Membuat anak-anak suka Sayuran dan Buah

Para orang tua mengeluhkan anak-anaknya  susah untuk makan sayur dan buah disini saya akan  membantu memberikan  informasi bagaimana caranya utntuk para orang tua lebih mudah  membuat anak menyukai sayuran dan buah.

  1. Membuatkan tampilan yang menarik dari sayuran dan buah caranya  dengan  membuat karakter kartun yang anak-anak sukai. Contoh Karakter Mickey, Doraemon, Spiderman, Batman dan lain – lain./ appearance
  2. Rasa dari sayuran yang dibuat sesuai dengan  kemauan  anak-anak  enak  dan nikmat/ Taste delicious
  3. Mix Cooking dengan cara mencampurkan sayur di nasi, kue dan makan-makanan yang anak sukai . Contohnya nasi goreng dicampur dengan wortel , roti di tambahin dengan  tomat

 

Energi memang bukan menjadi tujuan utama yang ingin didapat dari mengonsumsi sayur maupun buah. Konsumsi keduanya lebih ditujukan agar kebutuhan tubuh akan mineral maupun serat terpenuhi dengan baik. Jumlah protein maupun karbohidratnya terhitung sedikit. Secara biologis, poin inilah yang dipaparkan Rose Gerber dari University of Pittsburg sebagai penyebab pertama mengapa anak-anak benci sayur: keduanya tak menyediakan tenaga yang cukup untuk aktif bergerak kesana-kemari.

Meski asumsi ini terbilang lemah, faktor biologis sebagai penyebab kedua yang Rose paparkan mirip dengan pendapat psikolog klinis sekaligus profesor dari California State University, Edward Abramson, Ph.D. Rasa tidak suka anak-anak pada sayuran, bagi keduanya, sesungguhnya berasal dari rasa pahit yang terkandung di dalamnya. Rasa pahit dalam sayuran disebabkan oleh kandungan kalsium serta senyawa bermanfaat lain seperti fenol, favenoids, isoflavon, terpene, dan glucosmolates.

Berbeda dengan orang dewasa, rasa pahit adalah rasa yang asing bagi anak-anak. Sementara rasa manis dan asin lebih akrab di lidah sebab demikian lah rasa ASI, misal, atau asupan awal lain. Ini juga berkaitan dengan bagaimana manusia makan sejak zaman purba atau zaman dimana manusia sedang trial and error dengan berbagai bahan makanan yang ada di sekitarnya.
Kala itu manusia menyadari bahwa dari sekian banyak daun maupun bahan makanan lain di alam yang terasa pahit seringkali memiliki racun mematikan. Pahit akhirnya menjadi rasa yang otak manusia asosiasikan dengan hal yang merugikan tubuh saat dikonsumsi, dan secara natural menjadi insting bagi generasi manusia baru.

Orang dewasa memiliki waktu yang lebih lama untuk belajar bahwa meski sebagian dedaunan memiliki rasa pahit, namun tak berbahaya bagi tubuh. Terlebih karena tahu manfaatnya yang besar bagi tubuh, lidah mereka lama-kelamaan beradaptasi serta mentolerir rasa pahit itu. Di sisi lain, anak-anak mirip dengan manusia generasi trial dan error. Mereka akan jujur bereaksi bahwa sayuran mesti dihindari. Tubuh anak-anak juga belum memiliki kapasitas detoksifikasi yang memadai sehingga lebih rentan terhadap segala potensi (yang dianggap) racun.

Anak-anak   menyukai rasa manis adalah mekanisme bertahan hidup yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari era manusia membangun peradabah modern hingga kini ketika orang-orang kecanduan makanan gula dan jumlah penderita diabetes terus naik. Obesitas juga demikian—meski di era dahulu obesitas belum menjadi musuh utama manusia sebagaimana kini sedang terjadi.

Sementara makanan yang berasal dari sayuran (atau buah) hadir dalam suasana yang kontras: dipaksa orang tua di meja makan sampai rasa serta tampilan makanan sendiri yang tak dibikin enak. Kondisi ini melahirkan pemahaman di bawah alam sadar si anak, bahwa makanan cepat saji itu hadiah, sedangkan sayuran adalah kewajiban. Sungguh sebuah sistem yang merugikan si anak sendiri.

Cinta Datang Karena Terbiasa

Menurut riset Terence M. Dovey dan kawan-kawan yang diunggah di Jurnal Appetite pada 2008 lalu, ketidaksukaan seseorang pada buah atau sayuran bisa disebabkan oleh dua faktor: food neophobia dan picky/fussy eatingFood neophobia secara umum adalah keengganan untuk makan atau menghindari makanan baru. Sementara picky/fussy eating bisa dicontohkan dengan anak yang mengonsumsi banyak jenis makanan dan melakukan pemilihan dengan menyaring makanan yang serupa alias dipilih satu saja.

Melalui penelitiannya, Dovey dan kawan-kawan memahami bahwa kedua jenis ini, dalam konteks anak-anak dan kebencian terhadap sayur dan buah, adalah buah dari pembiasaan sejak kecil. Hasil akhir berbentuk makanan apa saja yang akan dikonsumsi oleh si anak adalah konstruk sosial dengan faktor-faktor seperti umur, alasan-alasan penolakan, lingkungan, hingga budaya. Penelitian ini, kata Dovey, bisa jadi rujukan untuk mereka yang ingin mengembangkan strategi bagi orang tua agar anaknya cinta memakan sayur dan/atau buah.

Berbagai ahli klinis hingga psikolog mencoba memberi tawaran strategi. Meski ada bagian-bagian yang berbeda, namun rata-rata bersepakat bahwa sesuai penelitian Dovey dan kawan-kawannya cinta pada sayuran bisa datang karena terbiasa. Jika memang secara biologis anak-anak benci sayuran, maka tak ada cara lain kecuali untuk mengkonfrontasinya langsung, sedikit demi sedikit.
Persoalannya kemudian adalah kadang orang tua tak memahami ini. Maka, alih-alih menceramahi si anak tentang manfaat besar sayuran dengan teori-teori ilmiah dan menyuruhnya dengan tegas agar tak menyisakan sayuran di piringnya, mulailah dengan pelan-pelan. Sebagaimana diet yang bisa dijalani dari upaya paling ringan, perkenalkan sayur dan buah pada anak lewat satu dua gigitan saja. Bukan langsung disuguhi satu mangkuk brokoli atau sepiring sop, misal.

Makin lama, tambah porsi sayuran si anak, dan sajikan dalam kondisi ketika si anak sedang lapar-laparnya. Kata pepatah klasik, apapun makanannya akan terasa enak saat dimakan ketika lapar. Anda juga bisa mengenalkan sayuran yang masih mengandung rasa manis di awal-awal, seperti tomat atau wortel.

Jika Anda berbakat memasak atau memiliki waktu serta energi lebih, masaklah sayuran menyerupai makanan non-sayuran kesukaan si anak. Atau dalam porsi yang sedikit, bubuhkan bumbu maupun bahan makanan pelengkap lain yang anak suka. Ajak juga si anak saat masak. Seseorang akan memakan hasil makananya, meski rasanya tak sempurna.

Lama-kelamaan, setelah perkenalan dengan berbagai macam si anak mulai terbiasa, tanyakan pada anak sayuran atau buah-buahan jenis apa yang menjadi favoritnya. Suguhkan sayur favorit si anak di berbagai kesempatan makan, dan berbelanjalah bersama si anak untuk membeli sayur maupun buah tersebut.

Penuhi kulkas dengan beragam sayuran dan buah, termasuk yang anak Anda sukai. Ajarkan secara tersirat pada anak Anda bahwa sayuran dan buah adalah bahan makanan yang selalu tersedia dan siap dimakan bersama. Bahwa daripada mengonsumsi makanan ringan dengan kalori dan kolesterol menumpuk, buah-buahan di kulkas siap dijadikan cemilan pengganjal perut atau untuk suguhan kepada para tamu yang berkunjung.

Sebagaimana memulai kebiasaan lain pada umumnya, melatih anak agar suka sayur dan buah memang berat. Tapi hasil yang diraih jika mau konsisten dan tak mudah menyerah juga sepadan. Anak akan tumbuh dengan fisik yang lebih sehat karena komposisi makanannya seimbang. Sampai dewasa mereka akan memakannya dengan ikhlas.
Semoga bermanfaat buat semua..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar