya. Bahkan, untuk memajukan kelompok reognya seseorang rela menjual sebagian harta benda yang dimilikinya misalnya berupa hewan ternak untuk dibelikan reog.[26]

  1. Peralatan Musik Pengiring atau Gamelan

Peralatan yang digunakan meliputi: 1 buah Kendang, 1 buah Selompret, 1 buah Ketipung, 1 buah Kempul, 2 buah Kenong, dan 4 buah Angklung, serta Gayur atau tempat kempul dan kenong.[27]

Pada saat berkembangnya tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren tahun 1990, terdapat peralatan musik yang lain sebagai pengiring pementasan reog disamping gamelan reog seperti pada umumnya yang telah disebutkan di atas. Adapun peralatan musik tersebut lengkap dengan nyanyian atau tembangnya adalah sebagai berikut: Drum, Tambur, Suling, Kloken Stil, Kenthongan, Kempul Laras Gulu Alit, dan Laras Barang, serta lagu atau tembangnya meliputi: lagu Mars Sambernyawan dan tembang Sigra Mangsah. (Naskah Lagu atau Tembang Terlampir). Alat musik Tambur dan Kenthongan merupakan ciri khas garap Wonogiren.[28] Pada saat ini, tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren sudah tidak berkembang lagi. Oleh karena itu, peralatan musik yang mengiringinya pun sudah tidak digunakan lagi dalam pementasan reog.

Peralatan musik pengiring reog yang berkembang sekarang adalah peralatan reog Ponoragan. Hanya saja dalam perkembangannya, mengenai jumlah peralatan musik yang digunakan bisa berubah-ubah. Sebagai contoh, pementasan reog di FRN tahun 2006 yang lalu, reog Kabupaten Wonogiri menampilkan peralatan musik pengiring reog yang serba ganda.

  1. 4.      Tema atau Lakon Cerita Reog

Di seluruh pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, serta Madura kesenian reog hidup dan berkembang menurut kedaerahannya masing-masing. Dari daerah satu dengan yang lain masing-masing mempunyai cerita reog yang bervariasi baik dari sumber cerita, nama-nama maupun alat dan para paraga yang bersangkutan.[29]

Adapun mengenai sumber cerita reog kebanyakan mengambil dari cerita rakyat (folklor) yang diambil dari cerita Panji yang terkenal di benua Asia. Tentang nama-nama baik alat maupun paraga pun dari masing-masing daerah tidak sama karena sifat cerita itu sendiri. Tetapi pada hakikatnya, kebanyakan isi ceritanya masih sama ialah memaparkan pinangan seorang putri Kediri atau Daha oleh raja-raja yang berawal dan berakhir dengan peperangan.[30] Adapun salah satu reog yang cukup berkembang dan digemari oleh hampir segala usia adalah versi reog Ponorogo. Reog ini seolah-olah sudah tidak lagi menjadi monopoli Ponorogo, tetapi sudah berkembang di daerah seluruh Indonesia.

Wonogiri merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai tempat berkembangnya reog Ponorogo. Pada umumnya, tema atau lakon cerita reog yang berkembang di daerah Wonogiri sebagaimana reog Ponorogo. Tema atau lakon cerita reog tersebut adalah cerita lamaran seorang raja dari kerajaan Bantarangin yang bernama Klono Sewandono terhadap seorang putri dari kerajaan Kediri yang bernama Dewi Songgolangit. Sang raja bersama patihnya yang bernama Pujonggo Anom atau Bujangganong serta pasukannya berjumlah 144 pasukan berkuda berangkat menuju kerajaan Kediri. Di dalam perjalanan, rombongan tersebut dihadang oleh harimau jadi-jadian dari patih Kediri yang bernama Singolodro yang juga mencintai Dewi Songgolangit. Terjadilah pertempuran di antara mereka yang dimenangkan oleh Prabu Klono Sewandono karena kesaktian pusakanya pecut Samandiman.

