pertanian indonesia

Just another Blog UMY site

  1. Latar Belakang

Buah salak merupakan komoditas buah yang telah banyak dibudidayakan di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu penghasil salak adalah Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Menurut data Badan Pusat Stastistika (BPS) Kabupaten Sleman (2014), terdapat 4.653.790 rumpun tanaman salak yang 88% diantaranya jenis salak pondoh (4.095.178 rumpun).

Dalam proses budidaya tanaman salak, ada limbah pertanian yang dihasilkan yaitu pelepah daun salak. Pelepah daun salak merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dari proses perawatan yaitu pemangkasan yang dilakukan setiap 4 bulan sekali. Dalam setiap pemangkasan menghasilkan 2-3 pelepah salak/tanaman (Adi, 2008). Menurut Kemalasari dan Widiyorini, (2015) berat tiap 3 batang pelepah salak mencapai 0,5-1 kg. Pada populasi tanaman salak di Kabupaten Sleman, yang dalam 1 rumpun terdiri dari 5 tanaman pelepah salak, pelepah salak yang dihasilkan dari 4.653.790 rumpun sebanyak 7.756.317 kg/pemangkasan. Jumlah tersebut sangat besar sehingga perlu dilakukan pemanfaatan terhadap pelepah salak. Salah satu pemanfaatan pelepah salak supaya menjadi pupuk organik adalah melalui proses pengomposan.

Permasalahan yang pertama adalah pupuk organik berupa kompos memiliki kandungan hara yang lebih sedikit dibandingkan dengan kandungan hara yang dimiliki pupuk anorganik. Hal tersebutlah yang menyebabkan penggunaan pupuk organik kompos memerlukan jumlah yang banyak untuk dapat memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Penggunaan pupuk kompos dalam jumlah banyak mengakibatkan ketidak efisiensian penggunaan bahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengefisiensian penggunaan bahan berupa peningkatan kandungan hara dalam pupuk organik kompos. Peningkatan kandungan hara pada pupuk organik kompos menyebabkan jumlah pupuk organik kompos yang digunakan lebih efisien dibanding pada pupuk organik kompos yang tidak ditingkatkan kandungan haranya.

Permasalahan yang kedua adalah pelepah daun salak mengandung selulosa dan lignin yang cukup tinggi maka pengomposan pelepah daun salak membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada umumnya untuk memperoleh kompos pelepah salak yang baik dibutuhkan waktu enam sampai delapan bulan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan aktivator dalam proses pengomposan pelepah salak untuk mempercepat proses pengomposan.

 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pitoyo (2016), penambahan aktivator Effective Microorganism 4 (EM4) dan tetes tebu (molase) dapat mempercepat proses pengomposan pelepah salak menjadi 4 minggu. Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa penambahan aktivator EM4 merupakan aktivator paling baik dalam pengomposan pelepah salak. Pengomposan pelepah daun salak sebanyak 10 kg  yang diberi aktivator berupa EM4 sebanyak 10 ml mengandung air 15,92%, C 21,1%, N 2,04%, BO 47,72%, C/N rasio 13,27%.

Selain menggunakan EM4 untuk mempercepat proses pengomposan, sebagai upaya meningkatkan kandungan nutrisi pada kompos pelepah salak, perlu ditambahkan bahan tambahan atau bahan aditif dalam proses pengomposan pelepah salak. Bahan tersebut adalah tepung tulang ayam dan ampas tahu. Menurut Rina (2013), limbah tahu adalah salah satu limbah produksi yang memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi, karena dalam ampas tahu terdapat unsur hara makro dan mikro yang dapat bertindak sebagai sumber makanan bagi pertumbuhan mikroba. Penambahan limbah ampas tahu pada proses pengomposan pelepah salak diharapkan dapat menjadi penyedia makanan bagi mikro organisme dekomposer. Sedangkan tepung tulang mengandung unsur hara N sebesar 10% dengan P sebesar 2,1% dan K sebesar 1% (Tarigan, 2010).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rina (2013), penambahan tepung tulang ayam berpengaruh terhadap peningkatan kadar N, P dan K pada pupuk organik cair industri limbah tahu. Peningkatannya adalah kadar N dari 742 ppm menjadi 1380 ppm atau sebesar 0,138%. Kadar P dari 20 ppm menjadi 910 ppm atau 0,091%, dan kadar K dari 80 ppm menjadi 840 ppm atau 0,084%. Sedangkan berdasarkan komunikasi pribadi dengan Mulyono (2017), penambahan ampas tahu 10% dan tepung tulang 10% terhadap pengomposan pelepah kelapa sawit menghasilkan kompos dengan kadar C 18,11%, N total 1,63%, BO 31,22%, C/N rasio 11,31 dan kadar lengas 16,78%.

  1. Perumusan Masalah
  2. Apakah penambahan ampas tahu dan tepung tulang ayam berpengaruh terhadap peningkatan kandungan nutrisi dan kualitas kompos pelepah salak?
  3. Berapakah perbandingan antara ampas tahu dan tepung tulang ayam yang sesuai dalam upaya peningkatan kandungan nutrisi dan kualitas kompos pelepah salak?
  1. Tujuan
  2. Mengetahui pengaruh penambahan ampas tahu dan tepung tulang ayam terhadap kandungan nutrisi dan kualitas kompos pelepah daun salak.
  3. Mendapatkan perbandingan antara ampas tahu dan tepung tulang yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi dan kualitas kompos pelepah salak

FIle PDF:

Proposal_kompos_salak_tahap_pasca_seminar_1

Categories: Proposal

PROFIL AKU

20140210170


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Kesan dan Pesan Tent

universitas muhammadiyah yogyakarta merupakan salah satu dari universitas terbaik di ...

Pemanfaatan Blog unt

Perkembangan dunia IPTEK selalu mengalami perkembangan, perkembanan dunia teknologi hampir ...

Penyelamatan Lingku

Pertanian berkelanjutan merupakan konsep bertani dengan tujuan tidak hanya meningkatkan ...

Peran Generasi Muda

Peran generasi muda dalam pembangunan terutama dalam bidang pertanian sangatlah ...