syi'ar pengetahuan

Just another Blog UMY site

Kehilangan pekerjaan dapat menjadi kejadian ekonomi yang paling mengerikan dalam kehiduapan seseorang. Sebagian besar orang mengandalkan upah yang mereka dapat untuk mempertahankan standar hidup. Dan banyak orang yang bekerja tidak hanya untuk memperoleh pendapatan, tetapi juga karena kepuasan dalam menyelesaikan seuatu pekerjaan. Kehilanggan pekerjaan dapat menimbulkan beberapa aakibat seperti penurunan standar hidup, kekhawatiran tenatang masa depan, dan hilangnya rasa percaya diri. Oleh karena itu, bukanlah hal yang mengejutkan apabila politisi-politisi yang sedamg berkampanye banyak berbicara tentang program-program mereka yang akan mendukung terciptanya lapangan pekerjaan baru.

Masalah pengangguran dapat kita bagi menjadi dua kategori. Yaitu, masalah ajangka panjang dan masalah jangka pendek. Tingkat pengangguran alamiah dalam perekonomian mengacu pada jumlah pengangguran yang bias dialami oleh suatu perekonomian. Pengangguran siklis mengacu pada tingkat fluktuasi pengangguran dari tahun ketahaun yang terjadi disekitar tingkat pengangguran tingkat alamiah, dan hal ini terkait dengan naik turunnya kegiatan perekonomian jangka pendek. Seperti yang kita lihat, pemakaian kata alamiah bukanlah berarti bahwa tingkat pengangguran adalah sesuatu yang dikehendaki, juga tidak berarti bahwa jumlah pengangguran tidak berubah sepanjang waktu dan tidak dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi. Pemakaian istilah tersebut hanya memiliki arti bahwa pengangguran tidak akan hilang dengan sendirinya meskipun dalam jangka yang sangat panjang. Menurut Effendy (1987), konsep pengangguran mat sulit diterapkan di Indonesia, karena konsep yang digunakan dalam sensus maupun survai adalah konsep yang sesuai untuk Negara-negara maju. Dinegara maju, pengangguran dicatat pada kantor social sebagai pencari tenaga kerja dan apabila memenuhi syarat yang ditentukan oleh pemerintah mereka akan mendapat tunjangan pengangguran. Dinegara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, pengangguran tidak mendapat tunjangan pengangguran, sehingga amat sedikit yang mau menganggur kecuali ada orang (keluarga) yang bersedia menanggung biaya hidupnya. Contohnya kita lihat pada kasus yang terjadi di daerah jawa. Sebagian penduduk yang sudah masuk usia lanjut masih tetap berkerja mencari uang untuk mempertahankan  standar hidupnya. Mereka rela kerja banting tulang istilahnya demi sesuap makan. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap warganya sendiri. Dan tidak adanya tunjangan pengangguran seperti dinegara-negara maju. Hal ini juga dapat kita lihat pada kasus lain, sebagian penduduk bersedia bekerja dengan jam kerja panjang dan pendapatan rendah. Jadi, masalah pengangguran bukanlah pengangguran terbuka tetapi adalah setengah penganggur. Oleh karena itu, dalam menafsirkan angka pengangguran terbuka (pencari kerja) dari hasil sensus maupun survai kita perlu berhati-hati dan menyadari sepenuhnya definisi pengangguran itu hanya mencerminkan pengangguran terbuka (pencari kerja).

Menurut sensus 1980, 1990, dan 2000 yang digolongkan mencari pekerjaan adalah:

  1. mereka yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan atau pencari kerja baru.
  2. mereka yang pernah bekerja, pada saat pencacahan sedang menganggur dan berusaha mendapatkan pekerjaan atau pencari kerja lama.
  3. mereka yang dibebas tugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan atau pencari kerja lama.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pengangguran lebih dalam lagi.

Cara pemerintah dalam mengukur pengangguran

Mengukur jumlah pengangguran adalah pekerjaan biro statistika tenaga kerja (bureau of labor statistics-BLS), badan yang beraa dibawah departemen tenaga kerja. Setiap bulan, BLS menghasilkan data tentang pengangguran dan aspek-aspek lainnya yang berhubungan deangan pasar tenaga kerja, seperti jenis-jenis pekerjaan, lamanya jam kerja rata-rata dalam seminggu dan lamanya pengangguran. Data tersebut diperoleh dari survai yang secara teratur dilakukan disekitar 60.000 rumah tangga, sering disebut sebagai survai populasi.

Berdasarkan hasil survai tersebut, BLS menetapkan setiap orang dewasa (16 tahu atau lebih) dari setiap rumah tangga yang disurvai kedalam salah satu dari ketiga kategori:

  1. Bekerja
  2. Tidak bekerja
  3. Tidak berada dalam angkatan kerja

Seseorang dikategorikan bekerja apabila sebagian waktunya untuk bekerja dan mendapatkan upah. Seseorang dikatakan tidak bekerja apabila ia tidak bekerja untuk sementara waktu atau sedang mencari pekerjaan. Seseorang yang dikatakan tidak termasuk ke dua kategori tersebut, seperti mahasiswa, ibu rumah tangga, atau pensiunan berada pada kategori tidak dalam angkatan kerja.

Setelah menempatkan semua orang  dewasa yang diperoleh berdasarkan hasil survai kedalam tiga kategori tersebut. BLS mendefinisikan angkatan kerja sebagai jumlah populasi yang bekerja dan tidak bekeraja:

Angkatan kerja = Jumlah yang bekerja + jumlah tidak bekerja

BLS mendefinisikan tingkat pengangguran sebagai presentase yang tidak bekerja.

jumlah yang tidak bekerja

Tingkat pengangguran = jumlah yang tidak bekerja/ Angkatan kerja X 100

Mengukur tingkat pengangguran dalam suatu perekonomian kelihatannya sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tetapi pada kenyatannya, hal tersebut sulit dilakukan. Sangat mudah untuk membedakan antara seseorang yang bekerja penuh dengan seseorang yang tidak bekerja sama sekali, tetapi sangat-sangat sulit untuk membedakan antara seseorang yang tidak bekerja dengan seseorang yang tidak berada dalam angkatan kerja. Pergerakan seseorang masuk dan keluar dari angkatan kerja, pada kenyataannya merupakan sesuatu yang umum.

Lebih dari sepertiga merupakan populasi yang baru saja memasuki angkatan kerja. Populasi ini termasuk pekerja muda yang sedang mencari pekerjaan pertama mereka. Seperti, mahasiswa yang baru saja lulus. Populasi ini juga termasuk pekerja senior yang telah meninggalkan angkatan kerja tetapi kembali kedalam angkatan kerja untuk mencari pekerjaan baru. Terlebih lagi, tidak semua pengangguran berakhir dengan pencari kerja mendapatkan pekerjaan. hampir setengah dari pengangguran berakhir ketika para penganggur meninggalkan angkatan kerja.

Karena banyak orang sering masuk dan keluar dari angkatan kerja, statistika dari pengangguran sulit diterjemahkan. Disatu sisi, seseorang yang menganggur mungkin tidak sedang berusaha keras mencari pekerjaan. Disisi lain, seseorang yang dilaporkan berada diluar angkatan kerja sebenarnya ingin bekerja. Orang-orang tersebut mungkin telah berusaha mencari  pekerjaan tetapi kemudian menyerah karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Orang-orang tersebut yang dinamakan pekerja putus asa (discourage workers), dan tidak termasuk dalam statistika tingkat pengangguran, meskipun mereka sebenarnya adalah pekerja yang tanpa pekerjaan.

Untuk melihat betapa seriusnya masalah pengangguran, kita dapat golongkan masalah pengangguran menjadi 2 macam, yaitu masalah jangka pendek dan masalah jangka panjang. Jika pengangguran adalah masalah jangka pendek, seseorang dapat mengatakan bahwa masalah tersebut bukanlah masalah yang besar. Para pekerja mengkin hanya membutuhkan waktu beberapa saat setelah berhenti dari pekerjaan lama mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan selera dan keahlian mereka. Tetapi, jika pengangguran adalah kondisi jangka panjang, maka seseorang dapat menyimpulkan bahwa masalah tersebut memang serius. Pekerja yang menganggur selama beberapa bulan dapat mengalami penderitaan baik secara ekonomi maupun kewajiban.

Setelah saya bahas mengenai bagaimana pemerintah mengukur tingkat pengangguran, masalah-masalah yang timbul ketika membaca statistika pengangguran tetapi pembahasan ini belum menjelaskan mengapa pengangguran selalu dalam perekonomian. Dalam banyak pasar, harga-harga menyesuaikan dirinya sedemikian rupa hingga menyeimbangakan penawaran dan permintaan. Pada pasar tenaga kerja yang ideal, upah akan menyesuaikan diri sedemikian sehingga menyeimbangkan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Penyesuaian upah memastikan semua pekerja akan selalu mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, tentu saja kenyataan tidaklah sama dengan kondisi ideal ini. Selalu saja ada pekerja yang tidak mendapatkan pekerjaan, meskipun secara umum perekonomian sedang berjalan baik.

Melihat sekilas pembahasan tadi, kita akan menemukan bahwa terdapat empat alasan yang menjelaskan pengangguran jangka panjang. Penjelasan pertama adalah bahwa seseorang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik dan cocok untuknya. Pengangguran akibat proses pencarian kerja ini disebut pengangguran friksional. Pengangguran friksional sering terjadi akibat adannya perubahan permintaan tenaga kerja diantara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Ketika konsumen lebih menyukai komputer Compaq dari pada Dell, maka Compaq membutuhkan tambahan tenaga kerja sementara Dell akan mengurangi jumlah tenaga kerja. Mantan karyawan Dell harus mencari pekerjaan baru dan compaq harus menentukan calon pekerja yang akan dipekerjakan untuk menempati berbagai jenis pekerjaan yang tersedia. Hasil dari peralihan ini adalah masalah pengangguran jangka pendek.

Selanjutnya adalah melihat kenyataan bahwa jumlah pekerjaan yang tersedia dipasar tenaga kerja tidaklah cukup banyak untuk memberikan pekerjaan kepada semua orang yang hendak bekerja. Hal ini terjadi ketika jumlah penawaran tenaga kerja melebihi jumlah tenaga kerja yang diminta. Jenis pengangguran ini disebut pengangguran structural dang pengangguran jenis ini terjai ketika upah ditetapkan diatas tingkat keseimbangan penawaran dan permintaan. Atau untuk memudahkan kita, pengangguran friksional merupakan pengangguran yang sesuai dengan keahlian dan selera masing-masing pekerja memerlukan waktu.

Sedangkan pengangguran structural adalah pengangguran yang terjadi karena banyaknya pekerjaan yang tersedia diberbagai pasar tenaga kerja tidak cukup bagi semua orang yang ingin bekerja. Kemudian ada macam-macam pengangguran lainnya, yaitu pengangguran musiman merupakan pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen. Pengangguran teknologi merupakan pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau pengantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin. Pengangguran konjugtural (cycle unemployment) merupakan pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi. Dan yang terakhir pengangguran siklus merupakan pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).

pengangguran struktural dapat diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti:

  • akibat permintaan berkurang
  • akibat kemajuan dan pengguanaan teknoligi
  • akibat kebijakan pemerintah

setelah dibahas tentang bagaimana pemerintah mengukur pengangguran dan masalah-masalahnya. kemudian akan dijelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan pengangguran. yaitu:

  1. besarnya angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja. ketidak seimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
  2. struktur lapangan kerja tidak seimbang.
  3. kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang. apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar dari pada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. alasannya, belum tebtu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidik yang dibutuhkan dan yang tersedia. ketidak seimbagan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
  4. meningkatnya peranan dan aspirasi angkatan kerja wanita dalam seluruh struktur angkatan kerja Indonesia.
  5. penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja antar daerah tidak seimbang. jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan didaerah lainnya dapat terjadi keadaan sebalinya. keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah kedaerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lain.

Untuk mengetahui dampak pengangguran terhadap perekonomian kita perlu mengelompokkan pengaruh pengangguran terhadap dua aspek ekonomi, yaitu:

  1. Dampak pengangguran terhadap perekonomian suatu negera

Tujuan akhir pembangunan suatu Negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran disuatu Negara relative tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah diciptakan. Hal ini terjadi karena pengangguran berdampak negative terhadap kegiatan  perekonomian , seperti yang di jelaskan dibawah ini:

  • Pengangguran dapat menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang diciptakannya. Hal ini terjadi karena pengangguran dapat menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai oleh masyarakat akan lebih rendah dari pada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
  • Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sector pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayarkan dari masyarakat pun akan turun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
  • Pengangguran tidak menggalakan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga pemerintah terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan investor (pengusaha) untuk melakukan peluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomi pun tidak akan terpacu.
  1. Dampak pengangguran terhadap individu yang mengalami dan masyarakat.

Berikut ini merupakan dampak negative pengangguran terhadap individu yang mengalami dan terhadap masyarakat pada umumnya:

    • Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
    • Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan
    • Pengangguran akan mengakibatkan ketidak stabilan social politik

Ada bermacam-macam pengangguran membutuhkan cara-cara mengatasinya dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sebagai berikut:

  • Cara mengatasi pengangguran structural
  1. Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja
  2. Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sector ekonomi yang kekurangan
  3. Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong
  4. Segera mendirikan industri padat karya diwilayah yang mengalami pengangguran
  • Cara mengatasi pengangguran friksional
  1. Perluasan kesempatan kerja dengan acara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya
  2. Deregulasi dan debirokratisasi diberbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya industri baru
  3. Menggalakan pengembangan sector informal, seperti home industri
  4. Menggalakan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja disektor agraris dan sector formal lainnya
  5. Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain sebagainnya sehingga dapat menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta
  • Cara mengatasi pengangguran musiman
  1. Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja disektor lain
  2. Melakukan pelatihan dibidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu
  • Cara mengatasi pengangguran siklus
  1. Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barabg dan jasa
  2. Meningkatkan daya beli masyarakat
Categories: ekonomi

PROFIL AKU

Suhendar


Popular Posts

Pengangguran dan Pro

Kehilangan pekerjaan dapat menjadi kejadian ekonomi yang paling mengerikan dalam ...

Cara Mengatasi Anak

Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin bisa dilakukan oleh siapa ...

khasiat pegagan

faktor usia dapat berpengaruh terhadap daya ingat manusia. selain faktor ...

aqidah-akhlaq

Tawadhu' Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji ...

pengaruh tayangan te

Televisi (TV) merupakan media elektronik yang digemari oleh semua kalangan, ...