Spiritualitas Bisnis dan Sebuah Proses Transendensi

“Perusahaan pada hakikatnya adalah mesin uang.” Demikian diungkapkan seorang panelis dalam panel diskusi “Vitalisasi Spiritualitas dalam Pemberdayaan Ekonomi” yang diadakan oleh Pengurus Pusat Majelis Buddhayana Indonesia bersama Kompas.

Dengan meyakini pernyataan tersebut, jati diri sebuah perusahaan akhirnya tinggal sebagai pengganda kapital belaka, atau kapitalis.

Selanjutnya panelis itu mengupas empat jenis kapitalis, mulai dari kapitalis buas yang bertingkah semacam binatang ekonomi. Menelan segala, tanpa peduli apa pun demi harta dan laba. Mereka ini menindas buruh, menginjak hak konsumen, “bersahabat dekat” dengan penguasa demi usahanya, dan harta negara dijarahnya.

Dalam perburuhan sikapnya pun jelas; jika satu buruh mundur, masih seribu buruh mengantre mencari kerja. Mereka tidak memusingkan buruh. Tidak ada pemangku kepentingan (stakeholders) selain pemilik modal dan eksekutif perusahaan. Dan ini biasanya orangnya pun sama. Uang menjadi sebuah nilai absolut dan sukses hanya berarti satu: kaya. Kapitalis jenis inilah yang oleh Karl Marx disebut kaum burjouis.

Jenis kedua adalah kapitalis egois yang, antara lain, memandang buruhnya seperti memandang “angsa bertelur emas”. Buruh diperlakukan dengan lebih ramah. Namun, jangan salah. Sikap itu bukan lantaran kesadaran etis yang meningkat, melainkan karena mereka sudah cukup cerdas untuk menyadari bahwa produktivitas buruh yang lapar akan sangat rendah. Dari perbuatan baiknya kepada buruh, dia mendapat imbalan laba.

Kapitalis jenis ini hanya peduli kepada dirinya sendiri dan alat produksinya yang berupa buruh. Kepada pelanggannya, partner usahanya, lingkungannya, dan kepada negara, mereka belum begitu peduli. Mereka masih menggelapkan pajak, masih berkolusi dengan pejabat, dan masih melanggar hak konsumen.

Selanjutnya, kapitalis jenis ketiga adalah pengusaha yang sudah menyadari arti tanggung jawab sosial. Mereka menyadari bahwa kehidupan usahanya adalah sebuah realitas saling ketergantungan, interdependen di dalam sebuah ruang sosial yang rentan terganggu keseimbangannya.

Domain stakeholders mulai melingkupi pemasok, pelanggan, buruh, pesaing, dan masyarakat luas. Pemasok mulai dibina agar kualitas dan kuantitas pasokan selalu terjamin. Pesaing bukan dipandang sebagai musuh, profesionalisme dipraktikkan. Mutu produksi pun diutamakan, dan pelayanan mulai dibudayakan.

Hubungan dengan masyarakat luas mulai dibina dengan memberikan sumbangan-sumbangan sosial yang masih sarat dengan pamrih promosi. Keharmonisan dengan masyarakat sekitarnya sudah menjadi sebuah keniscayaan. Sumbangan-sumbangan sosial dianggarkan. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mendapatkan citra yang positif. Sikap sosialnya ini pun masih amat labil. Maka, ketika usahanya menemui kesulitan, dana sosial itu pun langsung menguap begitu saja.

Sementara itu, pengusaha jenis keempat sudah memiliki wawasan global dan memiliki misi universal. Kepedulian sosial mereka tidak lagi bersifat lokal, melainkan sudah mendunia dengan peduli pada isu-isu global seperti isu jender, demokrasi, hak asasi manusia, hak-hak binatang, dan demokrasi. Kita tahu ada sebuah produsen alat kecantikan yang menentang penggunaan binatang sebagai kelinci percobaan sebuah produk baru.

