Pembagian Harta Waris Beda Agama Dalam Perspektif Syari’ah

  islam   November 9, 2011

“PEMBAGIAN HARTA WARISAN BAGI AHLI WARIS YANG BERBEDA AGAMA DENGAN PEWARIS DALAM PESPEKTIF SYARI’AH”

Kata Pengantar

 Alhamdulillah, kami panjatkan syukur ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan yang Maha Esa, pencipta seluruh manusia dan mahluk di alam semesta ini. Kami memuji, ruku’, serta sujud kepada Allah, dzat yang Maha Besar, Maha Mulia, Maha Suci, Maha Agung dan Maha Cepat Perhitungannya. Ya Allah, limpahkanlah curahan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad saw., hamba dan utusan-Mu yang mulia, nabi pembawa cahaya, penyampai wahyu dan amanah-Mu yang sangat jujur terpercaya, serta penutup para nabi. Kami haturkan pula salam sejahtera kepada keluarga Nabi, sahabat-sahabatnya, serta para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.

 

Merupakan  kewajiban bagi para ahli waris, selain mengurus, memandikan, memberi kain kafan, menshalatkan, serta menguburkan jenazah pewaris, juga harus bertanggung jawab dalam menunaikan segala wasiat, pembayaran hutang serta pembagian warisan secara adil diantara mereka. Allah swt. telah menetapkan tata cara pembagian warisan ini di dalam Al-Qur’an secara detail, agar tidak ada ahli waris yang terdzalimi dalam menerima hak warisannya, dan agar semua ahli waris dapat menerima secara ikhlas ketetapan pembagian tersebut, karena yang menetapkan adalah Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Adil.

 

Banyak sekali perselisihan yang terjadi dikalangan masyarakat akibat pembagian warisan yang tidak adil. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tentang pembagian harta waris secara islami. Banyak masyarakat awam enggan menggunakan hukum waris yang sesuai dengan Al-Qur’an, karena masyarakat masih banyak yang menggunakan hukum atau tata cara pembagian harta waris sesuai dengan adat, tradisi atau budaya tradisional.

 

Semoga karya tulis ini dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan yang terjadi dikalangan masyarakatmengenai hukum waris atau pembagian harta waris.Sehingga tidak akan terjadi perselisihan dalam pembagian harta waris dikalangan masyarakat.

 

 

 

BAB I.   PENDAHULUAN

Hukum kewarisan islam pada dasarnya berlaku untuk umat islam dimana saja di dunia ini. Corak suatu negara islam dan kehidupan masyarakat di negara atau daerah tersebut memberi pengaruh atas hukum pewarisan di daerah itu.

Dasar pokok dari semuanya adalah hukum kewarisan islam yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, kemudian diterapkan pada masyarakat indonesia.

Hukum kewarisan dalam islam mendapat perhatian besar karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh pewarisnya. Naluriah manusia yang menyukai harta benda tidak jarang memotivasi seseorang untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan harta benda tersebut, termasuk di dalamnya terhadap harta peninggalan pewarisnya sendiri. Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia, hingga saat ini. Terjadinya kasus-kasus gugat waris di pengadilan, baik pengadilan agama maupun pengadilan negri, menunjukan fenomena ini.

B.    LATAR BELAKANG MASALAH

Kematian seseorang sering berakibat timbulnya silang sengketa dikalangan ahli waris mengenai harta peninggalannya. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi, bilamana pihak-pihak terkait tidak konsisten dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Perbedaan agama sangat memungkinkan terjadinya sengketa waris, sebab dalam Islam, mayoritas ulama’ telah mengambil suatu pendapat, bahwa ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris tidak bisa mendapatkan harta waris (terhalang), namun ada sebagian ulama’yang memperbolehkannya melalui jalan wasiat wajibah.

C.   RUMUSAN MASALAH

“Bagaimana hukum pembagian harta warisan bagi ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris dalam prespektif islam?”

BAB II. PEMBAHASAN

A.  Pengertian Waris

Secara bahasa warisan berasal dari warosa yang berarti, mengganti, memberi, mewarisi. Sedangkan secara istilah hukum kewarisan adalah hukum pembagian warisan, mengetahui bagian-bagian yang diterima dari harta peninggalan itu untuk setiap yang berhak. Dalam redaksi yang lain, Hasby Ash-Siddieqie mengemukakan pewarisan adalah hukum yang mengatur siapa-siapa orang yang mewarisi dan yang tidak mewarisi, bagian penerimaan setiap ahli waris dan cara-cara pembagiannya. Berbeda dengan dua definisi di atas, Wirjono Prodjodikoro menjelaskan warisan adalah soal apa dan bagaimana berbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu meninggal akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.

Hukum pewarisan, sering disebut dengan Faraid’. Lafadz faraidh (الفَرَئِض), sebagai jamak dari lafadz faridhah (فريضة), oleh ulama Faradhiyunmafrudhah (مفروضة), yakni bagian yang telah dipastikan atau ditentukan kadarnya.Adapun lafadz al-Mawarits (المواريث) merupakan jamak dari lafadz mirats (ميراث). Maksudnya adalah diartikan semakna dengan lafadz

التِّرْكَةُ الَّتِي خَلَفَهَا الْمَيِّتُ وَوَزَثَهَا غَيْرُهُ

“Harta peninggalan yang ditinggalkan oleh si mati dan diwarisi oleh yang lainnya (ahli waris)”.

Sedangakanpendapat-pendapatulamamengenaidefinisiilmufaraidhatauFiqihMawaris:

  • Muhammad al-SyarbinymendefinisikanilmuFaraidhsebagaiberikut:

الفِقْهُ المُتَعَلِّقُ بِالإِرْثِ وَمَعْرِفَةِ الْحِسَابِ المُوَصِّلُ اِلَى مَعْرِفَةِ ذَالِكَ وَمَعْرِفَةِ قَدْرِ الْوَجِبِ مِنَ التَّرْكَةِ لِكُلِّ ذِىْ حَقٍّ

“Ilmufiqih yang berkaitandenganpewarisan, pengetahuantentangcaraperhitungan yang dapatmenyelesaikanpewarisantersebutdanpengetahuantentangbagian-bagian yang wajibdarihartapeninggalanbagisetiappemilikhakwaris (ahliwaris)”.

  • Hasbi Ash-Shiddieqymendefinisikansebagaiberikut:

عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ مَنْ يَرِثُ وَمَنْ لاَ يَرِثُ وَمِقْدَارُ كُلِّ وَارِثٍ وَكَيْفِيَةُ التَّوْزِيْعِ

“Ilmu yang mempelajaritentangsiapa yang mendapatkanwarisandansiapa yang tidakmendapatkannya, kadar-kadar yang diterimaoelhtiap-tiapahliwarisdancarapembagiannya”.

  • Muhammad Muhyidin Abdul Hamid mendefinisikansebagaiberikut:

العِلْمُ الْمُوَصِّلُ إِلَى مَعْرِفَةِ قَدْرٍ مَا يَجِبُ بِكُلِّ ذِىْ حَقٍّ مِنَ التِّرْكَةِ

“Ilmu yang membahastentangkadar (bagian) darihartapeninggalanbagisetiap orang yang berhakmenerimanya (ahliwaris)”.

  • Rifa’IAriefmendefinisikansebagaiberikut:

قَوَاعِدُ وأُصُوْلٌ تُعْرَفُ بِهَا الْوَرِثَهُ وَالنَّصِيْبُ الْمُقَدَّرُ لَهُمْ وَطَرِيْقَهُ تَقْسِبْمِ التَّرْكَةِ لِمُسْتَحِقِّهَا

“Kaidah-kaidahdanpokok yang membahastentangparaahliwaris, bagian-bagian yang telahditentukanbagimereka (ahliwaris) dancaramembagikanhartapeninggalankepada orang (ahliwaris) yang berhakmenerimanya”.

Dari beberapadefinisitersebut, dapatdisimpulkanbahwailmufaraidhataufiqihMawarisadalahilmu yang membicarakanhalihwalpemindahanhartapeninggalandariseseorang yang meninggalduniakepada yang masihhidup, baikmengenaiharta yang ditinggalkannya, orang-orang yang berhakmenerimahartapeninggalantersebut, bagianmasing-masingahliwaris, maupuncarapenyelesaianpembagianhartapeninggalantersebut.

Beberapa ayat dan hadits mengenai kewarisan yaitu sebagai berikut :

Q.S An-Nisa ayat 7:

Artinya :

“Bagi laki-laki ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapak dan keluarga dekat, dan bagi wanita ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapak dan keluarga dekat, ada yang mendapat sedikit ada yang mendapat banyak, bagian yang diwajibkan”

 

Hadits Nabi :

“Pelajarilah oleh kalian Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang lain, dan pelajarilah ilmu fara’id dan ajarkanlah kepada orang lain. Karena Aku adalah manusia yang bakal terenggut kematian, sedangkan ilmu akan dihilangkan. Hampir dua orang yang bertengkar tentang pembagian warisan tidak mendapatkan  seorangpun yang dapat memberi fatwa kepada mereka” (riwayat Ahmad, Al-Nasa’i, dan Al- Daruqutni).

 B. Penyebab dan Penghalang Saling Mewarisi

Sebab-sebab saling mewarisi dalam Islam adalah :

  1. Al- Qarabah (Pertalian darah)
  2. Al-Musaharah (hubungan perkawinan)
  3. Al-Wala (memerdekakan hamba sahaya)

Sebab-sebab penghalang saling mewarisi dalam Islam adalah :

  1. Pembunuhan
  2. Perbudakkan
  3. Berbeda agama

C.  Pewarisan Berbeda Agama

Yang dimaksud berbeda agama di sini adalah antara orang islam dan non-islam. Perbedaan agama yang bukan islam (misalnya orang kristen dan Budha) tidak termasuk dalam pengertian ini.

Dasar hukum berbeda agam sebagai penghalang saling mewarisi adalah sebagai berikut :

“ Orang islam tidak berhak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak berhak mewarisi harta orang islam”. (riwayat Bukhori dan Muslim)

“Tidak dapat mewarisi antara dua orang pemeluk agama yang berbeda-beda”. (riwayat Ashab al-Sunan)

Kedua hadits tersebut dikuatkan oleh firman Allah dalam surat An-Nisa ayat    :

 

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberikan suatu jalan bagi orang-orang kafir (untuk menguasai orang mu’min)”.

Selain hadits dan ayat di atas, Nabi Muhammad SAW mempraktekkan pembagian warisan, bahwa perbedaan agama menyebabkan antara mereka tidak bisa saling mewarisi. Yaitu pada saat Abu Thalib meninggal dunia sebelum masuk islam, meninggalkan empat orang anak, Uqail, dan Talib yang belum masuk islam, dan Ali serta Ja’far yang telah masuk islam. Oleh Rosulullah SAW harta warisan diberikan kepada Uqail dan Talib. Ini menunjukan bahwa perbedaan agama menjadi penghalang untuk bisa mewarsisi.

Mengenai ketentuan hukum tentang pemberian hak waris terhadap ahli waris beda agama, menurut Pengadilan Agama Jakarta; “ahli waris yang berbeda keyakinan dengan pewaris adalah terhalang untuk menjadi ahli waris.” seperti yang telah dijelaskan dalam KHI Pasal 171 huruf (c). Sedangkan ayat-ayat hukum tentang wasiat wajibah telah dinasakh oleh ayat-ayat mawaris maupun oleh hadis Nabi SAW. Berdasarkan pertimbangan ini PA Jakarta menetapkan untuk tidak memberikan hak waris kepada ahli waris beda agama.

Pendapat ibn Hazm mengatakan wasiat itu hukumnya wajib terutama untuk kaum krabat yang terhalang untuk mendapatkan warisan. Berawal dari pemikiran ibn Hazm, maka muncul wasiat wajibah yaitu wasiat yang pelaksanaanya tidak dipengaruhi atau tidak tergantung kepada kemauan atau kehendak si pewasiat, akan tetapi penguasa atau hakim sebagai aparat negara mempunyai wewenang untuk memaksa atau memberikan putusan wasiat wajibah kepada kaum krabat tertentu. Hal itu telah dilakukan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam perkara No. 51.K/AG.1999. Wasiat wajibah yang diberikan Mahkamah Agung tersebut adalah untuk saudara kandung non muslim. Padahal, wasiat wajibah dalam Kompilasi Hukum Islam dianalogikan kepada anak angkat dan orang tua angkat. Sedangkan perbedaan agama tetap merupakan salah satu penghalang untuk dapat saling mewarisi. Setelah diteliti dari data-data yang telah dikumpulkan, Mahkamah Agung memberikan wasiat wajibah kepada saudara kandung non muslim berdasarkan pemahaman Al-Quran surah Al-Baqarah /2:180.,

Artinya:

diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa

Pertimbangan lainnya mengenai hukum waris ini, yaitu untuk menjaga keutuhan keluarga dan mengakomodir adanya realitas sosial masyarakat Indonesia yang pluralitas yang terdiri dari berbagai etnis dan keyakinan. Serta kemaslahatan untuk memenuhi rasa keadilan. Pemberian wasiat wajibah kepada saudara kandung non muslim ini telah memberikan sumbangan yang baru dalam pembaharuan hukum Islam di Indonesia, tapi bersifat terbatas.Artinya, ahli waris non muslim tetap sebagai orang yang terhalang untuk mendapatkan bagian dari harta peninggalan saudara kandungnya yang muslim. Upaya ini sebagai langkah positif bahwa hukum Islam tidaklah eksklusif dan diskriminatif terhadap pemeluk agama yang lain, tapi hukum Islam dapat memberikan perlindungan dan rasa keadilan kepada non muslim.

Majelis Hakim pada Mahkamah Kasasi berpendapat bahwa, ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris, dapat memperoleh pusaka melalui jalan wasiat wajibah. Sedangkan nasakh-mansukh ayat wasiat dengan waris, berlaku untuk sementara waktu. Ketika ayat hukum yang dinasakh tersebut dapat membawa kemaslahatan dan terciptanya keamanan serta kesejahteraan masyarakat, maka hukum tersebut berlaku kembali. Relevansi wasiat wajibah terhadap realitas masyarakat Indonesia yang beragam, pemerintah beserta ulama’ berupaya untuk mendukung berlakunya wasiat wajibah demi terciptanya kemaslahatan dan kedamaian, khususnya dalam sebuah keluarga. Sesuai dengan ungkapan “kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus berorientasi kepada kemaslahatannya.”

Pengertian wasiat wajibah sendiri adalah tindakan yang dilakukan oleh penguasa atau hakim sebagai aparat negara untuk memaksa, atau memberi putusan wajib wasiat bagi orang yang telah meninggal, yang diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan tertentu. Yaitu memberikan bagian kepada ahli waris yang mempunyai pertalian darah, namun oleh nash tidak diberikan bagian.

 

KESIMPULAN

Dari uraian artikel yang kami susun dalam karya tulis ini, kami dapat menarik beberapa kesimpulan mengenai pembagian harta waris kepada ahli waris yang berbeda agama (non muslim).

1. Firman Allah:

“Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagianpembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa`atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Nisa [4] : 11)

 

“…Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”. (QS. al-Nisa [4]: 141).

 

2. Hadis Rasul Allah S.A.W.

Dari Usamah bin Zaid r.a., sesungguhnya nabi s.a.w. bersabda:

“Orang Muslim tidak (boleh) mewarisi orang Kafir, dan orang Kafir tidak (boleh) mewarisi orang Muslim” (HR. muttafaq alaih).

Dari Abdullah bin Umar r.a., dia berkata: Rasul Allah s.a.w. bersabda:

“tidak ada saling mewarisi antara dua pemeluk agama (yang berbeda)”(HR. Ahmad, imam empat dan Turmudzi).

 

Berdasarkan keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 musyawarah nasional VII tentang waris beda agama. Dengan bertawakkal kepada Allah SWT, ditetapkan bahwa:

 

  1. Hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewarisi antar orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan nonmuslim);
  2. Pemberian harta antar orang yang berbeda agama hanya dapat dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.

 

Berpedoman pada firman Allah, hadis Rosulullah, dan keputusan fatwa MUI. Kami dapat menarik kesimpulan bahwa ahli waris yang berbeda agama dengan pewarisnya tidak akan mendapatkan bagian seperti saudaranya yang muslim. Namun dalam hal ini  ahli waris yang beda agama hanya akan diberikan harta dalam bentuk hibah atau hadiah. Karena sudah jelas bahwa ahli waris yang beda agama tidak bisa mendapatkan harta waris (terhalang).

3 Responses to “Pembagian Harta Waris Beda Agama Dalam Perspektif Syari’ah”

  1. SEM Mike says:

    Hello Website Owner! I enjoyed your blog. I noticed you were using WordPress and I figure I’d share a tip with you. There’s a plugin for WordPress I use on my own websites that will help you boost your traffic significantly, guaranteed. If you’re serious about getting more traffic to your website and making money, you should check it out http://tiny.cc/xyd5d. Keep up the good work!

  2. Appreciate it for all your efforts that you have put in this. very interesting information.

Leave a Reply