Pustaka Pintar-Ku

Just another Blog UMY site

SEJARAH BATIK DAN FILOSOFINYA

Posted by Siti Rahmahwati 0 Comment

Asal Mula Batik

Batik merupakan salah satu cabang seni rupa warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang aktifitas pembuatannya masih dapat dilihat sampai sekarang.  Terutama di Pulau Jawa, batik tersebar dari barat sampai timur di bagian selatan dan pesisir utara.

Keberadaan batik di Indonesia secara pasti tidak dapat diketahui, tapi menurut JLA. Brandes (1889) batik merupakan satu dari sepuluh butir kekayaan budaya yang telah dimiliki bangsa Indonesian (Jawa) sebelum tersentuh budaya India.  Ada pendapat yang mengatakan bahwa batik berasal dari India dan adapula pendapat yang mengatakan bahwa batik berasal dari Indonesia dengan alasan:

  1. Puncak kesempurnaan batik di Indonesia terjadi pada abad 14-15, sedangkan di India pada abad 17-19
  2. Di Indonesia pola kawung, lereng, ceplok muncul pada abad 9-14 sedangkan di India tidak punya motif itu, begitu pula dengan motif tumpal, pohon hayat, gurdho, isen-isen, sedangkan di India tidak ada
  3. Proses Wax Resist terdapat diberbagai Negara, di Indonesia disebut batik, di Jepang disebut Po-kechi dan Retanori, di Bangkok disebut Phanung, di Rusia disebut Bakhara.
  4. Toraja sebagai salah satu wilayah di Indonesia tidak bersentuh budaya Hindu punya Wax Resist yang kainnya disebut Sarita dan Kain Ma.

Secara fisik peninggalan kain batik memang tidak bisa ditemukan, hal ini dikarenakan sifat kain yang rapuh bila sudah dimakan usia, namun demikian ragam hias batik dapat kita temukan pada patung-patung dicandi-candi di Jawa dan pada dinding masjid Mantinjan Jepara dan dinding makam Sendang Duwur Bojonegoro.

Pada awalnya alat yang digunakan adalah “jegul”, kemudian dalam perkembangannya ditemukan alat “canting”.  Penggunaan alat ini memperlihatkan kehalusan batik dan keindahan ragam hiasnya.  Canting cap ditemukan pada tahun 1850-an.  Dengan penumuan canting cap ini merupakan penemuan yang mengembirakan karena orang jawa dapat meningkatkan produktivitasnya dalam memproduksi batik secara besar-besaran.

Pada tahun 1990-an muncul “batik printing” yang sebenarnya adalah kain dengan motif batik yang proses pembuatannya tidak melalui proses pelilinan tetapi dengan cap tekstil langsung di printkan pada kain.

BATIK YOGYAKARTA DAN FILOSOFINYA

Yogyakarta bukan hanya tempat kediaman raja, namun juga sebagai pusat pemerintahan, keagamaan dan kebudayaan.  Hal ini tampak pada produk budayanya yaitu seni batik.

Dari dulu sampai sekarang batik punya fungsi yang penting.  Disamping sebagai busana sehari-hari di lingkungan kraton batik digunakan sebagai kelengkapan atau pakaian pada upacara adat maupun acara keagamaan.  Bahkan batik merupakan bagian dari pakaian kebesaran, sehingga motif –motif tertentu menggunakan motif khusus yang hanya boleh dipakai oleh sultan dan keluarga serta abdi dalem sultan.  Motif tersebut tidak boleh diperkenakan untuk masyarakat luas.  Mengenai larangan ini tercantum dalam lembaran Negara Keraton Yogyakarta yang diterbitkan pada tahun 1927.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I sampai dengan Sultan Hamengku Buwana X, tradisi batik masih berlangsung terus sesuai dengan tujuan secara fungsional yaitu busana tradisional yang dibedakan menjadi dua golongan, busana sehari-hari (tidak resmi) dan busana resmi.

Busana resmi yaitu busana yang dikenakan untuk kegiatan resmi baik untuk upacara alit maupun agung.  Upacara alit dapat disaksikan dalam upacara tertentu, missal upacara tetesan, terapan, dan lain-lain.  Upacara agung yaitu suatu kegiatan upacara resmi yang berpa upacara gerebek, supitan, perkawinan, tingalan dalem tahunan, jumenegang dalem, agustusan, dan sedan ( pemakaman jenazah raja). (Mari S. Condronegoro, 1995:21-31).

Di luar keraton batik juga berkembang di beberapa daerah. Di Bantul dapat kita jumpai di daerah Imogiri, Pandak, Bambang Lipuro dan Sanden. Di kulonprogo dijumpai di daerah Lendah, juga terdapat di daerah Sleman, Gunungkidul, dan di kota Yogyakarta itu sendiri baik batik tulis maupun batik cap.

Bila diamati batik tradisional pada umumnya mempunyai arti simbolik yang melatarbelakangi penciptaannya.  Pada seniman masa lampau menyampaikan ide dan misinya melalui bentuk yang berupa lambang.  Di dalam lambang ini terkandung nilai filosofis yang merupakan pencerminan dari alam fikiran gernerasi lampau yang tak mudah dipahami oleh generasi sekarang. (Suyanto 1986:2).  Pada batik tradisional Yogyakarta terdapat unsur-unsur penting yaitu motif, fungsi dan warna.  Atas dasar unsur-unsur tersebut batik punya makna dan punya pengaruh sugestif bagi pamakainya.

Warna pada batik klasik mempunyai arti folosofis sebagai berikut:

ü  Biru tua/hitam melambangkan sifat angkara murka tetapi apabila dapat dikendalikan akan menjadi sifat kesentausaan abadi

ü  Putih melambangkan sifat berbudi bawa leksana, sifat adil dan berperikemanusiaan

ü  Merah dalam dunia batik berwarna coklat kemerahan melambangkan watak pemarah apabila dapat dekendalikan menjadi watak pemberani. (Soeryanto, 2000:4)

Dua aspek dalam batik yang berupa motif dan makna perlambangan merupakan hal yang salling berkaitan. Dapat dikatakan menggunakan motif batik tertentu berarti menunjukkan status sosila yang berhubungan dengan pangkat kebangsawanan.  Sedangkan dunia perlambangan berasal dari berbagai kepercayaan masa lampau.

Beberapa motif batik tradisional di Indonesia

Batik grompol, batik truntum. Batik kawung, bating parang rusak, slobok.

 

 

Categories: Sejarah

PROFIL AKU

Siti Rahmahwati


Popular Posts

Hey.....Friends!!!!

Assalamu'alaikum Welcome to my blog........ Ini adalah blog saya yang berisi tentang ...

MENYUSUN SISTEM INFO

Sebuah makalah yang isinya tentang cara menyusun sistem pendidikan untuk ...

Contoh RPP PAI Berka

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)   Nama Sekolah : SMA Muhammadiyah Wonosari Mata pelajaran : Pendidikan Aqidah Kelas / semester : XI ...

MENJAUHI ORANG YANG

Virus HIV memang berbahaya, orang yang sudah terinfeksi HIV akan ...

SEJARAH BATIK DAN FI

Asal Mula Batik Batik merupakan salah satu cabang seni rupa warisan ...