Mencari Petunjuk Pengobatan HIV di Pohon Neem (Nimba)

Friday, 25 May 2012 By: Suhendar Ramadhan Affandy

 

Berdasarkan data awal yang mengisyaratkan ekstrak pohon yang melimpah di daerah tropis dan daerah subtropis yang dapat menghentikan atau mengobati virus yang berbahaya seperti HIV.

Obat tradisional sering kali kita temui dan digunakan di daerah-daerah terpencil yang jauh dari akses pengobatan modern. Ketika saya berkunjung ke suatu daerah saya melihat ada sebuah desa yang menggunakan kulit kayu pohon nimba untuk membersihkan gigi mereka. Dari fenome ini munculdaya tarik ilmiah untuk menciptakan sebuah produk alami yang dapat menyembuhkan penyakit. Setelah beberapa waktu mencari data mengenai penelitian ini ternyata ada seorang asisten profesor di Kean University of New Jersey yang bernama Arora, menggali informasi-informasi mengenai pohon nimba ini. Dia terus mencari pemahaman sifat kuratif pohon nimba dalam memerangi virus yang menyebabkan AIDS.

Pada hasil awal penelitiannya tampaknya menunjukkan bahwa ada senyawa dalam ekstrak nimba yang menargetkan protein penting untuk mereplikasi HIV. Jika penelitian selanjutnya dapat mendukung penemuannya, maka karya profesor ini dapat memberikan kontribusi baru untuk dokter dan para pengembang obat terapi HIV-AIDS.

Ekstrak daun nimba, kulit pohon dan bunga banyak digunakan di seluruh benua India untuk melawan bakteri patogen dn jamur. Semakin jauh anda pergi ke desa-desa di India, anda akan melihat lebih banyak lagi orang yang menggunakan nimba. Cabang pohonnya digunakan sebagai pengganti pasta gigi dan sikat gigi yang bertujuan agar gigi dan gusi tetap sehat, dan ekstrak nimba juga digunakan untuk mengatur penyebaran malaria.

Praktisi pengobatan Ayurvedic, sebuah bentuk pengobatan alternatif tradisional India meresepkan ekstrak nimba dan mengkombinasikan ekstrak nimba dengan herbal lain, untuk mengobati penyakit jantung dan mengontrol diabetes. Pohon nimba yang memiliki nama spesies Azadirachta Indica dan tergolong kedalam famili mahoni, juga banyak tumbuh di Afrika Timur.

Pelatihan ilmiah, Arora memberikan keahliannya dalam biologi sel kanker, farmakologi, bioinformatika dan biologi struktural. Ketika ia mendirikan laboratorium dengan jurusan penelitian baru di Universitas Kean tahun 2008, Arora memutuskan untuk menggabungkan pengetahuan dengan jangka waktu, daya tarik dengan produk alami. Dan pohon nimba memberikan isyarat untuk merealisasikan semua itu.

Arora terjun ke literatur ilmiah untuk mengetahui tentang ekstrak nimba secara lebih mendalam. Dari literatur ilmiah yang dibaca, Arora menemukan dua laporan yang menunjukan bahwa ketika HIV-AIDS di Nigeria dan India diberi ekstrak nimba, jumlah HIV dalam darah mereka turun. Arora merasa penasaran dengan laporan ilmiah tersebut sehingga Arora memutuskan untuk meneliti apakah dia dapat mengetahui dan menemukan zat-zat apa saja yang terdapat dalam ekstrak nimba yang berguna untuk menangkal virus.

Kemudian dia beralih kepada bioinformatika dan biologi struktural untuk melihat wawasan apa yang dapat diperoleh dari pembuatan model protein HIV dengan senyawa yang dikenal dalam ekstrak nimba di komputer. Dari literatur, ia dan murid-muridnya menemukan 20 senyawa yang terdapat dalam ekstrak nimba. Ketika mereka menggabungkan senyawa tersebut dengan protein penting bagi siklus hidup HIV, Arora dan timnya menemukan bahwa sebagian besar senyawa nimba menyerang protease HIV, protein penting untuk membuat salinan baru dari virus.

Tim Arora yang sekarang berkerja di laboratorium melakukan percobaan apakah model komputer tahan dengan sampel yang sebenarnya. Arora berharap bahwa pohon nimba akan memberikan cara yang lebih murah dan lebih mudah diakses untuk melawan epidemi HIV-AIDS dinegara berkembang, dimana terapi saat ini adalah terapi yang cukup mahal untuk dijangkau oleh orang banyak. Tentu harapan kedepannya ada potensi untuk menemukan obat baru berdasarkan molekul yang terdapat dalam nimba.

«

»


Leave a Reply