syi'ar pengetahuan

Just another Blog UMY site

Efek Terjepitnya Saraf

Posted by Suhendar 3 Comments

Efek Terjepitnya Saraf

Dalam dunia kedokteran, saraf kejepit dinamakan Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Selain menerima tekanan, faktor  penyebab lain terjadinya kondisi tersebut  ialah trauma (jatuh terduduk, kecelakaan) yang tidak ditangani dengan tepat, kerusakan pada bantalan tulang, sering mengangkat benda berat, pengeroposan tulang akibat usia yang terjadi di usia 40 tahun lebih, atau juga sering membunyikan leher kepala.

Faktor-faktor tersebut dapat merusakkan jaringan saraf, dan akhirnya menyebabkan herbiasi –keluarnya atau menonjolnya suatu organ melalui celah dalam tubuh. Untuk memudahkan penggambaran, seperti terjadinya ‘turun bero’. Tapi pada kasus saraf kejepit, TKP-nya berada ditulang belakang. penonjolan itu kemudian menekan saraf dibelakang. Penekanan inilah yang menimbulkan keluhan.

Jika sebuah saraf terjepit otomatis mengganggu aliran rangsangan ke saraf lainnya, sehingga mempengaruhi perjalanan fungsi saraf. Keluhan yang dirasakan pertama kali biasanya pada saraf perasa (sensor) seperti nyeri amat sangat, kesemutan, dan mati rasa atau kelemahan.

Akan tetapi, bila sampai mengenai saraf vital seperti sumsum saraf, penderita akan merasakan hilangnya koordinasi fisik dan keseimbangan serta sensitivitas yang ekstrim pada semua jenis kontak fisik. Selanjutnya, jika dalam jangka panjang di diamkan, dapat mengenai saraf penggerak (motorik) yang berujung kerusakan saraf permanen dan juga kelumpuhan.

Saraf kejepit bisa terjadi pada seluruh ruas tulang belakang, mulai dari tulang leher sampai tulang ekor. Tetapi paling sering dialami pasien di punggung bagian bawah, leher, bahkan di wajah sekalipun tak luput dari kasus saraf kejepit meski kasusnya terbilang jarang.

Dalam mendeteksi ada saraf tulang belakang bermasalah, dokter saraf akan menyuruh penderita berbaring kemudian salah satu kaki diangkat, ditekuk, dan disilangkan. Jika pasien merasa sakit, ada kemungkinan saraf di salah satu tulang belakang terjepit. Tapi agar lebih meyakinkan, penderita perlu melakukan MRI.

 

Tidak  Selalu Operasi

Ada beberapa cara untuk mengobati saraf kejepit ini, yaitu pemberian obat, fisioterapi, dan cara terakhir dengan operasi. Sembari mengonsumsi obat, penderita saraf kejepit juga disarankan untuk melakukan terapi , yaitu fisioterapi memakai diatermi. Ini bertujuan membuka pembuluh darah agar bisa memberi ‘makan’ saraf, serta menghilangkan inflamasi (peradangan).  Terapi ini juga dapat meningkatkan kemampuan tubuh dan membantu mengurangi rasa sakit, sehingga pasien dapat lebih leluasa menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penderita juga harus beristirahat untuk mengurangi sakit serta peradangan, dan jika diperlukan ia memakai stagen khusus untuk membantu membatasi gerakan dibagian pinggang, sehingga nyeri pada penderita bisa dikurangi. Selain itu juga membantu agar struktur tulang pinggang sejajar. Jadi menangani saraf kejepit tidak harus selalu dioperasi.

Operasi baru dilakukan jika penderita sudah diberikan obat dan terapi secara maksimal, namun masih merasakan nyeri tak tertahankan, atau adanya ancaman kelumpuhan. Tapi ada efek yang ditakuti usai operasi, yaitu sekitar 50% akan menimbulkan jaringan parut usai operasi.

Categories: kedokteran

PROFIL AKU

Suhendar


Popular Posts

Pengangguran dan Pro

Kehilangan pekerjaan dapat menjadi kejadian ekonomi yang paling mengerikan dalam ...

Cara Mengatasi Anak

Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin bisa dilakukan oleh siapa ...

khasiat pegagan

faktor usia dapat berpengaruh terhadap daya ingat manusia. selain faktor ...

aqidah-akhlaq

Tawadhu' Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji ...

pengaruh tayangan te

Televisi (TV) merupakan media elektronik yang digemari oleh semua kalangan, ...