Fendrik Al Kautsar

manjer kawuryan

Bismillah!
Assalamualaikum

menarik, mengejutkan, mengharukan.

 

…..
Kedatangan kami disambut dengan bangunan Makam Sesepuh di Desa ini.
Berada di sebelah kanan jalan dengan jalan yang sedikit mendaki dan berkelok kekiri.
Tepat di muka Desa, kami dihadapkan sebuah rumah berwarna Merah jambu berlantai dua. Rumah yang cukup megah diantara rumah-rumah lain di Desa ini.

Kegiatan ini merupakan rangkaian Survey yang diselenggarakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang merupakan agenda rutin sebagai respon Muhammadiyah sebagai Lembaga yang juga menyoroti bencana. Sehingga kemudian mengerahkan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tercinta, karena dalam kegiatan kali ini dilakukan Pendataan Kerusakan Bangunan pasca gempa “Dieng”, yang notabene-nya masuk dalam Disiplin Ilmu Teknik Sipil. Dengan didampingi Bpk. Ketua Jurusan dan Salah seorang Dosen Ahli dalam Bidang Geoteknik. Kami diterjunkan. Sebuah misi yang InshaAllah Kemanusiaan.

Desa ini merupakan desa terakhir yang menjadi sasaran kami atas rangkaian kegiatan tersebut. Lokasinya berada di propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Batang. Bagi permukiman ini, Desa mungkin hanya sebagai sebutan, karena belum ada pengelompokkan atas RT dan RW, terlebih lagi Permukiman ini tidak memiliki Kepala Desa, hanya orang yang di-Tua-kan yang kemudian diberi kepercayaan untuk memimpin Desa ini. Ini yang menjadi “menarik“.

 

…..

Desa yang lebih dikenal dengan sebutan “Gunung Alang” ini hanya terdiri dari puluhan Rumah. Alhamdulillah Desa ini merupakan Permukiman Muslim dengan satu masjid yang kokoh berdiri. Namun yang “mengejutkan” , Permukiman ini sudah memiliki jangkauan listrik yang memadai dan Warga yang berkecukupan untuk ukuran Desa yang menurut saya terisolir bila dilihat dari jarak tempuh dari Desa terdekat sebelumnya yang mencapai puluhan kilometer, dengan akses jalan berbatu dan berada di sepanjang bibir jurang.
Saya masih berpikir bagaimana ada Permukiman seperti ini.
Namun hal tersebut bisa ditebak karena lingkungan di Desa tersebut sangat bisa dioptimalkan untuk dijadikan makanan. Baik secara langsung, maupun di-uang-kan lebih dahulu. Tumbuhan kentang dan tanaman lain yang dapat diperjualbelikan dapat dengan mudah dibudidayakan di daerah tersebut karena memiliki tanah yang sudah tidak diragukan lagi kesuburan-nya karena lokasinya yang berada di area kawah.
Perbukitan yang memiliki kemiringan nyaris 45 derajat diselimuti lahan kentang dengan berselimut kabut berhampar luas disepanjang mata memandang gugusan lereng, dengan aroma yang sama sekali tanpa tercemar.
Demi Allah saya akan merindukan Desa ini.

…..
Seperti Desa-desa sebelumnya, Tim kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk men-survey bangunan- bangunan di sini. Kebetulan kelompok kami yang beranggotakan Saya, Saudara Jamal Irjayanto, dan Yazid Albas Tomi, dengan didampingi salah seorang anggota KOKAM Jateng, mendapat bagian untuk menyisir daerah atas Desa.

Hingga sampai pada sasaran bangunan kami terakhir, sebuah “SEKOLAH DASAR”.
Tepat di paling atas Desa Sekolah ini berada. Tidak megah, Hanya 4 ruangan dalam satu deret bangunan yang masih cukup kokoh tersebut. Yang saya sendiri tidak tahu bagaimana pembagian kelas di Sekolah ini. Berhadapan dengan halaman yang seukuran lapangan bola, terdapat sisa-sisa tenda, yang mungkin bekas dari pengungsian warga setempat.

Yang menjadi “mengharukan” adalah tepat di halaman Sekolah yang sangat sederhana ini, bendera Merah Putih berkibar lembut di hembus kabut. Benar-benar berkibar. Lembut. Sedikit menyentuh.
Sejenak ku sempatkan ‘hormat’ khusuk pada secarik kain yang perjuangan untuk menegakkan dan mengibarkannya berkorban nyawa yang InshaAllah Syahid.

 

Duduk di atas rumput kami mengakhiri tugas. Berbincang- bincang untuk menghangatkan suasana. Sapuan kabut yang semakin pekat menjelang siang, diselingi sengatan matahari seketika menyengat, kemudian di sapu lagi Belaian kabut menyentuh leher.

Sebentar awangan-ku menyelinap, Merah Putih berkibar mesra di daerah seperti ini. Gunung Alang, peradaban yang jauh dari peradaban. Masih benar dihormati.

Dan sebentar pula aku berpikir, Sejauh ini kah Muhammadiyah ikut andil atas dasar kemanusiaan.

Semoga benar atas landasan itu.

fendrik al kautsar

Wallahua’lam bishawab

Billahi Fi Sabililhaq Fastabiqul Khoirot
Wassalamualaikum

Categories: artikel

PROFIL AKU

Fendrik Al Kautsar


Popular Posts

Hello world!

Welcome to Blog UMY. This is your first post. Edit ...

prakatakatak

bismillah, assalamualaikum, terimakasih untuk waktu dan tempat yang telah diberikan untuk saya, ...

kesetiaan seekor lel

aku ada artikel menarik, kisah dua kekasih, yang diabadikan oleh ...

Desa Yogyakarta

Sebagian orang saja yang tahu beberapa hal yang biasanya orang ...

Merah Putih dan Muha

Bismillah! Assalamualaikum menarik, mengejutkan, mengharukan.   ..... Kedatangan kami disambut dengan bangunan Makam Sesepuh di ...