Versi reog Ponorogo di daerah yang satu dengan daerah yang lain juga mengalami perkembangan ke dalam sub-sub versi. Versi reog Ponorogo sendiri di Jawa Timur juga mengalami perkembangan seperti versi Magetan, versi Somaroto, versi Surabaya dan lain-lain. Akan tetapi kesemuanya masih mempunyai ciri-ciri khusus yaitu terdapatnya Dhadakmerak dengan kepala Singobarong (Harimau). Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat perwujudan Singobarong sangat bervariasi. Ada beberapa pengertian dalam perwujudan reog (selain Ponorogo) dalam bentuk fragmen atau ansambel seperti Dhoger, Jaran Dhor, Jatilan (Kromaliyo), Reog Thuk atau Reog Caplok, dan lain-lain.[31]

Pada tahun 1990, di Wonogiri berkembang sebuah bentuk tema atau lakon cerita reog khas Wonogiri yaitu reog Sambernyawan Wonogiren. Tema atau lakon ini digarap dalam versi atau cengkok pengembangan dengan mengadakan sintesa dari reog yang sudah ada kemudian digubah berdasarkan pengembangan sebagai salah satu akulturasi yang menampilkan suatu inovasi kreativitas. Akulturasi antara Ponoragan dan Wonogiren terletak pada sumber cerita, pakaian, alat musik (gamelan), nyanyian (tembang), dan tokoh-tokohnya. Reog Sambernyawan Wonogiren juga diiringi oleh vokal dan instrumen (nyanyian atau tembang, alat musik atau gamelan) yang beraneka ragam.

Reog Sambernyawan Wonogiren diilhami dari nilai sejarah perjuangan R. M. Said dalam melawan penjajah Belanda yang selalu ikut campur dalam urusan kerajaan. Perjuangan R. M. Said yang ulet dimulai dari Nglaroh menuju Sembuyan, Wiroko, Keduwang dan berakhir sampai Ponorogo, Jawa Timur. Di Kabupaten Ponorogo, R. M. Said mengajak Adipati Suradiningrat untuk bersatu melawan kompeni Belanda. Akan tetapi ajakan ini ditolaknya dan timbulah perselisihan dalam perang catur di antara keduanya. Dari perang catur berkembang menjadi perang fisik yang berkobar dengan sengit karena Adipati Suradiningrat tetap menolak ajakan R. M. Said. Dengan ketegasan, kharisma, dan keberanian yang luar biasa pada diri R. M. Said maka ia disebut Pangeran Sambernyawa. Hal ini ditandai pula dengan terbunuhnya Adipati Suradiningrat di tangan Pangeran Sambernyawa. Akhirnya pengikut Adipati Suradiningrat berangsur-angsur menyerah kalah.[32]

Untuk mengenang peristiwa sejarah tersebut lahirlah tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren. Munculnya tema atau lakon cerita lain dalam perkembangan kesenian reog di Wonogiri, bukan berarti menghilangkan tema atau lakon cerita reog yang telah berkembang sebelumnya. Dalam hal ini, tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren justru menambah atau memperkaya tema atau lakon cerita reog di Wonogiri. Diharapkan keduanya dapat hadir dan hidup berdampingan, dapat saling berakulturasi (saling memanfaatkan dalam berinovasi dan kreasi) dan beradaptasi.

Dalam rangka memasyarakatkan reog Sambernyawan Wonogiren supaya dapat dimiliki oleh rakyat Wonogiri, pemerintah daerah setempat telah mengadakan penataran yang diikuti oleh wakil dari kecamatan-kecamatan pada awal tahun 1991. Baik bentuk pertunjukan reog sebagaimana reog Ponoragan maupun reog Sambernyawan Wonogiren muncul sebagai wujud pementasan reog secara bergantian yang tidak teratur. Pertunjukan reog Sambernyawan Wonogiren lebih dominan dipentaskan dalam event pemerintahan, sedangkan pertunjukan reog Ponoragan tetap dominan di kalangan masyarakat kebanyakan.

 

D.    Bentuk Pertunjukan Kesenian Reog

 

Dalam mengamati beberapa macam pementasan reog yang berbeda-beda, unik, dan terikat ruang dan waktu, penulis mengelompokkan menjadi dua bentuk pementasan. Langkah ini bertujuan untuk mengenali dan memahami tentang fenomena kesenian reog di Wonogiri, khususnya dalam hal bentuk penyajiannya. Adapun bentuk-bentuk pementasan reog tersebut antara lain:

  1. 1.      Kesenian Reog dalam Tanggapan atau Obyogan

Dalam bausastra Jawa-Indonesia, obyog atau obyog-obyog diartikan sebagai nayub atau “mengerjakan sesuatu secara bersama-sama”. Jadi, obyogan adalah kata lain dari tayuban atau sebuah suasana ramai karena sekerumunan orang yang mengerjakan sesuatu.[33] Reog obyogan biasanya ditanggap oleh individu, keluarga, desa, organisasi, atau kelompok masyarakat tertentu untuk mengisi acara-acara khusus seperti pernikahan, khitanan, selametan, bersih desa atau rasulan, serta peristiwa-peristiwa penting lainnya.  Istilah obyogan yang disebut juga dengan gambyongan adalah sebutan bagi salah satu bagian dari pertunjukan reog dalam tanggapan di desa-desa yang menampilkan tarian dan penari jathil secara bebas.[34] Para jathil biasanya melepas jaran kepangnya, lalu menari dengan iringan musik yang bermacam-macam mulai dari jaipongan hingga dangdut, melayu, atau campursari. Pada saat obyogan atau gambyongan ini, biasanya penonton ikut berjoget (istilah yang lebih tepat daripada menari) dengan para penari jathil. Penari jathil mendapat posisi sentral dalam pertunjukan atau pementasan reog obyogan, selain barongan.

Reog obyogan dipentaskan dalam ruang yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi, seperti di halaman rumah, pinggir jalan, perempatan jalan, tanah lapang, dan lain-lain. Arena pementasan dengan batas yang tidak begitu jelas antara penonton dan pemain. Selain itu pentas reog obyogan bisa juga disertai dengan arak-arakan.

Dalam reog obyogan pola gerakan tari yang ditampilkan di warnai dengan improvisasi.[35] Para penari mencoba untuk “menggerakkan tubuh” melakukan gerakan-gerakan “spontan” atau bahkan diam, menunggu giliran, melihat temannya, atau hanya karena malas. Salah satu bentuk improvisasi ini adalah dengan dimasukkannya unsur “asing” dalam tarian reog obyogan, misalnya kendang jaipongan, irama melayu, dangdut dan lagu-lagu campursari serta lagu-lagu dolanan, yang diikuti dengan joget sebagai respon terhadapnya.

Reog obyogan disebut juga dengan “reog tanggapan”. Dalam reog obyogan, kelengkapan tari disesuaikan dengan permintaan dan harga yang dinegosiasikan dengan penanggap.[36] Lain halnya, apabila memang disepakati bahwa reog obyogan ditanggap secara “sambatan” (artinya tanpa upah atau harga tertentu) maka reog obyogan ditampilkan sesuai dengan keinginan kelompok reog yang ditanggap. Pertunjukan reog yang demikian sering kali tampil dalam event-event yang berhubungan dengan kepentingan umum atau masyarakat luas (sosial kemasyarakatan).

Unsur yang selalu ada dalam tanggapan reog obyogan adalah penari jathil dan singobarong, kadang-kadang ditambah penari bujangganong atau warok. Penari yang menokohkan Klono Sewandono hampir tidak pernah ada. Untuk menampilkan unsur-unsur penari tertentu tidak menutup kemungkinan dilakukannya suatu mekanisme dengan cara “sewa-menyewa” pemain yang sering disebut dengan istilah “bon-bonan”.[37] Reog obyogan dalam pementasannya tidak mementingkan urutan cerita tetapi lebih menyuguhkan tontonan, hiburan, dan kegembiraan.[38] Pertunjukan bisa dimulai dengan penampilan warok terlebih dahulu (kalau ada), bisa pula jathil yang muncul pertama, atau bujangganong, kemudian barongan, baru gambyongan. Setelah itu, tari jathil atau warok bisa diulang kembali tergantung situasi dan kondisi. Bisa juga pimpinan reog atau pelatih menginstruksikan untuk menari seperti dalam festival terlebih dahulu baru obyogan. Dalam hal ini tidak berarti benar-benar menampilkan urutan dan bentuk tarian sesuai dengan standart festival, tetapi berwujud tarian jathil dan warok yang mengikuti pola gerak standar. Itupun hanya di awal pementasan dan dalam waktu yang singkat. Setelah itu langsung obyogan sampai selesai pementasan. Bahkan dalam beberapa pementasan, obyogan atau gambyongan langsung dimainkan. Pertunjukan reog obyogan tidak terikat dalam durasi waktu tertentu. Pertunjukan reog dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama apabila para penonton masih tetap bertahan menyaksikannya.[39]

Pada masa lalu, pertunjukan reog obyogan diwarnai dengan perilaku penonton dan pemain cenderung seronok dan terkadang disertai dengan menenggak minuman keras saat tanggapan berlangsung. Nuansa pementasan reog obyogan didominasi oleh penari jathil yang cenderung erotis, kegagahan (kekuatan) barongan, spontanitas, dan “kebrutalan” para penonton yang hampir mayoritas adalah laki-laki. Kalaupun ada perempuan biasanya hanya melihat dari kejauhan dan rata-rata perempuan dewasa. Kondisi seperti itu tidak tampak lagi di masa sekarang.

Dalam reog obyogan, tidak ada batas yang tegas antara penonton dan pemain. Pada saat pentas reog berlangsung para pemain, pengrawit, senggakan, dan penonton sering mengeluarkan teriakan “hok’ya… hok’ya… hok’ya…” sambil ikut menari atau bahkan arak-arakan. Penonton reog seperti ini disebut “konco reog” (teman reog).[40] Sebagai contoh reog obyogan antara lain: pentas reog dalam acara pernikahan, khitanan, atau kaulan. Selain itu, pentas reog pada acara peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan peringatan hari-hari penting lainnya juga dapat dikategorikan sebagai reog obyogan.

  1. 2.      Kesenian Reog dalam Festival

Reog festival merupakan bentuk pementasan reog di Wonogiri yang muncul setelah keikutsertaan kelompok reog Kabupaten Wonogiri dalam Festival Reog Nasional (FRN) dan Festival Reog Mini Nasional (FRMN) yang berlangsung di Ponorogo. Reog festival dilakukan di ruang pentas berupa stage atau sebuah panggung.[41] Dalam hal ini, sebuah panggung pertunjukan dengan level-level tertentu atau dalam pengertian yang lebih umum sebagai ruang pentas yang tetap dan mempunyai batas-batas yang jelas antara pemain dan penonton.

Di dalam reog festival, pola gerakan tari yang ditampilkan lebih berupaya untuk “mendudukkan tubuh” ke dalam standar-standar yang telah ditentukan. Reog festival biasanya disponsori oleh lembaga-lembaga formal seperti dinas pariwisata atau kantor-kantor di lingkungan pemerintahan, dan lebih dalam kepentigan “lomba” atau misi pariwisata. Pada pementasannya, berapapun biaya yang disediakan oleh pihak sponsor, maka kelengkapan tarian harus mengikuti standar yang telah ditentukan.[42]

Dalam pentas reog festival setiap unsur tarian harus lengkap mulai dari warok, jathil, bujangganong, klono sewandono, barongan, dan pengrawit. Untuk melengkapi semua unsur-unsur tersebut, para praktisi reog dapat melakukan siasat dengan cara “sewa menyewa” pemain. Mekanisme seperti ini disebut juga dengan “bon-bonan” sebagaimana pada reog obyogan.[43]

Selama ini pertunjukan reog festival sangat mementingkan urutan. Hal ini berhubungan dengan cerita yang hendak dipresentasikannya, yaitu cerita proses lamaran prabu Klono Sewandono kepada Dewi Songgolangit dan mendapat rintangan dari singobarong. Urutan pementasan reog festival dimulai dengan datangnya warok tua, tarian warok muda, jathilan, bujangganong, klono sewandono, barongan, lalu terjadi pertempuran, dan diakhiri dengan kekalahan singobarong oleh klono sewandono karena terkena pecut samandiman.[44]

Mengenai perilaku pemain dalam pertunjukan reog festival dituntut sesuai atau mempertimbangkan hal-hal tertentu baik estetika maupun etika. Dalam hal ini, pemain reog dilarang menenggak minuman keras pada saat pertunjukan reog festival berlangsung. Reog festival lebih bersifat formal dibandingkan dengan reog obyogan. Dalam penyajiannya harus menggunakan aturan-aturan seperti halnya aturan dalam hal pakaian yang dikenakan masing-masing penari sebagaimana yang telah disebutkan di atas juga menyangkut tata riasnya, alat musik atau instrumen pengiring reog, dan jumlah pemain atau penari. Aturan etika misalnya, ditunjukkan pada pakaian yang dikenakan para pemain reog festival. Contohnya penari jathil, diharuskan mengenakan celana dengan ukuran 5 cm di bawah lutut dan tidak ketat.[45]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999, Direktori Seni Pertunjukan Tradisional, Jakarta: Artiline, halaman 45.

[2] Wawancara dengan S. Poedjo Siswojo, Mantan Kepala Seksi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri (1975-1994), tanggal 15 Nopember 2006.

 

[3] Wawancara dengan Supardi, Staf Seksi Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, tanggal 5 September 2006.

 

[4] Wawancara dengan Eko Sunarsono tanggal 4 September 2006.

[5] Wawancara dengan Marto Giyo, Mantan Pembarong Reog Ringin Seto Purwantoro, tanggal 25 Desember 2006.0.

 

[6] Heddy Shri Ahimsa Putra, “Seni Dalam Beberapa Perspektif: Sebuah Pengantar” dalam Heddy Shri Ahimsa Putra (ed.), 2000, Ketika Orang Jawa Nyeni, Yogyakarta: Galang Press, halaman 20.

 

[7] Hartono, 1980, Reyog Ponorogo, Proyek Penulisan dan Penerbitan Buku/ Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi Depdikbud, halaman 35.

[8] Claire Holt, 2000, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, Terjemahan Soedarsono, Bandung: Arti.line, halaman XXIII.

 

[9] Hal inilah yang menyebabkan pertunjukan kesenian reog pada umumnya terdiri dari 4 (empat) orang penari jathil.

 

[10] Wawancara dengan Marto Giyo, tanggal 25 Desember 2006.

 

[11] Muhammad Zamzam Fauzannafi, 2005, Reog Ponorogo: Menari di antara Dominasi dan Kaeragaman, Yogyakarta: Kepel Press, halaman 64-77.

 

[12] Suara Merdeka, “Festival Reog Nasional 1992: Seni Tradisional Ponorogo Serbu Solo”, Sabtu, 8 Februari 1992, halaman XVI.

 

[13] Muhammad Zamzam Fauzannafi, ibid., halaman 64-77.

 

[14] Suara Merdeka, “Festival Reog Nasional 1992: Seni Tradisional Ponorogo Serbu Solo”, Sabtu, 8 Februari 1992, halaman XVI.

 

[15] Wawancara dengan Marto Giyo tanggal 25 Desember 2006.

[16] Daftar Kriteria Tata Busana dan Tata Rias Reog Ponorogo, halaman 3.

[17] Wawancara dengan Marimin tanggal 25 Desember 2006.

 

[18] S. Poedjo Siswojo, 1990, Konsep Pembakuan Sendra Tari Reog Sambernyawan Wonogiren, Wonogiri: Tidak Diterbitkan, halaman 4.

 

[19] Wawancara dengan Mulyadi, Mantan Penari Jathil Reog Purwantoro, tanggal 25 Desember 2006.

 

[20] Wawancara dengan Ida Erawati, Pembina Sanggar Tari Langen Kridha Surya Giri Wonogiri, tanggal 6 Desember 2006.

 

[21] Wawancara dengan Yadi tanggal 21 September 2006.

[22] Wawancara dengan Marimin tanggal 25 Desember 2006.

 

[23] Daftar Kriteria Tata Busana dan Tata Rias Reog Ponorogo, halaman 1-3.

[24] Wawancara dengan Marto Giyo tanggal 25 Desember 2006.

 

[25] Pengamatan pada dokumentasi dalam Heri Susanto, 1996, Kesenian Reog Caplok di Desa Gedong, Skripsi Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Surakarta: Tidak diterbitkan.

 

[26] Wawancara dengan Mulyadi tanggal 25 Desember 2006.

 

[27] Daftar Kriteria Tata Busana dan Tata Rias Reog Ponorogo, loc. cit.

 

[28] S. Poedjo Siswojo, 1990, op. cit., halaman 4.

 

[29] Ibid., halaman 3.

 

[30] Wawancara dengan S. Poedjo Siswojo tanggal 22 Nopember 2006.

[31] Wawancara dengan Slamet, Pembarong Reog Wonoboyo Wonogiri, tanggal 4 Desember 2006.

 

[32] Ibid., halaman 2.

[33] Muhammad Zamzam Fauzannafi, op. cit., halaman 107.

 

[34] Ibid., halaman 107-108.

 

[35] Wawancara dengan Ludiro Pancoko tanggal 27 September 2006.

 

[36] Wawancara dengan Marimin tanggal 25 Desember 2006.

 

[37] Wawancara dengan Ida Erawati tanggal 6 Desember 2006.

 

[38] Wawancara dengan Ludiro Pancoko tanggal 27 September 2006.

 

[39] Wawancara dengan A. I. Widodo, Pengelola Paguyuban Reog Wonoboyo Wonogiri, tanggal 13 Desember 2006.

[40] Muhammad Zamzam Fauzannafi, op. cit., halaman 115.

 

[41] Wawancara dengan Eko Sunarsono tanggal 28 September 2006.

 

[42] Wawancara dengan Ludiro Pancoko tanggal 27 September 2006.

 

[43] Wawancara dengan Suryono, Anggota Paguyuban Reog Purwantoro, tanggal 25 Desember 2006.

 

[44] Wawancara dengan Ludiro Pancoko, tanggal 27 September 2006.

 

[45] Muhammad Zamzam Fauzannfi, op., cit., halaman 113.

 

 

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE