syi'ar pengetahuan

Just another Blog UMY site

aqidah-akhlaq

Posted by Suhendar 7 Comments

Tawadhu’

Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya. Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya. Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu. Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah mendefinisikan sombong dengan sabdanya:

 

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud z)

 

Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong. Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Dalam pembahasan masalah akhlak, kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.

Macam-macam Tawadhu’

Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi tawadhu’ menjadi dua:

1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.

2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).

 

Malu

Seoarang sahabat bertanya kepada Nabi tentang kebaikan dan keburukan. Lalu Nabi bersabda”  albirru ( kebaikan) adalah baiknya akhlaq dan al-itsmu ( dosa ) ialah apa yang bersemayam  di dadamu dan kau membecinya  jika orang lain mengetahuinya” HR Muslim.

Nabi mengkontraskan definisi kebaikan (al-birru) dengan dosa(al-istmu) agar jelas perbedaannya. Dan tentu agar bisa dicerna dan mudah diamalkannya.  Untuk itu mari kita renungkan sejenak adakah semua itu masih tercermin dalam masyarakat kita di era “modern” seperti saat ini?.

Masyarakat yang pendidikanya semakin tinggi  tetapi intelektualitasnya minus moralitas. Pejabat yang semakin kaya tetapi  kekayaannya diperoleh dengan cara yang tidak halal. Wakil rakyat yang semakin pandai  mengkibuli rakyat yang memilihnya dan terlibat korupsi. Rakyat yang tahu bahwa itu salah tetapi tetap memberikan peluang  kepada aparat untuk berbuat salah demi untuk percepatan sebuah jasa yang seharusnya bagian dari pengabdian pejabat pada Masyarakat.

 

Masyarakat  kita yang dikenal kental dengan nuansa agama tetapi miskin dengan aplikasi dalam hidup keseharian seperti miskinnya rasa malu berbuat dosa.  Korupsi yang semakin diberantas tetapi semakin membuat pandai sang pencuri untuk menghilangkan jejak korupsinya tanpa rasa malu meskipun diketahui orang lain. Bahkan sesudah dipublikasi oleh mediapun masih banyak usaha usaha para koruptor, pejabat untuk mengubur rasa malu mereka.

Itulah fonomena yang terjadi di negeri kita saat ini baik di kalalangan pejabat , aparat, dan rakyat. Rasa malu berbuat dosa sudah hilang dari hatinya demi sebuah kenikmatan sesaat. Maka tidak heran jika korupsi saat ini bak cendawan di musim hujan dan penyebabnya sepele karena sudah tidak punya rasa malu untuk berbuat dosa. Padahal “ malu adalah sebagain dari iman” HR Bukhari.  Wallahu ‘alam.

 

Sabar

Firman Allah s.w.t di dalam Al-Quranul Karim Yang bermaksud :

“Wahai orang-orang yang beriman minta tolonglah kamu dengan sabar dan sembahyang,sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang yang sabar”(153.)

Secara umumnya kita semua maklum apa itu yang dikatakan sabar.Tidak perlu kita menta’rifkannya  secara terperinci.Bukan sekali dua sifat yang mulia ini kita temui di dalam kitab suci Al-Quran dan juga hadis-hadis Rasulullah s.a.w.

Malahan setiap ketika kita mengucapkannya kepada teman-teman kita atau sesiapa sahaja bila mana mereka ini ditimpa oleh  sesuatu perkara yang tidak diingini .Hatta terhadap diri kita sendiri pun  sifat ini akan terlintas di hati  bila perkara yang sama berlaku terhadap diri kita.Secara kesimpulannya sifat ini merupakan salah satu sifat yang  dihimpunkan di dalam sifat-sifat ” Mahmudah” .

Banyak hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang menceritakan kepada kita betapa ganjaran,kelebihan dan kebaikan yang Allah s.w.t. anugerahkan kepada hambanya apabila sifat ini dapat ditakluki secara sempurna yang mungkin.Sebagaimana terdapat hadis Rasulullah s.a.w. yang menyatakan kebaikan sabar ini sebagaimana sabdanya :

“Bersabar terhadap perkara yang dibenci itu terkandung di sana kebaikan yang banyak”.

Sifat SABAR  terbahagi  kepada dua bahagian:

–          Maqamat

Maqamat ialah perjuangan atau usaha serta mujahadah yang kita lakukan dengan tujuan untuk mendatangkan sifat tersebut.

Tidak bererti sifat ini sentiasa kekal pada diri kita  tanpa kita tidak sedikit pun berjuang untuk mendapatkannya.

–          Ahwal

Ahwal ini merupakan suatu perasaan  yang timbul dengan sendirinya terhadap diri kita.Tidak kira samaada perasaan itu berbentuk gembira,bahagia,senang, sedih ,marah dan sebagainya.

 

Pemaaf

KETIKA manusia diciptakan, Allah mencipta juga pelbagai bentuk emosi dan keinginan dalam diri manusia yang berbentuk positif dan negatif yang saling mempengaruhi antara satu sama lain. Antara sifat positif yang terdapat dalam diri manusia ialah pemaaf, yakni lawan kepada sifat pemarah dan pendendam.

Pemaaf adalah sifat luhur yang perlu ada pada diri setiap muslim. Ada beberapa ayat al-Quran dan hadis yang menekankan keutamaan bersifat itu yang juga disebut sebagai sifat orang yang hampir di sisi Allah.

Allah berfirman bermaksud:

“Dan orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain, Allah menyintai orang yang berbuat kebajikan.” (Surah Ali Imran, ayat 132).

Namun, diakui bukan mudah untuk menjadi seorang pemaaf. Sikap negatif yang menjadi lawannya iaitu pemarah sentiasa berusaha menidakkan wujudnya sifat pemaaf dalam seseorang. Pertembungan dua unsur ini mewujudkan satu mekanisme yang saling ingin menguasai diri seseorang.

Iman dan takwa menjadi pengemudi melahirkan sifat pemaaf, manakala syaitan pula mengambil tempat mendidik sifat pemarah. Hakikatnya, syaitan sentiasa menggunakan kelemahan manusia untuk digoda dari pelbagai penjuru agar timbul sifat haiwaniah dalam diri manusia.

Memang tepat sifat pemaaf itu bukanlah satu perbuatan mudah dilakukan. Firman Allah yang bermaksud:

“Tetapi, sesiapa yang sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya termasuk pekerjaan yang berat ditanggung.” (Surah asy-Syura, ayat 43).

Sifat pemaaf memang sukar dilakukan memandangkan manusia sentiasa dikuasai fikiran logik untuk bertindak atas sesuatu perkara sehingga membunuh nilai moral sebenar.

Contohnya, bayangkan apakah tindakan spontan kita jika ditipu, dihina, dikhianati, dikecewakan dan perkara lain yang tidak disenangi. Sudah tentu perasaan marah akan menguasai diri dan diikuti pula dengan tindakan berbentuk lisan dan fizikal.

Kadangkala, perasaan marah juga disebabkan persaingan untuk mendapatkan sesuatu. Dalam keadaan itu, pesaing dianggap sebagai musuh yang perlu diatasi dengan apa cara sekalipun. Punca ini boleh merebak kepada fitnah, ugutan dan tindakan fizikal secara kekerasan.

Emosi manusia mudah terpengaruh ke arah melakukan tindakan yang pada pandangan logik adalah tindakan yang sepatutnya. Apatah lagi jika hasutan syaitan berjaya menguasai diri.

Di sinilah pentingnya kita memupuk sifat pemaaf dalam diri. Sesuatu yang logik tidak semestinya betul. Sebaliknya, ajaran agama adalah petunjuk kepada kebenaran yang mesti diamalkan untuk mendapat kebaikan di dunia dan akhirat.

Tindakan marah melampau dan diikuti pula dengan tindakan fizikal bukanlah jalan menyelesai masalah atau untuk menunjukkan siapa yang benar. Ketika itu jika diteruskan niat melakukan tindak balas atas kemarahan itu, mungkin ada tindakan yang mendatangkan keburukan sehingga melakukan pembunuhan.

Sesiapa berupaya menahan kemarahan, bererti dalam dirinya memiliki kemuliaan, keberanian, keikhlasan dan kekuatan yang sebenar. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menahan marah adalah golongan yang lemah.

Nabi Muhammad bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu (dinilai) dengan (kekuatan) dalam pergelutan, sesungguhnya orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (Hadis riwayat Bukhari).

Pentingnya sifat menahan marah mendorong Nabi Muhammad apabila diminta oleh seorang lelaki agar berpesan atau mengajarnya mengenai sesuatu perkara, menjawab ringkas iaitu ‘jangan marah’.

Untuk mendidik sifat baik dalam diri perlulah menghampiri diri dengan memperbanyakkan melakukan ibadat wajib dan sunat. Dengan kekuatan takwa dan iman secara langsung akan menjauhkan perkara yang ditegah, termasuk sifat pemarah.

Sifat pemaaf lahir dari jiwa dan hati yang tenang hasil daripada tarbiyah yang berterusan. Sebab itu, selalu memupuk sifat pemaaf. Bermulalah dengan perkara yang kecil dan mudah hilang sifat marah.

Jika ada sesuatu yang menimbulkan perasaan marah, berfikirlah sejenak untuk terlebih dahulu menilai atau muhasabah diri sendiri terlebih dahulu. Renungkan dalam hati sendiri adakah perkara itu juga berasal dari kita sendiri? Adakah sebelum ini kita mengambil langkah yang wajar untuk mengelak perkara itu daripada berlaku?

Jika kita mampu berfikir sedemikian, cahaya kebenaran mudah memasuki ruang hati dan memberi petunjuk apakah tindakan yang wajar dilakukan seterusnya. Pada ketika itu syaitan tidak berpeluang untuk menyemarakkan perasaan marah, yang lahir adalah keinsafan dan sifat memaafkan.

Sifat pemaaf memberi manfaat yang besar kepada diri sendiri terutama dari segi rohani. Orang yang bersifat pemaaf selalu dalam keadaan tenang, hati bersih, berfikiran terbuka, mudah diajak berunding dan sentiasa menilai diri sendiri untuk melakukan kebaikan.

Bagi orang yang bersifat pemaaf, padanya tiada seorang pun dalam hatinya tersimpan perasaan marah. Sebab itu, hati orang bersifat pemaaf tidak mudah terbakar dengan provokasi yang menekan dirinya.

Banyak masalah berkaitan hubungan sesama manusia berpunca sifat marah dan membalas dendam. Biarpun perselisihan kecil, perkara itu tidak dapat diselesaikan disebabkan perasaan dendam masih bertapak di hati.

Sikap berdendam hanya merugikan kedua-dua pihak. Paling tertekan ialah pihak yang lebih banyak berdendam. Hatinya tidak tenteram dan sentiasa ada perasaan buruk sangka. Kadangkala, yang berdendam hanya sebelah pihak. Sedangkan, sebelah pihak lagi menganggap persengketaan sebelum ini selesai. Jika sifat memaafkan diamalkan, insya Allah, kita juga tidak akan menanggung kemarahan daripada orang lain. Sesungguhnya Allah terlebih awal memberi keampunan dengan rahmat-Nya.

Categories: islam

PROFIL AKU

Suhendar


Popular Posts

Pengangguran dan Pro

Kehilangan pekerjaan dapat menjadi kejadian ekonomi yang paling mengerikan dalam ...

Cara Mengatasi Anak

Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin bisa dilakukan oleh siapa ...

khasiat pegagan

faktor usia dapat berpengaruh terhadap daya ingat manusia. selain faktor ...

aqidah-akhlaq

Tawadhu' Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji ...

pengaruh tayangan te

Televisi (TV) merupakan media elektronik yang digemari oleh semua kalangan, ...