Mereka ini sudah berlaku independen dan profesional. Mereka tidak berusaha mendekati penguasa untuk mendapatkan privilese. Mereka tidak membuang limbah sebelum diolah. Mereka mengembangkan sumber daya manusianya dengan memberikan pendidikan dengan tujuan meningkatkan kemanusiaan karyawannya. Mereka ini memiliki kepedulian yang tinggi kepada karyawannya. Karyawan tidak dipandang semata-mata sebagai alat meraup profit dan meningkatkan produktivitas semata.

Berkaca pada kenyataan keseharian yang kita alami, mungkin kita harus bisa menerima kenyataan bahwa di mana-mana kita bisa temukan kapitalis buas dengan amat mudah. Masyarakat luas telah menjadi korbannya karena sebagai pelanggan sering kali tertipu. Sebaliknya, amat sedikit kapitalis spiritual kita temukan di kehidupan nyata yang semakin lama semakin berat tantangannya, dan permasalahannya pun semakin kompleks.

Gerakan Muhammadiyah

Dengan melihat ke belakang untuk menggali kaitan antara spiritualitas dan kebangkitan ekonomi itu, seorang panelis lainnya menunjuk pada sejarah pergerakan Islam ketika pada awal abad ke-19 terjadi reformasi Islam.

Ketika itu gerakan ekonomi Muhammadiyah yang diawali dari isu sentral pemurnian agama dipelopori oleh kaum pedagang Laweyan (Solo) dan Pekajangan (Pekalongan) yang melahirkan rasionalitas Islam. Mereka tidak mau kompromi dengan budaya lokal atau beragam ritual lokal dan sebagainya. Semua kegiatan ritual yang dianggap membuang uang karena harus mengadakan berbagai upacara, ditransformasikan menjadi kegiatan yang lebih produktif berupa aktivitas sosial.

Jadi, surplus ekonomi para pedagang Muhammadiyah itu tidak digunakan untuk mengadakan selamatan atau untuk mendoakan orang yang sudah meninggal—seperti tradisi semula, melainkan digunakan untuk membangun sekolah, rumah yatim, dan pelayanan kesehatan.

Itulah sumbangan terbesar dari gerakan purifikasi Islam, yaitu ketika biaya ritual konsumtif beralih menjadi sebuah gerakan sosial yang produktif. Orang-orang Muhammadiyah dikenal mempunyai etos yang tinggi, pekerja keras, dan hemat.

Akan tetapi, kemajuan yang dicapai Muhammadiyah itu bukannya tidak membawa implikasi. Menyaksikan kiprah orang-orang Muhammadiyah yang dianggap lebih profesional, pemerintah mulai menarik mereka ke dalam birokrasi. Orang Muhammadiyah belajar menjadi pejabat, menjadi Korpri, bukan lagi menjadi pembawa inspirasi dalam spirit kapital. Muhammadiyah kini tinggal mewarisi.

Alhasil, kini semua kiprah sosial dalam bisnis Muhammadiyah itu, menurut seorang panelis, sudah menjadi rutinitas belaka. Jiwa enterpreneurship hilang.

Apa yang dikerjakan gerakan Muhammadiyah pada waktu itu merupakan salah satu contoh konkret tentang bagaimana sebuah perusahaan bisa berkiprah untuk membawa rahmat bagi masyarakatnya. Diingatkan, nilai-nilai apa pun, termasuk nilai spiritualitas sekalipun, perlu atmosfer yang sesuai. Misalnya, bagaimana sampai etos pengusaha Korea bisa mendongkrak perkembangan ekonomi Korea sedemikian pesat, yang sering diduga itu juga didasari ajaran konfusianisme.

Proses transendensi

Lalu, bagaimana sebenarnya spiritualitas berperan dalam bisnis? Pada tataran spiritualitas, bisnis kita tidak bisa lagi melulu bicara profit, transaksi, manajemen, akuntansi, atau strategi bisnis saja, tetapi kita juga harus mampu berbicara tentang pelayanan, pengembangan komunitas, martabat manusia, tanggung jawab sosial, preservasi lingkungan hidup, keadilan, kebenaran, ibadah, cinta, bahkan tentang kemuliaan Tuhan.

Spiritualitas ini tidak muncul secara otomatis, tetapi berproses melalui proses-proses transendensi, yaitu olah pikir dalam batin atau kontemplasi yang mendalam dan sistematik sehingga akhirnya berkarakter spiritual, kental dengan nilai-nilai religius, dan sarat dengan pengalaman rohani. Transendensi berarti proses melampaui (to transcend). Yang dilampaui adalah hal-hal biasa, hal-hal yang umum, batas-batas normal.

Proses transendensi terjadi ketika kita bisa mengatakan, “cangkir adalah alat untuk memuliakan tamu” daripada sekadar berpikir “alat untuk minum”. Kita masih bisa mengatakan lagi, “cangkir adalah perkakas budaya maju, dengan cangkir kita menerima limpahan karunia Tuhan, minum dengan cangkir membuat kita lebih bermartabat”, dan seterusnya.

Dalam konteks berbisnis, dengan cara sama kita bisa mengatakan, berbisnis adalah lebih dari sekadar mencari uang. Namun, bisa kita katakan, berbisnis adalah cara untuk memakmurkan bangsa, mengangkat harkat dan derajat karyawan, memerangi kemiskinan, mendistribusikan kebaikan, dan sebagainya.

Jika semua itu telah berproses, terbentuklah spiritualitas bisnis. Dari yang duniawi bergeser ke spiritual, dari monodimensi menjadi multidimensi. Bisnis menjadi sebuah ekosistem, bukan sekadar arena persaingan dan medan perang.

Di dalam ekosistem tidak ada yang menindas dan ditindas. Semua yang ada dalam ekosistem saling membutuhkan dan saling melengkapi. Ekosistem selalu mencari keseimbangan dan keberlanjutan.

Dari uraian itu, secara intuitif terasakan bahwa bisnis dengan spiritualitas yang kental akan lebih sukses dibandingkan bila tanpa spiritualitas. Dua profesor dari Stanford University, James C Collins dan Jerry I Porras, menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan berusia panjang dan sangat sukses, yang ditandai dengan menjadi pemimpin pasar tingkat dunia, ternyata diwarnai oleh sejumlah karakter yang bersifat spiritual. Perusahaan yang mereka teliti termasuk 3M, American Express, Merck, Hewlett-Packard, Wal-Mart, dan Walt Disney.

Di antara perusahaan-perusahaan itu memunculkan nilai-nilai spiritual dalam nilai-nilai perusahaan yang dianutnya. Misalnya: Strong Culture: True Believer on Idealistic Values—Budaya yang kuat, keyakinan kuat pada nilai-nilai ideal, atau Walt Disney dengan to make people happy—membahagiakan orang.

Menuju ke spiritual bisnis di tengah suasana gerah bangsa ini jelas tidak mudah dan mungkin tujuan menjadi sering terdistorsi. Seorang panelis mengutip sebuah seminar di “negeri impian” yang pembicaranya melontarkan retorika atau bisa dikatakan permenungan.

Kutipan itu di antaranya adalah:

“Jika sukses itu bermakna, mengapa gedung-gedung kita semakin tinggi, tetapi emosi kita semakin dangkal?”,

“Jika sukses itu berarti, mengapa rumah dan mobil kita semakin besar, tetapi kebahagiaan kita semakin kecil?”,

“Jika sukses itu patut dikejar, mengapa harta benda kita semakin bertambah, tetapi kebajikan kita semakin berkurang?”, dan

“Jika sukses itu anugerah, mengapa kita sudah menaklukkan angkasa luar, tetapi hati kita semakin takluk pada kebencian dan angkara murka?”

Pertanyaan-pertanyaan itu pun dijawab Capra,

“Kita telah terlalu saintifik dan kurang intuitif”,

“Kita telah terlalu matematikal dan kurang artistik”,

“Kita telah terlalu maskulin dan kurang feminin”, dan …

“Kita telah terlalu material dan kurang spiritual.”

Kontributor: Brigitta Isworo L

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar